• Tidak ada hasil yang ditemukan

Workshop Proceeding Puskonser dan ITTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Workshop Proceeding Puskonser dan ITTO"

Copied!
216
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Lokakarya Nasional

PLOT KONSERVASI GENETIK UNTUK PELESTARIAN

JENIS-JENIS POHON TERANCAM PUNAH

(Ulin, Eboni dan Cempaka)

Genetic Conservation Plots for Preservation of Treatened Tree Species

(Ulin, Ebony and Cempaca)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI

BADAN KEHUTANAN

BEKERJASAMA DENGAN

INTERNATIONAL TROPICAL TIMBER ORGANIZATION ITTO PROJECT PD 539/09 REV. 1 (F)

(2)

Prosiding Lokakarya Nasional

PLOT KONSERVASI GENETIK UNTUK PELESTARIAN

JENIS-JENIS POHON TERANCAM PUNAH

(Ulin, Eboni dan Cempaka)

Genetic Conservation Plots for Preservation of Threatened Tree Species

(Ulin, Ebony and Cempaca)

Editor:

Prof. Dr. M. Bismark, MS.

Ir. Atok Subiakto, M.App.Sc

Dr. Ir. Murniati, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI

BADAN LITBANG KEHUTANAN BEKERJASAMA DENGAN

INTERNATIONAL TROPICAL TIMBER ORGANIZATION (ITTO PROJECT PD 539/09 REV. 1/F)

(3)

Authors/Editors : M. Bismark, Atok Subiakto and Murniati

Institution’s full name, : Centre for Conservation and Rehabilitation Research and address Development;

Jalan Gunung Batu No.5 Bogor, Indonesia; e-mail [email protected]

The place and dated the : Bogor, July 2012 report was issued

Disclaimer : Copyright © 2012

This workshop proceeding is a part of program ITTO PD 539/09 Rev.1 (F): Promoting Conservation of Selected Tree Species Currently Threatened by Habitat Disturbance and Population Depletion.

Published by : Centre for Conservation and Rehabilitation Research and Development,

Jalan Gunung Batu No.5 Bogor, Indonesia Phone : 62-251-8315222, 7520067

Fax : 62-251-8638111

Email : [email protected]

ISBN : 978-979-3145-91-4

Project Number : PD 539/09 Rev.1 (F) Host Government : Indonesia

Name of the Executing : Centre for Conservation and Rehabilitation Research and Agency and Project Development, FORDA, Dr. Ir. Murniati, M.Si.

Coordinator

(4)

PLOT KONSERVASI GENETIK UNTUK PELESTARIAN JENIS-JENIS POHON TERANCAM PUNAH (Ulin, Eboni dan Cempaka)

Tim pengarah lokakarya:

Ketua

Sekretaris

Anggota : : :

Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi

Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian 1. Prof. Dr. H. M. Bismark, MS.

2. Dr. Ir. Murniati, M.Si. 3. Ir. Sumarhani

Penulis:

1. Agung Wahyu Nugroho, S.Hut., M.Si. (Balai Penelitian Kehutanan Palembang).

2. Ir. Merryana Kiding Allo, M.Si. (Balai Penelitian Kehutanan Makasar).

3. Dr. Ir. Murniati, M.Si (Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi).

4. Liliek Haryjanto, S.Hut., M.Sc., Tri Pamungkas Yudohartono, S.Hut., M.Sc., dan Prastyono, S.Hut., M.Sc. (Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan).

5. Susilo Purnomo, S.Hut. (Staf PT.Sari Bumi Kusuma), Widiyatno, S.Hut., M.Sc. (Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada).

6. Agung Priyo Sarjono, S.Hut., MBA. dan Taufiqurrahman, S.Hut. (PT.ITCI Kartika Utama).

7. Dr. Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada).

8. Ir. Nurhasybi dan Dede J. Sudrajat, S.Hut., MT. (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan).

(5)

Lokakarya Nasional ini dibiayai oleh dana hibah dari International Tropical Timber Organization (ITTO) kepada Pemerintah Indonesia melalui Proyek ITTO PD 539/09 Rev. 1 (F): "Promoting Conservation of Selected Tree Species Currently Threatened by Habitat Disturbance and Population Depletion."

(6)

Ulin (Eusideroxylon zwageri), eboni (Diospyros celebica) dan cempaka (Michelia champaca) merupakan jenis pohon yang sudah mulai langka atau bahkan terancam punah secara ekologi. Oleh karena itu, program konservasi in-situ maupun ex-situ sangat mendesak untuk dilaksanakan. Pembangunan plot konservasi genetik jenis-jenis pohon terancam punah adalah suatu upaya untuk melindungi dan menjaga variasi genetik dari jenis-jenis tersebut dalam rangka pelestarian keragaman genetik dan pemanfaatan yang lebih luas untuk kepentingan ekologi, ekonomi dan nilai-nilai sosial budaya. Selain itu, plot konservasi genetik diharapkan pula dapat menyediakan materi genetik yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan program pemuliaan pohon. Manfaat lain dari plot ini adalah sebagai sumber benih yang dapat disertifikasi dalam bentuk tegakan benih teridentifikasi.

Lokakarya Nasional ini diselenggarakan dalam rangka menghimpun informasi dan teknologi serta berbagi pengalaman dalam membangun plot konservasi genetik jenis-jenis pohon terancam punah (ulin, eboni dan cempaka) sekaligus untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian kita semua dalam upaya konservasi jenis-jenis tersebut. Sejumlah makalah tentang pengelolaan sumberdaya genetik yang telah dilakukan dalam rangka kerjasama Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi dengan ITTO melalui Proyek PD 539/098 Rev.1 (F) dan kegiatan sejenis yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian lain/ akademisi dan Perusahaan Kehutanan telah dipaparkan.

Buku prosiding ini merupakan rangkuman seluruh makalah dan hasil diskusi yang berkembang selama berlangsungnya lokakarya. Diharapkan informasi dan strategi konservasi in-situ dan ex-situ yang telah dikembangkan dapat dimanfaatkan oleh para pihak dalam rangka konservasi jenis dan restorasi ekosistem serta program pemuliaan pohon hutan.

(7)
(8)

Halaman

UCAPAN TERIMAKASIH ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

SAMBUTAN DAN PEMBUKAAN

Sambutan Kepala Badan Litbang Kehutanan ...

RUMUSAN HASIL ...

MAKALAH DAN PRESENTASI

Bidang Konservasi Sumberdaya Genetik Secara Exsitu 1. Conservation Efforts of Threatened Tree Species

(ulin/Eusideroxylon zwageri, ebony/Diospyros celebica Bakh and cempaka/Michelia champaca)

Dr. Ir. Murniati, M.Si. ...

2. Pembangunan Plot Konservasi Genetik Ulin (Eusideroxylon zwageri) di Hutan Penelitian Kamampo, Sumatera Selatan

Agung Wahyu Nugroho, S.Hut., M.Si. ...

3. Pembangunan Plot Konservasi Genetik Eboni (Diospyros celebica Bakh) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan

Ir. Merryana Kiding Allo, M.Si. ...

4. Pembangunan Plot Konservasi Genetik Cempaka (Michelia champaca) di Hutan Penelitian Pasir Hantap, Jawa Barat

Dr. Ir. Murniati, M.Si. ...

5. Pembelajaran dari pelaksanaan Konservasi Sumberdaya Genetik Tanaman Hutan (KSDGTH) Tingkat Desa

Liliek Haryjanto, S.Hut., M.Sc., Tri Pamungkas Y., S.Hut., M.Sc. dan Prastyono, S.Hut., M.Sc. ...

6. Representasi Diversitas Genetik dalam Pembangunan Plot Konservasi Sumberdaya Genetik

Dr. Sapto Indrioko ...

(9)

Bakh.)

Ir. Nurhasybi dan Dede J. Sudrajat, S.Hut., MT. ...

8. Teknik Pembibitan Ulin (Eusideroxylon zwageri)

Agung Wahyu Nugroho, S.Hut., M.Si. ...

Bidang Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Genetik di Kawasan Hutan Produksi

9. Konservasi In-situ Dipterocarps

Susilo Purnomo, S.Hut. dan Widiyatno, M.Sc. ...

10. Pelaksanaan Konservasi Sumberdaya Genetik Pohon Hutan Jenis Ulin di HPH PT ITCI Kartika Utama

Agung Priyo Sarjono, S.Hut., MBA dan Taufiqurrahman, S.Hut. ....

11. Analisis Vegetasi Kawasan Perlindungan Tanaman Unggulan Bulian (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.) di Distrik VIII PT. Wirakarya Sakti, Jambi

Dr. Bambang Irawan, Ir. Mohd. Zuhdi, M.Sc. dan Ir. Fazriyas, M.Si. ...

LAMPIRAN ... Notulen Diskusi ...

Agenda Lokakarya ...

Daftar Peserta ...

119

128

143

155

168

179

181

192

(10)

PLOT KONSERVASI GENETIK UNTUK PELESTARIAN JENIS-JENIS POHON TERANCAM PUNAH (Ulin, Eboni dan Cempaka)

Assalamu’alaikum Wr. Wb dan salam sejahtera untuk kita semua

Yang terhormat Bapak dan Ibu jajaran Eselon II dan III Kementerian Kehutanan; Kepala Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten (atau yang mewakili);

Dekan Fakultas Kehutanan se Indonesia (atau yang mewakili); Para nara sumber, Prof. Riset, para peneliti/pejabat fungsional;

Tokoh masyarakat peduli konservasi dan Para undangan yang saya hormati.

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas ijin dan rahmat-Nya maka pada pagi hari ini kita dapat berkumpul bersama dalam rangka National Workshop tentang ”Plot Konservasi Genetik untuk Pelestarian Jenis-jenis Pohon Terancam Punah (Ulin, Eboni, dan Cempaka)” yang diadakan oleh Badan Litbang Kehutanan bekerjasama dengan ITTO.

Selamat datang dan terima kasih saya ucapkan kepada semua tamu undangan atas kesediaannya menghadiri lokakarya yang akan berlangsung selama 1 (satu) hari ini.

Hadirin yang saya hormati,

Hutan alam tropis Indonesia dikenal sebagai mega biodiversity, namun kondisi sekarang beberapa kawasan hutan kita telah mengalami deforestasi dan degradasi lahan sehingga sumberdaya genetik pohon hutan yang sangat bermanfaat untuk generasi yang akan datang terancam hilang/punah. Beberapa jenis pohon asli Indonesia yang terancam punah antara lain Ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan jenis asli Kalimantan dan Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) dan Eboni (Diospyros celebica) yang merupakan jenis endemik Sulawesi.

(11)

Eboni termasuk kayu mewah (fancy wood) merupakan jenis endemik Sulawesi, memiliki warna dan corak kayunya yang bernilai artistik/dekoratif tinggi, awet dan sangat kuat. Banyak digunakan untuk bahan baku furniture, ukir-ukiran, patung, alat musik seperti gitar dan piano, tongkat, kayu lapis mewah, kotak perhiasan yang harganya sangat mahal yang di-export ke Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.

Cempaka (Michelia champaca Linn.), termasuk famili Magnoliaceae, memiliki serat kayu yang halus, dapat digunakan sebagai bahan baku industri, konstruksi, furniture, vinir, plywood, particle board, ukiran dan barang-barang dekorasi. Selain kayu, jenis ini menghasilkan bunga untuk wangi-wangian dan untuk bahan baku minyak atsiri yang mempunyai nilai jual tinggi. Di Indonesia, cempaka tumbuh tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Sunda Kecil. Namun populasi alami M. champaca pada beberapa daerah sudah jarang dijumpai. Tetapi di beberapa daerah lain telah dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat.

Untuk mencegah laju kepunahan jenis-jenis langka tersebut maka konservasi baik in-situ maupun ex-situ menjadi kegiatan yang sangat mendesak untuk dilaksanakan. Kayu jenis ulin dan eboni bernilai ekonomi tinggi namun pertumbuhannya sangat lambat sehingga memerlukan waktu panen yang lama, pohon induk yang sulit ditemukan sehingga koleksi benih yang terbatas, biaya pembibitan dan penanaman yang tinggi merupakan beberapa kendala yang meyebabkan masyarakat maupun dunia usaha enggan untuk membudidayakanya. Oleh karena itu, konservasi sumberdaya genetik jenis ulin dan eboni menjadi tugas pemerintah pusat maupun pemerintah daerah endemik jenis tersebut.

Hadirin yang saya hormati,

(12)

jenis tersebut dan analisis keragaman genetik dengan pendekatan DNA. Dengan mengacu pada hasil kegiatan tahun 2010, kegiatan pembangunan Plot Konservasi situ ke tiga jenis tersebut dilakukan pada tahun 2011-2012. Plot Konservasi ex-situ jenis Michelia dibangun di Jawa Barat, jenis Ulin di Sumatera Selatan, dan jenis Eboni di Sulawesi Selatan yang masing-masing merupakan habitat alaminya. Pembangunan plot konservasi genetik diharapkan akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya melestarikan berbagai jenis pohon terancam punah tersebut.

Kegiatan konservasi jenis-jenis terancam punah, khususnya ulin dan eboni dengan beberapa kendala yang dihadapi nampaknya membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun, khususnya untuk menghasilkan plot konservasi genetik yang ideal. Selain itu, pembangunan Plot Konservasi Genetik perlu dikembangkan untuk jenis-jenis terancam punah lainnya seperti cendana (Santalum album) jenis endemik Nusa Tenggara Timur dan Merbau (Intsia bijuga) jenis asli Papua dan Maluku. Oleh karena itu, diharapkan ITTO akan mempromot keberlanjutan proyek ini ke phase berikutnya untuk perluasan dan duplikasi plot konservasi genetik, pengkayaan sumber materi genetik, pengembangan/pembangunan plot konservasi genetik jenis cendana dan merbau. Untuk jangka panjang, perlu kiranya dipikirkan perihal tanggung jawab pemeliharaan plot-plot Konservasi ex-situ yang sudah dibangun dapat diteruskan oleh pemerintah daerah.

Hadirin yang saya hormati,

(13)

Punah (Ulin, Eboni, dan Cempaka)” ini secara resmi saya nyatakan dibuka. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, perlindungan dan petunjuknya kepada kita semua, sehingga acara ini dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Semoga semua kerja keras kita memperoleh balasan kebaikan dari Allah SWT. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, 29 Mei 2012 Kepala Badan,

ttd

Dr. Ir. R. Iman Santoso, M.Sc.

(14)

Memperhatikan sambutan Kepala Badan Litbang Kehutanan yang diwakili oleh Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, paparan para narasumber, pembahasan oleh Dr. Sapto Indrioko dan diskusi yang berkembang selama Lokakarya Nasional Plot Konservasi Genetik untuk Pelestarian Jenis-Jenis Pohon Terancam Punah (Ulin, Eboni, dan Cempaka) yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangaan Konservasi dan Rehabilitasi bekerjasama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO), melalui proyek ITTO PD 539/09 Rev. 1 (F) di Bogor pada tanggal 29 Mei 2012, dihasilkan beberapa rumusan sebagai berikut:

1. Hutan alam tropis Indonesia yang dikenal sebagai mega biodiversity, telah mengalami deforestasi dan degradasi sehingga sumberdaya genetik berbagai jenis pohon terancam punah seperti Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang merupakan jenis endemik Kalimantan dan Sumbagsel, dan Eboni (Diospyros celebica) jenis endemik Sulawesi. Oleh karena itu, program konservasi in-situ maupaun ex-situ sangat mendesak untuk dilaksanakan.

2. Bebeberapa jenis pohon langka pada umumnya bernilai ekonomi tinggi, namun di sisi lain memiliki beberapa keterbatasan seperti pertumbuhan lambat sehingga daurnya lama, pohon induk di alam sulit ditemukan sehingga koleksi benih terbatas, dan biaya pembibitan serta penanaman yang tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat maupun dunia usaha enggan untuk membudidaya-kanya. Oleh karena itu peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menangani ancaman kepunahan jenis-jenis tersebut menjadi sangat penting.

3. Proyek ITTO PD 539/09 Rev. 1 (F) dimulai dengan kegiatan studi literature dan pengamatan lapang tentang status pengelolaan dan konservasi, sebaran alam, musim berbuah di masing-masing sebaran alam, dan melakukan analisis keragaman genetik tiga jenis pohon terancam punah (ulin, eboni dan cempaka). Berdasarkan data dan informasi dari beberapa kegiatan tersebut, dilakukan pembangunan plot konservasi genetik jenis-jenis dimaksud yang meliputi kegiatan ekplorasi dan pengumpulan materi genetik, pembuatan bibit di persemaian, survei dan persiapan lokasi penanaman, dan penanaman bibit di lapangan.

(15)

jenis eboni (Diospyros celebica) di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan berasal dari 28 pohon induk yang tersebar di 6 provenance dan 3). Plot konservasi genetik jenis Cempaka (Michelia champaca) di Hutan Penelitian Pasir Hantap Sukabumi-PuskonseR yang materi genetiknya berasal dari 21 pohon induk yang tersebar di 4 populasi.

5. Upaya pemeliharaan dan pengamatan pertumbuhan tanaman pada beberapa plot konservasi genetik yang sudah dibangun dan penambahan materi genetik dari populasi alam yang belum dikoleksi terutama untuk jenis ulin dan cempaka yang mempunyai sebaran alam yang cukup luas menjadi hal yang krusial untuk dilakukan sebagai tindak lanjut dari proyek ITTO PD 539/09 Rev. 1 (F). Dengan demikian, proyek ITTO yang saat ini hanya berlangsung selama 2 tahun, perlu diusulkan untuk fase berikutnya.

6. Exit strategy proyek ITTO PD 539/09 Rev. 1 (F) akan dirumuskan lebih lanjut dan diarahkan untuk mengoptimalkan peran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang, Pemda dan masyarakat dalam konservasi jenis-jenis langka yang sudah maupun yang belum ditangani.

7. Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan Demplot Konservasi Sumberdaya Genetik (KSDG) Tanaman Hutan di Jawa merupakan salah satu faktor kunci yang harus diperhatikan. BBPBPTH Yogyakarta, telah mengembangkan model pelaksanaan KSDGTH berbasis desa. Model pembangunan demplot ini melibatkan masyarakat mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, dan pengambilan keputusan tentang jenis-jenis pohon yang akan ditanam di demplot tersebut, sehingga tujuan konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Model ini diharapkan bisa dikembangkan dengan bekerjasama dengan Pemda dengan memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau yang ada di setiap kota.

(16)

silvikultur hutan alam, dinamika populasi tegakan, dan beberapa penelitian dengan menggunakan penanda molukuler.

9. Pembangunan plot konservasi adalah salah satu strategi dalam pengelolaan sumberdaya genetik pohon secara in-situ dan ex-situ dalam rangka pelestarian keragaman genetik dan pemanfaatan yang lebih luas untuk kepentingan ekologi, ekonomi dan nilai-nilai sosial budaya. Plot konservasi genetik yang dikelola stakeholders secara kolaboratif dapat menjadi sumber keragaman genetik jenis pohon langka/terancam punah dan bernilai ekonomis tinggi. Plot-plot konservasi ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong upaya masyarakat yang telah memiliki kearifan lokal dalam pengembangan jenis (konservasi ex-situ), khususnya ulin, eboni dan cempaka melalui pengembangan kebun bibit rakyat dan hutan rakyat. Konservasi secara ex-situ telah terlihat dari pengembangan Hutan Rakyat (eboni) atau disebut dengan HEM (Hutan Eboni Masyarakat) di Sulawesi Selatan dan Agroforestri Cempaka di Sumatera Selatan yang dikelola oleh masyarakat.

10. Berdasarkan pentingnya ketersediaan pohon induk dan anakan sebagai sumber bibit, maka plot konservasi in-situ perlu dibangun di kawasan konservasi (Cagar Alam dan Taman Nasional). Pembangunan plot konservasi ini akan membantu teknis restorasi ekosistem kawasan konservasi tersebut.

11. Mengingat masih banyak jenis pohon langka yang belum ditangani, perlu disusun Strategi Konservasi Sumberdaya Genetik Pohon, sebagai acuan praktisi lapangan sehingga upaya pelestarian sumberdaya genetik jenis-jenis pohon langka dapat lebih optimal. Keragaman genetik suatu jenis pohon target merupakan informasi awal untuk menentukan strategi konservasi sumberdaya genetik. Pihak dunia usaha sektor kehutanan diharapkan memberikan dukungan terhadap upaya konservasi sumberdaya genetik melalui kolaborasi dengan para pihak terkait.

(17)
(18)

MAKALAH DAN PRESENTASI

(19)
(20)

CONSERVATION EFFORTS OF THREATENED TREE SPECIES

(ulin/Eusideroxylon zwageri, ebony/Diospyros celebica,

and cempaka/Michelia champaca)

1

By: Murniati2

ABSTRACT

Many tropical timber species are currently under serious threat. This is primarily due to human related activities which intensified lately. The species have been facing a great pressure to extinction caused by various disturbance and habitat encroachment in their natural range distribution. These conditions have also been enhanced by the lack of monitoring and up-dating of data and information on forest resources including the threatened forest tree species as well as less successful protection and conservation of those species both inside and outside their natural habitat. This paper focused on updating ecological and biological data, conservation status and efforts of ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.), ebony (Diospyros celebica Bakh.), and cempaka (Michelia champaca Linn). Method used was desk study through synthesized of several related studies. Ulin is a native species of Sumatra and Kalimantan, and ebony is a native species of Sulawesi that have to be maintained/preserved by the government, local communities, even the international societies. Currently, IUCN classified the ulin and ebony are as vulnerable species. Although cempaka is not a vulnerable species, it has good prospect to be developed and maintained because of its multiple uses. To maintain and to conserve genetic resources of ulin, eboni and cempaka, ex-situ conservation plots of the species have been established at three locations, namely at Kamampo Research Forest, South Sumatera for ulin, at Bantimurung Bulusaraung National Park, South Sulawesi for ebony and at Pasir Hantap Research Forest, West Java for cempaka.

Keywords: Conservation effort, ex-situ conservation, native species

ABSTRAK

Saat ini banyak jenis kayu tropis sedang dalam ancaman yang serius, terutama disebabkan oleh kegiatan manusia yang semakin intensif. Jenis-jenis ini semakin

1

Makalah penunjang pada Lokakarya Nasional “Plot Konservasi Genetik Untuk Pelestarian Jenis-Jenis Pohon Terancam Punah (Ulin, Eboni dan Cempaka)” yang diselenggarakan oleh ITTO Project PD 539/09 Rev.1 (F) bekerjasama dengan Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan RI, pada tanggal 29 Mei 2012 di Bogor.

2

(21)

menghadapi kepunahan disebabkan oleh berbagai gangguan dan perambahan pada habitat alaminya. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya monitoring dan pemutakhiran data tentang sumberdaya hutan termasuk jenis pohon terancam punah serta belum optimalnya upaya perlindungan dan konservasi jenis-jenis tersebut, baik di dalam maupun di luar habitat alaminya. Makalah ini mencoba mereview dan memutakhirkan data ekologi dan biologi, status dan upaya-upaya konservasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.), eboni (Diospyros celebica Bakh.), dan cempaka (Michelia champaca Linn). Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan sintesa berbagai laporan yang terkait. Ulin adalah jenis asli Sumatera dan Kalimantan, sedangkan eboni merupakan jenis asli Sulawesi yang harus dijaga dan dilestarikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat (lokal dan internasional). IUCN telah memasukkan kedua jenis ini pada kategori rentan. Sekalipun tidak termasuk jenis yang rentan, namun karena mempunyai manfaat ganda, cempaka mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dan dijaga kelestariannya. Untuk menjaga dan mengkonservasi sumberdaya genetik ulin, eboni dan cempaka, plot konservasi ex-situ dari ketiga jenis tersebut telah dibangun di tiga lokasi, yaitu di Hutan Penelitian Kemampo, Sumatera Selatan untuk ulin, di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan untuk eboni dan di Hutan Penelitian Pasir Hantap, Jawa Barat untuk cempaka.

Kata kunci: Upaya konservasi, konservasi ex-situ, jenis asli.

I. INTRODUCTION

Indonesia have tropical rain forests that reach with timber tree species. However, some of the species are currently under serious threat to extinction caused by various disturbance and habitat encroachment in their natural range distribution. Lack of awareness on importance of the species sustainable management and its contribution to community welfare and national economy has been contributed to the threat. These conditions have also been enhanced by the lack of monitoring and up-dating of data and information on forest resources including the threatened forest tree species as well as less successful protection and conservation of those species both inside and outside their natural habitat.

(22)

makes the texture very beautiful. The Strength and Durability of the ebony wood were also classified into Class I (Martawijaya et al., 2005). Cempaka wood has fine fiber, the strength and durability were classified into Class II and it can be used as raw material for industry, construction, furniture, veneer, plywood, particle board, carving and decoration items (Martawijaya et al., 1989). Cempaka flowers are used for raw material of perfumery and essential oils.

Increase demand for these tree species has caused a high price and accelerated logging activities including illegal logging. Therefore, their potency and population decreased significantly and are getting difficult to find in natural forest. Currently, these species are mostly found only in national parks, protected forests, forest research areas and remote forest production areas. Various efforts including government policies, which are related to the management and utilization, maintenance and plantation in their natural habitat (in-situ conservation) and outside their natural habitat (ex-situ conservation) are required to keep the sustainability of the tree species. Activities such as enrichment planting and planting of ulin, ebony and cempaka need to be conducted immediately. Even though, in some places it has been done, but the results have not been maximal yet.

The purpose of this paper is to present the biological and ecological data as well as the management and conservation efforts of the selected threatened tree species (ulin, ebony and cempaka). This paper also presents recommendations of efforts and activities needed to be carried out to preserve those tree species. The presented information is expected to assist policy makers in determining the steps needed to preserve ulin, ebony and cempaka.

II. METHODOLOGY

(23)

III. RESULTS AND DISCUSSION

A. Biology and Ecology of Ulin, Ebony and Cempaka

1. Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.)

Ulin (E. zwagery Teijsm & Binn.) belongs to Lauraceae family. An evergreen tree of up to 40 (-50) m tall; bole straight, branchless for up to 20 m but usually less, sometimes slightly fluted at the base, up to 150(-220) cm in diameter; buttressed; bark surface red or grey-brown with thin cracks; crown dense, globular; Leaves arranged spirally, elliptical to ovated (Soerianegara and Lemmens, 1994). Ulin fruit is egg-shaped, pointed or blunt tip. Fruit size varies, large fruit sizing 10-18 cm long with diameter of 7-10 cm. In each fruit contains one seed (Beckman, 1949 in Yusliansyah et al., 2004). Ulin wood is one of the heaviest wood, (Specific Gravity 1.04 (0.88 to 1.19), classified as Durability Class I and Strength Class I (Martawijaya, 1989, Barly, 2002), hence it is widely used for various purposes such as foundation in water and wetlands, shingle roof, frames and doors. In Banjarmasin ulin fossil is used as stone rings and jewelry (Anonymous, 2009).

E. zwageri is a native tree species (indigenous tree species) of Indonesia. Ulin naturally found in the island of Sumatra (South Sumatra, Jambi), Bangka Belitung and on the island of Kalimantan. Ulin grows naturally in lowland primary forest at an altitude of up to 400 m above sea level (Heyne, 1987). In South Sumatra ulin grows in soils having sandy clay loam texture with low soil fertility (Nugroho, 2006). Soerianegara & Lemmens (1994), Sidiyasa (1995) and Sidiyasa et al. (2009) in Sidiyasa (2011) reported that ulin grows well at areas with an altitude of up to 500 (-625) m asl, flat and sloping areas, well drainage of soil and at 2500 – 4000 mm/year of rainfall. Further more Sidiyasa (2011) stated that the air humidity of ulin sites was relatively high and the soil pH was low to moderate with chemical fertility of the soil was low.

2. Ebony (Diospyros celebica Bakh.)

(24)

et al. (1989), ebony wood is very hard (Specific Gravity 1.05), Strength Class I and Durability Class I and widely used for luxury furniture, sculpture, carving, fan, statues, decorative tools, fancy veneer, musical instruments and ornaments.

Prajadinata et al. (2011) described that the canopy of ebony is cylindrical to cone-shaped, leaves single alternate. Flowers are small, white colored. The fruit is oval and hairy. Flesh of fruit whitish colored and are eaten by wildlife, birds and mammals. The fruit has 10 seeds, but only 2-8 seeds become good seeds. Fruits are ripe during September and October. The seeds belong to recalcitrant seed (germinate quickly) so they cannot be stored for a long time. Directly germinated fresh seeds may reach 90%, while those stored for 12 days in the refrigerator, the germination decreased to 20% (Kiding Allo and Sallata, 1991).

In nature D. celebica is commonly found in mixed forests ranging from Central Sulawesi (Poso, Donggala, Toli-Toli, Kolonodale and Banggai) to the South Sulawesi (Mamuju, Luwuk, Malili, Bone, Wajo, Barru, Maros, Pangkajene, and Polmas) and in North Sulawesi (Soerianegara, 1967a, Anonymous, 1981 and Paembonan, 2002 in Prajadinata et al., 2011). Grows at an altitude of 10 m - 400 m above sea level, on various soil types, ranging from chalky soil, clay to sandy or rocky, ground sloping to steep topography ranges 15-65% , with rainfall between 1230 to 2737 mm/year (Soerianegara, 1967a in Prajadinatan et al., 2011). According to Santoso (1997) in Parajadinata et al., 2011, ebony distributes naturally in Celebes (Sulawesi) island at an altitude of 500-700 m above sea level. Ebony is categorized as slow-growing tree species, its diameter increment during the first 20 years was 1.5 cm/year, then it decreased to 0.5 cm/year (Soerianegara, 1967b in Prajadinata et al., 2011).

3. Cempaka (Michelia champaca Linn.)

(25)

furniture, veneer, plywood, particle board, carving and decoration items (Martawijaya, 1989).

In Indonesia this species distributes in Sumatra, Jawa, Sulawesi and Lesser Sunda Islands. It grows at an altitude of 250- 1500 m above sea level (Oyen et al., 1999 in Prajadinata et al., 2011), at climate type A or B according to Smith and Ferguson classification with rainfall ranging from 1000 to 2000 mm/year (Saputra, 1991 in Iskandar, 2003). In Java cempaka cultivation is carried out on land up to about 1200 m above sea level (Heyne, 1987). Cempaka grows well in soils dominated by clay, slightly moist soil conditions and normal pH (Iskandar, 2003).

B. Genetic Diversity of Ulin, Ebony and Cempaka

The availability of information on genetic diversity of a species is essential for designing an appropriate sampling strategy for genetic conservation purposes. Ideally, any genetic conservation works should have information on genetic diversity of the species before hand. However, the genetic diversity information for most tropical rain forest species is still limited.

1. Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.)

Genetic diversity of E. zwageri has been reported by Sulistyowati et al. (2005), Rimbawanto et al. (2006), Irawan (2005, 2011) and Widyatmoko et al., 2011. Sulistyowati et al. (2005) evaluated genetic diversity of four populations (provenances) of E. zwageri in three provinces in Kalimantan, namely Sepaku (East Kalimantan), Seruyan Hulu and Sumber Barito (Central Kalimantan), and Nanga Tayap (West Kalimantan) by using Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). They reported that mean genetic diversity of four provenance of E. zwageri was 0.379. The highest genetic diversity belongs to Seruyan Hulu provenance (0.415) and the lowest one indicates by Sumber Barito provenance (0.329).

(26)

genetic diversity of E. zwageri from two provenances in Sumatra (South Sumatra and Jambi Provinces). The result indicated that the mean genetic diversity of the two provenances was 0.368. Results of those three studies on genetic diversity of E. zwageri indicated that genetic diversity in the E. zwageri populations was still high. In order to reveal genetic degradation within population, Widyatmoko et al. (2011) were also analyzed two sample groups from each provenance, those were trees and wildlings. The result showed that genetic erosion from trees to wildling of ulin does not occurr.

Irawan (2005 and 2011) reported a study result on genetic variation of E. zwageri using DNA marker as well as morphological trait analysis. The results show that genetic variation among E. zwageri varieties is high. The study also verified that morphological variability of E. zwageri varieties has a genetic basis. Seed morphological characteristics were chosen as the main characteristic to differentiate E. zwageri varieties since they show clear differentiation among varieties and are more stable than other characteristics. Four varieties of E. zwageri had been identified based on this study, namely zwageri, exilis, ovoidus and grandis. Exilis means “slender”, ovoidus means “rounded shape”, grandis means “big or giant”, while zwageri has a moderate seed shape; its shape is between long cylindrical and rounded.

2. Ebony (Diospyros celebica Bakh.)

(27)

3. Cempaka (Michelia champaca Linn.)

Genetic diversity of M. champaca has been reported by Widyatmoko et al., 2011. They analyzed genetic diversity of M. champaca from three provenances, two from South Sumatra (Lahat District) and the other from East Java (Pasuruan District). The result indicated that the mean genetic diversity of the three provenances was 0.1878. In order to reveal genetic degradation within population, Widyatmoko et al. (2011) also analyzed three sample groups from each provenance, those were trees, poes and wildlings. The result showed that genetic erosion from trees to poles and wildling of cempaca occurred. Genetic diversity of seedling in Lahat (South Sumatra) and poles in Pasuruan (East Java) tended to decrease from their parents trees. This may be caused by high inbreeding through non-random mating system of the mother trees.

C. Conservation Status of Ulin, Eboni and Cempaka

Conservation is an effort for widely sustainable use. Conservation should be interpreted as a continuity between the research, utilization and protection (Waluyo, 2002). Conservation does not mean just for protection but must also for widely used. To determine the conservation status of a species, its utilization, potency, distribution and regeneration status must be known.

1. Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.)

According to Indonesian Ministry of Agriculture decree No. 54/Kpts/UM/2/ 1972, E. zwageri is among the protected tree species and cutting is restricted to trees over 60 cm diameter at breast height. Based on the regulation of Forestry Minister No. P.35, 2009, export of ulin is only permitted for processed ulin wood products (prokalino/produk kayu ulin olahan).

(28)

The major threats to E. zwageri are over-exploitation, shifting cultivation, the introduction of chain saws and extensive road systems by the timber industry, selective logging, infrastructure (roads, dams, power lines, etc.) (Peluso, 1992; Kostermans, et al., 1994; IUCN, 2001 in Irawan, 2011). Logging and clearing for plantations and agriculture have been especially heavy in the lowlands east of the Barisan Range, especially since the 1998-1999 economic crisis. Extensive stands of E. zwageri have been almost entirely destroyed in southern Sumatra (WWF, 2001 in Irawan, 2011).

2. Ebony (Diospyros celebica Bakh.)

Since 1990 ebony was declared as protected species and prohibited to be felled. Ebony only be able to exploited based on approval and special permit from the government represented by the Ministry of Forestry (Decree of Forestry Minister No. 950/IV-TPHH/90). However, the activities of illegal exploitation of ebony wood still exist, eventhough recently logging mostly conducted at logged over areas and at hill top.

Because in nature its population decreased drastically, the IUCN registered Diospyros celebica Bakh belong to vulnerable (VU A1 cd) category, which means that in natural habitat it was at a high risk for extinction. Criteria for determining this status is its population were diminished or decreased more than 20% in the last ten years and need to become a main target of conservation either its habitat or species. To prevent the excessive utilization trend that may worsen the status of this species, efforts towards sustainability of this species must be conducted immediately.

3. Cempaka (Michelia champaca Linn.)

(29)

case, cempaka wood will diminish if it is not followed by intense planting. Based on its properties (grow fast and has a large distribution areas), planting of those species both in natural habitat and outside growing area promising a success plantation. Therefore, the plantation must be enlarged to prevent lack of timber supply of cempaka.

D. Conservation Efforts of Ulin, Ebony and Cempaka

Conservation efforts of ulin, ebony and cempaka both in their natural habitat (in-situ conservation) and outside their natural habitat (ex-situ conservation) are necessary to guarantee their sustainable used. In-situ conservation effort may be through determination of seed stand, conservation forest, nature arboretum, and enrichment planting activities. Whereas ex-situ conservation efforts can be through the promotion of plantation activities and establishment of genetic conservation plots.

1. Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.)

Some of seed sources in different site were defined by The Directorate General of continuously. Until year 2009, The Directorate General of Land Rehabilitation and Social Forestry had defined five sites of ulin seed source, each in Jambi, South Sumatra (Figure 1a), West Kalimantan, Central Kalimantan and East Kalimantan Provinces (Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, 2009). In addition, some primary forests that can be able to use as conservation areas of ulin was reported by some references (Hakim, 2005; Iriansyah and Rayan, 2006; etc. in Prajadinata, 2011). Among them are: Ulin seed sources area belong to PT. ITCIKU, Balikpapan, East Kalimantan Province; Ulin forest in Kiham village, Seruyan Hulu Sub District, Kotawaringin Timur District, Central Kalimantan; Nature Arboretum of PT Suka Jaya Makmur, Ketapang District, West Kalimantan; ulin stand in Forest Area For Special Purposes (KHDTK) Samboja, East Kalimantan and Forest Reserve in Bukit Soeharto, East Kalimantan.

Many efforts have been carried out in the framework of ex-situ conservation of ulin species, either by government or by societies. Several ex-situ conservation sites of ulin are:

(30)

Forest, South Kalimantan; Sempaja Arboretum and in the office circumstance of Forestry Research Center for Dipterocarp, Samarinda, East Kalimantan.

B

A

Figure 1. Two ulin trees at ulin seed stands in Mambang Custom Forest, South Sumatra (A), and two years old of ulin planted at Kemampo Research Forest, South Sumatra (B).

A genetic conservation plot of ulin has been established in South Sumatra funded by the ITTO project PD 539/09 Rev.1 (F). The genetic materials were collected from several provenances in Sumatra (South Sumatra and Jambi Provinces) and Kalimantan (East and Central Kalimantan Provinces).

2. Ebony (Diospyros celebica Bakh.)

(31)

Some planting activities have been done outside of the original habitat (ex-situ conservation) for conservation and research objectives. Among others were carried out in Cikampek, West Java (Figure 2B); Wanagama (Central Java), at private communities lands in Central and South Sulawesi. Since 2001, in terms of “Prospective local species of Central Sulawesi Developing Program”, Forestry Service of Central Sulawesi Province, has been planting ebony in some places.

B

A

Figure 2. Ebony plantation forest in Parigi Moutong Custom Forest, Central Sulawesi (A), and Ebony plantation at Cikampek Arboretum (B).

A genetic conservation plot of ebony has been done in South Sulawesi funded by the ITTO project PD 539/09 Rev.1 (F). The genetic materials were collected from several provenances in Central, West and South Sulawesi provinces.

3. Cempaka (Michelia champaca Linn.)

Two seed sources of cempaka in South Sumatra Province were identified as an effort within the framework of implementing in-situ conservation. The seeds from these seed stands (Figure 3A) have been distributed to many places in Sumatra and even outside Sumatra. In the South Sumatra Province (mainly in Lahat and Empat Lawang Districts), cempaka has been planted on community’s land as a shading of coffee plantation (Figure 3B) and in combination with multi purposes tree species, like durian (Durio zibethinus Murr.) and petai (Parkia speciosa Hassk.).

(32)

planting stocks to communities in the villages along the edge of Mount Arjuno, Pasuruan District, to be planted in their gardens and house yards.

Figure 3. A cempaka tree in Muara Payang Seed Source (A), and cempaka trees mixed with coffee plantation (B).

In 1988 cempaka were planted in the Jasa Tirta/Sumber Brantas Arboretum, about 12 ha, as an ex-situ conservation, located in Tulungrejo village (Bumiaji Sub- District, Malang District, East Java Province).

A genetic conservation plot of cempaka has been established in West Java funded by the ITTO Project PD 539/09 Rev.1 (F). The seeds were collected from several populations in South Sumatra and East Java Provinces.

IV. CONCLUSION

Various efforts to conserve ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.), ebony (Diospyros celebica Bakh.) and cempaka (Michelia champaca Linn.) have been carried out including government policies, which related to the management and utilization, maintenance and plantation in their natural habitat (in-situ conservation) and outside their natural habitat (ex-situ conservation), but the results have not been maximal yet. To keep the sustainability of those tree species, the natural stands of ulin, ebony and cempaka in protected forests, national parks and

(33)

primary forests need to be maintained as germplasm, seed stands and mother trees. Activities such as enrichment planting and planting of ulin, ebony and cempaka need to be increased and continued.

REFERENCES

Anonymous. 2009. Saatnya Melindungi Kayu Ulin. Viva Borneo. http://www.vivaborneo.com/saatnya melindungikayu ulin. htm. Diakses tanggal 4 November 2010.

Barly. 2002. Kelas Keawetan 232 Jenis Kayu Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Mapeki V. Bogor 30 Agustus -1 September 2002. Bogor.

Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. 2009. Daftar Sumber Benih Tahun 2009. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia II. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

Irawan, B. 2011. Genetic Variation of Eusideroxylon zwageri and its diversity on Variety. Prosiding Lokakarya Nasional Status Konservasi dan Formulasi Strategi Konservasi Jenis-Jenis Pohon yang Terancam Punah (Ulin, Eboni dan Michelia). Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi bekerjasama dengan ITTO.

Irawan, B. 2005. Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.) and its Varieties in Jambi, Indonesia. University of Gottingen. Gottingen.

Iskandar. 2003. Teknik Budidaya Cempaka Sebagai Usaha Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Tekno DAS. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS Indonesia Bagian Timur. Makassar.

I.U.C.N. (2001). The 2000 IUCN list of threatened species. http://www.redlist.org/.

Kiding A.M. and M.K. Sallata. 1991. Pengaruh lama dan tempat penyimpanan terhadap perkecambahan ebony. Jurnal Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

(34)

Martawijaya, A., I. Kartasudjana, Y.I. Mandang, S.A. Prawira and K. Kadir.1989. Atlas Kayu Indonesia. Badan Litbang Kehutanan Departeman Kehutanan. Jakarta.

Nugroho, A.W. 2006 . Karakteristik Tanah pada Sebaran Ulin di Sumatra dalam Mendukung Konservasi. Makalah Penunjang pada Ekspose Hasil-hasil Penelitian: Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang, 20 September 2006.

Oldfield, S., C. Lusty and A.M. Kinven. 1998. The world list of threatened trees. World Conservation Press.

Prajadinata, S., R. Effendi and Murniati. 2011. Review of Management and Conservation Status of Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.), Ebony (Diospyros celebica Bakh.) and Cempaka (Michelia champaca Linn.) in Indonesia. ITTO Project in Cooperation with Center for Conservation and Rehabilitation Research and Development, Ministry of Forestry.

Rimbawanto, A., A.Y.P.B.C. Widyatmoko and Harkingto. 2006. Keragaman populasi Eusideroxylon zwageri Kalimantan Timur berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Penelitian Tanaman Hutan 3(3): 201-208.

Sidiyasa, K. 2011. Sebaran, Potensi dan Pengelolaan Ulin di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Status Konservasi dan Formulasi Strategi Konservasi Jenis-Jenis Pohon yang Terancam Punah (Ulin, Eboni dan Michelia). Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi bekerjasama dengan ITTO.

Soerianegara, I. and R.H.M.J. Lemmens. 1994. Plant Resources of South-East Asia No. 5(1) Timber trees: Major commercial timbers. Prosea, Bogor Indonesia. Pp 211-215.

Sulistyowati, P., A.Y.P.B.C. Widyatmoko and A. Rimbawanto. 2005. Studi keragaman genetic 4 populasi Eusideroxylon zwageri menggunakan penanda RAPD. Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Produktivitas Hutan: Peran Konservasi Sumber Daya Genetik, Pemuliaan dan Silvikultur dalam Mendukung Rehabilitasi Hutan (Eds. Eko B. Hardiyanto), pp 383-395.

(35)

Widyatmoko, A.Y.P.B.C., I.L.G. Nurtjahjaningsih and Prastyono. 2011. Study on the level of genetic diversity Diospyros celebica, Eusideroxylon zwageri and Michelia spp using RAPD Markers. ITTO Project in Cooperation with Center for Conservation and Rehabilitation Research and Development, Ministry of Forestry.

(36)

PEMBANGUNAN PLOT KONSERVASI GENETIK ULIN

(Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binnend.) DI HUTAN PENELITIAN

KEMAMPO, SUMATERA SELATAN

(Establishment of genetic conservation plots of ironwood (Eusideroxylon

zwageri Teijsm. & Binnend.) in Kemampo Research Forest,

South Sumatera)

1

Oleh/By:

Agung Wahyu Nugroho2

ABSTRACT

Over exploitation, shifting cultivation, forest fires and illegal logging are factors which caused ironwood (Eusideroxylon zwageri) endangered. Genetic resources conservation is important thing that has to be done urgently as a comprehensive effort in order to save ironwood from threat of extinction. Genetic conservation plots can provide genetic material for breeding program and maintain broad genetic base so that genetic variation can be saved. This paper explains and discusses the steps and strategies that have been made in establishing ironwood genetic conservation plot. Stages of activities undertaken include: exploration, selection of mother tree, collecting seed, seedling preparation, planting, and maintenance. The genetic conservation plots of ironwood have been established as wide as 1.5 ha in Kemampo Research Forest, Banyuasin District, South Sumatera Province. The genetic materials come from five provenances, namely Batanghari (10 mother trees), Sarolangun (6 mother trees), Musi Banyuasin (7 mother trees), Musi Rawas (6 mother trees) and Kalimantan. Maintenance of the plots and additions to mother trees need to be done to enrich genetic variation.

Keywords: Conservation plot, genetic conservation, ironwood.

ABSTRAK

Eksploitasi yang berlebihan, perladangan berpindah, kebakaran hutan dan illegal logging merupakan faktor-faktor yang menyebabkan ulin terancam punah. Konservasi sumber daya genetik merupakan hal penting mendesak dilakukan sebagai upaya

1

Makalah dipresentasikan pada Lokakarya Nasional “Plot Konservasi Genetik Untuk Pelestarian Jenis-Jenis Pohon Terancam Punah (Ulin, Eboni dan Cempaka)” yang diselenggarakan oleh ITTO Project PD 539/09 Rev.1 (F) bekerjasama dengan Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan RI, pada tanggal 29 Mei 2012 di Bogor.

2

(37)

komprehensif guna menyelamatkan ulin dari ancaman kepunahan. Plot konservasi genetik dapat menyediakan material genetik untuk program pemuliaan dan mempertahankan luasnya basis genetik sehingga variasi genetik tetap terjaga. Tulisan ini memaparkan dan membahas langkah-langkah dan strategi yang telah dilakukan dalam membangun plot konservasi genetik ulin. Tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan meliputi: eksplorasi, pemilihan pohon induk, pengunduhan dan pengumpulan benih, pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan. Telah terbangun plot konservasi genetik ulin di KHDTK Kemampo, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan seluas 1,5 Ha. Materi genetik berasal dari lima provenan dan terdiri dari 29 pohon induk., yaitu Batanghari (10 pohon induk), Sarolangun (6 pohon induk), Musi Banyuasin (7 pohon induk), Musi Rawas (6 pohon induk), dan Kalimantan. Pemeliharaan plot dan penambahan pohon induk perlu dilakukan untuk memperluas variasi genetik.

Kata kunci: Plot konservasi, konservasi genetik, ulin.

I. PENDAHULUAN

Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binnend.) atau yang dikenal dengan nama kayu besi borneo, tabulin, telian, tulian, belian, ulin di Kalimantan atau bulian, bulian rambai, onglen di Sumatera ini merupakan salah satu jenis pohon penyusun hutan tropika basah yang tersebar di Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, dan hampir seluruh wilayah Kalimantan. Jenis ini dapat ditemukan pada berbagai jenis tanah dari dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Ulin termasuk jenis lambat tumbuh (slow growing) (Martawijaya dkk., 2005), termasuk dalam famili Lauraceae, ordo Laurales, kelas Magnoliopsida, filum Tracheophyta dan kingdom Plantae (IUCN, 2011). Ulin adalah jenis tanaman yang dapat tumbuh pada tanah bertekstur lempung liat berpasir dan kesuburan tanah yang rendah dengan nilai pH, KTK, KB dan kandungan N, P, K, C/N, K, Ca, Mg dan Na rendah dan kandungan Al yang tinggi (Nugroho, 2007).

(38)

CITES. Potensi ulin di sebaran alaminya baik di Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat cenderung semakin menurun (Nugroho dkk., 2006; Sidiyasa, 2011). Penyebab utama keterancaman kepunahan ulin adalah eksploitasi yang berlebihan, perladangan berpindah, dan illegal logging (Irawan, 2002).

Konservasi sumber daya genetik merupakan hal penting mendesak dilakukan sebagai upaya komprehensif guna menyelamatkan ulin dari ancaman kepunahan. Secara umum, konservasi sumber daya genetik dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu konservasi in-situ dan ex-situ. Konservasi in-situ adalah konservasi komponen keanekaragaman hayati di habitat alamnya. Konservasi ini bertujuan agar organisme berfungsi secara alami di ekosistem yang bersangkutan. Konservasi ex-situ adalah konservasi komponen keanekaragaman hayati di luar habitat alaminya. Konservasi ini bertujuan untuk melayani program breeding dan bioteknologi. Jadi konservasi ex-situ merupakan jembatan antara program pemuliaan dan bioteknologi dengan konservasi in-situ (Suseno dkk., 1998).

Program konservasi genetik merupakan aktivitas yang menyatu dengan kegiatan pemuliaan pohon untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari. Kebun konservasi genetik dapat menyediakan material genetik yang diperlukan untuk menghasilkan benih unggul atau tanaman dengan karakteristik yang sesuai dengan keinginan (Soekotjo, 2004). Konservasi genetik juga berfungsi sebagai wahana untuk mempertahankan luasnya basis genetik (broad genetic base) suatu spesies, sehingga besarnya variasi genetik tetap terjaga. Dengan semakin luasnya basis genetik maka semakin besar pula peluang untuk mendapatkan perolehan genetik (genetic gain) dari sifat yang diinginkan. Kebun konservasi genetik merupakan kontribusi yang signifikan dalam upaya melestarikan berbagai jenis tumbuhan terancam kepunahan (langka), endemik, ekotipe, unik, dan bernilai ekonomi, yang di habitat alaminya mungkin sangat terancam atau bahkan telah punah (Widyatmoko, 2011). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan dan konservasi ulin terhadap ancaman kepunahan melalui pembangunan plot konservasi genetik ulin.

II. METODE PENELITIAN

(39)

+++

Populasi 1 Populasi 2 Populasi 3 Populasi n

Plot Konservasi Genetik

Gambar 1. Tahapan pembangunan plot konservasi ulin

A. Eksplorasi dan Pengumpulan Benih

Benih dikumpulkan dari pohon induk per populasi yang mewakili keseluruhan bentuk pohon penyusun tegakan (fenotipe jelek, sedang, bagus). Jarak antar pohon induk minimal 50 – 100 meter dengan asumsi tidak terjadi perkawinan antar pohon induk (Hakim dan Widyatmoko, 2011). Pendataan karakteristik pohon induk meliputi: diameter batang, tinggi bebas cabang, tinggi total, diameter tajuk, kelimpahan biji, posisi koordinat pohon, ketinggian tempat, dan kondisi lingkungan.

B. Skarifikasi

(40)

C. Perkecambahan

Biji ulin ditabur secara langsung ke dalam polybag (ukuran 25 cm x 20 cm) yang telah diisi media. Media terdiri dari campuran antara serbuk gergaji yang telah terdekomposisi dan pupuk kandang dengan perbandingan 4:1 (v:v). Penaburan dilakukan dengan membenamkan biji sedalam ± 2/3 bagian. Polybag yang telah ditaburi biji, kemudian diletakkan dan disusun ke dalam bedeng-bedeng ukuran 1 m x 10 m yang telah disiapkan. Untuk menjaga suhu, kelembaban, dan menghemat penyiraman, maka dibuat sistem genangan dan penyungkupan. Sistem genangan dibuat dengan menggunakan plastik yang dipasang pada dasar bedeng dan diisi air kurang lebih ¼ tinggi polybag. Penyiraman air ke dalam bedeng dilakukan secara fleksibel ketika volume air mulai berkurang. Penyungkupan dilakukan dengan membuat sungkup yang telah ditutup dengan plastik bening secara rapat. Bedeng yang telah disungkup kemudian diberi naungan dari paranet dengan intensitas naungan 75%.

D. Pemeliharaan Bibit di Persemaian dan Lapangan

Pembukaan sungkup plastik mulai dilakukan pada waktu bibit sudah mempunyai ± 4 helai daun. Penyiraman air dilaksanakan secara teratur setiap 2 – 3 hari sekali atau ketika media sudah mulai mengering. Untuk menghindari serangan jamur, dilakukan penyemprotan fungisida (Dytane 45 dengan dosis 2 g/lt) setiap 15 hari sekali. Untuk memacu pertumbuhan, dilakukan penyemprotan pupuk organik cair setiap 10 hari sekali dan pupuk daun (Gandasil D) dengan dosis 1 g/lt setiap 10 hari sekali. Pembersihan gulma (rumput) dilakukan rutin setiap 1 bulan sekali.

Bibit yang sudah siap tanam ± umur 8 – 9 bulan, kemudian dipindahkan ke lapangan. Sebelum ditanam di lapangan, bibit di aklimatisasi selama kurang lebih 2 minggu untuk mengurangi stres. Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyemprotan vitamin anti stres dan penyiraman air.

E. Penanaman

(41)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Eksplorasi dan Pengumpulan Benih

Penelitian yang dilakukan Widyatmoko, dkk. (2011) menunjukkan keragaman genetik ulin dari provenan Batanghari (Jambi) dan Musi Rawas (Sumatera Selatan) masih relatif tinggi dengan nilai rata-rata 0,3678. Keragaman genetik dalam provenan lebih tinggi daripada antar provenan. Demikian juga jarak genetik yang cukup tinggi antar klaster. Selanjutnya dikatakan bahwa koleksi materi genetik untuk konservasi ex-situ sebaiknya fokus baik pada individu di dalam provenan maupun pada setiap klaster. Setiap provinsi cukup diwakili oleh satu populasi atau provenan, dimana pada masing-masing populasi diwakili oleh jumlah individu yang cukup. Koleksi meteri genetik dapat dilakukan dari masing-masing pohon induk atau dapat juga secara bulk.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, kegiatan eksplorasi dan pengumpulan benih dilaksanakan pada lokasi sebaran alami di Provinsi Sumatera Selatan, dan Jambi. Sebaran alami ulin di Sumatera Selatan berada di Hutan Adat Mambang (Desa Beliti Jaya, Kabupaten Musi Rawas) dan areal PT REKI (Kabupaten Musi Banyuasin). Sedangkan di Provinsi Jambi berada di Cagar Alam Durian Luncuk 1 (Desa Guruh Baru, Kabupaten Sarolangun) dan Cagar Alam Durian Luncuk 2 (Desa Jangga Baru, Kabupaten Batanghari) (Siahaan, dkk., 2005; Junaidah, dkk., 2006; Nugroho, 2006).

1. Hutan Adat Mambang

Lokasi ini telah ditetapkan sebagai Tegakan Benih Teridentifikasi (No. Sertifikat 38/V/BPTH.Sum-3/SSB/2006) dan secara administrasi berada di Desa Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan dengan posisi geografis 03004’ – 03005’ LS dan 103012’ - 103013’ BT dan ketinggian tempat 45-50 m dpl. Luas kawasan hutan ini berdasarkan hasil pengukuran Balai Inventarisasi dan Pemetaan Hutan Wilayah II pada tahun 1997 seluas ± 30 ha. Vegetasi yang ada kebanyakan berupa kawasan berhutan dengan didominasi oleh jenis pohon ulin serta kawasan yang tidak berhutan diperkirakan sekitar ± 10 ha dari luas wilayah yang ada.

(42)

Kayu bulian diambil dari kata bahasa musi “bellian” (artinya belanjaan). Konon, bibit dibeli dari daerah Palembang yang berasal dari kapal-kapal yang bersandar. Setelah sampai di Desa Mambang, ada yang bertanya “mudik ngunde ape?” (artinya mudik bawa apa) dari Palembang, dijawab “bellian” (artinya belanjaan). Hutan ini sampai sekarang tetap terjaga kelestariannya, karena masyarakat meyakini hutan adat mempunyai kekuatan magis sehingga ditakuti oleh masyarakat sekitar dan pendatang. Bentuk kearifan dari upaya pelestarian hutan adat ini melalui pengambilan kayu yang hanya dipergunakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan bersama.

Pada waktu eksplorasi (Pebruari 2011), sedikit sekali ditemukan buah/biji, tapi banyak terdapat anakan alam dengan kerapatan ± 22 anakan per m2 dengan tinggi antara 50-100 cm. Dari hasil wawancara dengan jagawana, musim buah raya telah terjadi pada bulan Agustus tahun 2010. Selain itu, dijumpai adanya perbedaan pohon Ulin dilihat dari warna kulit batangnya. Ada 2 jenis warna kulit batang yaitu kulit batang warna kehitaman dan kulit batang warna kemerahan serta perbedaan ukuran daun antara keduanya. Untuk kulit batang kehitaman ukuran daun lebih panjang dari daun kulit batang kemerahan (Gambar 2). Dari lokasi ini, dapat diambil materi perbanyakan berupa buah dan anakan alam dari empat belas pohon induk (Tabel 1).

(43)

Tabel 1. Karakteristik pohon induk di Hutan Adat Mambang

(44)

Gambar 3. Proses pengepakan cabutan anakan alam (Foto: Agung, 2011).

2. Cagar Alam Durian Luncuk 1

Cagar Alam Durian Luncuk I telah selesai ditata batas definif pada tahun 1995 sebagai tindak lanjut penunjukkan kawasan konservasi (SK Menhut No: 34/Kpts-II/1987 tangggal 7 Mei 1987). Dari hasil tata batas tersebut, kawasan Cagar Alam Durian Luncuk I mempunyai luas 73,74 ha dan secara geografis terletak pada koordinat 103000’ - 103005’ BT dan 01055’ - 02000’ LS.

Secara administratif pemerintahan, CA Durian Luncuk I terletak di Desa Guruh Baru, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Secara umum kondisi geografinya bergelombang yang berada pada ketinggian 30-40 m dpl. Kondisi tanahnya merupakan jenis endapan aluvial. Klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe A. Terdapat sekitar 8 aliran anak sungai kecil di kawasan ini dengan aliran air yang stabil sepanjang tahun, walaupun pada musim kemarau debit aitnya agak berkurang (BKSDA Jambi, 2004).

(45)

Tabel 2. Karakteristik pohon induk di Cagar Alam Durian Luncuk 1

Pengamatan di lapangan menunjukkan, kelestarian populasi ulin kawasan ini mulai terancam. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kayu gergajian (hasil) kegiatan penebangan liar (illegal logging) seperti kayu balok, kayu belahan, kayu bantalan, dan kayu chips (Gambar 4).

Gambar 4. Balok kayu ulin hasil penebangan liar di Cagar Alam Durian Luncuk 1 (Foto: Agung, 2011).

(46)

adalah kayu log yang dipotong dengan ukuran ± 1,3 m. Ancaman yang lain adalah meningkatnya laju okupasi lahan kawasan menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

3. Cagar Alam Durian Luncuk 2

Seperti halnya Cagar Alam Durian Luncuk 1, Cagar Alam Durian Luncuk 2 telah selesai ditata batas definif pada tahun 1995 sebagai tindak lanjut penunjukkan kawasan konservasi (SK Menhut No: 34/Kpts-II/1987 tangggal 7 Mei 1987). Dari hasil tata batas tersebut, kawasan CA Durian Luncuk 2 seluas 41,37 ha. Secara geografis kawasan Cagar Alam Durian Luncuk 2 terletak pada koordinat 103000’ - 103015’ BT dan 01045’ - 02000’ LS, ketinggian tempat 30 - 80 m dpl., pH tanah 5,4-5,7, dan kelembaban udara siang hari sebesar 75%. Secara administratif pemerintahan, Cagar Alam Durian Luncuk 2 terletak di Desa Jangga Baru Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

Kondisi geografinya bergelombang dengan kondisi tanah merupakan jenis endapan alluvial. Klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe A. Di kawasan ini, terdapat satu aliran sungai kecil yang dikenal dengan sungai pecah mangkok yang mengalir dari arah selatan ke utara dan membelok ke arah timur dan bermuara di Sungai Jangga (BKSDA Jambi, 2004) (Gambar 5).

(47)

Pada waktu eksplorasi (bulan Pebruari 2011), tegakan ulin di lokasi ini sedang mengalami musim buah raya. Dari lokasi ini dapat diperoleh materi perbanyakan berupa buah dari sepuluh pohon induk dengan karakteristik seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik pohon induk di Cagar Alam Durian Luncuk 2

Pohon

Berdasarkan keterangan dari masyarakat setempat, ulin di kawasan ini mempunyai empat nama yaitu ulin daging, ulin kapur, ulin sirap, dan ulin tanduk. Irawan dan Gruber (2002) melaporkan ulin di daerah Jambi mempunyai struktur morfologi yang bervariasi. Variasi struktur morfologi meliputi bentuk dan ukuran biji, bentuk daun, serta bentuk dan warna batang ulin. Biji ulin mempunyai variasi bentuk dan ukuran, dimana masing-masing mempunyai ciri yang spesifik (Gambar 6). Selain itu, telah diidentifikasi empat jenis ulin yaitu: zwageri, exilis, ovoidus, dan grandis dimana variasi genetik di antara varietas ulin tersebut cukup tinggi. Masyarakat setempat mengenal varietas daging untuk menyebut exilis, kapur untuk ovoidus, sirap untuk zwageri, dan tanduk untuk grandis (Irawan, 2011).

(48)

Gambar 6. Variasi bentuk dan ukuran biji ulin di CA Durian Luncuk 2 (Foto: Agung, 2005).

4. Sungai Kandang PT REKI Musi Banyuasin

Secara umum, sebaran ulin di areal PT REKI tersebar di tiga blok yaitu: blok areal Sei Kandang, blok areal Km 49, dan blok areal Sei Kapas. Di areal Sei Kandang, jumlah pohon ulin yang ditemukan sekitar 335 pohon dengan rata-rata diameter sebesar 28 cm dan tinggi sebesar 17,3 m (Wahyudi, 2011).

(49)

Tabel 4. Karakteristik pohon induk di PT REKI

Gambar 7. Trubusan ulin di Sungai Kandang PT REKI (Foto: Joni, 2011).

5. Kalimantan

(50)

B. Pembuatan Bibit di Persemaian 1. Skarifikasi dan Perkecambahan

Sebelum masa perkecambahan, sering kali suatu benih/biji mengalami masa yang disebut dormansi. Masa dormansi adalah suatu masa dimana biji dalam keadaan istirahat (biji belum bisa berkecambah). Dormansi benih dapat disebabkan antara lain karena adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen), embrio yang belum tumbuh secara sempurna, hambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat pengatur tumbuh di dalam embrio (Villlers, 1972 dalam Saleh, 2004).

Dormansi bisa terjadi karena kondisi dari dalam biji itu sendiri kurang sesuai walaupun kondisi luar sudah sesuai dengan persyaratan tumbuh biji tersebut (suhu, kelembaban, dan atmosfer). Benih ulin memiliki dormansi yang diduga disebabkan oleh kulit benih yang keras sehingga sulit ditembus air. Kulit biji ulin yang terlalu keras dapat diatasi dengan tindakan skarifikasi (proses perusakan kulit biji agar menjadi lebih mudah ditembus oleh tunas) (Gambar 8). Dengan metode ini, kulit biji yang keras akan mudah pecah dengan sendirinya sehingga meminimalkan kerusakan embrio biji, dan mempercepat proses perkecambahan. Selain itu, metode ini jauh lebih efisien karena tidak membutuhkan tenaga pekerja yang banyak dengan waktu yang relatif singkat.

(51)

Perkecambahan dapat diartikan sebagai dimulainya proses pertumbuhan embrio dari benih yang sudah matang dengan diawali dari proses imbibisi, reaktivasi, inisiasi pertumbuhan embrio, dan munculnya akar menembus kulit benih. Dengan lepasnya lapisan kulit biji ulin akibat skarifikasi, akan memudahkan masuknya air ke dalam biji (imbibisi). Imbibisi akan mengaktifkan enzim-enzim perombakan yang menjadikan karbohidrat, protein, dan lemak menjadi senyawa aktif.

Dengan cara penaburan langsung ke dalam polybag ini, biji mulai berkecambah pada umur ± 2 bulan setelah ditabur dengan persentase kecambah sebesar 53,25%. Hasil yang tidak berbeda juga dilaporkan Hakim dkk. (2005) yang menyatakan bahwa perkecambahan biji ulin yang langsung pada polybag yang diisi tanah yang dinaungi sungkup dengan plastik transparan dan sarlon 50%, berkecambah pada hari ke-55 dengan persentase yang kecil. Sementara untuk persentase hidup bibit dari anakan alam lebih kecil bila dibandingkan dengan dari biji yaitu sebesar 26%. Hal ini diduga karena ada banyak air yang hilang oleh proses transpirasi selama dalam perjalanan serta lamanya perjalanan angkut bibit dari lapangan ke persemaian (kurang lebih 4 hari).

Secara visual, ciri biji yang akan berkecambah akan mengalami perubahan warna dari coklat-kuning menjadi kehijau-hijauan, sedangkan biji yang tidak berkecambah akan berwarna hitam, berlendir, dan membusuk (Gambar 9).

(b) (a)

(52)

Bibit ulin mempunyai sistem perakaran tunggang (radix primaria) dengan satu atau lebih batang akar besar dengan beberapa cabang akar (Gambar 10). Bibit yang masih muda, panjang batang akar dan tunas rata-rata mempunyai perbandingan sebesar 1:2.

a b c

Gambar 10. Sistem perakaran tunggang bibit ulin dengan: a) satu batang akar, b) dua batang akar, c) tiga batang akar (Foto: Agung, 2005).

2. Pembibitan

(53)

a b

Gambar 11. a. Konidiofor Phytophthora sp., (Foto: Rani, 2011); b. Gejala dan tanda penyakit bercak daun (Foto: Agung, 2011).

Faktor yang memicu aktifnya patogen Phytophthora adalah kelembaban yang tinggi, kondisi media dan benih yang tidak steril. Upaya pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan adalah dimulai dari seleksi benih yang sehat dan steril, sterilisasi media tabur dan sapih, pengaturan kelembaban, dan aplikasi fungisida yang bijak. Penggunaan fungisida 3 g/liter secara teratur setiap 15 hari sekali cukup mampu menekan perkembangan dan penyebaran spora jamur, sehingga intensitas dan persentase serangan penyakit dapat menurun. Bila ada gejala serangan daun dan serangannya masih ringan, diusahakan secepatnya memetik dan membakar daun yang terserang tersebut. Bila hampir semua daun pada bibit terserang, sebaiknya dilakukan isolasi bibit dengan bibit yang sehat agar tidak terkontaminasi.

(54)

Gambar 12. Bibit ulin siap tanam (Foto: Agung, 2011).

Ada perbedaan dalam jumlah individu yang dihasilkan untuk masing-masing pohon induk disebabkan perbedaan peluang untuk mendapatkan benih. Hal ini diduga adanya ketidakseragaman musim buah masing-masing populasi. Ulin di Provinsi Sumatera Selatan, musim buah raya jatuh pada bulan Agustus tahun lalu sedang ulin di Provinsi Jambi jatuh bulan Pebruari ketika eksplorasi dilaksanakan. Dari jumlah pohon induk yang ditanam tersebut, masih terbuka peluang untuk penambahan jumlah pohon induk (infusi) dari provenan lain yang belum dilakukan eksplorasi seperti provenan Bangka-Belitung.

3. Penanaman

Kegiatan penanaman dimulai dari survey lokasi plot penanaman (pengukuran edafis dan klimatis), pengukuran lahan dan penentuan luas areal, pembersihan jalur tanam, penentuan jarak tanam, pengajiran, pembuatan lubang tanam, pemberian pupuk dasar, pemberian EM-4, pengadukan media, penanaman, pemberian bokashi cair, penyrumbungan, pemasangan papan nama, penyulaman, dan pengukuran pertumbuhan awal.

(55)

kandungan Al yang tinggi (Pratiwi, 2004; Nugroho, 2007). Ulin mampu tumbuh pada daerah yang mempunyai tipe iklim A (Schmidt and Ferguson) dengan curah hujan 2.662 mm/tahun (Masano, 1984). Ulin dapat ditemukan pada berbagai jenis tanah dari dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut, termasuk jenis lambat tumbuh (slow growing) dan secara geografis penyebaran ulin terletak pada 50 LU – 30 LS (Heyne, 1987). Ulin di Sumatra bagian selatan dapat tumbuh pada ketinggian 46-190 meter di atas permukaan air laut dengan topografi datar-berbukit (Nugroho dkk., 2006).

KHDTK Kemampo dipilih sebagai lokasi penanaman, karena lingkungan fisik (iklim dan tanah) yang sesuai dengan kondisi sebaran alaminya. Wilayah ini mempunyai tipe hujan B menurut Schmidt dan Ferguson dan tingkat kesuburan tanah sangat rendah (Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Palembang, 2002). Berdasarkan data BMKG Kenten (2012), lokasi ini mempunyai curah hujan sebesar 1.452 mm/tahun dengan curah hujan terbanyak bulan Oktober dan November sebesar 278,5 mm dan 251,5 mm. Dari wawancara dengan petugas di lapangan, diketahui bahwa di KHDTK Kemampo dulunya merupakan areal tegakan ulin. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya tonggak-tonggak ulin dan beberapa pohon ulin yang masih hidup (Gambar 13). Selain itu, topografi yang relatif datar – berombak (0 – 8%), ketinggian tempat 60 m dpl., pH 6, status hukum yang jelas, akses yang mudah, menjadikan lokasi ini dipilih sebagai lahan untuk pembuatan plot konservasi ulin.

Gambar

Figure 1.  Two ulin trees at ulin seed stands in Mambang Custom Forest, South Sumatra (A), and two years old of ulin planted at Kemampo Research Forest, South Sumatra (B)
Gambar 1. Tahapan pembangunan plot konservasi ulin
Tabel 1. Karakteristik pohon induk di Hutan Adat Mambang
Gambar 3. Proses pengepakan cabutan anakan alam (Foto: Agung, 2011).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengamatan pertumbuhan mikroalga Spirulina platensis selama 7 hari kultur skala laboratorium menunjukkan adanya penambahan populasi sel pada media dengan

Keragaman Genetik Empat Populasi intsia bijuga Berdasarkan Penanda RAPD dan lmplikasinya bagi Program Konservasi Genetik Anto Rimbawanto dan AYPBC Widyatmoko..

Hasil pengamatan pertumbuhan mikroalga Spirulina platensis selama 7 hari kultur skala laboratorium menunjukkan adanya penambahan populasi sel pada media dengan

Laju perkembangan dan pertumbuhan populasi ternak babi dipengaruhi oleh faktor genetik (30%) dan faktor lingkungan (70%). Faktor genetik merupakan.. faktor yang dapat

Berdasarkan hasil dari penelitian Fiani tahun 2014 tentang penyelamatan sumber daya genetik jenis cendana (Santalum album L.) melalui pembangunan plot

Berdasarkan hasil pengamatan sifat-sifat fenotipe tanaman maupun hasil studi variasi genetik menggunakan penanda isoenzim pada populasi- populasi yang diuji

Pertumbuhan yang diamati adalah fase penambahan panjang kerang setiap bulan pengamatan untuk melihat kelompok ukuran , jumlah populasi yang tetap bertahan sampai ukuran

Untuk menyiapkan program konservasi sumberdaya genetik untuk mendukung penyiapan populasi pemuliaan telah dilakukan eksplorasi dan koleksi materi genetik di tiga lokasi sebaran alaminya