BAB II : ASPEK DASAR DALAM PENGGUNAAN PRIVAE
B. Sejarah lahir dan Perkembangan Private Military Contractors
dilakukan langsung oleh negara, sehingga tidak didapatkan definisi tentara bayaran tersebut menjadi suatu Hukum Kebiasaan Internasional. Telah ada upaya dari organisasi internasional mengutus The U.N Human Rights Commissioner untuk melakukan investigasi dalam praktek penggunaan PMC dan keterlibatan tentara bayaran. PBB menunjuk the Special Rappoteur on Mercenaries untuk memperbaiki defisiensi dalam Pasal 47 dan Konvensi PBB dengan pertolongan Hukum Kebiasaan Internasional, yang pada akhirnya menjelaskan bahwa komunitas internasional berpendapat tentang Pasal 47 dan Konvensi PBB tidak mencerminkan aktivitas nyata dari tentara bayaran dan PMC. Menurut the Special Rapporteur dan the Working Group bahwa terdapat perbedaan antara PMC sah dan tentara bayaran yang secara jelas menekankan pada faktor kriminal dalam aktivitasnya. PMC mendapatkan legitimasinya dari pihak yang menyewa sedangkan tentara bayaran dianggap sebagai lone operator seperti diatur dalam Pasal 47 dan Konvensi PBB tentang tentara bayaran.23
Pemahaman tentang beberapa negara yang menggunakan PMC, bahwa pada kenyataan PMC tidak sama dengan tentara bayaran. Akan tetapi, belum ada jawaban yang mengkonklusikan tentang status dari pada PMC adalah tentara bayaran. Karena menurut perdebatan yang ada, dibawah Hukum Internasional, bahwa secara eksplisit dan implicit batasan dari peran dan fungsi dari PMC dapat dipercayakan oleh negara. Sehingga, kualifikasi dari PMC sebagai tentara bayaran masih menjadi suatu isu kontroversial.
B. Sejarah lahir dan Perkembangan Private Military Contractors (PMC)
22 Kusumaatmadja & Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Tahun 2003, hal 130-133
23 Scheimer, op.cit, hal 634-638
Pemanfaatan tentara bayaran untuk keperluan perang sudah lama dikenal oleh masyarakat dunia, bahkan sudah sejak zaman purba. Misalnya pada awal kekaisaran Romawi dikenal istilah Balearic Slingers dan Aegean Bowen. Di Jerman (pada abad pertengahan), mereka disebut Landsknechts, sementara itu pada masa revolusi di Amerika tentara bayaran disebut dengan istilah Hessian, dan di Itali disebut Condottieri. Dari latar sejarah ini dikenal berbagai macam nama atau sebutan untuk tentara bayaran. Pada masa kini istilah (yuridis) yang sering dipergunakan adalah mercenary, dan masyarakat umum kadang-kadang menyebutnya dengan istilah soldier of fortune.
Pada awalnya, kebutuhan terhadap tentara bayaran ini timbul karena kesulitan untuk membentuk atau memiliki suatu angkatan bersenjata besar dan tangguh, dengan biaya yang tinggi. Oleh karena itu pada waktu dahulu, raja-raja di Eropa berkeputusan untuk memiliki suatu pasukan yang kecil namun tangguh.
Hal ini dilakukan oleh Raja Charles VII dari Perancis (Akhir abad ke-15), di Itali dan Belanda (abad ke-16) serta di Inggris. Di Swiss, tentara bayaran Swiss bertugas di Perancis atas permintaan Raja Louis XI, dan mereka tetap setia pada keluarga kerajaan sampai meletusnya Revolusi Perancis. Penggunaan tentara bayaran terus berlangsung sampai dengan dibentuknya Legiun Luar Negeri Perancis pada tahun 1831 dalam perang Indochina pada tahun 1946-1954;
demikian pula dalam perang saudara di Kongo, bekas daerah jajahan Perancis pada tahun 1964.24
Mulai dari Perang Dunia ke II, penggunaan kata perusahaan penyedia jasa militer swasta bukan lah hal yang baru, terlihat dari bantuan-bantuan swasta
24 Lihat dari situs internet http://ciciqueenpmii.blogspot.co.id/2011/05/tentara-bayaran.html . diakses pada tanggal 21 Oktober 2016, pukul 11 :09
sangat sering digunakan. Peran utama dari penyedia jasa pada Perang Dunia ke II adalah penyedia bantuan logistik sederhana, seperti transportasi, bantuan kesehatan, dan perlengkapan. Seperti pada Perang Vietnam, peran dari PMC mulai berubah. Meningkatnya kerumitan teknis dari persenjataan militer dan alat-alat militer mendorong pasukan bersenjata Amerika Serikat bergantung pada perusahaan swasta sebagai spesialis teknis yang bekerja beriringan dengan personil angkatan bersenjata nasional. Sekarang, perusahaan bantuan logistik diposisikan untuk bergerak dalam kebanyakan bidang pemeliharan dan bantuan perencanaan. Tetapi, perusahaan swasta sekarang menyediakan banyak jasa yang termasuk beberapanya dipertimbangkan sebagai jasa “misi penting” dan
“kemampuan militer inti”.
Sebelum 1945, urusan yang berhubungan dengan tentara bayaran disampaikan sebagian besar melalui perkembangan hukum alam. Suatu Negara yang memperbolehkan teritori nasionalnya digunakan untuk tujuan pengrekrutan atau penerimaan tentara bayaran dianggap sebagai pendukung dari golongan pemberontak. Posisi tersebut menjadikan Negara yang netral harus ditarik kedalam konlik yang tidak berhubungan dengan kepentingan tersebut melalui aksi balas dendam oleh salah satu dari pemberontak. Sebagai hasilnya, pasal-pasal yang dimuat dalam Konvensi Den Haag 1907 tentang pelarangan pengrekrutan tentara bayaran pada suatu teritori Negara. Kewajiban tersebut terbatas tehadap Negara untuk menertibkan teritori mereka, dan tidak diperlebar untuk memuat pencegahan suatu Negara untuk melintasi Negara lain untuk mendaftar didalam tentara pemberontak sebagai, contohnya, orang asing yang terdaftar dalam pasukan internasional di perang sipil Spanyol. Beberapa Negara tidak mengatur
undang-undang yang memperkuat kewajiban internasionalnya, sementara itu beberapa lainnya mencari cara untuk mengendalikan keinginan masyarakatnya untuk menjadi tentara asing.
Permasalahan yang panjang dalam mengendalikan penggunaan tentara bayaran telah menjadi batasan dari analisi hukum dan pengaturan yang ada mengenai adanya masalah ini. Beberapa dari peneliti hukum khawatir dengan praktek penggunaan tentara bayaran, tetapi dengan adanya tentara bayaran bertempur dalam perang sudah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari formasi tentara eropa seperti kekhawatiran tersebut benar-benar diabaikan hingga pertengahan abad ke-19. Aktivitas seperti ini juga tercermin di berbagai Negara-negara yang menghadapi hal yang sama seperti eropa. Meskipun demikian, sebagai konsekuensi dari penggunaan tentara bayaran tersebut dalam konflik penjajahan dan situasi lain yang bertujuan untuk menjaga kepentingan nasional, kematian tak akan terelakkan jumlahnya. Seperti contohnya, Legiun Asing Prancis adalah pasukan swasta yang mulanya direkrut untuk melindungi harta benda hasil jajahan dan ini masih muncul hingga dini hari.
Setelah Perang Dunia II, terjadi perubahan yang signifikan terhadap hukum yang mengatur penggunaan kekuasaan dalam politik internasional. Begitu juga, perubahan-perubahan terhadap peraturan tersebut tejadi tanpa menunjukan pertanyaan seputar keterlibatan tentara bayaran dalam pertempuran. Menimbang beberapa konflik-konflik, termasuk ideologi yang muncul diantara Amerika Serikat dan Uni Soviet segera setelah Perang Dunia II, pengenalan terhadap peraturanan mengenai pengendalian aktivitas tentara bayaran adalah segelintir kecemasan bagi komunitas internasional. Pengabaian tersebut berubah selama
periode dekolonisasi pada tahun 1960. Periode ini menyaksikan peningkatan dalam aktivitas dan jumlah tentara bayaran, terutama di Negara-negara bagian Afrika. Contohnya, tentara bayaran seperti Maad Mike Hore, Jacques Schramme dan Bob Denard yang bertarung di Kongo pada tahun1960. Konsep dari tentara bayaran telah menjadi kepentingan yang besar bagi komunitas internasional, lebih dari itu Negara-negara afrika tersebut menerima dampak secara langsung oleh kehadiran dari tentara bayaran yang terlibat dalam perang kebebasan mereka.
Meskipun demikian, respon dari komunitas internasional sedikitnya lebih dari menegaskan kembali Pasal 2 (4) dari Piagam PBB.
Tidak lama sebelum berakhirnya era 60-an, penggunaan tentara bayaran melawan pasukan pembebasan nasional untuk kemerdekaan di wilayah jajahan disebut sebaga tindak criminal oleh Resolusi Majelis Umum PBB 2465, lalu menandai tentara bayaran sebagai perbuatan melawan hukum. Resolusi ini lanjut mengundang Negara pihak ketiga untuk mengamati hukum adat yang melarang perekrutan tentara bayaran pada wilayah nasional, dan untuk memperkenalkan hukum yang mengatur larangan terhadap Negara mengenai keterlibatan dalam aktifitas tentara bayaran.
Konvensi Organisasi kersatuan Afrika, disusun pada tahun 1972, untuk penghapusan dari tentara bayaran di Africa mencerminkan gejala yang ditemukan dalam Resolusi PBB mengenai tentara bayaran. Konvensi tersebut juga menjabarkan tentang kewajiban Negara terhadap pengendalian aktivitas nasionalnya, dengan membuat pertanggung jawaban Negara untuk melarang dan menghukum aktivitas yang berhubungan dengan tentara bayaran yang mungkin terjadi dalam jurisdiksi Negara tersebut. Pergeseran dari pandangan awam dari
Negara bertanggung jawab secara pribadi, menjadi tanggungjawab kolektif terhadap akuntabilitas adalah hasil dari Konvensi OAU menempatkan kewajiban pada individu yang memenuhi syarat yang telah diatur dalam konvensi. Individu tersebut harus memenuhi persyaratan yang diatur dalam Pasal 1 Konvensi PBB mengenai Tentara Bayaran. Begitupula, negara pengrekrut harus berusaha keras untuk menghukum setiap orang, apapun kewarganegaraan, dalam jurisdiksinya, yang didakwa sebagai aktivitas tentara bayaran, sesuai dengan Pasal 1 yaitu:
A) Tentara bayaran digolongkan sebagai setiap orang yang, bukan warga dari Negara yang berperang, dipekerjakan, mengikutsertakan atau melibakan dengan atas kemauannya sendiri pada seseorang, suatu kelompok, atau organisasi yang bertujuan untuk:
a) Menjatuhkan dengan pasukan tentara atau dengan cara apapun pemerintah dari Negara anggota Organisasi Kesatuan Afrika;
b) Melemahkan kemerdekaan, integritas teritorial atau pekerjaan umum dari institusi Negara yang disebutkan;
c) Menghentikan dengan cara apapun aktivitas dari setiap pergerakan kemerdekaan yang diakui oleh Organisasi Kesatuan Afrika.
Setelah munculnya adaptasi dari Konvensi tentang tentara bayaran pada Konvensi OAU ini, menjadi dorongan terhadap munculnya pergerakan konkrit dari Negara-negara untuk tidak menggunakan tentara bayaran dari setiap aktivitas yang berhubungan dengan konflik-konflik yang muncul dimasa yang akan datang.
Sejak 1968, Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan Sosial, dan Komisi HAM PBB telah terus-menerus mengecam penggunaan tentara bayaran sebagai perbuatan yang melanggar hukum internasional yang berdampak
pada melemahnya praktek dari hak individu untuk menentukan nasibnya sendiri dan menikmati HAM. Pada tahun 1989, Majelis Umum PBB mengadopsi dan membuka penandatanganan dan pengesahan dari Konvensi Internasional terhadap Pengrekrutan, Penggunaan, Pembiayaan, dan Pelatihan Tentara Bayaran. Kendati seluruh usaha-usaha telah dikerahkan untuk pelarangan aktivitas tersebut dibawah Hukum Internasional, tentara bayaran melanjutkan untuk tetap aktif dalam setiap konflik yang berlangsung dan budaya impunitas muncul untuk kejahatan yang telah merka lakukan. Meskipun susah untuk dilacak karena sifat rahasia dari aktivitas mereka, tentara bayaran telah aktif dalam bertempur di Afganistan, Angola, Armenia, Bosnia-Herzegovina, Chechnya, Kolumbia, Kongo-Brazzaville, Kongo, Eritrea, Etiopia, Georgia, Kashmir, Kosovo, Liberia, Papua Nugini, dan Sierra Leone.
Perkembangan yang terjadi terhadap tentara bayaran menjadi alasan utama lahirnya PMC sebagai suatu perusahan swasta yang meramalkan akan pentingnya peranan tentara bayaran dalam suatu pertempuran. Saat berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1990, rupanya mengakibatkan pembubaran tentara masal, yang mengantarkan kepada perkembangan pesat dari perusahaan militer swasta. Pemerintah yang berperang telah dengan pesatnya menggunakan jasa perusahaan militer swasta untuk membantu menyelesaikan konflik bersenjata internal. Sebelumnya, konflik internal berdasarkan pada ideologi yang menjamin bantuan langsung ataupun tidak langsung untuk memperangi fraksi-fraksi oleh sekutu seperti di Angola, Uni Soviet dan Kuba mengirimkan bala bantuan ke Movimento Popular de Libertação de Angola (MPLA) dan Amerika Serikat dan Apartheid South Africa mengirimkan bala bantuan ke pemberontak, União
Nacional para la Independência Total de Angola (UNITA). Dengan adanya perbedaan ideologi dari beberapa kelompok di suatu Negara, menjadikan konflik-konflik yang mungkin mereka hadapi terus berkelanjutan dan menyebabkan ketidakamanan yang berkesinambungan disetiap Negara di dunia, khususnya di Afrika, yang mana konflik bersenjata semakin keruh tanpa ada haluan objek politik. Kelompok pemberontak enggan melakukan protes dengan menunjukan rasa ketidakadilan atau menawarkan program alternatif pemerintah. Senjata militer dalam jumlah besar, senjata berbahaya, perampasan, perampokan, dan ancaman-ancaman telah mendesak keinginan untuk gerakan kemerdekaan.
Ketidak mampuan pemerintah untuk mengayomi kehidupan masyarakat atau untuk melindungi masyarakat dari pelanggaran HAM berat, gugurnya tingkat kehidupan masyarakat, dan runtuhnya Negara yang bersangkutan.
Sejak akhir dari Perang Dingin, lebih dari 7 juta tentara telah bergabung dengan lapangan pekerjaan yang hanya melihat kemampuan militer dan bertempur. Luapan dari sektor militer dan keamanan swasta telah mengumpulkan bagian dari tenaga buruh dan ahli yang mengharuskan penggantian tentara-tentara dimanapun dengan tentara bayaran yang lebih berpengalaman dan kerap terlatih sebaik-baiknya oleh Negara. Di beberapa Negara, penyusutan jumlah tentara paska-perang diikuti dengan profesionalisasi dari pasukan bersenjata. Tetapi, disaat bersamaan tentara nasional yang digantikan dengan tentara swasta yang umumnya dibayar mahal untuk menjaga keamanan, namun pemimpin negara meminta adanya tentara yang jauh lebih murah. Kemudian, pengurangan jumlah tambahan dari tentara personel, sumber daya manusia, dan infrastruktur menyebabkan pemerintah tidak memiliki banyak pilihan dalam membuat suatu
permintaan. Halangan keuangan memaksa transisi keamanan nasional jauh diluar dari penghindaran resiko hingga fokus pengelolahan dampak dan membuat tentara barat memusatkan pada pengembangan pasukan yang lebih kuat, lebih kejam, lebih efisien, dan lebih fleksibel. Bersamaan dengan itu, jangka waktu operasi militer tela meningkat pesat sehubungan dengan penyebaran konflik regional yang terjadi dengan berakhirnya kepunahan stabilitas oleh kesetaraan kemampuan tiap negara paska Perang Dingin. Menanggapi situasi ini, banyak angkatan bersenjata barat telah difokuskan untuk mendefensikan dan hanya memelihara kompetensi inti. Kegiatan sekunder dikesampingan dan kegiatan yang utama tentara dijadikan objek utama bagi pelayanan alternatif, sehingga individu-individu tersebut direkrut oleh PMC. Dengan kata lain, jasa-jasa yang ditawarkan berhubungan dengan tenaga bantuan alternatif yang dianggap pokok dalam suatu pertempuran dalam konflik bersenjata seperti yang jelas didefinisikan dalam deskripsi tugas anggota militer.
Pada tahun 1960 dan 1970-an, tentara-tentara bayaran berakhir dengan reputasi yang dianggap sebagai brutal dan eksploitatif melalui keikutsertaannya dalam proses kemerdekaan. Seperti pada kasus di negara-negara Afrika, Tentara bayaran yang beroperasi di Kongo pada tahun 1960-1964. Reputasi tersebut masih melekat pada persepsi umum masyarakat tentang keikutsertan perusahaan swasta dalam operasi militer. Meskipun demikian, PMC adalah perusahaan penyedia tenaga professional yang berhubungan dengan kegiatan pertempuran. Dengan adanya peran globalisasi dan deregulasi pada market internasional telah menjadi keuntungan dalam memfasilitasi pembangunan aktifitas tentara bayaran dan telah
memungkinkan PMC untuk membentuk korporasi besar yang beroperasi diberbagai Negara diseluruh penjuru dunia.
Secara umum status hukum dari PMC sendiri masih belum dikatakan sama dengan pengertian terhadap tentara bayaran yang diatur dalam Konvensi-Konvensi yang ada dalam Hukum Internasional. Sehingga, tugas-tugas yang dilakukan oleh PMC masih belum bisa disamakan dengan tentara bayaran.
Walaupun alasan seperti sejarah keberadaan tentara bayaran dalam konflik bersenjata, akan tetapi, secara prakteknya PMC memiliki peran yang jauh berbeda dengan tentara bayaran. Perbedaan tersebut akan dibahas lebih rinci pada BAB III dalam penelitian ini.
C. Dasar hukum pengaturan Private Military Contractors (PMC) dalam