Dalam tahun 2004—2009, guna meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik yang lengkap dan akurat, di samping program-program rutin kelembagaan, telah dilaksanakan langkah-langkah melalui Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik. Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik telah melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan kualitas data dan informasi statistik, yaitu:
1. Menyediakan secara berkelanjutan statistik dasar yang
berkualitas dalam bidang kesejahteraan rakyat, demografi, ekonomi, serta bidang lain baik yang bersifat sektoral dan lintas sektor, seperti kependudukan, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran melalui berbagai sensus, survei, studi, dan kompilasi catatan administrasi;
2. Memperbaiki dan menyempurnakan metodologi, pencacahan,
perumusan indikator, serta penyeragaman konsep;
3. Mengembangkan sistem informasi statistik secara
terus-menerus sesuai dengan perkembangan nasional dan internasional dalam bidang teknologi dan informasi baik yang dibutuhkan oleh pemerintah maupun masyarakat;
4. Mengembangkan metode penyelenggaraan statistik sesuai
dengan ragam statistik yang diperlukan;
5. Meningkatkan koordinasi antarinstansi pemerintah dalam
bidang statistik dalam hal penyeragaman konsep, definisi, perumusan indikator, serta hal-hal lainnya guna terciptanya sistem statistik nasional yang andal.
Kegiatan-kegiatan penting yang dilakukan dalam lima tahun terakhir adalah sebagai berikut. Dalam rangka meningkatkan efektivitas upaya penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan kegiatan pendataan sosial ekonomi (PSE) pada tahun 2005. Pada kegiatan PSE ini dilakukan pendataan rumah tangga sasaran (RTS) yang dapat menunjukkan identitas penduduk miskin yang dimaksud,
24 - 30
tempat tinggal, serta faktor yang mengakibatkan penduduk yang dimaksud sulit keluar dari garis kemiskinan. Informasi rumah tangga miskin tersebut diperbaharui pada tahun 2007 melalui Survei Pelayanan Dasar Kesehatan dan Pendidikan (SPDKP) 2007 serta Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 sebagai upaya menyediakan informasi dasar Program Keluarga Harapan (PKH). Dalam pendataan ini, dikembangkan informasi mengenai rumah tangga miskin dan sangat miskin yang menjadi target kelompok penerima bantuan PKH, yakni penerima bantuan bersyarat pendidikan dan pelayanan kesehatan. Program PKH dirancang untuk mempercepat penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dengan mengurangi kasus pekerja anak dan mempercepat pencapaian Millenium Development Goals (MDGs).
Untuk lebih mendapatkan gambaran dari perkembangan ekonomi yang lebih terperinci, pada tahun 2006 telah dilaksanakan Sensus Ekonomi (SE06). Sensus ini dilakukan melalui pendataan pada perusahaan, baik besar, sedang, kecil maupun mikro. Dari SE06 ini diperoleh gambaran jumlah dan komposisi kegiatan usaha di Indonesia menurut skala usaha. Hasil SE06, yang juga dilanjutkan dengan pendataan lebih terperinci yang berkaitan dengan aktivitas usaha, berguna bagi praktisi ekonomi dan bagi pemerintah, khususnya dalam mengambil kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
Pada tahun 2007 dilaksanakan Survei Biaya Hidup (SBH), yang merupakan pembaharuan tahun dasar bagi penyusunan inflasi nasional yang sebelumnya didasarkan pada tahun 2002. Pembaharuan ini dilakukan mengingat pola konsumsi masyarakat, seperti pemanfaatan teknologi informasi yang makin meluas, serta fluktuasi harga yang tajam selama periode tahun 2002 sampai 2007 telah mengalami perubahan. Cakupan kota yang menjadi lokasi pengamatan harga konsumen ditambah dengan sebelumnya 45 kota pengamatan menjadi 66 kota. Demikian juga cakupan komoditi, diperluas dari 744 jenis komoditi pada SBH 2002 menjadi 774 komoditi pada SBH 2007. Perubahan angka indeks juga dilakukan pada nilai tukar petani (NTP) serta upah buruh tani yang menggunakan tahun dasar 1993 menjadi tahun dasar 2007. Cakupan komoditas yang dimonitor NTP dengan tahun dasar baru diperluas,
24 - 31 sehingga daya beli petani lebih mencerminkan kemampuan yang sebenarnya.
Selanjutnya pada tahun 2008 dilaksanakan sensus potensi desa (podes) yang memberikan gambaran kondisi sosial-ekonomi desa, seperti fasilitas umum, infrastruktur desa, jumlah sekolah, puskemas, jumlah penduduk, bantuan yang diterima desa, dan lainnya. Di samping sebagai salah satu komponen penting dalam persiapan Sensus Penduduk 2010, yakni untuk menentukan klasifikasi desa perdesaan dan perkotaan, data potensi desa juga sangat bermanfaat untuk melihat tingkat kemajuan suatu desa.
Pada tahun 2009 dilakukan pendataan usaha tani (PUT) yang memberikan gambaran tentang nama dan alamat Petani Padi, Jagung, Kedelai dan Tebu (PJKT) di seluruh wilayah Indonesia. Dengan adanya database Rumah tangga Usaha Tani (RTUT) tanaman PJKT, kebijakan pemerintah di bidang pangan diharapkan lebih tepat sasaran. Secara khusus, database RTUT-PJKT dapat menjadi rujukan penyaluran subsidi pertanian, seperti pupuk, bibit unggul, dan obat-obatan.
Dalam mengakhiri RPJM 2004—2009 dilakukan persiapan pelaksanaan sensus penduduk (SP) 2010 yang pelaksanaannya direncanakan pada bulan Mei 2010. Selain memenuhi amanat UU No 16/1997 tentang Statistik, SP2010 juga merupakan agenda dunia yang direkomendasikan oleh PBB. Hasil sensus penduduk bermanfaat untuk menyediakan data-data dasar dalam mengevaluasi pencapaian MDG’s (Millenium Development Goals). Dengan adanya Sensus Penduduk 2010, informasi penduduk sampai wilayah terkecil, pada waktu tertentu (Mei 2010) dapat disajikan dengan lebih akurat.
Untuk mendukung peningkatan penyediaan data statistik dasar yang lengkap, akurat, dan tepat waktu telah dilaksanakan pengembangan sistem informasi untuk mengembangkan jaringan informasi statistik serta penguasaan teknologi, khususnya teknologi informasi dengan semakin beragamnya kebutuhan data statistik dan pesatnya kemajuan teknologi. Pengembangan sistem informasi dilaksanakan melalui berbagai kegiatan, antara lain, pengembangan dan penyusunan sistem publikasi elektronik dan internet,
24 - 32
peningkatan kuantitas dan kualitas metadata, penyusunan database dokumentasi statistik, penyempurnaan publikasi sistem sentralistik dinamik, penyempurnaan sistem pengolahan data terpadu, pengembangan layanan jaringan komunikasi data melalui akses
on-line, pengadaan peralatan dan rekayasa informatika, penyempurnaan
sistem informasi kepegawaian. Hingga tahun 2008 sudah tersedia 66 titik jaringan komunikasi data yang digunakan untuk mempercepat proses pengiriman data mentah, khususnya data harga untuk menyusun inflasi bulanan, dan juga sangat membantu proses publikasi bersama antara kantor pusat dan kantor-kantor di 33 provinsi.
III. TINDAK LANJUT YANG DIPERLUKAN A. Moneter
Inflasi berada dalam trend yang menurun sepanjang tahun 2009. Faktor utama yang menurunkan inflasi antara lain penurunan inflasi harga barang yang diimpor (imported inflation), termasuk bahan pangan pokok seperti gandum (tepung terigu) dan jagung, penurunan harga barang yang ditentukan pemerintah (administered
prices) seperti BBM, serta terjaganya pasokan dan harga bahan
pangan. Dengan perkembangan tersebut, inflasi dapat dijaga pada kisaran target yang ditetapkan. Meskipun demikian, perlu diwaspadai kemungkinan peningkatan inflasi yang didorong oleh meningkatnya harga komoditas internasional dan permintaan agregat yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang/jasa.
Untuk itu, pengendalian laju inflasi diupayakan melalui peningkatan dan pemantapan koordinasi otoritas fiskal, moneter dan keuangan serta sektor riil (produksi, perdagangan dalam negeri dan ekspor-impor), koordinasi kebijakan kerjasama luar negeri dan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur serta meningkatkan kapasitas dan peran aktif para pemangku kepentingan daerah dalam pengendalian stabilitas ekonomi di tingkat lokal/regional. Melalui kebijakan tersebut diharapkan laju inflasi dan stabilitas nilai tukar Rupiah dapat terjaga.
24 - 33