A. Dasar pemikiran rezim hukum internasional tentang masyarakat global dan fenomena pengungsi
1. Dasar Pemikiran rezim hukum internasional tentang masyarakat global
Perdebatan tentang relasi antara hukum natural, hukum antar bangsa, hukum nasional, hingga implikasinya terhadap interaksi individu dengan masyarakat global menjadi persoalan dasar pemikiran rezim hukum internasional. Setidaknya terdapat tiga aliran yang mewakili perdebatan tersebut.2
Kelompok pertama adalah aliran realisme dipelopori oleh pemikiran Thomas Hobbes (1588-1679) yang berpendapat bahwa asosiasi individu terhadap sebuah kuasa negara bukan bentuk dari alamiah masyarakat, melainkan disebabkan oleh kondisi universal yang saling berperang. Individu secara alami mengasosiasikan diri kepada sebuah kesatuan masyarakat negara untuk mendapatkan perlindungan. Kritik Hobbes terhadap konsep hukum natural terletak pada keadaan pertentangan yang terus-menerus antara hukum natural dengan hukum negara. Pertentangan tersebut hanya dapat ditengahi melalui perjanjian dan persetujuan negara secara sukarela dan tanpa tekanan. Pendapat Hobbes banyak didukung oleh pemikir-pemikir lain seperti David Hume (1711-1776), Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), Friedrich Hegel (1770-1831), Hans Morgenthau. Aliran realis cenderung menempatkan interaksi antar negara dalam kondisi anarkis, saling memperebutkan kuasa untuk memenuhi kepentingan internal nasional. Oleh karenanya, struktur masyarakat menurut kelompok realis terbentuk untuk menguatkan kesejahteraan negara, serta menegaskan bahwa hanya negara yang memiliki kompetensi untuk melakukan interaksi dengan masyarakat global. Hegel mengusulkan kekuatan masyarakat sipil yang menghubungkan individu, keluarga, dengan negara, namun cakupannya tidak melampaui batas nasional. Sehingga
2 Hedley Bull, The Anarchical Society: A Study of Order in World Politics, ( New York: Palgrave Macmillan, 2012), 23 -26.
11
kelompok realis menolak konsep masyarakat global yang mengintegrasikan seluruh penduduk dunia atas dasar apapun, ideologi, agama, budaya, kemanusiaan dan lainnya, karena hal itu dianggap dapat melemahkan kedaulatan sebuah negara.3
Kelompok kedua adalah aliran kosmopolitanis dipelopori oleh filusuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804). Pemikiran mendasar Kant tentang masyarakat global mengarah kepada keterikatan penduduk dunia terhadap suatu norma yang disepakati secra bersama menuju perdamaian yang abadi tanpa adanya anarkisme di antara negara-negara dunia.4 pada perkembangannya ide tersebut menggantikan relasi antar negara di dalam kancah global menjadi relasi antar individu penduduk dunia yang menciptakan komunitas masyarakat kosmopolis, merangkul seluruh umat manusia tidak membedakan identitas kebangsaan mereka. Aliran ini juga kadang disebut kelompok universalis karena berupaya menyatukan seluruh penduduk dunia di bawah keseragaman moral dan politik. untuk membentuk keseragaman tersebut, Kant menghubungkan antara keteraturan alam dengan peran agensi manusia yang bertindak sesuatu apabila hanya sesuai dengan aturan dasar hukum universal. Kekuasaan negara hanya berperan untuk menyempurnakan keteraturan alam di dalam keterikatan dan perdamaian selama-lamanya, oleh karenanya seluruh kebijakan negara dimanifestasikan untuk mendukung keseragaman universal melalui federasi-federasi.5
Isu sentral kosmopolitan adalah ketika negara membuka diri dari pengaruh eksternal dan semakin mengubah ketegasan
3 Charles Covell, Hobbes: Realism and the Tradition of International Law, (New York: Palgrave MacMillan, 2004), 85; Charles Covell, The Law of Nations in Political Thought: A Critical Survey fro Vitoria to Hegel, (New York:
Palgrave MacMillan, 2009), 63 – 90.
4 Charles Covell, Kant and the Law of Peace: A Study in the Philosophy of International Law and International Relations, (New York: Palgrave MacMillan, 1998), 14.
5 Charles Covell, Kant and the Law of Nations: Astudy in the Philosophy of International Law and International Relations, 47 – 65.
12
batas negara dari sisi kebijakan politik maupun teritorial.
Pendapat ini memiliki dukungan dari beberapa pemikir klasik dan modern. Ide Jeremy Bentham (1748-1832) tentang utilitarianisme memiliki beberapa kesamaan dengan Kant, namun pemikiran kosmopolitan Bentham tidak mengarah kepada transnasional kosmopolitan sebagaimana ide Kant, melainkan pada lingkup internal negara. Bentham menawarkan kosmopolitan dalam kerangka nasional dengan memposisikan entitas asing di dalam negara yang memiliki kesetaraan dengan entitas pribumi.
Never, by force or intimidation, never by prohibition or obstruction, will I use any endeavour to prevent my fellow countrymen, or any of them from seeking to better their condition in any part, inhabited or uninhabited, of this globe. In the territory of this state, I behold an asylum to all”6
Saint-Pierre sejatinya telah mengemukakan ide-ide tentang kosmopolitan sebagaimana digaungkan oleh Kant, namun hanya dalam konteks penguasa-penguasa Kristen di Eropa.
Kristeva sejalan dengan tokoh-tokoh post-kolonialis lain mendukung ide kosmopolis Kant dengan menegaskan bahwa meskipun ide-ide dasar Kant tentang keteraturan alam, moral universal, federasi negara-negara, perdamaian abadi, telah ditemukan secara nyata pada era sekarang, namun pemikiran kosmopolitan sebagaimana digaungkan Kant perlu terus dikembangkan hingga tidak ada kata ‘orang asing’ di dalam kosntelasi masyarakat global ini.7
Kelompok ketiga adalah pendukung ide internasionalis yang dipelopori oleh Hugo Grotious (1583 – 1645). Grotious
6 Peter Niesen, „Bentham‟s Cosmopolitanism: Theory and Practice‟, ISUS Conference, New York, 2012, 14.
7 Philip Leonard, Nationality between Postsctructuralism and Postcolonial Theory, ( New York: Palgrave MacMillan, 89.
13
melakukan dua pendekatan terhadap reformasi hukum antar bangsa. Pertama, ia mendasarkan aturan tentang perang terhadap hukum natural, bahwa hukum alam adalah prinsip normatif minimum yang menggambarkan sikap alamiah manusia terhadap berbagai problematika lintas negara, seperti mendasarkan perang atas dasar pembelaan diri, dan keinginan suatu negara untuk menjaga kepentingannya. Dasar alamiah suatu hukum tersebut ia jelaskan dengan ada atau tidak adanya keyakinan seorang individu terhadap ketuhanan, dengan kata lain, hukum alami yang melandasi prilaku seseorang tersebut akan selalu ada dan berjalan, terlepas dari keyakinan seseorang terhadap ketuhanan. Ini membedakan perspektif hukum alam versi Grotious dengan versi Aquinas yang menjelaskan bahwa hukum alam yang melandasi hukum manusia berasal dari hukum abadi ketuhanan.
Pendekatan kedua ia lakukan dengan memetakan kerangka konseptual akan hukum antar bangsa sekuler didasari oleh sikap sukarela negara untuk terikat dalam perjanjian, yang menjadi dasar pengembangan hukum internasional modern.
Bahwa hukum alam mengatur kewajiban dan hak seseorang, pelaksanaannya memerlukan prinsip aturan sosial yang mengatur setiap pihak agar memenuhi kewajiban dan mendapatkan hak melalui kerangka hukum yang selaras dengan hukum natural. Sikap sukarela untuk terikat dalam aturan internasional tersebut didasari oleh adanya relasi eksternal saling timbal balik, saling memiliki kecenderungan yang sama, saling memiliki kepentingan untuk membentuk masyarakat dunia yang lebih luas.8
Dalam ranah global, hukum natural sebagai landasan aturan internasional harus didukung oleh aturan yang ditaati subjek internasional secara suka rela. Kondisi ini menempatkan aturan antar bangsa memiliki kekuatan mengikat subjek internasional (negara dan organisasi internasional) sebagaimana aturan nasional yang mengikat warga negaranya. Posisi Grotious
8 Charles Covell, The Law of Nations in Political Thought: A Critical Survey fro Vitoria to Hegel, 50 – 62.
14
sebagai internasionalis menegaskan bahwa pengikatan negara ke dalam hukum antar bangsa tidak lain adalah sikap sukarela negara yang didasari oleh keinginan negara untuk menjaga kepentingan mereka di dalam politik internasional. Hubungan antar negara tersebut menjadi dasar bagi komunitas masyarakat internasional. Ini berhadapan dengan tradisi realis yang menempatkan kepentingan negara bersifat absolut dan tidak dibatasi oleh moral dan politik internasional.
Berdasarkan prinsip keadilan yang seadilnya (justice as fairness), Rawls mengkonseptualisasikan dasar-dasar keadilan di ranah domestik negara. Keadilan di ranah domestik internal negara harus didasari oleh terciptanya kesetaraan (equality) di antara warga negara. Kesetaraan menjadi kunci terciptanya kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi, sosial, hak, dan seluruh ranah nasional.9 Prinsip keadilan yang seadilnya tersebut kemudian menjadi kunci bagi Rawls untuk memetakan hukum yang mengatur antar masyarakat dunia. Konseptualisasi Rawls atas keadilan bagi seluruh masyarakat dunia cenderung mengarah kepada aliran universalis (kosmopolis) sebagaimana digaungkan oleh Kant dalam perdamaian abadi (perpetual peace).10 Rawls menempatkan masyarakat seluruh dunia pada posisi kontraktual dengan aturan-aturan yang mereka sepakati.
Rawls membagi masyarakat menjadi masyarakat yang teratur baik secara demokratis dengan masyarakat yang berada di bawah pemerintahan tidak demokratis. Rawls mengakui perbedaan model masyarakat dunia tersebut sebagai realitas masing-masing, namun terdapat nilai utopis yang harus dicapai oleh masing-masing masyarakat sebagai penduduk dunia, yaitu bahwa mereka memiliki kesetaraan hak fundamental yang harus diakui. Masyarakat merupakan agen dari aset negara yang secara kontraktual menghubungkan antara hak dan kewajiban secara timbal balik (reciprocity), bahkan dengan
9 Fernando R. Teson, A Philosophy of International Law, (Oxford:
Westview Press, 1998), 105 -122.
10 John Raws, The Law o Peoples, (Massachusetts: Harvard University Press, 1999), 17.
15 masyarakat dari negara lainnya.11
Ketiga aliran filsafat rezim hukum internasional, realis, kosmopolis, dan internasionalis, memiliki kesamaan dalam memetakan dasar kepatuhan negara terhadap aturan-aturan supranasional, yaitu terdapatnya sikap negara secara sukarela untuk mengikatkan diri ke dalam kesepakatan dengan negara lain. Kesepakatan-kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi berlakunya norma internasional ke dalam aturan nasional negara. Perbedaannya adalah bahwa aliran realis mendasarkan kesepakatan pada hukum negara yang berasal dari norma hukum natural, aliran kosmopolis meletakkan kesepakatan pada lingkup konfederasi republik didasari oleh peran agensi manusia yang merupakan representasi dari keteraturan alam, dan aliran internasionalis meletakkan kesepakatan sebagai dasar hukum negara berasal dari hukum antar bangsa dan bersumber dari hukum-hukum natural. Kelompok kosmopolis menempatkan kesepakatan di tangan agensi manusia sebagai entitas yang memiliki hak dan kewajiban di dalam ranah global. Rawls memberi masukan dalam hal ini menggeser posisi agensi dari individu kepada masyarakat, karena aturan universal berada di tangan kesepakatan masyarakat seluruh dunia. Hal itu menjelaskan perbedaan dengan kelompok internasionalis yang mendasarkan kesepakatan di tangan negara sebagai subyek utama dalam politik internasional, meskipun kedua kelompok memiliki kecenderungan yang sama bahwa moral universal memiliki kuasa untuk mengatur perilaku negara di ranah global.
2. Relevansi antara pemikiran rezim hukum internasional dengan fenomena pengungsi
Selama beberapa dekade, sejak terbentuknya Liga Bangsa-bangsa dan berubah menjadi PBB, struktur rezim hukum internasional cenderung menganut aliran internasionalisme,
11 Rex Martin dan David A. Reidy (eds.), Rawls‟s Law of Peoples: A Realistic Utopia?, (Oxford: Blackwell Publishing, 2006).
16
menempatkan negara sebagai subjek utama di dalam struktur pergaulan global internasional. Isu-isu global saat ini tentang kemanusiaan, tentang ekologi, tentang global warming, memiliki aktivisme-aktivisme yang pada beberapa kasus cakupannya melebihi tingkat internasional yang mengarah kepada ide-ide kosmopolitanisme, yaitu dengan menempatkan seluruh warga negara dunia sebagai entitas yang memiliki hak dan kewajiban terhadap warga dari berbagai bangsa yang berasal dari seluruh dunia.12 Kontestasi yang terjadi antara norma antar bangsa dengan norma kebangsaan di dalam aturan nasional menjadi semakin lunak dengan adanya intensitas interaksi antara penduduk-penduduk dunia melalui jalur informal. Jalur informal merupakan interaksi yang terjadi antara penduduk dunia dari berbagai negara tanpa membedakan identitas kebangsaan mereka, namun cenderung menempatkan tujuan bersama sebagai penduduk bumi seperti komunitas akademik, lembaga bukan pemerintahan yang menekuni isu-isu global, badan kemanusiaan, komunitas intra-keimanan dan juga antar intra-keimanan yang menghubungkan antara nilai kemanusiaan dengan nilai transenden ketuhanan yang bersifat universal.
Fenomena migrasi pengungsi global adalah satu dari sekian jamaknya problematika yang menghubungkan antara norma dan identitas nasional dengan norma masyarakat dunia. Migrasi lintas batas nasional yang dilakukan oleh pengungsi untuk mencari perlindungan dari bencana kemanusiaan di negara asal mendeskripsikan betapa terkaitnya antara kajian kemanusiaan dengan rezim hukum internasional tentang identitas kebangsaan. Hampir semua pemikiran yang mendasari rezim hukum antar negara menempatkan regulasi internasional sebagai perwujudan dari sikap sukarela penduduk dunia untuk sepakat tunduk di bawah aturan antar bangsa. Hobbes dan
12 David Kendall, Ian Woodward, dan Zlatco Srkbis, The Sosiology of Cosmopolitanism: Globalization, Identity, Culture, and Government, (New York: Palgrave MacMillan, 2009).
17
kelompok realis menggunakan istilah hukum perjanjian yang dilakukan oleh negara dilandasi oleh hukum natural. Grotious dan kelompok internasionalis cenderung menempatkan hukum perjanjian sebagai bagian dari hukum natural yang memiliki primat atas hukum negara. Kant dan kelompok universalis menggunakna istilah konfederasi yang disepakati penduduk dunia dan mengikat kebijakan negara di ranah global. Rawls dan ide realis utopisnya menempatkan resiprositas sebagai bentuk kesepakatan masyarakat dunia untuk mewujudkan kesetaraan, kemaslahatan fundamental, dan pemenuhan setiap hak dasar mereka. Sikap sukarela terhadap aturan global tersebut kemudian akan mengikat perilaku negara dalam merespon berbagai fenomena global yang mereka hadapi, termasuk dalam hal menghadapi arus perpindahan penduduk dunia yang mengungsi dari negara asal mereka menuju negara lain dengan tujuan mencari perlindungan atas keselamatan jiwa, harta, keyakinan, dan keluarga mereka.
B. Rezim perlindungan pengungsi di dalam hukum