1
TUGAS AKHIR
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN
PASIEN HALUSINASI DI RUMAH PADA KLINIK SPESIALIS
JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN
PEKANBARU
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai
Gelar Ahli Madya Keperawatan
OLEH
FITRI NOPA YANTI
NIM : 090201015
FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
DAN KESEHATAN JURUSAN D-IIINKEPERAWATAN
i
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN
PASIEN HALUSINASI DI RUMAH PADA KLINIK SPESIALIS
JIWA DIRUMAH SAKIT JIWA TAMPAN
PEKANBARU
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai
Gelar Ahli Madya Keperawatan
OLEH
FITRI NOPA YANTI
NIM : 090201015
FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
DAN KESEHATAN JURUSAN D-IIIKEPERAWATAN
ii
SURAT KETERANGAN
Kami Pembimbing Tugas Akhir dengan ini menerangkan bahwa mahasiswa yang tersebut di bawah ini :
Nama : Fitri Nopa Yanti
NIM : 090201015
Jurusan : Diploma III Keperawatan
Telah selesai menyusun Tugas Akhir dengan judul :
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN PASIEN HALUSINASI DIRUMAH PADA KLINIK SPESIALIS JIWA
RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PEKANBARU
Siap untuk diujikan.
Demikianlah surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Pekanbaru, September 2012 Pembimbing
iii JUDUL
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN PASIEN HALUSINASI DI RUMAH PADA KLINIK SPESIALIS JIWA
DIRUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PEKANBARU
Disusun oleh :
Nama : FITRI NOPA YANTI
Nim :090201015
Jurusan :D III KEPERAWATAN
PEMBIMBING
Ns.Yeni Yarnita, S.Kep
KETUA JURUSAN D-III KEPERAWATAN
Ns. Tri SiwiKusumaningrum, S.Kep
Tugas akhir initelah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar diplomat III keperawatan pada Fakultas MIPA & Kesehatan Universitas Muhammadiyah Riau.
Disetujui oleh,
Dekan Fakultas MIPA & Kesehatan
iv
SURAT PERNYATAAN
Saya mengakui bahwa Tugas Akhir ini merupakan hasil karya saya sendiri kecuali ringkasan dankutipan (baik secara langsung maupun tidak langsung), saya ambil dari berbagai sumber dan disebutkan sumbernya secara ilmiah saya bertanggung jawab atas kebenaran data dan fakta Tugas Akhir ini.
Pekanbaru, September 2012 Saya yang menyatakan,
v FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
Penelitian keperawatan Jiwa, September 2012
Fitri Nopa Yanti
090201015
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN PASIEN HALUSINASI DI RUMAH PADA KLINIK SPESIALIS JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PEKANBARU
XIV +37 Halaman + 8 Tabel +1 Skema + 14 Lampiran
ABSTRAK
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul :“GambaranPengetahuan Keluarga Pasien Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik spesialis Jiwa di Sakit Jiwa Tampan
Pekanbaru”.
Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, peneliti merasakan betapa besarnya manfaat bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak, sehingga dapat dijadikan suatu pengetahuan dan landasan peneliti dalam menggali permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini.
Selama penulisan Tugas Akhir ini, peneliti telah banyak mendapatkan bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak dan pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Diah Zainuddin, M.Ed selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Riau
2. Ibu Wiwik Norlita, A.Kep, M.Kes selaku Dekan Fakultas MIPA dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Riau.
3. Ibu Ns. TriSiwi Kusumaninggrum, S.Kep selaku Ketua Jurusan D-III Keperawatan Fakultas MIPA dan kesehatan Universitas Muhammadiyah Riau.
vii
Pekanbaru yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengadakan penelitian.
6. Bapak Ns. Syaparuddin D, S. Kep,MM selaku Bagian Seksi Diktat Rumah Sakit Jiwa Tampan pekanbaru yang telah membantu peneliti untuk mengadakan penelitian.
7. Bapak dan Ibu dosen Jurusan D-III Keperawatan Fakultas MIPA dan kesehatan Universitas Muhammadiyah Riau yang telah memberikan dorongandan motivasi kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan studi dengan baik.
8. Ucapan terimah kasih yang teristimewa dan tehingga buat Ayahnda Marhadi dan Ibu darwalismi yang tercinta serta saudara-saudara ( Adek Gito Haston Dellakrus dan Sofia Regina Fra Yoga) yang telah memberi dukungan secara moril dan materil selama peneliti mengikuti pendidikan di Fakultas MIPA dan Kesehatan Jurusan D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Riau. 9. Rekan –rekan seperjuangan dikampus yang telah memberikan dorongan dan
semangat pada peneliti sehingga penelitian ini dapat selesai.
Peneliti menyadari bahwa dalam laporan hasil penelitian ini masih terdapat kekurangan.Oleh karena itu peneliti sangat mengharapkan saran serta kritik yang sifatnya membanggun demi kesempurnaan dari Laporan hasil penelitian ini.
Pekanbaru, September 2012 Peneliti
viii DAFTAR ISI
LEMBARAN JUDUL ... i
SURAT KETERANGAN ... ii
LEMBARAN PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
B. Konsep Dasar Keluarga ... 10
1. Pengertian Keluarga ... 10
2. Struktur Keluarga ... 10
3. Tugas keluarga di bidang kesehatan ... 11
4. Batas usia ... 12
C. Konsep Dasar Halusinasi ... 13
1. Pengertian Halusinasi ... 13
2. Penyebab Halusinasi ... 13
3. Rentang Respon ... 15
4. Mekanisme Koping ... 15
5. Manifestasi Klinis ... 15
6. Perawatan Pasien Halusinasi ... 16
7. Perawatan pasien Halusinasi di Rumah ... 17
8. Strategi Pelaksanaan ... 19
BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep... 21
B. Defenisi Operasional ... 20
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Desain ... 21
B. Tempat Penelitian ... 21
C. Waktu Penelitian ... 21
ix
2. Sampel ... 22
E. Alat Pengumpulan Data ... 22
F. Cara Pengumpulan data ... 23
1. Data Primer ... 23
2. Data Skunder ... 23
G. Etika Penelitian ... 23
H. Teknik Pengumpulan Data ... 24
I. Analisa Data ... 25
BAB V HASIL PENELITIAN A. Data Umum ... 27
B. Data khusus ... 30
BAB VI PEMBAHASAN ... 31
BAB VII HASIL PENELITIAN A. Kesimpulan ... 36
B. Saran ... 36 DAFTAR PUSTAKA
x
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Defenisi Operasional ... 18 Tabel 4.1 Kisi- kisi pernyataan kuesioner ... 21 Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di Klinik
Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012 ... 27 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Klinik
Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan PekanbaruJuli – Agustus 2012 ... 27 Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan pendidikan Responden di
Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012 ... 28 Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan pekerjaan Responden di
Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012 ... 28 Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Informasi Tentang
Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik Spesialis JiwaDi Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012 ... 29 Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan sumber Informasi
Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik Spesialis JiwaDi Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012 ... 29 Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Gambaran Pengetahuan Keluarga
xi
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I : Jadwal Kegiatan
Lampiran II : Surat Izin Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Riau kepada kesatuan bangsa
Lampiran III : Surat Izin Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa Kerumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Lampiran IV : Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran V : Surat Persetujuan Responden Lampiran VI : Informed Consent
Lampiran VII : Kuesioner Penelitian Lampiran VIII : Master Tabel
Lampira IX : Dokumentasi Penelitian Lampiran X : Lembaran Konsultasi Proposal
Lampiran XI : Lembaran Konsultasi Perbaikan Proposal Penelitian Penguji I Lampiran XII : Lembaran Konsultasi Perbaikan Proposal Penelitian Penguji II Lampiran XIII : Lembaran konsul hasil penelitian
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa(mental disorder) merupakan salah satu masalah kesehatan utama, di negara –negara maju, modern dan industri, meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan karna mareka tidak produktif dan tidak efisien (Hawari, 2002).
Menurut World Health Organitation(WHO, 2008), prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, 25 persen dari penduduk dunia pernah menderita masalah kesehatan jiwa, 1 persen diantaranya adalah gangguan jiwa berat, potensi seseorang mudah terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang di seluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf maupun perilaku.
Salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat diseluruh dunia adalah gangguan jiwa dengan skizoprenia dan dari seluruh pasien skizoprenia 70 persen diantaranya mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa, halusinasi sering diidentikkan denganskizoprenia (Harnawati,2002).
2
yang mendekat (yang diprakasai secara internal dan eksternal) disertai dengan suatu pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi atau kelaian berespon terhadap setiap stimulus (Ilham, 2008).
Gangguan jiwa dengan halusinasi dibagi dalam beberapa jenis yaitu : halusinasi pendengaran,halusinasi penglihatan,halusinasi penghidu, halusinasi pengecapan, halusinasi perabaan, cenestetik dan kinisteti( Nasution ML, 2004)
Ronosulistyo (2008) menyebutkan, prevalensinya sekitar 11 persen dari total penduduk dewasa di Indonesia. Persentase kesehatan jiwa itu akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup masyarakat Indonesia. Dari survei awal yang dilakukan oleh Nasution,2008. Diketahui jumlah pasien dengan gangguan jiwa yang dirawat di Rumah sakit pada tahun 2009 berkisar 14.306 jiwa, dari jumlah tersebut 1.929 pasien dirawat inap, 12.377 pasien dirawat jalan, dan 1.581 pasien yang dirawat inap mengalami halusinasi (MahnunLailan Nasution,2009).
Sedangkan Direktur Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh, Drs H Saifuddin AR SPMH MKes mengatakan jumlah pasien Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh hingga posisi Mei 2009, mencapai 315 orang. Jumlah ini memang telah melampaui kapasitas ruang yaitu 220 orang.Menurutnya, saat ini ada sekitar 120 pasien penderita gangguan jiwa yang dipasung di berbagai kawasan Aceh (Saifuddin,2009).
disekolah/dikampus, ditempat kerja dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan mengalami ketidak mampuan berfungsi secara optimal dalam kehidupannya Sehari-hari termasuk didalam keluarga (Hawari, 2002).
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat maupun sakit pasien .Umumnya keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawatnya. Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan pasien dan merupakan perawat utamabagipasien , keluarga berperan dalam menentukan cara keluarga tinggal dengan pasien harus mengetahui bahwa pasien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Keliat, 2002).
Keluarga harus mempunyai kemampuan untuk mengenal masalah kesehatan tidak terkecuali kesehatan jiwa. Hal yang perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari masalah kesehatan serta persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan terutama yang dialami oleh salah satu anggota keluarga tersebut (suprajitno, 2004). Keluarga pasien banyak yang tidak mengetahui bagaimana cara menangani perilaku pasien, Umumnya keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika meraka tidak sanggup lagi merawatnya, oleh karena itu sangat penting jika keluarga mengetahui secara dini jika anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dengan halusinasi (Keliat,2002).
4
Sakit Jiwa Tampan sebanyak 8.060 orang, yang menderita halusinasi sebanyak 1.641 (20,36%), sedangkan pada tahun 2010 pasien yang datang sebanyak 10.983 orang, dengan pasien halusinasi sebanyak 4.396 orang (40,05%).
Berdasarkan survey awal pada tanggal 6 Februari 2012 terhadap 10 keluarga pasien yang menderita gangguan jiwa dengan halusinasi didapatkan 7 keluarga pasien yang tidak mengetahui tentang gangguan halusinasi, sedangkan 3 orang mengetahui tentang perawatan halusinasi seperti : tidak boleh mengikat dan mengucilkan pasien . Berdasarkan permasalahan terdapat diatas, maka peneliti tertarik meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan
Keluarga Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik
Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru”.
B. PerumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahannya adalah“Bagaimana pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi diRumah Pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru?”.
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Bagi Penelitian
Memberi pengalaman dan pengetahuan bagi peneliti di RSJ Tampan Pekanbaru, Khususnya dalam penelitian tentang gangguan jiwa halusinasi. 2. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
a. Menjadi media informasi dan masukan bagi pembaca atau mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Riau melasanakan program penelitian. b. Sebagian referensi pendidikan Universitas Muhammadiyah Riau dan
sebagai masukan bagi penelitian berikutnya.
3. Bagi Rumah Sakit
Agar dapat dijadikan masukkan terutama pengetahuan keluarga pasien tentang perawatan dirumah pada pasein halusinasi di Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru.
4. Bagi Keluarga
a. Menambah dan memperbanyak wawasan keluarga pasien tentang halusinasi.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu”dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmodjo,2003).
Menurut Notoadmodjo (2005), pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
2. Tingkat Pengetahuan
a. Tingkat PengetahuaanDalam DomainKognitif
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan
tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap ojek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagaiaplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsipdan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan runus statistik dalam perhitungan- perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip sirklus pemecahan masalah (problem solving cycle) didalampemecahan masalah kesehatan dan kasus
yang diberikan. 4) Analisis (analysis)
8
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan dan menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap seatu materi atau objek.Penilaian ini berbasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
b. Tingkat PengetahuanDalam DomainAfektif
1) Menerima(receiving)
Menerina diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2) Merespon (responding)
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segalah resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi(Notoatmodjo,2003).
c. Tingkat PengetahuanDalam DomainPsikomotor
Pengetahuan yang tercakup dalam domain psikomotor mempunyai tingkatan:
1) Adaptasi
Kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. 2) Asimilasi
Kecenderundan untuk mengubah lingkungan menyesuaikan dengandirinya.
3) Akomodasi
Kecenderungan untuk mengubah dirinya menyesuaikan dengan lingkungannya.
4) Kecenderungan organisasi
10
B. Konsep Dasar Keluarga
1. PengertianKeluarga
Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Menurut Departemen Kesehatan RI, 1998).
Silvicion G Bailon dan AracelisMaglaya (1989) keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karna darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan dan mereka hidup didalam satu rumah tangga, berinteraksi sama lain didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan (setiawati, 2008).
2. StrukturKeluarga
a. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
b. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal: sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu.
d. Patrilokal: sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
3. Tugas Keluarga Dibidang Kesehatan
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi :
a. Mengenal masalah kesahatan keluarga, kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segalah sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal masalah keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua / keluarga. Apabila menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahanya.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan-kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau teratasi, jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang dilingkungan tinggal keluarga agar memperoleh bantuan.
12
memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjut atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan diintitusi pelayanan kesehatan atau dirumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga (Suprjitno,2004).
4. Batas usia
Menurut kushsriyadi (2010) bahwa tahapan masa dewasa adalah sebagai berikut:
a. Masa dewasa muda ( usia 18-25 tahun) b. Masa dewasa awal (usia 26-40 tahun) c. Masa dewasa tengah (usia 40-64 tahun) d. Masa dewasa lanjut (usia 65-75 tahun) e. Masa dewasa sangat lanjut (usia > 75 tahun)
Menurut Prof.DR. Ny. Sumiati Ahmad Muhammad ( Alm), Guru Basar Universitas Gajah Mada Fakultas Kedokteran, periodisasi biologis perkembangan manusia dibagi :
d. Masa puberitas(usia 10-20 tahun)
e. Masamasa setengah umur (usia 40-65 tahun) f. Masa lanjut usia, sinium ( usia >65 tahun) (Kushariyadi, 2010)
C. Konsep Dasar Halusinasi
1. Defenisi
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensorik persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan.pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada(Keliat,2002).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah dimana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat berwujud pengindraan kelima indra yang keliru (Iman, 2006).
2. PenyebabHalusinasi
Menurut Stuart (2001), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: a. Faktor Predisposisi
1) Biologis :
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
14
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). 2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan pasien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis pasien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup pasien.
b. Faktor Presipitasi
3. Rentang Respon
Respon Adaptif Respon maladaptive
Perilaku logis Distrori pikiran Gangguan pikir / delusi Emosi konsisten reaksi emosi sulit berespon emosi
Perilaku sesuai perilaku aneh / tidak biasa perilaku disorganisasi Berhubungan social bisa menarik diri isolasi sosial 4. Sumber Koping/MekanismeKoping
Sumber koping yaitu suatu evaluasi terhadap pilihan cara yang digunakan dan strategi seseorang untuk menyelesaikan suatu masalah. Individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan.Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil (Stuart, 2002, hlm 249).
5. Manifestasi Klinis
Menurut Towsend (2002), tanda dan gejala dari halusinasi terbagi atas 4 tahap, yaitu:
a. Tahap I
1) Tertawa yang tidak sesuai
2) Menggerakan bibirnya tanpa meninbulkan suara 3) Gerakan mata yang cepat
16
b. Tahap II
1) Peningkatan system saraf otonom yang menunjukan ansietas misalnya peningkatan nadi pernapasan dan tekanan darah.
2) Penyempitan kemampuan konsentrasi
3) Dipenuhi dengan pengalaman sensorik dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. c. Tahap III
1) Lebih cenderungmengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya
2) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain 3) Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik
4) Gejalah fisik dari ansietas berat seperti berkeringat,tremor, ketidak mampuan untuk mengikuti pentunjuk
d. Tahap IV
1) Perilaku menyerang teror seperti panik
2) Sangat berpotensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain
3) Tidak mampu deresponterhadaplebih dari satu orang (Towsend,2002).
6. PerawatanPasienHalusinasi
secara terapeutik dalam memberikan asuhan keperawatan terhadappasien halusinasi perawat harus bersikap jujur, empati, terbuka dan selalu memberi penghargaan namun tidak boleh tenggelam juga menyangkal halusinasi yang pasien alami. Asuhan keperawatan tersebut dimulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi ( Towsend,2002)
7. PerawatanPasienHalusinasi Di Rumah
a. Aspek peran keluarga
Peran serta keluarga dalam perawatan keluarga dalam keperawatan pesien gangguan jiwa sangat penting karena keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga dipandang sebagai satu sistem jadi gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat mempengaruhi sistem, terjadi disfusi dalam keluarga dapat sebagi penyebab gangguan (Hary, 2008).
18
Keluarga perlu membuat upaya konstan untuk mensosialisasikan penderita, membujupasien supaya mau keluar rumah, melaksanakan aktifitas apapun yang mungkin, bangun dari tempat tidur pada pagi hari. Walaupun pun penderita tidak dapat Melakukan sutu pekerjaan, namun kehadiran penderita secara teratur dipusat harian ini adalah nilai yang harus didukung oleh keluarga (Franklin, 2004).
b. Aspek spiritual
Aspek spiritual yang mempengaruhi kesehatan jiwa dapat termasuk di dalamnya aspek agama. Dalam kehidupan beragama dan memiliki konsekuensi tinggi, maka akan memiliki keterikatan pemikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama berserta atuara-aturan atau syariat yang ada didalamnya. Agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi penghibur dikala duka serta sumber kekuatan batin saat manusia menghadapi kesulitan (Fanani M, 2007).
c. Aspek lingkungan sosial
dapat memberikan dukungan dan bantuan terhadap pasien untuk mengembalikan kemampuan sosialnya dengan baik.Karena seperti orang yang sehat, penderita gangguan jiwa ingin juga diterima masyarakat dan dianggap melakukan hal yang benar dalam kehidupan kesehariannya (Franklin J, 2004).
8. Strategi Pelaksanaan
Strategi pelaksanaan adalah rencana yang akan dilakukan pada pasien halusinasi.Hal ini sangat berguna bagi pasien dan tidak hanya bagi pasien keluarga juga harus mengetahui strategi pelaksaan ini untuk bekal jika pasien pulang kerumah.Strategi pelaksanaan yaitu :
Sp1 keluarga : pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialamai pasien, tanda dan gejalah halusinasi dan cara-cara merawatpasien halusinasi.
Sp2 keluarga : melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien.
20
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. KerangkaKonsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Skema 3.1
Kerangka Konsep
Keterangan :
:Aspek yang di teliti : Kategori
B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi
Opersional Alat ukur
Skala halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru.
Kategori
21
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif, yaitu metode penilaian yang dilakukan dengan tujuan untuk
membuat gambaran atau deskripsi tentang sesuatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,2005).
B. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan diKlinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru.
C. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 21 Juli – 4 Agustus 2012.
D. Populasidan Sampel
1. Populasi
22
2. Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang akan di teliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang di miliki oleh populasi (Hidayat, 2002). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian keluarga pasien yang ada di Klinik Spesialis Jiwa menggunakan teknik accidental sampling yaitu sebagian keluarga pasien yang datang berobat ke Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan pekanbaru dijumpai saat penelitian. a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi atau kriteria penerimaan adalah karakteristik umum subjek penelitian agar dapat diikutsertakan ke dalam pelelitianini : 1) Keluarga pasien yang bisa membaca dan menulis
2) Keluarga pasien yang bersedia dijadikan sampel penelitian 3) Keluarga pasien yang datang berobat keklinik spesialis jiwa 4) Keluarga pasien yang berusia diatas 17 tahun
E. Alat PengumpulanData
Tabel 4.1
Kisi-Kisi Pertanyaan Kuesioner
No Variabel Sebatan Item Jumlah
Item Fariable Unfariable
1 Gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien
halusinasi diRumah Pada Poli Klinik Rumah Sakit Tampan Pekanbaru
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah : 1. Data Primer
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan data primer yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada responden.
2. Data Sekunder
Pengumpulan data dengan menggunakan data sekunder yaitu diperoleh melalui studi kepustakaan, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
G. Etika Penelitian
24
kepada Direktur Rumah Sakit Tampan Pekanbaru, setelah mendapatkan persetujuan,barulah penelitian dilakukan dengan menekankankepada masalah etika yang meliputi :
1. Lembaran persetujuan penelitian (Informed Consent)
Tujuannya adalah subjek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika subjek menolak untuk diteliti maka peniliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya. 2. Tanpa nama (anomimity)
Perserta mempunyai hak untuk tetap anonim (tidak menyebutkan nama) sepanjang proses penelitian. Informasi berhubungan dengan perserta atau kenyataan bahwa individu tertentu telah berpartisipasi tidak diberikan kepada setiap orang diluar tim riset.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek dijamin oleh peneliti,hanya kelompok data saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.
H. Teknik PengumpulanData
Data yang dikumpul dalam tahap pengumpulan data kemudian diolah secara manual, setelah terkumpul diolah dengan langkah-langkah sebangaiberikut :
1. Editing
2. Coding
Member tanda atau kode tertentu pada data yang dicatat dari kuesioner dibuat dalam kode berbentuk angka.
3. Sorting
Mensortir atau memilah- milah atau mengelompokan data (klasifikasi data) kegiatan untuk menggolongkan atau mengelompokandengan tujuan memudahkan pengolahan data sesuai dangan variabel penelitian yang telah ditetapkan.
4. Entry Data
Masukan data dengan secara manual atau melalui pengelolahan dengan bantuan piranti lunak komputer.
5. Cleaning
Membersikan data atau check dan recheck data untuk memastikan apakan data benar- benar sesuai dengan variabel penelitian.
6. Mengeluarkan informasi yang diperlukan (Hasan,2004).
I. Analisa Data
Dalam analisa data peneliti menggunakan analisa univariateyaitu analisis yang dilakukan terhadap tiap veriabel dari hasil penelitian yang hanya menggambarkan hasil perhitungan berupa frekuensi dan persentase tiap variabel.
26
100% N
F
P
Keterengan : P :Persentasi
F : Frekuensi jumlah jadwal jawaban benar N : Jumlah pernyataan
Hasil perhitungan persentase dimasukan kedalam kriteria standar objektif menurut Nursalam (2009) sebagai berikut :
27
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran pengetahuan keluarga pasien tentang perawatan pasien halusinasi di rumah pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru yang telah dilakukan pada tanggal 21 Juli sampai 4 Agustus 2012 dengan jumlah responden 30 responden yang mengunakan alat ukur kuesioner dapat dilihat pada tabel –tabel berikut:
A. Data Umum
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Berdasarkan tabel 5.1 Jenis kelamin responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mayoritas Laki-laki sebanyak 18 responden (60,00%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
28
Berdasarkan tabel 5.2 Umur responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mayoritas umur 26-35 tahun sebanyak 15 responden (50,00%).
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli – Agustus 2012
No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Berdasarkan tabel 5.3 mayoritas tingkat pendidikan responden di Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru mayoritas adalah SMA sebanyak 13 responden (43,33 %).
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
Juli –Agustus 2012
No Pekerjaan Frekuensi Persentase
(%)
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Informasi Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah Pada Klinik Spesialis Jiwa
diRumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Informasi Frekuensi Persentase
(%)
Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa mayoritas responden di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mendapatkan informasi adalah tidak pernah mendapatkan informasi sebanyak 18 responden ( 60,00%).
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Sumber Informasi Tentang Perawatan Pasien Halusinasi di Rumah pada Klinik Spesialis Jiwa
diRumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Sumber Informasi Frekuensi Persentase (%)
30
B. Data Khusus
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Gambaran Pengetahuan Keluarga Tentang Perawatan Pasien Halusinasi Di Rumah Pada Klinik Spesialis Jiwa
di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru Juli – Agustus 2012
No Kategori Frekuensi Persentase
(%) 1
2 3
Baik Cukup Kurang
8 9 13
26,66 30,00 43,34
Jumlah 30 100
31
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada tanggal 21 Juli sampai 4 Agustus 2012 yang bertempat di Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru dengan judul “Gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi dirumah pada Klinik Spesialis Jiwa di
Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru”.
Secara umum dari 30 responden dapat dikatagorikan baik sebanyak 8 responden (26,66%), cukup sebanyak 9 responden (30,00%) dan kurang sebanyak 13 responden (43,34%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan keluarga pasien di Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru tentang perawatan pasien halusinasi dirumah dalam kategori kurang. Menurut asumsi peneliti, pengetahuan responden yang mayoritas kurang dapat dipengaruhi oleh umur, pendidikan dan kurangnya informasi yang diperoleh tentang perawatan pasien halusinasi dirumah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada keluarga pasien halusinasi pada Klinik Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru mayoritas responden berumur 17 tahun sampai 25 tahun sebanyak 7 responden (23,34%), umur 26 tahun sampai 35 tahun sebanyak 15 responden (50,00%), umur 36 tahun sampai 45 tahun sebanyak 4 responden (13,33%), umur 46 tahun keatas sebanyak 4 responden (13,33%).
32
berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehinga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.
Dari hasil penelitian, peneliti berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur seseorang maka pengetahuan akan bertambah, tetapi bila didukung oleh factor-faktor seperti: pendidikan, informasi, pengalaman maka tingginya tingkat umur tidak menjamin baiknya tingkat pengetahuan seseorang, jadi bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya,akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
Jenis kelamin mempengaruhi pengetehuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi dirumah, dari hasil penelitian mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 18 responden(60,00%).
Menurut asumsi peneliti secara teoritis perempuan lebih berprestasi dari pada laki dikernakan perempuan lebih termotivasi dan rajin dari pada laki-laki dalam mengerjakan sesuatu hal, selain itu perempuan lebih mempunyai motivasi yang tinggi, dan lebih suka membaca dari pada laki-laki
Hal ini didukung oleh penelitian Ibnu (2008), yang berjudul tentang “perbedaan prestasi belajar antara laki-laki dan perempuan”dari hasil penelitianya bahwa perempuan lebih memiliki prestasi yang lebih bagus dari pada pria.
Menurut asumsi peneliti tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap sesuatu, bila pendidikan tinggi maka pengetahuan juga baik, berwawasan luas serta mampu berpikir kritis, dan bila pendidikan rendah dapat menyebabkan pengetahuan seseorang juga rendah. Hal ini akan kelihatan jika tidak pernah memperoleh informasi tenteng kesehatan.
Pendidikan adalah hal yang mempunyai peran yang cukup penting terhadap seseorang terutama dalam pengambilan keputusan terhadap suatu masalah.seseorang yang mempunyai yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi mempengaruhi kesadaran terhadap pentingnya arti kesehatan sehingga cendrung memanfaatkan pelayanan kesehatan (Permata,2002).
Sedangkan menurut Suhardi (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang salah satunya adalah pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang di dapatnya.
Hal ini juga didukung oleh penelitian Sri (2002) yamg berjudul tentang “hubungan pendidikan dengan pengetahuan kesehatan”, dimana pendidikan yang rendah menyebabkan pengetahuan seseorang tentang kesehatan juga rendah.
Selain jenis kelamin dan faktor pendidikan, pekerjaan juga mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dari hasil penelitian mayoritas pekerjaan responden sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 9 responden (30,00%).
34
Jadi, bahwa pekerjaan seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya.Hal ini didukung oleh penelitian yasir (2009) yang berjudul “ hubungan tingkat pengetahuan dengan pekerjaan”, yang
mangatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pekerjaan.
Selain faktor-faktor tersebut di atas, informasi juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dari hasil penelitian, sebanyak 30 responden (40,00%) pernah memperoleh informasi tentang perawatan pasien halusinasi, sedangkan yang tidak pernah memperoleh informasi sebanyak 18 responden (60,00). Sumber informasi yang diperoleh yaitu media elektronik sebanyak 1 responden (8,33%), media cetak sebanyak 2 responden (16,67%) orang lain teman atau keluarga sebanyak 3 responden (25,00%) dan dari tenaga kesehatan 6 responden (50,00%).
Menurut Roben (2004), mengatakan semakin banyak seseorang memperoleh informasi, maka semakin baik pengetahuannya, sebaliknya semakin kurang informasi yang diperoleh, maka semakin kurang pengetahuannya, informasi tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan dan media massa.
Hal ini didukung oleh penelitian Krianto (2002) dengan judul “ hubungan antara keterpaparan informasi terhadap kebutuhan informasi “ dimana seseorang
36
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 21 juli sampai 4 agustus 2012 maka dapat disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi dirumah pada Klinik Spesialis Jiwa Rumah Sakit Tampan Pekanbaru mayoritaspengetahuanya kurang sebanyak 13 responden (43,34%).Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner yang berisikan 20 pernyatan dan pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti pada 30 responden yaitu keluarga pasien yang ada diklinik spesialis jiwa rumah sakit jiwa tampan pekanbaru.
B.Saran
Berdasarkan hasil penelitian tersebut ada beberapa saran yang dapat disampaikan peneliti antara lain:
1. Kepada Peneliti Selanjutnya
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini agar lebih sempurna dan tidak terbatas pada pengetahuan saja seperti,memberikan pendidikan kesehatan, dengan membagikan leafet tentang perawatan pasien halusinasi dirumah. Tetapi juga harus dilengkapi dengan memberikan penyuluhan kesehatan.
2. Kapada Pihak Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
keluarga pasien tentang perawatan pasien halusinasi di rumah agar penelitian yang akan datang menjadi lebih baik.
3. Kepada Institusi Pendidikan DIII Keperawatan UMRI
Diharapkan kepada institusi pendidikan untuk dapat menambah referensi buku tentang perawatan jiwa khususnya tentang perawatan halusinasi.Sehinggamempermuda mahasiswa untuk mendapatkan bahan dalam penelitian dan menjadi lebih baik.
4. Kepada Keluarga Pasien
38 DAFTAR PUSTAKA
Arif,Iman S. (2006). Skizofrenia Memahami Dinamika keluarga pasien. Bandung: PT.Refika Aditama
Dahlan. (2002). Informasi .Di http//id.sumberinformasi.wordpress.com. Di buka tanggal 09 Maret 2011.
Fanani M, (2007).Askep relegius sebagai modal
terapi.www.farmacial/universitaria/vol.6.co.id Diperoleh tanggal 2februari 2012.
Franklin J, (2004). Social support for individual with schizophrenia.www. schizophrenia/psychology.com. Diperoleh tanggal 31 januari 2012.
Harnawati, (2008).Askep halusinasi.www. Harnawati–blog.com.diperoleh tanggal 21 januari 2012.
Hasan, (2004).Analisa Data Penelitian Stastistik.Jakarta: Bumi Aksara Hawari ,D. (2001). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa. Jakarta: FKUI
Hendra. (2008). Pengetahuan. Diperoleh tanggal 13 Juni 2010 dari http://ajang berkarya.worpress.com
Hidayat, A. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penelitian Ilmia.Jakarta : Salemba Medika.
Ibnu. (2008). Perbedaan prestasi belajar.Di http//id.sumberinformasi.wordpress. com. Di buka tanggal 09 Maret 2011.
Keliat, B.(2002). Proses Keperawatan Jiwa.Jakarta : EGC
Kushariyadi . (2010). Asuhan Keperawatan pada klien lanjut usia . Jakarta: Salemba medika.
MC. Luhan (2002). Pendidikan dan Komunikasi. Diperoleh pada tanggal18 Agustus 2009 dari http://lasphost.com
Notoatmodjo , S. (2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta. _____________. (2005). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam.(2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika
Pro-helth.(2009). Pengetahuan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Di: http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/04/19/pengetahuan-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi/. Dibuka pada tanggal 4 Januari 2011.
Roben. (2004).Informasi sebagai Sumber Pengetahuan.Di http://lasphots.com. diperoleh pada tanggal 05 Maret 2011.
Ronosulistyo, (2008). Askep Halusinasi. www.ronosulityo.blog.com. diperoleh tanggal 21 Januari 2012
Stuart & Sunden.(2002). Proses Keperawatan Jiwa edisi 3.Jakarta : EGC. Suprjitno, (2004). Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC
40
DOKUMENTASI PENELITIAN