Gambar 2.3 Gun blint rivet
2. Dasar Teori Kaca
Praktikum ke 8
Pokok/Sub Bahasan Memasang kaca‐mika
Waktu
Hari, Tanggal
Tempat
1. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini, diharapkan mahasiswa:
a. Dapat memasang kaca dengan baik dan benar;
b. Dapat memberikan toleransi terhadapa pemuaian kaca pada logam saat dipanaskan;
c. Mampu melakukan riveting pada penyanggah kaca;
d. Mampu memasang press kaca dan memotong kaca dengan baik;
e. Mengetahui karakteristik kaca
f. Mengetahui jenis‐jenis kaca beserta kegunaannya.
2. Dasar Teori Kaca
Berasal dari bahan yang bersifat cair namun memiliki kepadatan tinggi, dan struktur amorf. Atom‐atom didalamnya tidak membentuk suatu jalinan yang beraturan, seperti kristal, atau biasa disebut gelas. Kaca kebanyakan dibuat dari silika (SiO2), campuran batu pasir dengan fluks yang menghasilkan kekentalan dan tilik leleh yang tidak terlalu tinggi, untuk kemudian dicampur lagi dengan bahan stabilisator supaya kuat
Gambar 2.1 Kaca
Jenis kaca
a. Kaca bening (float glass), Kaca bening sering disebut juga dengan kaca polos, karena tidak berwarna, rata, dan bebas distorsi. Karenanya, kaca ini bisa menghasilkan bayangan sempurna sampai lebih dari 90%. Kaca jenis ini tidak dianjurkan untuk eksterior bangunan bertingkat karena rendahnya kemampuan
menahan panas dan sinar matahari. Ketebalan kaca bening terdiri atas 3 mm, 5 mm, 6 mm, dan 8 mm, 10 mm. Ketebalan ini dipilih sesuai dengan ukuran yang akan dibuat. Semakin besar ukurannya, maka sebaiknya menggunakan kaca yang tebal.
b. Kaca warna (tinted glass) Kaca ini sering disebut dengan kaca rayban. Untuk memberikan warna, kaca polos dilapisi dengan lembaran warna yang terbuat dari campuran logam. Kaca rayban mampu menahan panas dan sinar matahari sampai 55%, sehingga mengurangi beban pendingin ruangan dan menjaga privasi penghuninya. Untuk menambah tingkat kegelapannya, kaca rayban bisa dilapisi sampai beberapa kali. Kaca rayban tidak hanya berwarna hitam, tetapi juga warna biru gelap, biru kehijauan, abu‐abu gelap, tembaga, dan hijau gelap.
c. Kaca es adalah jenis kaca yang salah satu sisinya bertekstur. Tekstur ini dihasilkan saat adonan kaca mulai dicetak dengan roll yang memiliki pola tertentu. Kaca jenis ini memiliki efek dekoratif dan mengaburkan bayangan. Selain itu, berkat teksturnya kaca es juga mampu mengurangi sinar matahari yang diterima sehingga ruangan tidak silau. Belakangan, masyarakat lebih suka memasang stiker kaca es, daripada membeli kaca es yang asli. Stiker kaca es atau kaca film memang lebih murah, tapi memiliki manfaat yang sama baiknya. Kaca es lebih banyak digunakan untuk interior, misalnya sebagai partisi, pintu kamar mandi, pintu kabinet, dan shower box.
d. Kaca cermin (one way) atau kaca reflektif adalah kaca yang mengurangi sifat tembus pandang dari salah satu sisi. Kaca jenis ini juga biasa disebut dengan kaca one way, karena akan terlihat trasnparan di satu sisi, tetapi terlihat seperti cermin di sisi lainnya. Kaca cermin dibuat dengan tambahan lapisan oksida logam, melalui proses pyrolisis. Kaca ini sangat sesuai untuk Anda yang menginginkan privasi terjaga.
e. Kaca tempered memiliki kekuatan yang sangat tinggi, mencapai 3—5 kali liat dari kaca biasa. Kaca tempered mampu menahan beban angin, berat, dan tekanan yang lebih tinggi. Kaca ini dibuat dengan memanaskannya lalu didinginkan secara mendadak. Secara visual, tidak ada yang berbeda dari kaca ini, sehingga tampilannya tetap terjaga. Kaca tempered juga sangat aman saat pecah, karena pecahannya bulat dan tumpul. Jika Anda menginginkan pintu tanpa frame, railing, dan dinding dari kaca, sebaiknya menggunakan kaca tempered ini. Tetapi, Anda harus membeli kaca tempered dengan ukuran jadi. Karena kaca jenis ini tidak bisa diberi proses lebih lanjut yang akan mengurangi kualitasnya.
f. Kaca laminasi adalah jenis kaca yang sangat aman, karena diberi pelapis yang membuatnya sulit retak dan pecah. Kaca laminasi sangat sulit ditembus, karenanya kaca ini dulu banyak digunakan untuk alat transportasi umum, misalnya bis dan kereta api. Kaca laminasi dilapisi lembaran polofinil transparan
3. Alat
Alat yang digunakan adalah:
a. Bor tangan b. Mistar c. Jangka sorong d. Tembak rivet e. Gerinda potong f. Gunting baja g. Kayu
h. Chuck/ragum i. Palu karet/lunak
4. Bahan
Bahan yang digunakan adalah:
a. Baja ringan 2x3 b. Plat aluminium c. Paku rivet
d. Kaca/mika 3 mm dan 5 mm
5. Keselamatan Kerja
Segala Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) selama berada di laboratorium, adalah:
a. Kaca mata b. Baju PDH c. Sarung tangan d. Helm
e. Sepatu safety
6. Gambar Kerja
Adanya petunjuk gambar
Gambar 6.1 Kaca pintu
7. Langkah Kerja
Adapun langkah kerjanya sebagai berikut:
1. Membuat lubang pada plat aluminium;
2. Membuat pengunci pada tepi lubang, samping kanan‐kiri 3x dan atas‐bawah 2x;
3. Melakukan riveting pada penyangga:
4. Memasang kaca dengan hati‐hati dan perlahan;
5. Membuka penahan/penyangga, supaya kaca bisa masuk dan tertahan 6. Memasang balok penguat/pengunci untuk kaca
7. Supaya saat dibuka, kaca tidak lentur dan lepas. Maka diperlukan penguat segi empat yang dipasang di tepi kaca dengan toleransi/ kelonggaran muai kaca.
8. Selesai.
8. Pertanyaan
1. Kenapa harus ada toleransi pada penahan/penyangga kaca?
2. Apa yang perlu diperhatikan saat memasang kaca?
3. Terbuat dari apa bahan kaca?
4. Sebutkan karaketristik dari kaca? (Misal pada saat panas dan dingin, suhu cair, lebur)?
5. Bagaimana cara memotong kaca yang baik dan benar?
6. Apa perbedaan masing‐masing jenis kaca? Kelemahan dan keunggulannya!
9. Daftar Pustaka
Daftar rujukan teori atau praktikum dari berbagai sumber.
a. Ambiyar. 2008. Teknik Pembentukan Pelat. Jakarta: Direktorat PSMK.
b. Van Bergeyk, K dan A. J. Liedekerken. 1981. Teknologi Proses. Jilid II. Jakarta:
Bhratara Karya Aksara.
c. _______. 2016. Jenis Kaca. http://media.rooang.com. Diakses tanggal 4 Januari 2017.
Praktikum ke 9
Pokok/Sub Bahasan Memasang engsel dan pintu
Waktu
Hari, Tanggal
Tempat
1. Tujuan
Penjelasan mengenai tujuan dari suatu praktikum.