• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LEMBAGA PEMASYARAKATAN DAN REMISI

C. Dasar Hukum Remisi

Remisi atau pengurangan masa pidana adalah hak yang paling dinantikan oleh setiap narapidana. Remisi merupakan salah satu motivasi untuk membina diri agar kelak ia dapat kembali ke masyarakat melalui reintegrasi yang sehat.42 Pemberian remisi dimaksudkan untuk menanamkan rasa persatuan dan kesatuan, rasa kebangsaan dengan jiwa kegotong royongan, jiwa teloransi, dan jiwa

42

Rocky Marbun, Cerdik dan Taktis Menghadapi Kasus Hukum, (Jakarta Selatan: Visimedia,2010), hlm, 74.

bermusyawarah untuk mufakat yang positif. Remisi merupakan implementasi pembinaan dan bimbingan berdasarkan Undang-Undang dasar 1945 dan Pancasila.

Remisi merupakan salah satu sarana hukum yang terpenting dalam mewujudkan tujuan sistem pemasyarakatan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan pada pasal 14 huruf (i) disebutkan bahwa salah satu hak dari narapidana ialah mendapatkan pengurangan hukuman/masa pidana (remisi).

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan tidak memberikan penjelasan yang lengkap tentang bagaimana pelaksanaan dari pemberian remisi tersebut maka dibuatlah peraturan pelaksanakannya yakni dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Seperti diungkapkan diatas remisi merupakan salah satu hak dari pemasyarakatan, namun Peraturan Pelaksana Nomor32 Tahun 1999 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan ini pun tidak secara spesifik mengatur tentang pemberian remisi karena hanya 3 (tiga) pasal yang bersifat umum yang mengisyaratkan untuk pengaturan yang lebih lanjut dalam sebuah Keppres.

Masalah pemberian remisi dalam sistem pembinaan narapidana diatur dalam Keppres Nomor 174 Tahun 1999 jo Keppres Nomor 69 Tahun 1999, dalam tahun yang sama peraturan mengenai remisi pun beralih karena adanya peralihan kekuasaan dari pemerintah Habibie kepada pemerintah Gusdur, yang diatur lebih lanjut dalam Keputusan Menteri Hukum Dan Perundanng-Undangan Republik Indonesia Nomor: M.09.HN.02.01 Tahun 1999.Tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 174 Tahun 1999 tentang remisi.

Andi Hamzah, remisi adalah sebagai pembebasan hukuman untuk seluruhnya atau sebahagian atau dari seumur hidup menjadi hukuman terbatas yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus.43

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, remisi adalah pengurangan masa menjalani pidana yang diberikan narapidana dan anak pidana yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan Perundang-Undangan. Keppres Nomor 147 tahun 1999 tidak memberikan pengertian remisi dalam pasal 1 dikatakan bahwa yang berhak untuk memperoleh remisi adalah setiap narapidana dan anak pidana yang menjalani pidana sementara dan pidana kurungan asalkan yang bersangkutan berkelakuan baik selama menjalani pidana, dimana remisi tersebut diberikan oleh Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia yang sekarang telah berganti nama menjadi Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia.Remisi, dimana usul untuk memperoleh remisi bagi narapidana yang berhak menerimanya itu dilakukan oleh

43

Dikutip dari Skripsi Sahala F. Siagian 2007, Kamus Hukum,( Jakarta: Ghalia Indonesia) , hlm 503

Kepala Lapas dan KAKANWIL, selambat-lambatnya satu hari sebelum remisi tersebut diberikan.

Dasar hukum pemberian remisi sudah mengalami beberapa kali perubahan, bahkan untuk tahun 1999 telah dikeluarkan Keppres Nomor 69 Tahun 1999 dan belum sempat diterapakan akan tetapi kemudian dicabut kembali dengan Keppres Nomor 174 Tahun 1999. Remisi yang berlaku dan pernah berlaku di Indonesia sejak zaman Belanda sampai sekarang adalah berturut-turut sebagai berikut:

1. Gouvernement Besluit tanggal 10 Agustus 1935 No. 23 Bijblad No. 13515 jo. 9 Juli 1841 No. 12 dan 26 Januari 1942 No. 22 merupakan yang diberikan sebagai hadiah semata-mata pada hari kelahiran Sri Ratu Belanda.

2. Keputusan Presiden Nomor 156 tanggal 19 April 1950 yang termuat dalam Berita Negara No. 26 Tanggal 28 April 1950 jo. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tanggal 8 Agustus 1946 dan Peraturan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 120 Tahun 1955, tanggal 23 Juli 1955 tentang Ampunan Istimewa.

3. Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1987 jo. Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. 01.HN.02.01 Tahun 1987 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1987, Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.04.HN.02.01 Tahun 1988 tanggal 14 Mei 1988 tentang Tambahan Remisi Bagi Narapidana yang Menjadi Donor Organ Tubuh dan Donor Darah dan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. 03.HN.02.01 Tahun 1988 tanggal 10 Maret 1988 tentang Cara Permohonan

Perubahan Pidana Penjara Seumur Hidup menjadi pidana penjara sementara berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1987. 4. Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1999 tentang Prngurangan Masa Pidana

(remisi).

5. Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999 jo. Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia No.M.09.HN.02.01 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999, Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan No.M.10.HN.02.01 Tahun 1999 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Remisi Khusus.

Ketentuan yang masih berlaku adalah ketentuan yang terbaru, yaitu Nomor lima (5), tetapi ketentuan tersebut masih ditambahkan dengan beberapa ketentuan yang lain, sehingga ketentuan yang masih berlaku untuk remisi saat ini adalah:

1. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan (pasal 14). 2. Peraturan Pemerintah Nomor32 Tahun 1999 Jo Peraturan Pemerintah Nomor

28 Tahun 2006 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 120 Tahun 1955, tanggal 23 Juli 1955 tentang Ampunan Istimewa.

4. Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan RI No.M.10.HN.02.01 Tahun 1999 Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Remisi Khusus.

5. Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No.M.04.HN.02.01 Tahun 2000 tentang Remisi Tambahan bagi Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. 6. Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No.M.03.PS.01.04 Tahun 2000

Tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Remisi Bagi Narapidana Yang Menjalani Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara. 7. Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan RI No.M.09.HN.02.01

Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden No. 174 Tahun 1999. 8. Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No.M.01.HN.02.01 Tahun 2001

Tentang Remisi Khusus Yang Tertunda dan Remisi Khusus Bersyarat serta Remisi Tambahan.

9. Surat Edaran No.E.PS.01-03-15 Tanggal 26 Mei 2000 tentang Perubahan Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara.

10.Surat Edaran No.W8-PK.04.01-2586, tanggal 18 April 1993 tentang Pengangkatan Pemuka Kerja.

Berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 3 Keppres No. 174 Tahun 1999 tentang Remisi,ada tiga macam remisi yaitu:

a. Remisi Umum, adalah remisi yang diberikan diberikan pada Hari Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus.

b. Remisi Khusus, adalah remisi yang diberikan pada hari-hari besar keagamaan yang dianut oleh Narapidana dan Anak Pidana yang bersangkutan, dengan ketentuan jika suatu agama mempunyai lebih dari satu hari besar keagamaan dalam setahun, maka yang dipilih adalah hari besar yang paling dimuliakan oleh penganut agama yang bersangkutan. Berdasarkan Keputusan Menteri

Hukum dan Perundang-undangan RI No.M.09.HN.02.01 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999 pasal 3 ayat (2) dinyatakan, bahwa pemberian remisi Khusus dilaksanakan pada:

1) Setiap Hari Raya Idul Fitri bagi Narapidana Dan Anak Pidana yang beragama Islam;

2) Setiap Hari Natal bagi Narapidana Dan Anak Pidana yang beragama Kristen;

3) Setiap Hari Raya Nyepi bagi Narapidana Dan Anak Pidana yang beragama Hindu;

4) Setiap Hari Raya Waisak bagi Narapidana Dan Anak Pidana yang beragama Budha;

c. Remisi Tambahan adalah yang diberikan apabila Narapidana atau Anak Pidana yang bersangkutan selama menjalani pidana:

1) Berbuat jasa kepada Negara;

2) Melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi Negara atau kemanusiaan; atau

3) Melakukan perbuatan yang membantu kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan.

BAB III

PERTIMBANGAN PEMBERIAN REMISI TERHADAP NARAPIDANA

Dokumen terkait