• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Ruislag dalam Perundang-Undangan

RUISLAG TANAH WAKAF MASJID NURUL YAQIN

B. Ketentuan Ruislag dalam Perundang-Undangan

Dalam perundang-undangan tentang wakaf di indonesia tidak diklasifikasikan macam benda wakaf bentuknya atau yang dapat diubah statusnya, jadi dalam hal ini undang-undang secara mutlak memperbolehkan perubahan status harta benda wakaf apapun jenis bendanya. Sebab yang menjadi sorotan bukan bentuk, akan tetapi yang

88 Ahmad Djunaedi et.al, Paradigma Wakaf Baru di Indonesia,(Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, 2007), h. 1.

89 Muhammad Abid Abdullah Al-Kabisi, op.cit., h. 371.

terpenting dari wakaf adalah fungsi dan tujuanya. Pada dasarnya, terhadap barang yang sudah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan, baik baik peruntukan maupun syaratnya. Dalam pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang perwakafan Tanah Milik dijelaskan:

1) Pada dasarnya terhadap tanah milik yang telah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan peruntukan atau penggunaan lain dari pada yang dimaksud dalam ikrar wakaf.

2) Penyimpangan dari ketentuan tesebut dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan terhadap hal-hal tertentu setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Agama, yakni:

a. Karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh wakif b. Karena kepentingan umum

3) Perubahan status tanah milik yang telah diwakafkan dan perubahan penggunaannya sebagai akibat ketentuan tersebut dalam ayat (2) harus dilaporkan oleh Nazhir kepada kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah, Kepala Sub Direktorat Agraria setempat untuk mendapatkan penyelesaian lebih lanjut.

Dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (Buku III Hukum Perwakafan) pasal 225 ditentukan, bahwa benda yang telah diwakafkan tidak dapat dilakukan perubahan atau 28 penggunaan lain dari pada yang dimaksud dalam ikrar wakaf. Penyimpangan dari ketentuan dimaksud hanya dapat dilakukan terhadap hal-hal tertentu setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan tertulis dari Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan berdasarkan saran dari Majelis Ulama Kecamatan dan Camat setempat dengan alasan:

1. Karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh wakif 2. Karena kepentingan umum

Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf Pasal 40 juga mengatur tentang perubahan dan pengalihan harta wakaf yang sudah dianggap tidak

atau kurang berfungsi sebagaimana maksud wakaf itu sendiri. Secara prinsip, harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang:

a) Dijadikan jaminan;

b) Disita;

c) Dihibahkan;

d) Dijual;

e) Diwariskan;

f) Ditukar; atau

g) Dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Akan tetapi dalam ketentuan tersebut dikecualikan apabila harta benda wakaf yang telah diwakafkan digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariah dan hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin tertulis dari Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia. Harta benda wakaf yang sudah diubah statusnya karena ketentuan pengecualian tersebut wajib ditukar dengan harta benda yang manfaat dan nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta benda wakaf semula (Pasal 41).

Selain dari pertimbangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 41 di atas, izin perubahan status/pertukaran harta benda wakaf hanya dapat diberikan, jika pengganti harta benda penukar memiliki sertifikat atau bukti kepemilikan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 49 ayat 3 (a) Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf).

Dengan demikian, hukum asal perubahan dan atau pengalihan benda wakaf dalam perundang-undangan di Indonesia adalah dilarang, akan tetapi selama memenuhi syarat-syarat tertentu dan dengan mengajukan alasanalasan sebagaimana yang telah ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku, perundang-undangan tetap memberikan peluang dibolehkannya melakukan perubahan dan atau pengalihan

terhadap harta benda wakaf, meski dengan melalui prosedur dan proses yang panjang.Ketatnya prosedur perubahan dan atau pengalihan harta benda wakaf itu bertujuan untuk meminimalisir penyimpangan dan menjaga keutuhan harta benda wakaf agar tidak terjadi tindakan-tindakan yang dapat merugikan eksistensi wakaf itu sendiri, sehingga wakaf tetap menjadi alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak.90

Adapun dalam tata cara peralihan benda wakaf telah diatur sedemikian rupa dalam pasal 12 Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978 yang merupakan Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik dijelaskan:

1) Untuk mengubah status dan penggunaan tanah wakaf, Nazhir berkewajiban mengajukan permohonan kepada Kepala Kanwil Depag c Kepala Bidang melalui Kepala KUA dan Kepala Kanwil Depag secara hierarkis dengan menyebut alasannya.

2) Kepala KUA dan Kepala Kandepag meneruskan permohonan tersebut pada ayat (1) secara hierarkis kepada Kepala Kanwil Depag cq. Kepala Bidang dengan disertai pertimbangan.

3) Kepala Kanwil Depag cq. Kepala Bidang diberi wewenang untuk memberikan persetujuan atau penolakan secara tertulis atas permohonan perubahan penggunaan tanah wakaf.

Berikutnya dalam pasal 13 dijelaskan:

1) Dalam hal ada permohonan perubahan status tanah wakaf Kepala Kanwil Depag berkewajiban meneruskan kepada Menteri Agama cq. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dengan disertai pertimbangan.

90Farid Wadjdy dan Mursyid, Wakaf dan Kesejahteraan Umat: Filantropi Islam yang Hampir Terlupaka, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h.155.

2) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam diberi wewenang untuk memberi persetujuan atau penolakan secara tertulis atas permohonan perubahan status tanah wakaf.

3) Perubahan status tanah wakaf dapat diizinkan apabila diberikan penggantian yang sekurang-kurangnya senilai dan seimbang dengan kegunaannya sesuai dengan ikrar wakaf.

Selanjutnya perubahan status tanah wakaf atau perubahan penggunaan tanah wakaf harus dilaporkan oleh Nazhir kepada Bupati/Wali Kotamadya Kepala Daerah, Kepala Sub Dit Agraria (sekarang Kantor Badan Pertanahan) setempat untuk mendapatkan penyelesaian lebih lanjut. Setiap perubahan tidak dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku di samping terkena sanksi, juga perbuatan itu batal dengan sendirinya menurut hukum.

Ketentuan mengenai mekanisme perubahan status harta bend wakaf juga diatur lebih lanjut dalam Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang menjelaskan bahwa penukaran terhadap harta benda wakaf yang akan diubah statusnya dilakukan sebagai berikut:

1) Nazhir mengajukan permohonan tukar ganti kepada Menteri melalui Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat dengan menjelaskan alasan perubahan status/tukar-menukar tersebut;

2) Kepala KUA Kecamatan meneruskan permohonan tersebut kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota;

3) Kepala kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota setelah menerima permohonan tersebut membentuk tim dengan susunan dan maksud sepertidalam Pasal 49 ayat (4), dan selanjutnya bupati/walikota setempat membuat Surat Keputusan;

4) Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota meneruskan permohonan tersebut dengan dilampiri hasil penelitian kepada Kepala Kantor Wilayah

Departemen Agama Provinsi dan selanjutnya meneruskan permohonan tersebut kepada Menteri; dan

5) Setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Menteri, maka tukar ganti dapat dilaksanakan dan hasilnya harus dilaporkan oleh Nazhir ke kantor pertanahan dan/atau lembaga terkait untuk pendaftaran lebih lanjut.

Pembentukan Pembentukan tim sebagaimana dimaksud dalam huruf c Pasal 51 di atas terdiri dari unsur:

a. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;

b. Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota;

c. Majelis Ulama Indonesia Kabupaten/Kota;

d. Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota dan;

e. Nazhir tanah wakaf yang bersangkutan.

Lebih lanjut dalam hukum positif ruislag tanah wakaf harus melalui prosedur yang begitu ketat dan rumit, penjelasan mengenai prosedur tersebut telah diuraikan pada bab 2 yang dilakukan perizinan dari KUA setempat hingga ke Menteri Agama.

Prosedur ruislag tanah wakaf di atas dilakukan agar tidak ada penyelewangan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan untuk menjaga nilai religius tanah wakaf tersebut. Karena wakaf yang berbentuk tanah merupakan wakaf yang bernilai tinggi. Dalam hukum positif, persetujan ruislag tanah wakaf harus melalui izin dari pemerintah. Ketentuan ini telah dijelaskan pada bab 2, yaitu izin awal dari Kantor Urusan Agama setempat hingga sampai ke Menteri Agama atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia. Ketentuan ini berbeda dengan hukum Islam yang harus dengan keputusan hakim. Namun jika dikemudian hari terdapat sengketa mengenai tanah wakaf, barulah keputusan hakim diperlukan melalui proses di pengadilan. Karena tanah yang diwakafkan telah terdaftar dan mempunyai status hukum, terhadap ruislag yang melanggar ketentuan perundang-undangan terdapat sanksi yang tegas, yaitu

hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak 500 juta rupiah.

Mengenai ruislag tanah wakaf yang mana wakaf tanah merupakan wakaf yang tinggi nilainya, dengan tinggi nilainya tersebut pemerintah mengeluarkan peraturan tentang perwakafan tanah milik demi memberikan kepastian hukum terhadap tanah wakaf tersebut. Wakaf tanah biasanya lebih banyak ditujukan untuk kepentingan umum atau orang banyak. Dalam fikih Islam, wakaf ini dikategorikan dalam wakaf khairi atau umum. Wakaf yang berupa tanah merupakan fix asset yang besar nilainya, oleh karena itu ruislag tanah wakaf dalam tatanan perekonomian nasional harus dibuatkan regulasi yang baik dan jelas.

C. Analisis Ruislag Tanah Waqaf di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Perigi