• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

C. Dasar Hukum Wakaf

Jumhur ulama telah sepakat bahwa wakaf merupakan salah satu corak sosial ekonomi Islam yang sudah melekat dan menyatu dengan baik di dalam kehidupan masyarakat Islam di berbagai negara termasuk Indonesia. Adapun sumber hukum yang menjadi dasar dalam melaksanakan perwakafan terdapat dalam Quran,

21Departemen Agama RI Ditjen Bimas Islam Dan penyelenggaraan Haji Proyek Peningkatan Pemberdayaan wakaf, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf, h.24.

Hadits dan Ar-Ro‟yu (akal) dalam hal ini Ijtihad dengan berbagai metode istinbat-nya.22

Ulama berpendapat beberapa ayat Al-Qur‟an dan Hadits sebagai dasar hukum adanya praktik, wakaf, dari ayat dan Hadits tesebut masih berkaitan dengan dasar hukum perwakafan, yaitu antara lain

ٌمْيِلَع ِوِب َالله َّنِأَف ٍءْيَش ْنِم اْوُقِفْنُ ت اَم َو َنْوُّ بُِتُ اَِّمِ اْوُقِفْنُ ت َّتََّح َِّبِْلا اْوُلااَنَ ت ْنَل

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamumenafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Q.S Ali Imran: 92)

Kalimat al-birru dijelaskan bahwa maksud ayat tersebut mengutamakan pada niat seseorang untuk melakukan perbuatan (ibadah) yang bernilai pahala dan mendapatkan surga.23 Maka dilihat dari sisi pembatasan wakaf yaitu bukan dari barang yang diwakafkan oleh si wakif, akan tetapi di lakukan berdasarkan niat dari wakif untuk mewakafkan hartanya dalam jalan kebaikan yang mengutamakan kepada kepentingan Agama (umum). Di dalam tafsir Al-Maraghi juga menjelaskan hal tersebut, makna al-birru ialah memperluas atau memperbanyak dalam berbuat kebaikan dengan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah melalui iman, amal shaleh, dan keutamaan berakhlak.24

Sesorang tidak akan mencapai kebajikan di sisi Allah sebelum ia ikhlas menafkahkan harta yang di cintai di jalan Allah. Dikaitkan dengan sejarah Rasulullah yang memberikan nasihat kepada Abu Thalhah al-Ansari untuk membagikan hartanya kepada karib kerabatnya. Dengan hal ini ia mendapat pahala sedekah dan pahala mempererat hubungan silaturahmi dengan keluarganya, setelah itu ia menyerahkan sebidang kebunya kepada Umar bin Khatab, dan Nabi menyuruh

22Suhrawardi K. Lubis dan Farid Wadji, Hukum Ekonomi Islam, Cetakan Kedua, (Jakarta:

Sinar Grafika, 2014), h. 5.

23Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-qurthubi, Tafsir Al-qurthubi Jilid II, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-ilmiyah, 2010), Cetakan Ketiga,h. 86.

24Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Maraghi Jilid I,(Beirut: Dar Al-kutub, 2010)Cetakan Pertama, h. 54.

untuk memelihara kebun tersebut dan hasilnya merupakan wakaf Umar.25 Segala sesuatu yang dilakukan seseorang dengan tujuan kebaikan atau landasan niat seseorang tersebut. Karena tidak dapat dilakukan suatu perbuatan tanpa berlandaskan niat yang baik seseorang. Segala perkara yang yang dilakukan harus adanya maksud yang jelas dan tujuan yang sesuai dengan syariat. Dalam kebajikan juga mengandung makna sedekah, dapat dikatakan sedekah apabila harta yang dikeluarkan seorang muslim kepada muslim lain maka boleh dipergunakan dan dimanfaatkan. Apabila ada orang kafir menyedekahkan hartanya maka tidak bermanfaat.26 Niat yang dimaksud ialah niat di dalam hati seseorang, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui niat seseorang kecuali Allah SWT. Apabila niat seorang itu buruk maka balasan yang Allah berikan sesuai dengan apa yang diniatkan dan apa bila seseorang itu meniatkan kebaikan maka Allah akan membalas nya dengan apa yang yang dijanjikan Nya.

Dan Hadits yang menjelaskan tentang landasan hukum yang berkaitan dengan waqaf sebagai berikut :

ييح انثدح لاق رمعنبا نع عفنا نع نوع نبا نع رضخا نب ميلس نابِخا يمىمتلا ييح نب

نيا الله لوسر يا لاقف اهيف هرماتسي مّلسو ويلع الله يلص بينلا تيأف بِيبخ اضرا رمع باصا نا وى طق لاام بصا لم بِىبخ اضرا تبصا تئش نا" لاق وب نيورمتأ امف ونم يدنع سف

لاق بىوتلاو عاتبي لاو اهلصا عابيلا ونا رمع ابه قدصتف لاق ابه تقدصتو اهلصا تسبح

25 Kementrian Agama RI, Al-qur‟an dan Tafsirnya(Edisi yang disempurnakan), Jilid II, (Jakarta: Kementrian Agama RI, 2011), h. 3-4.

26Al-Syekh Ahmad bin Muhammad shawi Al-Misri Al-khuluti Al-Maliki, hasyiah As-shawi „ala tafsir Al-jalalain Jilid V,(Beirut: Dar Kutub Al-ilmiyah),Cetakan Pertama, h. 233

حانج لا فيضلاو ليبس نباو الله ليبس فِو باقرلا فِو بيرقلا فِو ءارقفلا فِ رمع قدصتف متم يرغ اقيدص معطي وا فورعمابا اهنم لكيأ نا اهيلو نم يلع ويف لو

Artinya : “Berkata Yahya Ibn Yahya At-Tamamy memberi kabar kepada kami Salim Ibn Akhdor dari Ibn „Aun dan Nafi‟i dan Ibnu Umar mengatakan bahwa Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi SAW. Untuk meminta fakta mengenai tanah tersebut, kemudian dia mengatakan, “Ya Rasulallah! Saya telah mendapatkan tanah di Khaibar. Saya belum pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai bagi saya daripada tanah tersebut, lalu apa yang Anda sarankan kepada saya? “Rasulullah bersabda: ”Jika kita mau, sebaiknya kau pertahankan harta tanah pokok (tanah tersebut) lalu kau sedekahkan hasilnya.” Maka Umar pun menyedekahkan penghasilan tanah tersebut. Tanah tersebut tidak dijual, tidak dibeli, tidak diwariskan, dan tidak dihibahkan. Umar menyedekahkan penghasilan tanah tersebut kepada orang-orang fakir, sanak kerabat, para budak, untuk sabillilah, ibnu sabil dan tamu.orang yang mengurusi tanah tersebut tidak di larang memakan sebagian hasil tanamannya dalam batas-batas yang baik atau dia diberikan kepada temenya tanpa dijualnya”.27

Dijelaskan dalam Hadits tentang wakaf dipraktikan oleh sahabat Umar pada harta kekayaannya. Rasulullah menyarankan kepada sahabat Umar apabila hendak berwakaf, wakafkan (tahan) pokoknya kemudian sedekahkanlah hasilnya. Hal yang demikian adalah wakaf produktif yang dipraktikan oleh Umar bin Khattab adalah sejumlah wilayah yang diperoleh sesudah menaklukkan wilayah Khaibar.

Hal tersebut dapat dikategorikan dengan sedekah, dalam arti sedekah, dalam arti sedekah yang dimuliakan atau harta yang ditahan ataupun diwakafkan tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan, maka hal tersebut dibenarkan28. Sebagian ulama menafsirkan “shadaqah jariyah” dengan

27Imam Abi Husein Muslim Ibni Hajjaj Ibn Muslim Al-Quraisy An-Naisaburiyi, Shahih Muslim, ( Mesir: Maktabah Ibadurrahman, 2008 ), Cetakan Kedua, h. 457.

28Al-Imam Al-„Alamah Al-Mujtahidi Jalaludin As-Suyuthi As-Syafi‟i, Asybah Wannadzhoir Qowa‟id Al-Fiqhiyyah, (Qahirah: Maktab Al-Thaqafy, 2007), Cetakan Pertama, h. 363.

Hadits ini adalah waqaf, sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Rofi‟i29, karena shadaqah jariyah mengandung harapan agar sedekah tersebut selalu mengalir pahalanya walaupun orang tersebut telah meninggal dunia.

Disimpulkan dari Hadits tersebut bahwa disyari‟atkan wakaf sebagai tindakan hukum dengan cara melepaskan hak kepemilikinnya atas asal barang dan menyedekahkan manfaatnya untuk kepentingan umum, dengan maksud memperoleh pahaa dari Allah SWT.

D. Wakaf menurut Fiqh dan Perundang-Undangan 1. Menurut Fiqh

Menurut Fiqh, wakaf secara bahasa berasal dari kata waqafa-yaqifu yang artinya berhenti, lawan dari kata istamara. Kata ini sering disamakan dengan al-Tahbis atau al-tasbil yang bermakna al-habs „an tasaruf, yaitu mencegah dan mengelola.30

Menurut pakar Fiqh yang mendefinisikan wakaf sebagai berikut:

Menurut Sayid Sabiq:

الله ليس فِ وعفانم فرصو لالما سبح يا ةرمتلا ليبست و لصلاا سبح

31

Artinya: “Wakaf adalah menahan harta dan memberikan manfaatnya dijalan Allah”

Menurut Muhammad Abu Zahrah:

اهنيع ءاقب عم ابه عافتنلاا نكيم تَّلا ْيْعلا ةبقر ف فرصتلا عنم وى فقولا

32

29 Syamsudin Muhammad Ibn Muhammad Al-Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj Jilid II, (Beirut:Al-Kutub Al-Ilmiyah,2009), h. 465.

30 Sudirman Hasan, Wakaf Uang Perspektif Fiqh, Hukum Positif, dan Manajemen (Malang:UIN-Maliki, 2011), h. 3.

31 Sayyid Sabiq, Fiqih SunahJuz 3,(Kairo: Maktabah Dar al Turas), h. 378.

32 Muhammad Abu Zahroh,Mukhadarah fi Wakaf, (Beriut: DarulFikr Al Aroby, 1971), h. 5.

Artinya: “Wakaf adalah menahan suatu harta benda untuk ditasarufkan yang diambil manfaatnya tanpa menghabiskan atau merusak bendanya (ainya) dan digunakan untuk kebaikan”

Artinya:“Menahan benda milik orang yang berwakaf dan menyedekahkan manfaatnya untuk kebaikan baik untuk sekarang dan massa yang akan datang”.

Menurut Imam Syafi‟i:

Wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah sempurna prosedur perwakafan. Wakif tidak boleh melakukan apa saja terhadap harta yang diwakafkan, seperti perlakuan pemilik dengan cara memindahkan kepemilikannya kepada orang lain baik dengan tukan menukar.34

Dari beberapa pendapat diatas wakaf dapat didefinisikan perpindahan hak milik atas suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola baik perorangan, keluarga maupun lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah.

Dalam pelaksanaan wakaf terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi.

Secara terminologi, yang dimaksud dengan syarat adalah segala sesuatu yang tergantung adanya hukum dengan adanya sesuatu tersebut, dan tidak adanya sesuatu itu mengakibatkan tidak ada pula hukum, namun dengan adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya hukum. Rukun berarti sudut atau tiang penyangga yang merupakan sendi utama atau unsur pokok dalam membentuk sesuatu hal. Tanpa adanya rukun sesuatu tidak akan tegak berdiri. Dengan kata lain bahwa syarat ada karena sesuatu

33Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif ,(Jakarta: Rajawali Press, 2015),h. 14.

34Amran Suadi dan Mardi Candra, Politik Hukum Perspektif Hukum Perdata dan PidanaIslam serta Ekonomi Syari‟ah, (Jakarta:Prenada Media Group,2016),h. 207.

hal (perbuatan hukum atau ibadah) dan rukun adalah penyempurna dalam melakukan ibadah tersebut sehingga antara syarat dan rukun hukumnya adalah wajib.35

a. Rukun

Rukum berasal dari bahasa Arab yang berarti suatu pilar kuat dan agung.

Sedangkan dalam pandangana ulama fiqih, rukun adalah bagian dari suatu hakikat.36Mengenai jumlah rukun wakaf, terdapat beberapa perbedaan pendapat antara mazhab Hanafi dengan jumhur Fuqaha. Menurut Ulama Mazhab Hanafi bahwa rukun wakaf itu hanya ada satu, yaitu akad yang berupa ijab (pernyataan dari wakif) sedangkan qabul (penyataan menerima wakaf) tidak termasuk rukun bagi Ulama Hanafi disebabkan aqad tidak bersifat mengikat. Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi empat rukun wakaf, rukun-rukun tersebut adalah sebagai berikut:

1. Orang yang berwakaf (al-waqif)

2. Benda yang diwakafkan (al-mauquf bih)

3. Pihak yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf „alaihi) 4. Lafadz atau ikrar wakaf (shighat)37

b. Syarat wakaf

Syarat-syarat menentukan sah atau tidaknya suatu perbuatan wakaf. Oleh karenannya masing-masing dari rukun wakaf harus memenuhi persyaratan tertentu.

Adapun untuk memperjelas syarat-syarat rukun di atas akan dijabarkan sebagai berikut:

35Abduurrahman, Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994), Cetakan Keempat, h. 33.

36Kementrian Agama RI, Dinamika perwakafan di Indonesia dan Berbagai Belahan Dunia (Jakarta: Direktorat jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Pemberdayaan Wakaf, 2013), h.

16.

37Abdul Halim, Hukum perwakafan di Indonesia,(Ciputat: Ciputat Press, 2005), h. 17.

1. Syarat Wakif (orang yang berwakaf )

Pada hakikatnya amalan waqaf adalah tindakan tabbaru‟ (mendermakan harta benda). Oleh karena itu syarat dari waqif adalah cakap tabbaru‟.38Orang yang mewakafkan (wakif) disyaratkan memiliki kecakapan hukum atau kamalul ahliyah (legal competent) dalam membelanjakan hartanya39. Kecakapan bertindak disini meliputi empat kriteria, yaitu sebagaiberikut:

a) Merdeka

Wakaf yang dilakukan oleh seorang budak (hamba sahaya) tidak sah, karena wakaf adalah pengguguran hak milik dengan cara memberikan hak milik itu kepada orang lain. Sedangkan hamba sahaya tidak mempunyai hak milik, dirinya dan apa yang dimiliki adalah kepunyaaan tuannya. Namun demikian Abu Zahrah mengatakan bahwa para fuqaha sepakat, budak itu boleh mewakafkan hartanya bila ada izin dari tuannya, karena ia sebagai wakil darinya. Bahkan Dzahiri (pengikut Daud Adz-Dzahiri) menetapkan bahwa budak dapat memiliki sesuatu yang diperoleh dengan jalan waris atau tabarru‟. Bila ia dapat memiliki sesuatu berarti ia dapat pula membelanjakan miliknya itu.

b) Berakal Sehat

Wakaf yang dilakukan oleh orang gila tidak sah hukumnya, sebab ia tidak berakal, tidak mumayyiz dan tidak cakap melakukan akad serta tindakan lainnya.

Demikian juga wakaf orang lemah mental (idiot), berubah akal karena faktor usia,sakit atau kecelakaan, hukumnya tidak sah karena akalnya tidak sempurna dan tidak cakap untuk menggugurkan hak miliknya.

c) Dewasa (Baligh)

Wakaf yang dilakukan oleh anak belum dewasa (baligh) hukumnya tidak sah karena ia dipandang tidak cakap melakukan akad dan tidak cakap pula untuk menggugurkan hak miliknya.

d) Tidak berada di bawah pengampunan (boros dan lalai)

38Al Sayyid Ahmad bin Umar Al Yatiri, Al Yaqut Al Nafis, (Surabaya: Al Hidayah), h. 117.

39Departemen Agama RI, Fiqih Wakaf, h.21.

Orang yang berada dibawah pengampuan dipandang tidak cakap untuk berbuat kebaikan (tabarru‟), maka wakaf yang dilakukan hukumnya tidak sah. Tetapi berdasarkan istihsan, wakaf orang yang berada di bawah pengampunan terhadap dirinya sendiri selam hidupnya hukumnya sah. Karena tujuan dari pengampuan ialah untuk menjaga harta wakaf supaya tidak habis dibelanjakan untuk sesuatu yang tidak benar, dan untuk menjaga dirinya agar tidak menjadi beban orang lain.40

2. Syarat Mauquf bih (harta yang diwakafkan)

Menurut harta yang diwakafkan, syarat wakaf terbagi menjadi dua, yaitu tentang syarat sahnya harta yang diwakafkan dan tentang kadar harta yang diwakafkan.

1) Syarat sahnya harta wakaf harta yang akan diwakafkan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Harta yang diwakafkan harus Mutaqawwim

Pengertian harta yang mutaqawwim (al-mal al-mutaqawwim) menurut Mazhab Hanafi adalah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan darurat. Karena itu Mazhab ini memandang tidak sah mewakafkan sesuatu yang bukan harta, seperti mewakafkan manfaat dari rumah sewaan untuk ditempati. Serta tidak sah mewakafkan harta yang tidak mutaqawwim seperti alat alat musik yang tidak halal digunakan atau buku-buku anti Islam, karena dapat merusak Islam itu sendiri. Latar belakang syarat ini lebih karena ditinjau dari aspek tujuan wakaf itu sendiri, yaitu agar wakif mendapatkan pahala dan mauquf„alaih memperoleh manfaat. Tujuan ini dapat tercapai jika yang diwakafkan itu dapat dimanfaatkan atau dapat dimanfaatkan tetapi dilarang oleh Islam.41

b) Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan.

Harta yang akan diwakafkan harus diketahui dengan yakin sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan. Karena itu tidak sahmewakafkan yang tidak jelas seperti “satu dari dua rumah”. Pernyataan wakaf yang berbunyi “saya mewakafkan

40Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 1998), h. 494.

41Departeman Agama RI, Fiqih Wakaf,h.27-28.

sebagian dari tanah saya kepada orang-orangkafir dikampung saya”, begitu pula tidak sah. Latar belakang syarat ini ialahkarena hak yang diberi wakaf terkait dengan harta yang diwakafkan kepadanya. Seandainya harta yang diwakafkan kepadanya tidak jelas, tentu akan menimbulkan sengketa. Selanjutnya sengketa ini akan menghambat pemenuhan haknya. Para fakih tidak mensyaratkan agar benda tidak bergerak harus dijelaskan batas-batasnya atau luasnya, jika batas-batasnya dan luasnya diketahui dengan jelas. Seperti pernyataan berikut : “saya wakafkan tanah saya yang terletakdi...”. sementara itu wakif tidak mempunyai tanah lain selain tempat itu, makamenurut fiqh sudah sah.

c) Milik wakif

Alangkah baiknya harta yang akan diwakafkan itu milik penuh wakif dan mengikat bagi wakif ketika ia mewakafkannya. Untuk itu tidak sah mewakafkan harta yang bukan milik wakif. Karena wakaf mengandung kemungkinan menggugurkan milik atau sumbangan. Keduanya hanya dapat terwujud pada benda yang dimiliki.42 d) Terpisah, bukan milik bersama (musya‟)

Milik bersama itu adakalanya dapat dibagi dan adakalanya juga tidak dapat dibagi. Hukum wakaf benda milik bersama (musya‟)adalah sebagai berikut:

1. Mewakafkan sebagian dari musya‟ untuk dijadikan masjid atau pemakaman, tidak sah dan tidak menimbulkan akibat hukum, kecuali apabila bagian yang diwakafkan tersebut dipisahkan dan ditetapkan batas-batasnya.

2. Mewakafkan kepada pihak yang berwajib sebagian dari musya‟ yang terdapat pada harta yang dapat dibagi. Muhammad berpendapat wakaf ini tidak boleh kecuali setelah dibagi dan diserahkan kepada yang diberi wakaf, karena menurutnya kesempurnaan wakaf mengharuskan penyerahan harta wakaf kepada yang diberi wakaf, artinya yang diberi wakaf menerimanya. Abu Yusuf berpendapat wakaf ini boleh meskipun belum dibagi dan diserahkan kepada yang

42Mustafa Edwin Nasution dan Uswatun Hasanah, Wakaf Tunai-Inovasi Finansial Islam:

Peluang dan Tantangan dalam MewujudkanKesejahteraan Umat, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2006), h.60.

diberi wakaf, karena menurutnya kesempurnaan wakaf tidak menuntut penyerahan harta wakaf kepada yang diberi wakaf.

3. Mewakafkan sebagian dari musya‟ yang terdapat pada harta yang tidak dapat dibagi bukan untuk dijadikan masjid atau pemakaman umum. Abu Yusuf dan Muhammad sepakat bahwa wakaf ini sah, karena kalau harta tersebut dipisah akan merusaknya, sehingga tidak mungkin memnfaatkannya menurut yang dimaksud. Demi menghindari segi negatif ini, mereka berpendapat boleh mewakafkannya tanpa merubah statusnya sebagai harta milik bersama, sedangkan cara pemafaatannya disesuaikan dengan kondisinya.43

2) Kadar harta yang di wakafkan.

Sebelum Undang-undang wakaf diterapkan, Mesir masih menggunakan pendapat Mazhab Hanafi tentang kadar harta yang akan diwakafkan. Yaitu harta yang akan diwakafkan seseorang tidak dibatasi dalam jumlah tertentu sebagai upaya menghargai keinginan wakif, berapa saja yang ingin diwakafkannya. Sehingga dengan penerapan pendapat yang demikian bisa menimbulkan penyelewengan sebagian wakif, seperti mewakafkan semua harta pusakanya kepada pihak kebajikan dan lain-lain tanpa memperhitungkan deritaatas keluarganya yang ditinggalkan.44

Kehadiran UUWM di Mesir, salah satunya berisi pembatasan kadar harta yang ingin diwakafkan sebagai upaya menanggulangi penyimpanan tersebut. Dalam hal ini, UUWM tidak menghargai sepenuhnya atas keinginan wakif untuk mewakafkan seluruh hartanya, kecuali jika wakif ketika wafat tidak mempunyai ahli waris dari keturunannya, ayah ibunya, isteri-isterinya.

Dari pemaparan diatas berikut ini adalah contoh-contoh harta yang dapat diwakafkan:

a. Benda Wakaf Tidak Bergerak:

1. Tanah 2. Bangunan

43Departemen Agama RI, Fiqih Wakaf, h. 35.

44Mustafa Edwin Nasution dan Uswatun Hasanah, op.cit.,h. 64.

3. Pohon untuk diambil buahnya 4. Sumur untuk diambil airnya b. Benda Wakaf Bergerak:

1. Hewan

2. Perlengkapan rumah ibadah 3. Senjata

4. Pakaian 5. Buku 6. Mushaf

7. Uang, saham atau surat berharga lainnya.45

3. Syarat Mauquf „Alaih

Yang dimaksud dengan mauquf „alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf). Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Karena pada dasarnya wakaf merupakan amal untuk mendekatkan diri manusia kepada Allah SWT. Karena itu mauquf „alaih haruslah kebajikan. Para faqih sepakat berpendapat bahwa infaq kepada pihak kebajikan itulah yang membuat wakaf sebagai ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhan-Nya.

4. Syarat Shighat

Salah satu pembahasan yang sangat luas dalam buku-buku fiqih ialahtentang shighat wakaf. Sebelum menjelaskan syarat-syaratnya, maka akan dijelaskan lebih dahulu pengertian, status dan dasar shighat.

a. Pengertian Shighat

Shighat wakaf ialah segala ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang berakad untuk menyatakan kehendakdan menjelaskan apa yang diinginkannya.Namun shighat wakaf cukup dengan ijab saja dari wakif tanpa

45Abd Shomad,Hukum Islam (Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum Indonesia) Edisi Revisi,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 361.

memerlukan qabuldari mauquf „alaih. Begitu juga qabul tidak menjadi syarat sahnya wakaf dan juga tidak menjadi syarat untuk berhaknya mauquf „alaih memperoleh manfaat hartawakaf, kecuali pada wakaf yang tidak tertentu.Ini menurut pendapat sebagian mazhab.

b. Status Shighat

Status shighat secara umum adalah salah satu rukun wakaf, wakaf tidaksah tanpa shighat.

c. Dasar Shighat

Dasar dalil perlunya shighat ialah karena wakaf adalah melepaskan hak milik dan benda dan manfaat atau dari manfaat saja dan kepemilikan kepada orang lain.

Maksud tujuan melepaskan dan memilikkan adalah urusan hati. Tidakada yang menyelami isi hati orang lain secara jelas, kecuali melalui pernyataan sendiri. Karena itu penyataanlah jalan untuk mengetahui maksud tujuan seseorang. Ijab wakif tersebut mengungkapkan dengan jelas keinginan wakif memberi wakaf. Ijab dapat berupa kata. Bagi wakif yang tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, maka ijab dapat berupa tulisan atau isyarat. Sedangkan syaratnya adalah Ketika hendak mewakafkan harta bendanya, pewakaf wajib mengucapkan ikrar wakaf di hadapan pejabat pembuat akta, ditambah dua orang saksi. Ikrar wakaf adalah dari pewakaf kepada orang yangdiserahi mengurus harta benda wakaf (Nazhir).Ikrar dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Pewakaf dapat memberikan kuasa untuk menyatakan ikrar wakafkarena alasan yang dibenarkan secara hukum, misalnya karena penyakit.Akta ini minimal harus memuat pewakaf dan Nazhir, data harta yang diwakafkan, peruntukan, dan jangka waktu wakaf.

c. Macam-Macam Wakaf

Dalam Fiqh, wakaf terbagi menjadi dua yaitu wakaf khayri dan wakaf ahli atau wakaf zurri. Adapun wakaf khayri adalah wakaf yang secara tegas untuk

kepentingan agama atau kemasyarakatan (kebajikan umum).46 Wakaf ini ditunjukan kepada umum dengan tidak terbatas penggunaanya. Kepentingan umum tersebut bisa untuk jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, pertahanan, kemanan dan lain-lain.

Wakaf ahli atau zuhri adalah wakaf yang dikhususkan oleh yang berwakaf untuk kerabatnya, seperti anak, cucu, saudara atau ibu bapaknya. Dalam konsepsi hukum Islam, seorang yang mempunyai harta yang hendak mewakafkan sebagian hartanya, sebaiknya lebih dahulu melihat kepada sanak famili. Wakaf ini bertujuan menjaga anak dan cucu dari orang berwakaf dzurri disyariatkan supaya barang yang diwakafkan itu hendaklah mengandung faedah yang tidak ada putus-putusnya sekalipun keturunan habis47

Perbedaan antara wakaf ahli dan wakaf khairi hanyalah terletak pemanfaatanya. Wakaf ahli pemanfaatannya hanya terbatas pada keluarga wakif,yaitu anak-anak mereka dalam tingkat pertama dan keturunan mereka secara turun temurun sampai anggota keluarga tersebut meninggal semuanya. Sesudah itu hasil wakaf dapat dimanfaatkan orang lain seperti janda, anak-anak yatim piatu, atau orang miskin.

Sedangkan wakaf khairi sejak semula pemanfaatanya sudah ditunjukan untuk kepentingan umum dan tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu.48

Bila ditinjau dari segi jenis harta bendanya, maka wakaf terdiri dari benda tidak bergerak dan bergerak.

1. Benda tidak bergerak, seperti tanah, sawah, dan bangunan. Benda macam inilah yang sangat dianjurkan agar diwakfkan. Karena mempumyai nilai jariah yang lama.

46 Sayid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Lebanon: Dar al- „Arabi, 1971), h.378

47Abd Shomad,Hukum Islam(Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum Indonesia) Edisi Revisi,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 361.

48 Said Agil Husin Al-Munawar, Hukum Islam dan PluralitasSocial, (Jakarta: Permadani, 2004), h. 142.

2. Benda bergerak, seperti mobil, sepeda motor , binatang ternak, atau benda-benda lainya. Yang terkahir ini dapat juga diwakafkan. Namun demikian, nilai jariahnya terbatas hingga benda-benda tersebut dapat dipertahankan.49

Dalam fiqh Islam, wakaf sebenarnya dapat meliputi berbagai benda.

Walaupun berbagai riwayat/Hadits yang menceritakan masalah wakaf ini adalah mengenai tanah, tapi berbagai ulama memahami bahwa wakaf bukan tanah pun boleh

Walaupun berbagai riwayat/Hadits yang menceritakan masalah wakaf ini adalah mengenai tanah, tapi berbagai ulama memahami bahwa wakaf bukan tanah pun boleh