BAB II LANDASAN TEORI
B. Data Deskriptif tentang Perkembangan Pembiayaan
Berisi perkembangan produk BBA di BMT Mitra Usaha Sruwen.
BAB IV ANALISIS
Menguraikan masalah prosedur pembiayan BBA, cara menangani pembiayaan yang macet, sistem bagi hasil, minat masyarakat pada pembiayaan BBA dan sistem pengasuran nasabah.
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berisi kesimpulan hasil analisa dan saran bagi BMT Mitra Usaha.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. TELAAH PUSTAKA
Menurut Arik Sawalia (2008) dalam Skripsi berjudul Pelaksanaan Pembiayaan AL-Bai’ Bitsaman Ajil Bagi Usaha Kecil pada BMT-MMU Sidogiri Pasuruan cabang Wonorejo menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembiayaan BBA di koperasi BMT Sidogiri Pasuruan cabang Wonorejo memiliki beberapa prosedur, yaitu permohonan pembiayaan, penyidikan, analisa pembiayaan, pemutusan pembiayaan, pencarian dana dan administrasi. Kendala dalam pemberian pembiayaan yaitu rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk-prooduk pembiayaan syariah yang ditawarkan oleh BMT, rendahnya kredibilitas BMT dimata masyarakat, rendahnya kesadaran beragama masyarakat. Pola pencatatan arus kas usaha nasabah yang masih belum sesuai dengan standar, kredit macet, sulitnya memahami karakter setiap calon nasabah dalam falsafah tehniknya dan sulitnya menemukan nasabah yang benar-benar produktif. Adapun solusi dari pemberia pembiayaan BBA adalah peningkatan profesionalitas pelayanan dan operasional BMT, peningkatan permodalan BMT, sosialisasi yang lebih intensif dan intergal yang mampu menjangkau masyarakat awam.
Menurut Dwi Riska Amalia (2008) dalam skripsi yang berjudul Analisa Produk Pembiayaan Ba’i Bitsaman Ajil pada BMT-MMU Sidogiri Pasuruan
harus dipenuhi oleh setiap calon nasabah diawali dengan pengajuan permohonan sampai kepada informasi persetujuan realisasi pembiayaan dan menggunakan prinsip analisa pembiayaan 5C. Pembiayaan BBA memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan BMT . Secara berturut-turut kontribusi pembiayaan BBA terhadap pendapatan BMT dari tahun 2003 sebesar 71%, kemudian tahun 2004 sebesar 74% yang berarti naik sebesar 3%. Pada tahun 2005 sebesar 65% dan ditahun 2006 sebesar 56%, jadi mengalami penurun sebesar 9%. Prosentase pembiayaan BBA mengalami penurunan, akan tetapi bila ditinjau lebih jauh penurunan tersebut tidak disertai dengan penurunan jumlah pendapatan yang diperoleh. Terbukti bahwa dari tahun ketahun pendapatan pembiayaan BBA mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 4%.
Menurut Tutik Zubaidah (2008) dalam tugas akhir yang berjudul
Analisis Manajemen Pembiayaan Ba’i Bitsaman Ajil di BMT Mandiri Getasan menyimpulkan bahwa nasabah dapat mengembalikan pembiayaan sesuai kemampuannya. Dengan demikian masyarakat tidak merasa disulitkan dalam pengajuan pembiayaan. Sedangkan untuk pembiayaan bermasalah, BMT memberikan kelonggaran waktu agar nasabah bisa melunasi dengan tidak merasa dikejar-kejar dan tetap bisa berusaha dengan tenang.
Menurut Luki Wijanarko (2009) dalam Tugas Ahir yang berjudu
Perencanaan Manajemen Pembiayaan BBA Di BMT Almuawanah Bringin. BMT dalam malakukan pembiayaan BBA menggunakan pinsip 5c+1c yaitu
Berdasarkan telah di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pembiayaan BBA sangat diminati oleh nasabah dan menguntungkan bagi BMT, System yang telah diterapkan dalam akad BBA sangatlah mudah dipahami oleh masyarakat dan juga mudah dijalankan oleh BMT itu sendiri. Di BMT cara mengangsurnya juga tidak begitu memaksa karena bisa diawal bulan sampe ahir bulan karena tidak ada denda didalam sistem BMT.
Tapi dalam pelaksanaan pembiayaan BBA belum begitu maksimal karena dalam pencairan pembayaran atau pelunasannya masih banyak kendala. Pada BMT Mitra Usaha banyak prosedur atau cara dalam memberikan pembiayaan dan dalam pelunasan pembiayaan.
Penelitian tentang produk pembiayaan BBA ini belum pernah dilakukan di BMT Mitra Usaha Sruwen oleh peneliti sebelumnya. Sehingga peneletian tentang BBA tersebut penting dilakukan.
Oleh karena itu penulis ingin meneliti bagaimana sistem pencarian dan pencairan pembiayaan pada BMT apakah sudah memenuhi syarat pembiayaan.
B. KERANGKA TEORITIS
1. Pengertian Pembiayaan
Menurut UU no 10 thn 1998 pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau
bagi hasil berdasarkan prinsip syariah. Sedangkan kredit adalah penyedia uang atau tagihan yangdapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utanganya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (Kasmir, 2009 : 96) 2. Macam-macam Pembiayaan
Dalam pembiayaan / penyaluran dana dapat digolongkan menjadi tiga bagian, menurut burhanudin (2008), yaitu bagi hasil (syirkah), jual beli (al-bai’) dan persewaan (al-ijaroh). Dari tiga bagian ini bias di artikan menjadi beberapa, berikut pembagian :
a. Bagi Hasil ( Syirkah)
1)Mudharabah
Pengertian mudharabah adalah akad antara dua pihak dimana salah satu pihak mengeluarkan uang (sebagai modal) kepada lainnya untuk diperdagangkan. Laba dibagi dua sesuai kesepakatan awal (sayyid sabiq, 2006: 217). adapun bila ada kerugian ditanggung pemilik modal selama bukan akibat kelalaian pengelola tapi jika karena pengelola yang lalai maka semua modal ditanggung pengelola.
Landasan syariah }§ øŠs9 öNà6 ø‹n=tã îy $oYã_ b r& (#qäótGö;s? W x ôÒ sù ` ÏiB öNà6 În/§‘ 4
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki
hasil perniagaan) dari Tuhanmu. (Qs. Al- Baqoroh, 198)
Pengertiannya pembiayaan yang dilakukan untuk membiayai seluruh modal yang diperlukan nasabah, atas keuntungan yang diperoleh nasabah disepakati pembagiannya antara nasabah dan BMT. Modal yang dimanfaatkan dikembalikan sesuai jangka waktu yang disepakati
2)Musyarakah
Musyarokah Adalah akad antara dua orang yang berserikat dalam modal dan keuntungan (sayyid sabiq, 2006: 317)
Pengertiannya pembiayaan yang dilakukan untuk membiayai sebagian modal yang diperlukan nasabah atas keuntungan yang diperoleh nasabah disepakati pembagian keuntungannya. modal yang diberikan kepada nasabah dikembalikan keBMT sesuai jangkan waktu yang ditetapkan.
b. Jual beli ( Al- bai’)
1)Murabahah
Murabahah adalah jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah dengan marjin keuntungan yang disepakati (burhanudin, 2008)
Pengertiannya pembiayaan yang dilakukan untuk membiayai pembelian suatu barang, nasabah mengembalikan uang tersebut ditambah dengan marjin yang telah disepakati diawal dan pelunasannya diberikan pada saat jatuh tempo.
Landasan syariat: $yg•ƒr'¯»tƒ šú ïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿ w (#þqè=à2 ù's? Nä3 s9ºuqøBr& Mà6 oY÷
t/ È @ÏÜ»t6ø9$$Î/ H w Î) b r& šc qä3 s? ¸ot
»pgÏB ` tã <Ú #t
s? öNä3 ZÏiB 4 Ÿ w ur (#þqè=çFø) s? öNä3 |¡ àÿRr& 4 ¨b Î) © ! $# tb %x. öNä3 Î/ $VJ ŠÏmu‘ ÇËÒÈArtinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh diri sendiri Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Qs, An- Nisa’, 29)
Dibawah ini skema akad murabahah yang dilakukan lembaga keuangan syariah.
Sumber : Burhanudin Susanto, 2008:267 2)BBA
BBA adalah Pembiayaan yang berakad jual beli, pengertiannya suatu perjanjian pembiayaan yang disepakati Bank syariah dengan nasabah, dimana bank syariah menyediakan dananya untuk sebuah investasi dan atau pembelian barang modal dengan usaha anggotanya yang kemudian proses pembayarannya dilakukan secara mecicil atau mengangsur. Jumlah kewajiban yang dibayarkan oleh peminjam adalah jumlah atas harga barang dan keuntungan yang disepakati( Muhammad, 2001: 10)
Pembiayaan BBA sebenarnya hampir sama dengan pembiayaan murabahah, hanya saja pembiayana BBA pembayarannya diangsur tiap bulan. Produsen Gambar 2:1 Akad M urabahah 1.Negosiasi 2.Akad Jual
1. Beli Barang 4.Kirim
5.Ter ima Barang dan dokumen
6.Pembayara
Nasabah Bank Syariah
Syarat pembiayaan BBA menurut Muhammad syafi’I Antonio. 1.penjual memberitau biaya modal yang dikeluarkan
kepada nasabah.
2.kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun jual beli. 3.kontrak harus bebas riba.
4.penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.
5.penjual harus menyampekan semua hal yang berkaitan dengan pembeli.
3)Salam
Salam Adalah jual beli barang dengan cara pemesanan berdasarkan kriteria tertentu dengan pembayaran sekarang ( sayyid sabiq,2006: 167 )
pengertiannya pembelian barang yang dilakukan oleh BMT dengan kriteria (ketentuan) atau persaratan yang telah diucapkan atau ditulis oleh nasabah, nasabah membayarnya terlebih dahulu barangnya akan diantar nanti / menyusul jika telah mendapatkan barang sesuai kriteria yang diingankan oleh nasabah.
4) Istishna
Istisnak adalah jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang berdasarkan persyaratan tertentu, kriteria dan
pola pembayaran sesuai dengan kesepakatan. Melalui akat ini kedua belah pihak bersepakat apabila pembayaran akan dilakukan dimuka melalui angsuran atau ditangguhkan sampe waktu tertentu yang akan datang.
Pengertiannya seperti akad salam, tetapi dalam pembayarannya dilakukan secara mengangsur atau dibayar setelah barang itu jadi / barang sudah dikirim kepada nasabah.
c. Persewaan ( Al-Ijaroh)
1)Ijaroh
Alijaroh adalah memberikan kemanfaatan sesuatu dengan adanya penukaran berdasarkan beberapa syarat (abul hidayah,336) Pengertiannya akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayaran upah ( imbalan ) sewa tanpa diikuti pemindaha kepemilikan. Adapun ijaroh yang ahir waktunya barang menjadi hak pemijam disebut ijaroh muntahiyah bit-tamlik. 3. Prinsip –prisip Pembiayaan
Menurut Kasmir (2003), prinsip dalam pembiayayan biasanya menggunakan prinsip 5C, yaitu:
1. Character
Sifat atau watak seseorang yaitu calon nasabah. Tujuannya adalah memberikan keyakinan kepada bank bahwa sifat atau watak
dari orang yang akan diberikan pembiayaan benar-benar dapat dipercaya.
2. Capacity
Untuk melihat kemampuan calon nasabah dalam membayar pembiayaan yang dihubungkan dengan kemampuan mengelola bisnis serta mencari keuntungan.
3. Capital
Sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank.
4. Collateral
Jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya.
5. Condition
Kondisi ekonomi sekarang dan masa akan datang sesuai sektor masing-masing. Kondisi tidak hanya pada bidang ekonomi saja tetapi juga pada kondisi sosial dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk dimasa datang.
Ada juga Pemberian kridit yang bisa dilakukan dengan menggunakan penilaian analisa 7P yang dikemukakan kasmir (2008). Berikut penjelasannya.
1. Personality
Menganalisa nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun kepribadiannya masa lalu. Penilaian ini mencakup sikap, emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi masalah.
2. Party
Menganalisa nasabah dengan mengklasifikasi nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.
3. Parpose
Digunakan untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kridit yang diinginkan nasabah. Seperti untuk modal kerja, investasi, konsuntif, produktif atau yang lainnya.
4. Prospect
Digunakan untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang menguntungkan (prospek) atau tidak.
5. Paymen
Merupakan ukuran bagai mana cara nasabah mengembalikan kridit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengambilan kridit.
6. Profitability
Bertujuan untuk menganalisis bagai mana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
7. Protection
Bertujuan bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan mendapatkan jaminan perlindungan sehingga kredit yang diberikan benar-benar aman. Perlindungan yang dapat diberikan oleh debitur berupa jaminan barang, orang atau jaminan asuransi.
4. Prosedur Pengajuan Pembiayaan
Prosedur ini berguna untuk mengetahui nasahab apakan nasabah layak menerima pembiayaan dari BMT Mitra Usaha.
Kebijakan penerimaan dan identifikasi nasabah menurut Rifqi Muhammad (2008) adalah:
1. Meminta informasi calon nasabah mengenai: a) Identitas calon nasabah.
b) Maksud dan tujuan calon nasabah melakukan hubungan dengan bank.
c) Mencari informasi tambahan mengenai profil nasabah. d) Identitas tambahan bagi yang bertindak atas nama pihak lain. 2. Identitas calon nasabah sekurang-kurangnya mencakup:
a) Nasabah perorangan
1) Data diri yang masih berlaku
2) Keterangan mengenai pekerjaan dan alamat pekerjaan 3) Spesimen tandatangan
4) Keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana.
5) Ahli waris yang ditunjuk. b) Nasabah badan hukum
1) Akta pendirian dan atau perubahannya yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang.
2) Ijin usaha atau ijin lainnya dari instansi yang berwenang. 3) Nama, specimen tanda tangan pengurus
4) Keterangan sumber dana dan tujuan penggunaan dana. 5) NPWP (nomor pajak wajib pajak)
6) Identitas pengurus yang berwenang mewakili badan hukum yang dibuktikan dengan data diri yang berlaku.
7) Meneliti kebenaran dokumen pendukung identitas calon nasabah.
8) Wajib bertatap muka dengan calon nasabah pada saat pembukaan rekening.
BAB III
LAPORAN OBJEK
A.
Gambaran tentang BMT Mitra Usaha Sruwen1. Sejarah Berdirinya BMT Mitra Usaha Sruwen
Dikabupaten semarang tepatnya diwilayah tengaran sruwen BMT mitra usaha didirikan, tepatnya Pada hari kamis tanggal 30 november 2006 BMT Mitra Usaha dinotariskan oleh Nunik Nurniyati bersama teman-teman pendiri BMT mitra usaha. Seiring dengan bangkitnya semengat umat untuk mengamalkan “ okonomi syariah “ yang dirintis dan dikembangkan di Indonesia dengan ditandai berdirinya bank muamalat indonisia sekitar tahun 1994.
BMT Mitra Usaha adalah unit otonomi dari Koperasi serba usaha “Mitra Usaha” yang mempunyai badan hukum 353/BH/KDK.11.1/188.4/XII/06. Sejak berdiri sampe sekarang sudah mengalami perkembangan yang pesat, dari modal awal Rp 5.000.000. setelah mempunyai badan hukum, gerak langkah BMT Mitra Usaha semakin bagus dan dapat merambah daerah sruwen dan sekitarnya. Setelah perjalanan waktu kurang lebih 3 tahun aset BMT Mitra Usaha menjadi sebesar Rp 530.326.905 per 31 des 2010.
Kegiatan operasional BMT Mitra usaha berada di Jl. Raya Sruwen no. 24 sruwen, tengaran semarang. Sampe sekang BMT mitra usaha masih berkantor disana. BMT mitra usaha sering bersilaturrahmi ke-BMT lain
untuk menjalin kemitraan sesama pengelola khususnya sesama BMT untuk pencarian informasi.
2. VISI dan MISI BMT Mitra Usaha
Visi dari BMT Mitra Usaha Sruwen adalah menjadi BMT yang amanah, profesional dan mandiri.
Sedangkan misi dari BMT Mitra Usaha Sruwen adalah:
a. Memperluas syiar ekonomi Islam di wilayah semarang terutama disruwen dan sekitarnya juga ke semua penjuru Indonesia pada umunya bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
b. Menjadi lahan dakwah generasi muda mengimplementasikan ilmu untuk dunia akhirat.
c. Berpartisipasi membangun perekonomian berskala mikro di wilayah sruwen dan sekitarnya.
d. Lembaga intermediasi syariah bagi kaum muslim dan pengusaha untuk bisa maju dan berkembang.
3. Struktur Organisasi
Koperasi BMT mitra usaha dalam kurun waktu 3 tahun telah mengalami perkembangan baik secara kuantitatif maupun kualikatif dalam bidang organisasi dan manegemen. Dalam badan pengelola BMT Mitra Usaha manajer dipegang satu orang, semua kegiatan di jalankan
satu manajer karena BMT yang baru berdiri dan dianggap belum begitu membutuhkan menejer bagian.
Secara umum dalam perkembangan bidang organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pengurus
Ketua : Nunik Nurniyati
Sekertaris : Chusmiyati, Spd
Bendahara : Nowo Retna Wulan S.pd Pengelola
Manajer : Fahrudin
Kasir & Administrasi Pembiayaan : Tyas Ani P. pemasaran : M. Subhan
: Ja’far 4. Job Descrisptiaon
1. Manajer
Beberapa tugas manajer
a. Bertanggung jawab atas terealisasinya semua program kerja dan target yang sudah dan akan dotetapkan
c. Bertanggung jawab atas kinerja bawahannya agar tercipta suasana kerja yang dinamis dan harmonis
d. Menyetujui dan menandatangani permohonan pembiayaan
e. Meningkatkan pendapatan dan menekan biaya serta mengawasi operasional.
f. Mengusulkan penambahan, pengurangan dan promosi karyawan. g. Mengetahui perkembangan lembaga yang ada dibawah pimpinannya
dan mengatur operasional keuangan yang ada sehingga tujuan lembaga dapat tercapai.
h. Mengetahui dan menyetujui penutupan rekening simpanan dan pembiayaan aggota pada batas kewenangan tertentu.
2. Kasir
Beberapa Tugas kasir
a. Melaksanakan segala transaksi yang bersifat tunai b. Menyelesaikan laporan kas harian.
c. Terjaganya keamanan kas.
d. Menerima dan mengeluarkan transaksi tunai sesuai data kewenangannya.
e. Memeriksa keaslian tanda tangan dan kelengkapan pengisian slip transaksi dan melakukan pengesahan pada bukti transaksi.
f. Menyusun dan memberi nomor bukti transaksi.
g. Menolak pengeluaran kas apabila tidak ada bukti yang falid.
h. Memegang kas tunai sebesar kebijakan yang ada. Apabila kasa kurang atau melebihi batasan, maka melapor pada atasan langsung. i. Menyerahkan slip dan yang sudah dibukukan kebagian administrasi
pembiayaan.
3. Administrasi pembiayaan
Beberapa tugas administrasi pembiayaan:
a. Menjaga kerahasiaan paswod program karena tanggung jawab yang diberikan.
b. Memberikan pelayanan bagi anggota sehubungan dengan pembiayaan.
c. Memahami akad-akad yang ada dengan benar dan menjelaskan kepada calon anggota secara jelas agar tidak terjadi kesalahan akad secara syar’iyah.
d. Mengelola administrasi pembiayaan mulai dari kelengkapan berkas yang masuk sampai pencairan dan pelunasan.
e. Membuat urutan daftar nama calon anggota pembiayaan yang masuk unutk diserahkan ke bagia pembiayaan ataupun manager unutk doproses pembiayaannya sehingga mengtahu jadwal survey yang
akan dijanjikan ke anggota dan sebagai data BMT untuk anggota yang ditolak.
f. Menawarkan harga jual BMT ke anggota sampai terjadi kesepakatan harga dengan bahasa yang santun dan syar’i.
g. Mengarsip seluruh berkas pambiayaan.
h. Membukukan angsuran yang masuk ke dalam buku pembantu pembiayaan masing – masing anggota.
i. Membuat akad, tanda terima jaminan dan kartu angsuran yang berkenaan dengan pembiayaan.
4. Pemasaran
Beberapa tugas pemasaran
a) Menjemput dan mengantar setoran dan tarikan baik angsuran pembiayaan maupun setoran simpanan anggota.
b) Memastikan bahwa setoran dan angsuran yang harus dijemput telah ditagih sesuai jadwalnya.
c) Memastikan tidak ada selisih antara dana yang dijemput dengan dana yang disetorkan ke BMT.
d) Bertanggung jawab atas anggota yang bertransaksi melaluinya. e) Memenuhi target yang sudah ditetapkan untuknya.
f) Meminimalkan resiko dalam bekerja, berusaha mencari anggota potensial yang ada dalam wilayah kerjanya.
g) Mengontrol transaksi anggota yang diampunya dengan data yang ada di kantor melalui komputer yang telah disediakan.
5. Produk-Produk
Sebagai lembaga keuangan yang berbadan hukum koperasi serba usaha, pada tahun keempat ini koperasi BMT Mitra Usaha mulai berupaya untuk mengembangkan unit usaha yaitu unit simpan pinjam syariah dan jasa, koperasi BMT Mitra Usaha sebagai unit usaha yang beroperasi diwilayah kecamatan Tengaran melayani produk simpan maupun pembiayaan.
Produk produk yang ada di BMT mitra usaha a.Simpanan
Dalam penelitian, peneliti menyimpulkan simpanan sirela dan sisuka yang ada di BMT Mitra Usaha menggunakan akad mudharabah.
1) Simpanan sukarela lancar ( si Rela ) adalah simpanan pihak ketiga yang setoran dan penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu selama kas kantor buka. Setoran pertama simpanan sukarela lancar adalah Rp. 10.000,- dan setoran selanjutnya tidak dibatasi. Untuk maksimal pengambilan, anggota harus menyisihkan setidaknya Rp.5.000,-. Jika anggota ingin tutup buku, saldo yang harus disisihkan adalah Rp. 5.000,- sebagai biaya administrasi.
Simpanan ini banyak digunakan nasabah dari simpanan yang lain karena yang sangat mudah dilakukan, nasabah bisa kapan saja memasukkan atau mengambil tabungan dan tidak ada batasan penabungan. Nasbah sirela di BMT Mitra Usaha sudah mencapai 1.233 sabah, nasabah yang aktif menabung tiap hari sekitar 500 nasabah yang lain menabung mingguan bahkan ada yang bulanan.
Bagi hasil yang diberikan BMT Mitra Usaha pada nasabah diberikan tiap bulannya terhitung dari berapa lama pengedapan di BMT Mitra Usaha.
Hasil wawancara dengan manejer BMT Mitra Usaha pada tgl 6 agustus 2010. Dari hasil wawan cara peneliti membagi menjadi tiga kelompok.
Pertama, dana nasabah yang mengendap di BMT Mitra Usaha selama tiga bulan, mendapatkan bagi hasil 0.6 % dari dana yang mengendap di BMT Mitra Usaha. Jadi bila nasabah memiliki tabungan di BMT Mitra Usaha RP 1.000.000 maka nasabah akan mendapatkan Rp 6.000 perbulannya.
Kedua, dana nasabah yang mengendap di BMT Mitra Usaha selama empat sampe enam bulan, mendapatkan bagi hasil 0,7-0,8 % dari dana yang mengendap di BMT Mitra Usaha. Bila nasabah memiliki tabungan di BMT Mitra Usaha Rp 1.000.000 maka nasabah akan mendapatkan RP 7.000-8.000 perbulan.
Ketiga, dana nasabah yang mengendap di BMT Mitra Usaha selama tujuh bulan sampe satu tahun, mendapat bagi hasil 0,9-1 % dari dana yang mengendap di Mitra Usaha BMT . Bila nasabah memiliki tabungan di BMT Mitra Usaha Rp 1.000.000 maka nasabah akan mendapatkan Rp 9.000-10.000 perbulan.
2) Simpanan suka rela berjangka ( si Suka ) adalah simpanan berjangka (deposito) yang dikelola dengan pola bagi hasil yang kompetitif dengan jangka waktu 3, 6 dan 12 bulan. Pembukaan rekening sirela dengan setoran minimal Rp 1.000.000.
Simpanan ini terbanyak kedua yang diminati nasabah setelah sirela, karena simpanan ini seperti deposito jadi tidak begutu banyak nasabah yang memilih simpanan ini. Dari awal berdiri sekitar ada 400 nasabah, sekarang yang masih menyimpan di BMT Mitra Usaha sekitar 102 nasabah dengan jangka waktu 3, 6 bulan dan 1 tahun. Nisbah yang diberikan BMT Mitra Usaha untuk 3 bulan nisbahnya 40 : 60, untuk 6 bulan nisbahnya 45 : 55 dan untuk 1 tahun 50 : 50.
Kendala yang dihadapi untuk simpanan ini 1)kurangnya sosialisassi kenasabah.
2)kebanyakan nasabah memilih simpanan sukarela lancar . 3)setoran yang terlalu besar untuk nasabah pengusaha mokro.
4)uang nasabah yang tidak mengendap lama, karena banyak kebutuhan setiap harinya nasabah.
3) Simpanan qurban adalah simpanan sukarela yang dikhususkan untuk pembelian hewan qurban dan dapat diambil pada waktu Idul qurban. Setoran awal sisuqur Rp. 15.000 kemudian setoran selanjutnya Rp. 10.000.
Simpanan ini tidak berjalan di BMT Mitra Usaha, hanya pada awalan dibukanya tabungan ini mendapatkan nasabah. Banyak nasabah yang lebih suka simpana sirela dan sisuka, tapi BMT Mitra Usaha masih menyertakan simpanan ini bila mana ada nasabah yang menabung simpanan qurban.
Kendala yang dihadapi oleh BMT Mitra Usaha 1) Kurangnya minat dari nasabah
2) Nasah banyak yang memilih sirela dan sisuka 3) Pengurus kurang sosialisasi pada nasabah 4) Lingkungan yang kurang mendukung. b. Pembiayaan
Dalam penelitian, peneliti menyimpulkan Pembiayaan yang ada di BMT Mitra Usaha pada dasarnya berlandaskan konsep syariah akad jual dan akad bagihasil.