• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Hasil dan Pembahasan

5.1 Hasil penelitian

5.1.1 Data demografi

Responden pada penelitian ini adalah narapidana remaja dengan umur 12- 22 tahun, dan berada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Gusta Medan. Jumlah seluruh narapidana dalam penelitian ini adalah 76 orang.

Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas narapidana remaja berumur 19-22 tahun yaitu sebanyak 53 narapidana (69,7%), pendidikan sebagian besar narapidana remaja yaitu SMA sebanyak 29 narapidana (38,2%), berdasarkan karakteristik agama mayoritas narapidana remaja beragama Islam yaitu 56 narapidana (73,7%), sebagian besar narapidana remaja adalah suku batak yaitu 28 respponden (36,8%). Berdasarkan lama di LAPAS sebanyak 36 narapidana (48,0%) menyatakan mereka sudah berada di LAPAS selama 0-12 bulan, tindakan kriminal yang dilakukan mayoritas remaja adalah 25 narapidana (32,9%), sedangkan kegiatan yang dilakukan selama di LAPAS 38 narapidana

(50,0%) melakukan kegiatan olahraga. Hasil karakteristik narapidana dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik narapidana remaja di

LAPAS Anak di Tanjung Gusta Medan (n=76)

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Umur 12-15 tahun 16-18 tahun 19-22 tahun Pendidikan Terakhir SD SMP SMA Perguruan Tinggi Agama Islam K. Protestan K. Khatolik Budha Suku Batak Minang Jawa Melayu Lainnya ( Nias, Aceh) Lama di Lapas 0-12 bulan 13-24 bulan 25-36 bulan 37-48 bulan 49> bulan 4 19 53 18 27 29 2 56 18 1 1 28 5 27 9 7 36 30 5 2 3 5,3 25,0 69,7 23,7 35,5 38,2 2,6 73,7 23,7 1,3 1,3 36,8 6,6 35,5 11,8 9,2 47,4 39,5 6,6 2,6 3,9

Tabel 5.1. (sambungan)

Kararkteristik Frekuensi Persentase (%)

Tindakan Kriminal Pengedar Narkoba Pemakai Narkoba Mencuri Asusila Membunuh Lainnya ( Penggelapan, berkelahi)

Kegiatan yang dilakukan Olahraga

Keagamaan

Olahraga dan Keagamaan Sekolah Semua Kegiatan 9 13 25 11 6 12 38 13 17 2 6 11,8 17,1 32,9 14,5 7,9 15,8 50,0 17,1 22,4 2,6 7,9

5.1.2. Gambaran Konsep Diri Narapidana Remaja di Lembaga

Pemasyarakatan (LAPAS) Anak Tanjung Gusta Meda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana dengan konsep diri positif yaitu 73 narapidana (96,1%). Hasil tingkatan konsep diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.2 dibawah ini.

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase tingkatan konsep diri narapidana

remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Gambaran Konsep Diri Frekuensi Persentase (%)

Konsep Diri Positif Negatif 73 3 96,1 3,9

5.1.3. Gambaran Diri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana dengan gambaran diri positif yaitu 60 narapidana (78,9%). Hasil tingkatan gambaran diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.3 dibawah ini.

5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkatan Gambaran Diri

Narapidana Remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Pernyataan Frekuensi Persentase %

Gambaran Diri Positif Negatif 60 16 78,9 21,1

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 narapidana (51,2%) menyatakan mereka malu dengan kondisi tubuhnya saat ini ketika berjumpa dengan orang lain, 49 narapidana (64,5%) menyatakan mereka menyukai bentuk tubuhnya saaat ini, 68 narapidana (89%) menyatakan mereka mampu melakukan sesuatu dengan baik dengan keadaan tubuhnya saat ini, 39 narapidana (51,3%) menyatakan mereka bosan dengan penampilan berpakaiannya saat ini, 74 narapidana menyatakan mereka menerima setiap bagian tubuhnya ini sebagai anugrah dari Tuhan, yang harus dijaga dan dipergunakan dengan baik. Hasil pernyataan gambaran diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.4

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi dan persentase gambaran diri narapidana remaja

di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

No Pernyataan Ya

n(%)

Tidak

n(%)

1 Saya malu dengan kondisi tubuh saya saat ini ketika berjumpa dengan orang lain

39(51,2) 37(48,7)

2 Saya menyukai bentuk tubuh saya saat ini 49(64,5) 27(35,5)

3 Saya mampu melakukan sesuatu dengan baik dengan keadaan tubuh saya saat ini

68(89,5) 8(10,5)

4 Saya bosan dengan penampilan berpakaian saya saat ini

39(51,3) 37(48,7)

5 Saya menerima setiap bagian tubuh saya ini sebagai anugrah dari Tuhan, yang harus dijaga dan dipergunakan dengan baik

74(97,4) 2(2,6)

5.1.4. Ideal Diri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana dengan ideal diri realistis yaitu 72 narapidana (94,7%). Hasil tingkatan ideal diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.5 dibawah ini.

5.5 Distribusi frekuensi dan persentase tingkatan gambaran diri narapidana remaja

di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Pernyataan Frekuensi Persentase (%)

Ideal Diri Realistis Tidak Realistis 72 4 94,7 5,3

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 38 narapidana (50,0%) menyatakan mereka peduli dengan masa depannya, 47 narapidana (61,8%) menyatakan mereka peduli bertentangan perbuatan yang mereka lakukan sesuai norma masyarakat, 76 narapidana (100%) menyatakan mereka berharap dapat menjaga sikap selama menghuni LAPAS ini, 74 narapidana (97,4%) menyatakan mereka berharap ini terakhir kalinya dihukum di LAPAS, 69 narapidana (90,8%) menyatakan mereka berharap diterima oleh masyarakat dilingkungannya setelah keluar dari LAPAS. Hasil pernyataan Ideal Diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawah ini

Tabel 5.6. Distribusi frekuensi dan persentase ideal diri narapidana remaja di

LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

No Pernyataan Ya n(%) Tidak n(%) 1 2 3 4 5

Saya acuh dengan masa depan saya

Saya tidak peduli bertentangan perbuatan yang saya lakukan sesuai norma masyarakat

Saya berharap dapat menjaga sikap selama menghuni LAPAS

Saya berharap ini terakhir kali saya dihukum di LAPAS

Saya berharap diterima oleh masyarakat di lingkungan saya setelah keluar dari LAPAS

38(50,0) 47(61,8) 76(100) 74(97,4) 69(90,8) 38(50,0) 29(38,2) 0(0) 2(2,6) 7(9,2)

5.1.5. Harga Diri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa mayoritas narapidana dengan harga diri tinggi yaitu 37 narapidana (48,7%). Hasil Tingkatan Harga Diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.7 dibawah ini.

5.7. Distribusi frekuensi dan persentase tingkatan harga diri narapidana

remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Pernyataan Frekuensi Persentase %

Harga Diri Tinggi Rendah 37 39 48,7 51,3

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 62 narapidana (81,6%) menyatakan mereka merasa hidup ini penuh dengan kesalahan, 55 narapidana (72,4%) menyatakan mereka malu kalau orang lain mengetahuinya berada di LAPAS, 68 narapidana (81,6%) menyatakan mereka mempunyai banyak teman di LAPAS yang dapat dijadikan sahabat, baik dalam suka maupun duka, 45 narapidana (59,2%) mereka menyatakan keluarganya enggan datang mengunjunginya di LAPAS, 56 narapidana (73,7%) menyatakan mereka merasa hidup ini tidak berguna lagi. Hasil pernyataan harga diri narapidana dapat dilihat pada tabel 5.8

Tabel 5.8. Distribusi frekuensi dan persentase harga diri narapidana remaja di

LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

No Pernyataan Ya

n(%)

Tidak

n(%)

1 Saya merasa hidup ini penuh dengan kesalahan 62(81,6) 14(18,4)

2 Saya malu kalau orang lain mengetahui saya berada di LAPAS

55(72,4) 21(27,6)

3 Saya mempunyai banyak teman di LAPAS yang

dapat dijadikan sahabat, baik dalam keadaan suka maupun duka

68(89,5) 8(10,5)

4 Keluarga saya enggan datang mengunjungi saya di LAPAS

45(59,2) 31(40,8)

5 Saya merasa hidup ini tidak berguna lagi 56(73,7) 20(26,3)

5.1.6. Peran

Hasil penelitian penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana dengan kepuasan peran yaitu 72 narapidana (94,7%). Hasil Tingkatan Peran narapidana dapat dilihat pada tabel 5.9 dibawah ini.

Tabel 5.9. Distribusi frekuensi dan persentase peran narapidana remaja di

LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Pernyataan Frekuensi Persentase (%)

Peran Kepuasan Peran Ketidakpuasan Peran 72 4 94,7 5,3

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 69 narapidana (90,8%) menyatakan mereka selalu ikut serta dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang di adakan di LAPAS, 43 narapidana (56,6%) menyatakan mereka dapat menyesuaikan diri denngan lingkungan LAPAS, 73 narapidana (96,1%) menyatakan mereka membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongannya, 71 narapidana (93,4%) menyatakan mereka patuh terhadap peraturan yang diterapkan di LAPAS, 44 narapidana (57,9%) menyatakan mereka merasa terhambat melakukan sesuatu hal selama di dalam LAPAS. Hasil pernyataan peran narapidana dapat dilihat pada tabel 6.0 dibawah ini.

Tabel 6.0. Distribusi frekuensi dan persentase peran narapidana remaja di

LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

No Pernyataan Ya

n(%)

Tidak

n(%)

1 Saya selalu ikut serta dalam mengikuti kegitan- kegiatan yang di adakan di LAPAS

69(90,8) 7(9,2)

2 Saya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan LAPAS

33(43,3) 43(56,6)

3

4

5

Saya membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan saya

Saya patuh terhadap peraturan yang diterapkan di LAPAS

Saya merasa terhambat melakukan sesuatu hal selama di LAPAS 73(96,1) 71(93,4) 32(42,1) 3(3,9) 5(6,6) 44(57,9)

5.1.7. Identitas Diri

Hasil penelitian penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana dengan kejelasan identitas yaitu 75 narapidana (98,7%). Hasil tingkatan harga diri narapidana dapat dilihat pada tabel 6.1 dibawah ini

Tabel 6.1. Distribusi frekuensi dan persentase peran narapidana remaja di LAPAS

Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

Pernyataan Frekuensi Persentase (%)

Identitas Diri Kejelasan Identitas Ketidakjelasan Identitas 75 1 98,7 1,3

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 53 narapidana (69,7%) menyatakan mereka mampu hidup mandiri tanpa bergantung kepada keluarga lagi, 61 narapidana (80,3%) menyatakan mereka merasa terbebani selama berada di LAPAS, 73 narapidana (96,1%) menyatakan mereka mencoba memperbaiki perbuatannya menjadi lebih baik lagi, dan 75 narapidana (98,7%) menyatakan menerima hukuman yang diberikan atas perbuatannya selama di LAPAS. Hasil pernyataan Identitas Diri narapidana dapat dilihat pada tabel 6.2

Tabel 6.2. Distribusi frekuensi dan persentase tingkatan identitas diri narapidana

remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan (n=76)

No Pernyataan Ya n(%) Tidak n(%) 1 2 3 4 5

Saya mampu hidup mandiri tanpa bergantung kepada keluarga lagi

Saya merasa terbebani selama saya berada di LAPAS

Orangtua saya tetap menganggap saya sebagai anak, walau saya berada di LAPAS

Saya akan mencoba memeperbaiki perbuatan saya menjadi lebih baik

Saya menerima hukuman yang diberikan atas perbuatan saya selama saya di LAPAS

53(69,7) 61(80,3) 70(92,1) 73(96,1) 75(98,7) 23(30,3) 15(19,7) 6(7,9) 3(3,9) 1(1,3) 5.2. Pembahasan 5.2.1. Konsep diri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73 narapidana (96,1%) gambaran konsep diri narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan adalah Positif. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Iswardani (2006) terhadap 50 orang remaja di LAPAS Anak Tangerang bahwa 88% narapidana remaja yang berada di LAPAS Anak Tangerang memiliki konsep diri negatif.

Hal ini dikarenakan mayoritas usia narapidana remaja berusia 19-22 tahun dimana usia tersebut dalam kategori remaja akhir. Berbeda dengan hasil penelitian

Iswardani dimana mayoritas usia narapidana remaja yang diteliti dalam kategori remaja awal. Kartono (1990) menyatakan remaja akhir merupakan masa remaja yang mantap dan stabil. Sebagian besar narapidana remaja sudah menyesali perbuataanya dan ingin memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Wilujeng (2012) menyatakan bahwa konsep diri yang dimiliki masing- masing oleh anak yang berkonflik dengan hukum berbeda antara yang satu dengan yang lain. Berdasarkan hasil penelitian didapakan mayoritas narapidana melakukan tindak kriminal mencuri. Berberapa narapidana menyesali perbuatan yang telah mereka perbuat, hal ini sesuai dengan penjelasan salah satu narapidana yang mengatakan terpaksa melakukan perbuatan mencuri akibat kebutuhan hidup yang mendesak dan ia tidak mampu memenuhinya dengan penghasilan yang dimiliki. Perbuatan mencuri dengan alasan terpaksa merupakan citra mental yang lemah dalam berkepribadian.

Hal ini sesuai dengan teori Potter & Perry (2005) menyatakan bahwa konsep diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.

5.2.2. Gambaran Diri

Berdasarkan hasil penelitian, gambaran diri narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan termasuk memiliki gambaran diri yang positif sebanyak 72 narapidana (94,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Siregar (2008) terhadap 31 narapidana tentang gambaran diri

narapidana remaja dengan hasil penelitian menunujukkan mayoritas narapidana memiliki gambaran diri yang positif yaitu sebanyak 24 narapidana (77,4%).

Hal ini dikarenakan mayoritas narapidana pada saat di observasi memiliki kepedulian terhadap bentuk tubunya, dimana mereka memakai pakaian yang bersih dan rapi, menjaga tubuh mereka agar tetap sehat seperti mandi dan olahraga. Hal ini menunjukkan bahwa narapidana memiliki gambaran diri yang positif. Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan, dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang berkesinambungan di modifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen, 1998).

Candrasari (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa gambaran diri dapat bersifat positif maupun negatif. Gambaran diri yang positif terjadi apabila remaja dapat menerirna penampilan fisiknya sebagaimana adanya. Sebaliknya gambaran diri yang negatif, membuat remaja kurang menyukai penampilan fisiknya, sehingga cenderung menarik diri dari lingkungan, menghambat pergaulan dan menimbulkan perasaan rendah diri atau merasa diri kurang berharga.

Hal ini sesuai dengan jawaban 49 narapidana (64,5%) menyatakan mereka menyukai bentuk tubuhnya saat ini dan 74 narapidana menyatakan mereka menerima setiap bagian tubuhnya ini sebagai anugrah dari Tuhan yang harus

dijaga dan dipergunakan dengan baik. Penerimaan yang baik terhadap bentuk tubuh merupakan persepi yang baik

Tetapi ada juga yang ditanggapi negatif yaitu 39 narapidana (51,2%) menyatakan mereka malu dengan kondisi tubuhnya saat ini ketika berjumpa dengan orang lain. Remaja yang merasa memiliki kekurangan dalam penampilan fisik atau kesehatannya dapat menurunkan rasa percaya dirinya, menarik diri serta memunculkan pandangan-pandangan negatif tentang penampilannya.

5.2.2. Ideal Diri

Berdasarkan hasil penelitian Ideal diri narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan memiliki ideal diri yang realistis sebanyak 72 narapidana (94,7%). Hal ini sependapat dengan penelitian yang telah dilakukan Armeliza (2012) terhadap 60 narapidana tentang ideal diri narapidana remaja, mayoritas remaja memiliki ideal diri yang positif, yaitu sebanyak 42 orang (70%).

Hal ini dikarenakan pendidikan terakhir narapidana remaja mayoritas adalah SMA sebanyak 29 narapidana (38,2%). Pendidikan sangat berpengaruh terhadap ideal diri remaja, dimana remaja cenderung memiliki persepsi realistis, dan remaja yang mengalami perubahan psikis merasa mampu untuk melakukan hal-hal yang dianggap bisa dilakukan dan mempunyai harapan yang tinggi terhadap dirinya, tidak merasa cemas dengan kondisi dirinya, serta memiliki ideal diri yang realistis.

Hal ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi mempunyai pengetahuan yang lebih baik

dibandingkan dengan orang yang berpendidikan menengah dan rendah. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam menentukan kualitas manusia, dengan pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan dan informasi, dan semakin tinggi pendidikan seseorang semakin berkualitas hidupnya. Remaja cenderung memiliki persepsi realistis, dimana remaja yang mengalami perubahan psikis merasa mampu untuk melakukan hal-hal yang dianggap bisa dilakukan dan mempunyai harapan yang tinggi terhadap dirinya, tidak merasa cemas dengan kondisi dirinya, serta memiliki, ideal diri yang realistis.

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana seharusnya ia berprilaku sesuai dengan standar perilaku (Stuart &Sudden, 1998). Potter & Perry (2005) menyatakan bahwa remaja yang memiliki konsep diri positif berarti memiliki penerimaan diri yang positif. Remaja menganggap dirinya berharga dan cenderung menerima diri sendiri sebagaimana adanya.

Widiasi (2008) dalam penelitiannya menyatakan narapidana mengungkapkan bahwa mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik, baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, keluarga maupun penerimaan lingkungan terhadap kehadiran mereka dan membahagiakan orang tua. Mereka ingin sekali cita-cita mereka dapat terwujud.

Hal ini sesuai dengan jawaban 74 narapidana (97,4%) menyatakan mereka berharap ini terakhir kalinya dihukum di LAPAS, dan 69 narapidana (90,8%) menyatakan mereka berharap diterima oleh masyarakat dilingkungannya setelah

keluar dari LAPAS. Narapidana remaja memiliki harapan atau keinginan yang ingin dicapai.

Stuart dan Laraia (2005), menyatakan bahwa yang mempengaruhi ideal diri seseorang diantaranya seseorang cenderung menetapkan ideal diri sesuai dalam batas kemampuannya. Seseorang tidak akan mungkin menetapkan suatu ideal atau tujuan jika sekiranya dirinya tidak mempu mengupayakan diri untuk mencapai tujuan tersebut atau berada diluar batas kemampuannya.

5.2.3. Harga Diri

Berdasarkan hasil penelitian harga diri narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan memiliki harga diri yang rendah sebanyak 39 narapidana (51,3%). Hal ini sependapat dengan penelitian yang telah dilakukan Armeliza (2012) terhadap 60 narapidana tentang gambaran konsep diri remaja, didapatkan hasil bahwa mayoritas narapidana memiliki harga diri negatif yaitu sebanyak 33 narapidana (55%).

Hal ini dikarenakan narapidana yang bebas akan di cap sebagai mantan narapidana, dimana persepsi masyarakat terhadap mantan narapidana yang negatif, hal seperti ini akan menggangu kepribadian narapidana sendiri. Terganggunya kepribadian seseorang terhadap kejahatan yang dilakukan dimasa lalu akan berdampak terhadap masa depannya. Narapidana cenderung merasa tidak mampu melakukan segala sesuatu dengan baik, tidak memiliki potensi untuk dibanggakan, tidak memiliki perasaan berharga. Kondisi seperti ini akan membuat harga diri seseorang menjadi rendah.

Menurut Stuart & Sudden, (1998) remaja yang pernah melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetapi tetap merasa sebagai seseorang yang berharga merupakan prilaku yang positif. Namun jika harga diri remaja menjadi rendah biasanya disebabkan karena kehilangan kasih sayang atau cinta kasih dari orang lain, kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Hal ini sesuai dengan jawaban dari 62 narapidana (81,6%) menyatakan mereka merasa hidup ini penuh dengan kesalahan, 55 narapidana menyatakan bahwa mereka malu kalau orang lain menegetahuinya berda di LAPAS dan 45 narapidana (59,2) menyatakan bahwa keluarga enggan datang berkungjung di LAPAS, hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa yang penuh dengan masalah dimana masa remaja masih memerlukan bimbingan dari orangtua agar remaja tidak memiliki persespsi yang buruk terhadap kehidupannya. Remaja yang memiliki harga diri rendah cenderung memiliki penilaian bahwa dirinya merupakan pribadi yang tidak diterima orang lain (Buwono, 2007).

Tetapi ada juga pertanyaan yang ditanggapi tinggi dari 68 narapidana menyatakan mereka mempunyai banyak teman di LAPAS yang dapat dijadikan sahabat, baik dalam suka maupun duka. Hal ini dikarenakan semua narapidana memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan, sehingga mereka saling peduli satu sama lain.

Hal ini sesuai dengan teori Felker (1974) ada 3 komponen dalam pembentukan harga diri, yaitu: feeling of belonging yaitu perasaan bahwa dirinya bagian dari suatu kelompok sehingga dia merasa diterima dan dihargai oleh

anggota kelompoknya. Komponen yang kedua adalah feeling of competence yaitu perasaan individu bahwa ia mampu mencapai hasil yang diharapkan dan komponen yang ketiga adalah feeling of worth yaitu perasaan individu bahwa dirinya merasa berharga.

5.2.4. Peran

Dari hasil penelitian peran narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan memiliki kepuasan peran sebanyak 72 narapidana (94,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Siregar (2008) terhadap 31 narapidana tentang peran dari narapidana remaja dengan hasil penilitian menunujukkan mayoritas narapidana memiliki peran yang positif yaitu sebayak 25 narapidana (80,6%).

Hal ini dikarenakan narapidana sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan LAPAS, dan pembinaan yang di lakukan di LAPAS memiliki banyak kegiatan seperti: sekolah, penyuluhan narkoba, olahraga dan kegiatan keagamaan. Semua kegiatan yang di adakan di LAPAS diharuskan untuk di ikuti narapidana. Bukan hanya untuk pembinaan, kegiatan-kegiatan yang diadakan di LAPAS juga bertujuan agar terjalin komunikasi yang baik antar narapidana.

Hal ini sesuai dengan penelitian Novi (2013) menyatakan mayoritas narapidana anak penghuni di LAPAS Bandung mampu menyesuaikan diri dengan baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar sudah mampu menyelesaikan sebagian besar konflik, frustasi, dan kesulitan-kesulitan baik yang ada di dalam dirinya dan sosialnya di LAPAS.

Peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan secara sosial berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial (Stuart & Sundeen, 1998). Hal ini sesuai dengan jawaban sebagian besar narapidana bahwa 69 narapidana (90,8%) menyatakan mereka selalu ikut serta dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang di adakan di LAPAS dan 43 narapidana (56,6%) menyatakan mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan LAPAS.

5.2.5. Identitas Diri

Dari hasil penelitian identitas diri narapidana remaja di LAPAS Anak Tanjung Gusta Medan termasuk memiliki kejelasan identitas sebanyak 75 narapidana (98,7%). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Armeliza (2012) terhadap 60 narapidana tentang identitas diri remaja dengan hasil penelitian menunjukkan mayoritas narapidana memiliki identitas diri negatif yaitu sebanyak 31 narapidana (51,7%).

Hal ini dikarenakan narapidana remaja mulai menyadari akan kesalahan yang mereka perbuat dan mencoba memperbaiki diri lebih baik lagi. Kegiatan-kegiatan pembinaan LAPAS juga berfungsi unuk membentuk identitas diri narapidana, dimana didapatkan bahwa mayoritas narapidana aktif dalam kegiatan pembinaan LAPAS. Hal ini membuktikan bahwa program pembinaan yang dilakukan terhadap narapidana remaja di LAPAS berjalan dengan baik.

Berbeda dengan Armeliza (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa mereka yang memiliki identitas diri yang negatif belum mampu mengenal diri sebagai organisme yang utuh terpisah dari orang lain, memandang suatu aspek

dalam dirinya sebagai suatu keselarasan, menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian. Kurangnya pembinaan mental narapidana akan berdampak kepada identitas diri narapidana. Hal ini sesuai dengan pendapat Butar-butar (2007) yang telah melakukan observasi pada para remaja yang sedang direhabilitasi di LAPAS dan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan di LAPAS belum sesuai dengan teori-teori perkembangan remaja, sering terjadi perilaku kekerasan fisik, pola pembinaan yang dilakukan masih sama dengan narapidana dewasa, waktu petugas untuk mendengarkan keluhan remaja juga terbatas, kemampuan petugas memahami persoalan masih rendah, dan seringkali remaja masih terlantar banyaknya waktu luang yang tidak di isi dengan kegiatan berarti.

Maka dapat disimpulkan pembinaan di LAPAS sangat menentukan Identitas diri narapidana. Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart & Sundeen, 1998). Apabila narapidana memperoleh peran yang baik di dalam LAPAS maka identitas dirinya juga akan baik.

Hal ini sesuai dengan jawaban 73 narapidana (96,1%) menyatakan mereka mencoba memperbaiki perbuatannya menjadi lebih baik lagi, dan 75 narapidana (98,7%) menyatakan menerima hukuman yang diberikan atas perbuatannya selama di LAPAS.

Dokumen terkait