BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.4 Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang metode Montessori dilakukan oleh Rathunde (2003), Manner (2006), dan Lillard (2006) yang dipaparkan sebagai berikut.
Rathunde (2003) meneliti perbandingan antara sekolah menengah Montessori dengan tradisional dalam hal motivasi, kualitas pengalaman, dan konteks sosial. Ada tiga hubungan penting antara pendidikan Montessori dengan teori pengalaman yang optimal: (1) orientasi terhadap pengalaman, (2) konteks pengalaman yang diperhatikan, dan (3) sikap alamiah manusia yang merayakan motivasi intrinsik anak. Siswa di sekolah menengah Montessori memperlihatkan adanya pengalaman dan motivasi yang lebih positif dibandingkan dengan siswa dari sekolah menengah tradisional. Kecenderungan kebijakan pendidikan saat ini hanya menekankan prestasi belajar siswa tanpa banyak memperhatikan kualitas pengalaman yang diperoleh siswa. Gangguan konsistensi siswa di sekolah
14 menengah sebenarnya merupakan penurunan motivasi intrinsik siswa untuk belajar. Sebagian besar peneliti sekarang ini percaya bahwa perubahan negatif yang sering terjadi di sekolah menengah merupakan hasil dari ketidaksesuaian antara lingkungan belajar yang disiapkan tersedia di sekolah dengan kebutuhan perkembangan seorang remaja. Larut dalam suasana belajar merupakan bentuk nyata motivasi intrinsik siswa, fokus pada tugas menyatakan karakteristik siswa yang mempunyai konsentrasi penuh, dan merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat. Montessori percaya bahwa konsentrasi spontan anak merupakan sifat alamiah manusia. Anak-anak tidak hanya dapat bekerja dengan serius, namun mereka juga memiliki kekuatan konsentrasi yang besar. Konsentrasi menyerap semua energi psikis sehingga anak benar-benar dapat mengabaikan semua yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu, sekolah harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung terciptanya konsentrasi siswa. Dengan demikian, siswa bisa belajar dengan serius dan menyenangkan pada saat yang sama.
Manner (2006) membandingkan pencapaian akademis sekolah Montessori dengan sekolah tradisional. Dia menguji hubungan antara pendidikan berbasis Montessori yang ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Stanford dalam aspek membaca dan matematika jika dibandingkan dengan skor yang sama di sekolah tradisional. Pengukuran dilakukan secara berulang dengan desain yang tetap selama periode waktu tiga tahun. Hasil dari penelitian ini, pada tahun yang pertama tentu saja tidak ada perbedaan antara kelompok Montessori dengan kelompok tradisional. Perbedaan yang signifikan muncul pada tahun kedua dan ketiga yang menunjukkan bahwa program Montessori memberikan hasil yang unggul untuk aspek membaca. Pada aspek matematika merupakan sebuah tantangan dalam interpretasi, walaupun rata-rata kelompok Montessori jauh mengungguli rata-rata kelompok tradisional pada tahun kedua dan ketiga dengan kesenjangan yang meningkat. Penelitian ini memberikan kontribusi dasar tentang pencapaian akademis dalam pendidikan Montessori jika dibandingkan dengan program tradisional karena menegaskan bahwa prestasi membaca meningkat seperti yang telah ditemukan oleh penulis yang lain pada penelitian terdahulu. Dalam penelitian ini, siswa Montessori memperlihatkan peningkatan aspek
15 matematika ketika dibandingkan dengan kelompok tradisional lebih banyak sehingga pendapat mungkin dibuat dalam rangka mendukung kelanjutan pengumpulan data untuk mengobservasi apakah kenaikan akan mencerminkan perbedaan yang signifikan dalam pengamatan selanjutnya.
Lillard (2006) menganalisis perbandingan kemampuan akademis dan sosial antara sekolah Montessori dengan program pendidikan dasar pada sekolah lainnya. Lillard mengevaluasi efek sosial dan akademis pendidikan Montessori. Anak yang diamati terdiri dari rentangan umur 3-6 tahun dan 6-9 tahun. Sekolah Montessori yang menjadi objek penelitian berlokasi di Milwaukee, Wisconsin yang merupakan lokasi pinggiran bagi anak-anak. Kelompok kontrol diambil dari 27 sekolah negeri dan 12 sekolah swasta yang terdiri 53 siswa. Mayoritas dari sekolah negeri telah menetapkan program khusus, seperti kurikulum akselerasi, pendalaman bahasa, seni, dan studi penemuan. Anak dari kedua kelompok tersebut mendapatkan tes untuk kemampuan kognitif dan sosial. hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya keuntungan yang signifikan untuk kelompok montessori dibandingkan dengan kelompok kontrol sesuai dengan pembagian kelompok usia. Berdasarkan hasil analisis rerata perbandingan kemampuan akademis dan sosial pada kelompok usia 5 tahun dengan z-score, kelompok montessori mempunyai kemampuan akademis di atas rata-rata mengungguli kelompok kontrol, sedangkan kelompok kontrol mempunyai kemampuan akademis di bawah rata-rata. Pada aspek kekerasan dalam permainan, kelompok montessori mempunyai nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis rerata perbandingan kemampuan akademis dan sosial pada kelompok usia 12 tahun dengan z-score menunjukkan bahwa kelompok montessori mempunyai kemampuan struktur yang baik, penulisan cerita yang kreatif, dan strategi yang baik di atas rata-rata mengungguli kelompok kontrol.
2.1.4.2Penelitian tentang Alat Peraga Matematika untuk Keterampilan Berhitung
Penelitian tentang alat peraga matematika untuk keterampilan berhitung dilakukan oleh Aripiyah (2005), Miyarso (2011), dan Sugiarni (2012) yang dipaparkan sebagai berikut.
16 Aripiyah (2005) meneliti peningkatan prestasi belajar matematika dengan bantuan alat peraga benda konkret. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas III semester I SD Bulakpacing 02 Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal khususnya dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret, agar nilai yang dihasilkan dapat memenuhi syarat ketuntasan belajar. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pada siklus I siswa yang tuntas belajar sejumlah 14 siswa (58,3%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 10 siswa (41,7%) dengan nilai rata-rata kelas 6,2 dan daya serap 61,7%. Hasil pada siklus II siswa yang tuntas belajar sejumlah 17 siswa (70,8%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 7 siswa (29,2%) dengan nilai rata-rata kelas 7,3 dan daya serap 73,3%. Sedangkan hasil pada siklus III jumlah siswa yang tuntas belajar 21 siswa (87,5%) dan yang tidak tuntas belajar sejumlah 3 (12,5%) siswa dengan nilai rata-rata kelas 8,8 dengan daya serap 87,9%. Karena sudah memenuhi indikator keberhasilan bahkan sampai melebihi dari nilai yang peneliti targetkan, maka penelitian ini dihentikan pada siklus III. Simpulan yang dapat diambil adalah bahwa penggunaan alat peraga benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi pecahan pada kelas III SD Negeri Bulakpacing 02 semester I Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal tahun pelajaran 2005/2006 dengan tingkat partisipasi siswa yang cukup menggembirakan serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan model pembelajaran.
Miyarso (2011) meneliti pengembangan alat peraga timbangan untuk mengoptimalkan belajar hitung bagi siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga timbangan matematis guna mengoptimalkan belajar operasi hitung pada siswa kelas rendah di SD Ndaleman, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah prototipe produk timbangan matematis dengan kelebihan desain tampilan yang menarik dan sederhana. Produk ini memungkinkan guru menggunakan alat peraga dengan memadukan pelajaran lain yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam melaksanakan pembelajaran terpadu secara tematis.
Sugiarni (2012) meneliti peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran.
17 Penelitian ini memanfaatkan media dan alat peraga dalam pembelajaran Matematika pada materi operasi hitung campuran. Simpulan pada penelitian ini pertama pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan cukup baik, dengan nilai 3,6 (skala 1-5) pada siklus I dan meningkat menjadi baik, dengan nilai 4,4 (skala 1-5) pada siklus II. Kedua prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 50,70) sebelum perbaikan pembelajaran menjadi sedang (nilai 60,50) pada perbaikan siklus I dan baik (nilai 83,50) pada siklus II. Ketiga prestasi belajar meningkat melalui aktivitas–aktivitas pemberian apersepsi yang menarik melalui tanya jawab interaktif, pelibatan siswa dalam demonstrasi, pengaktifan siswa dalam tanya jawab, pengaktifan siswa dalam latihan pengerjaan soal, dan pemanfaatan alat peraga yang memadai.
Sejauh eksplorasi literatur yang relevan dengan penelitian ini, belum ada satu pun yang memuat penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori untuk pelajaran Matematika SD. Selama ini penelitian yang dilakukan hanya bersifat kuantitatif dengan menekankan aspek peningkatan hasil belajar siswa, sedangkan penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang sama dengan penelitian ini yakni penggunaan metode Montessori dalam pembelajaran dan penggunaan alat peraga untuk kemampuan berhitung matematika. Jadi, penelitian ini memberikan kontribusi baru yang penting untuk pendidikan di SD tentang penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori untuk melatih kemampuan berhitung matematika.
18 Bagan 2.1 Literature Map dari Penelitian-penelitian Terdahulu