HASIL DAN PEMBAHASAN
DATA DAN ANALISIS Aspek Legal
Aspek ini merupakan yang pertama dianalisis untuk melihat dan menentukan batas legal serta menentukan perencanaan Pulau Berhala Serdang Bedagai sebagai Pulau Kecil Terluar (PKT). Aspek legal diperlukan karena tapak berada pada daerah perbatasan negara sehingga segala bentuk perencanaan yang akan dikembangkan dipulau ini harus sesuai dengan undang-undang ataupun peraturan yang ada.
Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005 yang dimaksud dengan pulau kecil terluar adalah pulau dengan luas areal kurang atau sama dengan 2000 km2 (dua ribu kilometer persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum internasional dan nasional. Pulau-pulau Kecil Terluar (PKT) sebagaimana dimaksud dan koordinat titik terluarnya adalah sebagaiman yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden.
Berdasarkan peraturan tersebut, sudah dinyatakan (lampiran 1 no 85) bahwa Pulau Berhala Serdang Bedagai termasuk salah satu dari pulau-pulau kecil terluar yang terdapat di Indonesia. Sebagai salah satu PKT di Indonesia, segala bentuk jenis perencanaan dan pengelolaan terkait pulau ini harus mengacu pada undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku, salah satunya adalah Perpres No 78 tahun 2005. Pada Bab II Perpres No 78 tahun 2005 mengenai tujuan dan prinsip pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, dituliskan bahwa pengelolaan pulau-pulau terkecil dilakukan dengan tujuan:
1. menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan, 2. memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang
berkelanjutan, dan
3. memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan Dengan prinsip pengelolaan pulau-pulau kecil terluar sebagai berikut : a. Wawasan Nusantara
b. Berkelanjutan c. Berbasis Masyarakat
Berdasarkan peraturan ini jelas dituliskan dalam proses perencanaan Pulau Berhala Serdang Bedagai ini harus bertujuan untuk keamanan dan pertahanan negara, serta memanfaatkan sumberdaya daya alam secara bijak agar lingkungan pulau tetap berkelanjutan dan melibatkan peran serta masyarakat sekitar, dalam hal ini adalah masyarakat Kecamatan Tanjung Beringin. Dalam pasal 4 ditulis bahwa Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar mengacu pada RTRW, ini artinya bentuk pengelolaan dan perencanaan Pulau Berhala Serdang Bedagai harus masuk dalam RTRW yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Serdang Bedagai.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 62/2010
Peraturan lain yang terkait dengan Pulau Berhala Serdang Bedagai adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 62 tahun 2010 tentang pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT). Pada Bab II pasal 2, telah disebutkan bahwa
pemanfaatan PPKT dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan pemerintah daerah (pasal 1), dan pemanfaatan PPKT ditujukan untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (pasal 2).
Pada pasal 5 ayat (1) telah jelas ditulis bahwa pemanfaatan PPKT hanya dapat dilakukan untuk pertahanan dan keamanan, kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan. Selanjutnya, mengenai penjabaran dan penjelasan mengenai ketiga pemanfaatn PPKT tersebut dijabarkan pada Tabel 9.
Tabel 9 Pemanfaatan dan penjabaran PPKT berdasarkan UU No 62/2010
Pemanfaatan Penjabaran Pasal
Pertahanan dan keamanan
a. Akselerasi proses penyelesaian batas wilayah negara di laut
Pasal 6 b. Penempatan pos pertahanan, pos
keamanan, dan pos lain
c. Penempatan aparat Tentara Nasional Indonesia dan/atau Kepolisian Negara Republik Indonesia
d. Penempatan bangunan simbol negara dan/atau tanda batas negara
e. Penempatan sarana bantu navigasi pelayaran
f. Pengembangan potensi maritim lainnya
Kesejahteraan masyarakat
a. Usaha kelautan dan perikanan Pasal 7 b. Ekowisata bahari
c. Pendidikan dan penelitian d. Pertanian subsisten
e. Penempatan sarana dan prasarana sosial ekonomi
f. Industri jasa maritim Pelestarian
Lingkungan
a. Menetapkan PPKT sebagai kawasan yang dilindungi
Pasal 8 ayat (1) b. Kawasan yang dilindungi dapat
ditetapkan sebagian atau seluruhnya sebagai kawasan konservasi
Pasal 8 ayat (2)
c. Kawasan yang dilingungi dan kawasan konservasi ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 8 ayat (3)
Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa pada jenis pemanfaatan pertahanan dan keamanan, pemerintah telah melaksanakan semua poin-poin yang telah ditetapkan, mulai dari poin (a) hingga poin (e). Untuk poin (f) pemerintah melalui petugas yang berada dan bertugas di Pulau Berhala Serdang Bedagai, telah mengembangakan pengembangbiakan penyu hijau sebagai bentuk pengembangan potensi maritim lainnya. Berdasarkan jenis pemanfaatan kesejahteraan masyarakat poin (b), maka peluang pengembangan kawasan ekowisata bahari di Pulau
Berhala Serdang Bedagai diijinkan selama pemanfaatan tersebut tidak mengganggu pelestarian lingkungan.
Selain jenis pemanfaatan PPKT, dalam peraturan ini juga dituliskan mengenai peran serta masyarakat. Pada pasal 13 ayat (1) peran serta masyarakat dibagi dalam tiga kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan PPKT (Tabel 10).
Tabel 10 Peran serta masyarakat menurut UU No 62/2010
Kegiatan Peran Masyarakat Pasal
Perencanaan a.mengidentifikasi berbagai potensi dan masalah
Pasal 13 ayat (2) b.memberikan informasi dalam perencanaan
pemanfaatan PPKT
c.memberikan masukan dalam menentukan arah perencanaan PPKT
d.menyampaikan masukan/usulan terhadap rencana kegiatan pemanfataan PPKT Pelaksanaan a.memprioritaskan rencana yang telah
disepakati
Pasal 13 ayat (3) b.melakukan kegiatan pemanfaatan sumber
daya PPKT berdasarkan hukum adat yang tidak bertentangan dengan hukum nasional c.menjaga, memelihara, dan meningkatkan
efisiensi dan efektifitas, serta kelestarian fungsi lingkungan di PPKT
Pengawasan a.memberikan informasi atau laporan dalam pelaksanaan pemanfaatan PPKT
Pasal 13 ayat (4) b.menyampaikan laporan dan atau
pengaduan atas kerugian yang ditimbulkan berkaitan dengan pelaksanaan pemanfaatan c. melaporkan adanya pencemaran dan/atau
kerusakan PPKT yang merugikan kelestarian lingkungan
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa masyarakat memang dibutuhkan dalam pelestarian pulau-pulau terluar. Peran serta masyarakat harus bersambung sejak awal penetapan tujuan pengembangan kawasan pulau hingga pada pengawasan pulau.
Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 12 tahun 2006
Peraturan daerah ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden No 78 tahun 2005. Tujuan dan prinsip pengelolaan Pulau Berhala Serdang Bedagai yang dipaparkan pada peraturan ini sama seperti yang telah dijabarkan pada Peraturan Presiden No 78 tahun 2005. Bentuk pengelolaan dan pemanfaatan pulau juga seperti pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 62 tahun 2010. Pengelolaan lebih khusus terkait Pulau Berhala Serdang Bedagai disebutkan pada pasal 8 ayat (5) menuliskan bahwa pengelolaan pariwisata meliputi wisata bahari
dan wisata terestrial, penambahan pada pasal yang sama pada ayat (6) menuliskan bahwa pengelolaan konservasi dilakukan untuk melindungi biodiversity yang ada seperti terumbu karang dan penyu laut. Secara lebih rinci lagi, pemanfaatan Pulau Berhala Serdang Bedagai dibagi atas kegiatan konservasi, taman nasional laut, perikanan dan kelautan, wisata dan daerah singgah. Penjabaran dari pemanfaatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Pemanfaatan Pulau Berhala Serdang Bedagai berdasarkan Peraturan Perda No 12 tahun 2006 tentang pengelolaan Pulau Berhala Serdang Bedagai sebagai kawasan Eco-Marine Tourism
Jenis Pemanfaatan Penjabaran Pasal
Perikanan dan Kelautan a. Pengaturan daerah penangkapan ikan dan pelabuhan kapal
Pasal 9 ayat (2) b. Tidak boleh melakukan
penangkapan ikan dengan alat apapun dan melabuhkan jangkar pada radius 1 mil laut
Eco-Tourism a. Tingkat pembangunan secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung.
Pasal 9 ayat (3)
b. Kegiatan yang dapat dilakukan di Pulau Berhala Serdang Bedagai adalah memancing, snorkling, kayaking, menyelam, mendaki
Daerah Persinggahan a. Dapat dijadikan sebagai daerah persinggahan atau tempat labuh kapal dengan ketentuan tidak boleh melabuhkan jangkar pada daerah terumbu karang dan tidak boleh membuang air ballase serta alat tangkap ikan yang rusak di daerah terumbu karang.
Pasal 9 ayat (4)
Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa salah satu bentuk pemanfaatan Pulau Berhala Serdang Bedagai adalah Ecotourism atau lebih dikenal ekowisata. Jenis ekowisata yang dikembangkan adalah eco marine tourism (wisata bahari berwawasan lingkungan), oleh karena itu perencanaan ruang secara tepat diperlukan di Pulau Berhala Serdang Bedagai agar keberlangsungan ekosistem baik di darat ataupun di laut dapat terus berkelanjutan.
Hasil Analisis Aspek Legal Perencanaan
Berdasarkan hasil analisis dari peraturan-peraturan terkait Pulau Berhala Serdang Bedagai meliputi Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 62 tahun 2010 dan Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 12 tahun 2006, peraturan yang dinilai cukup siginifikan untuk menjadi acuan batas legal perencanaan ekowisata Pulau Berhala Serdang Bedagai adalah mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2005
karena pada peraturan tersebut menyebutkan definisi pulau kecil secara jelas dan definisi tersebut tetap dipakai pada peraturan turunannya.
Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa jenis pemanfaatan Pulau Berhala Serdang Bedagai yang dapat diterapkan dibagi atas tiga jenis pemanfaatan yaitu perikanan dan kelautan, ekowisata, dan daerah singgah. Artinya segala bentuk perencanaan yang akan dikembangkan harus mengacu pada pemanfaatan tersebut, bisa diterapkan dalam bentuk rencana ruang (zonasi) dan rencana aktivitas dengan tidak menghilangkan jenis pemanfaatan lain sebagai pertahanan dan keamanan negara sesuai dengan Tabel 11. Setelah mendapatkan batas legal dan arahan pengembangan pulau diketahui bahwa luas kawasan penelitian sebesar 46.75 Ha yang mencakup Pulau Berhala Serdang Bedagai dan Pulau Sokong Nenek dan Pulau Sokong Siembah.
Aspek Wisata Ketersediaan Objek dan Atraksi wisata
Pulau Berhala Serdang Bedagai memiliki bentuk pulau tropis yang khas. Pulau ini memiliki beberapa potensi keindahan alam yang indah. Dalam mengembangkan potensi tersebut, terlebih dahulu dilakukan analisis untuk menentukan dan mengetahui keberadaan objek-objek yang berada pada tapak. Tabel 12 menjelaskan beberapa potensi objek yang terdapat di Pulau Berhala Serdang Bedagai.
Tabel 12 Potensi objek alami di Pulau Berhala Serdang Bedagai
No Objek Daya Tarik
1 Pantai Warna air yang biru
Karang tepi yang terlihat di permukaan
Ikan-ikan kecil yang terlihat di atas permukaan dan saat snorkling
Ombak yang tidak terlalu kencang Kondisi perairan pantai yang bersih Penangkaran penyu
Warna pasir yang putih
Susunan batuan vulkanik yang unik 2 Tombolo Pasir yang putih
Waktu pasang surut yang sesuai dengan jam kunjung Menjadi jalan penghubung ke Pulau Sokong Nenek
saat surut
Karang yang mucul saat surut 3 Pulau Sokong
nenek
Kombinasi batuan vulkanik yang khas
Luas pulau yang kecil dapat dijelajahi dalam waktu singkat
Adanya kuburan tua yang menjadi asal usul nama pulau
Tabel 12 Potensi objek alami di Pulau Berhala Serdang Bedagai (lanjutan)
No Objek Daya Tarik
4 Pulau Sokong Siembang
Kondisi perairan yang baik
Karang tepi yang terlihat di permukaan
Pulau tidak boleh dikunjungi karena banyak ranjau Kombinasi batuan vulkanik yang mengelilingi pulau 5 Hutan Pulau
Berhala Serdang Bedagai
Topografi yang berbukit
Vegetasi hutan hujan tropis yang masih asri
Suara hewan hutan yang bersahutan ketika pagi hari Adanya tugu sebagai simbol negara
Adanya mercusuar untuk navigasi
Pandangan yang luas sejauh mata memandang di atas mercusuar
Persebaran objek wisata di Pulau Berhala Serdang Bedagai dapat dilihat pada Gambar 7. Terlihat pesebaran objek dominan berada diwilayah dekat pantai. Penilaian terhadap keberadaan objek dan atraksi wisata pada Pulau Berhala Serdang Bedagai dilaksanakan saat pengamatan pada tapak. Objek dan atraksi yang memiliki nilai tinggi dan sedang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata utama, namun pengembangannya harus mempertimbangkan tingkat kepekaan tapak. Hasil analisis potensi objek wisata dapat dilihat pada Tabel13.
Tabel 13 Analisis nilai potensi objek wisata Nama
Objek/Atraksi
Aspek
Skor Ket Pemanfaatan kawasan I II III IV V VI VII
Pantai 6 2 6 0 3 3 4 24 Sedang Objek Utama Tombolo 6 2 6 3 6 2 1 26 Sedang Objek Utama Pulau Sokong
Nenek 6 1 6 2 3 2 2 22 Sedang Objek Utama Pulau Sokong
Siembang 6 1 6 2 3 2 2 22 Sedang Objek Utama Hutan Pulau
Berhala Serdang
Bedagai 6 3 6 2 1 2 2 22 Sedang Objek Utama ket: I: keunikan II: kelangkaan III:keindahan IV:Seasonality V:Sensitifitas VI:Aksesibilitas VII:Fungsi sosial
Rendah : 7-18 Sedang : 19-30 Tinggi : 31-42
Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa semua objek/atraksi wisata yang ada di Pulau Berhala Serdang Bedagai tergolong sedang, hal ini disebabkan karena aksesibilitas menuju pulau yang masih sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama, lebih dari 2 jam. Objek dan Atraksi wisata yang memiliki nilai paling
tinggi terdapat pada Tombolo, yaitu tanggul pasir yang menghubungkan Pulau Berhala Serdang Bedagai sebagai pulau induk dengan Pulau Sokong Nenek.
Hasil Analisis Aspek Wisata
Berdasarkan hasil analisis aspek wisata, terdapat 5 objek/atraksi wisata yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata utama. Pemanfaatan objek wisata ini harus sesuai dengan daya dukung pulau begitu juga dengan jumlah sarana dan prasarana yang akan disediakan.
Kualitas Visual Lanskap
Secara keseluruhan Pulau Berhala Serdang Bedagai memiliki kualitas pandangan yang baik. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 7. Setiap sisi pulau dapat dinikmati keindahannya ketika pasang ataupun surut. Kombinasi ukuran batu vulkanik yang mengelilingi pulau menambah keindahan pulau. Kejernihan air laut saat pasang dan surut juga menambah keindahan pulau terluar sektor barat Indonesia ini. Titik tertinggi pulau yang berada di mercusuar dapat menjangkau semua pemandangan dipulau. Letaknya yang berada di tengah-tengan pulau memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan pandangan pulau sejauh 360o. Berada di mercusuar ini pula pengunjung bisa melihat pulau Sokong Seimbang yang sekarang tidak boleh didatangani karena terdapat ranjau didaratannya, dan apabila tidak ada awan ataupun asap, pengunjung dapat melihat negara Malaysia dari kejauhan.
Bad view ditemui pada beberapa batu besar yang terdapat di darmaga pulau. Vandalisme dari marinir dan pengunjung membuat daerah sekitar pos marinir terkesan jorok dan kotor padahal daerah ini merupakan gerbang utama dari setiap pengunjung yang datang ke pulau ini. Tumpukan sampah dari pengunjung ataupun yang terbawa ombak juga merusak keindahan pulau ini.
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
Gambar 7 Kondisi visual Pulau Berhala Serdang Bedagai (a) pandangan dari mercusuar, (b) pandangan ketika sore hari, (c) pandangan air laut, (d) tumpukan sampah, (e) vandalisme pengunjung, (f) tumpukan sampah yang terbawa ombak.
Ga mbar 8 S eb ara n obje k da n a tra ksi wi sa ta
Ga
mbar
9 Ku
ali
tas visual lanska
Aksesibilitas
Aksesibilitas menuju Pulau Berhala Serdang Bedagai termasuk mudah karena berada di jalur pelayaran yang ramai. Jarak Pulau Berhala Serdang Bedagai dengan kota Medan kurang lebih 100 km. Saat ini ada dua alternatif jalan ke Pulau Berhala Serdang Bedagai, alternatif pertama melalui Belawan, alternatif kedua melalui Tanjung Beringin. Alternatif Belawan saat ini khusus digunakan oleh dinas Angkatan Laut saja dan alternatif Serdang Bedagai digunakan oleh masyarakat umum. Jarak kedua jalur ini masih terlalu jauh dari kota Medan. Perlu ditambahkan alternatif pintu masuk lain menuju Pulau Berhala Serdang Bedagai. Salah satu pintu masuk menuju Pulau Berhala Serdang Bedagai yang cukup potensial dikembangkan adalah Pantai Cermin. Kedekatan jarak dengan kota Medan dan kepopuleran Pantai Cermin menjadi potensi untuk dijadikan sebagai salah satu pintu masuk baru Pulau Berhala Serdang Bedagai (Gambar 10).
Gambar 10 Aksesibilitas menuju Pulau Berhala Serdang Bedagai Transportasi laut menuju Pulau Berhala Serdang Bedagai dari Belawan-Medan menggunakan kapal motor memakan waktu tempuh sekitar 3–4 jam. Transportasi laut dari Tanjung Beringin ke Pulau Berhala Serdang Bedagai ± 4 jam bila menggunakan kapal nelayan tradisional.
Sejauh ini munculnya biro-biro perjalanan yang membuka trip ke Pulau Berhala Serdang Bedagai diakui Mahmud (pegawai Dinas Pariwisata Serdang Bedagai) adalah biro perjalanan yang tidak resmi. Hal ini disebabkan tidak ada aturan yang mengharuskan biro perjalanan untuk mendaftar ke Dinas Pariwisata. Belum ada peraturan lanjutan dari peraturan daerah Kabupaten Serdang Bedagai No 12 tahun 2006 yang mengatur sistematika pengelolaan Pulau Berhala Serdang Bedagai yang mengakibatkan munculnya biro-biro perjalanan mandiri. Tarif yang dikenakan beberapa biro perjalanan tersebut bervariatif mulai dari Rp 380 000-Rp 450 000 untuk wisata 2 hari satu malam, biaya tersebut sudah termasuk dengan biaya kebutuhan dasar seperti makan dan penginapan.
Aspek Sosial Potensi Pengunjung
Berdasarkan data dari dua agen biro perjalanan yang rutin mengadakan trip ke Pulau Berhala Serdang Bedagai diketahui jumlah pengunjung yang pernah pergi ke Pulau Berhala Serdang Bedagai pada tahun 2013 seperti pada Tabel 14.
Berdasarkan Tabel 14 diatas, diketahui bahwa jumlah pengunjung pada tahun 2013 adalah 713 orang. Bulan pengunjung terbanyak terjadi pada bulan Desember, hal ini disebabkan karena pada bulan tersebut terdapat banyak waktu libur.Menurut Liana (2014) salah satu agen travel pada saat diwawancara, lonjakan pengunjung terjadi pada saat libur sekolah, libur nasional, dan libur panjang (long weekend). Pada bulan biasa, waktu kunjungan para wisatawan biasanya terjadi pada saat weekend.
Tidak hanya waktu, jumlah pengunjung juga dipengaruhi oleh aturan yang ditetapkan oleh biro perjalanan sendiri. Seperti pada biro perjalanan 2, biro ini selalu membatasi jumlah wisatawannya hanya 30 orang. Hal ini disebabkan karena jumlah wisatawan yang ingin berkunjung harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pihak marinir yang menjaga pulau. Tindakan marinir ini sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, bahwa batas maksimal pengunjung adalah 100 orang.
Berdasarkan hasil wawancara kepada 30 pengunjung (Gambar 11). Diketahui bahwa sebagian besar (83%) pengunjung yang berasal dari Sumatera Utara dengan persentase 54% berasal dari Medan, 32% dari Tebing Tinggi, 7% dari Binjai dan 7% dari Serdang Bedagai. Tujuan mereka juga beragam, tetapi sebanyak 87% memang bertujuan untuk berwisata selebihnya ada yang untuk pendidikan (penelitian) dan adalah numpang berteduh, biasanya hal ini dilakukan oleh nelayan yang terjebak badai.
Gambar 11 Persentase asal daerah pengunjung Tabel 14 Jumlah pengunjung pada tahun 2013
Bulan (orang)
Total Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Travel 1 20 25 25 30 48 22 20 18 30 35 30 50 353 Travel 2 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 360 Jumlah 50 55 55 60 78 52 50 48 60 65 60 80 713 83% 4% 7% 3% 3%
Melihat jumlah pengunjung pada tahun 2013, maka Pulau Berhala Serdang Bedagai berpotensi untuk dijadikan sebagai daerah wisata baru. Sebanyak 97% reponden setuju jika pulau ini dikembangkan menjadi daerah ekowisata sebagai icon wisata baru di Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 77% responden mengetahui Pulau Berhala Serdang Bedagai dari temannya, sebanyak 10% responden mengetahui dari jenis promosi lain seperti brosur, pameran bazar dan sebagainya, sisanya mengetahui dari iklan dan internet. Oleh karena itu dibutuhkan strategi promosi yang lebih baik lagi, jika berencana untuk mengembangkan pulau ini menjadi icon wisata baru.
Persepsi dan Preferensi Pengunjung
Hasil survey menunjukkan kegiatan yang paling sering dilakukan wisatawan adalah snorkling (37%), fotografi (30%), tracking keliling pulau (13%) dan sisanya adalah menyelam ataupun duduk-duduk menikmati suasana yang ada. Menurut pengunjung, pulau ini memiliki daya tarik tersendiri yang menyebabkan mereka betah dan ingin mengunjungi pulau ini (Gambar 12).
Fasilitas di pulau ini banyak yang harus diperbaiki untuk mendukung kegiatan wisata. Fasilitas yang paling dibutuhkan menurut responden adalah transportasi laut, penginapan, perbaikan terhadap tangga menuju mercusuar, dan jumlah perahu karet untuk keliling pulau. Kegiatan wisata yang cocok dikembangkan antara lain menikmati pemandangan, tracking hutan tropis menuju mercusuar, snorkling, menyelam, melihat penyu bertelur pada waktu tertentu, dan mengelilingi perairan pantai ditemani anggota marinir.
Gambar 12 Objek yang menarik di Pulau Berhala Serdang Bedagai menurut responden
Pemerintah setempat dan masyarakat sekitar merupakan pihak yang harus bertanggung jawab apabila ingin melakukan pengembangan terhadap pulau ini. Sejauh ini sebanyak 80% responden menyatakan bahwa masyarakat setempat sudah mendukung kegiatan pariwisata yang ada. Kegiatan masyarakat setempat yang dirasa mendukung kegiatan pariwisata adalah penyediaan kapal menuju pulau, membuka restauran di pelabuhan Tebing Tinggi tempat wisatawan menunggu kapal. Namun peran masyarakat juga dapat ditambahkan lagi seperti menjual souvenir, penyewaan alat memancing, menyelam dan snorkling dan turut menjaga ekosistem pulau.
31%
14% 41%
14%
Hasil analisis aspek sosial
Berdasarkan hasil analisis dari jumlah dan preferensi pengunjung diketahui bahwa pulau ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Hal ini dapat dilihat dari tingginya minat jumlah pengunjung yang ingin berkunjung dan asal daerah pengunjung yang cukup beragam. Fasilitas yang ada diharapkan mampu dikembangkan lagi sesuai dengan daya dukung pulau. Fasilitas yang harus diperbaiki adalah transportasi menuju pulau yang dapat dikembangkan bersama masyarakat, penginapan, dan alat-alat kebutuhan wisata bahari lain yang dapat dikerjakan bersama masyarakat.
Aspek Ekologi Iklim
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Medan (2013) daerah sekitar Pulau Berhala Serdang Bedagai merupakan daerah hujan tropis. Intensitas hujan di Pulau Berhala Serdang Bedagai tergolong tinggi hal ini dikarenakan letak topografi pulau yang berada di tengah laut, sehingga faktor evapotranspirasi dari air laut dan vegetasi yang ada di pulau mempengaruhi intensitas hujan .
Grafik di bawah ini (Gambar 13) menunjukkan nilai rata-rata hujan bulanan periode 2013. Bulan Desember adalah bulan dengan intensitas hujan paling tinggi yaitu sebesar 488,6 mm. Sedangkan bulan Maret adalah bulan dengan intensitas hujan paling rendah sebesar 73.8 mm. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson, bulan basah adalah bulan dengan curah hujan >100mm, bulan lembab adalah bulan dengan curah hujan 60-100mm dan bulan kering adalah bulan dengan curah hujan <60 mm. Berdasarkan curah hujan bulanan daerah Pulau Berhala Serdang Bedagai pada tahun 2013, terdapat 3 bulan lembab dan 9 bulan basah. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan air untuk marinir dan pengunjung tercukupi sepajang tahun.
Kondisi suhu udara di Pulau Berhala Serdang Bedagai berkisar antara 26ºC-28ºC dan kelembapan udara berkisar antara 78%-89%. Berdasarkan perhitungan THI diperoleh nilai 26.43. Berdasarkan Laurie (1984) nilai THI yang dikategorikan nyaman adalah antara 21-27. Berdasarkan nilai THI yang didapatkan, ini berarti kondisi THI pulau mendekati ketidaknyamanan, sehingga perlu dilakukan modifikasi iklim mikro untuk meningkatkan kenyamanan dengan