HASIL PENELITIAN
A. Data Umum
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) 1. 2. Laki-Laki Perempuan 18 12 60,00 40.00 Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 5.1 Jenis kelamin responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mayoritas Laki-laki sebanyak 18 responden (60,00%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
No Umur (Tahun) Frekuensi Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 17- 25 ( remaja akhir ) 26 – 35 (dewasa awal) 36 – 54 ( dewasa akhir ) 55 Tahun keatas ( lansia )
7 15 7 1 23,34 50,00 23,34 3,32 Jumlah 30 100
28 Berdasarkan tabel 5.2 Umur responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mayoritas umur 26-35 tahun sebanyak 15 responden (50,00%).
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%) 1. 2. 3. Rendah (SD-SMP ) Menengah (SMA ) Perguruan tinggi 9 13 8 30,00 43,34 26,66 Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 5.3 mayoritas tingkat pendidikan responden di Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru mayoritas adalah SMA sebanyak 13 responden (43,33 %).
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli –Agustus 2012
No Pekerjaan Frekuensi Persentase
(%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. IRT Wiraswasta Swasta Mahasiawa Petani PNS 7 9 5 1 5 3 23,34 30,00 16,66 3,34 16,66 10,00 Jumlah 30 100
Berdasarkan Tabel 5.5 Mayoritas pekerjaan responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru adalah wiraswaata sebanyak 9 responden (30,00%).
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Informasi Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik Spesialis Jiwa
diRumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Informasi Frekuensi Persentase
(%) 1. 2. Pernah Tidak pernah 12 18 40,00 60,00 Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa mayoritas responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mendapatkan informasi adalah tidak pernah mendapatkan informasi sebanyak 18 responden ( 60,00%).
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Sumber Informasi Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah pada Klinik Spesialis Jiwa
diRumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Sumber Informasi Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 Media elektronik Media cetak Petugas kesehatan Teman 1 2 6 3 8,33 16,67 50,00 25,00 Jumlah 12 100
Berdasarkan tabel 5.6 diperoleh hasil bahwa mayoritas responden mendapatkan sumber informasi tentang perawatan pasien halusinasi dirumah pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru yaitu dar i tenaga kesehatan sebanyak 6 responden (50,00%).
30 B. Data Khusus
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Gambaran Pengetahuan Keluarga Tentang Perawatan Pasien Halusinasi Di Rumah Pada Klinik Spesialis Jiwa
di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Kategori Frekuensi Persentase
(%) 1 2 3 Baik Cukup Kurang 8 9 13 26,66 30,00 43,34 Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa mayoritas Pengetahuan responden Tentang Perawatan Pasien Halusinasi Dirumah Pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru adalah kurang sebanyak 13 responden (43,34%).
31
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada tanggal 21 Juli sampai 4 Agustus 2012 yang bertempat di Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru dengan judul “Gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi dirumah pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru”.
Secara umum dari 30 responden dapat dikatagorikan baik sebanyak 8 responden (26,66%), cukup sebanyak 9 responden (30,00%) dan kurang sebanyak 13 responden (43,34%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan keluarga pasien di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru tentang perawatan pasien halusinasi dirumah dalam kategori kurang. Menurut asumsi peneliti, pengetahuan responden yang mayoritas kurang dapat dipengaruhi oleh umur, pendidikan dan kurangnya informasi yang diperoleh tentang perawatan pasien halusinasi dirumah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada keluarga pasien halusinasi pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru mayoritas responden berumur 17 tahun sampai 25 tahun sebanyak 7 responden (23,34%), umur 26 tahun sampai 35 tahun sebanyak 15 responden (50,00%), umur 36 tahun sampai 45 tahun sebanyak 4 responden (13,33%), umur 46 tahun keatas sebanyak 4 responden (13,33%).
Menurut Pro-Health (2009) usia dapat mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.semakin bertambah usia akan semakin
32 berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehinga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.
Dari hasil penelitian, peneliti berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur seseorang maka pengetahuan akan bertambah, tetapi bila didukung oleh factor-faktor seperti: pendidikan, informasi, pengalaman maka tingginya tingkat umur tidak menjamin baiknya tingkat pengetahuan seseorang, jadi bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya,akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
Jenis kelamin mempengaruhi pengetehuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi dirumah, dari hasil penelitian mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 18 responden(60,00%).
Menurut asumsi peneliti secara teoritis perempuan lebih berprestasi dari pada laki dikernakan perempuan lebih termotivasi dan rajin dari pada laki-laki dalam mengerjakan sesuatu hal, selain itu perempuan lebih mempunyai motivasi yang tinggi, dan lebih suka membaca dari pada laki-laki
Hal ini didukung oleh penelitian Ibnu (2008), yang berjudul tentang “perbedaan prestasi belajar antara laki-laki dan perempuan”dari hasil penelitianya bahwa perempuan lebih memiliki prestasi yang lebih bagus dari pada pria.
Factor lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi di rumah yaitu tingkat pendidikan.dari hasil penelitian tampak bahwa mayoritas pendidikan responden berada pada jenjang pendidikan (SMA) yaitu sebanyak 13 responden (43,34%).
Menurut asumsi peneliti tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap sesuatu, bila pendidikan tinggi maka pengetahuan juga baik, berwawasan luas serta mampu berpikir kritis, dan bila pendidikan rendah dapat menyebabkan pengetahuan seseorang juga rendah. Hal ini akan kelihatan jika tidak pernah memperoleh informasi tenteng kesehatan.
Pendidikan adalah hal yang mempunyai peran yang cukup penting terhadap seseorang terutama dalam pengambilan keputusan terhadap suatu masalah.seseorang yang mempunyai yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi mempengaruhi kesadaran terhadap pentingnya arti kesehatan sehingga cendrung memanfaatkan pelayanan kesehatan (Permata,2002).
Sedangkan menurut Suhardi (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang salah satunya adalah pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang di dapatnya.
Hal ini juga didukung oleh penelitian Sri (2002) yamg berjudul tentang “hubungan pendidikan dengan pengetahuan kesehatan”, dimana pendidikan yang rendah menyebabkan pengetahuan seseorang tentang kesehatan juga rendah.
Selain jenis kelamin dan faktor pendidikan, pekerjaan juga mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dari hasil penelitian mayoritas pekerjaan responden sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 9 responden (30,00%).
Menurut Hendra (2008) pekerjaan mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Orang yang menekuni suatu bidang pekerjaan akan memiliki pengetahuan mengenai segala sesuatu mengenai apa yang dikerjakannya.
34 Jadi, bahwa pekerjaan seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya.Hal ini didukung oleh penelitian yasir (2009) yang berjudul “ hubungan tingkat pengetahuan dengan pekerjaan”, yang mangatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pekerjaan.
Selain faktor-faktor tersebut di atas, informasi juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dari hasil penelitian, sebanyak 30 responden (40,00%) pernah memperoleh informasi tentang perawatan pasien halusinasi, sedangkan yang tidak pernah memperoleh informasi sebanyak 18 responden (60,00). Sumber informasi yang diperoleh yaitu media elektronik sebanyak 1 responden (8,33%), media cetak sebanyak 2 responden (16,67%) orang lain teman atau keluarga sebanyak 3 responden (25,00%) dan dari tenaga kesehatan 6 responden (50,00%).
Menurut Roben (2004), mengatakan semakin banyak seseorang memperoleh informasi, maka semakin baik pengetahuannya, sebaliknya semakin kurang informasi yang diperoleh, maka semakin kurang pengetahuannya, informasi tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan dan media massa.
Faktor lain juga sangat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah sumber informasi. Menurut Mc Luhan (2002), mengatakan bahwa media masa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah masyarakat melalui cetak dan media elektronik sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak. Sedangkan menurut Dahlan (2001), mengatakan bahwa kita dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber terutama dari media masa misalnya dari televisi, radio, surat kabar, majalah, komputer bahkan dari internet.
Hal ini didukung oleh penelitian Krianto (2002) dengan judul “ hubungan antara keterpaparan informasi terhadap kebutuhan informasi “ dimana seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui keterpaparannya terhadap informasi sedangkan kebutuhan informasi dapat diperoleh melalui komunikasi massa melalui televisi, poster, radio, dan sebagianya.
36