• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Wali Adhal

2.3.2 Dasar Hukum Wali Adhal dalam Al-qur’an dan Hadits

39

40 Artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”(Q.S. al-Furqaan: 72)

2. Dalil-Dalil dari Hadist

Tidak hanya dalam Al-Qur’an saja tempat diwajibkannya untuk menegakkan keadilan namun dalam hadist juga nabi mengharuskan untuk menegakkan keadilan.misalnya:

رجا هلف ءاطخ اف دهتجااذاؤ نارجا هلف باصاف مكاحلا دهتجااذا Artinya: “Apabila seorang hakim berijtihad dan tepat ijtihadnya, maka ia memperoleh dua pahala, dan apabila ia berijtihad tetapi ijtihadnya itu salah, maka ia memperoleh satu pahala”.

Dalam hadis yang lain disebutkan:

ِراهنلَا يِف ِناَنْثِا :ٌةَث َلََث ُةاَضُقْلَا ( ملسو هيلع الله ىلص ِ ه َالله ُلوُسَر َلاَق :َلاَق هنع الله يضر َةَدْيَرُب ْنَع يِف ٌدِِاَوَو ,

َرَع ٌلُج َرَو .ِةهنَجْلَا يِف َوُهَف , ِهِب ىَضَقَف , هقَحْلَا َفَرَع ٌلُجَر .ِةهنَجْلَا َوُهَف , ِمْكُحْلَا يِف َراَجَو , ِهِب ِضْقَي ْمَلَف , هقَحْلَا َف

) ِراهنلَا يِف َوُهَف , ٍلْهَج ىَلَع ِساهنلِل ىَضَقَف , هقَحْلَا ِفِرْعَي ْمَل ٌلُجَرَو .ِراهنلَا يِف ُمِكاَحْلَا ُهَحهحَصَو , ُةَعَب ْرَ ْلَْا ُهاَوَر)

(

Artinya: “Dari Buraidah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hakim itu ada tiga, dua orang di neraka dan seorang lagi di surga. Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka ia di surga; seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di neraka; dan seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka." Riwayat Imam Empat. Hadits shahih

menurut Hakim”.

2.4 Wali Hakim

2.4.1 Pengertian Wali Hakim

Wali Hakim adalah Wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau Pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah. Wali hakim juga telah dijelaskan jika wali terdekat tidak ada atau tetapi memnuhi syarat maka hak

41 menikahkan berpindah pada wali hakim dalam tingkat berikutnya.jika wali tidak mau menikahkan atau ada perempuan yang tidak empunyai maka akad nikah dilakukan oleh wali hakim.

Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (2), Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2007, Pasal 18 ayat (4) wali hakim adalah Kepala Kantor Uurusan Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita dan adhlanya wali sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan keputusan Pengadilan Agama Sungguminasa.

2.4.2 Persyaratan Wali Hakim

1. Wanita yang tidak ada walinya atau tidak diketahui artinya seperti anak zina, anak pungut dan lain-lain. Jika ingin menikah yang menikahkanya adalah wali hakim dan orang lain tidak erhak menikahkanya walaupun orang tua angkat atau ayah angkatnya.

2. Wanita yang hilang walinya artinya jika calon mempelai wanita yang wali nikahnya hilang atau tidak diketahui keberadannya.

Apakah masih hidup atau tidak seperti orang yang menumpang sebuah kapal dan tenggelam di perjalanan. Maka dalm keadaan seperti ini yang menikahkan adalah wali hakim.

3. Wanita yang walinya sedang ibadah haji atau umrah artinya seorang wanita wali nikahnya sedang melaksanakan haji atau umrah maka yang menikahkan adalah wali hakim walaupun wali

42 nikah mewakilkan pada seseorang sebelum berangkat tetap tidak sah jika pernikahan berlangsung saat wali nikah dalam ihram haji atau umrah.

4. Wanita yang walinya di penjara artinya jika seseorang wali nikah berada dalam penjara dan masih bisa dijenguk, maka dia

menikahkan sendiri di penjara dengan mendatangkan calon suaminya dan apabila wali nikah tidak diketahui berada di penjara mana dan tidak bisa di jenguk maka yang menikahkan adalah wali hakim.

5. Wanita yang walinya bersembunyi pada hari pernikahan atau tidak menepati janji artinya jika seorang wali nikah sudah berjanji untuk menikahkan dan akan datang pada akad nikah namun pada hari H dia tidak datang bersembunyi atau selalu berkelip maka yang menikahkannya adalah wali hakim.

43

BAB 3

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Dasar Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Menunjuk Dan Menetapkan Wali Hakim Sebagai Pengganti Wali Adhal Di Permohonan Penetapan Nomor 82/Pdt.P/2016/PA.Sgm

Dalam permohonan penetapan nomor 82/Pdt.P/2016/PA.Sgm Pemohon mengajukan permohonan penetapan wali adhal kemudian telah membaca dan mempelajari berkas perkara juga mendengar keterangan pemohon dan calon suami pemohon, serta memeriksa alat bukti pemohon dalam persidangan.

3.1.1 Pokok Perkara

Bahwa Pemohon dalam surat permohonannya tertanggal 20 mei 2016, yang terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Agama Sungguminasa dengan Nomor 82/Pdt.P/2016/PA.Sgm tanggal 20 mei 2016, telah mengajukan permohonan wali adhal.

Hubungan antara pemohon dan calon suami pemohon tersebut sudah sedimikian erat dan sangat sulit untuk dipisahkan, karena telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun.

Bahwa selama ini, keluarga pemohon telah sama-sama mengetahui hubungan cinta kasih antara pemohon dan calon suami pemohon tersebut, bahkan calon suami pemohon telah meminang/melamar Pemohon sebanyak 3 (tiga) kali, namun wali nikah Pemohon tetap menolak dengan alasan karena tidak sederajat dan belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai bidang ilmunya serta ada

44 anggapan dari wali pemohon tergila-gila kepada calon suami Pemohon karena diguna-gunai.

Pemohon telah berusaha keras melakukan pendekatan kepada wali nikah Pemohon agar menerima pinangan dan selanjutnya menikahkan Pemohon dan calon suami Pemohon tersebut, akan tetapi Wali nikah Pemohon tetap pada pendiriannya dengan tidak memberi izin dan menolak menikahkan.

Bahwa Pemohon dan calon suami Pemohon pada tanggal 17 Mei 2016 telah menghadap ke Kantor Urusan Agama Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa dengan tujuan agar menikahkan Pemohon dan calon suami Pemohon dengan wali hakim, dengan alasan orang tua Pemohon (sebagai wali), akan tetapi Kantor Urusan Agama Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa menolak rencana pernikahan tersebut sebagaimana surat yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa dengan model N9, Nomor KK.21.02.3/PW.01/333/V/2016, tanggal 19 Mei 2016, Oleh karena pernikahan Pemohon dan calon suami Pemohon ditolak oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, maka Pemohon mengajukan permohonan penetapan wali hakim.

Bahwa apabila perkara/permohonan ini dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Pallangga Kabupaten Gowa, mohon kiranya dapat menunjuk PPN Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa untuk menjadi wali hakim atas pernikahan Pemohon dengan calon suami Pemohon.

45 Pemohon berpendapat bahwa penolakan wali nikah Pemohon tersebut tidak berdasarkan hukum, oleh karena itu Pemohon tetap bertekad bulat untuk melangsungkan pernikahan dengan calon suami Pemohon dengan alasan:

Pemohon telah dewasa dan telah siap menjadi seorang istri, begitu pula calon suami Pemohon, telah siap untuk menjadi seorang suami yang mempunyai pekerjaan yang mampu menghidupi Pemohon.

Pemohon dan calon suami Pemohon telah memenuhi syarat-syarat dan tidak ada larangan untuk melangsungkan pernikahan baik menurut ketentuan Hukum Islam maupun peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pemohon sangat kuatir apabila antara Pemohon dan calon suami Pemohon tidak segera melangsungkan pernikahan akan melanggar ketentuan Hukum Islam.

Pemohon juga diberikan ketersediannya untuk membayar seluruh biaya yang timbul akibat perkara ini.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Pemohon mohon agar kiranya Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa memanggil wali nikah Pemohon, kemudian memeriksa perkara ini, selanjutnya menetapkan sebagai berikut:

Primer:

1. Mengabulkan permohonan Pemohon.

2. Menetapkan bahwa ayah Pemohon yang bernama Wali Pemohon, adalah Adhal.

3. Menunjuk Pegawai Pencatat Nikah (P2N) Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa menjadi wali hakim dalam pernikahan Pemohon dengan calon suami Pemohon.

46 4. Membebankan biaya perkara sesuai dengan ketentuan hukum yang

berlaku.

Subsider:

Jika Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan seadil-adilnya.

Bahwa pada hari persidangan yang telah ditetapkan, Pemohon telah datang menghadap sendiri di persidangan, sedangkan Wali Pemohon tidak datang menghadap di persidangan dan tidak pula menyuruh orang lain sebagai kuasanya meskipun telah dipanggil secara resmi dan patut berdasarkan relaas panggilan tertanggal 26 Mei dan 9 Juni 2016 serta ketidak hadirannya bukan disebabkan oleh suatu halangan yang sah.

Bahwa Majelis Hakim telah berupaya menasehati Pemohon agar persoalannya tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, akan tetapi tidak berhasil.

Bahwa Pemohon menyerahkan Surat Penolakan Pernikahan (Model N9) yang dikeluarkan oleh Penghulu Kantor Urusan Agama Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa dengan Nomor KK.21.02.3/PW.01/333/V/2016, tanggal 19 Mei 2016 yang intinya menolak untuk melangsungkan pernikahan antara Pemohon dengan calon suami Pemohon dengan alasan wali nikah tidak bersedia/tidak setuju.

Bahwa kemudian dibacakanlah permohonan Pemohon tersebut yang isinya tetap dipertahankan oleh Pemohon.

Bahwa Majelis telah mendengar keterangan calon suami Pemohon yang bernama Calon suami, umur 28 tahun, agama Islam, pekerjaan wiraswasta,

47 bertempat tinggal di Kampung Pekanglabbu, Desa Tetebatu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, yang pada pokoknya sebagai berikut:

Bahwa dia ingin menikah dengan Pemohon karena telah berpacaran dan saling mencintai.

Bahwa dia telah tiga kali melamar Pemohon, namun ditolak karena oleh wali Pemohon ingin Pemohon mempunyai pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dulu baru bisa dinikahkan dengannya.

Bahwa antara dia dengan Pemohon tidak mempunyai hubungan keluarga dan tidak ada larangan dan halangan untuk menikah kecuali ayah Pemohon yang tidak mau menjadi wali pernikahannya.

Bahwa pernikahannya dengan Pemohon tidak dapat ditunda karena Pemohon sekarang hamil 3 bulan mengandung anaknya.

Selanjutnya untuk meneguhkan dalil permohonannya, Pemohon di persidangan telah mengajukan dua orang saksi sebagai berikut:

1. Saksi I, Umur 34 tahun, agama Islam, pekerjaan Staf Kapolda Sulawesi Selatan (Karyawan Puskopal), bertempat kediaman di BTN Reskita Indah Kelurahan Tetebatu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, di bawah sumpahnya menerangkan hal-hal yang pokoknya sebagai berikut:

a. Bahwa saksi kenal dengan Pemohon dan Wali Pemohon karena calon suami Pemohon adalah adik kandung saksi.

b. Bahwa Pemohon sekarang tinggal dirumah Imam Tetebatu Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa karena Pemohon lari dari rumah orang tua

48 Pemohon disebabkan orang tua Pemohon tidak merestui Pemohon menikah dengan Calon suami.

c. Bahwa keluarga calon suami Pemohon telah melamar Pemohon sebanyak 3 kali, namun orang tua Pemohon tetap menolak dengan alasan Pemohon belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai bidang ilmunya, awalnya sewaktu pelamaran pertama diterima oleh ibu Pemohon tetapi masalah uang belanja belum dibicarakan karena ayah Pemohon saat itu sedang dinas luar di Jakarta.

d. Bahwa pihak keluarga telah berusaha melakukan pendekatan kepada orang tua Pemohon agar menerima lamaran dan menikahkan Pemohon dengan calon suami Pemohon akan tetapi orang tua Pemohon tetap pada pendiriannya dengan tidak memberi izin dan menolak menikahkan Pemohon dengan calon suaminya.

e. Bahwa Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada hubungan keluarga dan setahu saksi antara Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada larangan dan halangan untuk menikah kecuali ayah Pemohon yang tidak mau menjadi wali pernikahan Pemohon.

f. Bahwa calon suami Pemohon berstatus jejaka dan telah bekerja di koperasi.

2. Saksi II, Umur 46 tahun, agama Islam, pekerjaan wiraswasta (pedagang), bertempat kediaman di kampong pekanglabbu, Desa Tetebatu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, di bawah sumpahnya menerangkan hal-hal yang pada pokoknya sebagai berikut:

49 a. Bahwa saksi kenal dengan Pemohon dan Wali Pemohon karena calon

suami Pemohon adalah adik kandung saksi.

b. Bahwa Pemohon sekarang tinggal di rumah Imam Tetebatu Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa karena Pemohon lari dari rumah orang tua Pemohon disebabkan orang tua Pemohon tidak merestui Pemohon menikah dengan Calon suami.

c. Bahwa keluarga calon suami Pemohon telah melamar Pemohon sebanyak 3 kali, namun orang tua Pemohon tetap menolak dengan alasan pemohon belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai bidang ilmunya, awalnya sewaktu pelamaran pertama diteirma oleh ibu Pemohon tetapi masalah uang belanja belum dibicarakan karena ayah Pemohon saat itu sedang dinas luar di Jakarta.

d. Bahwa pihak keluarga telah berusaha pendekatan kepada orang tua Pemohon agar menerima lamaran dan menikahkan Pemohon dengan calon suami Pemohon akan tetapi orang tua Pemohon tetap pada pendiriannya dengan tidak memberi izin dan menolak menikahkan Pemohon dengan calon suaminya.

e. Bahwa Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada hubungan keluarga dan setahu saksi antara Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada larangan dan halangan untuk menikah kecuali ayah Pemohon yang tidak mau menjadi wali pernikahan Pemohon.

f. Bahwa calon suami Pemohon berstatus jejaka dan telah bekerja di koperasi.

50 Bahwa selanjutnya Pemohon menyatakan tidak mengajukan suatu apapun lagi, dan memohon agar Pengadilan Agama Sungguminasa menjatuhkan penetapannya.

Bahwa untuk ringkasnya uraian penetapan ini, maka ditunjuk hal ikhwal sebagaimana tercantum dalam Berita Acara Sidang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penetapan ini.

3.1.2 Pertimbangan Hukum Hakim

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon sebagaimana telah diuraikan di muka.

Menimbang, bahwa untuk mengurus pernikahan, Pemohon telah menempuh peosedur sebagaimana ditetapkan Pasal 9 Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2007, dan keinginan Pemohon untuk menikah dengan calon suami telah ditolak oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa dengan Nomor KK.21.02.3/PW.01/333/V/2016, tanggal 19 Mei 2016 dengan alasan wali nikah tidak bersedia/tidak setuju, Berdasarkan surat tersebut maka Pemohon telah memenuhi syarat administratif untuk mengajukan Permohonan wali adhal di Pengadilan Agama Sungguminasa sebagaimana diatur Pasal 21 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

Menimbang, bahwa pada hari persidangan yang telah ditetapkan, Pemohon telah datang menghadap sendiri di persidangan, sedangkan Wali Pemohon tidak datang menghadap di persidangan dan tidak pula menyuruh orang lain sebagai kuasanya meskipun telah dipanggil secara resmi dan patut serta ketidak hadirannya bukan disebabkan oleh suatu halangan yang sah.

51 Menimbang, bahwa walaupun wali Pemohon tidak menghadiri persidangan, Majelis Hakim telah berupaya menasehati Pemohon agar persoalannya tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, akan tetapi juga tidak berhasil.

Menimbang, bahwa alasan pokok Pemohon mengajukan permohonan wali adhal adalah ayah kandung Pemohon tidak bersedia menjadi wali nikah karena Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak sederajat dan Pemohon belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai bidang ilmunya serta ada anggapan dari wali Pemohon kalau Pemohon tergila-gila kepada calon suami Pemohon karena diguna-gunai.

Menimbang, bahwa oleh karena wali nikah Pemohon (Wali Pemohon) tidak hadir di persidangan maka wali Pemohon tidak dapat didengar keterangannya.

Menimbang, bahwa Majelis telah mendengar keterangan calon suami Pemohon yang pada pokoknya menyatakan ingin segera menikah dengan Pemohon karena Pemohon sekarang sedang hamil 3 bulan mengandung anaknya.

Menimbang, bahwa berdasarkan permohonan Pemohon, keterangan keterangan calon suami Pemohon, serta keterangan saksi-saksi Pemohon di persidangan ditemukan fakta-fakta sebagai berikut:

Bahwa Pemohon mengajukan permohonan wali adhal karena Wali Pemohon tidak mau menjadi wali nikah Pemohon ketika menikah dengan Calon suami.

Bahwa Pemohon sekarang tinggal di rumah imam Desa Tetebatu Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa karena Pemohon lari dari rumah orang tua

52 Pemohon disebabkan orang tua Pemohon tidak merestui Pemohon menikah dengan Calon suami.

Bahwa keluarga calon suami Pemohon telah melamar Pemohon sebanyak 3 kali, namun orang tua Pemohon tetap menolak dengan alasan Pemohon belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai dengan bidang ilmunya, awalnya sewaktu pelamaran pertama diterima oleh ibu Pemohon tetapi masalah uang belanja belum dibicarakan karena ayah Pemohon saat itu sedang dinas luar di Jakarta.

Bahwa Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada hubungan keluarga dan setahu saksi antara Pemohon dengan calon suami Pemohon tidak ada larangan dan halangan untuk menikah kecuali ayah Pemohon yang tidak mau menjadi wali pernikahan Pemohon.

Bahwa calon suami Pemohon berstatus jejaka dan telah bekerja di koperasi.

Bahwa Pemohon sekarang sedang hamil 3 bulan karena perbuatan calon suami Pemohon.

Menimbang, bahwa Wali Pemohon menolak (enggan) menjadi Wali Pemohon, dan penolakan Wali Pemohon bukan karena persoalan sekufu dan bukan karena larangan nikah, akan tetapi hanya semata-mata karena Wali Pemohon ingin Pemohon sebelum menikah telah mempunyai pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai bidang ilmunya sehingga dengan keengganan Wali Pemohon tersebut menjadi kendala terjadinya pernikahan Pemohon dengan calon suami Pemohon.

53 Menimbang, berdasarkan fakta tersebut di muka, maka Majelis Hakim berkesimpulan bahwa keengganan Wali Pemohon adalah merupakan sikap keberatan atau tidak setuju, keberatan mana Wali Pemohon tersebut bukan atas alasan yang dapat dibenarkan oleh hukum Islam, seperti tidak sekufu karena adanya perbedaan agama atau ikhtilafuddin (vide 61 Kompilasi Hukum Islam) dan atau karena adanya sikap dan perilaku calon suami Pemohon yang menyimpang dari nilai-nilai hukum dan moral yang sangat berpotensi menghancurkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga.

Menimbang, bahwa antara Pemohon dan calon suaminya (mempelai pria) tidak ditemukan adanya hal-hal yang bertentangan dengan aturan perkawinan, serta tidak ada hal-hal yang menjadi larangan bagi Pemohon untuk menikah dengan lelaki pilihannya tersebut sebagaimana yang dimaksud Pasal 6, 7, 8, dan 9 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, jo. Pasal 39, 40, 41, 42, 43, dan 44 Kompilasi Hukum Islam.

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut, Majelis menilai keengganan atau adhalnya Wali Pemohon untuk menikahkan Pemohon dengan lelaki pilihannya itu tidaklah beralasan, baik menurut hukum syara maupun perundang-undang yang berlaku.

Menimbang, bahwa dengan tidak hadirnya ayah kandung Pemohon walaupun telah dipanggil secara resmi dan patut, maka Majelis Hakim sependapat dan mengambil alih pendapat ahli fiqih dalam kitab I’anatut Tholibin juz II halaman 319.

54 Artinya: Bila telah jelas wali itu bersembunyi atau membangkang maka hakimlah yang mengawininya.

Menimbang, bahwa antara Pemohon dengan calon suami Pemohon sudah terlanjur saling mencintai, tidak ada larangan menikah di antara keduanya, bahkan sekarang Pemohon sedang hamil dan telah lari dari rumah orang tuanya dengan tinggal di rumah imam setempat, maka atas dasar prinsip hukum Islam sebagaimana kaidah fiqih berikut.

Artinya: “Menolak mafsadat didahulukan daripada meraih kemaslahatan”

Kehendak Pemohon untuk menikah dengan calon suami Pemohon adalah suatu langkah tepat untuk mencegah mafsadat antara keduanya, oleh karenanya permohonan Pemohon untuk menetapkan adhalnya Wali Pemohon (Wali Pemohon) dapat dikabulkan dengan menetapkan wali nasab dalam hal ini ayah Pemohon (Wali Pemohon) adalah adhal sehingga Pemohon diizinkan untuk melangsungkan pernikahan dengan wali haikm.

Menimbang, bahwa apabila wali nasab enggan untuk memberikan hak perwaliannya, maka dapat ditetapkan wali hakim untuk nmenggantikan kedudukannya sebagaimana yang dimaksud Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Agama RI Nomor 30 Tahun 2005 dan Pasal 23 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam.

Menimbang, bahwa sesuai surat permohonan dan domisili terakhir Pemohon, maka Pengadilan Agama Sungguminasa menunjuk Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa sebagai wali hakim untuk menikahkan Pemohon (Pemohon) dengan calon suami Pemohon (Calon Suami) sesuai ketentuan ayat (4) pasal 21 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 setelah

55 sebelumnya wali nasab Pemohon dimintai kembali kesediaannya untuk menjadi wali nikah Pemohon sebagaimana maksud Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Agama RI Nomor 30 Tahun 2005.

Menimbang, bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di muka, maka permohonan Pemohon dipandang terbukti dan cukup memenuhi alasan hukum, dan karenanya dapat diterima dan dikabulkan.

Menimbang, bahwa perkara ini termasuk dalam bidang perkawinan, maka biaya perkara harus dibebankan kepada Pemohon sesuai ketentuan pasal 89 ayat 1 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989.

Mengingat segala ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta hukum syar’i yang berkaitan dengan perkara ini.

Berdasarkan Putusan Pengadilan tentang Penunjukan dan Penetapan Wali Hakim sebagai Pengganti Wali Adhal, menurut penulis bahwa Perkawinan harus disetujui oleh Wali kandung yang bersangkutan. Bahwa orang tua dari pemohon dalam hal ini Wali Adhal tidak menyetujui adanya perkawinan dari pemohon dan calon suami pemohon dengan alasan bahwa calon suami pemohon ini hanya bekerja di koperasi, sedangkan wali dari pihak pemohon ini bersih keras agar calon suami pmohon ini bekerja sesuai dengan bidang ilmunya atau sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muhammad Najmi Fajri, selaku hakim pengadilan agama sungguminasa kabupaten gowa mengatakan bahwa:

Dalam perkara ini pemohon megajukan permohonannya ke pegadilan agama sungguminasa dengan dalil alasan bahwa wali dari pemohon tidak bersedia

56 menikahkan pemohon dengan calon pemohon,untuk itu pihak pengadilan dalam menanggapi surat permohonan tersebut tentunya memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku. Adapun dasar hukum untuk mengabulkan permohonannya adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 39,40,41,42,43, dan 44 Kompilasi Hukum Islam seperti yang tercantum dalam putusan Nomor 82/Pdt.P/2016/PA.Sgm.

Berdasarkan Putusan Pengadilan menurut penulis bahwa pihak keluarga dari calon suami pemohon telah melamar sebanyak 3 kali namun orang tua pemohon tetap menolak, padahal sebelumnya pelamaran pertama diterima oleh ibu pemohon tetapi masalah uang belanja belum dibicarakan karena ayah pemohon saat itu sedang dinas luar Jakarta.

Berdasarkan Putusan Pengadilan tersebut, bahwa pemohon dengan calon suami pemohon tidak ada hubungan keluarga juga tidak ada larangan atau halangan untuk menikah terlebih bahwa ayah pemohon tidak setuju serta tidak mau menjadi wali pernikahan pemohon. Seperti diketahui bahwa antara pemohon dan calon suami pemohon sudah saling mencintai bahkan sekarang pemohon telah hamil dan telah lari dari rumah orang tuanya dengan tinggal dirumah imam setempat.

Berdasarkan Putusan Pengadilan tersebut, bahwa apabila Wali Nasab enggan untuk memberikasn hak perwalihannya, maka dapat ditetapkan wali hakim untuk menggantikan kedudukannya dalam hal ini wali yang membangkan atau ingkar sebagaimana yang dimaksud Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri

57 Agama RI Nomor 30 Tahun 2005 dan Pasal 23 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam sebagaimana kita ketahui wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali yang bersangkutan (Adhal) tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya maupun keberadannya.

Berdasarkan Putusan Pengadilan tersebut, sesuai dengan ketentuan Pasal 19 Kompilasi Hukum Islam wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkanya, oleh sebab itu jika wali dari mempelai wanita ini telah jelas ingkar ataupun bersembunyi maka hakimlah yang berhak untuk menikahkanya dan pemohon dengan calon suami pemohon berkenyakinan bahwa keputusannya dan langkahnya sudah tepat dengan alasan untuk mencegah mafsadat antara keduanya, sebab untuk menjaga kemaslahatan si anak yang ada dalam kandungan pemohon.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muhammad Najmi Fajri, selaku Hakim Pengadilan Sungguminasa Kabupaten Gowa mengenai Penunjukan dan Penetapan Wali Hakim bahwa:

Pada intinya beliau menyatakan Wali Nasab berhak untuk memberikan hak perwalihannya dalam hal ini ayah pemohon untuk segera menjadi wali nikah akan tetapi disisi lain ayah kandung pemohon enggan menikahkan pemohon dengan calon suami pemohon dengan alasan bahwa oreang tua pemohon hanya ingin menikahkan pemohon dengan calon suami pemohon dengan status kejelasan dalam hal pekerjaan karena seperti diketahui bahwa calon suami pemohon hanya bekerja sebagai wiraswasta dan belum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta anggapan dari wali pemohon kalau pemohon sangat tergila-gila kepada calon suami pemohon dan menganggap bahwa ada ilmu semacam guna-guna yang dilakukan oleh calon suami untuk memikat hati anaknya .(Sumber: Data Wawancara diambil pada tanggal 09 Februari 2017 pada pukul 14.00 wita)

Berdasarkan Putusan Pengadilan tersebut sesuai dengan ketentuan ayat (4) Pasal 21 Undnag-Undnag Nomor 1 Tahun 1974 setelah sebelumnya Wali Nasab

Dokumen terkait