• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh FITRIANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh FITRIANTI"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENERAPAN TEKNIK MEMOTONG DAN MEREKATKAN (CUTTING GLUING) DALAM MENGUBAH TEKS WAWANCARA MENJADI

PARAGRAF NARASI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 GALESONG UTARA KABUPATEN TAKALAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh FITRIANTI 10533 06498 10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

OKTOBER 2014

(2)

2

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat Tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Kegagalan adalah batu loncatan untuk meraih kesuksesan.

Jadikanlah sabar sebagai keberanian terbesar.

Rasa takut sebagai dosa besar

Jangan menyerah dan teruslah berjuang untuk meraih kesuksesan

Kupersembahkan karya ini buat:

Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku, atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan

(3)

3

ABSTRAK

Fitrianti. 2010. Penerapan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I A. Rahman Rahim dan pembimbing II A. Syamsul Alam.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana keefektifan penerapan teknik memotong dan merekatkan (cuting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan perbedaan nilai siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar pada kelompok eksperimen dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting- gluing) dan pada kelompok kontrol dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing).

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu atau quasi experiment dengan desain penelitian True Experimental Design bentuk posttest control group design yaitu desain yang terdapat dua kelompok meliputi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang masing-masing dipilih secara acak atau random.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII 1 yang berjumlah 20 orang dan VII 4 yang berjumlah 20 orang di SMP Negeri 1 Galesong Utara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemampuan siswa kelompok eksperimen kelas VII 1 dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkann teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) berada pada nilai rata-rata 86,5. Sedangkan kemampuan siswa pada kelompok kontrol kelas VII 5 dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) berada pada nilai rata-rata 78,7. Berdasarkan hasil uji signifikan diperoleh thitung sebesar 2,45. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil perhitungan statisika dengan uji t pada taraf signifikan ∝ ꞊ 0,05, yaitu diperoleh thitung sebesar 2,45 dan ttabel sebesar 1,6859 dengan perbandingan thitung ≥ ttabel yaitu 2,45 ≥ 1,6859. Karena nilai thitung ≥ ttabel

maka maka Ha (terdapat perbedaan yang signifikan) diterima dan Ho (tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan) ditolak.

Berdasaran hasil penelitian tersebut di atas, hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi efektif diterapkan di dalam kelas.

Kata Kunci: Paragraf, Narasi, Teks Wawancara, Teknik Memotong dan Merekatkan (cutting-gluing).

iii

(4)

4

KATA PENGANTAR









Segala puji bagi Allah Swt atas karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waku, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan. Demikian juga tulisan ini, segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Irwan dan Nirwana yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu.

Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, kepada Dr. A.

Rahman Rahim, M. Hum, dan A. Syamsul Alam, S.Pd., M.Pd., pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada; Dr. H. Irwan Akib, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Dr. Munirah, M.Pd., ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten takalar, dan

iv

(5)

5

ibu Hj. Rosmini, S.Pd., selaku guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman seperjuanganku Helda dan Eti Harwanti yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka, sahabat-sahabatku terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2010 atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi pemulis. Amin.

Makassar, Oktober 2014

Penulis

(6)

6

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

MOTO DAN PERSEMBAHAN... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian... 6

E. Manfaat Penelitian... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS .... 7

A. Kajian Pustaka ... 8

1. Hasil Penelitian Relevan ... 8

2. Paragraf Narasi ... 8

a) Paragraf ... 9

b) Ciri-ciri Paragraf Narasi ... 10

c) Pola pengembangan Narasi ... 12

3. Wawancara ... 13

a) Pengertian Wawancara ... 13

b) Teks Wawancara ... 14 c) Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi . 14

vi

(7)

7

4. Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-gluing) ... 15

B. Kerangka Pikir... 16

C. Hipotesis Penelitian ... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 20

A. Jenis Penelitian ... 20

B. Variabel dan Desain Penelitian ... 20

C. Populasi dan Sampel ... 21

D. Defenisis Operasional Variabel ... 23

E. Prosedur Penelitian ... 24

F. Instrumen Penelitian ... 25

G. Teknik Pengumpulan Data ... 28

H. Teknik Analisis Data ... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Penelitian ... 33

1. Deskripsi Hasil Belajar Siswa Kelompok Eksperimen Kelas VII 1 dan Kelompok Kontrol Kelas VII 1 ... 33

a) Data Observasi ... 33

b) Analisis Statistik Deskriptif ... 36

c) Analisis Statistik Inferensial ... 41

(1) Data Kelompok Eksperimen Kelas VII 1 ... 42

(2) Data Kelompok Kontrol Kelas VII 4 ... 44

(3) Uji Hipotesis ... 47

B. PEMBAHASAN ... 48

(8)

8

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 51

A. SIMPULAN ... 51

B. SARAN ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 53 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

9

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Rancangan Tes Akhir dengan Sampel Acak ... 22

3.2 Jumlah Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara ... 23

3.3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 27

3.4 Alat Tes Penelitian ... 28

3.5 Format Penilaian ... 29

3.6 Kualifikasi Nilai Observasi Siswa ... 29

4.1 Hasil Observasi dalam Proses Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi paragraf Narasi pada Kelompok Eksperimen Siswa Kelas VII 1 SMP Negeri 1 Galesong Utara ... 34

4.2 Hasil Observasi dalam Proses Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi paragraf Narasi pada Kelompok Kontrol Siswa Kelas VII 4 SMP Negeri 1 Galesong Utara ... 35

4.3 Kategorisasi Skor Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi paragraf Narasi dengan Menerapkan Teknik Memotong dan Merekatkan (cutting-gluing) ... 37

4.4 Deskripsi Skor Hasil Belajar Siswa Dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerpakan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) ... 37

4.5 Distribusi dan Persentase kriteria ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) ... 38

4.6 Kategorisasi Skor Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi tanpa Menerapkan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) ... 39

ix

(10)

10

4.7 Deskripsi Skor Hasil Belajar Siswa Dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerpakan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) ... 40 4.8 Distribusi dan Persentase kriteria ketuntasan hasil belajar siswa dalam

pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) ... 41 4.9 Frekuensi yang diharapkan (fe) dari Hasil Pengamatan (fo) untuk Variabel

X Kelompok Eksperimen ... 43 4.10 Frekuensi yang diharapkan (fe) dari Hasil Pengamatan (fo) untuk Variabel

X Kelompok control ... 46

(11)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan upaya peningkatan diri atau perubahan diri melalui berbagai proses dan latihan, bukan merupakan peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Kebiasaan belajar yang baik tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat. Akan tetapi perlu dikembangkan secara bertahap. Kebiasaan belajar yang baik pada intinya adalah rencana kegiatan belajar yang jelas dan adanya disiplin diri yang kuat untuk mencapai apa yang telah direncanakan.

Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Sama halnya dengan aspek keterampilan berbahasa yang lain, menulis merupakan aspek keterampilan berbahasa yang memerlukan latihan agar dapat dikuasai dengan baik. Menulis juga memerlukan keterampilan yang cukup banyak seperti pilihan kata, keterkaitan paragraf, gaya bahasa dan lainnya. Pembelajaran menulis di sekolah dianggap sebagai pengisi waktu kosong jika guru mata pelajaran bahasa Indonesia sedang ada keperluan lain atau tidak dapat masuk untuk mengajar.

Purwo (1990:166-171) mengatakan kegiatan pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat

1

(12)

2

menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mareka.

Tes kemampuan menulis dapat divariasikan dalam berbagai bentuk tulisan. Tekniknya dapat disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bagan.

Dari data-data itu, siswa diminta untuk menulis sebuah paragraf. Melalui kegiatan inilah kemampuan komunikatif siswa diukur secara terintegrasi (Mahmud, 2003:14).

Penggunaan teks wawancara sebagai alat bantu dalam mengembangkan paragraf narasi akan membantu siswa untuk melatih kemampuan menulisnya dengan menceritakan kembali sesuatu peristiwa atau kejadian secara kronologis.

Dengan teks wawancara siswa dapat diarahkan untuk mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Kegiatan seperti ini menyuburkan kesempatan kreatif bagi siswa dalam menampilkan gagasan dan keahlian memilih kata serta merangkainya menjadi kalimat. Pembelajaran mengubah teks wawancara ini tidak hanya menuntut siswa untuk dapat mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tak langsung, tetapi juga menuntut siswa untuk dapat merangkai kalimat-kalimat tak langsung tersebut ke dalam bentuk narasi.

Rata-rata siswa menarasikan teks wawancara dengan tidak memperhatikan perubahan kalimat langsung menjadi kalimat tak langsung, sehingga paragraf yang dihasilkan pun hanya berupa kalimat salinan teks wawancara. Tidak hanya itu, dalam menarasikan teks wawancara yang ada, siswa tidak memperhatikan informasi yang terkandung di dalamnya, sehingga paragraf yang dihasilkan pun tidak memiliki informasi dan alur jalan ceritanya pun tidak

(13)

3

berarti apa-apa. Padahal inti dari paragraf narasi adalah menceritakan rangkaian peristiwa dengan baik dan secara runtut. Kesulitan yang mengakibatkan rendahnya mutu keterampilan menulis tersebut dianggap para guru sebagai salah satu kesalahan dari siswa yang tidak mendengarkan materi pelajaran yang telah disampaikan guru dengan baik dan seksama. Padahal, tidak pahamnya siswa atas materi yang telah disampaikan guru bisa berasal dari cara penyampain materi tersebut. Hal ini berarti guru pun memiliki keterlibatan dalam permasalahan rendahnya mutu keterampilan menulis di sekolah.

Merujuk pada permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu teknik pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan semangat siswa dalam menjalani proses pembelajran menulis yang ada di sekolah. Teknik pembelajaran adalah cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Setiap teknik pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Oleh karena itu, yang harus diperhatikan seorang guru dalam memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan dalam proses pembelajaran adalah tercapainya empat keterampilan berbahasa dalam diri siswa, yaitu keterampilan mendengar, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.

Salah satu cara yang dapat digunakan dalam menarik perhatian siswa pada pembelajaran menulis khususnya dalam pembelajaran mengubah teks wawanara menjadi paragraf narasi adalah dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) selama proses pembelajaran berlangsung. Teknik ini sederhana dan mudah untuk diterapkan karena termasuk dalam salah satu cara

(14)

4

berlatih menulis yang paling elementer (Hernowo, 2004:197). Penerapannya yang sangat sederhana akan menarik perhatian siswa untuk mencoba menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tidak hanya itu, teknik memotong dan merekatkan ini pun akan membantu siswa untuk tetap menghadirkan berbagai informasi penting, sehinggga pembaca dapat merasakan alur atau jalan cerita yang terjadi dalam paragraf tersebut. Hal ini berarti bahwa teknik memotong dan merekatkan mampu membantu siswa menuliskan paragraf narasi secara satu kesatuan, seperti yang telah dipaparkan oleh (Keraf, 1987:137).

Teknik ini pun dilakukan dengan cara memotong dan merekatkan beberapa kalimat yang ada dalam sebuah teks. Pelaksanaannya yang tedengar mudah membuat teknik ini jarang diterapkan dalam pembelajaran di sekolah karena banyak guru beranggapan bahwa teknik ini terlalu mudah untuk diterapkan oleh siswa SMP bahkan SMA. Para guru beranggapan bahwa teknik ini hanya cocok diterapkan pada tingkatan sekolah dasar saja, padahal teknik ini pun memiliki potensi yang baik untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajran yang ada.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Guing) dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar”.

(15)

5

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi permasalahan yang akan menjadi bahan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Guru masih kurang persiapan dalam mengajar, seperti pemilihan materi, teknik pembelajaran, ataupun menciptakan iklim pembelajaran.

2. Siswa masih sulit mengganti kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung dengan ejaan yang benar.

3. Siswa masih sulit merangkai dan menempatkan kalimat yang sudah diproses dengan tepat.

C. Rumusan Masalah

Sesuai dengan uraian di atas, maka terdapat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini.

1. Bagaimana kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar pada kelompok eksperimen dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan pada kelompok kontrol dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)?

2. Bagaimana perbedaan nilai antara kelompok eksperimen dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan pada kelompok kontrol

(16)

6

dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)?

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka dalam penelitian ini terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penulis.

1. Untuk mengetahui kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar pada kelompok eksperimen dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan pada kelompok kontrol dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)?

2. Untuk mengetahui perbedaan nilai antara kelompok eksperimen dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan pada kelompok kontrol dalam mengubah teks wawancara menjadi sebuah paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)?

E. Manfaat Penelitian

Merujuk pada tujuan penelitian, maka terdapat beberapa manfaat praktis dalam penelitian ini yang dapat diterima oleh guru, siswa, calon peneliti, dan pembaca umum. Beberapa manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

(17)

7

1. Hasil penelitian dapat menjadi alat untuk mengungkap manfaat dari pebelajaran aktif.

2. Hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi guru dalam menentukan metode yang tepat untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.

3. Hasil penelitian dapat menjadi materi pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada keterampilan menulis.

4. Hasil penelitian dapat menjadi bahan pembelajaran siswa dalam menyelesaikan tugasnya dengan efektif dan menarik.

5. Hasil penelitian dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.

6. Hasil penelitian dapat langsung dimengerti dan dipraktikkan oleh pembaca dalam proses pembelajaran.

(18)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Keberhasilan penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting- gluing) telah dibuktikan oleh beberapa peneliti terdahulu, Rosida (2010) dalam

penelitiannya yang berjudul “Penerapan Teknik Memotong dan Merekatkan (cutting-gluing) dalam Pembelajaran Menulis Resensi Novel” menyimpulkan bahwa penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa kelas XII SMA Plus Khadijah Islamic School selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, Anggraeni (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Keefektifan Teknik Cutting-Gluing dalam Pembelajaran Menulis Resensi Cerpen (Kuasi Eksperimen pasa siswa XI SMA Negeri 11 Bandung Tahun ajaran 2008/2009) pun mengaku berhasil dan menyarankan para guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) ini dalam pembelajaran menulis di sekolah.

2. Paragraf Narasi

Pembahasan mengenai paragraf narasi dapat difokuskan pada dua hal yaitu paragraf dan narasi yang dirincikan sebagai berikut:

(19)

9

a. Paragraf

Paragraf adalah gabungan dari beberapa kalimat yang saling terkait dan padu serta mengembangkan satu ide pokok pikiran. Adapun hal-hal yang diuraikan mengenai paragraf adalah sebagi berikut:

1) Syarat-syarat paragraf.

Menurut Rahim (2009:163-164), paragraf yang baik memiliki dua ketentuan, yaitu: (a) kesatuan paragraf, sebuah paragraf terdapat satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menyimpang dari ide pokok paragraf; (b) kepaduan paragraf, dapat terlihat melalui penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antarkalimat. Urutan yang logis akan terlihat pada susunan kalimat-kalimat dalam paragraf. Paragraf sebaiknya tidak menggunakan kalimat-kalimat yang sumbang atau kalimat yang keluar dari permasalahan yang dibicarakan.

2) Jenis-jenis Paragraf

Paragraf menurut jenisnya dapat dibagi dalam lima jenis yaitu sebagai berikut:

a) Paragraf deskripsi merupakan paragraf yang menggambarkan sebuah objek dengan tujuan agar pembaca merasa seolah-olah melihat objek yang digambarkan. Paragraf deskripsi menggambarkan sesuatu hal dengan kata- kata secara jelas dan terperinci.

(20)

10

b) Paragraf eksposisi merupakan paragraf yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi. Tujuannya agar pembaca mendapat informasi dan pengetahuan dengan sejelas-jelasnya.

c) Paragraf narasi merupakan paragraf yang bertujuan untuk menceritakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga pembaca seolah-olah mengalami sendiri kejadian tersebut. Paragraf narasi memiliki tiga unsur utama sebagai bahannya, yaitu adanya tokoh, kejadian dan adanya latar ruag dan waktu.

d) Paragraf persuasi merupakan paragraf yang bertujuan untuk memengaruhi, mengimbau, membujuk, atau merayu pembaca, sehingga tergiurr atau terpengaruh untuk mengikui keinginan penulis.

e) Paragraf argumentasi merupakan paragraf yang mengemukakan alasan, contoh, dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Tujuannya meyakinkan pembaca sehingga mereka membenarkan pendapat, sikap dan keyakinan penulis.

b. Ciri-Ciri Paragraf Narasi

Setiap paragraf mempunyai ciri tertentu. Adapun ciri-ciri Paragraf narasi menurut Semi (2003:31), yaitu:

1) Berupa cerita tentang pengalaman manusia.

2) Kejadian atau peristiwa yang disampaikan dapat berupa peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, dapat pula berupa semata-semata imajinasi, atau gabungan keduanya.

3) Bedasarkan konflik. karena, tanpa konflik biasanya narasi tidak menarik.

(21)

11

4) Memiliki nilai estetika karena isi dan cara penyampainya bersifat sastra, khususnya narasi berbentuk fiksi.

5) Menekankan susunan kronologis (catatan: deskripsi menekankan susunan ruang).

6) Biasanya memiliki dialog.

Paragraf narasi bisa berisi fakta bisa pula berisi fiksi atau rekaan yang direka atau dikhayalkan oleh pengarangnya. Narasi yang berisi fakta adalah biografi, otobiografi, kisah sejati, dan lain-lain. Sedangakan narasi yang berisi fiksi seperti novel, cerpen, dan cerita bergambar (Marahami, 2005:96). Selain dari itu, Semi (2003:32) juga mengatakan bahwa narasi dibagi atas dua jenis, yaitu narasi informatif yang sering disebut pula narasi ekspositoris, yang pada dasarnya berkencenderungan sebagai bentuk ekposisi yang berkecenderungan memaparkan informasi dengan bahasa yang lugas dan konfliknya tidak terlalu kelihatan. Kedua narasi artistik, narasi ini umumnya berupa cerpen atau novel.

Menurut Keraf (1987:133-139), narasi ekpositoris dan narasi sugestis memiliki ciri-ciri yang berbeda.

1) Narasi ekspositoris memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Memperluas pengetahuan;

b. Menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian;

c. Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan nasional;

dan

d. Bahasanya lebih cenderung ke bahasa informatif dengan menitik beratkan pada penggunaan kata-kata denotatif.

2) Sedangkan narasi sugestis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Menyampaikan suatu makna atau amanat yang tersirat;

b. Menimbulkan daya khayal;

c. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar; dan

(22)

12

d. Bahasanya lebih cenderung ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan pada penggunaan kata-kata konotatif.

Berdasarkan kutipan di atas, tujuan narasi ekspositoris adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca agar pengetahuannya bertambah luas. Sedangakan narasi sugestis menyampaikan suatu makna kepada pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya, sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi pembaca dari daya khayal yang dikembangkan oleh pengarangnya. Jadi, jelas bahwa antara narasi ekspositoris dan narasi sugestis terdapat perbedaan tujuan pengarang dalam menarasikan suatu kejadian atau peristiwa.

c. Pola Pengembangan Narasi

Menurut Semi (2003:30), tulisan narasi biasanya mempuyai pola. Pola sederhana berupa awal peristiwa, tengah peristiwa, dan akhir peristiwa. Awal narasi biasanya berisi pengantar, yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh.

Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Dengan kata lain, bagian ini mempunyai fungsi khusus untuk memancing pembaca dan mengiring pembaca pada kondisi ingin tahu kejadian selanjutnya.

Bagian tengah merupakan bagian yang menjelaskan secara panjang lebar tentang peristiwa. Di bagian ini, penulis memunculkan suatu konflik. Kemudian, konflik tersebut diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda. Bagian terakhir ini konfliknya mulai menuju ke arah tertentu.

Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam- macam. Ada bagian diceritakan dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang

(23)

13

berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan tulisan dengan teknik narasi dilakukan dengan mengemukakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara kronologis. Dalam karangan ini, bagian-bagian karangan disajikan sesuai dengan kejadian dalam waktu tertentu. Bagian pertama menyajikan kejadian satu, kemudian disusul dengan kejadian kedua, menyajikan bagian kedua dan seterusnya. Teknik pengembangan narasi diidentikkan dengan penceritaan (storitelling), karena teknik ini biasanya selalu digunakan untuk menyampaikan sesuatu cerita.

3. Wawancara

a. Pengertian Wawancara

Menurut Agus (2007:1), wawancara merupakan suatu bentuk kegiatan berbahasa lisan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada narasumber untuk memperoleh kebenaran informasi.

Dalam komunikasi, wawancara merupakan suatu bentuk komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam wawancara pihak-pihak yang diwawancarai dan yang mewawancarai terlibat dalam proses kontak dan pertukaran informasi. Pihak yang diwawancarai adalah orang yang dari padanya digali informasi. Pihak yang mewawancarai adalah orang yang ingin mendapatkan informasi. Selama wawancara, pihak yang diwawancarai dan

(24)

14

mewawancarai terlibat percakapan dengan saling berbicara, mendengar, dan menjawab.

Pembicaraan dalam wawancara mempunyai tujuan yang lebih jauh daripada percakapan biasa karena mempunyai makna yang melebihi maksud percakapan biasa. Karena itu, pembicaraan mengikuti struktur tertentu.

Pembicaraan itu bolak-balik antara orang yang mewawancarai dan yang diwawancarai, pertanyaan diajukan dan dijawab secara bergantian dengan maksud menggali topik yang disepakati untuk dibahas guna mencapai tujuan yang direncanakan untuk wawancara itu.

b. Teks Wawancara

Menurut Agus (2007:21), teks wawancara merupakan bentuk penyajian informasi berupa tanya jawab antara pewawancara dan narasumber. Untuk menceritakan atau menyampaikan kembali hasil wawancara kepada orang lain, teks wawancara perlu diubah dalam bentuk narasi.

c. Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi

Adapun langkah-langkah mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi menurut Agus (2007:3), yaitu:

1. Bacalah teks wawancara dengan cermat.

2. Catatlah pokok-pokok isi wawancara.

3. Buatlah pengantar ke arah isi wawancara.

4. Narasikan isi wawancara dengan mengembangkan pokok-pokok isi wawancara.

(25)

15

5. Lengkapilah narasi dengan bagian penutup.

4. Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing)

Dalam Quantum Reading mengatakan bahwa teknik cutting-gluing adalah teknik pembelajaran yang dilakukan dengan cara memotong dan merekatkan potongan-potongan materi yang menarik perhatian kita. Teknik memotong dan merekatkan ini merupakan teknik yang paling mudah dan sederhana dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi, yang sekaligus merupakan teknik berlatih menulis yang paling elementer. Teknik cutting-gluing ini dapat memberikan peluang yang sangat besar bagi seseorang

untuk berlatih menulis dengan bahasa orang lain, Herwono (2003:190).

Teknik memotong (cutting) ini dilakukan dengan cara memotong (memberi tanda, seperti garis bawah) beberapa kata atau kalimat yang menjadi pokok isi wawancara, setelah itu disusunlah beberapa kata atau kalimat yang sudah dipotong dengan urutan yang baik, kemudian mengubah beberapa kalimat langsung yang telah dipotong menjadi kalimat tak langsung. Setelah merasa cukup mengumpulkan potongan-potongan teks wawancara, dilanjutkan dengan proses merekatkan (gluing), yaitu menempelkan (dengan cara menuliskan kembali beberapa kalimat tak langsung), dan mengembangkan gabungan kalimat yang telah ditempel dengan memanfaatkan isi wawancara yang belum digunakan agar tercipta sebuah paragraf narasi yang baik.

Adapun langkah-langkah teknik memotong dan merekatkan (Cutting- Gluing), yaitu :

1. Membaca teks wawancara

(26)

16

Siswa membaca teks wawancara yang diberikan oleh guru secara cermat dan dapat memahami isi wawancara dengan baik.

2. Memotong (Cutting)

Langkah yang kedua yaitu menandai atau menggaris bawahi beberapa kata atau kalimat yang menjadi pokok isi wawancara, kemudian menyusunnya ke dalam beberapa kata atau kalimat yang sudah dipotong dengan urutan yang baik lalu mengubah beberapa kalimat langsung yang telah dipotong menjadi kalimat tak langsung.

3. Merekatkan (Gluing)

Langkah terakhir yaitu merekatkan atau menuliskan kembali beberapa kalimat tak langsung, kemudian mengembangkan gabungan kalimat yang telah ditempel dengan memanfaatkan isi wawancara yang belum digunakan agar tercipta sebuah paragraf narasi yang baik.

B. Kerangka Pikir

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek yang mencakup keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut akan tercapai dengan baik jika dilaksanakan secara terpadu dan menggunakan teknik pembelajaran yang tepat.

Namun penelitian ini hanya akan membahas keterampilan menulis, khususnya dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi.

Sebagai gambaran tentang landasan berpikir dalam penelitian ini, diuraikan bahwa kerangka pikir didasari oleh kenyataan bahwa pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi disekolah belum mencapai

(27)

17

hasil yang memuaskan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi akan diberikan perlakuan penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing), hal ini dilakukan untuk melihat tingkat kemampuan siswa yang dalam pembelajarannya tersebut di terapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan juga pada siswa yang tidak mendapatkan perlakuan teknik pembelajaran memotong dan merektkan (cutting- gluing).

Teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) merupakan salah satu teknik yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi. Melalui teknik ini, siswa dapat lebih mudah dalam mengubah kalimat langsung yang ada dalam teks wawancara menjadi kalimat tidak langsung untuk dapat dikembangkan dalam paragraf narasi. Untuk mendapakan hasil yang baik, perlu diakukan penelitian secara mendalam agar apa yang diharapkan dalam pembelajaran ini dapat tercapai dnegan baik. Simpulan mengenai kemampuan siswa dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) akan dilakukan melalui proses analisis lebih lanjut dari hasil perlakuan yang dilakukan.

(28)

18

BAGAN KERANGKA PIKIR

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian (Arikunto, 2006:71). Merujuk pada rumusan masalah dan landasan teori yang ada, maka jawaban sementara dari penelitian ini adalah “Terdapat perbedaan nilai yang signifikan antara kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada siswa yang menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dan kemampuan mengubah teks wawancara menjadi

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Paragraf Narasi Teks Wawancara

Teknik Cuttint-Gluing Tanpa teknik Cutting-Gluing)

Proses Kurikulum 2013

Analisis Hasil

(29)

19

paragraf narasi pada siswa yang tidak menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing)”.

(30)

20

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode eksperimen semu atau quasi experiment. Penelitian eksperimen ini dilakukan untuk menilai suatu

perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap subjek/objek penelitian dengan diterapkannya teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) untuk menguji hipotesis.

Penelitian eksperimen ini disebut treatment dan diartikan sebagai bentuk tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya dan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.

B. Variabel dan Desain Penelitian

Desain penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah True Experimental Design dengan bentuk posstest control group design yaitu desain

yang terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara acak atau random. Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak diberi perlakuan. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Adapun posstest control group design yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

20

(31)

21

Tabel 3.1 Rancangan Tes Akhir dengan Sampel Acak Kelompok Perlakuan Tes Akhir

E X1 Y1

K - Y2

(Djunaid, 2012:31) Keterangan:

E : Kelompok eksperimen K : Kelompok kontrol

Y1 : Tes awal akhir kelas eksperimen Y2 : Tes akhir pada kelas kontrol

X1: Pemberian materi pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing).

C. Populasi dan Sampel

Peneliti melaksanakan penelitian di SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Penelitian ini menitikberatkan pada penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam pembelajaran menulis, tepatnya dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi.

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 1997:57).

(32)

22

Populasi yang dijadikan objek penelitian adalah keseluruhan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Adapun data dari keseluruhan jumlah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galut adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2 Jumlah Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara No. Kelas Jumlah Siswa

1. VII 1 20

2. VII 2 20

3. VII 3 21

4. VII 4 20

5. VII 5 22

6. VII 6 20

7. VII 7 20

8. VII 8 22

9. VII 9 20

10 VII 10 23

208

Uraian pada tabel di atas, menunjukkan bahwa jumlah siswa yang dijadikan sebagai populasi penelitian terdiri dari 208 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi (Sugiyono, 1997:57). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Probability Sampling dengan jenis teknik Simple Random Sampling yang pengambilan sampelnya dilakukan secara

(33)

23

acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut (Sugiyono, 2001:58).

Oleh karena itu, sampel dalam penelitian ini adalah kelas VII dengan mengambil dua kelas sampel, yaitu kelas VII 1 dengan jumlah siswa 20 orang dan kelas VII 4 dengan jumlah siswa 20 orang di SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar. Kelas VII 1 berlaku sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII 4 berlaku sebagai kelompok kontrol. Kelas tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kelas tersebut masih perlu untuk mendapatkan pembelajaran bahasa Indonesia secara mendalam khususnya dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa melalui pembelajaran yang akan dilakukan.

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk menghindari beberapa penafsiran, maka di bawah ini peneliti memberi beberapa defenisi operasional.

1. Paragraf narasi adalah paragraf yang ditulis dengan cara menceritakan suatu hal secara runtut, yaitu paragraf yang mengisahkan isi teks wawancara yang di dalamnya terdapat unsur pelaku, waktu dan tempat.

2. Teks wawancara merupakan bentuk penyajian informasi berupa tanya jawab antara pewawancara dan narasumber.

3. Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) adalah teknik untuk menyajikan isi teks wawancara dengan cara memotong beberapa kalimat langsung yang menjadi pokok teks wawancara dan merekatkan kembali potongan-potongan tersebut dalam bentuk kalimat tak langsung.

(34)

24

E. Prosedur Penelitian

Secara garis besar, penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Adapun uraian dari tahap-tahap tersebut adalah berikut ini.

1. Tahap Persiapan

Tahap ini dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan. Rincian dari tahap persiapan adalah di bawah ini:

a) Menentukan pokok bahasan yang akan dipergunakan dalam studi literatur.

b) Mengidentifikasi permasalahan mengenai bahan ajar, perencanaan pembelajaran, dan sebagainya.

c) Survei ke lokasi untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan untuk penelitian.

d) Meminta izin untuk penelitian dengan memberikan surat izin dari fakultas ke SMA Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar..

e) Menentukan populasi dan sampel.

f) Menentukan waktu pelaksanaan penelitian dengan berkonsultasi kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VII SMP Negeri 1 galesong Utara.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Galesong Utara dengan tahap sebagai berikut.

a) Peneliti mengarahkan pemahaman siswa tentang materi yang akan diajarkan.

b) Peneliti memberi perlakuan dengan rincian sebagai berikut:

(35)

25

(1) Teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) diterapkan pada kelas eksperimen yaitu kelas VII 1.

(2) Tidak menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelas konrol yaitu kelas VII 4.

c) Peneliti melaksanakan tes akhir (posttest) terhadap sampel dengan soal dengan soal yang sama pada kedua kelas dan dengan bobot yang sama. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi.

F. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelitian untuk mendukung proses pengumpulan data dan mengukur tingkat keberhasilan penelitian dalam hal proses. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan tes.

1. Lembar Observasi

Lembar observasi adalah salah satu instrumen pengumpulan data dalam peneitian ini. Lembar observas ini digunakan untuk mengetahui keefektifan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam penerapannya di kelompok terhadap kemampuan mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi yang di eksperimenkan oleh peneliti. Lembar observasi yang digunakan oleh peneliti adalah lembar observasi aktivitas siswa.

(36)

26

Tabel 3.3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa

No. Aspek yang dinilai

Pertemuan I II III 1. Jumlah siswa yang hadir.

2. Siswa yang memperhatikan pelajaran.

3. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran.

4. Siswa yang aktif bertanya.

5. Siswa yang menyampaikan pendapatnya tentang kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam menarasikan teks wawancara.

6. Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada proses pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu teman, ribut, dll)

2. Tes

Tes adalah salah satu instrumen pengumpulan data yang penting dalam penelitian ini. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tulis, yang terdiri dari tes akhir. Tes akhir diberikan kepada siswa setelah mendapatkan pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi, baik pada kelompok kesperimen kleas VII 1 maupun pada kelompok kontrol kelas VII 4.

(37)

27

Tabel 3.4 Alat Tes Penelitian

1. Memahami teks wawancara

2. Narasikanlah teks wawancara di bawah ini ! TEKS WAWANCARA

Fitri :“Selamat pagi, Sari!”

(Siswa) Tini :“Selamat pagi Mbak Ani!”

Fitri :”Bagaimana perasaan kamu sekarang sudah menjadi anak SMP?”

(Siswa) Tini :”Perasaan saya tentunya sangat senang, karena selain mendapatkan teman- teman baru dan guru-guru baru, gedung sekolahnya juga sangat bagus.”

Fitri :”Mengapa kamu memilih sekolah di sini?”

(Siswa) Tini :”Ya karena sekolahnya saya suka, tempatnyapun dekat dari rumah dan juga sekolah yang saya pilih ini menjadi sekolah unggulan, jadi tidak salah saya memilih sekolah di sini.

Fitri :”Apa kamu yakin mampu meraih prestasi di sekolah ini?”

(Siswa) Tini :”Iya saya yakin.

Amir : “Baiklah, terima kasih atas waktunya.”

Tabel 3.5 Format Penilaian No. Aspek Penilaian Bobot

Skor

Skor Skor

Maksimum 1 2 3 4

1. Kesesuaian narasi dengan teks wawancara.

5 20

2. Ketepatan dalam mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung.

5 20

3. Kelengkapan informasi dalam 5 20

(38)

28

narasi.

4. Ketetapan ejaan dan tanda baca.

5 20

5. Kefektifan kalimat. 5 20

Jumlah 25

Keterangan skor :

1 : Kurang 3 : Baik

2 : Cukup 4 : Sangat baik

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknis tes dan nontes.

1. Teknik Tes

Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif atau tingkat penguasaan materi pembelajaran. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes akhir (posttest).

Pertama, peneliti memberikan materi kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi.

Kemudian peneliti memberikan tes akhir kepada kedua kelompok setelah kelompok eksperimen mendapat perlakuan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dan kelompok kontrol mendapat pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi.

(39)

29

2. Teknik Nontes

Teknik nontes dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan bentuk observasi. Observasi dilakukan terhadap dua objek pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu siswa, hal ini dilakukan untuk melihat secara faktual sasaran teliti. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan untuk melihat semua aktivitas siswa saat melaksanakan pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data

Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Teknik Pengolahan Hasil Observasi

Kualifkasi nilai observer siswa menggunakan penelitian skala tempat penelitian berlangsung. Kualifikasi kedua nilai observasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.6 Kualifikasi Nilai Observasi Siswa Nilai Rentang Nilai Keterangan

A 100 – 90 Baik Sekali

B 89 – 80 Baik

C 79 – 75 Cukup

D 74 – 60 Kurang

E <60 Kurang Sekali

(Standar penilaian SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar)

2. Teknik Pengolahan Data Hasil Tes

Pengolahan data hasil tes dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Statistik deksriptif

(40)

30

Analisis ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai presentase hasil belajar siswa yang diajar baik dengan menggunakan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) maupun dengan yang tidak menggunakan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing). Pengolahan data melalui statistik deskripsi sebagai berikut:

1) Membuat tabel-tabel data hasil tes akhir dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

2) Menentukan nilai rata-rata atau mean dari kelompok eksperiman dan kelompok kontrol.

Mean skor (x) x = ∑ 𝑓𝑥𝑛 Keterangan :

x = Mean atau nilai rata-rata yang ingin dicari.

fx = Jumlah dari perkalian antara interval kelas atau jumlah nilai rata-rata

dengan frekuensi.

n = Banyaknya responden (Subana, 2005:63 ) 3) Menentukan standar deviasi atau simpangan baku (S) dengan rumus :

S =

∑𝑓(𝑥−𝑥)²𝑛−1

Keterangan:

S = Standar Deviasi

n = Banyaknya responden (Sudjono, 2006:158)

(41)

31

b. Statistik Inferensial

Sebelum menggunakan statistik inferensial untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunkaan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data. Adapun langkah-langkah pengujian normalitas data yaitu dengan membuat daftar frekuensi yang diharapkan.

1) Menentukan batas kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor-skor kanan kelas interval ditambah 0,5.

2) Mencari nilai Z-score untuk batas kelas interval dengan rumus:

Z ꞊ Batas kelas - x S

3) Mencari luas 0 – Z dari tabel kurve normal 0 – Z dengan menggunakan angka dari nilai Z-score.

4) Mencari luas tiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka 0 – Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi dengan angka baris ketiga, dan begitu seterusnya. Kecuali untuk angka yang berbeda pada baris paling tengah ditambahkan dengan angka pada baris berikutnya. Kemudian mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden (n ꞊ 64).

5) Mencari Chi Kuadrat (X2hitung) dengan rumus:

(X2) ꞊

(fo-fe)²

fe Keterangan :

𝑂𝑖= frekuensi observasi atau pengamatan 𝐸𝑖= frekuensi ekspektasi (harapan)

(42)

32

6) Membandingkan X2hitung dengan X2tabel (Riduwan, 2010:189-191) c. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis ini dilakukan terhadap kedua kelompok objek penelitian atas hasil tes akhir yang sudah dilakukan. Langkah-langkah pengujiannya dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Menentukan nilai varian (S2) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

b. Mencari nilai thitung dengan rumus:

thitung Xa+Xb

√(𝑆𝑎2

𝑛𝑎)+(𝑆𝑏2

𝑛𝑏)

Keterangan :

Xa : Nilai mean kelompok pertama Xb : Nilai mean kelompok kedua S2a : Nilai Varian kelompok pertama S2b : Nilai varian kelompok kedua c. Mencari nilai ttabel dengan ketentuan:

Taraf signifikan ∝ ꞊ 0,05, db ꞊ n1 + n2 – 2 Kriteria pengujian:

Jika thitung ≥ ttabel, maka Ha diterima dan jika thitung ≤ ttabel, maka Ho ditolak.

d. Membandingkan thitung dengan ttabel.

(43)

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas tentang hasil penelitian yang menunjukkan perbedaan hasil belajar mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan metode memotong dan merekatkan (cuting-gluing) dan tanpa metode memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelas kontrol. Dalam penelitian ini peneliti mengambil dua sampel kelas yaitu kelas VII 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII 4 sebagai kelompok kontrol. Adapun yang dianalisis yaitu perbedaan skor hasil belajar pada siswa kelas secara deskriptif. Data hasil penelitian yang diperoleh adalah skor hasil belajar siswa pada kelompok kesperimen kelas VII 1 dan kelompok kontrol kelas VII 4.

Hasil dan pembahasan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Hasil Belajar Siwa Kelompok Eksperimen Kelas VII 1 dan Kelompok Kontrol Kelas VII 4.

a. Data Observasi

Hasil pengamatan melalui lembar observasi terhadap tingkat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dapat digambarkan pada tabel 4.1 untuk kelompok eksperimen kelas VII 1 dan tabel 4.2 untuk kelompok kontrol kelas VII 4.

33

(44)

34

Tabel 4.1 Hasil Observasi dalam Proses Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi paragraf Narasi pada Kelompok

Eksperimen Siswa Kelas VII 1 SMP Negeri 1 Galesong Utara.

No. Aspek yang dinilai Pertemuan Rata-rata Persentase I II III (%)

1. Jumlah siswa yang hadir. 19 20 20 19,6 98 2. Siswa yang memerhatikan

pelajaran.

16 18 19 17,6 88

3. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran.

16 18 20 18 90

4. Siswa yang aktif bertanya. 6 6 8 6,67 33,35 5. Siswa yang menyampaikan

pendapatnya tentang kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam menarasikan teks wawancara.

8 10 10 9,33 46,65

6. Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada proses pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu teman, ribut, dll)

5 3 2 3,33 16,65

Keterangan pada tabel 4.1 di peroleh bahwa dari 20 siswa yang hadir dikelas VII 1 SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar pada kelompok eksperimen kelas VII 1 menunjukkan bahwa siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung sebanyak 98%, siswa yang memerhatikan pelajaran sebanyak 88%, siswa yang aktif dalam proses pembelajaran 90%, siswa yang aktif

(45)

35

bertanya 33,35%, siswa yang menyampaikan pendapatnya tentang kesulitan- kesulitan yang ditemui dalam menarasikan teks wawancara 46,65%, Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada proses pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu teman, ribut, dan lain lain) sebanyak 16,65%.

Tabel 4.2 Hasil Observasi dalam Proses Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi paragraf Narasi pada Kelompok Kontrol

Siswa Kelas VII 4 SMP Negeri 1 Galesong Utara.

No. Aspek yang dinilai Pertemuan Rata-rata Persentase I II III (%)

1. Jumlah siswa yang hadir. 19 19 20 19,33 96,65 2. Siswa yang memerhatikan

pelajaran.

16 18 19 17,67 88,35

3. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran.

15 17 20 17,33 86,65

4. Siswa yang aktif bertanya. 4 5 8 5,67 28,35 5. Siswa yang menyampaikan

pendapatnya tentang kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam menarasikan teks wawancara.

7 9 10 8,67 43,35

6. Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada proses pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu teman, ribut, dll)

6 4 2 4 20

(46)

36

Keterangan pada tabel 4.2 di peroleh bahwa dari 20 siswa yang hadir dikelas VII 4 SMP Negeri 1 Galesong Utara Kabupaten Takalar pada kelompok kontrol kelas VII 4 menunjukkan bahwa siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung sebanyak 96,65%, siswa yang memerhatikan pelajaran sebanyak 88,35%, siswa yang aktif dalam proses pembelajaran 86,65%, siswa yang aktif bertanya 28,35%, siswa yang menyampaikan pendapatnya tentang kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam menarasikan teks wawancara 43,35%, Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada proses pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu teman, ribut, dan lain lain) sebanyak 20%.

b. Analisis Statistik Deskriptif

1) Data Kelompok Eksperimen Kelas VII 1.

Hasil belajar siswa pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelas eksperimen digambarkan melalui analisis statistik

deskriptif. Analisis statistika deskriptif menggambarkan perolehan skor siswa mulai yang tertinggi sampai yang terendah.

Dari data hasil posttest siswa kelas VII 1, tidak terdapat siswa pada kategori sangat rendah dan kategori rendah, pada kategori sedang terdapat 4 orang siswa, kategori tinggi terdapat 6 orang siswa, dan pada kategori sangat tinggi terdapat 10 orang siswa. Gambaran hasil posttest kelompok eksperimen kelas VII 1 disajikan pada tabel berikut.

(47)

37

Tabel 4.3 Kategorisasi Skor Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerapkan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing)

No Interval Nilai Tingkat Kemampuan Frekuensi Persentase (%)

1. 0 – 39 Sangat rendah - -

2. 40 – 69 Rendah - -

3. 70 – 79 Sedang 4 20

4. 80 – 89 Tinggi 6 30

5. 90 – 100 Sangat Tinggi 10 50

Berdasarkan tabel 4.3 hasil dari kategorisasi pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) menunjukkan bahwa tidak seorangpun siswa yang memeroleh kategori sangat rendah dan kategori rendah.

Untuk pembelajaran pada kelompok eksperimen kelas VII 1, siswa yang berada pada kategori sedang diperoleh 4 orang siswa (20%), kategori tinggi diperoleh 6 orang siswa (30%), dan kategori sangat tinggi terdapat 10 orang siswa (50%).

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen kelas VII 1 berada pada kategori sangat tinggi.

Hasil analisis statistik deskriptif dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Deskripsi Skor Hasil Belajar Siswa Dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerpakan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing).

(48)

38

Statistik Nilai Statistik Skor tertinggi

Skor terendah Rata-rata (mean)

Standar deviasi Derajat kebebasan

100 70 86,5 9,79 2

Berdasarkan tabel 4.4 dapat digambarkan bahwa dari 20 orang siswa pada kelompok eksperimen kelas VII 1 yang dijadikan sebagai sampel penelitian, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar yang cenderung tinggi. Skor tertinggi yaitu 100 dan skor terendah yaitu 70 yang berada pada nilai rata-rata siswa 86,5 dan nilai standar deviasi 9,79 dengan derajat kebebasan 2. Perolehan nilai tersebut dapat menggambarkan bahwa tingkat hasil belajar siswa cenderung tinggi.

Mengenai kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing), dikelompokan ke dalam dua kategori sehingga diperoleh skor frekuensi dan persentase yng ditunjukkan pada tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Distribusi dan Persentase kriteria ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing).

(49)

39

No Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. ≤ 70 Tidak Tuntas - -

2. ≥ 70 Tuntas 20 100

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi dengan menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) memiliki tingkat kemampuan yang cukup signifikan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.

2) Data Kelompok Kontrol Kelas VII 4.

Hasil belajar siswa pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) pada kelas kontrol digambarkan melalui analisis statistik

deskriptif. Analisis statistik deskriptif menggambarkan perolehan skor siswa mulai yang tertinggi sampai yang terendah.

Dari data hasil posttest siswa kelas VII 4, tidak terdapat siswa pada kategori sangat rendah dan kategori sangat inggi, pada kategori rendah terdapat 7 orang siswa, kategori sedang terdapat 8 orang siswa, dan pada kategori tinggi terdapat 5 orang siswa. Gambaran hasil posttest kelompok kontrol kelas VII 1 disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.6 Kategorisasi Skor Pembelajaran Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi tanpa Menerapkan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing)

(50)

40

No Interval Nilai Tingkat Kemampuan Frekuensi Persentase (%)

1. 0 – 39 Sangat rendah - -

2. 40 – 69 Rendah 3 15

3. 70 – 79 Sedang 7 35

4. 80 – 89 Tinggi 10 50

5. 90 – 100 Sangat Tinggi - -

Berdasarkan tabel 4.6 hasil dari kategorisasi pada pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) menunjukkan bahwa tidak seorangpun siswa yang memeroleh kategori sangat rendah dan kategori sangat tinggi. Untuk pembelajaran pada kelompok kontrol kelas VII 4, siswa yang berada pada kategori rendah diperoleh 3 orang siswa (15%), kategori sedang diperoleh 7 orang siswa (35%), dan kategori tinggi diperoleh 10 orang siswa (50%).

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada kelompok kontrol kelas VII 4 berada pada kategori tinggi.

Hasil analisis statistik deskriptif dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.7 Deskripsi Skor Hasil Belajar Siswa Dalam Mengubah Teks Wawancara Menjadi Paragraf Narasi dengan Menerpakan Teknik Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing).

Statistik Nilai Statistik Skor tertinggi

Skor terendah

90 60

(51)

41

Rata-rata (mean) Standar deviasi Derajat kebebasan

78,7 10,32

2

Berdasarkan tabel 4.7 dapat digambarkan bahwa dari 20 orang siswa pada kelompok kontrol kelas VII 4 yang dijadikan sebagai sampel penelitian, terlihat bahwa skor tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 90 dan skor terendah yaitu 60 yang berada pada nilai rata-rata siswa 78,7 dan nilai standar deviasi 10,32 dengan derajat kebebasan 2.

Mengenai kriteria ketuntasan hasil belajar, maka hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing), dikelompokan ke dalam dua kategori sehingga diperoleh skor frekuensi dan persentase yang ditunjukkan pada tabel 4.8 berikut.

Tabel 4.8 Distribusi dan Persentase kriteria ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing).

No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. ≤ 70 Tidak Tuntas 3 -

2. ≥ 70 Tuntas 17 85

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi tanpa menerapkan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) memiliki tingkat

(52)

42

kemampuan yang tidak begitu signifikan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.

c. Analisis Statistika Inferensial

Untuk mengetahui perbedaan penerapan teknik memotong dan merekatkan (cutting-gluing) dalam mengubah teks wawancara menjadi paragraf narasi pada kelompok eksperimen kelas VII 1 dan kelompok kontrol kelas VII 4, maka data yang diperoleh dari kedua kelas dianalisis dengan analisis statistik inferensial. Anailisis statistik inferensial dilakukan dengan cara perhitungan manual sesuai dengan rumus dan langkah-langkah yang telah ditentukan. Hasil analisis statistik inferensial dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.

1) Data Kelompok Eksperimen Kelas VII 1.

Uji normalitas dlakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

- Menentukan batas kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor-skor kanan kelas interval ditambah 0,5.

Sehingga didapat 69,5 ; 75,5 ; 81,5 ; 87,5 ; 91,5 ; 97,5 ; 105,5.

- Mencari nilai Z-score untuk batas kelas interval dengan rumus:

Z ꞊ Batas kelas - x

S

Diketahui: x ꞊ 86,5 S ꞊ 9,79

Z169,5-86,5

9,79 ꞊ -1,73 Z591,5-86,5

9,79 ꞊ 0,51 Z275,5-86,5

9,79

-1,12 Z697,5-86,5

9,79 ꞊ 1,12

(53)

43

Z381,5-86,5

9,79 ꞊ -0,51 Z7105,5-86,5

9,79 ꞊ 1,91 Z487,5-86,5

9,79 ꞊ 0,10

- Mencari luas 0 – Z dari tabel kurve normal 0 – Z dengan menggunakan angka dari nilai Z-score, sehingga didapat 0,4582 ; 0,3686 ; 0,1950 ; 0,0398 ; 0,1950

; 0,3686; 0,4719.

- Mencari luas tiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka 0 – Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi dengan angka baris ketiga, dan begitu seterusnya. Kecuali untuk angka yang berbeda pada baris paling tengah ditambahkan dengan angka pada baris berikutnya. Kemudian mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden (n ꞊ 64).

0,4582 – 0,3686 ꞊ 0,0896 × 20 ꞊ 1,79 0,3686 – 0,1950꞊ 0,1736 × 20 ꞊ 3,47 0,1950 – 0,0398 ꞊ 0,1552 × 20 ꞊ 3,10 0,0398 – 0,1950 ꞊ 0,1552 × 20 ꞊ 3,10 0,1950 – 0,3686 ꞊ 0,1736 × 20 ꞊ 3,47 0,3686 – 0,4719 ꞊ 0,1033 × 20 ꞊ 2,07

Tabel 4.9 Frekuensi yang diharapkan (fe) dari Hasil Pengamatan (fo) untuk Variabel X Kelompok Eksperimen.

No. Batas Kelas

Z Luas 0 – Z

Luas Tiap Kelas Interval

fe fo

1. 69,5 -1,73 0,4582 0,0896 1,79 4

2. 75,5 -1,12 0,3686 0,1736 3,47 2

Gambar

Tabel 3.1 Rancangan Tes Akhir dengan Sampel Acak  Kelompok  Perlakuan  Tes Akhir
Tabel 3.2 Jumlah Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Galesong Utara  No.  Kelas  Jumlah Siswa
Tabel 3.3 Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Tabel 3.4 Alat Tes Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pada hari ini SELASA Tanggal DUA PULUH DUA Bulan APRIL Tahun DUA RIBU EMPAT BELAS , yang bertanda tangan di bawah ini POKJA ULP , telah melakukan pembukaan

Kalian hanya fokus pada satu persoalan skripsi anda, sementara pembimbing harus melihat banyak fokus persoalan dari para bimbingannya yang jumlahnya puluhan

Alat untuk mengukur suhu (Termometer). Universitas

Pengembangan galangan penutuhan kapal menjadi green ship recycling yard yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dapat dilakukan dengan penambahan fasilitas dan

Apakah faktor Store Contact, Store Image, Store Atmospherics dan Store Theatrics mempengaruhi minat konsumen untuk melakukan pembelian di Toko Buku Gramedia Yogyakarta?...

Dari hasil pengujian warna pada tepung pisang, didapatkan hasil L tertinggi adalah pada suhu pengeringan 80 o C dan terendah terdapat pada suhu pengeringan 70 o C, kemudian

(Allium Ascalonicum L) bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian agensia hayati mikoriza terhadap intensitas penyakit layu fusarium, pertumbuhan dan hasil