BAB II : ASPEK DASAR DALAM PENGGUNAAN PRIVAE
C. Dasar Hukum Pengaturan Private Military Contractors
1. Konvensi Den Haag 1907
Pengertian tentara bayaran secara eksplisit baru ada dalam Protokol Tambahan I 1977. Namun, sebenarnya ketentuan yang menyerupai tentara bayaran, yaitu ketentuan yang mengatur perekrutan orang-orang asing dalam angkatan perang pihak-pihak,yang terlibat pertikaian, sudah diatur dalam Konvensi Den Haag 1907. Pada hakekatnya, berdasarkan Konvensi Den Haag ini, adalah merupakan kewajiban negara-negara untuk tetap berstatus sebagai negara netral dan tidak ikut terlibat pada pertikaian antara negara-negara yang bersengketa dengan terlibat menyuplai tentara bayaran. Namun, apabila warga negara dari suatu negara netral dalam kapasitas pribadinya menjadi seorang tentara bayaran, maka negara tersebut tidak kehilangan kenetralannya; sedangkan
orang yang bersangkutan akan dianggap sebagai tawanan perang apabila ia telah memenuhi ciri-ciri klasik dalam hukum perang.
Menurut Pasal 1, 2, dan 3 konvensi Den Haag 1907 yang berbunyi:
Pasal 1
Hukum, hak-hak dan kewajiban-kewajiban berperang tidak hanya diterapkan kepada tentara, tetapi juga kepada milisi dan kelompok sukarelawan yang memenuhi persyararatan-persyaratan sebagai berikut:
1. Dipimpin oleh seorang komandan yang bertanggung jawab atas anak buahnya;
2. Mempunyai suatu lambang pembeda khusus yang dapat dikenali dari jarak jauh;
3. Membawa senjata secara terbuka; dan
4. Melakukan operasinya sesuai dengan peraturan-peraturan dan kebiasaan kebiasaan perang.
Di Negara-negara di mana milisi atau kelompok sukarelawan merupakan atau menjadi bagian dari tentara, maka mereka termasuk dalam pengertian "Angkatan Darat".
Pasal 2
Penduduk di wilayah yang belum diduduki, yang pada saaat musuh akan menyerang, yang secara spontan mengangkat senjata untuk memberikan perlawanan tanpa sempat mengorganisir diri mereka sendiri sesuai dengan Pasal 1, harus dianggap sebagai Belijeren apabila mereka mengangkat senjata
secara terbuka dan apabila mereka mematuhi hukum dan kebiasaan perang.
Pasal 3
Angkatan Bersenjata dari pihak-pihak yang berperang dapat terdiri dari kombatan dan non-kombatan. Jika tertangkap oleh musuh maka keduanya mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai tawanan perang.
Adanya Pasal 1 menjelaskan bahwa anggota milisi dan sukarelawan dapat dianggap sebagai Angkatan darat, pada Pasal 2 memunculkan status belijeran terhadap definisi Angkatan Darat tersebut, dan pada Pasal 3 bahwa kombatan dan non-kombatan dapat digolongkan sebagai Angkatan Bersenjata dan diperlakukan sebagai tawanan perang. Sejarah munculnya perekrutan dan penggunaan tawanan perang dalam menjalankan fungsi keamanan dan militer negara muncul daripada beberapa Pasal yang ada dalam Bab II Konvensi Den Haag 1907, yang tercantum pada Pasal 6 yaitu:
Pasal 6
Negara dapat mempekerjakan para tawanan perang, kecuali para perwira, sesuai dengan pangkat dan kapasitas mereka. Tugas-tugas mereka tidak boleh berlebihan dan tidak ada hubungannya dengan peperangan.
Para tawanan dapat diberi wewenang untuk bekerja melayani masyarakat, atau menurut pilihannya sendiri.
Pekerjaan yang dilakukan untuk negara dibayar sesuai tarif yang berlaku atas pekerjaan yang sama yang dilakukan oleh tentara
nasional atau, jika tidak ada tarif semacam itu, maka harus dibayar sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
Apabila pekerjaan dilakukan dengan tujuan untuk pelayanan publik atau untuk kepentingan perorangan, maka persyaratan-persyaratannya harus ditentukan dalam perjanjian dengan pihak penguasa Militer.
Upah para tawanan perang harus mengikuti dan sesuai dengan kedudukan mereka, sisanya harus dibayarkan kepada mereka pada saat mereka dibebaskan, setelah dikurangi dengan biaya hidup mereka selama ditahan.
Dan pertanggung jawaban penggunaan tersebut tercantum pada Pasal 7 yaitu:
Pasal 7
Pemerintah yang menahan para tawanan perang bertanggung jawab atas semua urusan yang berhubungan dengan para tawanan tersebut.
Dalam hal tidak adanya suatu perjanjian khusus antara Belijeren, maka para tawanan perang harus diperlakukan khusus seperti dalam hal makanan, tempat tinggal dan pakaian, sama seperti yang didapatkan oleh pasukan tentara nasional yang menangkap mereka.
Akan tetapi, pasal-pasal diatas hanyalah kerangka dasar tentang pengrekrutan dan penggunaan tentara bayaran, yang dalam konteks diatas merupakan tawanan perang suatu Negara.
2. Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I 1977
Persoalan tentang tentara bayaran dalam konvensi ini membahas tentang status tentara bayaran itu sendiri. Menurut Burmester:
“Under the 1949 Geneva Convention for the Treatment of Prisoner of War, mercenaries are entitled to PoW treatment without distinction, provided they belong to or form part of the armed forced, militia, or other volunteer forces whose members are otherwise entitled to such treatment”
Menurut Boudmedra, persoalan tentara bayaran jika ditinjau dari Kinvensi Jenewa 1949, maka terlebih dahulu harus ditentukan tentang status tentara bayaran itu sendiri: apakah mereka tergolong tentara bayaran yang 'lawful' ataukah yang 'unlawful'. Tentara bayaran dapat dikatakan “lawful” ataukah
“unlawful”. Untuk tentara bayaran yang dianggap sebagai tentara bayaran yang lawful, haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan yang tercantum dalam Pasal 4 konvensi III:
1. Menjadi anggota angkatan perang, milisi atau barisan sukarela yang menjadi bagian dari angkatan perang tersebut; atau
2. Menjadi anggota milisi atau barisan sukarela lainnya serta anggota gerakan perlawanan yang diorganisir yang memenuhi syarat:
a. Dipimpin oleh orang yang bertanggung jawab atas bawahannya;
b. Memakai tanda pengenal tetap yang dapat dikenal dari jauh c. Membawa senjata secara terbuka;
d. Melakukan operasi sesuai hukum dan kebiasaan perang
Disamping Pasal 4 di atas, maka menurut Boumedra, dasar hukum lainnya yang dapat dipergunakan bagi tentara bayaran agar diperlakukan sebagai
tawanan perang, adalah ketentuan Pasal 5 Konvensi III. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Konvensi Jenewa III ini belum mengatur secara tegas tentara bayaran. Masih ada keragu-raguan apakah seorang tentara bayaran dapat diperlakukan sebagai seorang tawanan perang apabila ia tertangkap musuh.
Sedangkan, menurut definisi dari mercenary yang secara tegas diatur dalam Pasal 47 Protokol Tambahan I 1977 yang menyatakan:
1. Seorang tentara bayaran tidak berhak atas status kombatan atau tahanan perang 2. Tentara bayaran adalah setiap orang orang yang:
a. Direkrut secara lokal atau diluar Negara itu untuk bertempur di dalam suatu sengketa bersenjata;
b. Yang secara nyata ikut serta dalam permusuhan;
c. Mempunyai motifasi untuk ikut serta dalam permusuhan terutama karena keinginan mendapat keuntungan pribadi yang dijanjikan kepada atau dibayarkan kepada kombatan yang nama, pangkat atau fungsi dalam kekuatan bersenjata dari pihak tersebut;
d. Bukan warganegara dari suatu Pihak dalam sengketa ataupun bukan penduduk wilayah yang dikuasai oleh suatu Pihak dalam sengketa;
e. Bukan anggota angkatan perang atau pihak dalam sengketa; dan
f. Tidak dikirim oleh suatu negara yang bukan pihak dalam sengketa untuk bertugas resmi sebagai anggota dan angkatan perangnya.
Pada umumnya, yang dimaksud dengan tentara bayaran adalah seseorang yang bukan anggota pasukan militer dari pihak yang bersengketa yang secara individu maupun berkelompok menjadi tentara yang langsung dikerahkan dan bertempur kedalam suatu medan pertempuran atau suatu konflik bersenjata yang utamanya adalah demi tercapainya suatu keuntungan pribadi.
Dengan adanya definisi ini terjadi perdebatan antara status legalitas dari tentara bayaran tersebut yang kontras dengan yang dijelaskan oleh Konvensi III Konvensi Jenewa 1949. Meskipun demikian, maraknya penggunaan tentara bayaran terutama pada peperangan moderen setelah Perang Dunia II yang menjadikan terbentuknya sebutan Private Military Contractors atau disingkat
dengan PMC. Definisi daripada perusahaan penyedia jasa baik dalam penyedia tentara aktif maupun pasif walaupun berbeda dengan penyedia jasa pengamanan (defence contractors), tetapi dalam Konvensi Jenewa (III) 1949 Pasal 4A ayat (4) tidak memandang suatu perbedaan atas definisi keduanya. Konvensi ini mengatur tentang kontraktor sipil yang memiliki tanda indentitas resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang (angkatan bersenjata pihak yang berperang yang mempergunakan jasa kontraktor tersebut, dan hal ini dimaksudkan agar ketika mereka tertangkap pihak musuh, mereka memiliki hak untuk menjadi tawanan perang. Apabila kontraktor terlibat langsung dalam pertempuran sebagai kombatan maka mereka (secara personal) dapat diklarifikasikan sebagai tentara bayaran oleh pihak yang menawan mereka, sebagaimana yang diatur Protokol Tambahan I 1977 pada Pasal 47.
Yang dimaksudkan sebagai unlawful combatants adalah kontraktor yang ketika tertangkap dalam kondisi dimana mereka tertangkap tangan menggunakan kekuatan bersenjata untuk melakukan penyerangan didalam medan pertempuran selama perang dan dianggap sebagai kombatan yang tidak memiliki keberlakuan hukum, sehingga dengan dasar atas konsep yang telah diatur dalam konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I 1977 dan dispesifikan dalam Military Commissions Act.25
3. OAU Convention for the elimination of mercenarism in Africa 1977
Konvensi ini lahir mengikuti pemahaman daripada isi Pasal Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977. Konvensi ini berkembang melihat dari permasalahan yang ada mengenai tentara bayaran di negara-negara Afrika.
25 Lihat pada situs internet http://ririnpuspitasarifr.blogspot.co.id/2014/10/tentara-bayaran-mercenary-unlawful.html . diakses pada tanggal 21 Oktober 2016, pada pukul 10:51
Permasalahan tersebut pula yang mendesak komunitas internasional untuk membentuk isi dari Protokol Tambahan I 1977, oleh karna itu Organisasi Kesatuan Afrika mengadaptasi dengan tujuan agar dapat menghilangkan keberadaan praktek tentara bayaran di Negara-negara Afrika.
Menurut Pasal 1 OAU Convention for the elimination of mercenaries in Africa 1977, Tentara bayaran adalah setiap orang yang:
a. Direkrut secara lokal atau diluar Negara itu untuk bertempur di dalam suatu sengketa bersenjata;
b. Yang secara nyata ikut serta dalam permusuhan;
c. Mempunyai motifasi untuk ikut serta dalam permusuhan terutama karena keinginan mendapat keuntungan pribadi yang dijanjikan kepada atau dibayarkan kepada kombatan yang nama, pangkat atau fungsi dalam kekuatan bersenjata dari pihak tersebut;
d. Bukan warganegara dari suatu Pihak dalam sengketa ataupun bukan penduduk wilayah yang dikuasai oleh suatu Pihak dalam sengketa;
e. Bukan anggota angkatan perang atau pihak dalam sengketa; dan
f. Tidak dikirim oleh suatu negara yang bukan pihak dalam sengketa untuk bertugas resmi sebagai anggota dan angkatan perangnya.
Menurut Pasal 1 (2) OAU Convention for the elimination of mercenaries in Africa 1977 yaitu:
Kejahatan tentara bayaran yang dilakukan oleh individu, kelompok atau asosiasi, perwakilan dari suatu negara kepada negara yang sendirinya bertujuan untuk melawan dengan kekerasan bersenjata sebagai sebuah proses dari stabilitas kemerdekaan diri atau integritas wilayah dari negara lain, yang menghendaki setiap perbuatan-perbuatan seperti:
a. Melindungi, mengorganisir, membiayai, membantu, mempersenjatai, melatih, mempromosikan, mendukung atau setiap perbuatan yang mempekerjakan kelompok tentara bayaran
b. Menyusun, mendaftarkan atau mencoba mendaftarkan kelompok tersebut
c. Mengizinkan aktifitas yang sebagaimana disebut dalam butir (a) dilakukan di setiap wilayah dibawah jurisdiksi atau di setiap tempat dibawah kendali atau penyediaan fasilitas untuk transit, transportasi, atau operasi lainya terhadap kelompok yang disebutkan diatas
Pasal 1 (3) berisi:
Setiap orang, baik pribadi maupun atas hukum yang melakukan kejahatan tentara bayaran sebagaimana diutarakan dalam ayat 1 Pasal ini melakukan serangan dianggap sebagai sebuah kejahatan melawan perdamaian dan keamanan di Afrika dan harus dijatuhkan hukuman sebagaimana dalam konvensi ini.
Selain itu, dalam konvensi ini juga menjelaskan status dari tentara bayaran dalam perspektif hukum internasional, yang diatur dalam Pasal 3 konvensi ini yaitu:
Pasal 3
Tentara bayaran tidak mendapatkan status kombatan dan tidak dianggap sebagai tawanan perang.
4. United Nations Convention against the Recruitment, Use, Financing and Training of Mercenaries 1989
Terbentuknya konvensi ini mempertimbangkan adanya perkembangan pesat terhadap hukum internasional mengenai kebutuhan untuk mengkodifikasi tentang pelarangan terhadap perekrutan, penggunaan, pembiayaan, dan pelatihan dari tentara bayaran. Menyimpulkan adanya resolusi 35/48 tanggal 4 Desember 1980, dengan terbentuknya Komite Ad Hoc tentang pengesahan Konvensi
Internasional terhadap perekrutan, penggunaan, pembiayaan, dan pelatihan dari tentara bayaran.
Tentara bayaran adalah orang yang secara khusus direkrut secara lokal atau dari luar negeri untuk bertempur dalam suatu konflik bersenjata, didorong untuk mengambil bagian dalam perselisihan permusuhan berdasarkan keinginan atas keuntungan pribadi dan, bahkan dijanjikan oleh atau atas nama suatu pihak yang berkonflik, kompensasi materil yang lebih besar dan janji tersebut atau lebih besar dari yang dibayarkan kepada orang yang berperang dengan tingkatan dan fungsi yang sama dalam jenjang militer dipihak tersebut.
Dari sudut pandang hukum humaniter internasional, seseorang yang dapat dikategorikan tentara bayaran tidak dapat dianggap kombatan dan tidak memiliki status sebagai tawanan perang, kecuali, jika mereka terlibat langsung dalam pertempuran. Konsekuensinya tentara bayaran dapat dituntut dengan hukum domestik atas keterlibatan mereka dalam pertempuran. Setiap Negara tidak boleh merekrut, menggunakan, membiayai, atau melatih tentara bayaran dan harus melarang kegiatan-kegiatan semacam itu.
Menurut United Nations Convention against the Recruitment, Use, Financing and Training of Mercenaries 1989, Pasal 1 (1) Tentara bayaran adalah setiap orang yang:
a. Direkrut secara lokal atau diluar Negara itu untuk bertempur di dalam suatu sengketa bersenjata;
b. Mempunyai motifasi untuk ikut serta dalam permusuhan terutama karena keinginan mendapat keuntungan pribadi yang dijanjikan kepada atau dibayarkan kepada kombatan yang nama, pangkat atau fungsi dalam kekuatan bersenjata dari pihak tersebut;
c. Bukan warganegara dari suatu Pihak dalam sengketa ataupun bukan penduduk wilayah yang dikuasai oleh suatu Pihak dalam sengketa;
d. Bukan anggota angkatan perang atau pihak dalam sengketa; dan
e. Tidak dikirim oleh suatu negara yang bukan pihak dalam sengketa untuk bertugas resmi sebagai anggota dan angkatan perangnya.
Menurut Pasal 1 (2) Tentara bayaran adalah setiap orang yang, di setiap situasi lain:
a. Secara khusus direkrut secara lokal atau diluar Negara itu dengan bertujuan untuk berpartisipasi di dalam suatu tindak kekerasan yang ditujukan untuk:
(i) Menjatuhkan satu pemerintah atau setidaknya melemahkan tatanan konstitusional suatu Negara; atau
(ii) Melemahkan integritas teritorial suatu Negara;
b. Didorong untuk mengambil bagian hanya berdasarkan kepentingan untuk keuntungan pribadi yang signifikan dan didorong oleh janji atau pembayaran atas kompensasi material; Bukan warga Negara atau bertempat tinggal di negara yang menjadi tujuan tindakan tersebut;
c. Tidak dikirim oleh Negara dalam tugas resmi; dan
d. Bukan anggota militer Negara di mana tindakan tersebut dilakukan.
5. The Montreux Document 2008
Dokumen ini berkaitan dengan tanggung jawab yang berhubungan dengan perusahaan penyedia jasa tentara bayaran dan juga tentang tanggung jawab negara-negara yang menggunakan jasa tersebut. Dokumen ini tidak membentuk suatu obligasi hukum secara internasional melainkan hanya menelaah tentang keberadaan PMC secara umum dan spesifik dan Negara yang mengkehendaki penggunaannya. The Montreux Document 2008 adalah sebuah dokumen antar pemerintah yang bertujuan untuk memberikan rasa hormat untuk Hukum Humaniter Internasional dan juga Hukum mengenai HAM yang mana PMSC bertempur didalam konflik bersenjata. Dokumen ini adalah hasil dari
proses internasional yang dikemukakan oleh pemerintah Swiss dan Palang Merah Internasional. The Montreux Document 2008 telah diakhiri dengan persetujuan pada tanggal 17 September 2008 oleh Negara-negara seperti Afganistan, Angola, Australia, Austria, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, Irak, Polandia, Siera Leone, Afrika Selatan, Swedia, Swiss, Inggris, Irlandia, Ukraina, dan Amerika Serikat.
Menurut pernyataan 22 pada bagian I, bahwa;
“PMSCs are obliged to comply with international humanitarian law or human rights law imposed upon them by applicable national law, as well as other applicable national law such as criminal law, tax law, immigration law, labour law, and specific regulations on private military or security services.”
Pada pernyataan tersebut terdapat pernyataan bahwa PMSC harus tunduk dibawah hukum humaniter internasional dan hukum mengenai HAM, sehingga menyebabkan pertanyaan tentang status hukum PMC dan status penggunaan PMC, dan bagaimana pula Negara bertanggung jawab dalam hukum humaniter internasional.
6. The Draft Luanda Convention 1976
Pada tahun 1976, the International Commission of Inquiry on Mercenaries mengeluarkan draft tentang pencegahan dan mekanisme supresi di Luanda, Angola. Draft ini dibentuk karena kekhawatiran Negara terhadap penggunaan tentara bayaran dalam konflik bersenjata dengan tujuan menentang oleh pasukan bersenjata dalam proses liberalisasi nasional dari kolonialisasi dan dominasi neo-kolonialisasi.26 Pasal 1 draft ini mendefinisikan “crime of
26 Dilihat pada jurnal hukum, Fallah, ICRC Legal journal: “Corporate actors: the legal status of mercenaries in armed conflict”, hal. 607
mechanism” sebagai tanggung jawab yang dilakukan oleh individu, kelompok atau asosiasi, representatif dari Negara dan Negara itu sendiri. Setiap orang yang melakukan kejahatan ini adalah dia yang dengan tujuan untuk melawan dengan kekerasan bersenjata sebagai proses penentuan diri sendiri yang menlakukan setiap perbuatan seperti:
a. Mengorganisir, mendanai, menyediakan, mempersenjatai, melatih, mempromosikan, mendukung atau mempekerjakan dalam pasukan militer apapun terdiri atau melibatkan orang-orang yang bukan warga Negara dimana tindakannya untuk kepentingan pribadi, pembayaran gaji ataupun setiap bentuk dari rekompensasi material;
b. Menambahkan, mendaftarkan atau mencoba untuk mendaftarkan pada pasukan tersebut;
c. Memperbolehkan aktivitas yang disebutkan pada ayat (a) untuk dilakukan didalam setiap teritori dibawah jurisdiksinya atau di setiap tempat dibawah kuasanya atau mengusahakan fasilitas untuk transit, pengangkutan atau operasi lain dari pasukan yang sebutkan diatas.
7. The International Law Commission Draft Code of Crimes against the Peace and Security of Mankind 1991
Terminologi dalam Pasal 23.2 mengenai tentara bayaran didefinisikan sama seperti pada OAU Convention. ILC Draft dibentuk pada dasar dari perundang-undangan the Rome Statue for the International Criminal Court.27
27 Ibid, hal. 610
BAB III
TINJAUAN YURIDIS PENGGUNAAN PRIVATE MILITARY CONTRACTORS (PMC) OLEH NEGARA
A. Pengertian Penggunaan Kekuasaan oleh Negara
Negara adalah subjek hukum internasional dalam arti yang klasik, dan telah demikian halnya sejak lahirnya hukum internasional. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada anggapan bahwa hukum internasional itu pada hakikatnya adalah hukum antar negara.28 Hubungan Negara dan hukum internasional terpaku pada teori-teori dasar hukum internasional yang memberdasarkan pada kehendak Negara (teori voluntaris) mencerminkan pada teori kedaulatan dan aliran positivisme yang menguasai alam pikiran dunia ilmu hukum di benua eropa, terutama jerman pada bagian kedua abad ke-19.29
Pada hakikatnya, mengembalikan kekuatan mengikatnya hukum internasional itu pada kehendak (atau persetujuan) Negara untuk diikat oleh hukum internasional ialah bahwa teori-teori ini pada dasarnya memandang hukum internasional sebagai hukum perjanjian antara Negara-negara Oleh karena itu, Negara sebagai aktor lahirnya perjanjian antar negara, yang menjadi subjek hukum internasional. Dalam prinsipnya, negara harus memiliki daya untuk hidup berdampingan dengan damai (peaceful co-existance) dengan negara lain dengan menghormati sistem ekonomi dan politik masing-masing. Akan tetapi, sebagian lainnya berpendapat bahwa prinsip tersebut kadang berakhir dengan prinsip yang bertentangan dengan itu seperti prinsip penentuan nasib sendiri hingga pelucutan
28 Kusumaatmadja & Agoes, Pengantar Hukum Internasional, op.cit, 2003, Hal 98
29 Ibid. hal. 50
senjata, sehingga dibutuhkan praktek yang konkrit dalam bekerja sama dengan aktif dalam segala bidang.30 Sebagai subjek hukum internasional, Negara sebagai penyandang hak dan kewajiban dalam hukum internasional memiliki hak-hak dan kewajiban dasar. Hak-hak dasar Negara yaitu:31
1. Hak atas kemerdekaan dan self-determination;
2. Hak untuk melaksanakan yuridiksi terhadap wilayah;
3. Hak untuk mendapatkan kedudukan hukum yang sama dengan Negara lain.
4. Hak untuk menjalankan pertahanan diri sendiri atau kolektif (Self-Defence) Hak-hak tersebut yang menyebabkan bahwa Negara memiliki wewenang untuk melakukan upaya apapun untuk mencapai suatu definisi Negara yang berdaulat. Dalam proses pencapaian Negara dapat menemukan titik-titik berat yang mengharuskannya untuk mengambil langkah-langkah sulit agar terhindar dari permasalahan yang dihadapi dalam menuju kedaulatan Negara yang seutuhnya. Negara kerap dipertemukan dengan adanya konflik-konflik yang bersifat internal maupun eksternal. Konflik tersebut tercipta dari segi aspirasi politik masyarakat dan kemampuan pemerintah untuk mempertahankan terciptanya pemenuhan kepentingan nasional, sehingga konflik tersebut membentuk suatu sengketa. Demi mencapai suatu kepentingan nasional, pemerintah dengan unsur tindakan mempengaruhi orientasi, melaksanakan peranan atau mencapai dan mempertahankan tujuannya terhadap Negara lain.
Tindakan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi yang diharapkan mampu mengubah atau mempertahankan perilaku Negara dan mengakibatkan pemerintah terikat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konflik
30 Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional, Tahun 2002, Hal 51
31 Sefriani, Hukum Internasional : Suatu Pengantar. Tahun 2010, hal 112-137
yang terjadi, alasan vision dan perjuangan oleh suatu bangsa atau Negara untuk dipergunakan dalam rangka ketertiban internasional dan merupakan buatan manusia yang dirumuskan oleh pemimpin-pemimpin Negara serta ahli teori politik dan dipatuhi masyarakat, karena bersangkutan kepada situasi social dan kebudayaan bangsa sehingga ideologi yang ada menjadi alasan yang terang adanya perseteruan antara pihak yang berkonflik. Menurut pendapat Joseph Frankel, kepentingan nasional dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan subjektif.32 Pendekatan objektif melihat kepentingan nasional dipandang sebagai permanen dan tidak berubah dalam hubungannya dengan kekuasaan, sedangkan pendekatan subjektif percaya bahwa kepentingan nasional diinterpretasikan sebagai perubahan yang bersifat pluralistik dan bersumber pada subjektivitas.
Sebaliknya, Morgenthau secara spesifik menyamakan kepentingan nasional dengan usaha negara untuk mengejar kekuasaan, dimana kekuasaan adalah segala sesuatu yang bisa mengembangkan dan memelihara control suatu Negara terhadap Negara lain. Hubungan kekuasaan dan kontrol tersebut bisa dicapai melalui teknik-teknik pemaksaan dan teknik kooperatif. Keberhasilan
Sebaliknya, Morgenthau secara spesifik menyamakan kepentingan nasional dengan usaha negara untuk mengejar kekuasaan, dimana kekuasaan adalah segala sesuatu yang bisa mengembangkan dan memelihara control suatu Negara terhadap Negara lain. Hubungan kekuasaan dan kontrol tersebut bisa dicapai melalui teknik-teknik pemaksaan dan teknik kooperatif. Keberhasilan