BAB II KAJIAN TEORI
C. Dasar-dasar pendidikan
Pendidikan merupakan sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan ajar, proses belajar mengajar, guru, murid, manajemen, sarana prasarana, biaya, lingkungan dan sebagainya. Berbagai komponen pendidikan tersebut membentuk sebuah sistem yang memiliki konstruksi atau bangunan yang khas. Agar konstruksi atau bangunan pendidikan tersebut kukuh, maka ia harus memiliki dasar, fundament, atau asas yang menopang dan menyangganya, sehingga bangunan konsep pendidikan tersebut dapat berdiri kukuh dan dapat digunakan sebagai acuan dalam praktek pendidikan. Dengan demikian, dasar-dasar pendidikan yaitu segala sesuatu yang bersifat konsep, pemikiran dan gagasan yang mendasari, melandasi, dan mengasasi pendidikan. Agar bangunan pendidikan tersebut benar-benar memberikan keyakinan bagi orang yang menggunakannya, maka ia harus memiliki dasar, fundamen atau asas yang kukuh pula.
26
Kajian tentang dasar pendidikan telah banyak dibicarakan para ahli. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir misalnya berpendapat, bahwa dasar pendidikan Islam merupakan landasan operasional yang dijadikan untuk merealisasikan dasar ideal/sumber pendidikan Islam. Namun menurut Prof. Abudin Nata lebih cenderung mengatakan, bahwa dasar pendidikan bukanlah landasan operasional, tetapi lebih merupakan landasan konseptual. Karena dasar pendidikan tidak secara langsung memberikan dasar bagi pelaksanaan pendidikan, namun lebih memberikan dasar bagi penyusunan konsep pendidikan.27
Dasar ilmu pendidikan Islam bersumber dari al-Qur`an, sunnah Rasulullah SAW, dan ra`yu (hasil pikir manusia). Tiga sumber ini harus digunakan secara hirarkis. Al-Qur`an harus didahulukan. Apabila suatu ajaran atau penjelasan tidak ditemukan di dalam al-Qur`an, maka harus dicari di dalam sunnah, apabila tidak ditemukan juga dalam sunnah, barulah digunakan ra`yu. Sunnah tidak bertentangan dengan al-Qur`an, dan ra`yu tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan sunnah. Macam-macam dasar-dasar pendidikan Islam:
1. Al-Qur`an
Al-Qur`an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Muhammad SAW dalam bahasa Arab yang terang, guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Terjemahan al-Qur`an ke dalam bahasa lain dan tafsirannya bukanlah al-Qur`an, dan karenanya bukan nash yang qath`i dan sah dijadikan rujukan dalam menarik kesimpulan ajarannya.28
Al-Qur`an menyatakan dirinya sebagai kitab petunjuk. Allah swt menjelaskan hal ini di dalam firman-Nya:
27
Nata, op. cit., h. 89-90.
28
17
Artinya:“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Q.S. Al-Isra:9)
Petunjuk al-Qur`an sebagaimana dikemukakan Mahmud Syaltut dikelompokkan menjadi tiga pokok yang disebutnya sebagai maksud-maksud al-Qur`an, yaitu:
a. Petunjuk tentang aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
b. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan.
c. Petunjuk mengenai syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubugannya dengan Tuhan dan sesamanya.
Pengelompokan tersebut dapat disederhanakan menjadi dua, yaitu petunjuk tentang akidah dan petunjuk tentang syari`ah. Dalam menyajikan maksud-maksud tersebut, al-Qur`an menggunakan metode-metode sebagai berikut:
1. Mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengkaji segala ciptaan Allah SWT.
2. Menceritakan kisah umat terdahulu kepada orang-orang yang mengerjakan kebaikan maupun yang mengadakan kerusakan, sehingga dari kisah itu manusia dapat mengambil pelajaran tentang hukum sosial yang diberlakukan Allah terhadap mereka.
3. Menghidupkan kepekaan bathin manusia yang mendorongnya untuk bertanya dan berfikir tentang awal dan materi kejadiannya,
kehidupannya dan kesudahannya, sehingga insyaf akan Tuhan yang menciptakan segala kekuatan.
4. Memberi kabar gembira dan janji serta peringatan dan ancaman.
Menurut M. Quraish Shihab hubungan al-Qur`an dan ilmu tidak dilihat dari adakah suatu teori tercantum di dalam al-Qur`an, tetapi adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur`an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan. Kemajuan ilmu tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur terciptanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu itu.29
Dalam hal ini para ulama sering mengemukakan perintah Allah SWT langsung maupun tidak langsung kepada manusia untuk berfikir, merenung, menalar dan sebagainya, banyak sekali seruan dalam al-Qur`an kepada manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran dikaitkan dengan peringatan, gugatan,atau perintah supaya ia berfikir, merenung dan menalar.
2. Sunnah
Al-Qur`an disampaikan oleh Rasulallah SAW kepada manusia dengan penuh amanat, tidak sedikitpun ditambah ataupun dikurangi. Selanjutnya, manusialah hendaknya yang berusaha memahaminya, menerimanya dan kemudian mengamalkannya. Sering kali manusia menemui kesulitan dalam memahaminya, dan ini dialami oleh para sahabat sebagai generasi pertama penerima al-Qur`an. Karenanya mereka meminta penjelasan kepada Rasulallah SAW, yang memang diberi otoritas untuk itu. Allah SWT menyatakan otoritas dimaksud dalam firman Allah SWT di bawah ini:
29
M. Qurais Shihab, Membumikan al-Qur`an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyaraka,, (Bandung: Mizan, 1995), h. 42.
19
Artinya:“…dan Kami turunkan kepadamu al-Dzikri (Al Quran), agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir”. (Q. S. al-Nahl:44)
Penjelasan itu disebut al-Sunnah yang secara bahasa al-Thariqoh yang artinya jalan, adapun hubungannya dengan Rasulullah SAW berarti perkataan, perbuatan, atau ketetapannya. Para ulama meyatakan bahwa kedudukan Sunnah terhadap al-Qur`an adalah sebagai penjelas. Bahkan Umar bin al-Khaththab mengingatkan bahwa Sunnah merupakan
penjelasan yang paling baik. Ia berkata “ Akan datang suatu kaum yang
membantahmu dengan hal-hal yang subhat di dalam al-Qur`an. Maka hadapilah mereka dengan berpegang kepada Sunnah, karena orang-orang yang bergelut dengan sunah lebih tahu tentang kitab Allah SWT.30
Menurut Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan dalam lapangan pendidikan sunnah mempunyai dua faedah:
a. Menjelaskan sistem pendidikan Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur`an dan menerangkan hal-hal rinci yang tidak terdapat di dalamnya.
b. Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan.
3. Ra`yu
Masyarakat selalu mengalami perubahan, baik pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan, wewenang dan sebagainya.31
30
http://berbagi-makalah.blogspot.com/2012/06/dasar-dasar-pendidikan-islam.html
31
Soerjono Soekanto, Pokok - Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 198), h. 67-88.
Pendidikan sebagai lembaga sosial akan turut mengalami perubahan sesuai dengan perubahan yang tejadi di masyarakat. Perubahan-perubahan yang ada di zaman sekarang atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang mestinya tidak dijumpai pada masa Rasulullah SAW, tetapi memerlukan jawaban untuk kepentingan pendidikan di masa sekarang. Untuk itulah diperlukan ijtihad dari para pendidik muslim. Ijtihad pada dasarnya merupakan usaha sungguh-sungguh orang muslim untuk selalu berprilaku berdasarkan ajaran Islam. Untuk itu manakala tidak ditemukan petunjuk yang jelas dari al-Qur`an ataupun Sunnah tentang suatu prilaku, orang muslim akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menemukannya dengan prinsip-prinsip al-Qur`an atau Sunnah.
Ijtihad sudah dilakukan para ulama sejak zaman shahabat. Namun, tampaknya literatur-literatur yang ada menunjukkan bahwa ijtihad masih terpusat pada hukum syarak, yang menurut Ali Hasballah ialah proposisi-proposisi yang berisi sifat-sifat syariat (seperti wajib, haram, sunnat) yang disandarkan pada perbuatan manusia, baik lahir maupun bathin.32 Kemudian dalam hukum tentang perbuatan manusia ini tampaknya aspek lahir lebih menonjol ketimbang aspek bathin. Dengan perkataan lain, fiqih zhahir lebih banyak digeluti dari pada fiqih bathin. Karenanya, pembahasan tentang ibadat, muamalat lebih dominan ketimbang kajian tentang ikhlas, sabar, memberi maaf, merendahkan diri, dan tidak menyakiti oang lain. Ijtihad dalam lapangan pendidikan perlu mengimbangi ijtihad dalam lapangan fiqih (lahir dan bathinnya).
Salah satu dasar pendidikan dan pembelajaran adalah berorientasi kepada perkembangan atau kecerdasan emosi. Kecerdasan emosional ini berbeda dalam setiap umur dan perkembangan anak, semakin dewasa seseorang maka kecerdasan emosinya pun makin berkembang. Secara umum emosi anak mulai stabil ketika berumur 17 tahun ke atas. Karena itu Islam sangat memperhatikan pendidikan sesorang mulai sejak usia 7 tahun hingga 30 tahun. Dalam banyak hadis Rasulullah saw diingatkan bahwa
32
21
periode 7 sampai 30 tahun ini di anggap sebagai periode untuk pendidikan dan pembelajaran. Suatu periode yang cocok untuk mengembangkan berbagai potensi diri, baik potensi keagamaan, potensi keilmuwan, potensi akhlak, dan sebagainya. Bahkan periode ini dianggap sebagai fase umur dan keterbukaan. Pada fase ini segala aspek pembelajarannya berkembang secara aktif, melalui pertambahan informasi, perkembangan potensi berpikir, dan perkembangan perasaan dan mental secara umum. Pada fase ini, daya ingat dan daya tangkap baik sekali. Fase ini merupakan fase produktif seseorang dalam segala bidang, dan sangat menentukan unsur material dan spiritual masa depannya.
Aspek yang sangat penting dalam konteks ini berkaitan dengan sejauh mana perspektif Islam dalam mendidik manusia, karena manusia terdiri dari fisik dan mental. Menurut ilmu jiwa, jiwa manusia terdiri dari potensi-potensi fisik atau jasmani dan potensi-potensi psikis atau rohani.33