lin ) dan DAUN KATUK ( Saoropus androgenus (L.) Merr ”
D. Dasar Teor
Secara umum kandungan metabolit sekunder dalam bahan alam hayati dikelompokkan berdasarkan sifat dan reaksi khas suatu metabolit sekunder dengan pereaksi tertentu. Atas dasar ini kandungan metabolit sekunder dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Alkaloid : sekelompok senyawa yang mengandung nitrogen dalam bentuk gugus fungsi amin.
2. Triterpenoid : sekelompok turunan asam mevalonat
3. Flavonoid : sekelompok senyawa fenil propanoid dengan kerangka karbon C6- C3-C6
4. Fenolik : kelompok senyawa aromatik dengan gugus fungsi hidroksil 5. Saponin : kelompok senyawa dalam bentuk glikosida terpenoid
6. Kumarin : kelompok senyawa fenil propanoid dengan kerangka dasar C6-C3 7. Zat warna kuinon : senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon-karbon (Croteau, 1983)
a. Alkaloid
Pada waktu yang lampau sebagian besar sumber adalah pada tanaman berbunga, angiosperma. Pada tahun berikutnya penemuan sejumlah besar alkaloid terdapat pada hewan, serangga, organisme laut, mikroorganisme dan tanaman rendah. Beberapa contoh yang terdapat pada berbagai sumber adalah isolasi muskopiridin (l) dari sebangsa rusa; kastoramin (2) dari sejenis musang kanada;
turunan pirrol (3), feromon seks serangga; saksitoksin (4), neurotoksik konstituen dari Ganyaulax Catehella (Sastrohamidjojo, 1995).
b. Triterpenoid
Karena triterpenoid C25 sangat jarang terdapat dalam tumbuhan tinggi, meskipun memang ada, ada kerumitan yang sangat meningkat jika memperhatikan senyawa mulai dari diterpenoid C30. Triterpenoid tersebar luas dalam damar, gabus dan kutin tumbuhan. Apa yang disebut asam damar adalah asam triterpenoid yang sering bersama-sama dengan Gom polisakarida dalam damar Gom (Robinson, 1995).
c. Saponin
Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun (bahasa Latin saponin berarti sabun). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba juga (Robinson, 1995). d. Flavanoid
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene tersubstitusi) disambung oleh rantai alifatik tiga karbon.
Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi dan karena itu menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum UV dan spektrum tampak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang mana pun mungkin saja terdapat dalam satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida (Croteau, 1983)
e. Kumarin
Kumarin terdistribusi secara luas dalam tanaman, terutama pada family umbelli feral dan rutaceae. Senyawa tersebut adalah lakton yang terbuka bila direaksikan dengan basa menjadi asam cis sinamat, akan menyebabkan terjadinya isomerisasi cis-trans. Suatu kenyataan bahwa kumarin di turunkan dari asam
75
sinamat melalui asam cis sinamat. Kebanyakkan kumarin terhidroksi pada atom C7.
f. Pigmen Kuinon
Warna pigmen kuinon alam beragam, mulai dari kuning pucat sampai hampir hitam dan strukturnya sangat beragam. Kuinon adlaah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon ( Lehninger, 1991).
Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining fitokimia dilakukan denagan melihat reaksi pengujian warna dengan mengguakan suatu peraksi warna. Hal penting yang berperan pnting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (Kistianti dkk., 2008).
Senyawa metabolit adalah senyawa yang digolongkan berdasarkan biogenesisnya, artinya berdasarkan sumber bahan baku dan jalur biosintesisnya. Terdapat dua jenis metabolit yaitu metabolit primer dan sekunder. Metabolit primer (polisakarida, protein, lemak dan asam nukleat) merupakan penyusun utama makhluk hidup, sedangkan metabolit sekunder meski tidak sangat penting bagi eksistensi suatu makhluk hidup tetapi sering berperan menghadapi spesies-spesies lain. Misalnya zat kimia untuk pertahanan, penarik seks , feromon (Manitto, 1981).
E. TABEL PENGAMATAN
No Pengamatan Perlakuan
1. Uji Alkoloid
Digerus sampel dalam lumpang
Dimasukkan dalam tabung
Sampel berwarna hijau
reaksi
Ditambahkan masing-masing CHCl3 dan NH4 hingga sampel terendam
Diambil filtrat lalu dimasukkan kedalam tabung lain
Ditambahkan 2-8 tetes H2SO4 2 N, dikocok
Diambil fase atas, lalu ditambahkan dengan 1-5 tets dragendorff
Diamati
Ekstrak daun sirsak berwarna hijau dan ekstrak daun katuk coklat
Terbentuk 2 fase, fase atas berwarna kuning dan fase bawah berwarna hijau
Terdapat banyak endapan berwarna jingga dimana positif terdapat alkaloid
2 Uji Steroid dan Triterpenoid
Digerus daun katuk dalam lumpang
Dimasukkan dalam tabung reaksi
Ditambahkan masing-masing 1 pipet CHCl3
Diambil filtrat lalu dimasukkan kedalam tabung lain
Ditambahkan 5-10 tetes Ac2O
Ditambahkan 2 tetes larutan H2SO4(p)
diamati
sampel berwarna hijau
Larutan berwarna hijau
Filtrat berwarna hijau kecoklatan
Larutan berubah menjadi kuning
77
Terbentuk 2 fase, dimana fase bawah berwarna kuning dan fase atas berwarna hijau. Dimana positif Steroid dan negatif Triterpenoid
3 Uji Flavonoid
Dipotong kecil-kecil daun katuk dan daun sirsak lalu dimasukkan kedalam beaker glass
Ditambahkan aquades hingga sampel terendam lalu dipanaskan
Ditambah 10 tetes HCl(p)
Ditambah serbuk Mg
Diamati
Sampel berwarna hijau
Warna air rebusan hijau pudar
Larutan HCl(p) bening
Serbuk Mg silver
Terdapat gelembung dan sebentar, larutan tetap bening, dimana negatif flavonoid
4 Uji Saponin
Dipotong kecil-kecil daun sirsak dan daun katuk
Ditambahkan aquades hingga seluruh sampel terndam lalu
Sampel berwarna hijau
panaskan
Diambil 1 pipet air rebusan
Dikocok air rebusan selama 15 menit hingga terbentuk busa
Ditambahkan 1-4 tetes HCl(p)
Diamati
Terbentuk busa
Busa menjadi hilang, lerutan menjadi bening
Menandakan negatif saponin 5 Uji Fenolik
Dipotong kecil-kecil daun sirsak
Ditambahkan aquades hingga seluruh sampel terendam lalu dipanaskan
Diambil 1 pipet air rebusan
Ditambahkan 3 tetes FeCl3
Diamati
Daun berwarna hijau
Warna air rebusan hijau muda
Larutan FeCl3 kuning
Warna larutan berubah menjadi kuning kecoklatan dimana positif Fenolik
6 Uji Kuinon
Digerus sampel dalam lumpang
Dimasukkan ekstrak sampel
79
kedalam tabung reaksi
Ditambahkan etil eter samapi menutupi sampel
Diambil filtrate, lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi lain
Ditambah 3 tetes NaOH
Ditambahkan HCl 2 N 3-6 tetes
diamati
Dietil eter bening dan filtrat berwarna hijau
Filtrat berwarna hijau terang
Larutan NaOH bening, saat ditambahkan NaOH berubah warna menjadi hijau marjan
Larutan HCl 2 N bening
Warna filtrat kembali menjadi hijau terang (warna semula) menandakan positif Kuinon
F. PEMBAHASAN
Percobaan skrining fitokimia kali ini digunakan sampel daun katuk dan daun sirsak untuk menguji adanya kandungan Alkoloid, Steroid, Triterpenoid, Fenolik, Kuinon, dan Saponin. Penggunaan kedua sampel tersebut bukan karena tanpa alasan, melainkan pada tahun 2010, Dyahuri dan Wiranda melakukan uji toksisitas dan skrining fitokimia terjadap daun katuk dan hasilnya menunjukkan positif terdapat Saponin, Fenolik, dan Flavonoid. Dan pada tahun 2012 Risma, Yesi dan Kunthi melakukan Skrining Fitokimia terhadap daun sirsak dan hasil yang didapat menunjukkan positif terdapat Alkoloid, Flavonoid, Kuinon dan Steroid. Hal inilah yang mendasari pemilihan sampel tersebut dimana digunakan sebagai acuan praktikum Skrining Fitokimia tersebut ini.
Pada uji yang pertama yaitu uji alkaloid, pertama-tama digerus sampel daun sirsak dan daun katuk yang berperan sebagai sampel yang mengandung senyawa alkaloid, dan tujuan dari penggerusan sampel adalah untuk kemudian mengambil
ekstraknya dan memasukkannya ke daam tabung reaksi, di mana penggerusan dilakukan di dalam lumping yang berguna sebagai wadah penggerusan dengan menggunakan alu untuk menggerus sampel. Lalu dimasukkan sampel ke dalam tabug reaksi yang berfungsi sebagai wadah pereaksian bagi sampel yang berwarna hijau dan telah halus. Kemudian ditambahkan masing-masing kloroform dan amoniak hingga sampel terendam, dan warna dari kloroform dan amoniak adalah bening. Fungsi dari amoniak sendiri selain sebagai pelarut ia juga berguna untuk menarik alkaloid yang bersifat basa dan masih dalam bentuk garam pada tumbuhan, dikatakan basa dikarenakan alkaloid memilki gugus atatu atom nitrogen yang bersifat basa yang kemudian ditarik oleh amoniak (NH4) yang juga bersifat basa, sehingga ia tertarik keluar dari tumbuhan tersebut. Lalu ditambahkan kloroform yang bersifat non polar, dan berguna untuk menghilangkan zat-zat non polar seperti lipid, minyak dan lain-lain dari alkaloid, dikarenakan kita tidak mengetahui apakah alkaloid yang kita dapatkan sebelumnya adalah murni alkaloid atau masih ada zat-zat yang lain sesudah itu didapatlah warna elstrak daun sirsak adalah hijau dan ektrak daun katuk adalah coklat. Lalu diambil filtratnya dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain agar benar-benar yang kita reaksikan selanjutnya adalah murni larutan ekstraknya tanpa ada zat-zat pengotor yang lain. Lalu ditambahkan H2SO4(p) 2N sebanyak 2-8 tetes dan dikocok, fungsi dari H2SO4(p) di sini ialah untuk membuat alkaloid kembali menjadai garam seperti semula dikarenakan H2SO4(p) yang bersifat asam dan alkaloid yang bersifat basa. Lalu didiamkan hingga terbentuk dua fase dan didapatlah fase atas kuning kecoklatan yang merupakan fase dari alkaloid dan fase bawah hijau yang merupakan fase dari kloroform, hal ini dikarenakan massa jenis alkaloid. Kemudian diambil fase atas, dan ditambahkan pereaksi Dragendorff 1-5 tetes dan didapat reaksi sebagai berikut:
81 Bi(NO3)3 + 3 KI BiI3 + KI BiI3 + 3KNO3 coklat K[BiI4] kalium tetraidobismutat kalium alkaloid endapan N + K[BiI4] N K+ + [BiI4] orange
Alkaloid yang merupakan suatu senyawa yang memiliki suatu atom nitrogen direaksikan dengan pereaksi Dragendorff yang memiliki atom K+ yang bersifat elektrofil. Jadi atom nitrogen yang bersifat nukleofil karena memiliki lone pair elektron yang mengikat atom K+ membentuk ikatan kovalen koordinasi yang menghasilkan endapan oranye, yang menandakan positif alkaloid.
Pada uji steroid dan triterpenoid,awalnya digerus daun katuk dalam lumpang, di mana daun katuk berfungsi sebagai sampel yang mengandung senyawa steroid atau triterpenoid, setelah itu didapatkan sampel ynag telah halus dan berwarna hijau. Lalu sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setelah itu ditambahkan masing-masing 1 pipet kloroform sampai sampel terendam, di mana warna awal kloroform bening. Dan kloroform berguna untuk membersihkan senyawa steroid dan triterpenoid dari senyawa non polar seperti lipid dan lain-lain karena sifat mereka yang sama-sama non polar. Lalu diambil filtrat dan dimasukkan ke tabunglain, dan didapat filtrate ekstrak daun katuk berwarna hijau kecoklatan. Lalu ditambahkan 5-10 tetes asam asetat glasial di mana asam asetat glasial berwarna bening dan saat penambahan warnanya menjadi kuning. Lalu ditambahkan 2 tetes H2SO4(p) di mana warna dari H2SO4(p) adalah bening dan fungsi dari Ac2O dan H2SO4(p) di sini ialah sebagai pereaksi Liebermann seperti pada reaksi berikut ini
HO
+ AC2O + H2SO4
cholesterol
HO
+ AC2O(SO4)
carbonium ion of 3,5 diene (cholestadiene)
blue-green colour
SO2 + HOO2S
Di mana hasil yang kita dapatkan dari penambahan pereaksi Liebermann sendiri adalah terbentuk 2 fase yaitu fase atas hijau dan fase bawah kuning di mana menandakan positif adanya steroid dan negative triterpenoid dari sampel daun katuk. Jika pada suatu tanaman memiliki kedua metabolit sekunder steroid dan triterpenoid, maka larutan tersebut akan berwarna hijau terlebih dahulu yang
83
menandakan positif steroid lalu akan berubah menjadi warna merah/ungu yang menandakan positif triterpenoid setelah beberapa waktu.
Pada uji ketiga yaitu kandungan Flavonoid, dimana daun sirsak dan daun katuk masing-masing dipotong kecil-kecil agar mudah dalam proses perebusan, karena memperbesar luas permukaan apabila semakin kecil ukuran partikel maka yang menyebabkan proses pengekstrakan berlangsung baik. Lalu dimasukkan kedalam beaker glass dan diisi aquades hingga terendam. Lalu dipanaskan dengan hot plate. Lalu diambil air rebusan kedua larutan tersebut berwarna hujau pudar. Lalu air rebusan tersebut ditambahkan dengan HCl(p) berfungsi untuk menghidrolisis Flavonoid untuk membentuk garam Flavillium sebanyak 10 tetes, lalu ditambahkan dengan serbuk Mg, yang terjadi hanya terbentuk gelembung dan busa, warna larutan juga tetap bening. Hal ini menunjukkan sampel yang diuji tidak mengandung senyawa Flavoniod. Karena, menurut teori setelah penambahan HCl(p) dan Mg warna larutan tersebut akan berubah menjadi warna merah tua karena terbentuknya garan Flavillium saat penambahan Mg terbentuk gelembung. Dimana terjadi proses redoks, Flavonoid mengalami reduksi dan Mg mengalami oksidasi menjadi Mg2+ membentuk senyawa kompleks. Penetuan Flavonoid dengan cara ini mengikuti metode Willstarter Cyanidin. Flavonoid juga merupakan turunan senyawa Fenolik. Berikut adalah reaksi Flavonoid:
O OH OH OH O OH O OH OH OH O OH + Cl- HCl O+ OH OH OH OH OH O+ OH OH OH OH OH + Cl- HCl
Pada percobaan selanjutnya yaitu saponin, langkah pertama daun katuk dan daun sirsak dipotong kecil-kecil dengan menggunakan pisau. Lalu dimasukkan kedalam beaker glass dan diberi aquades hingga terendam. Lalu dipanaskan. Air rebusan yang berwarna hijau muda ini diambil dengan pipet tetes lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu dilakukan pengocokan ±15 menit. Setelah dilakukan pengocokan, Nampak muncul busa dari permukaan. Namun, setelah penambahan HCl(p) sebanyak 4 tetes busa tersebut menghilang, yang menandakan tidak ada kandungan saponin didalamnya. Hal ini bisa saja dikarenakan faktor kesaahan dalam melakukan pengocokan yang tidak stabil. Uji saponin ini berdasarkan metode Forth, dimana kemampuan saponin menghidrolisis dalam air. Didalam saponin sendiri terdapat gugus hidrofilik dimana nantinya gugus ini akan mengikat air, didalam gugus ini juga terdapat glikosida untuk menghidrolisis air. Di lain pihak, juga terdapat gugus hydrophobik yang mengikat udara. Karenanya adanya 2 gugus inilah yang menyebabkan terbentuknya busa saat dikocok. Penambahan HCl(p) sendiri bertujuan untuk mengikatkan kepolaran dari air itu
85
sendiri. Agar terbentuknya gelembung lebih lama dan mudah untuk diamati. Berikut adalah reaksi pembentukan busa pada uji saponin:
O CH2 OH OH HO CO O O CH2 OH OH HO CO2H + H2O
Pada percobaan selanjutnya, yaitu uji fenolik digunakan daun sirsak yang dipotong kecil-kecil lalu dimasukkan dalam beaker glass dan direndam dengan aquades hingga terendam. Digunakan hot plate untuk memanaskan sampel tersebut. Setelah diambil air rebusan yang berwarna hijau bening tersebut dan ditambahkan dengan FeCl3. Dimana setelah penambahan warna larutan berubah menjadi coklat, FeCl3 yang ditambahkan tersebut akan membentuk senyawa kompleks dengan adanya ion fenoksi yang ditandai dengan perubahan warna menjadi biru, ungu, hijau hingga kehitaman tergantung subtituennya. Hal ini menandakan bahwa sampel tersebut positif mengandung fenolik. Walaupun perubahan warnanya tak menjadi biru, ungu, dan hijau. Namun, telah disepakati apabila terjadi perubahan maka positif terdapat adanya fenolik. Berikut adalah reaksi terhadap uji fenolik:
FeCl3 + 3 O HO OH OH OH Tanin Fe O O O O O O O O OH HO OH OH HO Hijau kebiruan
Pada percobaan selanjutnya, yaitu uji kuinon menggunakan daun katuk yang digerus dengan menggunakan lumpang dan alu. Maka didapatkan ekstrak daun katuk yang lebih halus. Lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi lain dan di tambahkan dengan dietil eter hingga ekstrak sampel tersebut terendam. Digunakan dietil eter untuk menarik kuinon dalam sampel tersebut. Setelah itu diambil filtrat dari ekstrak daun katuk tersebut. Setelah itu ditambahkan NaOH 5% sebanyak 3 tetes, maka terbentuklah warna hijau marjan, penambahan NaOH untuk memberikan perubahan warna, karena untuk uji kuinon merupakan uji berdasarkan warna (klomofor). Yang mana warna sebelumnya adalah hijau terang. Setelah itu ditambahkan dengan HCl 2 N 3-6 tetes. Dan warna larutan yang hijau
87
marjan sebelumnya menjadi hijau terang (terbentuk perubahan warna kembali). Hal itu dikarenakan NaOH yang bereaksi dengan HCl membentuk reaksi netralisasi. Pada uji ini berdasarkan pengikatan warna (klomofor). Hal ini menunjukkan sampel tersebut positif terdapat kuinon. Berikut struktur kuinon:
O
O
kuinon
Pada sampel penelitian, sudah dimaserasi dengan etanol. Dalam hal pengujiannya, sampel penelitian berbeda dengan sampel kami, dimana pada sampel penelitian, untuk uji alkaloid sampel tersebut ditambahkan dengan kloroform-amoniak dan diambil fase atasnya, setelah itu direaksikan dengan pereaksi dragendorff. Sedangkan untuk steroid dan triterpenoid, sampel direaksikan dengan kloroform dan fase atasnya direaksikan dengan pereaksi Liebermen Buchard. Sama halnya dengan uji kuinon. Sampel ditambahkan dietil eter hingga terbentuk 2 fase dan fase atasnya direaksikan dengan pereaksinya. Lalu uji flavonoid, saponin dan fenolik, sampel langsung direaksikan menyesuaikan metode dan pereaksi yang digunakan inilah yang membedakan antara sampel penelitian dan sampel kami, dimana pada sampel kami untuk uji koloid, steroid, triterpenoid dan kuinon perlu ditambahkan pelarut untuk menarik ekstraksi dari sampel tersebut.
Terdapat faktor kesalahan dalam percobaan ini yaitu:
Pengocokan yang tidak stabil saat uji saponin sehingga tak terbentuk busa
Kurangnya dalam pengamatan warna sehingga hasilnya kurang akurat
Dalam sampel bebas, digunakan pucuk merah sebagai bahan dasar, yang mana pucuk merah tersebut yang kemarin kita gunakan adalah sampel maserasi. Sehingga didapatkan ekstrak pekat pucuk merah merah berwarna hijau dan setelah dilakukan uji Skrining Fitokimia. Diketahui bahwa sampel tersebut positif mengandung alkaloid, steroid, triterpenoid, flavonoid, kuinon dan
G. KESIMPULAN
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung alakaloid adalah terbentuknya endapan jingga
- Indikasi positif sampel ekstrak daun katuk mengandung fenolik adalah larutan berubah warna menjadi kuning kecoklatan
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung kuinon adalah warna larutan berubah kembali ke warna semula
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung steroid adalah larutan berubah warna menjadi hijau. Tetapi
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung triterpenoid adalah larutan berubah warna menjadi merah
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung saponin adalah terbentuknya gelembung setelah dikocok dan diberi HCl
- Indikasi positif sampel ekstrak daun sirsak mengandung flavanoid adalah larutan menjadi merah tua
DAFTAR PUSTAKA
Croteau, Ronald. 1983. Triterpenoid dalam Kromatografi Dasar dan Aplikasi edisi Kedua. Yogyakarta : Elsevier-press.
Kristianti, A.N, N.S. Aminah, M. Tanjung dan B.Kurniadi. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas Erlangga. P. 47-48.
Lehninger, Albert L. 1991. Dasar-Dasar Biokimia. Bandung: ITB Pres. Manitto. 1981. Biosintesis Produk Alami. Semarang: IKIP Semarang Press. Sastrohamidjojo, Hardjono. 1995. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Gadjah
89
LAMPIRAN
Flowsheet
Steroid
sampel daun sirsak digerus sampel
dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambahkan kloroform
ekstrak berwarna hijau diambil filtrat
ekstrak daun sirsak
dibuang
filtrat hijau kecoklatan
ditambahkan asam asetat glasial 10 tetes
larutan berwarna kuning
fase bawah
kuning fase atashijau
ditambahkan 2 tetes H2SO(P)
larutan berwarna hijau kebiruan
Trterpenoid
sampel daun katuk dan daun sirsak digerus sampel
dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambahkan kloroform
ekstrak larutan berwarna hijau diambil filtrat
residu ekstrak sampel
dibuang filtrat berwarna hijau kecoklatan ditambahkan 5 - 10 tetes larutan AC2O fase bawah
kuning fase atashijau
ditambahkan 2 tetes H2SO(P)
larutan berwarna merah, (+) triterpenoid
91
Alkaloid
sampel daun katuk dan daun sirsak digerus sampel
dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambahkan kloroform dan NH4 hingga ekstrak terendam ekstrak larutan berwarna hijau
diambil filtrat
residu ekstrak daun katuk dibuang filtrat berwarna hijau kecoklatan ditambahkan 5 - 10 tetes larutan AC2O fase bawah
kuning fase atashijau
ditambahkan 2 tetes H2SO(P)
larutan berwarna merah, endapan jingga (+) alkaloid disaring
Flavanoid
sampel daun katuk dan daun sirsak
dipotong kecil - kecil di masukkan dalam gelas kimia dan ditambahkan air
dipanaskan larutan berwarna hijau
ditambahkan serbuk Mg terdapat gelembung pada larutan
ditambahkan HCl(P) 10 tetes larutan berwarna merah tua
Saponin
sampel daun katuk dan daun sirsak
dipotong kecil-kecil, dimasukan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan aquades dipanaskan
larutan berwarna hijau
diambil 1 pipet air rebusan dikocok sampai 25 menit terdapat busa/buih
ditambahkan 1-4 tetes HCl(p) masih terdapat busa atau buih (-) saponin
Fenolik
sampel daun katuk
dipotong kecil-kecil, dimasukan kedalam gelas kimia dan ditambahkan aquades dipanaskan
larutan berwarna hijau
diambil 1 pipet air rebusan ditambahkan 3 tetes FeCl3 Larutan berwarna kebiruan (+)
93
kuinon
Sampel daun sirsak
digerus sampel
diambil ekstrak, lalu dimasukan ke dalam tabung reaksi ditambahkan etil eter sampai menutupi sampel
di saring
residu berwarna coklat dibuang
filtrat berwarna hijau
dimasukan dalam tabung reaksi ditambahkan 3 tetes NaOH Warna larutan hijau marjan
ditambahkan larutan HCl warna larutan menjadi hijau terang