• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Pemikiran dan Perkembangannya

Dalam dokumen Workshop Proceeding Puskonser dan ITTO (Halaman 106-114)

TINGKAT DESA

A. Dasar Pemikiran dan Perkembangannya

Ide awal konservasi berbasis desa ini berasal dari Setijati Sastrapraja (2005), bahwa jumlah desa di Indonesia sekitar 70.000 dan bila tidak semua desa memiliki lahan, diperkirakan 35.000-40.000 desa masih memiliki lahan terbuka baik berupa sawah, ladang, dan pekarangan. Bila satu desa menanam satu jenis pohon, maka ribuan jenis pohon yang bisa dilestarikan dan dimanfaatkan. Dasar pemilihan jenis disarankan unik dan khas, memberi keuntungan ekonomi dan digemari masyarakat. Gagasan ini kemudian berkembang bahwa yang dikonservasi bukan pada level jenis, tetapi pada level genetik sehingga penentuan jumlah sampel individu dalam populasi dan jumlah populasi yang menjadi target konservasi menjadi pertimbangan tergantung karakteristik jenis tersebut. Namun sebagai ketentuan umum untuk tujuan KSDGTH Tingkat Desa ini jumlah populasi diupayakan minimal lima populasi dari daerah yang secara geografis berbeda, sedangkan jumlah pohon induk setiap populasi minimal 20 pohon (Departemen Kehutanan, 2008).

B. Implementasi

Pelaksanaan Konservasi Sumberdaya Genetik Tanaman Hutan (KSDGTH) Tingkat Desa oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan sudah dilakukan di 3 (tiga) lokasi yaitu Cilacap (2006), Gunung Kidul (2006 dan 2008) dan Blitar (2007). Demplot Cilacap dan Gunung Kidul adalah yang paling awal sehingga masih cenderung ke konservasi jenis, sedangkan demplot

Blitar telah menuju konservasi genetik. Implementasi ini sejalan dengan dinamika konsep awal sampai menjadi sebuah pedoman. Pada tahun 2011 dilanjutkan lagi dengan mengawali KSDGTH diupayakan mendekati ideal di Bantul, DIY.

1. Demplot KSDGTH Cilacap

Lahan yang digunakan untuk demplot Konservasi Sumberdaya Genetik Tanaman Hutan (KSDGTH) tingkat desa termasuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Selok, yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah. Dasar pemilihan lokasi ini yaitu lahan berupa tanah negara, lahan kosong, aksesibilitas mudah dan ada interaksi dengan masyarakat. Berdasarkan administrasi pemerintahan, TWA Gunung Selok ini termasuk dalam wilayah Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap.

Plot KSDGTH Cilacap terdapat tujuh jenis tanaman pokok yang ditanam tahun 2006 seluas 5 ha. Jenis tanaman tersebut dipilih karena merupakan jenis asli setempat dan jenis MPTS (Multi Purpose Tree Species). Jenis tanaman yang merupakan jenis asli setempat adalah benda (Arthocarpus elastica). Sedangkan keenam jenis tanaman lain merupakan jenis MPTS yang menjadi pilihan masyarakat. Dengan pemilihan jenis MPTS ini diharapkan agar masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan plot dapat memperoleh manfaat dari tanaman tanpa harus menebang pohon. Jenis tanaman yang terdapat dalam plot tersebut yaitu : benda (Arthocarpus elastica) yang merupakan tanaman penciri desa, sementara tanaman yang diinginkan masyarakat yaitu petai (Parkia sp.), kedawung (Parkia roxburghii), salam (Eugenia polyantha), randu (Ceiba petandra), jengkol (Pithecollobium sp), rambutan (Nephelium laphaceum).

Pengelolaan plot KSDGTH Cilacap dilakukan secara bersama-sama oleh Sekretariat APFORGEN, BKSDA Jawa Tengah dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimbun. KTH Rimbun diketuai oleh Resa Miharja dan memiliki 25 anggota. Keberadaan kelompok pengelola pada plot KSDGTH merupakan kunci utama terpeliharanya tanaman pokok, sehingga perhatian dan pendampingan secara periodik kepada kelompok tani dilakukan untuk merubah pola berpikir dan perilaku masyarakat terhadap fungsi hutan, dan meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. Pendampingan secara periodik terhadap kelompok pengelola tersebut berupa, antara lain 1). Meningkatkan keterlibatan kelompok tani pada kegiatan perencanaan, dan pemeliharaan demplot, 2). Pertemuan kelompok tani secara periodik. Hasil inventarisasi di plot KSDGTH APFORGEN di Cilacap disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah tanaman di plot KSDGTH APFORGEN di Cilacap

No Jumlah Tan Jumlah Tan Persen

awal Apr-11 Hidup (%)

1 Benda (Arthocarpus elastica) 270 187 69.3

2 Petai (Parkia sp) 270 252 93.3

3 Kedawung (Parkia roxburghii) 270 352 130.4

4 Salam (Eugenia polyantha) 270 281 104.1

5 Randu (Ceiba petandra) 270 360 133.3

6 Jengkol (Pithecollobium sp) 270 113 41.9

7 Rambutan (Nephelium laphaceum) 270 55 20.4

1890 1600 84.7

Jenis tanaman

Jumlah tanaman

Berdasarkan surat Puslitbang Peningkatan Produktivitas Hutan Nomor S.85/VIII/P3PH-3/2011 tanggal 14 Maret 2011 tentang Tindak Lanjut Pembangunan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN maka mulai tahun 2011 terdapat perubahan dalam pengelolaan plot dimaksud. Mulai tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya pengelolaan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN di Cilacap terutama pemeliharaan dan pengamanan diserahkan kepada BKSDA Jawa Tengah bersama-sama KTH Rimbun sedangkan monitoring dan evaluasi tetap dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

2. Demplot KSDGTH Gunung Kidul

Demplot KSDGTH Gunung Kidul terletak di Blok Ngawar-awar, Dusun Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Plot seluas 3 ha ini ditanam awal tahun 2008. Lokasinya secara administratif berada di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Kidul. Berdasarkan SK. Bupati Gunung Kidul No. 169/KPTS/2007, tanggal 3 September 2007, tentang Penetapan Areal Taman Kota dan Hutan Kota Kabupaten Gunung Kidul, lokasi Ngawar-awar ditetapkan sebagai Hutan Kota seluas ± 7 ha. Hutan kota diharapkan pada masa yang akan datang dapat menjadi salah satu “paru-paru” kota Wonosari yang dapat memberikan dampak positif baik aspek ekologi, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Lokasi ini merupakan lokasi baru, karena sebelumnya demplot KSDGTH Gunung Kidul yang dibangun tahun 2006 terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo seluas 5 hektar mengalami kerusakan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Jenis tanaman yang terdapat dalam plot tersebut meliputi kepel (Stelechocarpus burahol), cendana (Santalum album), sawo kecik (Manilkara kauki), timoho (Kleinhovia hospita), kemiri (Aleurites moluccana), akasia (Acacia mangium), pulai (Alstonia sp), angsana (Pterocarpus indicus), mahoni (Swietenia sp), lowo (Pongamia pinata), elo (Ficus glomerata), gondang (Ficus cerifera), nyamplung (Calophyllum inophyllum), segawe (Adenanthera sp) dan petai (Parkia speciosa). Jenis-jenis tanaman yang dipilih tersebut merupakan jenis asli setempat, langka dan multiguna.

Pengelolaan plot KSDGTH Gunung Kidul dilakukan secara bersama-sama oleh Sekretariat APFORGEN, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul dan KTH Tani Makmur. Kelompok tani ini diketuai oleh Warto Utomo dan memiliki 37 anggota di mana 16 orang diantaranya berada pada plot APFORGEN. Dari hasil inventarisasi diketahui bahwa tanaman dalam plot KSDGTH APFORGEN di Gunung Kidul mampu tumbuh dengan baik sesuai dengan karakteristik tanamannya. Beberapa jenis ada yang sudah mampu menghasilkan buah atau benih yaitu timoho (Kleinhovia hospita), dan gondang (Ficus cerifera). Jumlah tanaman di plot KSDGTH APFORGEN di Gunung Kidul disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah tanaman di plot KSDGTH APFORGEN di Gunung Kidul

No Jenis Tanaman Tan.awal Penyulaman Jml. Tan Jml. Tan Jml. Tan

(des 2009) Jan-10 Mei 2010 Apr-11

1 Elo (Ficus glomerata) 11 0 11 10 10

2 Gondang (Ficus cerifera) 34 0 34 34 36

3 Lowo (Pongamia pinata) 46 4 50 50 50

4 Kepel (Stelechocarpus burahol) 2 30 32 32 32

5 Timoho (Kleinhovia hospita) 19 0 19 19 19

6 Sawokecik (Manilkara kauki) 1 46 47 46 46

7 Nyamplung (Calophyllum inophyllum) 34 12 46 46 45

8 Segawe (Adenanthera sp) 42 4 46 46 48

9 Angsana (Pterocarpus indicus) 41 27 68 68 67

10 Kemiri (Aleurites moluccana) 24 48 72 72 72

11 Pulai (Alstonia sp) 122 22 144 140 144

12 Mangium (Acacia mangium) 52 47 99 85 99

13 Mahoni (Swietenia macrophylla) 105 23 128 110 127

14 Cendana (Santalum album) 35 125 160 110 44

15 Petai (Parkia speciosa) 0 41 41 32 8

568 429 997 900 847

Berdasarkan surat Puslitbang Peningkatan Produktivitas Hutan Nomor S.85/VIII/P3PH-3/2011 tanggal 14 Maret 2011 tentang Tindak Lanjut Pembangunan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN maka mulai tahun 2011 terdapat perubahan dalam pengelolaan plot dimaksud. Mulai tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya pengelolaan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN di Gunung Kidul terutama pemeliharaan dan pengamanan diserahkan kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul bersama-sama KTH Tani Makmur sedangkan monitoring dan evaluasi tetap dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

3. Demplot KSDGTH Blitar

Jenis yang dikonservasi yaitu Pterospermum javanicum dan lebih dikenal dengan wadang atau bayur. Kayunya banyak dipakai untuk jembatan, bahan bangunan rumah, perabot rumah tangga/mebel dan perahu. Kegunaan lain dari kayu wadang adalah sebagai bahan baku industri korek api, baik untuk batangnya maupun untuk kotak-kotaknya.

Demplot KSDGTH Blitar dibangun di Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur ditanam tahun 2007 seluas 5 ha. Materi genetik berasal dari Boyolali, Klaten, Yogyakarta (Sleman) dan Blitar. Lahan yang digunakan merupakan lahan milik masyarakat dan kas desa. Terdapat satu kelompok tani yang beranggotakan 19 orang yang menangani kebun konservasi Wadang. Luasan lahan petani bervariasi berkisar antara 0,1 Ha sampai 0,52 ha. Kondisi lahan berupa lereng dengan kemiringan rata-rata 50%. Pola yang akan dikembangkan adalah tanaman pokok wadang sebagai jenis target konservasi dengan penanaman dikelompokkan per populasi. Antar populasi ditanami durian dan matoa yang di masa mendatang menghasilkan buah sehingga dapat memberi manfaat ekonomi masyarakat. Sedangkan tanaman pertanian maupun perkebunan yang dikembangkan masyarakat adalah jagung, ubi jalar, coklat, kakao dan kopi. Tanaman lainnya yaitu sengon dan kaliandra untuk menghasilkan kayu dengan daur pendek dan untuk pakan ternak dari tanaman kaliandra.

Pada tahun 2008 telah dilakukan kegiatan evaluasi dan pemeliharaan tanaman, dimana persen hidup mencapai 91,5% dengan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata 55,12 cm untuk tinggi dan 8,78 mm untuk diameter. Tahun 2009 dievaluasi pada tanaman berumur 1,5 tahun menunjukkan keberhasilan mencapai 88,12% dengan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata 142,2 cm untuk tinggi dan 18,15 mm untuk diameter. Pada tahun 2010, hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan pada tanaman umur 2 tahun menunjukkan keberhasilan hidup tanaman pada umur tersebut adalah 70%. Dengan tinggi antara 185 – 250 cm dan diameter antara 20 – 24 cm. Pada tahun 2011, hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan pada tanaman umur 3 tahun menunjukkan keberhasilan hidup tanaman pada umur tersebut adalah 40%. Dengan tinggi antara 200 – 300 cm dan diameter antara 25 – 30 cm. Keberhasilan hidup yang kurang baik ini dikarenakan banyak tanaman mati akibat gangguan terutama yang berada di lahan milik yang ingin diganti dengan menanam kopi.

Gambar 4. Tanaman Wadang

Berdasarkan surat Puslitbang Peningkatan Produktivitas Hutan Nomor S.85/VIII/P3PH-3/2011 tanggal 14 Maret 2011 tentang Tindak Lanjut Pembangunan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN maka mulai tahun 2011 terdapat perubahan dalam pengelolaan plot dimaksud. Mulai tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya pengelolaan Plot Konservasi Sumber Daya Genetik (KSDG) Tingkat Desa APFORGEN di Blitar terutama pemeliharaan dan pengamanan diserahkan kepada Dinas Perkebunan Kab. Blitar sedangkan monitoring dan evaluasi tetap dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. Dinas Perkebunan Kab. Blitar merencanakan akan mengaitkan dengan kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang selanjutnya akan mendistribusikan sebagian bibit di plot KSDGTH sebagai tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) untuk penyangga tanaman pokok (wadang). Jenis yang disepakati yaitu sengon, jabon, kelapa hibrid dan nilam.

4. Rencana pembangunan Demplot KSDGTH Bantul, DIY

Rencana lokasi plot konservasi dipilih di kawasan hutan lindung (HL) Sudimoro, yang secara administratif pengelolaan hutan berada di wilayah Blok Hutan Sudimoro I, RPH Mangunan, BDH Yogyakarta dan secara administratif pemerintahan berada di wilayah Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DIY.

Jenis target yang akan dikonservasi yaitu kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f & Thomson). Kepel merupakan jenis tanaman penciri Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Daun kepel digunakan sebagai bahan baku produksi minuman celup dikarenakan pada daun kepel terkandung zat antioksidan yaitu flavanoid yang bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas (anti kanker), menghaluskan kulit (Anonim, 2007). Secara tradisional burahol telah digunakan sebagai bahan parfum, khususnya di kalangan keraton, dengan mengkonsumsi buahnya dapat membuat bau keringat menjadi wangi, bau nafas menjadi harum, bahkan dapat mengharumkan bau air seni (Fachrurozi, 1980; Heyne, 1987; Sunarto, 1987; Verheij dan Coronell, 1997). Kegunaan burahol yang lain adalah untuk pencegahan kehamilan (alat kontrasepsi), peluruh kencing dan mencegah radang ginjal (Verheij dan Coronell, 1997).

Jenis ini dipilih karena keberadaannya termasuk dalam kategori CD (Conservation Dependent) atau tergantung aksi konservasi untuk mencegah dari kepunahan yang artinya keberadaannya sulit ditemui karena telah langka/rare. Jika tidak dilakukan tindakan konservasi maka statusnya dapat meningkat satu tahap di atasnya yaitu vulnerable (rawan) (Mogea, 2001). Koleksi materi genetik baru dilakukan dari populasi Magelang dan Karanganyar, Jawa Tengah pada tahun 2011 dan akan dilakukan penambahan materi genetik dari populasi yang berbeda (Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali) pada tahun-tahun mendatang.

Untuk mengakomodir kepentingan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, penanaman jenis lain di sela-sela tanaman kepel dapat dilakukan. Adapun jenis-jenis tanaman pengisi yang diusulkan oleh petani dan disepakati adalah jengkol (Phithecellobium jiringa Prain), melinjo (Gnetum gnemon L), kluwih (Arthocapus comunis), petai (Parkia speciosa Hassk) dan duren (Durio zibethinus). Rancangan penanaman kepel dilakukan dengan pola antar populasi terpisah untuk menjaga identitas populasi agar tidak tercampur polen dari populasi lain. Selain itu identitas individu dalam populasi harus dipertahankan - konsep konservasi sumberdaya genetik era ketiga menurut Soekotjo (2004).

Kunci keberhasilan penyelenggaraan konservasi SDGTH Desa adalah peran serta aktif masyarakat setempat. Kelompok petani penggarap yang merupakan stakeholder utama dalam kegiatan konservasi SDGTH Desa akan dibentuk kemudian dengan berkoordinasi dengan aparat Desa Muntuk dan KRPH Mangunan. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam pembangunan konservasi SDGTH Desa merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Sehubungan dengan itu, fasilitasi secara berkesinambungan diperlukan sebagai katalisator, agar dapat mempercepat proses partisipasi tersebut.

IV. PERMASALAHAN DAN TINDAK LANJUT

Dalam dokumen Workshop Proceeding Puskonser dan ITTO (Halaman 106-114)

Dokumen terkait