BAB III METODE PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
3. Conclusion Drawing (Verifikasi Data)
Langkah ketiga dalam analisis data menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2008,345) adalah menarik kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan peneliti masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang akan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Hasil analisis data penelitian bergantung pada kemampuan peneliti di dalam, pertama merinci fokus masalah yang benar-benar menjadi pusat perhatian untuk ditelaah secara mendalam; kedua melacak, mencatat mengorganisasikan setiap data yang relefan (kriteria normatif) untuk masing-masing fokus masalah yang ditelaah; ketiga menyatakan apa yang dimengerti secara bulat tentang suatu masalah yang diteliti terutama dengan bahasa kualitatif dan deskriptif (Kaelan, 2012,145-146).
Berikut adalah gambar matriks jalannya proses analisis data berbasis sistem dalam penelitian ini meliputi fokus masalah, kriteria normatif, dan kriteria objektif, yaitu sebagai berikut:
Gambar 3.2 Alur Proses Analisis Data
Fokus Masalah Kriteria Normatif Kriteria Objektif
F. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini meliputi uji credibility (validitas interval) dengan teknik diskusi teman sejawat danmember check, yaitu:
1. Diskusi teman sejawat, adalah teknik keabsahan data dengan mengadakan diskusi dengan teman sejawat yang terlibat dalam penelitian berkaitan dengan data yang diperoleh. Jika hasil diskusi menyatakan data sudah akurat maka data dapat dinyatakan valid, jika belum maka perlu peninjauan kembali akurasi data.
2. Member check, yaitu output pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check data untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi data berarti data tersebut dinyatakan data valid, tetetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan sumber pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya dan menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian
a. Deskripsi Profil Sekolah
Sekolah Menengah Pertama Islam Al Azhar 24 didirikan pada tanggal 18 Januari 2011 sesuai dengan Surat Izin Pendirian SMP No 571/I/B/YPI-P/1432.2011 (Dokumen 1, 2016,4). Sekolah ini beralamat di Jalan Aroepala, Hertasning Baru, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Sekolah ini merupakan Jenjang Pendidikan Lanjutan yang disiapkan oleh Yayasan Insan Unggul (sekarang Yayasan Sinergi Insan Unggul), menindaklanjuti dua jenjang pendidikan sebelumnya, yaitu KB-TK-SD Islam Al Azhar 34 Makassar yang sudah didirikan sejak Tahun 2007 yang lalu.
Salah satu yang menjadi daya tarik masyarakat dari sekolah ini adalah memiliki potensi menjadi sekolah yang berwawasan imtaq, yaitu salah satunya adalah memiliki kurikulum Diknas dan kurikulum keagamaan yang berasal dari Yayasan Pesantren Islam Al Azhar yang berpusat di Jalan Sisimangaraja Jakarta Selatan.
b. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
1) Visi SMP Islam Al Azhar 24 Makassar, adalah: ”Beraqidah Benar, berprestasi, dan berkarakter”, dengan Indikator Visi : a) Beraqidah Benar, meliputi: kuat keyakinan, jujur dalam
ucapan dan tindakan, disiplin beribadah, dan berbusana Islami.
b) Berprestasi, meliputi: bidang akademis dan non akademis.
c) Berkarakter, meliputi: menebar salam dan silaturahmi, bersikap ramah dan murah senyum, berpenampilan sopan, simpatik dan empatik, disiplin, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, bertutur kata sopan, dan santun seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, (Dokumen 1, 2016,8).
2) Misi SMP Islam Al Azhar 24 Makassar, adalah:
a) Menanamkan keyakinan yang kuat melalui pengamalan ajaran Islam yang benar berdasarkan al-Qurán dan al-Hadits.
b) Melaksanakan pembelajaran dan pembinaan yang efektif.
c) Membimbingpeserta didik untuk mengenali potensi dirinya.
d) Menumbuhkan daya juang dan semangat dalam berprestasi.
e) Membentuk generasi Islam sejati yang siap berprestasi.
f) Menerapkan manajemen partisipatif dan interaktif dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
g) Menumbuhkembangkan pribadi muslim yang percaya diri, dan berdisiplin tinggi, (Dokumen 1, 2016,9).
3) Tujuan sekolah, adalah:
a) Menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
b) Memiliki wawasan dan penguasaan IPTEK yang luas.
c) Memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi untuk prestasi.
d) Memupuk sikap mental dan berkepribadian muslim yang kuat.
e) Membiasakan diri berperilaku Islami, (Dokumen 1, 2016,9).
c. Struktur Kurikulum Sekolah
Struktur Kurikulum SMP Islam Al Azhar 24 Makassar sesuai buku dokumen 1 (2016, 10) dapat dilihat pada Tabel 4.1, yaitu : Tabel 4.1 Struktur Kurikulum SMP Islam Al Azhar 24 Makassar
No. Struktur Kurikulum
SMP Negeri (KTSP)
SMPI Al Azhar 24 Mks Kls.7 Kls.8 Kls.9 (K13) (K13) (KTSP)
A. Mata Pelajaran Inti:
1 Pendidikan Agama Islam 2 3 3 3
2 PKn 2 3 3 2
3 Bahasa dan Sastra Indonesia 4 6 6 4
4 Bahasa Inggris 4 4 4 5
5 Matematika 4 5 5 6
6 Ilmu Pengetahuan Alam 4 5 5 6
7 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4 5
8 Seni Budaya 2 3 3 2
9 Penjaskes 2 3 3 2
10 TIK / Komputer 2 2
11 Prakarya - 2 2
-B. Muatan Lokal/Pengembangan diri :
12 Al-Qurán 2 2 2 2
13 Bahasa Arab - 2 2 2
J u m l a h 32 42 42 41
Struktur Kurikulum SMP Islam Al Azhar 24 Makassar terdiri atas 11 mata pelajaran, 2 muatan lokal, dan pengembangan diri, dengan jumlah jam pelajaran per jenjang kelas per minggu sebanyak 42 jam dan alokasi waktu perjam pelajaran adalah 40 menit, jumlah jam pelajaran tersebut diberikan dalam 5 hari belajar yaitu untuk hari Senin = 8 Jam, Selasa, Rabu, dan Kamis = 9 jam, sedangkan Jum’at = 7 jam.
d. Kegiatan Rutinitas Keagamaan
1) Ikrar bersama, setiap Hari Senin dan ikrar di kelas setiap pagi.
2) Berdo’a bersama, setiap hari sebelum dan sesudah belajar.
3) Tadarus al-Qurán, setiap pagi sebelum mulai belajar.
4) Memberi dan menjawab salam serta bersalaman.
5) Shalat Sunnah (Dhuha, tahiyatul masjid, dan rawatib) setiap hari.
6) Shalat Dzuhur berjama’ah, setiap hari di masjid.
7) Dzikir dan do’a ba’da shalat fardlu, setelah shalat dzuhur.
8) Kultum, setiap hari setelah sholat dzuhur dan terjadwal.
9) Program keputrian, setiap hari Jum’at dan terjadwal.
10)Hafalan surat-surat pendek dan do’a, setiap hari Jum’at.
11)Pengumpulan infaq anak asuh, setiap hari.
12)Puasa sunnah hari Senin dan Kamis.
13)Amaliah Ramadhan dan program khusus Ramadhan.
14) Bakti Sosial dan santunan kaum dhuafa.
15) Peringatan Hari Besar Islam, (Dokumen 1, 2016,14).
2. Paparan Dimensi Penelitian
Paparan dimensi penelitian merupakan deskripsi penelitian berkaitan dengan pelaksanaan sistem pembelajaran IPA berbasis imtaq di sekolah meliputi tiga fokus penelitian yaitu pada tahapan masukan (input), proses (process), dan keluaran (output) pembelajaran, dapat digambarkan secara umum dalam Gambar 4.1 Paparan Dimensi Penelitian meliputi tahapan, sebagai berikut:
Gambar 4.1 Paparan Dimensi Penelitian
a. Dimensi Penelitian pada Tahapan Masukan (Input) Pembelajaran Komponen-komponen pembelajaran yang diamati pada tahapan masukan (input) pembelajaran IPA berbasis imtaq, adalah komponen peserta didik, guru, kurikulum visi, misi, tujuan sekolah, dan perangkat pembelajaran guru.
Pengamatan peneliti pada komponen peserta didik yaitu dengan mengobservasi peserta didik kelas VII dan kelas VIII pada saat pembelajaran IPA di kelas sesuai jadwalnya masing-masing secara langsung dan mewawancarai beberapa peserta didik kelas VII, VIII, dan kelas IX di luar kelas. peserta didik yang diamati meliputi kelas VII 76 orang dan kelas VIII dengan jumlah 61 orang.
Keluaran (Output) Pembelajaran Masukan (Input)
Pembelajaran
Proses (Process) Pembelajaran
Sedangkan peserta didik kelas IX berjumlah 62 orang. Jumlah peserta didik yang dilibatkan dalam teknik wawancara berjumlah lima orang dari masing-masing kelas yang mewakilinya yaitu kelas VII berjumlah 15 orang, kelas VIII 15 orang, sedangkan kelas IX berjumlah 2 orang (mengingat kelas IX sudah libur selepas UN).
Pengamatan peneliti dimulai dari penyusuran dokumen latar belakang peserta didik yang dapat memengaruhi hasil belajar, berkaitan dengan jenis kelamin peserta didik, tempat kelahiran, tempat tinggal peserta didik, tingkat sosial ekonomi peserta didik, dari keluarga yang bagaimana peserta didik berasal, dan lain-lain, selanjutnya peneliti mengamati perilaku peserta didik secara langsung maupun melalui hasil wawancara dengan guru, petugas piket, BK, staf bidang, pustakawan, dan janitor sekolah terhadap karakter imtaq yang dimiliki peserta yang menjadi modal kesiapannya dalam pembelajaran IPA berbasis imtaq. Aspek karakteristik imtaq yang diamati peneliti dari peserta didik, meliputi bagaimana penerapan nilai-nilai kejujuran peserta didik pada saat ujian ataupun menemukan barang yang bukan miliknya, bagaimana pembiasaan peserta didik untuk datang tepat waktu di sekolah maupun kelas, merapikan baju, dan seragamnya, serta pembiasaannya dalam menjaga ketertiban di kelas, yaitu sebagai bentuk kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti aktivitas sekolah, bagaimana pembiasaannya membuang sampah pada tempatnya.
Berikutnya bagaimana peserta didik menyiapkan perlengkapan belajar dan kegiatan sekolah tanpa dibantu orang lain dan gurunya merupakan penerapan nilai-nilai kemandirian peserta didik, bagaimana peserta didik dalam menjaga kebersihan di kamar mandi, yaitu sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan, bagaimana peserta didik dapat merapikan kembali meja dan kursi seusai pembelajaran berlangsung, bagaimana peserta didik menyimpan dan merapikan barang-barang miliknya dengan rapi di loker penyimpanan, yaitu sebagai bentuk tanggung jawab peserta didik dalam mengatur diri dan lingkungannya.
Komponen guru yang diamati peneliti dalam penelitian ini adalah semua guru mata pelajaran IPA kelas VII, VIII, dan IX yang berjumlah empat orang. Pengamatan peneliti pada karakteristik imtaq guru, meliputi: bagaimana guru mengingatkan keutamaan ilmu dan pengajaran ilmu agama serta umum, bagaimana guru melaksanakan tanggung jawab kepada dirinya dan pekerjaannya, bagaimana guru memberikan keteladanan bagi peserta didik, bagaimana guru dapat melatih anak didik tentang cara-cara berbicara dengan orang lain dan beradab, bagaimana guru dapat memelihara waktunya sehingga tidak terbuang-buang dengan aktivitas yang tidak perlu, dan karakter imtaq tentang bagaiamana guru akrab dengan al-Qurán artinya rajin mengaji dan mengkaji, dan bertadarus, baik secara individu maupun kelompok.
Pengamatan peneliti selama mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah meliputi kegiatan dalam proses pembelajaran yaitu terdiri atas penyusunan perencanaan kegiatan pembelajaran di awal, pengelolaan pembelajaran di kelas, pengadaan kegiatan evaluasi belajar peserta didik, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, kokurikuler dan intrakurikuler di sekolah. Pengamatan terhadap kompetensi guru yang dimilikinya dilakukan peneliti secara tidak langsung yaitu melalui wawancara dengan peserta didik, guru, dan karyawan serta pimpinan sekolah.
Pengamatan peneliti terhadap proses internalisasi muatan imtaq dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan guru di kelas yaitu dengan metode wawancara beberapa peserta didik, meliputi: pengamatan peserta didik terhadap aktivitas guru dalam penyampaian tujuan pembelajaran, pembiasaan membaca do’a sebelum dan seusai pembelajaran, penyampaian materi, dan metode yang digunakan guru (terkait dengan tujuan, penanaman prinsip imtaq, dan pengembangan jiwa ajaran dan akhlak Islami yang mulia), dan kesesuaian nilai-nilai imtaq dengan materi IPA yang diajarkan guru serta efektivitas penerapan nilai-nilai imtaq bagi peserta didik. Data pencapaian penilaian hasil belajar peserta didik dapat diamati oleh peneliti melalui laporan penilaian guru dalam dokumen kurikulum yaitu legger nilai guru yang dilaporkan sebagai Laporan Hasil Evaluasi Belajar (LHEB/rapor).
Selain peserta didik dan guru, komponen kurikulum yang diterapkan sekolah menjadi perhatian peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis imtaq di sekolah. Dalam hal ini peneliti mengamati struktur, muatan kurikulum, visi, misi, dan tujuan sekolah yang menonojolkan tujuan agama dan akhlak, serta keseimbangan yang relatif dari ilmu umum/IPA dengan ilmu agama seperti yang diharapkan. Semua itu peneliti dapatkan dalam dokumen 1 sekolah yang memuat struktur dan muatan kurikulum sekolah. Peneliti mengamati pula penyisipan nilai-nilai imtaq yang dibuat guru dalam perangkat pembelajaran yang digunakan meliputi program tahunan, program semester, silabus, RPP, muatan imtaq, dan perangkat evaluasi.
b. Dimensi Penelitian pada Tahapan Proses (Process) Pembelajaran Pada tahapan proses (process) pembelajaran, pengamatan peneliti menitikberatkan pada aktivitas guru IPA dalam melaksanakan pembelajaran IPA berbasis imtaq di kelas, meliputi pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup pelajaran.
Pada awal pembelajaran peneliti mengamati apakah guru membuka pelajaran dengan berdo’a, penampilan guru di kelas, bagaimana cara guru memberikan apersepsi atau motivasi awal kepada peserta didik dengan teknik dan metode yang dipilih disesuaikan materi ajar, serta penyampaian guru kepada peserta didik tentang SK/KD dan judul materi yang akan diajarkan.
Pada tahap pengembangan pada proses pembelajaran, peneliti mengamati bagaimana guru memilih metode yang tepat dalam pembelajaran (terkait dengan tujuan, penanaman prinsip penanaman, dan pengembangan jiwa ajaran dan akhlak Islami yang mulia), bagaimana penguasaan materi ajar guru pengampu (sesuai dengan KD), bagaimana guru memilih alat bantu pengajaran berupa sarana prasarana yang mendukung pembelajaran (sesuai dengan tujuan pengajaran, karakteristik alat bantu, kemudahan dalam pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan), bagaimana peranan guru dalam mengelola kelas dengan menjaga ketertiban selama kegiatan pembelajaran berlangsung, bagaimana guru mengolah alur pertanyaan yang diajukan peserta didik dan penggunaan bahasa yang mudah serta komunikatif menentukan hasil pembelajaran.
Setelah pengamatan pada tahap pengembangan proses pembelajaran di kelas, pengamatan peneliti berlanjut pada tahap penerapan guru dalam proses pembelajaran, bagaimana guru selalu aktif berkeliling memberikan bimbingan dan evaluasi proses pembelajaran sehingga diperoleh hasil pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Pada proses menutup pelajaran, peneliti mengamati bagaimana cara guru menyimpulkan materi ajar dan memberikan umpan balik berupa pertanyaan-pertanyaan dan pemberian tugas sesuai materi ajar.
Tujuan pemberian umpan balik adalah menumbuhkan gairah dan minat belajar peserta didik (perorangan maupun kelompok), serta bagaimana guru mengarahkan peserta didik untuk membaca do’a dalam menutup pelajaran.
c. Dimensi penelitian pada Tahapan Keluaran (Output) Pembelajaran Pengamatan peneliti pada tahapan (output) pembelajaran IPA berbasis imtaq di kelas, meliputi pengamatan tentang bagaimana guru menyusun teknik dan instrumen evaluasi pada akhir proses pembelajaran, dengan menyisipkan nilai-nilai imtaq pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Data hasil penilaian guru didapat peneliti dari berkas soal penilaian dan legger nilai guru dalam perangkat penilaian secara komputerisasi di sekolah.
Adapun cakupan penilaian ketiga ranah tersebut menitikberatkan pada teknik dan instrumen yang digunakan guru dan merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran dan muatan imtaq, dan kompetensi proses pembelajaran. Teknik dan instrumen yang diamati peneliti pada ranah kognitif meliputi:
nilai ulangan harian, tugas, dan nilai ujian formatif. Teknik dan instrumen yang diamati peneliti pada ranah afektif meliputi penilaian hasil observasi guru, diri sendiri, antara teman, dan catatan guru. Sedangkan teknik dan instrumen yang diamati peneliti pada ranah psikomotor adalah penilaian kinerja proses, kinerja produk, proyek, dan fortopolio.
3. Data Hasil Pengamatan Penelitian
a. Sumber Data Observasi dan Wawancara Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data observasi dan wawancara/responden ditampilkan tabel 4.1, sebagai berikut:
Tabel 4.2 Sumber Data Observasi dan Wawancara Penelitian
No.
Kelas VII C P11, P12, P13, P14, P15
Wawancara
4 Peserta didik
Kelas VIII A P16, P17, P18, P19, P20
Wawancara
5 Peserta didik
Kelas VIII B P21, P22, P23, P24, P25
Wawancara
6 Peserta didik
Kelas VIII C P26, P27, P28, P29, P30
Wawancara
7 Peserta didik
Kelas IX P31, P32 Wawancara
8 Guru IPA Kls VII G1 Observasi, wawancara 9 Guru IPA Kls VIII G2 Observasi, wawancara 10 Guru IPA Kls IX G3 Observasi, wawancara
11 Guru IPS G4 Observasi, wawancara
12 Guru Piket/BK G5 Observasi, wawancara
13 Guru Pustakawan G6 Observasi, wawancara 14 Guru Staf Tanse G7 Observasi, wawancara 15 Guru Kurikulum G8 Observasi, wawancara
16 Guru Wakasek G9 Observasi, wawancara
17 Guru Kasek G10 Wawancara
18 Karyawan Janitor K1 Observasi, wawancara
b. Latar Belakang Peserta Didik
Latar belakang peserta didik yang peneliti dapatkan dari dokumen staf Tata Usaha, peserta didik untuk tahun pelajaran 2016-2017 jumlah peserta didik berjenis kelamin laki-laki adalah 108 orang, sedangkan perempuan adalah 91 orang (data peserta didik terlampir), sebagian besar peserta didik lahir dan berdomisili di wilayah Makassar dan sekitarnya, dengan kemampuan ekonomi orang tua yaitu menengah ke atas (penghasilan di atas 20 juta).
c. Hasil Pengamatan pada Tahapan Masukan (Input) Pembelajaran 1) Pengamatan karakteristik kejujuran peserta didik berdasarkan
pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:
“ Alhamdulillah, sejauh ini yang terjadi bahwa ananda telah menjaga kejujurannya ketika ada uang bercecer berapa pun itu jumlahnya …” (G6).
Ketika ditanya mengenai kejujuran pada saat ulangan:
“ Mungkin masih belum seratus persen jujur, mungkin dia belum menemukan cara belajar yang tepat seperti apa. Ada keluhan anak yang sudah belajar tetapi tetap tidak bisa, dan ini perlu bimbingan khusus. Mungkin masih belum seratus persen jujur di kelas pada saat ulangan” (G7).
Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kejujuran peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan laporan piket yang menyatakan bahwa peserta didik menyerahkan ke piket uang bukan miliknya yang ditemukan di lingkungan sekolah.
2) Hasil pengamatan karakteristik disiplin peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:
“ Sekitar delapan puluh persen anak-anak itu disiplin dalam melaksanakan kegiatan di sekolah…” (G7)
Ketika ditanya kedisiplinan dalam kehadiran di sekolah:
“ Sekitar delapan puluh persen murid telah datang tepat waktu ke sekolah dan dua puluh persen itu belum…” (G9).
“ …masih banyak ananda yang belum bisa tepat waktu ke sekolah alasannya yaitu salah satunya karena macet, dan terlambatnya pengantarnya ke sekolah” (G5).
Ketika ditanya alasan terlambat ke sekolah:
“ … berkaitan dengan antarjemputnya, yang kadang terlambat mengantarkan ke sekolah, ada juga yang memiliki, beberapa kendala seperti misalnya gangguan imsomnia, sehingga anak-anak juga kadang-kadang malam itu sulit tidur sehingga pada saat pagi itu mereka terlambat bangun dan terlambat juga ke sekolah (G7)
Ketika ditanya kedisiplinan dalam kehadiran di kelas:
“ Masih ada beberapa murid yang masih sering terlambat ketika masuk ke dalam kelas…ada kendala di kantin, terkadang mereka antri terlalu lama sehingga mengakibatkan waktu istirahatnya habis. Ada juga ananda yang terlambat ke kantin pada saat istirahat” (G7).
Ketika ditanya alasan terlambat di kelas:
“ …singgah ke toilet dulu, sehingga ada beberapa ananda yang terlambat datang ke kelas…” (G6).
“ …kadang biasa masih tinggal cerita sama temannya” (K1).
Ketika ditanya disiplin dalam berpakaian seragam:
“ Mengenai seragam atau merapikan baju sekitar delapan puluh persen (rapi) akan tetetapi masih ada anak yang disuruh untuk merapikan baju tersebut dengan alasan bahwa bajunya sudah kekecilan…” (G9).
Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kedisiplinan peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini berbeda dengan laporan BK yang menyatakan bahwa tingkat pelanggaran tata tertib sekolah dari 6 kategori pelanggaran (Bullying, disiplin, seragam, elektronik, dan lain-lain), pelanggaran disiplin paling banyak dilakukan oleh peserta didik (78% kasus dari selama tiga bulan di Semester 2).
3) Hasil pengamatan karakteristik mandiri peserta didik yaitu berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:
“ Untuk kemandiriannya, bergantung pada grade atau tingkatan kelasnya, kalau kelas sembilan sejauh ini telah nampak kemandiriannya, beberapa agenda mereka telah dijalankan sendiri, akan tetetapi untuk kelas tujuh dan kelas delapan masih membutuhkan tuntunan dari guru sekitar sepuluh sampai dua puluh lima persen, sehingga mereka bisa mengerjakan aktivitasnya dengan baik” (G6).
“ ...masih belum mandiri seratus persen karena masih bergantung pada orang tuanya, maksudnya dalam arti belum bisa menyiapkan perlengkapan sendiri” (G7).
“ Masih terdapat sebagian murid yang harus diingatkan berkali-kali berkaitan dengan tugasnya, misalkan untuk tugas mata pelajaran…” (G8).
“ …kurang peduli terhadap barang-barang yang telah dia simpan suatu tempat, ataukah di meja akan tetetapi dia lupa untuk mengembalikannya…” (G9).
Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik kemandirian peserta didik memenuhi predikat “mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan penyampaian petugas laboran bahwa peserta didik dapat menggunakan dan merapikan peralatan praktikum tanpa bantuan guru.
4) Hasil pengamatan karakteristik peduli lingkungan peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:
“ …belum maksimal, karena masih ada juga ananda kita di sekolah yang ketika melihat sampah dibiarkan begitu saja tergeletak, tetetapi ada juga yang telah mengambil sampah dengan senang hati kemudian menaruhnya di tong sampah.
Kalau dipersentasikan anak-anak kita yang melakukan itu sekitar enam sampai tujuh puluh persen… (G6), belum terlihat, menurut saya… (G8), …sudah ada sekitar enam puluh persen murid yang membuang sampah pada tempatnya…” (G9).
Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik peduli lingkungan peserta didik memenuhi predikat
“mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan adanya jadwal kebersihan karyawan kebersihan sekolah.
5) Hasil pengamatan karakteristik tanggung jawab peserta didik berdasarkan pernyataan beberapa responden, sebagai berikut:
“ …hampir delapan puluh persen ananda bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya namun, terkadang juga anak-anak ada yang melakukan sesuatu dan belum bertanggung jawab, contohnya dengan tidak merapikan kursi di kelas, mungkin karena tidak diingatkan oleh gurunya (G7), …ketika melanggar tata tertib misalkan memecahkan alat atau merusak alat (lab) bersedia untuk bertanggung jawab” (G8).
Berdasarkan pengolahan hasil observasi dari responden, karakteristik tanggung jawab peserta didik memenuhi predikat
“mulai berkembang”. Hal ini didukung dengan penyampaian petugas laboran bahwa peserta didik dapat bertanggung jawab ketika merusak peralatan praktikum yang digunakannya.
6) Hasil pengamatan penerapan karakteristik imtaq guru berkaitan dengan mengingatkan keutamaan ilmu dan pengajaran,
tanggung jawab, keteladanan, melatih anak didik tentang cara-cara berbicara-cara dan beradab, memelihara waktu, serta akrab dengan al-Qurán, berdasarkan pernyataan responden, yaitu:
“ Dalam menjalankan tugasnya, sejauh pantauan saya, guru IPA sekolah ini berdedikasi tinggi. No material oriented. Artinya
“ Dalam menjalankan tugasnya, sejauh pantauan saya, guru IPA sekolah ini berdedikasi tinggi. No material oriented. Artinya