• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Data Biaya Produksi

Berikut akan disajikan beberapa data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan di PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk.

data ini bersumber dari administrasi produksi, administrasi distribusi serta administrasi penjualan pada PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. di Kabupaten Maros dengan format data yang sudah diolah oleh penulis untuk melindungi format data perusahaan tersebut.

1. Data Bahan Baku

Bahan baku atau direct material adalah bahan yang diolah menjadi produk selesai dan pemakaiannya dapat didentifikasi atau diikuti jejaknya dan merupakan bagian integral pada produk tertentu.

Bahan baku yang digunakan oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk.

dalam kegiatan produksinya adalah telur ayam broiler , telur merupakan bahan baku tunggal yang kemudian dilakukan transformasi melalui

serangkaian proses produksi dengan menggunakan mesin tetas yang hasil keluarannya adalah DOC (day old chick) atau ayam berumur satu hari.

Untuk menghasilkan keluaran yang berkualitas tentunya bahan baku harus berkualitas juga serta mendapatkan perlakuan dari pihak produksi dengan menjalankan standar operasinal perusahaan (SOP) yang telah ditetapkan untuk dijadikan pedoman dalam melakukan kegiatan produksi. Berikut disajikan data bahan baku telur tetas atau hatching egg tahun 2010 yang merupakan bahan baku tunggal dari

produk perusahaan ini sebagai berikut : Tabel 1

Data Telur Tetas (Bahan Baku) Tahun 2010

No Bulan Quantity Harga Total

(Butir) (Rp/Tahun) (Rp)

1 Januari 1,415,900 1.550 2.196.062.450

2 Februari 1,310,300 1.550 2.030.965.000

3 Maret 1,167,900 1.550 1.810.245.000

9 september 1,340,800 1.550 2.078.240.000 10 Oktober 1,303,600 1.550 2.020.580.000 11 November 1,727,600 1.550 2.677.780.000 12 Desember 1,631,400 1.550 2.528.670.000

Total 16.702.600 1.550 25.890.447.450

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data bahan baku di atas, dapat kita lihat bahwa pada tahun 2010 biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh

bahan baku dalam satu tahun adalah sebesar Rp. 25.890.447.450, sedangkan harga per butir telur tetas setiap bulannya tidak mengalami perubahan ini karena harga bahan baku tersebut sudah ditetapkan oleh manajemen setiap tahunnya mengingat bahwa telur tetas yang akan diproses menjadi DOC (day old chick) ini adalah berasal dari unit farm petelur internal PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., namun harga bahan baku ini dibentuk dari biaya yang dikeluarkan oleh unit farm petelur dalam proses produksinya.

Selanjutnya disajikan data bahan baku telur tetas atau hatching egg tahun 2011, sebagai berikut :

Tabel 2

Data Telur Tetas (Bahan Baku) Tahun 2011

No Bulan Quantity Harga Total

(Butir) (Rp/Tahun) (Rp)

1 Januari 1,586,900 1.750 2.778.663.650

2 Februari 1,367,800 1.750 2.393.650.000

3 Maret 1,844,200 1.750 3.227.350.000

9 september 2,474,800 1.750 4.330.900.000

10 Oktober 2,094,300 1.750 3.665.025.000

11 November 1,846,600 1.750 3.231.550.000 12 Desember 1,626,700 1.750 2.846.725.000

Total 22,612,700 1.750 39.573.813.650

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data bahan baku 2011, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan biaya bahan baku dibandingkan dengan biaya bahan baku

2010, peningkatan biaya ini dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari internal maupun eksternal perusahaan.

Faktor internal perusahaan termasuk keputusan manajemen dalam menentukan harga bahan baku setiap tahunnya yang merupakan kalkulasi dari biaya proses bahan baku tersebut, harga bahan baku ini muncul dari perhitungan biaya proses dari unit farm petelur. Dalam perhitungan biaya produksi pada unit farm petelur memiliki sistem perhitungan biaya tersendiri meskipun unit farm dan unit hatchery adalah satu divisi produksi. Biaya proses yang perhitungkan oleh unit farm adalah biaya pakan ternak, biaya pemeliharaan kandang, biaya karyawan, biaya umum serta biaya lain-lain sehingga membentuk harga bahan baku pada tahun 2011, yaitu Rp. 1.750 setiap butir telur tetas.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kenaikan harga bahan baku ini adalah biaya transportasi laut yang sangat tinggi untuk pakan ternak yang dikirim dari pabrik pakan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. karena pada tahun 2011 suply pakan dari PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. tidak mampu memenuhi kebutuhan pakan

unit farm petelur. Kesulitan pakan ini disebabkan oleh kebutuhan pakan komersial untuk peternakan mitra dan peternakan mandiri diutamakan oleh manajemen PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. sehingga pemenuhan kebutuhan pakan untuk unit farm petelur dialihkan ke pabrik pakan Japfa Comfeed Sidoarjo sampai akhir tahun 2011.

Selain dari penentuan harga bahan baku pada tahun 2011 perlu diperhatikan juga angka tertinggi dari biaya bahan baku setiap bulannya, dimana pada bulan September biaya bahan baku mencapai Rp. 4.330.900.000 dengan jumlah telur tetas 2.474.800 butir yang merupakan angka tertinggi pada tahun 2011.

Berdasarkan hasil penelitian, biaya bahan baku yang menunjukkan angka tertinggi dalam satu tahun disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah permintaan konsumen yang selalu berubah mengikuti kondisi pasar dan tingkat kesulitan perolehan DOC (day old chick). Kesulitan yang dimaksud di sini adalah jumlah produksi DOC (day old chick) yang tidak mencukupi pesanan pelanggan pada bulan tertentu, ini disebabkan oleh menjamurnya pengusaha peternakan mandiri di beberapa daerah pada bulan tertentu yang memungkinkan berkurangnya jatah untuk peternakan mitra. Hal ini membutuhkan perhatian khusus oleh pihak perusahaan dalam hal ini tidak lepas dari kendali dan koordinasi departemen marketing sebagai penentu kebijakan untuk penjualan serta penyebaran DOC (day old chick) baik dalam pulau maupun luar pulau Sulawesi.

Berdasarkan koordinasi departemen marketing dengan departemen produksi unit hatchery bahwa jumlah permintaan di pasar semakin meningkat. Hal ini tentunya mengharuskan unit hatchery untuk menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan di pasar sehingga otomatis jumlah serta biaya bahan baku juga ikut bertambah.

Berikut juga disajikan data biaya bahan baku untuk tahun 2012 sebagai berikut:

Tabel 3

Data Telur Tetas (Bahan Baku) Tahun 2012

No Bulan Quantity Harga Total

(Butir) (Rp/Tahun) (Rp)

1 Januari 2,142,200 2.000 4.286.544.200

2 Februari 1,703,900 2.000 3.407.800.000

3 Maret 1,968,800 2.000 3.937.600.000

9 september 2,169,200 2.000 4.338.400.000 10 Oktober 2,857,300 2.000 5.714.600.000 11 November 2,551,300 2.000 5.102.600.000 12 Desember 2,373,700 2.000 4.747.400.000

Total 28,564,100 2.000 57.130.344.200

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data biaya bahan baku (data telur tetas) pada tahun 2012 di atas, maka didapatkan jumlah total sebesar Rp.

57.130.344.200 jika dibandingkan dengan biaya bahan baku pada tahun 2010 dengan total Rp. 25.890.447.450 dan pada tahun 2011 dengan total Rp. 39.573.813.650, biaya bahan baku yang menunjukkan angka tertinggi pada tahun 2012. Dari angka ini menggambarkan bahwa tingkat output DOC (day old chick) semakin tinggi dan pada tahun ini manajemen menambah jumlah mesin tetas untuk memenuhi standart produksi serta permintaan konsumen yang semakin meningkat.

Berdasarkan data biaya bahan baku pada tahun 2012, biaya produksi menonjol pada bulan Juni yang mencapai Rp. 6.399.400.000 dengan jumlah telur tetas 3.199.700 butir, angka ini menunjukkan bahwa permintaan di pasar sangat tinggi pada bulan ini serta pada bulan ini juga terjadi over kapasitas produksi telur tetas di unit farm petelur sedangkan telur tetas tidak bisa distock terlalu lama di unit farm petelur karena akan mempengaruhi kualitas DOC (day old chick) jika tidak cepat mendapat perlakuan khusus dari unit hatchery seperti sterilisasi, fumigasi serta penyimpanan di ruang pendingin sebelum dimasukkan ke dalam inkubator.

Berdasarkan perbandingan, hal ini menunjukkan bahwa tingkat aktivitas perusahaan semakin meningkat dari setiap tahunnya, kondisi ini sesuai dengan teori ekonomi pada umumnya bahwa semakin tinggi aktivitas produksi maka semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan serta memungkinkan perolehan laba yang tinggi sesuai dengan target yang diharapkan.

2. Data Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya tenaga kerja adalah semua balas jasa atau teken prestasi yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan. Sesuai dengan fungsi dimana karyawan bekerja, biaya tenaga kerja dapat digolongkan ke dalam biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja atau karyawan diperusahaan ini terbagi menjadi dua status yaitu karyawan status tetap dan karyawan

status kontrak, namun dalam kegiatannya status karyawan ini tidak dibedakan satu sama lain serta upah yang diberikan juga masing-masing berdasarkan upah minimum regional serta penilaian prestasi kerja karyawan setiap tahunnya.

Berikut disajikan rekap biaya karyawan produksi, sebagai berikut:

Tabel 4

Data Gaji Karyawan Bagian Produksi Tahun 2010

No Bulan Total gaji Juml. Kary. Produksi

Total 702.552.778 rata-rata = 50 orang Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Berdasarkan data gaji karyawan di atas, dapat kita lihat bahwa total biaya tenaga kerja pada tahun 2010 dengan total Rp. 702.552.778, angka ini menunjukkan total keseluruhan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membayar upah karyawan produksinya dalam setahun. Pada bulan juni 2010 menunjukkan angka tertinggi dari biaya tenaga kerja karena pada bulan ini tingkat lembur bagian produksi yang melebihi budget biaya lembur yang telah

ditetapkan oleh RAB (rencana anggaran biaya). Peningkatan biaya lembur ini karena telur tetas yang yang dikirim dari unit farm petelur harus disetting ke dalam mesin pendingin sesuai dengan SOP unit departemen produksi unit hatchery serta untuk memenuhi target produksi yang diharapkan oleh manjemen pusat.

Selanjutnya disajikan data biaya tenaga kerja langsung pada tahun 2011, sebagai berikut :

Tabel 5

Data Gaji Karyawan Bagian Produksi Tahun 2011

No Bulan Total gaji Juml. Kary. Produksi

Total 871.529.161 rata-rata = 54 orang Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Berdasarkan data tahun 2011 biaya tenaga kerja mencapai angka Rp. 871.529.161 dibandingkan data tahun 2010 menunjukkan peningkatan biaya tenaga kerja, ini disebabkan oleh meningkatnya aktivitas produksi yang sebanding dengan volume produksi perusahaan. Pada bulan Juni 2011 biaya tenaga kerja mencapai Rp.

91.907.892, hal ini juga disebabkan oleh meningkatnya biaya lembur seperti pada tahun sebelumnya. Begitu pula dengan jumlah karyawan yang selalu berubah karena ada sebagian karyawan yang diputus kontraknya serta adanya perekrutan karyawan baru, sehingga pihak manajemen produksi di unit hatchery harus pandai mengatur sistem kerja setiap bulannya agar program kerja tetap berjalan sesuai dengan standart operasional perusahaan meskipun ada karyawan yang diputus kontrak yang tentunya dapat mempengaruhi sistem kerja.

Selanjutnya disajikan data biaya tenaga kerja pada tahun 2012 sebagai berikut :

Tabel 6

Data Gaji Karyawan Bagian Produksi Tahun 2012

No Bulan Total gaji Juml. Kary. Produksi

Total 1.001.757.655 rata-rata = 61 orang Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Berdasarkan data di atas, jika dibandingkan dengan biaya tenaga kerja dua tahun sebelumnya, biaya tenaga kerja pada tahun 2012

menunjukkan angka tertinggi yang mencapai Rp. 1.001.577.655, pelonjakan biaya ini disebabkan oleh kenaikan upah minimum regional serta biaya lembur yang melebihi budget. Pada bulan Juni gaji karyawan mencapai Rp. 105.641.255, pada bulan ini biaya lembur melonjak karena adanya proyek penambahan mesin tetas yang melibatkan sebagian karyawan produksi untuk mempercepat target instalasi mesin sesuai target penyelesaian proyek. Begitu pula dengan jumlah karyawan yang bertambah menjadi 61 orang yang lebih banyak dari tahun sebelumnya, ini karena adanya penambahan karyawan yang mengikuti penambahan jumlah mesin serta volume produksi.

3. Data Biaya Overhead Pabrik Tetap

Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung tetapi membantu mengubah bahan baku menjadi produk selesai yang sifatnya tetap digunakan dalam setiap kegiatan dan proses produksi serta selalu berubah sebanding dengan volume produksi dan dapat diidentifikasi pada produk selesai.

Dalam kegiatan produksi pada PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., yang termasuk biaya overhead pabrik tetap di antaranya vaksin, obat, disinfektan, pembungkus dan perlengkapan vaksin. Data yang diperoleh merupakan serangkaian biaya overhaead pabrik tetap yang digunakan pada proses produksi, data biaya ini merupakan data olahan untuk mempermudah proses penelitian.

Berikut disajikan data biaya overhead tetap yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 7

Data Biaya Overhead Pabrik Tetap Tahun 2010

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Vaksin Doc 153.286.734

2 Obat 1.278.523

3 Disinfektan (Clinafarm) 66.408.933

4 Pembungkus (Box) 716.298.748

5 Perlengkapan Vaksin 329.293

Total 937.602.231

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 bahwa total biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp. 937.602.231, dari ke lima jenis bahan pembantu produksi ini pembungkus yang menunjukkan angka tertinggi dimana pemakaiannya mencapai Rp.

716.298.748 karena bahan ini merupakan pembungkus (box) dari DOC (day old chick) yang siap dijual dan didistribusikan. Sementara vaksin dan obat adalah bahan yang ikut pada produk ini dengan cara injeksi ke dalam tubuh DOC (day old chick) tujuannya untuk menambah daya tahan tubuh produk ini sampai ke tangan pelanggan bahkan sampai pada masa panen atau usia yang sudah layak dikonsumsi.

Bahan ini bukan merupakan bahan kimia berbahaya untuk dikonsumsi karena sudah diperiksa oleh laboratorium serta karantina hewan ternak dan bisa dijamin kelayakannya. Perlengkapan vaksin ini digunakan untuk proses injeksi serta ikut dalam produk sebagai

perlengkapan untuk perlakuan awal produk ketika sampai pada pelanggan serta clinafarm digunakan sebagai bahan sterilisasi pada pembungkus (box) yang berfungsi untuk menjaga produk tetap steril pada proses delivery.

Selanjutnya disajikan data biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2011 sebagai berikut :

Tabel 8

Data Biaya Overhead Pabrik Tetap Tahun 2011

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Vaksin Doc 1.164.717.064

2 Obat 7.716.632

3 Disinfektan (Clinafarm) 75.042.094

4 Pembungkus (Box) 670.559.801

5 Perlengkapan Vaksin 2.502.490

Total 1.920.538.081

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Berdasarkan data biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2011 jenis dan bahan pembantu produksi ini tetap sama dengan tahun sebelumnya, namun jumlah biaya yang digunakan selalu berubah sebanding dengan volume produksi. Seperti pemakaian vaksin pada tahun 2011 ini mencapai nilai sebesar Rp. 1.164.717.064, angka ini lebih tinggi dari tahun 2010 karena pada tahun ini ada program penambahan volume vaksin yang seiring dengan bertambahnya volume produksi, begitu pula dengan bahan pembantu yang lain ikut bertambah jumlah pemakaiannya sesuai dengan perubahan volume produksi.

Berdasarkan pemakaian biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2011, sebagai perbandingan berikut juga disajikan biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2012 sebagai berikut :

Tabel 9

Data Biaya Overhead Pabrik Tetap Tahun 2012

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Vaksin Doc 3.106.389.150

2 Obat 22.346.265

3 Disinfektan (Clinafarm) 229.092.254

4 Pembungkus (Box) 1.079.264.206

5 Perlengkapan Vaksin 7.270.288

TOTAL 4.444.362.163

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data di atas, maka dapat dilihat bahwa biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2012 mencapai total Rp.

4.444.362.163, pada tahun ini pemakaian biaya bahan pembantu produksi lebih tinggi dari dua tahun periode produksi sebelumnya.

Peningkatan biaya overhead pabrik variabel ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya aktivitas dan volume produksi perusahaan.

4. Biaya overhead pabrik variabel

Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk selesai yang mana selalu berubah – ubah dan tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan produksi dan tidak dapat diidentifikasi pada produk selesai, yang termasuk biaya overhead pabrik variabel di antaranya barang inventaris produksi,

sparepart mesin, bahan penunjang atau perlengkapan kerja, biaya

laboratorium, biaya pemeliharaan inventaris, biaya bangunan, biaya transport DOC dan kendaraan, biaya pemeliharan bangunan, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi, biaya listrik dan genset, biaya perlengkapan hatchery dan biaya lain-lain hatchery.

Berdasarkan data yang diperoleh pada PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. merupakan serangkaian data biaya overhead pabrik variabel yang telah diolah, berikut disajikan data biaya overhed pabrik variabel pada tahun 2010 sebagai berikut:

Tabel 10

Data Biaya Overhead Pabrik Variabel Tahun 2010

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Biaya Sparepart 133.942.602

2 Bahan Penunjang 195.408.454

3 Biaya Laboratorium 108.484.036

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014 Berdasarkan data biaya overhead pabrik variabel pada tahun 2010 mencapai total Rp. 4.265.758.170, biaya ini muncul dari serangkain aktivitas produksi namun selalu berubah tidak mengikuti volume kegiatan produksi. Seperti baiya transport DOC dan kendaraan

yang mencapai Rp. 1.585.153.920, angka ini merupakan pengeluaran biaya pengiriman DOC (day old chick) dari unit hatchery sampai ke pelanggan baik mitra maupun mandiri.

Biaya ini tidak dapat diikut sertakan berdasarkan volume kegiatan produksi, karena pengiriman DOC (day old chick) serta pemeliharaan kendaraan selalu berubah setiap saat sesuai dengan rute pengiriman serta kondisi jalan ke tempat tujuan. Begitu pula dengan biaya listrik dan genset pada tahun 2010 dengan total Rp. 1.088.122.761, pengeluaran biaya ini digunakan untuk kegiatan produksi perusahaan tapi tidak sebanding dengan aktivitas produksi karena pemakaian tenaga listrik dan genset ini selalu berubah berubah untuk kegiatan produksi serta tidak bisa dideteksi pemakaian ke dalam produk jadi.

Selanjutnya, data biaya overhead pabrik variabel tahun 2011 : Tabel 11

Data Biaya Overhead Pabrik Variable Tahun 2011

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Biaya Sparepart 472.286.187

2 Bahan Penunjang 359.935.101

3 Biaya Laboratorium 108.484.036

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Berdasarkan data di atas, maka dapat dilihat bahwa biaya overhead pabrik variable pada tahun 2011 sebesar Rp. 4.768.628.402

yang hampir sama dengan biaya pada tahun 2010, yang membedakan di sini adalah tingkat aktivitas serta kondisi pada saat proses produksi.

Sesuai dengan teori bahwa biaya overhead pabrik variabel adalah biaya selain biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung yang digunakan dalam proses produksi tapi tadak dapat diidentifikasi keberadaannya pada produk selesai dan berubah tidak sebanding dengan volume kegiatan produksi. Pada tahun ini biaya transpor DOC mencapai Rp. 1.585.153.920 karena volume produksi bertambah serta biaya pengiriman ke pelanggan semakin meningkat.

Selanjutnya disajikan data biaya overhead pabrik variabel tahun 2012, sebagai berikut :

Tabel 12

Data Biaya Overhead Pabrik Variabel Tahun 2012

No Parameters Jumlah

(Rp)

1 Biaya Sparepart 896.113.235

2 Bahan Penunjang 1.057.871.920

3 Biaya Laboratorium 111.839.212

Sumber : Hasil data diolah PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk., 2014

Pengeluaran biaya overhead pabrik variabel pada tahun 2012 mencapai Rp. 5.828.282.853, tentunya angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan pemakaian biaya pada dua tahun sebelumnya.

Peningkatan biaya ini terjadi karena volume produksi DOC pada tahun ini ditambah untuk memenuhi permintaan pasar sehingga mempengaruhi aktivitas serta biaya yang dikeluarkan.

Seiring dengan hal tersebut, peningkatan biaya ini juga disebabkan oleh adanya proyek penambahan mesin tetas dimana alokasi biaya pemasangan dan instalasi dibebankan kepada unit produksi sehingga pada tahun ini pengeluaran biaya bahan penunjang meningkat hingga Rp. 1.057.871.920. Biaya ini termasuk di dalamnya perlengkapan instalasi penunjang serta bahan pembantu untuk proses instalasi.

C. Analisis Penerapan Budget Cost Produksi pada PT. Japfa

Dokumen terkait