Gambar 2.26. Tata cahaya display Sumber: Sleeper (1989, p.85)
Penghawaan sangat berperan pada pengaturan suhu dalam museum. Untuk mengatur suhu udara dalam museum digunakan penghawaan buatan, yaitu dengan menggunakan AC. Adapun ruang pamer museum harus memenuhi persyaratan:
• Suhu udara pada ruang pamer antara 20-40ºC.
• Kelembaban udara pada ruang pamer antara 40-60%.
Oleh karena itu untuk mengatur kelembaban udara digunakan Dehumidifier, sedangkan untuk mengurangi kekeringan digunakan Humidifier.
2.4.1.14. Data Tentang Batik
Tuban merupakan salah satu wilayah di bagian timur pulau Jawa. Batik gedog memiliki satu corak kebudayaan yang unik, karena dalam sejarah wilayah ini telah masuk 3 tata nilai kebudayaan yang saling mempeengaruhi, dan sampai sekarang kebudayaan ini masih tetap eksis dan sama-sama berkembang, tanpa membuat salah satu kebudayaan ini tersingkir. Ketiga kebudayaan tersebut adalah:
1. Jawa, yang meresap saat wilayah ini dalam kekuasaan jaman Majapahit (abad XII-XIV).
2. Islam, karena di wilayah ini hidup seorang ulama yang ternama yaitu Sunan Bonang (1465-1525 M).
3. Tiongkok (Cina), karena di Tubanlah para sisa laskar tentara Kubalai khan melarikan diri dari kekalahannya pada saat menyerang Jawa di awal abad
XII, hingga kini masyarakat keturunan ini banyak bermukim di Tuban.
(“Tuban”, par 5).
Batik tulis tradisional yang dihasilkan oleh para pengrajin daerah Tuban ini memiliki kekhasan khusus yang tidak dimiliki oleh batik tulis tradisional lainnya di Indoesia. Dilihat dari segi bahan maupun motifnya, Tuban dikenal dua macam batik tradisional, yaitu batik tradisional yang menggunakan bahan baku kain prima, primisima, dan lain sebagainya. Batik tradisional yang menggunakan bahan baku kain tenun Gedog akhirnya dikenal sebagai batik tenun gedog atau batik tulis gedog, yang memudahkan untuk mengenali dan sekaligus membedakan dengan batik tradisional lainnya (Bandi 1).
Tenun gedog adalah kain yang dibuat dari bahan kapas yang proses penggarapannya mulai dari mengolah kapas menjadi benang, hingga memprosesnya menjadi kain tenun dilakukan dengan tangan yang didukung peralatan tradisional. Pekerjaan mulai dari “mengantih” atau membuat benang hingga menenun dengan alat tenun tradisional atau dikenal dengan sebutan alat tenun gedog dapat dijumpai di daerah Tuban ini. Peralatan tenun yang dikembangkan adalah alat tenun tradisional atau yang sering disebut sebagai ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) (Bandi 4).
a. Proses Pengolahan Bahan Baku
Bahan baku utama yang perlu dikenal yaitu kain gedog atau kain tenun gedog. Istilah gedog ini sendiri muncul dari suara yang terdengar saat kain tenun itu dibuat. Suara dhok-dhok selalu terdengar saat kain itu ditenun, yang disebabkan dari hentakan salah satu alat tenun (disebut liro) untuk memadatkan setiap helai benang yang ditenun. Oleh karena itu, alat tenun tradisional yang digunakan disebut tenun gedog dan hasil tenunannya disebut tenun gedog. Bahkan setelah hasil tenunan itu dibatik, kata gedog tetap melekat, sehingga batik yang dihasilkan dengan menggunakan bahan baku tenun Gedog disebut batik tulis gedog atau batik gedog (Bandi 9).
a. Proses Mengantih
Mengantih atau dalam bahasa Indonesianya, yaitu memintal benang adalah rangkaian pekerjaan mulai dari mempersiapkan kapas sampai menjadi benang lawe (Bandi 10).
• Nggiling kapas
Proses kapas yang telah kering (benang lawe), satu persatu dimasukkan ke gilingan kapas agar biji-bijinya terlepas (Bandi 10).
• Musoni
Pekerjaan mengurai kapas setelah digiling biasanya disebut musoni karena menggunakan alat yang bernama puson. Bentuk puson mirip dengan busur panah, dibuat dari bambu dan tali dari nanas atau kulit kayu. Alat ini juga dilengkapi dengan komponen lain yang disebut jedhul (Bandi 11).
• Mengantih
Mengantih atau memintal kapas menggunakan peralatan yang disebut jantra. Jantra terbuat dari kayu, bambu dan tali. Komponen pokok dari alat ini adalah: roda, tali (klindhen) dan kisi (Bandi 12).
• Menenun
Menenun adalah menganyam benang lawe hingga menjadi kain tenun.
Sebelum kegiatan menenun dilakukan, penenun harus mempersiapkan banang lawe untuk keperluan lungsen dan untuk keperluan pakan. Secara garis besar pekerjaan menenun dilakukan dengan tahapan-tahapan, antara lain:
mempersiapkan benang lungsen, mempersiapkan benang pakan dan kegiatan menenun (Bandi 13).
• Mempersiapkan benang lungsen
Tahap akhir dari pekerjaan mengantih adalah memindahkan benang dari kisi kealat yang disebut likasan. Kegiatan ini sekaligus mengatur benang dalam bentuk gulungan dengan ukuran tertentu. Benang lawe yang berbentuk tukelan berwarna putih, sesuai dengan warna kapas dan kondisinyapun belum siap untuk langsung ditenun karena lemas dan belum padat, sehingga kurang kuat dan bahkan mudah putus. Untuk mempersiapkan benang tukelan ini sehingga siap ditenun diperlukan pengerjaan khusus. Bahkan ada pula yang diwarnai, bila bermaksud membuat kain tenun lebih dari satu macam warna (Bandi 14).
Pemberian warna benang lawe dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu memberi warna dengan cara wedelan dan memberi dengan pewarna buatan, seperti dengan naptol ataupun wantex. Pemberian warna dengan cara wedelan hanya terbatas warna biru kehitam-hitaman. Bila menghendaki warna lain,
misalnya warna merah, coklat, hijau dan lain sebagainya terpaksa harus menggunakan bahan pewarna buatan berupa naptol dan wantex (Bandi 15).
Tahap berikutnya adalah mengolah benang lawe tersebut agar lebih padat dan sedikit kaku sehingga memudahkan benang lawe menjadi lungsen ataupun pakan dengan menggunakan nasi yang sedikit dihancurkan dengan air. Pekerjaan ini disebut nyekuli (sekul=nasi) (Bandi 15).
Proses selanjutnya adalah menguraikan benang lawe yang masih berbentuk tukelan dengan alat yang disebut ingan. Sedangkan untuk mempersiapkan benang pakan dipersiapkan alat yang dinamakan kleting yang terbuat dari bambu kecil (Bandi 16).
Disamping mempersiapkan untuk wajan, juga disiapkan untuk benang lungsen. Tahap awal adalah manen untuk mengatur deretan benang lawe dan sekaligus mengatur benang tersebut sehingga dapat dipilah menjadi dua lapisan.
Pekerjaan selanjutnya adalah nyurup dan murei (Bandi 16).
Nyurup adalah memasukan benang lungsen pada sela-sela ruji dari sisir tenun, dan tiap sela dimasuki dua helai benang. Selanjutnya pekerjaan gelap yaitu mengatur benang lungsen pada bagian dari alat tenun yang disebut glebeg/blabag, untuk menjaga keteraturan benang lungsen, sehingga memudahkan untuk mengatur panjang lungsen sesuai dengan jangkauan penenun. Bagian ujung yang lain diikat pada apit sebelum digulung pada glebeg ataupun diikat apada apit jajaran benang lungsen dengan mure. (Bandi 17).
b. Proses pembuatan Batik Gedog
• Tahan Ngetel
Tahap ngetel dilakukan dengan cara merendam kain yang akan dibatik dalam air bersih selama dua hari, dengan maksud untuk mengurangi sisa-sisa zat pengeras benang yang digunakan saat proses menenun berlangsung. Perendaman ini juga menguntungkan karena kain tenun yang telah bersih dari kandungan zat pengeras menjadi lebih lemas dan pori-pori benang terbuka lebih lebar, sehingga menguntungkan saat pemalaman dan pewarnaan (Bandi 23).
• Tahap Lengreng
Untuk bahan baku kain dari pabrik dalam proses batik tulis sebelum memasuki tahap lengreng, pada umumnya didahului dengan tahap nyekuli, yaitu
suatu tahapan yang bertujuan membuat kaku kain yang akan dibatik dengan menggunakan bahan tepung tapioka dan kanji. Hal ini dikarenakan kain dari batik yang menggunakan kain pabrik lemas dan halus sehingga perlu dikakukan, sedangkan jika kain batik gedog sendiri lebih kasar dan keras, sehingga pada pembuatan batik gedog tahap nyekuli tidak diperlukan (Bandi 24).
Tahap lengreng atau sering disebut ngengreng yaitu tahap pembuatan motif pada kain yang dapat dilakukan dengan canting ataupun pensil terlebih dahulu atau yang disebut membuat pola dengan pensil. Tahap lengreng ini dengan maksud untuk menutup bagian pola dengan cairan malam atau lilin untuk menghindari pengaruh zat pewarna saat dilakukan pewarnaan, sehingga pada tahap ini sudah mempersiapkan bagian mana yang akan dibiarkan terbuka dan bagian mana yang harus ditutup yang disesuaikan dengan tahap pewarnaan nantinya (Bandi 25).
• Tahap Nerusi
Tahap nerusi merupakan tahap lanjutan dari lengreng dengan tujuan memantapkan tampilan pada pola pada sisi kain batik yang lain. Tahap ini lebih mudah daripada tahap lengreng, sehingga pada tahap ini dapat dilakukan oleh orang lain (Bandi 25).
• Tahap Nembok
Pekerjaan nembok ini dilakukan dengan canting sama dengan tahap lengreng. Tetapi pada tahap lengreng menitik beratkan pada penutupan bagian dasar kain, sedangkan pada tahap nembok ini bertujuan dengan menutup bagian yang berada didalam motif yang dirancang dengan tampilan warna yang berbeda.
Pada batik gedog kadang muncul lebih dari 2 warna, bisa 3 atau 4 warna. Warna yang digunakan biasanya putih, warna gelap (hitam atau biru tua), dan warna lain (merah, kuning atau hijau) (Bandi 25).
• Tahap Nyelup
Zat pewarna buatan yang digunakan adalah berupa naptol, karena hanya bahan pewarna naptol yang bisa memberikan warna yang dikehendaki selain putih dan bitu tua. Tahap penyelupan ini berulang-ulang dilakukan sesuai dengan banyak ragam warna yang akan ditampilkan (Bandi 26).
Tahap penyelupan ini juga berhubungan dengan tahap mopok, yaitu tahapan menentukan bagian mana yang dibiarkan terbuka, sehingga akan terkena zat pewarna dan bagian mana yang harus ditutup untuk menghindarkan bagian dari kain atau motif yang harus terhindar dari pengaruh pewarnaan. Bila pada setiap pewarnaan harus disertai dengan mopok dan ngerok malam/lilin, maka akan diperlukan waktu yang cukup lama. Sehingga untuk mempersingkat waktu, satu-satunya cara yaitu dengan memperhitungkan sifat dan kekuatan warna yang akan ditampilkan (Bandi 27).
• Tahap Medel
Kata medel popular sebelum adanya bahan pewarna buatan (naptol). Bahan baku wedelan adalah nila yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan tertentu yang disebut daun tom (tarum). Meskipun telah memakai bahan pewarna buatan, tetapi mereka tetap menyebutnya dengan medel (Bandi 29).
• Tahap Nglorot dan Nyuci
Tahap nglorot ini yaitu mencairkan lilin atau malam yang masih menempel pada kain dengan cara merebus. Dengan mencelupkan kain yang batik akan dilorot kedalam air tawar yang sudah mendidih, sehingga lilin atau malam mencair dan lepas dari kain (Bandi 29).
Batik dan telah selesai dilorot, kadang masih banyak sisa malam yang menempel, untuk membersihkannya perlu dicuci dengan air bersih. Selain itu juga untuk mengurangi zat pewarna yang tersisa diatas kain yang tidak sempat meresap kedalam benang lawe. Pengeringannya dilakukan dengan cara dianginkan, tidak langsung dijemur dibawah sinar matahari agar warnanya tidak pudar (Bandi 29).
c. Motif -motif Batik Gedog
Motif batik pada dasarnya mengandung dua unsur pokok, yaitu : ornamen motif dan isian (isen) motif. Ornamen motif batik tersendiri dari dua macam bentuk, yaitu : ornamen utama atau pokok yang merupakan ragam hias penentu motif dan ornamen tambahan berfungsi sebagai pengisi bidang. Sedangkan isen atau isian motif berfungsi sebagai pengisi ornamen motif atau bidang sela antara motif pokok atau motif utama (Bandi 53).
Berdasarkan bentuk dasar, motif batik gedong dibagi menjadi dua golongan, yaitu: motif geometris dan non-geometris. Setelah banyaknya permintaan para
pembeli, muncul juga motif-motif batik kreasi untuk memenuhi selera konsumen.
Motif kreasi ini merupakan modifikasi bentuk motif utama ataupun motif tambahan tampak dominan. Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh motif tradisional terhadap batik gedog, terlebih dahulu perlu dikenali motif khas dari batik gedog itu sendiri (Bandi 54).
• Motif Geometris - Krompol
Bahan baku yang digunakan bukannya kain tenun polos seperti yang biasa digunakan untuk membuat motif-motif lainnya, tetapi menggunakan kain lurik yang bermotif kotak-kotak kecil. Dalam bahasa Jawa kata krompol mengacu pada perngertian berkumpul atau mengumpul. Yang dimaksud disini barangkali karena kenyataannya motif yang muncul dari batik tersebut berupa titik-titik yang bergerombol (Bandi 55).
• Motif Geometris - Panji Lori
Sering tampil dengan dua warna, misalnya warna putih dan biru tua. Motif utama yang berbentuk susunan belah ketupat dan motif isen berupa susunan daun yang diatur berlawanan arah. Motif lain yang berfungsi sebagai pembatas antara bagian tengah kain dengan bagian ujung kain adalah motif burung phunik dan bunga. Kesan sederhana yang ditampilkan melalui motif ini cukup pantas dipakai oleh orang tua atau kaum ibu yang masih muda (Bandi 57).
Gambar 2.27. Motif panji lori Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
• Motif Geometris - Jajar Goyang
Motif jajar goyang ini termasuk motif kuno dan warnanya pun sederhana, yaitu warna dasar gelap, ada yang biru tua, coklat tua atau merah kecoklat-coklatan dengan motif warna putih. Nama yang di dapat berdasarkan motif yang
ada, yaitu akibat susunan garis dan penggarapan garisnya maka bentuk motifnya seakan berubah-ubah atau bergoyang (Bandi 59).
Gambar 2.28. Motif jajar goyang Sumber: Bandi (1993, p.109)
• Motif Geometris - Panji Serong
Warna dari motif panji serong ini adalah warna kain gelap dengan warna motif tampil dengan warna putih sesuai dengan warna dasar kain tenunnya. Pola rancangan motif yang merupakan perpaduan antara titik-titik (cecek), garis lurus dan garis lengkung, diatur sangat serasi sengan tidak meninggalkan keteraturan sebagai ciri khas motif geometris (Bandi 62).
• Motif Geometris - Kenongo Uler
Motif kenongo uler ini menampilkan paduan betuk belah ketupat dan bintang dengan disusun dalam lajur kearah serong berlawanan. Motif belah ketupat tampaknya sangat dominan, karena bila diperhatikan dengan cermat maka motif bintang yang ditampilkan dengan memadu lingkaran kecil dan coretan-coretan pendek yang mengarah ke empat penjuru. (Bandi 66)
Gambar 2.29. Motif kenongo uler Sumber: Bandi (1993, p.108)
• Motif Geometris - Kembang Jeruk
Motif kembang jeruk merupakan motif geometris dengan satu warna, yaiu biru tua (proses wedelan). Motif utama tampil dalam dua macam bentuk dan
warna, yaitu berbentuk bunga yang sedang mekar berkelopak empat dan delapan, dengan motif isen berupa rangkaian empat untai bunga yang disusun berlawanan arah searah kelopak bunga motif utama (Bandi 67).
Gambar 2.30. Motif kembang jeruk Sumber: Bandi (1993, p.110)
• Motif Geometris - Panji Puro Kothongan
Ada tiga motif uama yang tampak dominan, yaitu motif segi empat sama sisi, motif bunga dan motif daun. Karena adanya motif rangkaian daun yang motifnya mirip rangkaian daun pada panji lori, maka menggunakan nama panji untuk nama motif panji kuro kothongan (Bandi 68).
Gambar 2.31. Motif panji puro kothongan Sumber: Bandi (1993, p.109)
• Motif Geometris - Tekuk Dhengkul
Motif ini berupa bentukan garis yang membentuk sudut 90 derajat yang dihiasai dengan adanya motif bunga dan daun, serta motif isen yang mengisi motif garis yang membentuk sebuah kotak. Batik tekuk dhengkul ini biasanya digunakan pada acara semembah atau sungkeman pada orang tua (Dok. Pribadi).
Gambar 2.32. Motif tekuk dhengkul Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
• Motif Geometris - Sidomukti Kedele Kecer
Motif ini menampilkan bentuk segi empat dengan hiasan daun-daun pada sisi-sisi tertentu segi empat. Motif isen yang mengisi didalam bidang segi empat ini seperti kedele yang berceceran. Batik kedele kecer ini banyak digunakan pada acara khitanan ataupun biasanya digunakan oleh kemanten laki atau mempelai pria (Dok. Pribadi).
Gambar 2.33. Motif kedele kecer Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
• Motif non Geometris – Locanan
Motif ini mendapat pengaruh khusus dari batik locan yang berada di Pati.
Gambaran batik locan ini menggunakan motif burung phunik yang dipadu dengan rangkaian daun dan bunga. Perbedaan bentuk dari motif-motif utama tersebut wajar karena disamping bahan bakunya berbeda, latar belakang budaya dan kemampuan pembatiknya juga berbeda. Oleh karena itu bila terjadi pengurangan, penambahan ataupun perubahan dari bentuk motifnya sangat mungkin terjadi (Bandi 69).
Gambar 2.34. Motif locanan Sumber: Bandi (1993, p.111)
• Motif non Geometris - Kembang Waluh
Motif kembang waluh tampil dengan tiga warna, yaitu putih, biru tua dan merah. Motif utama terdiri dari rangkaian daun dan bunga serta burung phunik.
Sebagai pengisi bidang kain motif daun dan bunga ini dirangka dalam untaian yang berkaitan dengan tangkai tangkai daun yang merayap meliuk-liuk memenuhi bidang kain (Bandi 72).
Gambar 2.35. Motif kembang waluh Sumber: Bandi (1993, p.112)
• Motif non Geometris – Putihan
Disebut motif putihan karena warna dasarnya putih sesuai dengan warna dasar kainnya. Batik gedog dengan motif putihan ini didukung beberapa motif utama beberapa macam zat pewarna khusus untuk motif-motifnya tersebut, misalnya warna biru tua, coklat muda kuning atau warna merah dengan dasarnya tetap keputih-putihan. Beberapa motif utama diantaranya adalah motif lar-laran (garuda), motif burung phunik, motif kupu-kupu ataupun motif lainnya, seperti motif suluran lengkap dengan daun dan bunganya (Bandi 75).
Gambar 2.36. Motif putihan Sumber: Bandi (1993, p.112)
• Motif non Geometris – Ganggeng
Motif ganggeng dalam batik gedog sekilas mirip dengan motif suluran yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi seluruh bidang tengah kain. Bentuk dasar motif suluran yang ada disini digambarkan cukup besar, bagian dalamnya diisi rangkaian motif sirip. Sedangkan bagian luar dari motif suluran ini dihias dengan coretan atau garis pendek-pendek keluar (Bandi 76).
Gambar 2.37. Motif ganggeng Sumber: Bandi (1993, p.113)
• Motif non Geometris - Burung Hong
Menurut penuturan pembatik dari Bongkol, disebut motif burung Hong karena terdapat gambar burung Hong. Dan yang dimaksud burung Hong disini ternyata mirip dengan bentuk burung phunik, sebagai ciri khas batik gedog pada umunya. Motif lain berupa lar-laran yang bentuk dan gayanya juga hampir mirip dengan yang ditampilkan pada batik gedog motif lainnya (Bandi 79).
• Motif non Geometris - Uker Cantel
Motif uker cantel ini biasanya digunakan acara penyingset atau acara pemberian dari calon mertua. Disini digambarkan terdapat motif burung phunik, bunga dan daun sengankan motif lainya berupa lar-laran pendek yang saling cemantel atau bergantungan satu sama lain (Dok. Pribadi).
Gambar 2.38. Motif uker cantel Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
• Motif non Geometris – Gringsing
Batik gringsing ini mempunyai motif utama burung dan juga bunga dan daun dengan motif pengisi berwarna putih. Kain batik ini biasanya digunakan untuk para saudara mempelai atau penggiring pada acara pernikahan (Dok. Pribadi).
Gambar 2.39. Motif gringsing Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
• Motif Kreasi
Gambar 2.40(a). Motif-motif kreasi khas kota Tuban Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
Gambar 2.40(b). Motif-motif kreasi khas kota Tuban Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011