BAB III STUDI KASUS
DATA OBJEKTIF (O)
- Refleks isap pada bayi baik
- Bayi menyusui dengan baik pada ibunya - Tali pusat masih basah
- Tidak ada tanda – tanda terjadinya infeksi - BBS : 2850 gram - TTV : HR : 140 X /I S : 36,5 ⁰ C R : 40 X/i ASSESMENT (A) - Masalah Aktual = BCB/SMK/SPT
- Masalah Potensial = Potensial terjadinya infeksi tali pusat PLANNING (P)
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan Hasil : Ibu mengerti dengan anjuran yang diberikan
2. Mandikan dan merawat tali pusat
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya
3. Menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke rumah sakit / puskesmas / posyandu terdekat untuk di imunisasi dasar.
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia membawa bayinya untuk imunisasi 4. Menganjurkan pada ibu untuk membawa bayinya ke rumah sakit /
puskesmas / posyandu jika terjadi tanda – tanda bahaya pada bayi seperti suhu badan panas, menangis terus menerus dan kejang.
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia membawa bayinya ke pelayanan kesehatan jika terjadi salah satu tanda bahaya pada bayi
5. Anjurkan pada ibu untuk mengomsumsi makanan yang bergizi dan menyusui bayinya tanpa jadwal untuk merangsang pengeluaran ASI. Hasil : Ibu mengerti dan bersedia mengkonsumsi makanan bergizi dan
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas kesenjangan antara teori dan hasil tinjauan kasus bayi Ny “W” dengan Bayi Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan di RSUD Kota Makassar pada tanggal 17–18 Februari 2015. Berdasarkan proses pikir manajemen kebidanan dapat dikembangkan sesenjangan tersebut sesuai langkah proses manajemen sebagai berikut.
A. Langkah I. Identifikasi Data Dasar
Kami tidak menemukan hambatan yang berat, karena pada saat pengumpulan data baik klien maupun keluarga serta bidan yang berada dalam ruangan dapat memberi informasi secara terbuka sehingga memudahkan untuk memperoleh data yang diinginkan sesuai dengan masalah yang diangkat. Data yang diambil dilakukan secara terfokus yang meliputi berat badan lahir 2800 gram dengan umur kehamilan cukup bulan 39 minggu 4 hari, panjang badan 49 cm, kulit kemerah – merahan, tonus otot baik, aktif dan kuat.
Sedangkan pada kasus bayi Ny “W” didapatkan tanda – tanda sebagai berikut : berat badan lahir 2800 gram, panjang 49 cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 30 cm, lingkar perut 31 cm, frekuensi jantung 130 x/menit, pernafasan 40 x/menit, dan suhu badan 36,5°C, refleks menghisap baik, kulit kemerah – merahan, tonus otot baik, pergerakan refleks mengenggam baik.
B. Langkah II. Identifikasi Diagnosa / Masalah Aktual
Berdasarkan data yang diperoleh, diagnosa masalah aktual yang ada pada bayi Ny “W” adalah Bayi Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan. Yang dimana sesuai dengan konsep teori bahwa bayi cukup bulan (BCB) adalah bayi yang lahir 37 – 42 minggu maka hal ini sesuai dengan data yang ada yaitu dari tanggal HPHT 15 Mei 2014 sampai bayi dilahirkan yaitu pada tanggal 16 Februari 2015 gestasinya adalah 39 Minggu 4 hari
Menurut teori bayi yang lahir diatas usia kehamilan diatas 37 minggu dengan berat badan diatas 2500 gram adalah bayi lahir normal, dimana berat badan ini sesuai berat badan seharusnya untuk usia kehamilan (2500 – 4000 gram) yang disebut juga sesuai masa kehamilan (SMK). Hal ini memang dialami oleh bayi yang dikaji sehingga terdapat kesesuaian antara teori dengan fakta yang ada.
C. Langkah III. Identifikasi Diagnosa /Masalah Potensial
Adapun masalah potensial yang kami dapat identifikasikan pada kasus ini adalah:
Potensi terjadinya infeksi tali pusat, berdasarkan teori bahwa bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, ditunjang dengan adanya luka pemotongan tali pusat yang masih basah yang merupakan media tempat masuk dan berkembangbiaknya mikroorganisme. Potensi terjadinya infeksi tali pusat mengacu juga pada teori dan data yang ada dalam menegakan masalah yang mungkin muncul, sehingga pada tahap ini tidak ditemukan adanya kesengajaan antara masalah potensial yang diangkat.
D. Langkah IV. Melaksanakan Tindakan Segera / Kolaborasi
Menurut teori dikatakan pada hari kedua perawatan bayi baru lahir normal tidak dilaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan dapat tetapi tindakan segera dapat dilakukan berdasarkan perkembangn kondisi bayi, namun pada pelaksanaan perawatan tetap berjalan sesuai rencana tindakan dan tidak dilakukan tindakan segera / konsultasi maupun kaloborasi karena kondisi bayi dalam keadaan baik dapat dilihat adanya kesesuaian antara pelaksana tindakan dengan yang seharusnya menurut teori yang ada.
E. Langkah V . Rencana Asuhan Kebidanan / Intervensi
Kemampuan menelan dan menhisap bayi sudah mulai membaik setelah hari kedua dan akan diawasi lebih lanjut kemapuannya ketika menyusu pada ibunya, beritahu ibu manfaat ASI, anjurkan kepada ibu untuk banyak mengkomsumsi sayur-sayuran, buah–buahan dan kacang-kacangan, dimana semua ini untuk memperlancar produksi ASI dan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi.
Untuk mencegah terjadinya infeksi tali pusat dilakukan tindakan sebagai berikut perawatan tali pusat dengan kasa alcohol dan dibungkus dengan kasa steril, observasi tanda- tanda vital (setiap 6 jam) yang meliputi denyut jantung, suhu badan dan pernapasan.
Dari penatalaksanan pada bayi baru lahir menurut teori yang telah dikemukakan tadi pada kenyataanya memang direncanakan, sehingga terdapat kesesuaian antara perencanaan tindakan dengan yang seharusnya menurut teori.
F. Langkah VI. Implementasi / Pelaksanaan Tindakan
Berdasarkan teori bahwa penanganan bayi baru lahir normal tetap disertai tindakan, dimana perencanaan dan tindakan yang seharusnya dilakukan adalah pengawasan keadaan umum, pengawasan nutrisi dengan penimbangan dan memberitahukan ibu manfaat ASI dan memberikan saran – saran kepada ibu seperti rajin menyusui bayinya, sehingga kebutuhan bayi dapat terpenuhi, semua penanganan menurut teori ini ternyata dilaksankan pada penanganan kasus sehingga ada kesesuaian antara fakta antara fakta yang seharusnya.
Pencegahan infeksi juga perlu dilakukan menurut teori Karena bayi sangat rentang terhadap infeksi yaitu merawat tali pusat dengan membersihkan memakai kasa alcohol dan dengan kasa steril, mengawasi tanda –tanda infeksi dan tanda- tanda vital dengan frekuensi tertentu.Seluruh penanganan tersebut juga dilakukan pada kasus ini sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara fakta yang didapatkan dengan teori yang dikemukakan.
Selain itu yang menunjukan adanya kesesuaian dengan praktik yang dilakukan, yaitu melalui usaha pencegahan hipotermi, yaitu dengan mengontrol suhu tubuh dan mengenakan pakaian serta mengganti pakaian bayi bila basah.
G. Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan
Berdasarkan teori bahwa setelah dilakukan pelaksanaan tindakan maka seharusnya bayi baru lahir normal pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat berhasil ditandai dengan berat badan yang bertambah, bayi kuat menghisap
dan menelan, refleks menggenggam dan refleks moro menjadi baik dan hal ini dapat tercapai setelah penanganan selama 2 hari pada bayi sehingga terdapat kesesuaian antara teori dengan kenyataan yang ada.
Sedangkan kemungkinan masalah potensial infeksi tali pusat yang menurut teori setelah dilakukan penanganan dapat dicegah dan tidak terjadi jika ditandai dengan : tidak ada tanda- tanda infeksi seperti merah, bengkak, panas, dan bernanah. Tanda- Tanda Vital dalam batas normal dimana ada fakta yang didapatkan kesesuaian dengan teori sebab kami dapat mencegah terjadinya infeksi pada bayi setelah penanganan sampai hari kedua dengan tidak ditemukannya tanda- tanda infeksi dan tanda- tanda vital bayi juga dalam batas normal yaitu denyut jantung 132 x/menit, suhu tubuh 36,60C, pernapasan 45x/menit.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan pengalaman langsung dari lahan praktik tentang bayi lahir normal dengan bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan dapat ditarik kesimpulan bahwa : Bayi lahir normal dengan cukup bulan yaitu bayi lahir dari umur kehamilan 37 – 42 minggu, dengan berat badan lahir 2500 – 4000 gram, serta pertumbuhan organ – organ tubuh bayi sudah sempurna baik dari segi anatomi maupun fisiologi. Sehingga dari hasil pengumpulan data bayi Ny “W” dapat dibuatkan diagnosis Bayi Cukup Bulan (BCB), Sesuai Masa Kehamilan (SMK).
B. Saran
1. Sebagai seorang bidan hendaknya melakukan dan memberikan penjelasan kepada ibu tentang penatalaksanaan awal bayi baru lahir yang meliputi : pencegahan infeksi, pencegahan kehilangan panas, perawatan tali pusat dan pemberian ASI.
2. Untuk institusi pendidik agar lebih meningkatkan cara penerapan manajemen kebidanan dalam membimbing mahasiswa mengingat proses tersebut sangat bermanfaat dalam membina tenaga bidan dan menciptakan tenaga sumber daya manusia ( SDM ) yang berpotensi dan profesional.