• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III Gambaran Data Laporan Tugas Akhir

C. Dasar Pengenaan, Tarif Dan Cara Penghitungan

Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan meliputi : a.Nilai Perolehan Objek Pajak. Nilai Perolehan Objek Pajak yang dimaksud adalah :

1. Jual beli adalah harga transaksi;

2. Tukar menukar adalah nilai pasar;

3. Hibah adalah nilai pasar;

4. Hibah wasiat adalah nilai pasar;

5. Waris adalah nilai pasar;

6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar;

7. Pemisahan yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar;

8. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar;

9. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar;

10. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar;

11. Penggabungan usaha adalah nilai pasar;

12. Peleburan usaha adalah nilai pasar;

13. Pemekaran usaha adalah nilai pasar;

14. Hadiah adalah nilai pasar; dan/atau

15. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang.

Jika nilai perolehan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam poin 1 sampai dengan 14 tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaa pajak bumi dan bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan.

b. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak.

Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap wajib pajak.

Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak untuk perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat atau satu derajat ke bawah dengan pemberi wasiat, termasuk suami/istri, ditetapkan sebesar Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

c. Tarif

Tarif Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan ditetapkan sebesar 5 % (lima persen).

d. Cara Penghitungan Pajak

Besarnya pokok pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Penghitungan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

BPHTB= Tarif Pajak x Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak Dalam hal ini:

Nilai Perolehan Objek Pajak Kena pajak = NPOP – NPOPTKP Contoh:

Wajib pajak “A” membeli tanah dan bangunan dengan

Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp. 66,000,000.00 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp. 60,000,000.00 (-) Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp. 6,000,000.00 Pajak Yang Terutang = 5% x 6,000,000.00 = Rp. 300,000.00

Dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam poin 1 sampai dengan 14 tidak diketahui atau lebih rendah dari Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, maka besarnya pokok Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Penghitungan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

BPHTB= Tarif Pajak x Nilai Jual Objek Pajak

D. Saat Dan Cara Pembayaran Pajak Terutang.

a. Saat terutang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan ditetapkan untuk:

1. Jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

2. Tukar menukar sejak adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

3. Hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

4. Hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

5. Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan;

6. Pemasukan dalam perseorangan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

8. Putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap;

9. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;

10. Pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;

11. Penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

12. Peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

13. Pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

14. Hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

15. Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.

b. Cara Pembayaran Pajak Terutang.

Wajib Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan wajib membayar pajak yang terutang menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). Surat Setoran Pajak Daerah disampaikan kepada Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk. Pajak yang terutang dibayar ke Kas Umum Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Walikota.

E. Wilayah Kerja Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan.

Wilayah Pemungutan yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan terdiri atas kecamatan medan kota, kecamatan medan area, kecamatan medan barat, kecamatan medan petisah, kecamatan medan baru, kecamatan medan polonia, kecamatan medan maimun, kecamatan medan timur, kecamatan medan perjuangan, kecamatan medan belawan, kecamatan medan labuhan, kecamatan medan marelan, kecamatan medan deli, kecamatan medan sunggal, kecamatan medan helvetia, kecaatan medan denai, kecamatan

medan tembung, kecamatan medan johor, kecamatan medan amplas, kecamatan medan selayang, kecamatan medan tuntungan.

F. Ketentuan Bagi Pejabat

a. Pejabat pembuat akta tanah/notaries hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan bangunansetelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa SSPD (Surat Setoran Pajak Daerah).

b. Kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara hanya dapat menandatangani risalah lelang Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunanb setelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa SSPD.

c. Kepala kantor bidang pertanahan hanya dapat melakukan pendaftaran hak atas tanah atau Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah setelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa SSPD.

d. Kepala kantor bidang pertanahan yang melanggar ketentuan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

G. Keberatan Dan Banding a. keberatan

1. Wajib pajak hanya dapat mengajukan keberatan hanya kepada walikota atau pejabat yang ditunjuk atas suatu :

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar.

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan.

c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar.

d. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil; dan

e. Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

2. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai alasan-alasan yang jelas.

3. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat,tanggal pemotongan atau pemungutan, kecuali jika wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaanya.

4. Keberatan dapat diajukan apabila wajib pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui wajib pajak.

5. Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat keberatan sehingga tidak pertimbangkan.

6. Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan.

7. Kepala daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua Belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima, harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

8. Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian,menolak atau menambah besarnya pajak yang terutang.

9. Apabila jangka waktu sebagaimana telah lewat dan kepala daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

b. Banding

1.Wajib pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada pengadilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.

2. Permohonan banding sebagaimana dimaksud diajukan secara tertulis dalam bahasa indonesia, dengan alasan jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dengan melampirkan salinan surat keputusan keberatan tersebut.

3. Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan putusan banding.

4. Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 24 (dua Puluh empat) bulan.

5. Imblan bunga sebagaimana dimaksud dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar.

6. Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

7. Dalam hal wajib pajak mengajukan permohonan banding, sanksi administratif berupa denda 50% (lima Puluh persen) sebagaimana dimaksud tidak dikenakan.

8. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan putusan banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

H. Kantor Terkait/Instansi yang Terkait Dalam Pelaksanaan Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB).

a. Kantor Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah setempat sebagai dasar pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

b. Bank Persepsi sebagai tempat pembayaran pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

c. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sebagai tempat penandatanganan pemindahan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

d. Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai pihak yang melakukan Pendaftaran hak atas tanah atau Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah.

I. Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan Ketetapan, Dan Penghapusan Atau Pengurangan Sanksi Administratif

1. Atas permohonan wajib pajak atau karena jabatannya, kepala daerah dapat membetulkan SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD, SKPDN, atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat salah hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentudalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

2. Walikota dapat :

a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan

perundang-undangan perpajakan daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;

b. Mengurangkan atau membatalkan SKPDKB, SKPDKBT, atau SKPDLB yang tidak benar;

c. Mengurangkan atau membatalkan STPD;

d. Membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan;

e. Mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak terutang dalam hal obyek pajak terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa; dan f. Mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasrkan pertimbangkan kemampuan membayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak;

g. Mengurangi nilai jual objek pajak minimal Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) setelah mendapat pertimbangan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud diatur dengan peraturan kepala daerah.

Bab IV PEMBAHASAN

A. Penerimaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Di Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan.

Bea Perolehan Hak Atas tanah Dan Bangunan sebagai salah satu penerimaan dalam Pendapatan Asli Daerah Kota Medan memberikan kontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kota medan untuk dapat melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Wilayah kerja Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan terdiri atas kecamatan medan kota, kecamatan medan area, kecamatan medan barat, kecamatan medan petisah, kecamatan medan baru, kecamatan medan polonia, kecamatan medan maimun, kecamatan medan timur, kecamatan medan perjuangan, kecamatan medan belawan, kecamatan medan labuhan, kecamatan medan marelan, kecamatan medan deli, kecamatan medan sunggal, kecamatan medan helvetia, kecamatan medan denai, kecamatan medan tembung, kecamatan medan johor, kecamatan medan amplas, kecamatan medan selayang, kecamatan medan tuntungan.

Berikut tabel mengeni target dan realisasi Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi daerah Kota Medan

Tabel 4.1

Target dan Realisasi Penerimaan Bea Perolehan Hak Atas tanah Dan Bangunan Tahun Anggaran 2014 S/D 2016

Tahun Target Realisasi Persentase %

2014 330,000,000,000.00 228,392,967,245.00 69,21 % 2015 335,974,000,000.00 201,806,504.023,00 60,07 % 2016 336.974,000,000.00 265,691,151,674.00 78,85 % Sumber : Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan T.A 2014-2016

Berdasarkan tabel di atas dapat dianalisa bahwa target yang ditetapkan pada tahun 2014 sebesar Rp.330,000,000,000.00 namun yang dapat terealisasi hanya 69,21 % atau sebesar Rp.228,392,967,245.00. pada tahun 2015 target yang ditetapkan sebesar 335,974,000,000.00 namun yang dapat terealisasi hanya Rp.201,806,504,023.00 atau sebesar 60,07% dari target yang ditetapkan. Pada tahun 2016 target yang ditetapkan sebesar 336,974,000,000.00 namun yang dapat terealisasi hanya Rp.265,691,151,674.00 atau sebesar 78,85%.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penerimaan dari sektor pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan dari tahun 2014 sampai dengan 2016 tidak ada yang mencapai target. Perolehan tertinggi diterima pada tahun 2016 yaitu Rp265,691,151,674.00 atau sebesar 78,85% dari target yang ditetapkan.

B. Faktor Penghambat Dan Pendukung Penerimaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

1. Faktor Penghambat

a. Pengetahuan masyarakat yang masih kurang tentang adanya Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan sehingga partisipasinya masih rendah.

b. Wajib Pajak tidak mencantumkan nilai transaksi yang sebenarnya terkait perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban pajak yang seharusnya terutang.

c. Wajib pajak atau pembeli kurang memahami aturan tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

d. Tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah serta tingginya uang muka rumah menyebabkan terhambatnya bisnis properti di kota medan.

2. Faktor Pendukung

a. terjalinnya hubungan yang baik antara pemerintah kota medan dengan para pejabat pembuat akte tanah (PPAT) dan notaris yang ada di kota medan serta Badan Pertanahan, Badan Lelang Negara dan Bank Sumut sebagai mitra Pemerintah Kota medan.

b. Perbaikan pelayanan yang selalu dibenahi oleh Pemerintah Kota medan.

c. Terlaksananya fungsi organisasi dan manajemen yang baik dalam melaksanakan tugas .

d. Peningkatan kualitas pegawai dalam bekerja secara professional.

C. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Oleh Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan Untuk Mengoptimalkan Penerimaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB).

a. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkat kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

b. Melakukan verifikasi baik administrasi maupun verifikasi lapangan . c. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkonsultasi atau

bertanya kepada Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan sepeti melalui website, sosial media apabila masyarakat kurang memahami aturan tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan.

d. melakukan kerjasama dengan mitra Pemerintah Kota Medan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penyajian yang disampaikan oleh penulis dalam penulisan laporan tugas akhir ini maka penulis mengambil beberapa kesimpulan mengenai Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan. Beberapa kesimpulan tersebut ialah :

1. Prosedur pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan dipungut pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan yang diatur dalam Peraturan daerah Kota Medan Nomor 1 Tahun 2011.

2. Penerimaan pajak dari sektor Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 tidak ada yang mencapai target. Penerimaan tertinggi diperoleh pada tahun 2016.

3. Kendala dalam pelaksanaan Bea Perolehan Hak atas Tanah Dan Bangunan lebih dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat dalam Membayar pajak BPHTB.

4. Pemerintah daerah telah berupaya untuk mengoptimalkan penerimaan dari sektor Bea Perolehan Hak Atas tanah dan Bangunan Hal dapat dilihat dari sinergisitas antara pemerintah daerah dengan mitra pemerintah.

B. Saran

Dari kesimpulan yang dibuat penulis maka penulis dapat memberikan bebeapa saran yaitu :

1. Pemerintah sebaiknya lebih intensif lagi melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat megenai pajak daerah.

2. Pemerintah daerah tetap menjaga hubungan baik dan tetap melakukan sinergisitas dengan mitra-mitra pemerintah daerah.

3. Pemerintah daerah sebaiknya lebih tegas lagi dalam penerapan sanksi kepada waijib pajak yang tidak kooperatif dengan pemerintah.

4. Pemerintah daerah sebaiknya selalu memperbaiki kualitas pelayanan untuk memberikan kenyamanan bagi wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul, Icuk Rangga Bawono, Amin Dara. 2014. Perpajakan: Konsep Aplikasi, Contoh, Dan Studi Kasus. Jakarta: Salemba Empat

Siahaan, Marihot P. 2010. Pajak daerah dan retribusi daerah. Teori dan praktik.

Jakarta: Rajawali Pers

Supriyanto, Heru. 2008. Cara Menghitung PBB, BPHTB, Dan Bea Meterai.

Jakarta: PT INDEKS

Undang-undang No. 16 tahun 2009 tentangKetentuanUmumdan Tata Cara Perpajakan

Undang-undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah danRetribusi Daerah

Peraturan Daerah Kota Medan No.1 tahun 2011 tentang Bea PerolehanHakAtas Tanah Dan Bangunan

Dokumen terkait