BAB II: LANDASAN TEORI
C. Pengertian Koperasi
1. Dasar hukum
Kenyataan bahwa koperasi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ekonomi masyarakat. Karenanya agar praktik koperasitidak bertengan dengan prinsip-prinsip syariah, diperlukan adanya perbaikan secara konseptual melalui impletasi akad-akad muamalah. Dilihat dari usahanya yang diajalankan ecara bersama-sama, koperasi identik dengan persekutuan(syirkahi)
⧫⬧
20 Undang-undang, Perkoperasiann, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, (Bandung:
Fokusindo Mandiri,2013). Hlm 5
21 Prof. Dr. Tiktik Sarika Partomo, M.S., Ekonomi Koperasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009). Hlm 22
➔⧫
Artinya: dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini". (qs.shaad:24)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara atau urusan. Hal ini kalau dinisbahkan dalam koperasi, terutama pada RAT (Rapat Anggota Tahunan) unsur musyawarah yang sangat dominan. Dalam perkoperasian ditemui hak antara anggota yang lama dengan anggota yang baru punya hak yang sama, pada saat RAT (Rapat Anggota Tahunan), misalnya sama-sama satu suara. Disamping itu dalam koperasi juga ditemui unsur kesukarelaan, pada saat menjadi anggota misalnya ada tabungan sukarela.
Dalam riwayat hadist qudsi, Abu Hurairah r.a menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT berfirman : Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang beserikat, sepanjang salah eorang daripihak keduanya tidak menghianati. Jika eseorang menghianati maka Allah keluar dari keduanya (HR Dawud dan Hakim)”
Dalam koperasi pembagian SHU (Sisa Hasil Usaha) didasarkan atas produktivitas anggota dalam menggunakan jasa koperasi
23
misalnya dalam jasa koperasi simpan pinjam. Semakin banyak meminja semakin banyak SHU dan syarat ini batilkarena dalam syirkah pembagian laba dan rugi diberikan dengan kaidah berdasarkan hadist yaitu: “Kerugian dibebankan kepada kekayaan (modal) dan keuntungan tergantung apa yang mereka sepakati bersama”.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Anas bin Malik r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tolonglah saudaramu yang menganiaya dan dianiaya, sahabat bertanya,: ya Rasulullah aku dapat menolong orang-oang yang dianiaya, tapi bagaimana menolong yang menganiaya? Rasul menjawab: kamu tahan dan mencegahnya dari menganiaya itulah arti menolon daripadanya.”
Berdasarkan hadist tersebut dapat dipahami bahwa umat Islam dianjurkan untuk menolong orang-orang yang ekonominya lemah dengan cara berkoperasi dan menolong orang-orang kayajangan sampai mengisap darah orang miskin, seperti dengan cara mempermainkan harga, menimbun barang, dan lain sebagainya.22 2) Asas koperasi dan tujuan koperasi
Dalam peraturan perundang-undangan ditegaskan bahwa asas koperasi adalah kekeluargaan dan kegotong royongan. Meskipun kekeluargaan dijadikan asas koperasi, namun dalam implementasinya bukan berarti mengesampingkan motif ekonomi
22 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta,2010), hlm 295
yang dikelola secara profesional. Pada hakikatnya, asas kekeluargaan merupakan dasar pemikiran pengembangan usaha ekonomi/bisnis berbasis yang kemitraan. Meskipun bukan hanya menjadi klaim koperasi, implementasi asa kekeluargaan tetap perlu didukung oleh upaya perbaikan sistem perekonomian yang sejalan dengan asas tersebut.
Bagi koperasi azas gotong royong berarti bahwa pada koperasi terdapat kesadaran semangat bekerjasama dan tanggung jawab bersama terhadap karya tanpa memikirkan kepentingan sendiri, melainkan selalu untuk kebahagiaan bersama.
Koperasi didirikan bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khuusnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional. Keanggotaan koperasi adalah bersifat sukarela dan didasarkan atas asas kepentingan bersama sebagai pelaku ekonomi. Kegiatan koperasi akan lebih banyak dilakukan kepada anggota dibandingkan dengan pihak luar.23
3) Prinsip-prinsip koperasi
Adapun yang menjadi prinsip-prinsip koperasi adalah:
a. Keanggotaan yang bersifat sukarela dan terbuka. Sifat sukarelaan dalam keanggotaan koperasi mengandung makna bahwa menjadi anggota koperasi adalah atas dasar tanpa adana unsur paksaan dari siapaun. Sedangkan sifat terbuka adalah
23 Burhanuddin, Koperasi Syariah dan Pengaturannya di Indonesia, (Malang: UIN-MALIK PRESS,2013). Hlm 7
25
mengandung pengertian bahwa dalam keanggtaan koperasi tidak boleh dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun.
b. Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengawas, pengurus dan karyawan, serta memberikan informasi kepada mayarakat tentang jatidiri koperasi, kegiatan dan kemanfaatan koperasi.
c. Pengelolaan dilakukan dalam bentuk demokratis. Prinsip ini ditunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak para anggota.
d. Koperasi melayani anggota secara prima dan meperkuat gerakan koperasi dengan bekerjasama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional.
e. Koperasi bekerja untuk membangun berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat melalui kebijakan yang disepakati anggota.
f. Pembagian sisa hasil usaha harus dilakukan secara adil. Yaitu sebanding dengan besarnya jasa usaha kepada anggota yang dilakukan tidak semata-mata berdasarkan pada modal yang disimpan/disertakan oleh seseorang dalam koperasi.
g. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Pemberian imbalan jasa melalui wadah koperasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal, melainkan lebih diutamakan
adalah sejauh mana partisipasi anggota dalam mengembangkan usaha tersebut.
h. Kemandirian. Mengandung pengertian bahwa koperasi harus mampu berdiri sendiri, tanpa selalu bergantung pada pihak lain.
4) Fungsi dan peran koperasi
a. Alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat.
b. Alat pendemokrasian nasional.
c. Sebagai salah satu urat nadi perekonomian bangsa indonesia.
d. Alat pembinaan insan masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa indonesia serta bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat.
Sebagai badan hukum yang berpihak pada rakyat, koperasi mempunyai fungsi dan peran penting dalam pembangunan ekonomi. Fungsi dan peran untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud, sulit tercapai apabila koperasi yang dijalankan tidak berdasarkan atas asas kekluargaan serta kegotongroyongan yang mengandung semangat kerja sama.24
5) Macam-macam koperasi
Sesuai ketentuan yang terdapat dalam pasal 16 UU RI No.25 Tahun 1992 beserta penjelasan dinyatakan bahwa “jenis koperasi
24 Burhanuddin, Koperasi Syariah Dan Pengaturannya di Indonesia, (Malang: UIN-MALIK PRESS, 2013), hlm. 1
27
didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya.”
a. Koperasi berdasarkan jenisnya ada 4 yaitu:
1. Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Yaitu koperasi yang memiliki usaha tunggal menampung simpanan anggotadan melayani peminjaman. Disinilah kegiatan uaha koperasi dapat dikatakan dari,oleh,dan untuk anggota.
2. Koperasi Serba Usaha (KSU). Yaitu koperasi yang bidang usahanya bermacam-macam. Misalnya simpan pinjam, unit pertokoan untuk melayani kebutuhan sehari-hari anggota juga masyarakat, unit produksi.
3. Koperasi Konsumsi. Yaitu koperasi yang bidang usahanya menyediakan kebutuhan sehari-hari anggota seperti bahan makanan, pakaian, perabot rumah tangga.
4. Koperasi Produksi. Yaitu koperasi yang bidang usahanya membuat barang dan menjual secara bersama-sama.
b. Berdasarkan keanggotannya
1. Koperasi Unit Desa (KUD),yaitu koperasi yang beranggotakan masyarakat pedesaan
2. Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI), yaitu koperasi yang beranggotakan para pegaai negeri.
c. Koperasi sekolah, yaitu koperasi yang menyediakan kebtuhan warga sekolah yang terdiri dari guru, karyawan,
dan siswa, seperti buku pelajaran, alat tulis, makanan dan lain-lain.
d. Berdasarkan tingkatnya
1. Koperasi sekunder merupakan koperasi yang beranggotakan bebrapa koperasi, diantaranya meliputi koperasi pusat, gabungan koperasi.
2. Koperasi primer merupakan koperasi yang beranggotakan orang-orang dan biasanya didirikan pada lingkup kesatuan wilayah terkecil. Untukmendirikan koperasi ini minimal beranggotakan 20 orang yang telah memenuhi syarat-syarat keanggotaan yang ditentukan dalam undang-undang.
e. Berdasarkan fungsinya
1. Koperasi konsumsi. Koperasi ini didirikan untuk memnuhi kebutuhan umum sehari-hari para anggotanya. Contohnya kebutuhan pokok yang disediakan adalah beras, gula, kopi, tepung minyak goreng, dan sebagainya. Disini anggota berperan sebagai pemilik dan pembeli atau konsumen bagi koperasinya.
2. Koperasi jasa. Merupakan koperasi yang menyelnggarakan jasa yang dibutuhkan oleh anggota, misalnya simpan pinjam, asuransi, angkutan dan
29
sebagainya. Disini anggota berperan sebagai pemilik dan pengguna layanan jasa koperasi.
3. Koperasi produksi. Bidang usahanya adalah penyediaan bahan baku, penyediaan peralatan produksi, membantu memproduski jenis barang tertentu serta membantu menjual dan memasarkan hasil produksi tersebut.
6) Sumber Modal Koperasi
a. Simpanan pokok, merupakan sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat menjadi anggota.
b. Simpanan wajib, merupakan jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan teretntu.
c. Simpanan sukarela, merupakan simpanan yang dapat diambil kapan saja.
d. Dana cadangan, merupakan sejumlah uang yang diperoleh dan penyisihan sisa hasil usaha yang dimaksud untuk menumpukkan modal sendiri dan untuk menutup kerugian.
Modal utama koperasi berasal dari para anggotanya dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Hal ini berkaitan dengan beberapa alasan, yaitu:
a) Alasan kepemilikan
Modal yang berasal dari anggotanya merupakan salah satu wujud kepemilikan anggota terhadap koperasi beserta
usahanya. Anggota yang memodali usahanya sendiri akan merasa lebih bertanggung jawab terhadap keberhasilan usaha tersebut.
b) Alasan ekonomi
Modal yang berasal dari anggota akan dapat dikembangkan secara lebih efisien dan murah, karena tidak dikenakan persyaratan bunga.
c) Alasan resiko
Modal sendiri atau anggota juga mengandung resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan modal dari luar, khususnya pada suatu usaha tidak berjalan dengan lancar.
7) Landasan Koperasi
a. Landasan idiil koperasi adalah pancasila, kelimasila dari pancasila, yaitu: ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan keadilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
b. Landasan struktural koperasi adalah UUD 1945 dan landasan geraknya adalah pasal 33 ayat (1) UUD 1945 beserta penjelasannya. Pasal33 ayat (1) berbunyi: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asaz kekeluargaan.”
31
c. Landasan mental koperasi adalah setia kawan dan kesadaran berpribadi (rasa harga diri). Setia kawan telah ada dalam masyarakat Indonesia dan tampa keluar sebagai gotong royong.
8) Kelebihan dan kekurangan koperasi a. Kelebihan badan usaha koperasi
1. Sebagai gerakan ekonomi kerakyatan, peryaratan pendirian koperasi relatif mudah
2. Usaha koperasi tidak hanya diperuntukkan kepada anggotanya saja, tetapi juga untuk msyarakat pada umumnya.
3. Usaha yang dijalankan berdasarkan atas azas kekluargaan sehingga memilikiikatan kerjasama yang kuat.
4. Meningkatkan kesejahteraan anggota dengan tetap memperhatikan aspek sosial.
5. Pembagian sisa hasil usaha tidak hanya ditentukan berdasarkan modal, melainkan tingkat partisipasi (jasa) usaha dari anggotanya.
b. Kekurangan badan usaha koperasi
1. Keterbatasan modal membuat koperasi tidak bisa berkembang secara pesat.
2. Kurangnya perhatian terhadap aspek keuntungan menyebabkan koperasi kurang diminati.
3. Sifat keanggotaan yang sukarela menyebabkan manajemen koperasi tidak efektif.
4. Koperasi cenderung bersifat ekslusif jika dibandingkan badan usaha lainnya.
9) Manajemen koperasi
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pegawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi yang mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Koperasi sebagai bentuk badan usaha yang bergerak dibidang pereonomian mempunyai tatanan manajemen yang berbeda dengan badan usaha lainnya. Perbedaan tersebut dari hakikat manajemen koperasi yang dasar falsafahnya adalah dari, oleh dan untuk anggota yang mencerminkan falsafah demokrasi dalam dunia usaha yang menjadi ciri khas koperasi.
Manajemen koperasi mempunyai tiga unsur pokok, yaitu:
Rapat Anggota, Pengurus dan Manajer, dan Badan Pemerikasaan.
Rapat anggota merupakan unsur dalam manajemen koperasi, karena koperasi merupakan badan usaha milik para anggotanya.
Pengurus merupakan bagian eksekutif dari koperasi. Manajer melaksanakan kegiatan sehari-hari dan bertanggung jawab langsung akan kelancaran berjalannya koperasi. Badan pemeriksa melakukan pengawasan, apakah pengurus dan manajer melaksanakan tugasnya dengan ketentuan yang berlaku.25
25 Hendrojogi, Koperasi Asas-Asas Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), cetakan ke-5. Hlm 142
33
10) Koperasi menurut Islam
Didalam Islam koperasi dikenal dengan Syirkah ta’awuniyah (koperasi tolong menolong). Koperasi dalam islam disebut dengan syirkah ini sebagai aqad antara orang-orang yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan.
Koperasi (syirkah ta’awuniyah) adalah perkongsian suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama dengan penuh kesabaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya atas dasar sukarela secara kekeluargaan.26
Dengan kata lain koperasi merupakan perkumpulan sekelompok orang dalam rangka pemenuhan kebutuhan anggotanya. Dengan adanya koperasi akan terwujud suatu persekutuan yang merupakan salah satu bentuk kerja sama yang dianjurkan oleh syara’.
Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dalam al Quran Surat al Maidah ayat 2
Artinya: ”Tolong menolong atau bekerja samalah kamu dalam kebajikan dan berbuattaqwa dan janganlah kamu tolong menolong
26 M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah (Zakat, Pajak, Asuransi dan Lembaga Keuangan), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), cetakan ke-2. Hlm 97
dalam berbuat dosa dan permusuhan kepada Allah SWT.” (QS. Al Maidah: 2)
D. Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT)
Badan Kontak Majelis Taklim merupakan bagian dari lingkungan sosial memiliki kedudukan strategis, berperan sebagai wahana pendidikan yang beruaha menanamkan akhlak mulia, memingkatkan ketaqwaan, pengetahuan dan kecakaan yang diabdikan sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraanumatdalam rangka mencari keridhaan Allah SWT.27
Majelis taklim yang didirikan di Indonesia di dasarkan pada dua fungsi yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fungsi itulah yang kemudian membuat Tuty Alawiyah pada tahun 1981 menggagas lahirnya Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) sebagai induk majelis taklim se-Indonesia. Tuty Alawiyah bersama BKMT melakukan pemberdayaan-pemberdayaan perempuan melalui majelis taklim, yang pada awal mula berdirinya BKMT lebih mudah berkembang di pulau Jawa dengan 700 pengurus BKMT.28 E. Kajian Terdahulu
Sebelumnya melakukan penelitian ini, maka terlebih dahulu penulis mengamati hasil penelitian terdahulu yang relefan. Pertama yaitu, oleh Nikmir Rohmiati (Universitas Islam Negeri Sumatra Utara Medan, Skripsi 2018) tentang “Peran Kepemimpinan dalam
27 Hamdanah, Motivasi Ibu-ibu Mengikuti Pengajian di Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Palangka Raya, (Dosen IAIN Palangka Raya,2017) Jurnal Transformatif. Hlm 121
28 Henny Yusnita, Sejarah dan Gerakan Dakwah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat, (Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, 2018).
Hlm 23
35
Pengembangan Badan Kontak Majelis Taklim Provinsi Sumatera Utara” hasil penelitian ini adalah peran kepemimpinan sudah berjalan dengan baik dan mampu bertanggung jawab. Adapun hambatan terletak pada dana dan kreativitas yang rendah. Solusinya dengan bekerja sama dan meningkatkan kreatifitas seperti pengembangan di bidang pokok BKMT.29
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Diahayu Paramudita (Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi, Skripsi 2018) tentang “ Analisis Sistem Operasional Koperasi Durti Sejahtera di Nagari Durian Tinggi Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman dilihat dari Perspektif Ekonomi Islam”hasil penelitian ini adalah sistem operasional koperasi ini sudah berjalan dengan baik, termasuk dalam hal kualitas layanan, organisasi, proses dan kepemimpinan. Namun jika dilihat dari perspektif ekonomi islam koperasi ini belum sesuai dengan perspektif ekonomi islam yang masih mengandung unsur bunga.30
Ketiga, penelitian yang dilakukan Ahmad Thamyis (Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Skripsi 2018) tentang “Konsep Pemimpin dalam Islam (Analisis Terhadap Pemikiran Politik Al-Mawardi)” hasil penelitian ini adalah konsep pemimpin dalam Islam menurut al-Marwadi sejatinya tidak bertentangan dengan
29 Nikmir Rohmiati, Peran Kepemimpinan dalam Pengembangan Badan Kontak Majelis Taklim Provinsi Sumatera Utara, (Skripsi Sajana, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negri Sumatera Utara. 2018
30 Diahayu Paramudita, Analisis Sistem Operasional Koperasi Durti Sejahtera di Nagari Durian Tinggi Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman Dilihat Dari Perspektif Ekonomi Islam, (Skripsi Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi. 2018
Islam. Serta konep kepemimpinan menurut al-Mawardi adalah Imamah yang dilembagakan untuk menggantikan kenabian dalam rangka melindungi agama dan mengatur kehidupan dunia.31
Keempat, Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Alberto, Agung Suprojo, Ignatius Adiwidjaja Jurnal ( Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2014) tentang “Peran Kepemimpinan dalam Memotivasi Kinerja Pegawai” hasil penelitian ini adalah peran kepemimpinan Lurah Purwantoro dalam memotivasi pegawai yaitu dengan menciptakan komunikasi dua arah (vertikal dan horizontal) sehingga membangun hubungan kerja satu tim, dan memperhatikan hak dan kewajiban para pegawai. Dampak dari motivasi kinerja yang dilakukan oleh Lurah Purwantoro yaitu semangat kerja para pegawai semakin meningkat, kerjasama tim semakin kompak, dan memiliki loyalitasterhadap tujuan yang ingin dicapai.32
Kelima, Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Burhanudin Mukhamad Faturahman (Universitas Brawijaya, Madani Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan, 2018) tentang “Kepemimpinan dalam Budaya Organisai” hasil penelitian ini adalah seorang pemimpin merupakan unsur penting dalam menjalankan kehidupan berorganisasi dengan memperhatikan kondisi para bawahannya. Kehidupan
31 Ahmad Thamyis, Konsep Pemimpin Dalam Islam (Analisis Terhadap Pemikiran Politik Al-Mawardi, (Skripsi Sarjana, Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung). 2018
32 Alberto, Agung Suprojo, Ignatius Adwidjaja, Peran Kepemimpinan Dalam Motivasi Kinerja Pegawai, JISIP Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol 3 No. 2 2014
37
berorganisasi juga menuntut pemenuhan kebutuhan individu secara komprehensif agar dapat bekerja secara optimal.33
Keenam, Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Yeni, Rosnawintang, dan Ambo Wonua Nusantara, (Universitas Haluoleo Kendari, Jurnal Progres Ekonomi Pembangunan (JPEP), 2019) tentang
“Analisis Kinerja Koperasi Pegawai Negeri (KPN)” hasil penelitian ini adalah kinerja pada KPN Niaga (Dinas Perindustrian dan Pedagangan Provinsi Sulawesi Tenggara) berada pada kategori yang cukup baik, sementarakinerja KPN Takdir ( Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Tenggara) dari keempat perspektif Balanced Scorecard berada pada kategori buruk dan kinerja KPN lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dilihat dari empat aspek sebagai berikut adalah anggota, aspek pelanggan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan, kemampuan pengurus dan dukungan teknologi, aspek proses bisnis dipengaruhi oleh kepemimpinan dan kemampuan pengurus, dukungan anggota dan teknologi,dan seta aspek pembelajaran dan pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan.34
33 Burhanudin Mukhamat Faturahman, Kepemimpinan Dalam Budaya Organisai, Madani Jurna Politik dan Sosial Kemasyarakatan. Vol 10 No 1 2018
34 Yeni, Rosnawintang, Ambo Wonua Nusantara, Analisis Kinerja Koperasi Pegawai Negeri (KPN), Jurnal Pogres Ekonomi Pembangunan (JPEP). Vol 4. No 2 2019
38 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan yang merupakan usaha pengumpulan data yang dilakukan langsung dari lokasi penelitian dengan wawancara ataupun observasi. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, dalam penelitian deskriptif ini untuk menggambarkan tentang kerakteristik peran kepemimpinan Koperasi Serba Usaha Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Kota Solok sebagai objek penelitian.
Penelitian kualitatif didefenisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.35
Penelitian kualitatif memiliki beberapa yang terdiri dari tahap orientasi atau deskriptif, padatahap ini penelti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan ditanyakan.36
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Koperasi Serba Usaha Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Jln. Syeh Supayang Jalan Tengah Kota Solok. Penelitian hanya dilakukan dalam bentuk observasi lapangan.
35 Ananta Wikrama Tungga Dkk, Metodologi Penelitian Bisnis, (Yogyakarta: Cetakan Pertama,2014), hlm 11-12
36 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R dan D, (Bandung:
Alfabeta,2011). Hlm 42
39
2. Waktu penelitian
Penelitian ini penulis lakukan mulai pada bulan Juli sampai selesai.
Dengan waktu penelitian dilakukan pada siang hari sekitar jam istirahat operasional koperasi, di karenakan tidak mengganggu aktivitas koperasi.
Dengan harapan data yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut dapat memenuhi dan menjawab rumusan masalah penelitian skripsi ini.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian perorangan, kelompok, dan organisasi.37 Data yang akan diperoleh dari hasil penelitian secara empirik melalui analisis mendalam kepada pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan peran manajerial kepemimpinan yang ditetapkan untuk mengembangkan koperasi serba usaha badan kontak majelis taklim.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari perpustakaan yang dilaksanakan dengan membaca, menelaah dan mencatat sebagai literatur atau bahan yang esuai dengan pokok bahasan, kemudian disaring dan dituangkan dalam kerangka pemikiran teoritis.38 Dengan menggunakan data sekunder ini di harapkan dapat membantu proses penelitian. Data sekunder ini berkaitan langsung dengan peran
37 Wahyu Purhantara, Metode Penelitian Kualitaitif Untuk Bisnis, (Graha Ilmu,2010) Cet.
1, hlm 79
38 Buhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta: Kencana, 2013) Cet. 1. Hlm 128
manajerial kepemimpinan koperasi serba usaha badan kontak majelis taklim.
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Suharsimi Arikunto, teknik pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.39
1. Observasi
Observasi merupakan cara pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala yang tampak pada objek yang pelaksanaanya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, kejadian atau situasi yang sedang terjadi. Observasi ini dilakukan secara langsung kepada koperasi serba usaha badan kontak majelis taklim terhadap penerapan peran manajerial kepemimpinan dalam mengembangkan koperasi seba usaha badan kontak amjelis taklim.
2. Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya dan responden. Dalam wawancara peneliti tidak menerapkan pola wawancara terstruktur. Dalam hal ini peneliti menggunakan garis-garis besar yang terkait dengan permasalahan dilapangan. sumber yang di harapkan dapat memberikan informasi tentang peran manajerial kepemimpinan yang di terapkan koperasi serba usaha BKMT dalam
39 Arikunto Suharsimi, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta,2000), hlm 5
41
upaya pengembangan KSU BKMT, wawancara yang dilakukan dengan pada ketua, serta pengurus selaku pengawas KSU BKMT.
3. Studi Dokumen
3. Studi Dokumen