HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2) Data Kelompok Kontrol Kelas VII 4
Hasil belajar siswa pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelas kontrol digambarkan melalui analisis statistik
deskriptif. Analisis statistik deskriptif menggambarkan perolehan skor siswa mulai yang tertinggi sampai yang terendah.
Dari data hasil posttest siswa kelas VII 4, tidak terdapat siswa pada kategori sangat rendah dan kategori sangat inggi, pada kategori rendah terdapat 7 orang siswa, kategori sedang terdapat 8 orang siswa, dan pada kategori tinggi terdapat 5 orang siswa. Gambaran hasil posttest kelompok kontrol kelas VII 1 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4.6 Kategorisasi Skor Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi tanpa Menerapkan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing)
40
No Interval Nilai Tingkat Kemampuan Frekuensi Persentase (%)
1. 0 – 39 Sangat rendah - -
2. 40 – 69 Rendah 3 15
3. 70 – 79 Sedang 7 35
4. 80 – 89 Tinggi 10 50
5. 90 – 100 Sangat Tinggi - -
Berdasarkan tabel 4.6 hasil dari kategorisasi pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) menunjukkan bahwa tidak seorangpun siswa yang memeroleh kategori sangat rendah dan kategori sangat tinggi. Untuk pembelajaran pada kelompok kontrol kelas VII 4, siswa yang berada pada kategori rendah diperoleh 3 orang siswa (15%), kategori sedang diperoleh 7 orang siswa (35%), dan kategori tinggi diperoleh 10 orang siswa (50%).
Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada kelompok kontrol kelas VII 4 berada pada kategori tinggi.
Hasil analisis statistik deskriptif dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Deskripsi Skor Hasil Belajar Siswa Dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerpakan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing).
Statistik Nilai Statistik Skor tertinggi
Skor terendah
90 60
41
Rata-rata (mean) Standar deviasi Derajat kebebasan
78,7 10,32
2
Berdasarkan tabel 4.7 dapat digambarkan bahwa dari 20 orang siswa pada kelompok kontrol kelas VII 4 yang dijadikan sebagai sampel penelitian, terlihat bahwa skor tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 90 dan skor terendah yaitu 60 yang berada pada nilai rata-rata siswa 78,7 dan nilai standar deviasi 10,32 dengan derajat kebebasan 2.
Mengenai kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing), dikelompokan ke dalam dua kategori sehingga diperoleh skor frekuensi dan persentase yang ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8 Distribusi dan Persentase kriteria ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing).
No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. ≤ 70 Tidak Tuntas 3 -
2. ≥ 70 Tuntas 17 85
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) memiliki tingkat
42
kemampuan yang tidak begitu signifikan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
c. Analisis Statistika Inferensial
Untuk mengetahui perbedaan penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada kelompok eksperimen kelas VII 1 dan kelompok kontrol kelas VII 4, maka data yang diperoleh dari kedua kelas dianalisis dengan analisis statistik inferensial. Anailisis statistik inferensial dilakukan dengan cara perhitungan manual sesuai dengan rumus dan langkah-langkah yang telah ditentukan. Hasil analisis statistik inferensial dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.
1) Data Kelompok Eksperimen Kelas VII 1.
Uji normalitas dlakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Menentukan batas kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor-skor kanan kelas interval ditambah 0,5.
Sehingga didapat 69,5 ; 75,5 ; 81,5 ; 87,5 ; 91,5 ; 97,5 ; 105,5.
- Mencari nilai Z-score untuk batas kelas interval dengan rumus:
Z ꞊ Batas kelas - x
S
Diketahui: x ꞊ 86,5 S ꞊ 9,79
Z1 ꞊ 69,5-86,5
9,79 ꞊ -1,73 Z5 ꞊ 91,5-86,5
9,79 ꞊ 0,51 Z2 ꞊ 75,5-86,5
9,79
꞊
-1,12 Z6 ꞊ 97,5-86,59,79 ꞊ 1,12
43
- Mencari luas 0 – Z dari tabel kurve normal 0 – Z dengan menggunakan angka dari nilai Z-score, sehingga didapat 0,4582 ; 0,3686 ; 0,1950 ; 0,0398 ; 0,1950
; 0,3686; 0,4719.
- Mencari luas tiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka 0 – Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi dengan angka baris ketiga, dan begitu seterusnya. Kecuali untuk angka yang berbeda pada baris paling tengah ditambahkan dengan angka pada baris berikutnya. Kemudian mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden (n ꞊ 64).
0,4582 – 0,3686 ꞊ 0,0896 × 20 ꞊ 1,79
Tabel 4.9 Frekuensi yang diharapkan (fe) dari Hasil Pengamatan (fo) untuk Variabel X Kelompok Eksperimen.
44
- Mencari Chi Kuadrat (X2hitung) dengan rumus:
(X2) ꞊
∑
(fo-fe)² - Membandingkan X2hitung dengan X2tabel.db ꞊ k – 3 ꞊ 2 dan ∝ ꞊ 0,005 didapat X2tabel ꞊ 5,991 Kaidah keputusan:
Jika X2hitung ≥ X2tabel, maka distribusi data tidak normal.
Jika X2hitung ≤ X2tabel, maka distribusi data normal.
Ternyata X2hitung ≤ X2tabel, atau 4,832 ≤ 5,991 maka distribusi data normal.
2) Data Kelompok Kontrol Kelas VII 4.
Uji normaitas dilakukan dengan langkah-langkah sebgai berikut:
- Menentukan batas kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor-skor kanan kelas interval ditambah 0,5.
Sehingga didapat 59,5 ; 64,5 ; 69,5 ; 74,5 ; 79,5 ; 84,5 ; 89,5.
45
- Mencari nilai Z-score untuk batas kelas interval dengan rumus:
Z ꞊ Batas kelas - x
- Mencari luas 0 – Z dari tabel kurve normal 0 – Z dengan menggunakan angka dari nilai Z-score, sehingga didapat 0,4686 ; 0,4147 ; 0,3133 ; 0,1554 ; 0,0279; 0,2123 ; 0,3790.
- Mencari luas tiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka 0 – Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi dengan angka baris ketiga, dan begitu seterusnya. Kecuali untuk angka yang berbeda pada baris paling tengah ditambahkan dengan angka pada baris berikutnya. Kemudian mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden (n ꞊ 64).
0,4686 – 0,4147 ꞊ 0,0539 × 20 ꞊ 1,08 0,4147 – 0,3133 ꞊ 0,1014 × 20 ꞊ 2,03 0,3133 – 0,1554 ꞊ 0,1579 × 20 ꞊ 3,16 0,1554 – 0,0279 ꞊ 0,1275 × 20 ꞊ 2,55 0,0279 – 0,2123 ꞊ 0,1844 × 20 ꞊ 3,67
46
0,2123 – 0,4066 ꞊ 0,1943 × 20 ꞊ 3,88
Tabel 4.10 Frekuensi yang diharapkan (fe) dari Hasil Pengamatan (fo) untuk Variabel X Kelompok kontrol.
No. Batas
- Mencari Chi Kuadrat (X2hitung) dengan rumus:
(X2) ꞊
∑
(fo-fe)² - Membandingkan X2hitung dengan X2tabel.db ꞊ k – 3 ꞊ 2 dan ∝ ꞊ 0,05 didapat X2tabel ꞊ 5,991 Kaidah keputusan:
Jika X2hitung ≥ X2tabel, maka distribusi data tidak normal.
Jika X2hitung ≤ X2tabel, maka distribusi data normal.
47
Ternyata X2hitung ≤ X2tabel, atau 4,57 ≤ 5,991 maka distribusi data normal.
Setelah melakukan uji normalitas sebagai uji prasyarat sebelum melakukan uji hipotesis (t), dan data yang diperoleh memenuhi syarat untuk melakukan uji t. Maka selanjutnya akan dilakukan uji t untuk menjawab hipotesis yang telah disusun sebelumnya.
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan nilai yang signifikan antara kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa yang menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf
narasi pada siswa yang tidak menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)”. Uji hipotesis yang digunakan adalah teknik uji t independen sampel t test. Adapun langkah-langkah untuk pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
(1) Menentukan nilai varian kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
(i) Kelompok eksperimen S2 ꞊ 9,79 ꞊ 95,84 (ii) Kelompok kontrol
S2 ꞊ 10,32 ꞊ 106,50
(2) Mencari nilai thitung dengan rumus:
thitung ꞊ Xa + Xb
48
(3) Mencari nilai ttabel dengan ketentuan:
Taraf signifikan ∝ ꞊ 0,05, db ꞊ n1 + n2 – 2 ꞊ 20 + 20 – 2 ꞊ 38.
Maka diperoleh nilai ttabel ꞊ 1,6859.
Kriteria pengujian:
Jika thitung ≥ ttabel, maka Ha diterima dan jika thitung ≤ ttabel, maka Ho ditolak.
(4) Membandingkan thitung dengan ttabel.
Ternyata thitung ≥ ttabel, atau 2,45 ≥ 1,6859, maka Ha diterima.
B. Pembahasan
Pada bagian ini akan diuraikan temuan yang diperoleh dari hasil analisis data penelitian tentang penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa
kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Berdasarkan hasil analisis data kedua sampel penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, terlihat bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelompok eksperimen kelas VII 1 dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkann teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) berada pada nilai rata-rata 86,5. Sedangkan kemampuan siswa pada kelompok kontrol kelas VII 5 dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) berada pada nilai rata-rata 73,25.
Dari data di atas terlihat bahwa terdapat perbedaan nilai yang signifikan antara kedua sampel penelitian. Fenomena yang terjadi dalam pembelajaran
49
mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelompok eksperimen, tampak semua siswa sangat antusias dan sangat tertarik dalam mengikuti pembelajaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh Herwono (2003:190) dalam Quantum Reading bahwa teknik cutting-gluing adalah teknik pembelajaran yang dilakukan
dengan cara memotong dan merekatkan potongan-potongan materi yang menarik perhatian kita. Dalam pembelajaran ini siswa dituntun untuk mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik cutting-gluing yang dapat mempermudah siswa dalam menyusun paragraf narasi sesuai dengan urutan waktu dalam teks wawancara, selain itu siswa juga diarahkan dalam mengubah kalimat langsung yang ada dalam teks wawancara menjadi kalimat tidak langsung yang akan dituangkan ke dalam paragraf narasi, dan teknik cutting-gluing ini dapat memberikan peluang yang sangat besar bagi seorang siswa untuk
berlatih menulis dengan bahasa orang lain.
Berbeda halnya dengan fenomena yang terjadi dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing). Pada kelompok kontrol siswa terlihat jenuh karena proses pembelajaran didominasi oleh guru saja, sehingga memengaruhi hasil belajarnya. Peran guru sangat dominan karena harus mengelolah kelas agar tetap tenang dan memerhatikan penjelasan guru mengenai cara mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi hingga akhirnya siswa diberikan tugas untuk mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Pada pembelajaran ini terihat siswa masih kesulitan dalam mengubah kalimat langsung
50
menjadi kalimat tidak langsung dan juga isi paragraf tidak sesuai dengan urutan waktu teks wawancara yang diberikan.
Penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi ternyata cukup memberikan dampak yang positif pada proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sampel yang menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) memeroleh nilai yang lebih tinggi dari pada sampel yang tidak menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Oleh
karena itu, sebaiknya pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dilaksanakan dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-luing), agar siswa menjadi tertarik dan mampu memahami dengan baik materi yang diberikan.
51
BAB V