• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

3. Data Hasil Pengamatan Penelitian

a. Sumber Data Observasi dan Wawancara Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data observasi dan wawancara/responden ditampilkan tabel 4.1, sebagai berikut:

Tabel 4.2 Sumber Data Observasi dan Wawancara Penelitian

No.

Kelas VII C P11, P12, P13, P14, P15

Wawancara

4 Peserta didik

Kelas VIII A P16, P17, P18, P19, P20

Wawancara

5 Peserta didik

Kelas VIII B P21, P22, P23, P24, P25

Wawancara

6 Peserta didik

Kelas VIII C P26, P27, P28, P29, P30

Wawancara

7 Peserta didik

Kelas IX P31, P32 Wawancara

8 Guru IPA Kls VII G1 Observasi, wawancara 9 Guru IPA Kls VIII G2 Observasi, wawancara 10 Guru IPA Kls IX G3 Observasi, wawancara

11 Guru IPS G4 Observasi, wawancara

12 Guru Piket/BK G5 Observasi, wawancara

13 Guru Pustakawan G6 Observasi, wawancara 14 Guru Staf Tanse G7 Observasi, wawancara 15 Guru Kurikulum G8 Observasi, wawancara

16 Guru Wakasek G9 Observasi, wawancara

17 Guru Kasek G10 Wawancara

18 Karyawan Janitor K1 Observasi, wawancara

b. Latar Belakang Peserta Didik

Latar belakang peserta didik yang peneliti dapatkan dari dokumen staf Tata Usaha, peserta didik untuk tahun pelajaran 2016-2017 jumlah peserta didik berjenis kelamin laki-laki adalah 108 orang, sedangkan perempuan adalah 91 orang (data peserta didik terlampir), sebagian besar peserta didik lahir dan berdomisili di wilayah Makassar dan sekitarnya, dengan kemampuan ekonomi orang tua yaitu menengah ke atas (penghasilan di atas 20 juta).

c. Hasil Pengamatan pada Tahapan Masukan (Input) Pembelajaran 1) Pengamatan karakteristik kejujuran peserta didik berdasarkan

pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:

“ Alhamdulillah, sejauh ini yang terjadi bahwa ananda telah menjaga kejujurannya ketika ada uang bercecer berapa pun itu jumlahnya …” (G6).

Ketika ditanya mengenai kejujuran pada saat ulangan:

“ Mungkin masih belum seratus persen jujur, mungkin dia belum menemukan cara belajar yang tepat seperti apa. Ada keluhan anak yang sudah belajar tetapi tetap tidak bisa, dan ini perlu bimbingan khusus. Mungkin masih belum seratus persen jujur di kelas pada saat ulangan” (G7).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kejujuran peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan laporan piket yang menyatakan bahwa peserta didik menyerahkan ke piket uang bukan miliknya yang ditemukan di lingkungan sekolah.

2) Hasil pengamatan karakteristik disiplin peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:

“ Sekitar delapan puluh persen anak-anak itu disiplin dalam melaksanakan kegiatan di sekolah…” (G7)

Ketika ditanya kedisiplinan dalam kehadiran di sekolah:

“ Sekitar delapan puluh persen murid telah datang tepat waktu ke sekolah dan dua puluh persen itu belum…” (G9).

“ …masih banyak ananda yang belum bisa tepat waktu ke sekolah alasannya yaitu salah satunya karena macet, dan terlambatnya pengantarnya ke sekolah” (G5).

Ketika ditanya alasan terlambat ke sekolah:

“ … berkaitan dengan antarjemputnya, yang kadang terlambat mengantarkan ke sekolah, ada juga yang memiliki, beberapa kendala seperti misalnya gangguan imsomnia, sehingga anak-anak juga kadang-kadang malam itu sulit tidur sehingga pada saat pagi itu mereka terlambat bangun dan terlambat juga ke sekolah (G7)

Ketika ditanya kedisiplinan dalam kehadiran di kelas:

“ Masih ada beberapa murid yang masih sering terlambat ketika masuk ke dalam kelas…ada kendala di kantin, terkadang mereka antri terlalu lama sehingga mengakibatkan waktu istirahatnya habis. Ada juga ananda yang terlambat ke kantin pada saat istirahat” (G7).

Ketika ditanya alasan terlambat di kelas:

“ …singgah ke toilet dulu, sehingga ada beberapa ananda yang terlambat datang ke kelas…” (G6).

“ …kadang biasa masih tinggal cerita sama temannya” (K1).

Ketika ditanya disiplin dalam berpakaian seragam:

“ Mengenai seragam atau merapikan baju sekitar delapan puluh persen (rapi) akan tetetapi masih ada anak yang disuruh untuk merapikan baju tersebut dengan alasan bahwa bajunya sudah kekecilan…” (G9).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kedisiplinan peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini berbeda dengan laporan BK yang menyatakan bahwa tingkat pelanggaran tata tertib sekolah dari 6 kategori pelanggaran (Bullying, disiplin, seragam, elektronik, dan lain-lain), pelanggaran disiplin paling banyak dilakukan oleh peserta didik (78% kasus dari selama tiga bulan di Semester 2).

3) Hasil pengamatan karakteristik mandiri peserta didik yaitu berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:

“ Untuk kemandiriannya, bergantung pada grade atau tingkatan kelasnya, kalau kelas sembilan sejauh ini telah nampak kemandiriannya, beberapa agenda mereka telah dijalankan sendiri, akan tetetapi untuk kelas tujuh dan kelas delapan masih membutuhkan tuntunan dari guru sekitar sepuluh sampai dua puluh lima persen, sehingga mereka bisa mengerjakan aktivitasnya dengan baik” (G6).

“ ...masih belum mandiri seratus persen karena masih bergantung pada orang tuanya, maksudnya dalam arti belum bisa menyiapkan perlengkapan sendiri” (G7).

“ Masih terdapat sebagian murid yang harus diingatkan berkali-kali berkaitan dengan tugasnya, misalkan untuk tugas mata pelajaran…” (G8).

“ …kurang peduli terhadap barang-barang yang telah dia simpan suatu tempat, ataukah di meja akan tetetapi dia lupa untuk mengembalikannya…” (G9).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kemandirian peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan penyampaian petugas laboran bahwa peserta didik dapat menggunakan dan merapikan peralatan praktikum tanpa bantuan guru.

4) Hasil pengamatan karakteristik peduli lingkungan peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:

“ …belum maksimal, karena masih ada juga ananda kita di sekolah yang ketika melihat sampah dibiarkan begitu saja tergeletak, tetetapi ada juga yang telah mengambil sampah dengan senang hati kemudian menaruhnya di tong sampah.

Kalau dipersentasikan anak-anak kita yang melakukan itu sekitar enam sampai tujuh puluh persen… (G6), belum terlihat, menurut saya… (G8), …sudah ada sekitar enam puluh persen murid yang membuang sampah pada tempatnya…” (G9).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik peduli lingkungan peserta didik memenuhi predikat

“mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan adanya jadwal kebersihan karyawan kebersihan sekolah.

5) Hasil pengamatan karakteristik tanggung jawab peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:

“ …hampir delapan puluh persen ananda bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya namun, terkadang juga anak-anak ada yang melakukan sesuatu dan belum bertanggung jawab, contohnya dengan tidak merapikan kursi di kelas, mungkin karena tidak diingatkan oleh gurunya (G7), …ketika melanggar tata tertib misalkan memecahkan alat atau merusak alat (lab) bersedia untuk bertanggung jawab” (G8).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik tanggung jawab peserta didik memenuhi predikat

“mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan penyampaian petugas laboran bahwa peserta didik dapat bertanggung jawab ketika merusak peralatan praktikum yang digunakannya.

6) Hasil pengamatan penerapan karakteristik imtaq guru berkaitan dengan mengingatkan keutamaan ilmu dan pengajaran,

tanggung jawab, keteladanan, melatih anak didik tentang cara-cara berbicara-cara dan beradab, memelihara waktu, serta akrab dengan al-Qurán, berdasarkan pernyataan responden, yaitu:

“ Dalam menjalankan tugasnya, sejauh pantauan saya, guru IPA sekolah ini berdedikasi tinggi. No material oriented. Artinya mereka menjalankan tugas dan fungsinya mengutamakan ilmu serta pengajaran dengan ikhlas dan sabar…, tanggung jawab guru IPA sejauh ini sudah cukup baik, baik…, saya rasa semua guru IPA dan guru pada umumnya harus bisa menjadi suri teladan bagi peserta didik…, tentu saja, setiap guru harus bisa memberikan teladan bagi peserta didik baik itu tutur kata maupun cara berpakaian dan bertingkah laku …, soal disiplin waktu, guru IPA paling rajin masuk di kelas…, sejauh yang saya tahu, guru-guru di sekolah ini rajin membaca al-Qurán…”

(G10).

Pernyataan pimpinan sekolah tentang kendala penerapan imtaq bagi guru IPA dalam pembelajaran, yaitu:

“ mereka masih berusia muda, sehingga masih perlu banyak menimba pengalaman dalam pekerjaannya…, masalah kesehatan mungkin karena memang belum ada program rutin yang ditujukan untuk program kesehatan guru itu sendiri, sehingga menyebabkan beberapa guru sering merasa kelelahan sehingga ada saja yang jatuh sakit, … mengeluh soal jauhnya jarak dari lantai empat ke lantai dasar untuk melaksanakan sholat berjama’ah sering jadi kendala dalam pemeliharaan waktu untuk guru, … Kurangnya referensi muatan imtaq untuk materi umum seperti IPA bisa jadi menjadi kendala guru IPA dalam mengembangkan pembelajaran IPA yang berbasis imtaq…. perlu motivasi lebih agar guru bisa berprestasi…” (G10).

Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, semua karakteristik imtaq guru memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan catatan dari buku kontrol, jadwal tadarus, daftar hadir guru, dan buku catatan pimpinan sekolah.

7) Hasil pengamatan karakteristik imtaq menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada kurikulum, visi, misi, dan tujuan sekolah, memenuhi predikat “mulai membudaya”. Sedangkan karakteristik imtaq kurikulum berkaitan dengan keseimbangan yang relatif dari ilmu umum khususnya ilmu IPA dengan ilmu agama, memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini juga didukung dengan dokumen 1 yang berisi tentang struktur dan muatan Kurikulum SMP Islam Al Azhar 24 Makassar.

Berdasarkan pernyataan pimpinan/responden, sebagai berikut:

“ Visi SMP Islam Al Azhar 24 Makassar sendiri adalah

“Beraqidah benar, berprestasi, dan berkarakter”, dari visi yang termaktub ini mengindikasikan bahwa visi dari sekolah ini lebih mengutamakan tujuan agama dibandingkan dunia…” (G10).

Ketika ditanya apakah kurikulum yang disusun sekolah sudah menunjukkan keseimbangan yang relatif antara pengetahuan umum dengan pengetahuan agama:

“ Dalam sisi kuantitas, sesuai acuan dari Diknas, pelajaran umum masih menjadi dominan dibanding pelajaran agama, … untuk memenuhi keseimbangan antara pengetahuan umum dengan pengetahuan agama, diperlukan internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam pembelajaran pengetahuan umum, seperti halnya IPA” (G10).

8) Hasil pengamatan penerapan karakteristik imtaq berupa menyisipkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan pada program tahunan, program semester, silabus, dan perangkat evaluasi, memenuhi predikat “jarang”, sedangkan pada RPP dan muatan imtaq, memenuhi predikat “selalu”.

Sumber data peneliti yang berhasil dikumpulkan peneliti berkaitan dengan muatan imtaq dalam perangkat pembelajaran IPA berasal dari dokumen perangkat pembelajaran yang dibuat guru IPA dari mulai awal tahun pelajaran.

Berdasarkan pernyataan dari salah satu responden guru IPA, ketika ditanya apakah guru IPA menyisipkan nilai-nilai imtaq dalam perencanaan pembelajaran?

“ Ada, jadi semua kompetensi dasar itu ada muatan imtaqnya cuma dalam penyusunannya dipisah tersendiri dalam bab program imtaq, tetetapi setiap kompetensi ada program imtaqnya” (G2).

Ketika ditanya apakah guru menyisipkan nilai-nilai imtaq dalam perangkat evaluasi pembelajaran?

“ untuk materi tersebut jarang diberikan…, faktornya adalah dasarnya untuk materi tersendiri tentang agama itu, itu sudah ada mata pelajaran tertentu yang menjelaskan tentang ayat-ayat mengenai kejujuran… (G1), kalau saya selalu, misalnya kalau ada pertanyaan al-Qurán apa menjelaskan tentang apa, kalau dalam bentuk esai ya pasti mereka mendeskripsikan… (G2), secara jujur, itu yang masih jarang kami lakukan… (G3).

“ tidak pernah ada, …tidak” (P26) (P27) (P28).

d. Hasil Pengamatan pada Tahapan Proses (Process) Pembelajaran 1) Hasil pengamatan berdasarkan pengolahan hasil observasi dari

responden guru IPA terhadap penyisipan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan saat guru membuka pelajaran, menunjukkan penampilan guru, dan pada saat memberikan apersepsi atau motivasi di awal pembelajaran, memenuhi predikat “selalu”,

sedangkan pada saat guru menginformasikan SK/KD memenuhi predikat “sering”. Berikut pernyataan beberapa responden berkaitan dengan penerapan imtaq oleh guru di awal pembelajaran, sebagai berikut:

“ Biasanya guru kalau pertama-tama (membuka) dengan basmalah, assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, ada do’a-do’anya mister, baru biasa juga kalau sebelum mulai pembelajaran biasa kan ada ayatnya, jadi dibacakan itu biasa “ (P3).

2) Hasil pengamatan berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden guru IPA terhadap penyisipan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan saat guru menyampaikan materi, menggunakan alat bantu, menjaga ketertiban kelas, memotivasi partisipasi peserta didik, menyesuaikan pengajaran dengan RPP, menggunakan teknik mengajukan pertanyaan, dan menggunakan bahasa pada saat pembelajaran di kelas, memenuhi predikat “selalu”, sedangkan pada saat guru memilih metode mengajar, memenuhi predikat “jarang”.

Berikut pernyataan beberapa responden ketika ditanya apakah guru menyampaikan nilai-nilai imtaq selama pelajaran berlangsung:

“ Menyampaikan, berhubung di buku juga dari yang dikasih sama guru itu ada imtaqnya jadi disampaikan” (P18) (P4) (P9) (P18) (P30) (P31) (P32), tidak (P29), …jarang, tetapi pernah (24), …kadang-kadang menyampaikan, kadang-kadang tidak (P19) (P21) (P13).

Ketika ditanya alat bantu guru menjelaskan nilai imtaq di kelas?

“ Menggunakan dengan…secara langsung biasanya, … biasa juga diberitahu, diceramahi… (P5), dengan menggunakan slide

…biasa juga video, kayak video tata surya” (P8)…biasa cerita tentang sahabat nabi yang berhubungan dengan pelajaran (P19) (P18), (dengan membacakan) do’a-do’a atau hadits …, tentang pelajaran bersangkutan (P25) (P23), (menggunakan)

…buku (P22) (P23) (P24).

Ketika ditanya kesesuaian pengajaran (imtaq) dengan RPP?

“ Ya berhubungan…, ya nyambung…, (P1) (P7) (P8) (P21) (P23) (P24) (P25) (P30) (P31) (P32)”.

“…biasa nyambung, biasa tidak (P14), …ya, disampaikan sesuai dengan materinya, contohnya tentang pertumbuhan dan mengembangkan itu kita dikasih misalnya surat at Tharik yang menjelaskan tentang dari apa manusia diciptakan…”

(P18).

3) Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dalam menyisipkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan pada saat berkeliling memberikan bimbingan, memenuhi predikat “sering”, sedangkan pada saat guru memberikan evaluasi proses pembelajaran, dan pencapaian ketuntasan belajar murid saat KBM memenuhi predikat “jarang”.

Ketika ditanya apakah guru menyisipkan nilai imtaq dalam evaluasi pembelajaran:

“ Ndak pernah ada, tidak” (P26) (P27) (P28). …(alasan guru tidak mengevaluasi imtaq dalam evaluasi) adalah dasarnya untuk materi tersendiri tentang agama itu, itu sudah ada mata pelajaran tertentu…misalnya di mata pelajaran agama (PKn) itu sudah jelas tentang bagaimana seorang anak harus jujur, bagaimana dengan anak itu harus sopan…” (G1).

4) Hasil pengamatan berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden guru IPA terhadap penyisipan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan saat guru menyimpulkan pembelajaran, memberi tugas/PR, menyesuaikan alokasi waktu pembelajaran, memenuhi predikat “jarang”, sedangkan pada saat guru menutup pelajaran memenuhi predikat “sering”. Berikut pernyataan beberapa responden berkaitan dengan penerapan imtaq oleh guru di akhir pembelajaran, ketika ditanya apakah guru menutup materi pelajaran dengan do’a atau hamdallah, sebagai berikut:

“ Iyah, misalnya kalau gurunya selesai mengajarkan itu, pelajaran hari ini telah selesai, sebelum mengakhiri pelajaran hari ini baiknya kita mengucapkan hamdallah (P4), (membaca) hamdallah, setiap pelajaran, setiap materi” (P10) (P12) (P20) (P25) (P28).

e. Hasil Pengamatan pada Tahapan Keluaran (Output) Pembelajaran 1) Hasil pengamatan penerapan imtaq berupa mengamalkan

ajaran agama Islam dan menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri, berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, memenuhi predikat “mulai berkembang”.

Berikut pernyataan beberapa responden berkaitan dengan pertanyaan apakah profile lulusan sekolah sudah dapat dikatakan menerapkan ajaran Islam sesuai pembelajaran imtaq di kelas?, sebagai berikut:

Ketika ditanya apakah nilai-nilai imtaq yang diajarkan guru diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?, yaitu:

“ Kadang-kadang (P6) (P7) (P8) (P9), …sering (P2) (P10),

…misalnya kayak di lab biologi pakai alat, kalau misalnya rusak disuruh ganti atau disuruh jujur siapa kasih rusak, siapa yang memecahkan jadi, kalau misalnya di kehidupan sehari-hari kalau mau diaplikasikan kalau misalnya kita rusak barangnya teman kita pinjam tak kasih kembali, kita kasih kembali atau kita kasih tahu kalau kita kasih hilang (P3),

…memperhatikan guru (P4), …selalu jujur, bertanggung jawab atas apa yang kita buat (P5), Iya, …karena wajib juga diterapkan (P6), …lebih mengefesienkan lagi, guru lebih sering lagi agar murid lebih mendengar dan lebih mengerti lagi tentang imtaq (P18)… didengarkan baik-baik, baru dicoba diterapkan” (P26).

Ketika ditanya, apakah profile lulusan sekolah sudah dapat dikatakan mengamalkan ajaran Islam sesuai pembelajaran imtaq di kelas?:

“ Sejauh yang kami pantau terutama dari lulusan sekolah ini, mereka survive di sekolah kelanjutannya dan tidak meninggalkan nilai-nilai keagamaan yang kami tanamkan di sini, seperti halnya tentang berbusana muslim bagi putri (jilbab), pembiasaan memberi salam, sopan, santun, dan tetap berprestasi. Tentu saja ada kendala di sini, di antaranya minimnya informasi aktivitas para alumni seperti halnya aktivitas sekolah, agama, bahkan prestasi mereka, bisa jadi akan menjadi teladan bagi adik-adiknya yang masih bersekolah di sekolah ini” (G10).

2) Hasil pengamatan observasi terhadap peserta didik dalam memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab, memenuhi predikat “mulai berkembang”. Berikut pernyataan responden, sebagai berikut:

“ Dalam sistem penilaian kami, dalam hal ini bidang kurikulum, sudah mencakup penilaian pada ranah kognitif seperti ulangan harian, tugas, dan lainnya, juga termasuk penilaian afektif dan psikomotor. Ini bisa dilihat pada legger nilai yang kami buat oleh kurikulum sekolah…” (G10).

3) Hasil pengamatan peserta didik dalam menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik, berdasarkan hasil observasi, memenuhi predikat

“mulai berkembang”. Berikut pernyataan beberapa responden guru ketika ditanya tentang adakah saran guru dalam meningkatkan efektivitas (penanaman) nilai imtaq di sekolah:

“ Untuk efektivitas nilai imtaq …, berkaitan perilaku ananda yang masih suka berteriak itu…(disebabkan) mungkin memang faktor lingkungan, mungkin dari rumahnya mereka memang sering berteriak… (G1), …(guru harus) berlaku positif karena ketika kita mengatakan bahwa meminta murid untuk melakukan sesuatu karena dasar (nya) landasan al-Qurán dan hadits maka mereka serta merta akan menurut tidak lagi membantah… (G2), …guru harus memberikan semacam poster… ananda itu dalam kelas tidak boleh ribut… tidak boleh ada bully, …harus ditanamkan bagaimana ananda harus berperilaku jujur, saling menghargai dengan temannya yang lain…” (G1).

“ …dibutuhkan yang namanya penekanan dari sisi imtaq, di samping penjelasan materi itu sendiri dalam setiap materinya (G3).

Untuk mempermudah mencermati data hasil pengamatan, secara singkat disajikan dalam tabel 4.3 Hasil Pengamatan Penelitian, sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Penelitian

Lanjutan Tabel 4.2

Selalu Sudah biasa RPP Slide

Lanjutan Tabel 4.2

4. Analisis Hasil Pengamatan

a. Analisis Hasil Pengamatan pada Tahapan Masukan (Input) Pembelajaran

Komponen peserta didik sebagai raw input pembelajaran memegang peranan utama dalam penentuan keberhasilan pembelajaran IPA berbasis imtaq. Berdasarkan temuan hasil pengamatan bahwa kecenderungan peserta didik perempuan lebih dominan berprestasi dibanding laki-laki, hal ini dipengaruhi oleh kecenderungan gaya belajar perempuan yang lebih rajin, dan tekun serta lebih tertib dibanding laki-laki. Dari data kurikulum hasil evaluasi tahunan menunjukkan peserta didik perempuan menempati top ranking dalam kelas, sedangkan latar belakang tempat kelahiran dan tempat tinggal peserta didik tidak secara signifikan memengaruhi prestasi belajar peserta didik, karena kebanyakan dari peserta didik yang bersekolah di SMP Islam Al Azhar 24 Makassar memiliki latar belakang tempat kelahiran dan tempat tinggal yang relatif sama yaitu sekitar Kota Makassar. Adapun latar belakang ekonomi dan sosial peserta didik pada umumnya berasal dari kalangan keluarga dengan latar belakang menengah ke atas.

Hal ini dengan ditandai dari kendaraan atau transportasi yang digunakan serta besarnya biaya sekolah. Latar belakang orang tua peserta didik kebanyakan status terpelajar (sarjana) cenderung mengajarkan peserta didik untuk jujur, disiplin, mandiri dalam berfikir, dan mengajarkan makna sebuah keberhasilan pada proses bukan hasil.

Latar belakang peserta didik dapat menjadi kendala, di mana dengan kondisi ekonomi yang mapan, semua kebutuhan primer dan sekunder peserta didik dengan mudah terpenuhi namun, perhatian orang tua kepada peserta didik menjadi longgar, bahkan ada guru yang menilai beberapa peserta didik adalah anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tua, hal ini menuntun sikap peserta didik yang haus akan perhatian, apatis terhadap lingkungan, serba ingin dilayani, dan daya juang yang kurang.

Nilai kejujuran peserta didik menurut pengamatan beberapa guru sudah mengembang, artinya kejujuran peserta didik sering dilaksanakan dari hampir 80% dalam kegiatan pembelajarannya di sekolah. Faktor-faktor pendukung nilai kejujuran peserta didik di samping pengawasan ketat dari guru pada saat ujian atau ulangan,

adanya CCTV di beberapa sudut sekolah dan disediakannya tempat penemuan barang/uang bagi yang menemukan barang/uang yang bukan miliknya. Namun, masih ada beberapa peserta didik yang belum menemukan cara belajar yang tepat berusaha tidak jujur ketika ujian/ulangan, hal ini biasanya langsung diproses dan dibina oleh BK dan guru.

Kedisiplinan peserta didik, sebatas yang diamati oleh beberapa guru sudah pada kriteria “mulai berkembang”, artinya sudah sering diterapkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Hal yang menarik yang ditemukan oleh BK dalam laporannya mengenai kedisiplinan, sebagian jenis pelanggaran tata-tertib peserta didik di sekolah didominasi karena pelanggaran kedisiplinan seperti keterlambatan masuk sekolah dan kelas, kerapian berseragam, menjaga ketertiban di kelas, mengganggu teman, dan beberapa perilaku hubungan dengan lawan jenis.

Di samping perkembangan psikologis peserta didik yang masih labil, pembiasaan di rumah yang bebas dari disiplin dan kontrol orang tua dan pengawasan oknum guru yang lemah, menjadi kendala penegakan disiplin peserta didik dalam pembelajaran.

Ada beberapa antisipasi sekolah terhadap masalah ini, yaitu penanganan pelanggaran yang dilakukan dengan sistem detention artinya penanganan pelanggaran secara bertahap yang melibatkan banyak guru dan karyawan dalam pengawasan peserta didik dan pelaporan mengembangkan peserta didik secara rutin dari BK dan walas merupakan upaya sekolah untuk meminimalis pelanggaran disiplin peserta didik.

Kemandirian peserta didik untuk kelas yang dewasa yaitu kelas IX tingkat kemandiriannya lebih baik dari adik kelasnya namun, berdasarkan pantauan para guru secara umum peserta didik sudah

“mulai berkembang” mandiri, dalam arti kemandirian peserta didik sudah sering terlihat dalam pembelajaran. Ketersediaan sarana loker menjaga perilaku peserta didik lebih tertib dan rapi dalam

“mulai berkembang” mandiri, dalam arti kemandirian peserta didik sudah sering terlihat dalam pembelajaran. Ketersediaan sarana loker menjaga perilaku peserta didik lebih tertib dan rapi dalam

Dokumen terkait