BAB IV: TINJAUAN YURIDIS HAK DAN BAGIAN ANAK LAKI-
C. Dasar Pertimbangan Hakim Memutuskan Bagian Masing-
Semula para ahli waris belum pernah sama sekali mengadakan pembagian harta warisan, sekalipun telah terbuka waris untuk pertama kali dengan meninggalnya H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut dikarenakan :
1. Pada awalnya semua ahli waris sepakat untuk tidak dibagikan harta warisan tersebut dengan segera. Karena mereka menganggap bahwa pada saat Hj. Hotni Harahap masih hidup masalah tidak ada. Kenyataannya begitu Hj. Hotni Harahap meninggal dunia, malah muncul masalah yang tidak diperkirakan sebelumnya di antara para ahli waris;
2. Para ahli waris sepakat pada saat itu semua hasil usaha yang diperoleh atau yang bersumber dari seluruh harta warisan yang ada diperuntukkan untuk Hj. Hotni Harahap karena dia masih hidup sebagai penghargaan baginya;
3. Para ahli waris merasa kurang etis jikalau harta tersebut dibagikan ketika ibu kandung mereka masih hidup;
4. Pada saat itu hubungan kekeluargaan di antara semua ahli waris masih kompak dan saling menghargai satu dengan lainnya;
5. Manajemen pengelolaan seluruh harta warisan pada saat itu langsung dikelola oleh ibu kandung mereka.
Kenyataan yang terjadi bahwa kesepakatan untuk membagi harta warisan dari keluarga Efendi Martua Siregar Bin Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar Cs dilakukan setelah kedua orangtua mereka meninggal dunia. Ketika ayah mereka meninggal dunia kenyataannya harta warisan peninggalannya belum
dibagikan kepada seluruh ahli waris. Malah ibu mereka justru memberikan hibah kepada beberapa orang ahli waris.
Padahal dalam kajian hukum Islam seorang ahli waris (ibu mereka) tidak diperkenankan untuk menghibahkan harta warisan dari suaminya kecuali bagiannya sendiri. Kenyataan yang terjadi bahwa ibu mereka tersebut menghibahkan sebagian harta warisan peninggalan suaminya. Sesungguhnya ibu mereka membagikan warisan harta peninggalan suaminya terlebih dahulu kepada seluruh anak-anak yang ditinggalkannya. Setelah seluruh ahli waris mendapatkan bagian masing-masing, baru para ahli waris berhak menjual, mewasiatkan, atau menghibahkan bagian mereka masing-masing. Jika hal ini dilakukan oleh ibu mereka, maka tidak akan ada masalah pertentangan di antara ahli waris tentang hibah yang dilakukan oleh ibu mereka.
Setelah dilakukan penelitian secara mendalam melalui observasi, wawancara, diskusi mendalam dan telaah pustaka yang berkaitan dengan Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi dalam perkara gugatan waris No. 102/Pdt-G/2007/PA-TTD, maka dapat diambil beberapa dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan jumlah bagian masing-masing ahli waris dan juga dasar pertimbangan hakim dalam menentukan pelaksanaan pembagian warisan dalam dua tahap.
Adapun dasar pertimbangan hakim adalah sebagai berikut :
1. Pembagian harta peninggalan alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar adalah berbeda ahli warisnya dibandingkan dengan para ahli waris
peninggalan almh. Hj. Hotni Harahap. Letak perbedaannya adalah dalam pembagian harta alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar, ahli warisnya adalah keseluruhan anak (Efdi Martua Siregar, Hj. Novidawaty Longgom Sari Siregar, Yanti Handayani Siregar, Sufiyanti Surya Ningsih, Lenny Waty Wahyuni Siregar) ditambah seorang istri. Sedangkan ahli waris dari harta peninggalan almh. Hj. Hotni Harahap adalah hanya keseluruhan anaknya saja.
2. Dalam membagikan harta peninggalan alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar terdapat di dalamnya hibah sebanyak 1/3 dari tanah seluas 4419 m2 yang di atasnya terdapat bangun sekolah Yayasan Muslim Persada. Sedangkan dalam harta peninggalan almh. Hj. Hotni Harahap sudah tidak terdapat lagi hibah. Akibat adanya perbedaan mendasar dari harta peninggalan antara alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar dan almh. Hj. Hotni Harahap, yakni pada harta peninggalan alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar terdapat di dalamnya hibah, sedangkan dalam harta peninggalan almh. Hj. Hotni Harahap tidak ada lagi hibah yang harus dikeluarkan. Oleh karenanya wajar sekali hakim Pengadilan Agama Tebing Tinggi tidak melakukan pembagian warisan dalam 1 tahap, melainkan dilakukan pembagian warisan dalam 2 tahap dikarenakan oleh adanya perbedaan harta warisan di kedua belah pihak. Khusus untuk ahli waris terhadap harta peninggalan almh. Hj. Hotni Harahap adalah hanya di kalangan anak-anaknya saja, yakni 1 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan. Dengan begitu
berlakulah ketentuan dalam Al-Qur’an dalam Surat An-nisa ayat 11 yang artinya :
Allah mensyariatkan bagian tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Ketentuan Al-Qur’an yang disebutkan tersebut telah dituangkan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 176.
Hal ini menandakan bahwa mereka keseluruhan sebagai Ashabah yang menghabisi seluruh harta peninggalan kepada mereka dikarenakan adanya anak laki-laki. Jika seandainya tidak ada anak laki-laki maka tidak ada
Ashabah yang berarti membuka peluang kepada ahli waris lain untuk ikut
memperoleh bagian warisannya. Untuk anak laki-laki merupakan Ashabah
binafsih karena dirinya sebagai anak laki-laki. Sedangkan 4 orang anak
perempuan tersebut berkedudukan sebagai Ashabah bilghair karena mereka bersama seorang anak laki-laki.
3. Karena terjadi perbedaan masa meninggalnya pewaris, maka sepatutnya dilakukan pembagian warisan secara terpisah, sehingga terjadi kejelasan antara harta warisan orang yang meninggal pertama dengan orang yang meninggal yang kedua. Dalam hal ini alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar meninggal pada tanggal 5 Juni 1998 sedangkan almh. Hj. Hotni Harahap pada tanggal 25 November 2005. Dalam hukum waris Islam menerangkan bahwa jikalau seseorang telah meninggal dunia, maka perlu disegerakan beberapa hal berikut ini :
a. Memandikannya b. Mengkafaninya c. Menshalatkannya d. Menguburkannya
e. Membagikan harta peninggalannya ( harta warisannya ) setelah dibayarkan seluruh hutang-hutangnya, wasiatnya dan hibahnya.
Kenyatannya para ahli waris tidak menyegerakan atau membagikan harta warisan alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar pada saat meninggalnya. Bahkan hartanya baru dibagikan pada saat istrinya telah meninggal dunia. Itupun dikarenakan adanya perselisihan di antara beberapa ahli waris yang ditandai dengan adanya gugatan waris dari beberapa ahli waris kepada Pengadilan Agama Tebing Timggi. Andaikan pembagian warisan dilakukan dengan segera pada saat meninggalnya atau beberapa saat/beberapa bulan setelah meninggalnya, niscaya masalah pembagian warisan tersebut bisa dilakukan dengan adil tanpa menimbulkan masalah sebagaimana yang terjadi dalam gugatan waris di atas.
4. Harta yang dihibahkan kepada Yayasan Muslim Persada tersebut merupakan hibah yang langsung dikelola oleh beberapa ahli waris dan bersifat produktif yang menghasilkan uang secara terus menerus, sehingga perlu dilakukan pembagian warisan dalam tahap tersendiri yang tidak bisa digabungkan dengan pembagian harta lainnya. Andaikan harta hibah tersebut diserahkan
pengelolaannya kepada orang lain, maka sangat dimungkinkan untuk melakukan pembagian warisan sekaligus tanpa harus menggunakan 2 tahap.
Berdasarkan paparan di atas terlihat secara jelas ada 4 alasan pertimbangan logis dari para hakim Pengadilan Agama Tebing Tinggi dalam membagikan harta warisan kepada seluruh ahli waris dalam 2 tahap. Sesungguhnya dalam kasus ini, juga dimungkinkan pembagian warisan dalam 1 tahap saja, namun akan ada kejanggalan atau kesulitan dalam membagikannya dikarenakan oleh adanya percampuran 2 harta warisan orang yang berbeda dan masa yang meninggal yang berbeda.
Selain itu terjadi perbedaan ahli waris pada setiap pewaris. Dan juga kasus harta warisan yang ditinggalkan juga berbeda, di mana pada harta peninggalan alm. Drs. H. Gusnar Efendi Sutan Dilaut Siregar terdapat di dalamnya hibah, sedangkan dalam peninggalan harta warisan almh. Hj. Hotni Harahap tidak ditemukan hibah dan murni sebagai harta warisan biasa yang menjadi hak seluruh hak ahli waris.
D. Dasar Pertimbangan Hakim Tentang Pelaksanaan Hibah yang