DEA pada lembaga keuangan non-bank menggunakan indikator yang berbeda dengan lembaga keuangan bank. Sehingga penelitian ini tidak dalam konteks membandingkan hasil penelitian pada lembaga keuangan bank dengan lembaga keuangan non-bank, melainkan untuk mengetahui peran IC pada masing-masing lembaga keuangan baik bank maupun non-bank. Setelah dilakukan pengolahan DEA terhadap data input dan output lembaga keuangan non-bank, maka dilakukan analisis terhadap hasil kontribusi input output terhadap efisiensi lembaga keuangan non-bank.
5.4.1 Analisis Kontribusi Indikator Input Terhadap Efisiensi Lembaga Keuangan Non-Bank
Indikator input pada lembaga keuangan non-bank yang terdiri atas HC1, SC1, dan RC1 akan dijelaskan dalam bentuk grafik pada Gambar 5.12 dan dalam kurun waktu selama 6 tahun.
87
5.4.1.1 Human Capital
Lembaga keuangan non-bank memiliki kontribusi HC1 yang beragam. Di tahun 2010 HC1 pada lembaga keuangan no-bank Dana Supra dan Asuransi Bina Dana memiliki kontribusi tertinggi terhadap efisiensi perusahaan jika dibandingkan dengan lembaga keuangan non-bank lainnya. Tahun 2012 HC1 pada Dana Supra masih memberikan kontribusi tertinggi terhadap efisiensi perusahaan, dengan nilai kontribusi 300%. Lain halnya pada tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015, dimana nilai kontribusi HC1 tertinggi terdapat pada Paninvest. Selama 4 tahun berturut-turut Paninvest menjadi lembaga keuangan non-bank dengan nilai kontribusi HC1 tertinggi terhadap efisiensi perusahaan. Namun kontribusi HC1 pada efisiensi Paninvest menurun dari tahun 2012 hingga tahun 2015. Secara umum nilai kontribusi HC1 pada efisiensi lembaga keuangan non-bank masih berada di bawah 30%. Namun pada beberapa lembaga keuangan non-bank memiliki kontribusi HC1 di atas 50%.
Gambar 5. 12 Kontribusi HC1 Pada Efisiensi Lembaga Non-Bank Selama 6 Tahun Dirujuk pada teks
5.4.1.2 Structural Capital
Kontribusi SC1 pada efisiensi lembaga keuangan non-bank selama 6 tahun rata-rata berada antara 0-10%. Namun pada beberapa lembaga keuangan non-bank memiliki kontribusi HC1 di atas 10%. Seperti misalnya pada lembaga pembiayaan Wahana Otomitra yang memiliki kontribusi SC1 terhadap efisiensi mencapai 60% pada tahun 2011 dan di atas 30% pada tahun 2010. Kontribusi SC1 pada lembaga keuangan non-bank nilainya lebih rendah dari kontribusi HC1. Pada beberapa lembaga keuangan non-bank memiliki kontribusi HC1 terhadap efisiensi
0.0 50.0 100.0 150.0 200.0 250.0 300.0 350.0
Kontribusi HC1 Pada Efisiensi Lembaga Non-Bank
Selama 6 Tahun
88
perusahaan yang sangat tinggi mencapai 350%. Sementara kontribusi SC1 pada efisiensi lembaga non-bank tertinggi hanya mencapai nilai 60% yakni pada tahun 2011 di perusahaan Wahana Otomitra.
Hasil perhitungan kontribusi terhadap efisiensi dengan DEA pada lembaga non-bank ini mengindikasikan hasil temuan yakni kontribusi HC1 pada lembaga keuangan non-bank lebih besar jika dibandingkan dengan SC1. Nilai kontribusi HC1 pada lembaga keuangan non-bank berkisar antara nilai 0-50%, sementara nilai kontribusi SC1 pada lembaga keuangan non-bank berkisar antara 0-10%.
Gambar 5. 13 Kontribusi SC1 Pada Efisiensi Lembaga Non-Bank Selama 6 Tahun
5.4.1.3 Relational Capital
Berbeda halnya dengan kontribusi HC1 dan SC1 terhadap efisiensi lembaga keuangan non-bank, kontribusi RC1 pada lembaga keuangan non-bank bernilai sangat kecil dari tahun ke tahun yakni hampir mendekati angka nol. Hanya pada lembaga keuangan Wahana Otomitra, Asuransi Bina Dana, Radana Bhaskara,
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0
Kontribusi SC1 Pada Efisiensi Lembaga Non-Bank
Selama 6 Tahun
89
Danasupra dan BFI Finance, indikator RC1 memiliki kontribusi di atas 5% pada efisiensi lembaga keuangan tersebut.
Gambar 5. 14 Kontribusi RC1 Pada Efisiensi Lembaga Keuangan Non-Bank Selama 6 Tahun
5.4.2 Analisis Kontribusi Indikator Output Terhadap Efisiensi Lembaga Keuangan Non-Bank
Perhitungan DEA yang dilakukan pada lembaga keuangan non-bank menggunakan indikator output yakni ROE. Peran kontribusi ROE selama kurun waktu 6 tahun pada ke-12 lembaga keuangan non-bank di Indonesia akan dijelaskan sebagai berikut.
5.4.2.1 ROE
ROE pada lembaga keuangan non-bank berkontribusi terhadap efisiensi perusahaan dengan nilai kontribusi 5 hingga 10%. Pada beberapa lembaga keuangan seperti misalnya lembaga Wahana Otomitra Danasupra dan Paniinvest, nilai ROE lebih tinggi dari 10%. Wahana otomitra memiliki kontribusi ROE tertinggi pada tahun 2011yakni sebesar 30%. Tahun 2015 kontribusi ROE terhadap efisiensi perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2014. Kontribusi ROE
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0
Kontribusi RC1 Pada Efisiensi Lembaga Non-Bank
Selama 6 Tahun
90
tertinggi pada tahun 2015 terdapat pada lembaga keuangan Paninvest dan Tifa Finance dengan nilai kontribusi ROE sebesar 15%.
Gambar 5. 15 Kontribusi ROE Terhadap Efisiensi Lembaga Non-Bank Selama 6 Tahun
5.4.3 Simpulan Analisis DEA Lembaga Keuangan Non-Bank
Berdasarkan hasil uji DEA terhadap ke-12 lembaga keuangan non-bank di Indonesia, maka didapatlah sebuah hasil temuan bahwasannya peran IC pada lembaga keuangan non-bank yang diwakilkan dengan indikator HC1, SC1, dan RC1 adalah sebagai berikut:
a. HC1 merupakan indikator yang paling berkontribusi terhadap efisiensi lembaga keuangan non-bank dengan nilai kontribusi sebesar 0-50%. Namun pada beberapa lembaga keuangan dapat mencapai nilai kontribusi sebesar 300%.
b. SC1 merupakan indikator IC kedua yang memiliki kontribusi tinggi setelah HC1 terhadap efisiensi lembaga keuangan non-bank. Nilai kontribusi SC1 berada dalam rentang 0-10%.
c. RC1 merupakan indikator pada IC yang memiliki kontribusi sangat rendah pada efisiensi lembaga keuangan non-bank. Nilai RC1 pada hampir keseluruhan lembaga keuangan non-bank bernilai mendekati 0. Hal ini berarti kontribusi RC1 pada efisiensi lembaga keuangan non-bank sangat kecil sekali. Namun pada beberapa lembaga keuangan non-bank, RC1 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0
Kontribusi ROE Terhadap Efisiensi Lembaga Non-Bank
Selama 6 Tahun
91
memiliki kontribusi di atas 5% seperti pada Wahana Otomitra, Asuransi Bina Dana, BFI finance, Danasupra dan Radana Baskhara.
Hasil simpulan ini berbeda dengan hasil temuan yang diungkapkan oleh peneliti Zakery dan Afrazeh (2015) yang menyatakan bahwa hanya variabel human capital, relational capital yang menunjukkan efek positif terhadap kinerja efisiensi perusahaan asuransi di Iran, sedangkan structural capital tidak mendukung kinerja efisiensi perusahaan asuransi di Iran. Sementara pada temuan dari penelitian ini ditemukan bahwa nilai kontribusi structural capital lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kontribusi relational capital terhadap efisiensi lembaga keuangan non-bank di Indonesia. Relational capital memiliki kontribusi yang sangat kecil pada 41,6% jumlah sampel lembaga keuangan non-bank. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa relational capital pada lembaga keuangan non-bank tidak terlalu mendukung kinerja efisiensi perusahaan asuransi di Indonesia.
5.5 Analisis Regresi Pengaruh IC Terhadap Efisiensi Lembaga Keuangan