• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Manajerial Pada Lembaga Keuangan Bank

Berdasarkan hasil perhitungan DEA pada lembaga keuangan bank dari tahun 2010 hingga 2015, berikut ini akan dijelaskan implikasi manajerial dari sampel bank yang efisien dan bank yang tidak efisien. Perhitungan DEA dapat menghasilkan nilai efisiensi relative pada lembaga keuangan bank. Bank-bank dengan skor efisiensi 1 atau 100% merupakan lembaga keuangan bank yang paling efisien. Sementara lembaga keuangan bank dengan nilai kurang dari 100% merupakan lembaga keuangan bank yang tidak efisien.

Pada tahun 2010 Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu bank yang efisien pada tahun 2010. Nilai kontribusi HC1 pada efisiensi bank BRI adalah 11%. Hal ini berarti Bank Rakyat Indonesia mengalami inefisiensi sebesar 89% pada pada biaya human capital yang diukur dengan rasio biaya tenaga kerja per total aset atau H1. Nilai SC1, SC2 dan SC3 pada bank BRI bernilai 0 hal ini berarti kontribusi structural capital pada efisiensi bank BRI sangat kecil. Nilai kontribusi RC1 pada

84

efisiensi bank BRI adalah 0,2% dan dapat dikatakan bahwa bank BRI mengalami inefisiensi pada biaya relational capital sebesar 99,8%.

Sehingga implikasi manajerial yang dapat ditawarkan kepada perusahaan adalah mengurangi biaya human capital sebesar 89% dari jumlah rasio biaya tenaga kerja per total aset pada tahun 2010 sehingga pada tahun selanjutnya yakni tahun 2011 dapat mencapai penggunaan nilai input human capital yang optimal. Akan tetapi dengan komposisi kontribusi dan biaya input pada tahun 2010 yang sedemikian rupa, ternyata sudah mencerminkan nilai yang tepat bagi bank BRI karena perusahaan sudah mencapai efisiensi rerlatif pada tahun 2010 senilai 100%. Bank BRI merupakan salah satu bank yang efisiensi selama 6 tahun dari tahun 2010 hingga 2015. Meskipun bank BRI belum efisien dalam pengelolaan biaya tenaga kerja, akan tetapi secara keseluruhan bank BRI sudah efisien dalam pengelolaan biaya-biaya IC.

Berbeda halnya dengan bank Ganesha yang memiliki nilai efisiensi 84,9% pada tahun 2010. Hal ini berarti dalam pengelolaan biaya IC, bank Ganesha mengalami inefisien sebesar 15,1% terhadap keseluruhan biaya IC. Jika dilihat dari kontribusi HC1, kontribusi HC1 pada bank Ganesha bernilai 0. Hal ini berarti kontribusi HC1 pada efisiensi bank Ganesha sangat kecil sekali. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja cenderung tinggi dengan total aset yang dimiliki rendah. Sementara indikator HC2 berkontribusi 0,5%, sehingga bank Ganesha mengalami inefisien pada rasio HC2 sebesar 99,5%.

Pada tahun 2011 skor efisiensi Bank Ganesha mencapai nilai 100% dengan kontribusi IC yaitu HC1 0, HC2 1.48%, SC1 1,1%, SC2 0, SC3 0, dan RC1 0,34. Dengan susunan kontribusi IC sedemikian rupa dapat menyumbangan skor efisiensi 100% pada Bank Ganesha. Hal ini berarti bank Ganesha sudah efisien. Hal ini disebabkan oleh Bank Ganesha pada tahun 2011 mengalami kenaikan rasio HC1 sebesar 0,2% dan penurunan HC2 sebesar 50%. Untuk nilai rasio SC juga mengalami penurunan pada rasio SC1, dan SC3 namun pada SC2 mengalami kenaikan sebesar 312%. Untuk rasio RC1 pada tahun 2010 juga mengalami penurunan sebesar 21,5%. Secara keseluruhan Bank Ganesha mampu menurunkan biaya-biaya input atau biaya-biaya IC. Tahun 2012, 2013, 2014 merupakan tahun dimana Bank Ganesha dapat mencapai skor efisiensi 100%. Akan tetapi pada tahun

85

2015 skor efisiensi Bank Ganesha kembali turun menjadi 89,3%. Hal ini pula disebabkan adanya peningkatan nilai rasio biaya HC1, SC1, SC2, SC3, dan RC1 dari tahun 2014 hingga 2015. Kenaikan mencapai 11%.

Pada tahun 2014 Bank Central Asia memiliki skor efisiensi 100% dengan kontribusi HC1 senilai 13,5%. Hal ini menandakan bahwa Bank BCA inefisien sebesar 61,1% dalam pengelolaan biaya human capital. Sementara nilai HC2 dan SC1 bernilai nol. Kontribusi SC2 sebesar 1,15%, kontribusi SC3 0,49% dan kontribusi RC1 sebesar 0,01%. Pada Tahun 2015 Bank BCA juga merupakan salah satu bank yang efisien. Nilai HC1, HC2, SC1 dan SC2 pada bank BCA pada tahun 2015 bernilai nol. Sedangkan nilai SC3 dan RC1 pada Bank BCA pada tahun 2015 bernilai 0,2% dan 0,4%. Jika dilihat dari data rasio biaya IC pada tahun 2015, rasio biaya HC1 tetap, HC 2 meningkat dari tahun 2014, rasio biaya SC1, SC3 dan RC1 mengalami penurunan. Sehingga biaya-biaya yang dikeluakan oleh Bank BCA pada tahun 2015 sudah efisien relatif berdasarkan perhitungan DEA.

Bersamaan dengan Bank BCA yang mencapai nilai efisiensi 100% pada tahun 2015, Bank Permata pada tahun yang sama memperoleh nilai efisiensi 78,7%. Hal ini mengindikasikan bahwa Bank Permata belum efisien pada tahun 2015. Kontribusi biaya IC pada Bank Permata adalah sebagai berikut: HC1 memiliki kontribusi terhadap efisiensi Bank Permata sebesar 52,8%. Hal ini menginterpretasikan bahwa Bank Permata belum efisien dalam mengelola biaya HC1 sebesar 47,2%. Sedangkan kontribusi biaya HC2 bernilai 0,04%, SC1 2,7%, SC2 0, SC3 0,4 dan RC1 nol. Pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2014 skor efisiensi Bank Permata bernilai 100% atau dapat dikatakan sudah efisien. Kontribusi nilai HC1 pada efisiensi Bank Permata pada tahun 2014 adalah sebesar 9,87%, kontribusi HC2, SC1, dan SC2 sebesar nol. Sedangkan kontribusi SC3 dan RC1 sebesar 0,46% dan 0,28%. Rasio biaya pada HC2 Bank Permata sangat tinggi mencapai lebih 230%. Hal ini yang mengakibatkan nilai kontribusi HC2 pada Bank Permata sangat rendah yaitu mendekati angka nol.

Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank adalah dengan mengalihkan beberapa aktivitas keuangan ke dalam bentuk digital seperti yang dilakukan oleh lembaga-lemabga keuangan yang berbasis Financial Technology (FinTech). Perpindahan ke platform yang berbasis

86

cloud tidak hanya meminimalisir biaya di muka, namun juga dapat mengurangi biaya infrastruktur (PWC, 2016). Keuntungan lainnya dengan mengaplikasikan teknologi pada sistem perbankan adalah mempermudah transaksi, meningkatkan transparansi dan juga dapat berkembang pesat dalam mencapai jumlah nasabah maupun pangsa pasar. Biaya-biaya yang dapat diminimalisir dengan adanya peralihan system perbankan ke platform berbasis digital atau dengan penerapan digitalisasi adalah biaya tenaga kerja, biaya administrasi, biaya infrastruktur dan lain-lain.

Akan tetapi, peran human capital tetap menjadi peran yang penting bagi lembaga keuangan mengingat produk yang ditawarkan merupakan produk jasa keuangan yang membutuhkan knowledge dari karyawan serta perangkat IT juga membutuhkan SDM yang cakap dalam menggunakan teknologi dan menerapkannya dalam industri perbankan.

Dokumen terkait