2.4 Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Berdasarkan RPJMD dan RTRW Kabupaten Tulungagung
2.4.3 Data Kondisi Lingkungan Strategis A. Topografi
Relief adalah beda tinggi dari suatu tempat ke tempat lain pada suatu daerah dan juga curam-landainya lereng-lereng yang ada. Termasuk dalam pengertian relief ini adalah bentuk-bentuk bukit, lembah, dataran, tebing, gunung dan sebagainya. Kabupaten Tulungagung memiliki kondisi topografi bervariasi, yang meliputi :
Kawasan seluas ±35.353,72 Ha atau 33,49% dari wilayah Tulungagung berketinggian 0 - 100 meter diatas permukaan air laut.
Kawasan seluas ±58.926,38 Ha atau 55,82% dari wilayah Tulungagung berketinggian 100 - 500 meter diatas permukaan air laut.
Kawasan seluas ±8.096,84 Ha atau 7.67% dari wilayah Tulungagung berketinggian 500 - 1.000 meter diatas permukaan air laut.
Kawasan seluas ±3.188,06 Ha atau 3,02% dari wilayah Tulungagung berketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan air laut.
Kabupaten Tulungagung memiliki wilayah dataran rendah, sedang dan tinggi dengan konfigurasi datar, perbukitan dan pegunungan. Dataran rendah merupakan daerah dengan dengan ketinggian di bawah 500 m dari permukaan laut,. Daerah ini hampir di semua wilayah Kabupaten Tulungagung, kecuali di Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Sendang yang dataran rendahnya hanya empat desa. Dataran sedang dengan ketinggian 500-700 m dari permukaan laut meliputi kecamatan Pagerwojo sebanyak enam desa dan Kecamatan Sendang sebanyak lima desa. Dataran tinggi dengan ketinggian di atas 700 m dari permukaan laut terdiri dari satu desa di Kecamatan Pagerwojo dan dua desa di Kecamatan Sendang. Secara umum luasan yang merupakan dataran rendah berada di tengah kabupaten, sedangkan dataran tinggi dengan kondisi tanah bergelombang ataupun bukit/ pegunungan berada di sebelah barat laut dan selatan.
Secara garis besar wilayah Kabupaten Tulungagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu:
Bagian utara (barat daya) merupakan daerah pegunungan yang relatif subur, yang merupakan bagian tenggara dari pegunungan Wilis, mencakup areal seluas + 25%.
Bagian selatan merupakan daerah pegunungan yang relatif tandus, namun kaya akan potensi hutan (walaupun akhir-akhir ini terjadi kerusakan besar-besaran) dan bahan tambang merupakan bagian dari pegunungan kapur selatan Jawa Timur, mencakup areal seluas + 40%
Bagian Tengah merupakan dataran rendah yang subur, yang dilalui oleh Sungai Brantas dan Kali Ngrowo (Parit Agung) beserta cabang-cabangnya, meliputi areal seluas + 35%
B. Geologi
Keadaan geologi pada Kabupaten Tulungagung adalah sebagai berikut: Tatanan stratigrafi
Tatanan stratigrafi Kabupaten Tulungagung, meliputi : a. Endapan Permukaan
- Aluvium (Qa)
Endapan ini merupakan hasil aktifitas endapan sungai, pantai dan rawa, yang disusun oleh kerakal, kerikil, pasir, lanau, lempung dan lumpur. Dijumpai di Kecamatan-Kecamatan Besuki, Bandung, Pakel, Campurdarat, Rejotangan, Ngunut, Sumbergempol, Boyolangu, Gondang, Kauman, Tulungagung, Kedungwaru, Ngantru, dan Karangrejo.
b. Batuan Sedimen
1. Satuan Breksi/Formasi Arjosari (Toma)
Berupa runtuhan endapan turbidit, yang ke arah mendatar berangsur berubah menjadi batuan gunung api. Umur satuan ini adalah Oligosen Akhir-Miosen Awal, tersingkap di Kecamatan-Kecamatan Gondang dan Kauman.
2. Satuan Batu gamping/ Formasi Campurdarat. Disusun oleh batu gamping hablur yang bersisipan dengan batu lempung berkarbon. Berumur akhir Miosen Awal-Awal Miosen Tengah. Tersebar di wilayah Kecamatan Bandung, Besuki, Campurdarat dan Tanggunggunung.
3. Satuan Batu lempung/ Formasi Nampol (Tmn).
Tersusun oleh perulangan batulempung, batupasir dan tuf yang bersisipan konglomerat dan breksi. Umur satuan ini adalah miosen awal. Secara setempat-setempat dijumpai di Kecamatan-Kecamatan Bandung, Besuki, Tanggunggunung, Kalidawir, dan Pucanglaban.
4. Satuan Batu gamping Terumbu/ Formasi Wonosari (Tmwl)
Gambar 2.6 Batu Gamping
Litologi tersusun oleh batu gamping terumbu, batu gamping berlapis, batu gamping berkepingan, batu gamping pasiran kasar, batu gamping tufan dan napal. Satuan ini berumur miosen tengah-miosen akhir dan dapat di jumpai di Kecamatan Pucanglaban dan Kalidawir.
c. Batuan Gunung Api
1. Satuan Gunung Api Tua/Formasi Mandalika (Tomn).
Batuan penyusun berupa breksi gunung api, lava, tuf, batupasir dan batulanau. Umur satuan ini adalah oligo miosen. Tersingkap di Kecamatan-Kecamatan Besuki, Bandung, Tanggunggunung, Campurdarat, Boyolangu, Kalidawir dan Pagerwojo.
2. Satuan Breksi Gunung Api/ Formasi Wuni (Tmw).
Tersusun oleh breksi gunung api, tuf, batupasir, dan batulanau yang umumnya tufan, bersisipan batugamping. Berumur miosen. Tersingkap setempat-setempat di Kecamatan Pucanglaban.
3. Satuan Gunung Api Muda/Batuan Gunung api.
Litologi penyusun batuan berupa lava, breksi piroklastik, lapili, tuf, endapan lahar dan lumpur gunung api. Satuan ini berumur plistosen. d. Batuan Terobosan
- Batuan Andesit (An)
Litologi berwarna kelabu kehitaman, tekstur porfiritik, berkomposisi andesin, kuarsa, ortoklas, biotit, mineral bijih, dan tertanam dalam masa dasar mikrolit dan kaca gunung api, satuan ini dijumpai di Kecamatan Besuki pada Gunung Tanggul yang nampak menjulang tinggi.
Struktur dan Tektonika
a. Secara struktur Kabupaten Tulungagung dijumpai adanya struktur rekahan (kekar), patahan (sesar) dan lipatan (sinklin dan antiklin).
Struktur sesar yang terjadi berupa :
Sesar mendatar : berarah barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya, ditafsirkan sebagai sesar geser gerus.
Sesar turun : kelurusan berarah barat-timur atau hampir utara-selatan. Pola-pola struktur dengan arah gaya utama adalah nisbi utara-selatan.
b. Secara Tektonika, arah penekanan pola-pola struktural tersebut, sebagai hasil aktivitas kegiatan penunjaman kerak Samudera Hindia-Australia yang aktif menghujam ke arah utara terhadap kerak Benua (termasuk Pulau Jawa). Beberapa jenis tanah yang dijumpai di wilayah Kabupaten Tulungagung yakni :
Tanah alluvial coklat kekelabuan, terdapat di Kecamatan Bandung dan Kecamatan Besuki.
Tanah alluvial coklat tua kekelabuan, terdapat di Kecamatan-Kecamatan Besuki, Pakel, Campurdarat, Tulungagung, Boyolangu, Kalidawir dan Pucanglaban.
Tanah assosiasi alluvial kelabu dan alluvial coklat kekelabuan, terdapat di Kecamatan-Kecamatan Besuki, Bandung, Pakel, Campurdarat, Gondang, Boyolangu, Tulungagung, Kedungwaru, Ngantru, Sumbergempol, Kalidawir dan Ngunut.
Tanah litosol, terdapat di Kecamatan Bandung, Besuki, Tanggunggunung, Kalidawir dan Boyolangu.
Tanah litosol mediteran dan resina, terdapat di Kecamatan Besuki, Tanggunggunung, Sumbergempol, Kalidawir, Pucanglaban dan Rejotangan.
Tanah regosol coklat kekelabuan, terdapat di Kecamatan Ngunut, Pucanglaban dan Rejotangan.
Tanah mediteran coklat kemerahan, terdapat di Kecamatan Gondang, Kauman, Karangrejo, Pagerwojo dan Kecamatan Sendang.
Litosol coklat kemerahan, terdapat di Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Sendang.
Tanah andosol, terdapat di Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo.
Dilihat dari jenis tanah yang ada serta hubungannya dengan penggunaan tanah, perlu diperhatikan sifat kimia dan fisika tanah setempat yang nantinya dapat dipergunakan untuk meningkatkan produktivitas tanah seoptimal mungkin. Tanah litosol dengan batuan induk kapur yang mendominasi wilayah bagian selatan Kabupaten Tulungagung meliputi Kecamatan Tanggunggunung, Kalidawir dan
Pucanglaban. Tanah ini mempunyai kedalaman relatif dangkal karena topografi yang bergelombang serta kemiringan tanah lebih dari 40%, maka pada daerah ini diharapkan dilakukan penanaman dengan tanaman keras yang mempunyai nilai ekonomi tinggi sekaligus berfungsi sebagai tanaman pelindung dan zona perakaran untuk tata air. Selain itu, tanah ini miskin kandungan unsur hara serta memiliki kepekaan yang tinggi terhadap erosi. Untuk itu perlu ditingkatkan pengembangan hutan jati dan tanaman palawija di daerah ini.
C. Klimatologi
Secara garis besar, Kabupaten Tulungagung mempunyai iklim tropis yang terbagi ke dalam dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Musim penghujan dipengaruhi oleh angin barat (muson barat) yang jatuh pada Bulan Oktober - Maret, dan musim kemarau (muson timur) yang jatuh pada bulan-bulan April - September. Hal ini diperoleh berdasarkan data seri waktu yang dikumpulkan dari stasiun yang ada di Kabupaten Tulungagung. Berikut ini adalah Tabel dan grafik yang menggambarkan hari hujan menurut bulan di Kabupaten Tulungagung tahun 2011-2015:
Tabel 2.12 Hari Hujan menurut Kecamatan dan Bulan 2015
No. Kecamatan Jan Feb Mar Apr mei Juni Juli Agt Sep Okt Nop Des
Jumlah Hari Hujan 1. Besuki 8 11 23 22 13 4 2 2 1 - 2 17 105 2. Bandung 12 13 18 20 10 - 1 - - - 2 13 89 3. Pakel 9 14 19 14 5 2 1 - - - 4 11 79 4. Campurdarat 9 14 19 14 5 2 1 - - - 4 11 79 5. Tanggunggunung 13 16 19 13 9 2 1 - - - 6 12 91 6. Kalidawir 11 16 17 16 4 - - - - - 1 16 81 7. Pucanglaban 11 16 17 16 4 - - - - - 1 16 81 8. Rejotangan 13 14 20 20 5 2 - - - - 5 15 94 9. Ngunut 6 10 12 12 3 1 - - - - 4 13 61 10. Sumbergempol 15 14 21 24 10 2 - - - - 4 20 110 11. Boyolangu 8 12 16 18 4 1 - - - - 2 12 73 12. Tulungagung 15 14 21 24 10 2 - - - - 4 20 110
No. Kecamatan Jan Feb Mar Apr mei Juni Juli Agt Sep Okt Nop Des Jumlah Hari Hujan 13. Kedungwaru 15 14 21 24 10 2 - - - - 4 20 110 14. Ngantru 16 14 25 19 10 4 - - - - 7 17 112 15. Karangrejo 13 15 18 17 10 - - - - - 3 13 89 16. Kauman 11 12 18 16 6 2 - - - - 6 19 90 17. Gondang 11 13 21 18 8 4 - - - - 9 20 104 18. Pagerwojo 8 8 11 8 3 - - - - - 2 11 51 19. Sendang 14 18 22 21 11 - - - - - 5 21 112 Rata-rata: 2015 11 14 19 18 7 2 0 0 0 - 4 16 91 2014 20 17 9 9 4 3 6 2 0 0 12 22 105 2013 25 18 13 12 12 17 9 1 2 2 13 21 144 2012 23 15 18 10 8 1 3 1 1 6 13 21 118 2011 20 15 15 10 13 3 1 - - 2 16 16 110
Sumber: BPS Kabupaten Tulungagung
Gambar 2.7 Hari Hujan menurut Bulan 2011-2015
Dari grafik hari hujan di atas, dapat diketahui bahwa hari hujan tahun 2015 di Kabupaten Tulungagung terbesar berada di Bulan Maret dan yang terkecil berada di Bulan Oktober. Sedangkan curah hujan terbesar ada di Bulan April dan yang terendah ada di Bulan Oktober. Rata-rata curah hujan di Kabupaten Tulungagung selama Tahun 2015 adalah 120 mm, ini berarti lebih rendah di banding tahun 2014 yang sebesar 126 mm. Curah hujan dan hari hujan tidak merata antar waktu dan antar daerah, sehingga mengakibatkan suatu keadaan yang saling bertentangan, yaitu misalnya terjadi banjir di suatu daerah sementara di daerah lain terjadi kekeringan pada saat yang sama. Oleh karena itu harus selalu diwaspadai bulan-bulan yang hari hujannya banyak dan sedikit, sehingga dapat diminimalkan terjadinya suatu bencana.
D. Hidrologi
Hampir semua kecamatan di Kabupaten Tulungagung dialiri sungai, kecuali Kecamatan Tanggunggunung dan Pucanglaban. Jumlah sungai yang ada di Kabupaten Tulungagung kurang lebih ada 27 sungai, yang mana ada beberapa sungai yang melewati lebih dari 1 kecamatan. Misalnya Sungai Parit Agung (melintasi selatan Kabupaten Tulungagung), Sungai Song (melintas barat Kabupaten Tulungagung) dan Sungai Brantas (melintasi utara Kabupaten Tulungagung). Sedangkan bila dilihat dari jarak rata-rata dari kecamatan ke ibukota kabupaten yang memiliki jarak terjauh adalah Kecamatan Pucanglaban sejauh 36 Km.
Di wilayah Kabupaten Tulungagung terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran sepanjang tahun. Sungai-sungai tersebut memiliki daerah pengaliran yang cukup luas dan membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS). Kabupaten Tulungagung termasuk dalam DAS Brantas yang beberapa sungai - sungai kecilnya bermuara di Kali Brantas. Selain dialiri oleh sungai - sungai tersebut diatas keadaan hidrologi Kabupaten Tulungagung juga ditentukan oleh adanya waduk, dam, mata air, pompa air dan sumur bor.
a. Sungai
Air permukaan merupakan air tawar yang terdapat pada sungai, saluran, danau/ telaga, rawa, empang dan sebagainya. Secara garis besar DAS di Kabupaten Tulungagung yaitu :
DAS Brantas
DAS Brantas di Kabupaten Tulungagung dapat dibedakan :
Sub DAS Ngrowo – Ngasinan
Sub DAS ini menempati bagian tengah Kabupaten Tulungagung dengan pola aliran sungai yaitu Sungai Ngrowo / Parit Agung / Parit Raya sebagai sungai orde I beserta anak percabangan sungainya baik sebagai percabangan sungai Orde II, Orde III dan Orde IV. Anak-anak percabangan sungai tersebut antara lain: Sungai Kalidawir, Sungai Ngasinan, Sungai Song, Sungai Klantur, Sungai Babaan, Sungai Wudu, Sungai Gondang, Sungai Bajalpicisan, Sungai Keboireng dan lain sebagainya.
Sub DAS Lahar
Sub DAS ini menempati bagian Utara Kabupaten Tulungagung dengan pola aliran sungai utama yaitu Sungai Brantas sebagai Sungai Orde I beserta anak-anak percabangannya sebagai Orde II, Orde III dan seterusnya. Anak-anak percabangan sungai yang dimaksud antara lain: Sungai Catut, Sungai Boto dan lain sebagainya.
DAS Dlodo-Gedangan
Sub DAS ini di Kabupaten Tulungagung menempati bagian Selatan, secara umum bentuk morfologinya miring. Sistem Selatan dengan pola pengaliran maupun pengeringan sungainya mengalir dan bermuara di Samudera Indonesia / Hindia. Sungai-sungai yang dimaksud antara lain: Sungai Dlodo, Sungai Kerecek, Sungai Ngelo, Sungai Urang, Sungai Molang, dan lain sebagainya.
Berdasarkan batas sistem penyebarannya berbeda antara batas administrasi Kabupaten Tulungagung dengan batas penyebaran daerah
tangkapan (Catchment area) air hujannya pada sistem Sub DAS yang ada. Khususnya pada 2 Sub DAS yaitu pada sistem Sub DAS Ngrowo – Ngasinan ekosistemnya yang mempengaruhi mencakup 3 wilayah Kabupaten yaitu Tulungagung, Trenggalek dan Ponorogo. Sedang pada Sistem Sub DAS lahar pengaruh ekosistemnya mencakup 3 wilayah Kabupaten yaitu Tulungagung, Blitar dan Kediri.
Berdasarkan kenampakan karakteristik fisiknya pada Sistem DAS – Sub DAS di Kabupaten Tulungagung, secara umum dapat dibedakan menjadi daerah bagian hulu dan daerah bagian hilir. Daerah bagian hulu di Kabupaten Tulungagung menempati kawasan perbukitan/ pegunungan dan lereng Tenggara Gunung Wilis. Kawasan ini mempunyai peranan embung/bendung, waduk, tandon air dan lain sebagainya. Sedangkan pada bagian daerah hilir, secara umum menempati daerah dataran rendah/daerah muara sungai yang merupakan daerah pemanfaatan dan penataan air oleh aktivitas kegiatan manusia.
Potensi air di sini sangat besar peranannya dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan/keperluan irigasi, penyediaan air baku untuk minum, industri, perikanan dan lain sebagainya. Disamping pemanfaatan tersebut dalam rangka penataan air banyak dilaksanakan program/kegiatan pembangunan seperti pengembangan jaringan irigasi, pekerjaan normalisasi saluran, pembuatan tanggul sungai, pembuatan pelengsengan dan lain sebagainya.
Tabel 2.13 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Tulungagung No. Kecamatan Nama Sungai Panjang
(Km)
Debit (m3/dtk)
1. Besuki Kebo Ireng 10,00 7,23
Karangtuwo (Batas) -
-Parit Raya 3,00 227,87
Parit Agung 1,80 215,1
2. Bandung Parit Agung 3,30 215,1
No. Kecamatan Nama Sungai Panjang (Km)
Debit (m3/dtk)
Parit Raya 7,00 1,81
3. Pakel Parit Agung 4,40 227,87
Ngasinan Lama 5,50 215,1
4. Campurdarat Tlogo Buret 5,20 1,68
Parit Agung 7,50 2,92
5. Tanggunggunung - - 215,1
6. Kalidawir Kalidawir 20,50
-7. Pucanglaban - - 48,7
8. Rejotangan Rowo Remang 15,00
-Kali Brantas 8,50 4,03
Kali Kandung 6,15 328,49
9. Ngunut Kali Brantas 7,15 7,84
10. Sumbergempol Kali Brantas 2,75 328,49
Kalidawir 7,10 328,49
11. Boyolangu Kalidawir 9,40 48,7
Parit Agung 6,80 48.7
12. Tulungagung Parit Agung 7,00 215,1
Kali Jenes 3,50 215,1
Song 1,50 5
13. Kedungwaru Kali Brantas (batas
wilayah) - 11,33
Ngrowo 6,00
-Parit Agung 2,00 177,2
Wudu 2,50
-Kali Jenes 2,50 20,4
14. Ngantru Kali Brantas 18,85 5
Boto 33,00 328,49
15. Karangrejo Kali Brantas (batas) - 24,95
Catut 6,00
-Klantur 10,50 10,16
Babaan 5,60 31,37
Bajal Picisan 7,25 44,88
No. Kecamatan Nama Sungai Panjang (Km) Debit (m3/dtk) 16. Kauman Song 10,70 -Wudu 10,90 11,33
17. Gondang Ngasinan Kanal 4,25 20,4
Blendis 14,00 1,68 Sengon 12,55 0,7 Gondang 11,40 10,3 18. Pagerwojo Song 30,30 18,12 Gondang/ Bodeng 18,60 11,33 19. Sendang Babaan 17,40 18,12 Bajal Picisan 13,00 44,88 Klantur 16,00 28,91 Catut 8,00 31,37
Sumber: BPS Kabupaten Tulungagung