• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Data Hasil Penelitian

Data hasil observasi langsung secara partisipatif yang dilakukan rentang waktu pada bulan oktober sampai dengan november. Untuk memperkuat substansi data hasil angket, wawancara dan observasi, maka dilakukanlah juga teknik dokumentasi.

Semua data hasil wawancara dan observasi diuraikan berdasarkan fokus pertanyaan penelitian sebagai berikut:

a) Persiapan Guru dalam Proses Pembelajaran PPKn

Salah satu tugas guru sebagai pengajar adalah membuat panduan atau arah rencana mengajar berupa silabus maupun rpp. Persiapan yang paling utama dilakukan guru adalah dengan menyusun silabus dan rpp yang akan digunakan selama satu tahun dalam proses pembelajaran PPKn.

Berkaitan dengan hal tersebut berikut pernyataan dari informan pertama AR selaku guru PPKn terkait apakah dalam mempersiapkan pembelajaran PPKn, ibu sudah mempersiapkan RPP secara lengkap berkaitan dengan moral siswa?

“Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar dikelas guru PPKn sudah membuat silabus dan rpp terlebih dahulu yang juga sudah bermuatan nilai-nilai moral didalamnya, dalam pembutan rpp disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku disekolah, dan juga dalam proses pembelajaran dikelas dilakukan sesuai dengan rpp yang sudah dibuat” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa guru telah membuat silabus dan rpp terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran dikelas, dalam penyusunan silabus dan rpp guru PPKn sudah menyantumkan nilai moral didalamnya. Dengan memasukkan

nilai-nilai moral didalam silabus dan rpp guru akan membentuk moral siswa agar memiliki karakter yang baik.

Dari hasil wawancara tersebut kemudian dilakukan cross check dengan dokumentasi silabus dan rpp yang dimiliki oleh Ibu AR sebagai guru mata pelajaran PPKn tahun ajaran 2019/2020 diketahui bahwa pada dasarnya silabus dan rpp tersebut sudah mengintegrasikan nilai-nilai moral didalam penyusunannya. Dengan menyertakan nilai budaya dan karakter bangsa yang diharapkan tercapai melalui masing-masing KD. Serta dari silabus dan rpp yang dimiliki guru, dapat diketahui bahwa ketika mengajar guru sudah menyampaikan materi pembelajaran yang sesuai dengan SK-KD yang sudah sesuai dengan silabus dan rpp yang disusun. Namun, diketahui untuk kegiatan inti terkadang masih tidak sesuai dengan rpp yang dibuat oleh guru.

b) Peran Guru PPKn

Peran guru sebagai pendidik adalah berusaha membimbing dan mengarahkan siswa untuk mempersiapkan diri ketika akan melaksanakan proses belajar mengajar dikelas dan juga membimbing siswa untuk bersikap baik sehingga dapat menunjang proses pembelajaran yang diharapkan akan tercapai. Berikut pernyataan ibu AR terkait bagaimana guru mempersiapkan siswa agar siap untuk mengikuti proses pembelajaran PPKn?.

“Guru PPKn selalu mengingatkan kebersihan kelas terlebih dahulu agar lebih nyaman ketika proses pembelajaran dimulai, menanyakan materi minggu lalu, dan juga menanyakan kabar siswa dan kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran PPKn, seorang guru itu tidak hanya untuk mentransfer ilmu tetapi juga harus memberi contoh

yang baik bagi para siswa” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Sebagaimana pemaparan dari guru PPKn yakni seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuannya saja tetapi juga berusaha menjadi teladan bagi siswanya yang akan membuat siswa menjadi manusia yang memiliki moral yang baik dan juga menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Hal itu terlihat dari hasil observasi pada hari rabu, tanggal 16 Oktober 2019 setiap kali Ibu AR memasuki kelas ia memberi salam terlebih dahulu kemudian mengingatkan kebersihan kelas, siswa pun mengikuti apa yang diminta oleh guru dengan jika masih ada beberapa sampah yang berserakan langsung mereka pungut dan buang pada tempat sampah.

Kebiasaan untuk menjaga kebersihan yang dilakukan oleh guru merupakan hal yang positif bagi siswa untuk membiasakan menjaga lingkungannya., dari kegiatan tersebut secara tidak langsung guru telah menanamkan nilai-nilai pada siswa agar perduli terhadap lingkungan serta cinta terhadap kebersihan. Selanjutnya berdoa sebelum memulai proses belajar mengajar dalam hal ini guru telah menanamkan nilai religious, guru PPKn juga menyampaikan KD pada pertemuan pertama dalam kelas agar siswa dapat menyiapkan diri pada pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Guru sebagai motivator. Hal ini sangat penting mengingat proses pembelajaran akan berhasil jika siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Berikut pernyataan ibu AR terkait bagaimana cara guru

selama pembelajaran PPKn berlangsung dapat membangun dan meningkatkan partisipasi aktif siswa?.

“Cara guru dalam membangun dan meningkatkan partisipasi siswa yakni dengan memberikan pertanyaan tentang materi yang akan dibahas menurut pendapat masing-masing siswa. Dari pertanyaan itu akan muncul jawaban yang berbeda-beda. Walaupun demikian guru tetap menghargai setiap pendapat yang dilontarkan oleh siswa meskipun itu kurang tepat. Karena dengan demikian siswa tidak akan segan untuk mengeluarkan pendapatnya, siswa juga dapat belajar bagaimana etika dalam berpendapat, dan cara berpartisipasi yang benar,.” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Peran guru sebagai motivator dengan menciptakan forum diskusi siswa di kelas. Melalui forum diskusi ini diharapkan akan muncul pendapat yang pro dan kontra sehingga siswa dapat belajar mengemukakan pendapat dengan baik serta dapat berbesar hati menerima kritikan serta belajar menghargai pendapat orang lain serta tidak memaksakan pendapatnya sendiri.

Kemudian setelah melakukan observasi di kelas, diketahui bahwa guru memang sejauh ini sudah berusaha berperan sebagai motivator bagi siswa. Hal itu terlihat pada saat observasi proses pembelajaran PPKn dikelas guru selalu berusaha memberikan pertanyaan terkait materi supaya membangun partisipasi aktif siswa. Tetapi untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa guru masih harus menunjuk siswa terlebih dahulu supaya muncul keberaniannya untuk berpendapat.

Bentuk partisipasi aktif siswa yang baik perlu didukung dengan respon yang baik pula oleh guru. Sehingga perlu diketahui bagaiamana cara guru dalam memberikan tanggapan atau respon terhadap siswa yang

berpartisipasi aktif maupun tidak?. Menurut ibu AR selaku guru PPKn Kelas VIII, beliau menyatakan bahwa:

“Respon guru yakni dengan memuji siswa terhadap apapun pendapat siswa seperti ya bagus sekali, jawabannya sudah bagus tapi kurang tepat, dsb. Kemudian guru juga memberikan reward yaitu berupa nilai yang berkaitan dengan keaktifan siswa. Sedangkan siswa yang kurang aktif yaitu dengan merangsang siswa tersebut agar lebih aktif misalnya dengan memberikan pertanyaan atau perintah-perintah lain agar siswa juga terpacu untuk bisa menjawab pertanyaan yang guru berikan” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Guru telah menjalankan perannya sebagai motivator yang tidak hanya dengan menciptakan forum diskusi bagi siswa sebagai ajang mengemukakan pendapat. Tetapi, juga kemampuan guru dalam memberi tanggapan yang baik pula sehingga siswa merasa tidak malu ketika jawabannya salah. Bentuk reward berupa pujian, poin plus dalam keaktifan akan semakin memacu siswa untuk berpartisipasi aktif.

Dari hasil data observasi, pada setiap pertemuan atau tatap muka pada pembelajaran PPKn guru juga telah menunjukkan perannya sebagai motivator dengan memberi respon atau tanggapan pada siswa yang aktif dan berusaha membangun partisipasi peserta didik atau siswa yang kurang aktif.

Walaupun dari siswa keinginan untuk menanggapai pertanyaan dari guru masih kurang, karena dari yang terlihat siswa masih merasa malu dan takut apabila jawabannya salah, mereka terlihat lebih berani menjawab secara beramai-ramai dari pada harus mengangkat tangan dan mengemukakan pendapatnya. Tetapi mereka selalu bertanya jika ada materi yang belum dimengerti ataupun sulit dalam mengerjakan soal.

c) Metode Pembelajaran

Seorang guru penting dalam mengenal kondisi belajar siswanya yaitu keadaan dalam diri siswa itu sendiri maupun kondisi yang menyangkut keadaan lingkungan belajar di luar siswa merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena memberi pengaruh pada guru untuk menentukan metode pembelajaran.

Dari hasil observasi diketahui bahwa guru PPKn dalam melaksanakan proses belajar mengajar tidak hanya menggunakan metode ceramah tetapi juga menggunakan berbagai metode disesuaikan dengan materi, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PPKn seperti tanya jawab, diskusi, dan ceramah. Metode pembelajaran selain ceramah tersebut memberikan dampak yang positif bagi siswa karena selain dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa juga termotivasi dalam belajar karena belajar menjadi hal yang menyenangkan dan tidak membosankan. Selain menggunakan metode pembelajaran tersebut guru juga melakukan pendekatan pembiasaan, keteladanan dan refleksi merupakan pendekatan yang cukup efektif diterapkan. Misalnya dengan guru memberi teladan masuk kelas tepat waktu maka sebelum guru masuk kelas semua siswa sudah berada dibangkunya masing-masing. Guru membiasakan peserta didik atau siswa dengan selalu menghimbau hidup sehat dengan kondisi kelas yang selalu tetap bersih. Hal ini akan membuat terciptanya suasana belajar yang nyaman karena kelas yang bersih.

d) Moral Peserta Didik

Melalui proses pembelajaran PPKn sudah termuat didalamnya nilai-nilai moral, tentunya melalui proses pembelajaran tersebut diharapkan dapat terbentuk suatu karakter yang diharapkan sebagai dasar siswa berperilaku dalam kehidupan sehari-hari diberbagai lingkungan sosial. Sebagaimana yang dinyatakan oleh informan kedua bapak RM terkait moralitas siswa kelas VIII, khususnya siswa kelas VIIIB dan perannya selaku guru kesiswaan.

“persoalan moral, di sekolah MTs terdapat bermacam-macam karakter ada yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan keluarganya sendiri sehingga terkadang karakter atau moral itu terpengaruh dari sana tapi guru berusaha menanamkan karakter sebagaimana kurikulum yang berlaku disekolah sehinggah bisa meminimalisir hal-hal yang negatif. Mengenai peran karna informan sendiri sebagai guru kesiswaan yang menaungi beberapa bidang termasuk osis, ipm, pramuka, dan kegiatan-kegiatan ekstra yang lain, dengan kegiatan seperti ini misalnyakan pramuka guru dapat membina kedisiplinan anak-anak, kebersamaannya sehingga bisa mengurangi kegiatan-kegiatan yang negatif

Karakter siswa seperti apakah yang diharapkan dapat terbentuk melalui pembelajaran PPKn?. Menurut Ibu AR selaku guru PPKn menyatakan bahwa:

“Sebagai seorang guru menginginkan agar semua anak didik itu mempunyai karakter yang jujur, percaya diri, religius, mempunyai sikap moral yang baik, menjadi warga negara yang baik mengetahui hak dan kewajibannya. Perduli akan lingungan, temannya dan sebagainya. Walaupun anak tersebut pintar disekolah tapi karakternya tidak bagus kepintarannya akan terlihat percuma, guru berusaha menanamkan nilai-nilai pancasila agar karakter baik” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Karakter siswa yang ingin dicapai adalah karakter yang jujur, percaya diri, religious, bermoral, dan menjadi warga negara yang tahu akan hak dan kewajibannya. Sehingga akan muncul penghargaan atas dirinya sendiri dan orang lain. Salah satu karakter yang berusaha ditekankan seperti kepedulian.

Sementara untuk membentuk karakter siswa apalagi banyak orang memanglah bukan hal mudah dan tidak bisa pula dalam waktu yang singkat.

Hal ini menyebabkan sulitnya mengukur tingkat keberhasilan guru dalam membentuk moralitas siswa agar karakter yang diharapkan oleh guru dapat tertanam dalam diri siswanya dapat terwujud. Bagaimana cara guru mengukur keberhasilan pencapaian pembelajaran PPKn dan juga dapat mengetahui moralitas siswa kelas VIIIb dalam proses pembelajaran PPKn?.

Dari pemaparan ibu AR selaku guru PPKn Kelas VIII, beliau menyatakan bahwa:

“Caranya mengukur keberhasilan pembelajaran yaitu dengan mengadakan ulangan harian, memberikan tugas-tugas, terus juga dengan uts, dan penilaian akhirnya itu penilaian semester, kita sebagai guru mengukur bagaimana ini anak, apakah ini sudah lengkap dengan nilai-nilai tersebut atau masih kurang. Dan untuk melihat moralitasnya ini sulit untuk dilakukan tapi dapat dilihat sepanjang proses pembelajaran berlangsung, sejauh ini tingkat moralitas siswa melalui pembelajaran PPKn yang dapat diukur misalnya sikap siswa ketika mengikuti ulangan dengan sikap jujur maupun mengerjakan tugas secara sukarela, membantu temanyang sedang kesusahan, menjaga kebersihan kelasnya” (hasil wawancara tanggal 30 Oktober 2019).

Sulit bagi guru dalam mengukur moralitas siswa karna setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Mengingat guru PPKn harus dapat tetap

menyeleaikan materi yang dibebankan dengan tidak mengesampingkan penanaman nilai-nilai moral sehingga terbentuk karakter pada siswa. Guru PPKn dalam mengukur keberhasilan pencapaian nilai-nilai moral sehingga terbentuk karakter pada siswa melalui sikap dan perilaku siswa ketika ulangan harian, ketika diskusi, ketika memperoleh tugas, ketika bersikap terhadap gurunya, terhadap temannya, terhadap lingkungan belajarnya, dll.

Dari berbagai proses pemberian tugas guru dapat menilai secara langsung nilai karakter apa yang telah tertanam pada siswa saat proses pembelajaran terjadi. Hal itu didukung dari hasil data observasi diketahui bahwa pada saat ulangan harian kelas VIII b ada siswa yang duduk sebangku tetapi mendapatkan nilai yang berbeda. Salah satu siswa tersebut tidak mencapai nilai KKM. Padahal jika dia ingin nilainya bagus bisa saja dia mencontek teman sebangkunya tetapi hal tersebut tidak dilakukannya.

Hal ini juga didukung karna adanya kegiatan positif yang ada di MTs Aisyiyah Sungguminasa sebagaimana yang dinyatakan oleh bapak RM yakni guru bagian kesiswaan yang menaungi beberapa kegiatan disekolah terkait apakah disekolah ini terdapat kegiatan yang dapat menunjang terbentuknya moralitas siswa dan apa dampak dari adanya kegiatan ekstrakurikuler tersebut terhadap moralitas siswa?

“Yang pertama ada jumat ibadah yang dilakukan setiap hari jumat yaitu isinya ada tadarrus, ceramah agama, kadang diisi oleh guru, jadi ceramah yang pertama diisi oleh guru yang kedua diisi oleh siswa sendiri dengan tujuan bagaimana mendidik membina anak-anak untuk tampil didepan, ada juga nasi, shalawatan, yang kedua pihak sekolah mebiasakan mengarahkan anak-anak untuk mengadakan tadarrus sebelum belajar, yang ketiga sebagai guru

kesiswaan yang menaungi beberapa bidang ekstrakurikuler seperti osis, ipm, pramuka, dan kegiatan-kegiatan ekstra yang lain, terkhusus pada ikatan pelajar muhammadiyah yang ada disekolah itu dengan memiliki program yang bisa menanamkan moral yang baik termasuk mengikuti pengkaderan, pelatihan kepemimpinan, itu yang bisa menunjang terbentuknya moralitas siswa, misalnyakan juga kegiatan pramuka kita membina kedisiplinan anak-anak, kebersamaannya, kepemimpinannya, semua itu sudah dapat menunjang terbentuknya moral siswa menjadi baik dan dari kegiatan tersebut bisa mengurangi kegiatan-kegiatan negatif siswa. Dampak positif dari kegiatan yang diikuti anak-anak yang pertama anak-anak akan mandiri, kita ajarkan kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Negatifnya kadang anak-anak yang terlalu berlebihan dikegiatan ekstra kadang mereka menyampingkan kegiatan belajar dikelas, tetapi guru bisa mengimbangi dengan cara menyampaikan mengarahkan anak-anak agar tidak seperti itu”

Di Mts Aisyiyah Sungguminasa terdapat beberapa kegiatan yang dapat menunjang terbentuknya moralitas siswa, seperti kegiatan jumat ibadah, osis, ipm, pramuka, dan kegiatan-kegiatan ekstra lainnya. Siswa dilatih untuk disiplin, berani tampil didepan umum, rasa perduli, kebersamaan, dan sebagainya. Dalam kegiatan ekstra tersebut terdapat masing-masing guru/pembina dalam melakukan suatu kegiatan, pembina disini hanya sebagai pendorong, motivator, dan pemberi arahan kepada para siswa yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Pada bagian ini akan dibahas mengenai hasil penelitian yang diperoleh dari angket dan dokumentasi.

a) Pembelajaran PPKn

Variabel ini diukur menggunakan nilai tes siswa pada ujian tengah semester. Dari nilai tes tersebut diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 5.1 Deskriptif Statistik Pembelajaran PPKn

Statistics

N Valid 32

Missing 1

Mean 76.31

Median 75.50

Std. Deviation 4.908

Variance 24.093

Range 15

Minimum 70

Maximum 85

Sum 2442

Sumber: Olah Data SPSS

Berdasarkan tabel deskriptif variabel Pembelajaran PPKn menunjukkan bahwa nilai minimal sebesar 70, nilai maksimal sebesar 85, nilai rata-rata (mean) sebesar 76,31, nilai tengah (median) sebesar 75,50 nilai sering muncul (modus) sebesar 72 dengan simpang baku (Std.

Deviation) sebesar 4,9. Apabila ditampilkan dalam bentuk grafik pembelajaran PPKn siswa kelas VIII MTs Aisyiyah Sungguminasa Kabupaten Gowa dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 2.1 Grafik pembelajaran PPKn siswa kelas VIII MTs Aisyiyah Sungguminasa Kabupaten Gowa

b) Moralitas Siswa

Variabel ini menggunakan angket yang disebar pada siswa kelas VIII b. berdasarkan angket yang disebar pada 32 responden diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 5.2 Deskriptif Statistik Moralitas Siswa

Statistics

Berdasarkan tabel deskriptif variabel Moralitas siswa menunjukkan bahwa nilai minimal sebesar 56, nilai maksimal sebesar 75, nilai rata-rata (mean) sebesar 63,6, nilai tengah (median) sebesar 63, nilai sering muncul (modus) sebesar 72 dengan simpang baku (Std. Deviation) sebesar 5,7.

Apabila ditampilkan dalam bentuk grafik variabel Moralitas siswa kelas VIII MTs Aisyiyah Sungguminasa Kabupaten Gowa dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.2 Grafik Variabel Moralitas Siswa kelas VIII MTs Aisyiyah Sungguminasa Kabupaten Gowa

Analisis Data

Pada bagian analisis ini didahului oleh uji asumsi yang disyaratkan oleh uji regresi yaitu menggunakan uji normalitas, uji linieritas, dan uji hipotesis.

Berikut ini akan disajikan pengujian yang menjelaskan bahwa persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi asumsi-asumsi tersebut.

Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Pembelajaran PPkn yaitu 0,064

. 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa skor pembelajaran PPKn berdistribusi normal. Moralitas siswa: 0,070 . 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa skor moralitas siswa berdistribusi normal. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua data berdistribusi normal karena .

Uji Hipotesis

Dari tabel output SPSS “Coefficients”, kita akan melakukan uji untuk mengetahui apakah variabel pembelajaran PPKn (X) berpengaruh terhadap variabel moralitas siswa (Y). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. H atau hipotesis pertama : tidak ada pengaruh pembelajaran PPKn terhadap moralitas siswa

2. H atau hipotesis kedua : ada pengaruh pembelajaran PPKn terhadap moralitas siswa

Berdasarkan nilai signifikasi (sig)

Berdasarkan tabel output SPSS “Coefficients” diatas diketahui nilai signifikasi (sig) variabel pembelajaran PPKn (X) adalah sebesar 0,044. Karena nilai sig. 0,044 < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H atau hipotesis kedua diterima. Artinya ada pengaruh terhadap variabel moralitas siswa (Y).

Perbandingan nilai t hitung dengan dengan t tabel (uji t)

Berdasarkan tabel output SPSS diatas diketahu nilai t hitung variabel pembelajaran PPKn adalah sebesar 2,107. Karena nilai t hitung 2,107 > t tabel 2,042, maka dapat disimpulkan bahwa H atau hipotesis kedua diterima.

Artinya ada pengaruh terhadap variabel moralitas siswa (Y).

Maka dapat disimpulkan dari hasil analisis menunjukkan Sig. = 0,044<

. = 0,05. Maka “ada pengaruh pembelajaran ppkn terhadap moralitas siswa mts aisyiyah sungguminasa kabupaten gowa”.

Dokumen terkait