• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Data Validasi dan Revisi Produk

4.4.5 Data Uji Coba Lapangan Terbatas

Tabel 4.4 Komentar Guru Matematika dan Tindak Lanjut

No Komentar Tindak Lanjut

1. Bagaimana kalau papan diganti dengan bahan yang lain?

Papan bilangan bulat dibuat dengan memanfaatkan potensi lokal yang masih banyak terdapat tanaman pohon jati. Papan kayu jati dipilih karena tidak akan rusak ketika melalui proses pengeboran lubang. Dengan demikian, papan tidak bisa diganti dengan bahan yang lain.

2. Bagaimana kalau batu diganti dengan kerikil disesuaikan dengan lingkungan sekitar anak?

Ukuran kerikil lebih kecil dan tidak sesuai dengan ukuran lubang pada papan. Jika dilakukan penggantian batu menjadi kerikil, maka aspek pengendali kesalahan pada papan akan hilang. Dengan demikian, tidak

dilakukan revisi.

4.4.4 Revisi Produk

Berdasarkan validasi lapangan yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran dari ahli pembelajaran matematika dan guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Montessori menekankan perlunya memahami kejiwaan anak sebagai dasar bagi pendidikan yang tepat dengan cara memberi kesempatan anak untuk mengekspresikan diri mereka secara merdeka (Montessori, 2002:10). Montessori selalu mengembangkan alat peraga dengan metode eksperimental yang menekankan kemerdekaan anak untuk memilih alat peraga yang ditawarkan. Untuk itu, peneliti mengumpulkan semua saran dan mengkonfrontasikan saran-saran tersebut kepada siswa kelas IVA SDN Tamanan 1. Jawaban dari siswa merupakan langkah yang harus dilakukan oleh peneliti. Hasilnya adalah siswa lebih memilih alat peraga papan bilangan bulat apa adanya seperti semula karena sejak awal alat peraga tersebut sudah dibuat sesuai dengan keinginan siswa. Dengan demikian, peneliti tidak banyak melakukan revisi. Peneliti hanya memperbaiki beberapa kesalahan tulisan pada kartu soal saja.

4.4.5 Data Uji Coba Lapangan Terbatas

Setelah produk divalidasi oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru matematika kelas IVA, selanjutnya dilakukan uji coba lapangan secara langsung pada lima siswa yang memiliki nilai di bawah KKM. Uji coba lapangan terbatas dilaksanakan selama empat kali pertemuan pada tanggal 4, 5, 6, dan 8 April 2013 di kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta.

45 Durasi waktu uji coba lapangan setiap pertemuan adalah 60 menit. Pelaksanaan uji coba lapangan dengan alat peraga dilakukan setelah pelajaran selesai atau sepulang sekolah. Pada pertemuan sebelumnya, peneliti telah memberikan pretest pada siswa. Pembelajaran setiap pertemuan selalu dimulai dengan pengenalan materi oleh peneliti yang bertindak sebagai direktris. Selanjutnya, setiap siswa melakukan latihan menggunakan alat peraga secara mandiri dan siswa yang lainnya bertindak sebagai pengamat. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengamati hal-hal menarik yang terjadi. Pertama, peneliti mendapati adanya perbedaan tingkat pemahaman siswa, ada yang bisa memahami materi dengan satu kali latihan dan ada pula yang harus melakukan latihan berulang kali sampai paham. Sadar akan perbedaan itu, peneliti pun mengambil langkah untuk membantu siswa tersebut dengan cara meminta teman yang sudah bisa untuk menjadi tutor sebayanya. Siswa memerlukan latihan berkali-kali untuk mengembangkan potensinya dalam rangka memperluas pengetahuannya atas dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya (Montessori, 2002:352). Kedua, ketika siswa sedang berlatih dengan alat peraga, peran peneliti sebagai direktris pun perlahan mulai “hilang”. Siswa “asyik” belajar sendiri tanpa menghiraukan keberadaan peneliti. Hal ini menurut Montessori menunjukkan bahwa siswa sedang memusatkan perhatiannya untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru dari lingkungan sekitarnya (Montessori, 2002:346). Ketiga, peneliti melihat bahwa siswa termotivasi untuk terus belajar. Hal tersebut tampak ketika siswa menginginkan tambahan soal untuk latihan. Setelah pembelajaran dengan alat peraga selesai dilaksanakan, peneliti memberikan posttest pada siswa. Dokumentasi uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga papan bilangan bulat dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 78.

4.4.5.1Data Hasil Kuesioner

Bentuk kuesioner uji coba lapangan terbatas mengadopsi skala Likert (1-5) dan terdiri dari sepuluh pernyataan. Pengisian kuesioner dilaksanakan setelah empat kali pembelajaran dengan alat peraga papan bilangan bulat. Beberapa aspek yang dinilai adalah (1) kemenarikan alat peraga, (2) gradasi alat peraga, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual. Berdasarkan kuesioner yang

46 telah diisi oleh siswa, produk pengembangan berupa alat peraga papan bilangan bulat memperoleh skor 4,9 dengan kategori “sangat baik” dengan alasan alat peraga yang dikembangkan sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, mengandung auto correction, auto education, dan kontekstual. Rekapitulasi hasil kuesioner uji coba lapangan terbatas dapat dilihat pada lampiran 4.3 halaman 75.

4.4.5.2Data Hasil Tes

Selain melakukan validasi produk, peneliti juga memberikan tes terhadap lima siswa yang mempunyai nilai di bawah KKM. Peneliti membagi tes berdasarkan waktu pelaksanaannya yaitu pretest dan posttest. Bentuk soal tes adalah isian singkat dengan jumlah soal sebanyak 20. Penyusunan soal tes sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Soal untuk tes berbeda dengan soal yang terdapat pada kartu dan tidak dilatihkan pada siswa ketika pembelajaran dengan alat peraga papan bilangan bulat berlangsung. Penggunaan tes dalam penelitian ini bertujuan agar peneliti dapat mengetahui pengaruh alat peraga Montessori terhadap hasil posttest siswa setelah mengikuti uji coba. Selama posttest berlangsung, peneliti mendapati bahwa siswa memiliki pola berpikir sesuai dengan alur ketika melakukan uji coba dengan menggunakan alat peraga. Misalnya pada soal 12 – (-6) analoginya siswa membayangkan ada 12 batu positif di papan, tetapi tidak ada batu negatif yang bisa dikurangi, jadi harus ditambahkan lawannya sebagai pasangan. Setelah itu siswa baru bisa melakukan pengurangan. Hal tersebut tampak pada kertas buram yang digunakan siswa untuk menulis cara mengerjakan soal. Hasil pretest dan posttest dapat dilihat pada lampiran 3.4 dan 3.5 halaman 71 dan 72.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pretest dan Posttest

No Nama Siswa Pretest Posttest

1. V 30 100 2. Y 35 100 3. C 60 100 4. D 25 100 5. A 35 100 Rata-rata 37 100 Persentase Kenaikan 170,27%

47 Berdasarkan hasil validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru matematika kelas IVA serta hasil uji coba lapangan terbatas pada lima siswa kelas IVA SDN Tamanan 1, dapat disimpulkan bahwa produk alat peraga Montessori dan album pembelajaran dinilai sudah memenuhi kriteria kelayakan. Produk penelitian memperoleh rata-rata skor 4,65 dengan kategori “sangat baik” digunakan dalam pembelajaran matematika khususnya untuk operasi hitung pada bilangan bulat. Berikut ini adalah tabel perolehan skor validasi produk.

Tabel 4.6 Perolehan Skor Validasi Produk

No Penilaian Skor Kategori

1. Pakar pembelajaran matematika 4,7 “Sangat Baik”

2. Pakar alat peraga matematika 4,3 “Sangat Baik”

3. Guru matematika kelas IVA 4,7 “Sangat Baik”

4. Siswa kelas IVA 4,9 “Sangat Baik”

Jumlah skor 18,6 Rerata skor 4,65

Kategori “Sangat Baik”

Pada validasi produk, pakar pembelajaran matematika memberikan skor 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Pakar alat peraga matematika memberikan skor 4,3 dengan kategori “sangat baik”. Guru matematika kelas IVA SDN Tamanan 1 memberikan skor 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Pada uji coba

Dokumen terkait