• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Struktur Organisasi

1. Data Kolektibilitas Kredit

Data kualitas kredit Bank Sulsel Makassar tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.1: Kredit Investasi Untuk Tahun Berakhir 2013

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Angka rasio dalam bentuk persentase dari Tabel 5.1 diatas diperoleh dari rumus sebagai berikut:

Ket: Rasio =

Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 41.030.000.000,- 98,02%

Dalam Perhatian Khusus 170.000.000,- 0,41%

Macet 660.000.000,- 1,58%

Total

41.860.000.000,-Dari tabel 5.1 di atas diketahui bahwa: kualitas kredit yamg digolongkan lancar adalah sebesar 98,02% sedangkan yang di golongkan dalam perhatian khusus sebesar 0,41% dan untuk kredit macet mencapai 1,58% dari total outstanding kredit sebesar Rp

41.860.000.000,-Tabel 5.2:Kredit Modal Kerja

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Dari tabel 5.2 di atas diketahui bahwa: kualitas kredit yamg digolongkan lancar adalah sebesar 68,18% sedangkan yang di golongkan dalam perhatian khusus sebesar 15,94% dan untuk kredit macet mencapai 15,88% dari total outstanding kredit sebesar Rp 3.168.000.000,

Tabel 5.3: Kredit Kepemilikan Rumah

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 2.160.000.000,- 68,18%

Dalam Perhatian Khusus 505.000.000,- 15,94%

Macet 503.000.000,- 15,88%

Total

3.168.000.000,-Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 591.000.000,- 97,52%

Macet 15.000.000,- 2,48%

Total

606.000.000,-Dari tabel 5.3 di atas (tabel 5.3) diketahui bahwa: kualitas kredit yamg digolongkan lancar adalah sebesar 97,52% sedangkan yang di golongkan untuk kredit macet mencapai 2,48% dari total outstanding kredit sebesar Rp

606.000.000,-Tabel 5.4: Kredit Komsumsi

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Dari tabel 5.4 di atas diketahui bahwa: kualitas kredit yamg digolongkan lancar adalah sebesar 98,94% sedangkan yang di golongkan dalam perhatian khusus sebesar 0,22% dan untuk kredit yang diragukan mencapai 0,03% dan kredit macet mencapai 0,72% dari total outstanding kredit sebesar Rp 513.262.500.000,

Tabel 5.5: Kredit Pemilikan Rumah + Komsumsi

Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 507.820.900.000,- 98,94%

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Dari tabel 5.5 di atas diketahui bahwa: kualitas kredit yamg digolongkan lancar adalah sebesar 98,94% sedangkan yang di golongkan dalam perhatian khusus sebesar 0,22% dan untuk kredit yang diragukan mencapai 0,02% dan kredit macet mencapai 0,82% dari total outstanding kredit sebesar Rp 513.868.500.000 –

Tabel 5.6: Kredit Usaha Kecil

Sumber: Bank Sul-Sel (Data diolah)

Dari semua tabel 5.6 diatas dengan berbagai macam jenis kredit outstanding pada Bank Sul-Sel memperlihatkan bahwa: Kredit yang digolongkan sebagai

1 2 3

Dalam Perhatian Khusus 1.119.000.000 0,22%

Kurang Lancar

-Diragukan 130.000.000 0,02%

Macet 4.207.600.000 0,82%

Total 513.868.500.000

Golongan Kredit Jumlah Kredit (Rp)

Rasio

KUK 15.200.000.000 0,28%

Non KUK 543.472.500.000 97,28%

Total 558.672.500.000

kredit yang produktif (performing loan) yang terdiri dari (Rasio kredit lancar + Rasio kredit dalam perhatian khusus) untuk kredit investasi sebesar 98,43%

sedangkan kredit yang digolongkan tidak produktif (nonperforming loan) terdiri dari (Rasio kredit macet) sebesar 1,58%. Untuk kredit modal kerja yang tergolong sebagai kredit yang produktif (Rasio kredit lancar + Rasio kredit dalam perhatian khusus) sebesar 84,12% dan kredit yang non produktif (kredit macet) sebesar 15,88%. Untuk kredit kepemilikan rumah yang digolongkan dalam kredit produktif (kredit lancar) sebesar 97,52% dan kredit non produktif (kredit macet) sebesar 2,48%. Untuk Kredit konsumsi yang digolongkan sebagai kredit produktif (Rasio kredit lancar + Rasio kredit dalam perhatian khusus) sebesar 99,16%, dan untuk kredit yang digolongkan sebagai kredit non produktif (Rasio kredit yang diragukan + Rasio kredit macet) sebesar 0,75%. Dan untuk kredit kepemilikan rumah + konsumsi yang digolongkan sebagai kredit produktif (Rasio kredit lancar + kredit dalam perhatian khusus) sebesar 99,16%, dan yang digolongkan sebagai kredit non produktif (Rasio kredit kurang lancar + Rasio kredit diragukan + Rasio Kredit macet) sebesar 0,84%.

1. Penyebab terjadinya Kredit bermasalah pada Bank Sulsel disebabkan dari:

a. Dari sisi Debitur

Kelemahan dari sisi debitur disebabkan dari :

1) Masalah Operasional usaha yang mengalami kemunduran karena ketatnya persaingan.

2) Situasi ekonomi yang sulit/krisis sehingga daya beli masyarakat berkurang.

3) Ketidakjujuran debitur dalam mengelola kredit.

4) Keadaan diluar jangkuan/kemampuan debitur (force majeure).

b. Dari sisi Bank Sulsel Makassar

Kelemahan dari sisi intern Bank Sulsel Makassar disebabkan oleh kelemahan

pembinaan kredit

2. Tata cara Pengelolaan Kredit Bermasalah pada Bank Sulsel.

a. Penetapan strategi penaganan kredit bermasalah.

Dilakukan identifikasi masalah dan analisis diselesaikan dengan strategi penurunan hubungan (penyelamatan kredit) apabila kondisi debitur dapat diperbaiki atau strategi pemutus hubungan (penyelesaian kredit) apabila kondisi debitur tidak dapat diharapkan lagi.

Identifikasi masalah dan analisa strategi antara lain meliputi : 1) Dokumentasi.

Petugas administrasi kredit Bank Sulsel melakukan penelitian terhadap dokumen kredit debitur bermasalah untuk mengetahui kelengkapan dan keabsahan dokumen sehingga dapat dipastikan posisi Bank Sulsel apakah cukup kuat atau lemah dari aspek hukum.

2) Hubungan dengan debitur

Analisa dan evalusasi terhadap riwayat hubungan debitur dengan Bank Sulsel antara lain dinilai dari :

a) Pemenuhan kewajiban-kewajiban debitur bermasalah berupa pembayaran bunga dan pokok pinjaman serta kelancaran penyampaian laporan keuangan.

b) Ketaatan debitur dalam pemenuhan persyaratan kredit.

c) Respons yang diperlihatkan oleh debitur atas kredit nya yang sudah bermasalah.

Dari hasil Penelitian tersebut dapat disimpulkan itikad dan kemauan debitur untuk menyelesaikan kewajibannya pada Bank Sulsel.

3) Penetapan strategi penanganan kredit bermasalah.

Strategi penanganan kredit bermasalah pada Bank Sulsel selama ini adalah kebijakan restrukturisasi kredit dengan kombinasi strategi rescheduling dan reconditioning.

b. Rencana TIndak Lanjut (RTL)

Rencana Tindak Lanjut (RTL) penanganan kredit bermasalah pada .Bank Sulsel dilakukan sebagai berikut :

1) Pengawasan.

Yaitu, petugas kredit lapangan (Account Officer/AO) Bank Sulsel memantau kondisi usaha debitur apakah masih berjalan baik dan memiliki prospek untuk berkembang di masa yang akan datang atau sudah macet.

2) Penerapan Restrukturisasi kredit.

Petugas Kredit lapangan (Account Officer/AO) Bank Sulsel melakukan Restruturisasi kredit sesuai dengan kondisi usaha dan tingkat kemampuan debitur.

c. Syarat Restrukturisasi Kredit 1) Beritikad Baik & Kooperatif

a) Ada keseriusan negosiasi dengan bank

b) Memberi data-data keadaan perusahaan dan group secara terbuka (full disclosure).

c) Membuat rencana restrukturisasi.

2) Usaha Masih Berjalan & Prospek Baik

a) Laba Operasional. dan Net Cash Flow Positif.

b) Prospek pasar produk atau jasa masih baik c) Peluang peningkatan efisiensi dan daya saing 3) Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok

dan/atau bunga.

3. Jenis - jenis Restrukturisasi

Jenis – jenis restrukturisasi yang dilakukan berupa strategi kombinasi rescheduling reconditioning dan restructuring antara lain melalui :

a. Perubahan tingkat suku bunga kredit

Perubahan tingkat suku bunga kredit adalah untuk perubahan/penurunan tingkat suku bunga menjadi lebih kecil dari suku bunga yang saat ini sedang berlaku. Perubahan tingkat suku bunga tersebut adalah untuk perhitungan

bunga yang akan datang (setelah restrukturisasi kredit). Suku bunga yang diberikan kepada debitur diatur sebagai berikut :

1) Penurunan suku bunga kredit yang paling rendah untuk kredit yang direstrukturisasi dengan kolektibilitas lancar, Dalam Perhatian Khusus dan Kurang Lancar berpedoman pada ketentuan suku bunga restrukturisasi kredit sebagaimana ditetapkan oleh kantor pusat Bank Sulsel.

2) Penurunan suku bunga kredit yang paling rendah untuk kredit yang direstrukturisasi dengan kolektibilitas Diragukan dan Macet disesuaikan dengan kemampuan / cash flow debitur dan penetapannya sesuai dengan kewenangan pejabat yang berwenang (Pimpinan cabang Bank Sulsel.) b. Pengurangan tunggakan bunga dan atau denda/penalty.

Pemberian keringanan tunggakan bunga dan atau denda maksimum sebatas tunggakan bunga atau denda yang belum dibayar oleh debitur. Pengurangan tunggakan bunga dan atau penalty diatur sebagai berikut :

1) Untuk kredit yang direstrukturisasi dengan kolektibiltas lancar, dalam perhatian khusus, dan kurang lancar, tidak dimungkinkan untuk diberikan pengurangan tunggakan bunga atau dan atau penalty.

2) Untuk kredit yang direstrukturisasi dengan dengan kolektibilitas Diragukan dan Macet, pengurangan tunggakan bunga dan atau penalty dimungkinkan yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan debitur.

c. Perpanjangan jangka waktu / penjadwalan kembali

Dilakukan dengan cara memberikan tambahan jangka waktu kredit termasuk perubahan jadwal dan besarnya angsuran pembayaran pokok dan atau bunga atau denda. Pengertian perpanjangan jangka waktu dalam konteks ini adalah dalam rangka menyehatkan usaha debitur, atau dengan perkataan lain adalah hanya dalam rangka penyelamatan kredit.

Perpanjangan jangka waktu kredit (rescheduling) disesuaikan dengan kemampuan / cash flow debitur atau untuk kredit konsumtif disesuaikan dengan repayment capacity debitur yang bersangkutan. Tidak ada pembatasan jangka waktu dalam perpanjangan/ rescheduling pinjaman yang direstrukturisasi. Namun demikian, dalam pelaksanaan restrukturisasi tersebut tetap berlaku asas bahwa rescheduling pinjaman tetap merupakan alternatif yang dapat diterima bank berdasarkan judgment dari pejabat pemutus kredit.

d. Penambahan fasilitas kredit/suplesi kredit.

Penamabahan fasilitas kredit adalah pemberian tambahan fasilitas kredit baik direct maupun contigent agar perusahaan/usaha debitur dapat beroperasi kembali dan atau perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksinya sehingga dapat memenuhi kewajiban kepada bank.

Penambahan fasilitas kredit tidak diperkenankan untuk melunasi tunggakan pokok dan atau bunga/denda dan ditatakerjakan dalam rekening yang terpisah. Penambahan fasilitas kredit/suplesi kredit dalam rangka

restrukturisasi kredit harus didukung dengan agunan cukup (mengcover) kewajibannya.

e. Pembayaran sejumlah kewajiban bunga yang dilakukan kemudian (deferred interest payment/interest baloon payment) merupakan salah satu bentuk restruturisasi kredit yang dilakukan bank untuk menyehatkan usaha debitur dengan cara menangguhkan sementara sebagian atau seluruh beban bunga yang seharusnya dibayar oleh debitur, yang diakumulasikan selama jangka waktu tertentu. Bunga yang ditangguhkan pembayarannya tersebut harus dibayar kembali oleh debitur di kemudian hari sesuai jadwal pembayaran yang telah disepakati oleh kedua pihak. Atas bunga yang ditangguhkan tersebut tidak dikenakan bunga atau penalty. Suku bunga diatur antara lain sebagai berikut :

1) Tingkat suku bunga yang akan dibenbankan kepada debitur harus dihitung atas dasar kemampuan keuangan usaha debitur, yang dilakukan setelah pejabat kredit lini melakukan analisis pada cash flow perusahaan yan wajar.

2) Selisih antara tingkat suku bunga yang akan dibebankan kepada debitur tersebut di atas dengan tingkat suku bunga yang seharusnya dibayar merupakan bunga yang ditangguhkan pembayarannya dan dapat diangsur.

3) Tingkat suku bunga yang dibebankan kepada debitur tersebut, dapat direview secara periodik dan desesuaikan dengan cash flow perusahaan.

Bunga yang dapat ditangguhkan pembayarannya termasuk juga tunggakan bunga sebelum dilakukan restrukturisasi.

f. Penjualan agunan.

Merupakan penjualan aset atau agunan debitur yang dilakukan secara di bawah tangan, yang diserahkan kepada bank dalam rangka penyelamatan.

Tujuannya antara lain sebagai berikut :

1) Mempercepat penjualan / pencairan aset debitur dengan prioritas penggunaan untuk mengurangi pokok pinjaman dan piutang ekstern.

2) Memperoleh harga jual yang optimal dengan alternatif cara pembayaran terbaik yang dapat diterima oleh bank.

Dalam hal restrukturisasi kredit berupa penjualan agunan secara dibawah tangan berdasarkan kesepakatan para pihak (bank dengan debitur dan atau calon pembeli ), maka apabila agunan yang akan dijual secara dibawah tangan tersebut telah diikat dengan hak tanggungan, maka sebelum dilakukan penjulan, harus mengikuti ketentuan sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Hak Tanggungan.

g. Kombinasi dari alternatif tersebut diatas

Merupakan kombinasi dari berbagai alternatif restrukturisasi dari butir ‘a’

sampai ‘f’ dan kombinasi tersebut dapat saja terdiri dari dua atau lebih alternatif yang ada.

4. Pedoman penetapan pemberian Restrukturisasi Kredit bermasalah Bank Sulsel adalah seperti pada tabel 5.2 berikut ini:

Tabel 5.7: Ketentuan Pengaturan Restruturisasi Kredit.

a. Tingkat suku bunga serendahnya sebesar suku bunga restrukturisasi

b. Deferred interest payment

c. Penambahan fasilitas kredit ( rescheduling)

Kurang Lancar

a. Tingkat suku bunga serendahnya sebesar suku bunga restrukturisasi

b. Deferred interest payment c. Penambahan fasilitas kredit

d. Konversi penyertaan sementara pengambilalihan assset .

Diragukan

a. Suku bunga disesuaikan dengan cash flow debitur b. Pengurangan tunggakan bunga dan atau penalty c. Deferred interest payment

d. Penambahan fasilitas kredit

e. Konversi penyertaan sementara/pengambilalihan

Sumber : Bank Sulsel, (data diolah) 5. Proses Restrukturisasi Kredit

a. Prakarsa Restrukturisasi Kredit

Tahap Restrukturisasi kredit Bank Sulsel adalah : 1) Kredit Performing Loan

Prakarsa kredit di Kantor cabang Bank Sulsel untuk kredit Performing Loan dilakukan oleh pejabat kredit lini (AO) lain secara silang yang memiliki PDWK (Putusan Delegasi Wewenang Kredit) Performing Loan. Pejabat Kredit Lini yang terlibat dalam pemberian/prakarsa kredit terakhir sebelum kredit direstrukturisasi baik selaku pejabat pemrakarsa, pejabat penganalisis maupun pejabat pemutus, tidak boleh menjadi pemrakarsa restrukturisasi kredit.

2) Kredit Non Performing-Loan asset

Macet

a. Suku bunga disesuaikan dengan cash flow debitur b. Pengurangan tunggakan bunga dan atau penalty c. Deferred interest payment

d. Penambahan fasilitas kredit

e. Konversi penyertaan sementara/pengambilalihan asset

f. Pengurangan tunggakan pokok (hair cut)

Dilakukan oleh Pejabat Kredit Lini (AO) di jajaran Relationship Management (RM) yang ditunjuk untuk menangani kredit bermasalah.

b. Memorandum Analisis Restrukturisasi Kredit

Kredit yang akan direstrukturisasi wajib di analisis berdasarkan proyeksi usaha debitur dan kemampuan membayar dari proyeksi arus kas. Cakupan Analisis dan Evaluasi restrukturisasi kredit meliputi antara lain :

1) Evaluasi terhadap permasalahan debitur yang meliputi :

a) Evaluasi terhadap penyebab terjadinya tunggakan pokok dan atau bunga yang didasarkan atas laporan keuangan, arus kas (cash flow), proyeksi keuangan, kondisi pasar dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan usaha debitur atau kemampuan membayar debitur (untuk debitur konsumtif).

b) Perkiraan pengembalian seluruh pokok dan atau bunga kredit berdasarkan perjanjian kredit sebelum dan setelah restrukturisasi kredit.

c) Evaluasi terhadap kinerja manajemen debitur untuk menentukan diperlukannya restrukturisasi organisasi perusahaan debitur, antara lain dengan cara penggantian pemegang saham, Direksi dan perubahaan manajerial lainnya. Apabila diperlukan, bank dapat menggunakan bantuan tenaga ahli eksternal untuk restrukturisasi organisasi tersebut.

2) Pendekatan dan asumsi yang digunakan untuk menetapkan proyeksi arus kas (projected cash flow) debitur serta dalam memperhitungkan nilai tunai (present value) dari angsuran pokok dan atau bunga yang diterima.

3) Analisis, kesimpulan dan rekomendasi dalam melakukan penyesuaian persyaratan kredit seperti penurunan suku bunga, pengurangan tunggakan bunga dan atau penalty, perubahaan jangka waktu, penambahan fasillitas kredit dan lainnya. Penyesuaian tersebut dlikakukan dengan mempertimbangkan siklus usaha dan atau kemampuan membayar debitur, sehingga debitur dapat memenuhi kewajiban pembayaran angsuran pokok dan atau bunga jatuh tempo.

4) Apabila restrukturisasi kredit dilakukan dengan cara pemberian tambahan kredit, tujuan dan penggunaan tambahan kredit tersebut harus jelas.

Tambahan kredit tidak diperkenankan untuk melunasi tunggakan pokok dan atau bunga kredit.

5) Penyesuaian atas jadwal pembayaran kembali telah mencerminkan kemampuan membayar debitur.

6) Rincian yang terkait dengan persyaratan kredit termasuk kesepakatan keuangan dalam perjanjian kredit, antara lain rencana rekapitulisasi perusahaan debitur atau adanya hak (klausula) bank untuk meningkatkan suku bunga sejalan dengan kemampuan membayar debitur.

7) Rincian kelengkapan dokumen yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi kredit.

8) Persyaratan bahwa perjanjian kredit dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan restrukturisasi kredit harus mempunyai kekuatan hukum.

c. Negosiasi Restrukturisasi Kredit.

Negosiasi restrukturisasi kredit pada prinsipnya dapat dilakukan setiap saat, baik sebelum maupun sesudah analisis dan evaluasi restrukturisasi kredit.

Negosiasi kredit sebelum analisis dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal serta persepsi yang sama mengenai rencana restrukturisasi oleh debitur. Negosiasi setelah analisis dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai jenis restrukturisasi, syarat, srtuktur dan tipe kredit.

d. Putusan Restrukturisasi Kredit

Dilakukan oleh pejabat pemutus kredit dalam hal ini Pimpinan Cabang Bank Sulsel sebagai berikut :

1) Putusan restrukturisasi kredit sesuai dengan jenis – jenis kebijakan restrukturisasi yang telah disesuaikan oleh Bank Sulsel sebagaimana uraian terdahulu pada butir B.4

2) Pengecualian kewenangan Pimipinan cabang Bank Sulsel untuk memberikan putusan adalah:

a) Perjanjian keringanan pokok pinjaman (hair cut) harus diputuskan oleh pejabat pemutus yang merupakan wewenang komite kredit Bank Sulsel.

b) Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara merupakan wewenang Komite Kredit Bank Sulsel.

c) Pengambilalihan aset debitur merupakan wewenang komite kredit Bank Sulsel.

e. Perjanjian Restrukturisasi Kredit.

Putusan restrukturisasi kredit di tuangkan dalam perjanjian kredit, di mana bentuk dari perjanjian restrukturisasi kredit tergantung dari jenis restrukturisasi yang telah diputus dan materi yang telah ditetapakan oleh debitur dan Bank Sulsel.

Perubahan syarat, ketentuan kredit, pemberian keringanan tunggakan bunga, perpanjangan jangka waktu, penjualan agunan dan penambahan fasilitas kredit dapat dibuat dalam bentuk addendum.

Dalam perjanjian restrukturisasi harus dicantumkan pula recaure clause, yakni berupa penegasan bahwa para pihak sepakat bila debitur wanprestasi, syarat kredit dalam perjanjian restrukturisasi menjadi tidak berlaku dan syarat kredit serta konsekuensinya kembali pada perjanjian semula.

B. Pembahasan

Sesuai dengan hasil pembahasan pada tinjauan pustaka terdapat upaya penyelamatan kredit yang dilakukan dengan tiga macam cara yaitu: Rescheduling (penjadwalan kembali pelunasan kredit), Reconditioning (penataan kembali persyaratan kredit), Restrukturisasi.

Berikut adalah data Rekapitulasi kredit dari bank sulsel priode 2013 akan disajikan dalam tabel rekapitulasi di bawah ini.

Tabel 5.8: Rekapitulasi Kolektibilitas Kredit Tahun berakhir 2013

Rekapitulasi Kredit Jumlah Kredit (Rp) Rasio

Kredit Lancar 551.601.900.000 98,67 %

Kredit dalam Perhatian

Khusus 1.794.000.000 0,32 %

Kredit Kurang lancar -

-Kredit diragukan 130.000.000 0, 02 %

Kredit Macet 5.370.600.000 0, 96 %

Total 558.896.500.000 Sumber: Bank Sulsel

Dari hasil pengolahan data rekapitulasi di atas menunjukkan bahwa Kredit yang dikategorikan sebagai kredit yang produktif (Performing Loan) yang terdiri dari rasio kredit lancar + rasio kredit dalam perhatian khusus sebesar 98,99% dan kredit yang dikategorikan tidak produktif (Non Performing Loan) terdiri dari rasio kredit diragukan + rasio Kredit macet sebesar 0,98 %. Jadi sesuai rekapitulasi di atas maka jumlah rasio kredit yang bermasalah sebesar 0,98%.

Dari skala pengukuran tingkat efektifitas kredit pada tabel 4.1 dapat dijadikan sebagai acuan ukuran efektifitas kredit sehingga disimpulkan bahwa dari jumlah kredit yang non produktif atau bermasalah pada bank sulsel priode 2013 yaitu sebesar 0,98% termasuk dalam kategori.

Jadi hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh pihak bank dengan cara restrukturisasi cukup efektif dan efesien dalam memperbaiki kredit bermasalah.

60 A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Bank Sul-Sel sebagai bank penyalur kredit kepada masyarakat telah melakukan penyelamatan kredit bermasalah dengan strategi restrukturisasi kredit. Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan bahwa kredit produktif (performing loan) mencapai 98,99% sedang sisanya non produktif (non performing loan) sebesar 0,98%.

2. Dengan adanya restrukturirasi kredit terjadi penurunan kredit bermasalah yang sangat tinggi dan penulis menilai bahwa dengan adanya strategi restrukturisasi kredit pada Bank Sul-Sel maka dinilai efektif dengan terjadinya penurunan kasus kredit bermasalah.

B. Saran

Disarankan kepada manajemen Bank Sulsel agar strategi penyelamatan kredit bermasalah dipertahankan dan bahkan lebih ditingkatkan untuk meminimalisir kualitas kredit bermasalah, selain itu pembinaan dan penjadwalan kredit lebih ditingkatkan.

Makassar: Pusat Penerbitan Perguruan Tinggi FE Unismuh.

BI, 2011. Perbankan Indonesia. Edisi Revisi, Cetakan Keempat, Jakarta:

Rajagrafindo Persada.

Dendawijaya, 2005. Manajemen Perbankan. Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Bogor: Ghalia Indonesia

Firdaus, Rachmat dan Aryanti Maya. 2008. Manajemen Perkreditan Bank Umum.

Edisi Revisi, Bandung: Alfabeta.

Hasibun, 2005. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara Jumingan, 2005. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Kasmir, 2005. Pemasaran Bank. Jakarta: Prenada Media.

Kasmir, 2008. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Robbins dan Coulter, 2005. Manajemen. Edisi Kedelapan. Jakarta: Indeks.

Satriani, 2009. Perlakuan Akuntansi Untuk Kredit yang diberikan pada PT Bank Sul-Sel Cabang Utama Makassar. Makassar: Skripsi Universitas Muhammadiyah.

Sugloho, 2008. Statistik Non Parametris Untuk Penelitian. Bandung: CV Alpabeta.

P, Yohanes, 2011. Analisis Restrukturisasi pada PT. Bank Sul-Sel Makassar.

Makassar: STIE.

Kredit Investasi :

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah) Kredit Modal Kerja :

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah) Kredit Pemilikan Rumah :

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah) Kredit Komsumsi :

Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 41.030.000.000,- 98,02%

Dalam Perhatian Khusus 170.000.000,- 0,41%

Macet 660.000.000,- 1,58%

Total

41.860.000.000,-Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 2.160.000.000,- 68,18%

Dalam Perhatian Khusus 505.000.000,- 15,94%

Macet 503.000.000,- 15,88%

Total

3.168.000.000,-Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 591.000.000,- 97,52%

Macet 15.000.000,- 2,48%

Total

606.000.000,-Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 507.820.900.000,- 98,94%

Dalam Perhatian Khusus 1.119.000.000,- 0,22%

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah) Kredit Pemilikan Rumah + Komsumsi :

Sumber : . Bank Sulsel (data diolah)

Golongan Kredit Rumlah Rekening Plafond

KUK 2 15.200.000.000

Non KUK 5.907 543.472.500.000

Kolektibilitas kredit Jumlah kredit (Rp) Rasio (%)

Lancar 508.411.900.000 98,94%

Dalam Perhatian Khusus 1.119.000.000 0,22%

Kurang Lancar

-Diragukan 130.000.000 0,02%

Macet 4.207.600.000 0,82%

Total 513.868.500.000

Dokumen terkait