• Tidak ada hasil yang ditemukan

askeb seminar fisiologi bayi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "askeb seminar fisiologi bayi"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Peningkatan dan perbaikan upaya kelangsungan, perkembangan, dan peningkatan kualitas hidup anak merupakan upaya penting untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Upaya kelangsungan hidup, perkembangan dan peningkatan kualitas anak berperan penting sejak masa dini kehidupan, yaitu masa dalam kandungan, bayi dan anak balita. (Anik Maryunani, 2010)

Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Angka kematian bayi merupakan indikator yang terkait langsung dengan target kelangsungan hidup bayi dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan termasuk pemeliharaan kesehatannya. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pencegahan dan pemberantasan berbagai penyakit penyebab kematian akan tercermin secara jelas dengan menurunnya tingkat AKB.. Dengan demikian angka kematian bayi merupakan tolak ukur yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan. (Dinkes Kota Makassar, 2013)

(2)

2008-2012. Angka ini masih jauh dari target MDG’S (23/1.000KH) kalau dilihat dari potensi untuk menurunkan AKB masih on track walaupun diperlukan sumber daya manusia yang kompeten. (Dinkes Kota Makassar, 2013)

Angka Kematian Bayi di Kota Makassar mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 sebesar 6,71 per 1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 165 kematian bayi dari 24.576 jumlah kelahiran hidup (AKB = 6,71 /1000 KH). Tahun 2012 sebesar 6,78 per 1.000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 163 kematian bayi dari 24.034 jumlah kelahiran hidup (AKB = 6,78/1000 KH). Pada tahun 2011 terdapat 179 kasus kematian bayi dari jumlah kelahiran hidup 26.129, sehingga diperoleh AKB sebesar 6,9 per 1.000 kelahiran hidup (AKB=6,9 / 1000 KH). (Dinkes Kota Makassar, 2013)

Angka kematian bayi (AKB) di RSUD kota Makassar pada tahun 2010 sejumlah 10 kematian bayi, sedangkan tahun 2011 angka kematian bayi menurun menjadi 11 kematian bayi. Pada tahun 2012 terdapat 15 kasus kematian bayi, sedangkan tahun 2013 angka kamatian bayi menurun dengan jumlah 9 kasus kematian bayi. Pada tahun 2014 terdapat 11 kasus kematian bayi. (RSUD Kota Makassar)

(3)

tingkat AKB. Penurunan angka kematian bayi (AKB) di Kota Makassar terjadi karena dukungan linta program seperti program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, program perbaikan gizi masyarakat dan pelayanan imunisasi yang semakin baik serta dukungan lintas sektor terkait. Adapun beberapa kegiatan yang dilaksanakan terkait penurunan angka kematian bayi (AKB) yaitu pengembangan media promosi dan informasi kesehatan, pembinaan posyandu, pembinaan kelurahan siaga (MODS) serta pemberian makanan tambahan penanggulangan ibu hamil kurang energi kronik (Bumil KEK). (Dinkes Kota Makassar, 2013)

B. RUANG LINGKUP

(4)

C. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum

Memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi Ny “W” dengan Bayi cukup bulan, Sesuai masa kehamilan di RSUD Kota Makassar tanggal 16 Februari 2015.

2. Tujuan Khusus

a. Langkah I. Identifikasi Data Dasar

Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa pada data pada bayi Ny “W” dengan cukup bulan, PBK, spontan.

b. Langkah II : Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual

Menginterpretasikan data dasar secara spesifik kedalam suatu rumusan diagnosa dan masalah. Kata diagnosa dan masalah digunakan kedua – duanya dan mempunyai pengertian yang berbeda. Diagnosa lebih sering di identifikasi oleh bidan dengan difokuskan pada apa yang dialami seseorang secara individual. Sedangkan masalah lebih berhubungan dengan bagaimana seseorang menguraikan keadaan yang dia rasakan.

c. Langkah III : Identifikasi Diagnosa/masalah Potensial

(5)

d. Langkah IV : Tindakan Segera dan Kolaborasi

Menentukan intervensi harus langsung segera dilakukan oleh bidan maupun dokter kebidanan, hal ini terjadi pada penderita dengan kegawat daruratan. Kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang lebih ahli sesuai dengan keadaan klien. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya, kolaborasi maupun konsultasi untuk menyelamatkan bayi.

e. Langkah V : Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Mengembangkan rencana asuhan komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya. Rencana tindakan harus didasari rasional dan vertical. Untuk efektifitasnya tindakan ini harus dengan persetujuan klien dengan bidan atau kesepakatan antar keduanya. Oleh karena itu rencana tindakan harus didiskusikan dengan klien.

f. Langkah VI : Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Langkah implementasi untuk pelaksanaan didalam manajemen kebidanan dilakukan oleh bidan ataupun bekerjasama dengan tenaga kesehatan yang lain berdasarkan rencana yang telah ditetapkan.

(6)

Langkah akhir manajemen asuhan kebidanan dilakukan evaluasi, namun sebenarnya evaluasi ini dilakukan pula sesuai langkah manajemen tahap akhir. Bidan harus mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien. Kami tidak menemukan hambatan yang berat, karena pada saat pengumpulan data baik klien maupun keluarga serta bidan yang berada dalam ruangan dapat memberi informasi secara terbuka sehingga memudahkan untuk memperoleh data yang diinginkan sesuai dengan masalah yang diangkat. Data yang diambil dilakukan secara terfokus yang meliputi berat badan lahir 2900 gram dengan umur kehamilan cukup bulan 41 minggu, panjang badan 50 cm, kulit kemerah – merahan, tonus otot baik, aktif dan kuat.

D. MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat penulisan di atas adalah: 1. Manfaat ilmiah

Merupakan kontribusi pemikiran penulis sebagai konsep penerapan ilmu pengetahuan yang telah di peroleh khususnya tentang bayi baru lahir. 2. Manfaat praktis

Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta tambahan pengalaman yang sangat berharga dalam penerapan asuhan kebidanan dengan bayi baru lahir normal.

(7)

Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dalam penerapan proses asuhan kebidana pada kasus bayi baru lahir

4. Manfaat mahasiswi

Menambah pengetahuan serta memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kebutuhan perawatan tali pusat.

E. METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan ini meliputi : 1. Studi kepustakaan

Penulis membaca dan mempelajari buku –buku yang berkaitan dengan masalah yang diangkat yang digunakan sebagai dasar teori.

2. Studi kasus

Melaksanakan studi kasus ini pada bayi Ny ”W” dengan menggunakan pendekatan dan memecahkan masalah melalui asuhan kebidanan yang meliputi: pengkajian, merumuskan diagnose/masalah aktual, dan masalah potensial, perencanaan tindakan, implementasi evaluasi, dan dokumentasi. Dalam memperoleh data yang akurat penulis menggunakan teknik :

(8)

Penulis melakukan tanya jawab dengan orang tua dan keluarga guna memperoleh data yang diperlukan untuk memberikan asuhan kebidanan.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis untuk menjamin diperoleh data yang lengkap dengan cara inspeksi, palpasi dan auskultasi terhadap karakteristik luar, meliputi kulit, telinga, genetalia postur dan tonus otot, ukur tinggi dan, dan berat badan, apgar score, dan anus.

F. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I :PENDAHULUAN

A. Latar belakang B. Ruang lingkup C. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum 2. Tujuan khusus D. Manfaat penulisan E. Metode penulisan F. Sistematika penulisan

(9)

Tinjauan umum bayi baru lahir normal A. Pengertian bayi baru lahir normal B. Gambaran umum bayi baru lahir normal C. Penanganan bayi baru lahir

D. Adaptasi bayi baru lahir

E. Proses manajemen asuhan kebidanan BAB III: STUDI KASUS

Langkah 1 : Pengkajian dan analisa data dasar

Langkah 2 : Merumuskan diagnosa masalah /masalah actual Langkah 3 : Merumuskan diagnosa masalah /masalah potensial Langkah 4 : Tindakan segera dan kolaborasi

Langkah 5 : Rencana tindakan asuhan kebidanan Langkah 6 : Pelaksaanan tindakan asuhan kebidanan Langkah 7 : Evaluasi hasil asuhan kebidanan

Pendokumentasian hasil asuhan kebidanan BAB IV : PEMBAHASAN

Pada bab ini kami akan membahas tentang kesenjangan antara teori dan pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan yang di bahas secara sistematis mulai dari pengkajian, pelaksanaan dan evaluasi.

(10)

Merupakan bab terakhir yang memuat kesimpulan dari hasil pelaksaan studi yang dilakukan dan memuat saran-saran untuk kualitas Asuhan Kebidanan.

(11)

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Bayi Baru Lahir Normal

1. Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 gram sampai 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat. (Kosim, 2007)

2. Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Arief & Kristiyanasari, 2009)

B. Gambaran Umum Bayi Baru Lahir Normal

Gambaran umum bayi baru lahir normalantara lain sebagai berikut : 1. Berat badan 2500-4000 gram

2. Panjang badan 48-52 cm 3. Lingkar dada 30-38 cm 4. Lingkar kepala 33-35 cm

5. Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 160x/menit kemudian menurun sampai 120-140 x/menit

6. Pernafasan pada menit-menit pertama cepat kira-kira 80x/menit kemudian turun sampai 40 x/menit.

7. Kulit kemerah–merahan, dari wajah, bibir, hingga tangan dan bagian kaki. 8. Lengan dan tungkai bergerak aktif, tangan mengepal dan menekuk disiku,

tungkai setengah tekuk sisendi paha dan lutut.

(12)

10. Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.

11. Refleks moro sudah baik, bayi dikagetkan akan memperlihatkan gerakan tangan seperti memeluk.

12. Graff reflex sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan maka akan menggenggam.

13. Eliminasi baik, urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hijau, sedangkan urin jernih atau kekuningan. (Varney 2002)

C. Penanganan Bayi Baru Lahir

Penanganan segera bayi baru lahir dimulai saat bayi keluar dari jalan lahir dengan tujuan mencegah dan mengurangi morbilitas dan mortalitas bayi baru lahir serta kelainan neurologic yang mungkin dapat timbul di kemudian hari.(Depkes, RI. 2012)

Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir yaitu : 1. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkanoleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama prosespersalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir.Sebelum menangani bayi baru lahir penolong harus melakukanupaya pencegahan infeksi berikut: a. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.

(13)

c. Memastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah di desinfeksi tingkat tinggi atau steril.

d. Gunakan bola karet yang bersih jika ingin melakukan penghisapan lendir dengan alat tersebut.

e. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan benda lain yang akan bersentuhan dangan bayi juga bersih.

2. Penilaian Awal

Biasanya untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistem APGAR. Nilai APGAR akan membantu dalam, menentukan tingkat keseriusan dari depresi bayi baru lahir yang terjadi serta langkah segera yang akan diambil. Hal yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung, reaksi terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernafasan bayi, masing-masing diberi tanda 0, 1 atau 2 sesuai dengan kondisi bayi. Klasifikasi klinik :

a. Nilai 7–10: bayi normal

b. Nilai 4-6 : bayi dengan asfiksia ringan dan sedang

c. Nilai 1-3 : bayi dengan asfiksia berat (Depkes, RI. 2012) Tabel 2.1

(14)

Tanda-tanda 0 1 2 Apperience (warna kulit) Pucat atau biru Tubuh merah, tangan pucat Seluruh tubuh kemerahan Pulse (Frekuensi jantung) Tidak ada detak jantung <100x/menit Lemah dan lamban >100x/menit Jantung kuat Grimace (reaksi terhadapRangsang an) Tidak ada respon Sedikit gerakan mimik Batuk atau bersin Activity (tonus otot) Tidak ada gerakan Sedikit gerakan ekstremitas Seluruh ekstremitas bergerak aktif Respiration

(pernapasan) Tidak ada

Pernafasan perlahan, lemah/ tidak teratur Menangis kuat (Mochtar, Rustam. 1998)

3. Membersihkan Jalan Napas

Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan napas dengan cara sebagai berikut :

a. Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat. b. Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi

lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus lebih sedikit tengadah ke belakang.

c. Bersihkan hidung,rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril.

(15)

menangis. Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak. Sangat penting membersihkan jalan napas, sehingga upaya bayi bernapas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya lendir ke paru-paru).

e. Alat penghisap lendir mulut (DeLee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus telah siap di tempat. f. Segera lakukan usaha menghisap mulut atau hidung.

g. Petugas harus memantau dan mencatat usaha napas yang pertama. h. Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung ataumulut

harus diperhatikan. Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat.

i. Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan resusitasi setelah satu menit bayi tak bernapas.

4. Memotong dan Merawat Tali Pusat

Setelah bayi lahir, nilai bayi dengan cepat (30 detik) dan sebelum memotong tali pusat pastikan bahwa tali pusat telah diklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.

Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan dibuat ikatan baru serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari atau setiap kali basah atau kotor.

(16)

b. Gunting steril juga siap.

c. Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat. d. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi

e. Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Seluruh pemantauan Suhu bayi harus dicatat.

f. Memberi Neo K 0,5mg

Kejadian perdarahan Karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 0.25-0.5%. Untuk mencegah terjadinya perdarahan tersebut, diberi vitamin K dengan dosis 0.5mg secara IM.

g. Pemberian ASI

(17)

menjadi 300-500ml pada tahun kedua usia anak. Pastikan bahwa pemberian ASI mulai dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir.

D. Adaptasi Bayi Baru Lahir

Saat lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna ke lingkungan eksterna.

Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit. Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut periode transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa. (Ai Yeyeh Rukiyah, 2012)

E. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan

1. Pengertian manajemen kebidanan

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan fikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, serta keterampilan dalam rangkain/tahap yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang berfokus pada pasien (varney, 1997).

2. Tahapan Dalam Asuhan Kebidanan

(18)

Identifikasi dan analisa data adalah langkah awal dari manajemen kebidanan. Langkah ini merupakan kemampuan intelektual dalam mengidentifikasi dan menganalisa masalah klien. Pada tahap ini merupakan dasar langkah berikutnya yang dilaksanakan dalam langkah identifikasi dan analisa data dasar meliputi :

1. Pengumpulan data dasar 2. Pengolahan data dan analisa

b. Langkah II : Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual

Menginterpretasikan data dasar secara spesifik kedalam suatu rumusan diagnosa dan masalah. Kata diagnosa dan masalah digunakan kedua – duanya dan mempunyai pengertian yang berbeda. Diagnosa lebih sering di identifikasi oleh bidan dengan difokuskan pada apa yang dialami seseorang secara individual. Sedangkan masalah lebih berhubungan dengan bagaimana seseorang menguraikan keadaan yang dia rasakan.

c. Langkah III : Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial

Pada tahap ini, mengantisipasi masalah yang mungkin terjadi atau yang akan dialami oleh klien. Bila tidak mendapat penanganan yang adekuat, yang dilakukan melalui pengamatan cermat, observasi secara akurat dan persiapan, untuk segala sesuatu yang mungkin akan terjadi.

(19)

Menentukan intervensi harus langsung segera dilakukan oleh bidan maupun dokter kebidanan, hal ini terjadi pada penderita dengan kegawat daruratan. Kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang lebih ahli sesuai dengan keadaan klien. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya, kolaborasi maupun konsultasi untuk menyelamatkan bayi.

e. Langkah V : Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Mengembangkan rencana asuhan komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya. Rencana tindakan harus didasari rasional dan vertical. Untuk efektifitasnya tindakan ini harus dengan persetujuan klien dengan bidan atau kesepakatan antar keduanya. Oleh karena itu rencana tindakan harus didiskusikan dengan klien.

f. Langkah VI : Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Langkah implementasi untuk pelaksanaan didalam manajemen kebidanan dilakukan oleh bidan ataupun bekerjasama dengan tenaga kesehatan yang lain berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. g. Langkah VII : Evaluasi Asuhan Kebidanan

Langkah akhir manajemen asuhan kebidanan dilakukan evaluasi, namun sebenarnya evaluasi ini dilakukan pula sesuai langkah manajemen tahap akhir. Bidan harus mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien.

(20)

7 Langkah proses berfikir menurut Varney

5 Langkah kerja dalam pengambilan keputusan

SOAPIE SOAP

Langkah I Pengkajian

dan analisa data Langka I Pengumpulan Data SubjektifObjektif SubjektifObjektif

Langkah II Merumuskan diagnosa masalah aktual. Langkah II Identifikasi masalah diagnosa Assesment Assesment Langkah III Merumuskan diagnosa masalah potensial Assesment Assesment Langkah IV Tindakan segera / kolaborasi Assesment Assesment Langkah V Menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan Langkah III

Rencana Asuhan Planning Planning

Langkah VI Implementasi asuhan kebidanan Langkah IV Implementasi Asuhan Kebidanan Implementasi Planning Langkah VII Evaluasi Langkah V Mengevaluasi efektifitas asuhan kebidanan Evaluasi

(21)

mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam medic sebagai catatan yang sistematis yang mengorganisir penemuan dan kesimpulan menjadi suatu rencana asuhan.

a. S ( Subjektif )

Apa yang dikatakan, disampaikan dan dikeluhkan b. O ( Objektif )

Apa yang dilihat dan diraba, dirasakan oleh bidan saat pemeriksaan dan dari hasil pemeriksaan menunjang

c. A ( Assesment )

Kesimpulan apa yang dibuat berdasarkan data subjektif sebagai hasil pengambilan keputusan klinis terhadap klien tersebut

d. P ( Planning )

Apa yang direncanakan berdasarkan hasil kesimpulan dari analisa tersebut.

BAB III STUDI KASUS

(22)

SPONTAN.DI RUANGANPERINATOLOGI RSUD KOTA MAKASSAR.TANGGAL 17 FEBRUARI 2015

No. Register : 17 52 71

Tanggal lahir : 16 Februari 2015, Jam 04.30 wita Tanggal pengkajian : 17 Februari 2015, Jam 07.30 wita Tempat pengkajian : RSUD kota Makassar

A. LANGKAH I . IDENTIFIKASI DATA DASAR 1. Identitas

a. Identitas Bayi

Nama : Bayi Ny. “W”

Tanggal lahir/jam : 16 Februari 2015, jam 04.30 wita Anak ke : 1 (pertama)

Jenis kelamin : Laki – Laki b. Identitas orang tua

(23)

2. Riwayat Kehamilan

a. HPHT tanggal 15-05 2014 b. Tp tanggal 22-02-2015

c. Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran d. Ibu sudah mendapat TT 2 kali di RSUD kota Makassar, yaitu pada

tanggal : TT1 = Tanggal 25-11-2014 TT2 = Tanggal 26-12-2014

e. Ibu memeriksa kehamilannya sebanyak 4 kali selama hamil di RSUD kota Makassar yaitu:

- Trimester I, 1x tanggal 23 Juli 2014

- Trimester II, 1X tanggal 24 September 2014

- Trimester III, 2X tanggal 10 Desember 2014 dan 25 Januari 2015.

f. Ibu mengatakan pernah USG di RSUD kota Makassar hasilnya bayi baik dan normal.

3. Riwayat persalinan / kelahiran

a. Bayi lahir tanggal 16 Februari 2015, jam 04.30 wita, segera menangis BBL : 2800 gram, PB = 49 cm, LK = 33 cm, A / S = 8 / 10.

b. Pemeriksaan Antropometri

(24)

c. JK = Laki- Laki d. A / S = 8 / 10

e. Gestasi 39 minggu 4 hari KALA I

Ibu masuk rumah sakit tanggal 15 Februari 2015, jam 12.00 wita. Dengan sakit perut tembus belakang mulai pukul 09. 00 wita, pembukaan serviks 2 cm (fase laten). Pembukaan lengkap, jam 04.15 wita. Ketuban (+), kala I berlangsung ± 4 jam dari datangnya ibu sampai pembukaan lengkap.

KALA II

Pembukaan lengkap (10 cm), jam 04.15 wita. Partus aterm PBK bayi baru lahir spontan segera menangis jam 04.30 wita.

Penilaian Apgar Score

Score 0 1 2

1 Menit Pertama 5 Menit Kedua Appereance

(warna kulit) Pucat

Badan merah ekstermitas biru Seluruh tubuh kemerahan 2 2 Pulse (frekuensi

jantung) Tidakada Dibawah 100 Diatas 100 1 2

Gremace

(reflex) Tidakada

Sedikit gerakan

mimic

Menangis 2 2

Activity (tonus otot) Lumpuh Ekstermitas dalam fleksi sedikit Gerakan

aktif 1 2

Respiration (pernafasan) Tidak ada Lemah, tidak teratur Menangis

kuat 2 2

(25)

Ket = 1 menit pertama = 8 5 menit ke-2 = 10

A / S = 8 / 10

KALA III

- Plasenta lahir lengkap pukul 04.40 wita berlangsung ± 10 menit. - Pendarahan ± 150 cc selaput ketuban lahir lengkap

- Perdarahan ± 150 cc setelah lahirnya plasenta. - Plasenta lahir lengkap

- Tali pusat terpilin

- Tidak ada penyakit dalam persalinan KALA IV

- Pukul 04.45, pendarahan ± 75 cc jumlah seluruhnya ± 150 cc. - Ruptur tingkat II

- Kontraksi uterus baik, teraba keras dan bunda - Tinggi fundus 2 jari dibawah pusat

- Keadaan umum ibu baik, TTV dalam dibatas normal TD = 120 / 80 mmHg P = 20 X/i N = 83 X/I S = 36,5 ˚C

4. Riwayat Bayi Baru Lahir

a. Bayi lahir segera menangis dengan BBL = 2800 gr, JK = Laki-laki, PBL = 49 cm, A / S = 8 / 10.

(26)

c. Kemampuan mengisap dan menelan baik.

d. Ibu mengatakan bayinya BAK 2 kali dari saat lahir.

e. Ibu mengatakan belum BAB dari saat bayi lahir sampai jam pengkajian, badan bayi bersih dan sedikit memiliki verniks caseosa pada lipatan ketiak, leher, pahanya dan bayinya menangis pada saat lapar ( ingin menetek ) dan popok basah.

5. Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan antropometri BBL = 2800 gr,

BBS = 2850 GR, PB = 49 cm LD = 30 cm LK = 33 cm LP = 31 cm JK = Laki= laki A / S = 8 / 10 b. Tanda – Tanda Vital

Suhu = 36,5 ˚C Pernapasan =40 X/i HR =130 x/i c. Kepala

(27)

d. Wajah

Inspeksi : wajah dan mata bersih, kedua mata simetris kiri dan kanan Palpasi : sclera tidak pucat dan kongjungtiva merah mudah

e. Hidung

Inspeksi: simetris kiri dan kanan, pernapasan normal Palpasi: tidak ada polip, secret dan peradangan f. Telinga

Inspeksi: simetris kiri dan kanan, lengkungan telinga normal, dan ada lubang telinga.

g. Mulut

Inspeksi: refleks menghisap bagus

Palpasi: bibir lembab dan gusi berwarna merah muda. h. Dada

Inspeksi: bentuk simetris kiri dan kanan Palpasi: tidak ada benjolan

i. Abdomen

Inspeksi: tali pusat terbungkus dengan kain kasa dan masih basah, tampak pembuluh darah pada tali pusat yang terpotong.

Palpasi: perut tidak kembung j. Punggung dan bokong

Inspeksi: bokong simetris kiri dan kanan, dan tidak ada lipatan pada bokong

(28)

k. Refleks

1) Refleks rooting (+) 2) Refleks sucking (+) 3) Refleks swallowing (+) 4) Refleks palmar graps (+) 5) Refleks baby sky (+) l. Genetalia dan anus

Inspeksi: penis bayi tampak sempurna dan ada lubang anus

Palpasi: terdapat lubang uretra dan scrotum, dan terdapat dua buah testis

m. Ekstremitas

Atas : jari-jari kanan dan kiri lengkap, refleks menggenggam baik Bawah : jari-jari kanan dan kiri lengkap, pergerakan kuat

6. Data Tambahan

Injeksi Neo K 0.5 cc/IM pada paha kiri di kamar bersalin.

B. LANGKAH II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH AKTUAL Masalah aktual : BCB/SMK/SPT

(29)

- Ibu mengatakan tali pusat masih basah Do : - Tp tanggal 22-02-2015

- Tanggal melahirkan 16 Februari 2015 - Gestasi 39 minggu 4 hari

- Bayi lahir spontan segera menangis dengan A/S : 8/10 BBL : 2800 gram

BBS : 2850 gram

PB : 49 cm

LK : 33 cm

LD : 30 cm

LP : 31 cm

JK : laki-laki Refleks isap : baik

- Pengkajian hari pertama tali pusat masih basah - Pengkajian hari kedua tali pusat masih basah Analisa Dan Interpretasi Data

(30)

b. SMK (sesuai masa kehamilan) adalah masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran di hitung sejak hari pertama haid terakhir. (Menstruasi Age of Pregnancy).

c. SPT (spontan) adalah bayi lahir dengan PBK (presentasi belakang kepala) tanpa memakai alat atau tindakan yang melukai bayi serta dengan tenaga ibu sendiri dan berlangsung selama <24 jam.(Sarwono Prawihardjo, 2002)

C. LANGKAH III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

Masalah potensial : Potensial terjadinya infeksi tali pusat

DS :

-DO : - Tali pusat masih basah

- Tampak pembuluh darah yang terpotong Analisa Dan Interpretasi Data

Luka pemotongan tali pusat merupakan salah satu masuknya mikroorganisme yang dapat berkembang biak dengan cepat dan dapat menyebabkan terjadinya infeksi hal ini disebabkan karena kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna. (Dr lindon saputra, 2010)

(31)

Masalah potensial : Antisipasi terjadinya infeksi tali pusat Tujuan : - Keadaan umum bayi baik

- Bayi dapat beradaptasi dengan Lingkungan - Bayi mendapat Asi esklusif

Kriteria : - Keadaan umum bayi baik dan dak Aktif

- Tidak ada tanda-tanda infeksi tali pusat seperti merah, panas, bengkak dan bernanah.

- TTV Dalam batas normal HR : 120 - 160 X/i R : 60 – 80 X / i S : 36, 5 – 37, 5 ˚C - Berat badan bayi meningkat

Rencana Tindakan / Intervensi

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Rasional : Agar tidak terjadi infeksi

2. Observasi TTV

Rasional : TTV merupakan salah satu indicator untuk mengetahui keadaan umum bayi, perubahan yang abnormal pada tanda vital.

3. Memandikan bayi dan rawat tali pusat

(32)

diketahui adanya infeksi tali pusat sehingga memudahkan untuk menentukan tindakan selanjutnya dan mempercepat proses pengeringan dan terlepasnya tali pusat.

4. Observasi tanda- tanda infeksi pada tali pusat

Rasional : Dengan mengobservasi tanda – tanda infeksi ( merah, panas, bengkak dan bernanah ) menghambat mikroorgaisme karena tali pusat yang basah merupakan media yang mudah bagi mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang.

5. Anjurkan ibu untuk membersihkan payudara dan putting susunya apabila ingin menyusui bayinya.

Rasional : Agar bayi tidak terkena infeksi dengan kuman yang ada di puting susu.

6. Anjurkan ibu untuk selalu menyusui bayinya tanpa jadwal

Rasional : Fungsi otak membutuhkan glukosa dalam jumlah tertentu pada saat tali pusat terjepit, bayi harus mempertahankan glukosa karena kadar glukosa akan sampai 1 sampai 2 jam setelah kelahiran dan ASI sangat diperlukan oleh tubuh bayi yang mengandung zat- zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan.

(33)

Rasional : Untuk mencegah terjadinya iritasi pada bokong bayi dan memberi rasa nyaman serta mencegah kehilangan panas bayi tiap kali basah

8. Berikan HE tentang manfaat imunisai Hb0.

Rasional : imunisasi Hb0 bermanfaat untuk mencegah penyakit Hepatitis B.

9. Berikan imunisasi Hb0 pada paha kiri bayi.

Rasional : agar dapat mencegah bayi terkena penyakit Hepatitis B. 10. Jelaskan pada ibu tentang tanda bahaya pada bayi

Rasional : Dengan mengetahui tanda bahaya pada bayi, ibu segera mencari pertolongan kepada bidan atau dating ke tempat pelayanan kesehatan jika hal itu terjadi.

11. Ajarkan pada ibu tentang teknik menyusui yang benar.

Rasional: Agar bayi dapat menghisap dengan baik, tidak tersendak, merasa nyaman dan bayi kelihatan puas dan kenyang, serta payudara tidak lecet.

12. Berikan HE pada ibu tentang: a. Manfaat ASI

(34)

b. mengkomsumsi makanan yang bergizi

Rasional : Dengan mengkomsumsi makanan yang bergizi dapat meningkatkan produksi ASI yang dibutuhkan oleh bayi. c. perawatan payudara

Rasional : Mencegah terjadinya bendungan ASI. d. perawatan tali pusat

Rasional : Mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat proses penyembuhan dan puputnya tali pusat.

e. Personal Hygiene

Rasional : Menjaga kebersihan bayi dan memberikan rasa nyaman.

E. LANGKAH VI. IMPLEMENTASI / PELAKSANAAN TINDAKAN Tanggal 17 februari 2015 Jam 07.35 WITA.

1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi Hasil : Tangan telah tercuci dan bersih.

2. Mengobservasi TTV Hasil : - HR : 130 x/i

- R : 40 x/i - S : 36,5 ⁰C

3. Memandikan bayi dan merawat tali pusat

Hasil : Bayi telah dimandikan dan tali pusat bersih.

(35)

Hasil : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada tali pusat seperti merah, panas, bengkak, nyeri, bernanah, dan kehilangan fungsi jaringan. 5. Menganjurkan ibu untuk membersihkan payudara dan putting susunya

apabila menyusui bayinya.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

6. Menganjurkan pada ibu untuk selalu menjaga kebersihan bayinya dan mengganti popok bayi tiap kali BAB/BAK dengan popok yang kering dan bersih.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

7. Menganjurkan pada ibu untuk selalu menyusui bayinya tanpa jadwal Hasil : Ibu bersedia melakukannya.

8. Memberikan HE tentang manfaat Imunisasi HB0.

Hasil : Ibu mengerti tentang manfaat imunisasi HB0 dan mengizinkan bayinya untuk di imunisasikan HB0.

9. Memberikan injeksi Imunisasi HB0 0.5 cc pada paha kiri. Hasil : Injeksi HB0 telah diberikan pada bayi ibu.

10. Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi seperti : a. Pernapasan sulit atau >60 x/i

b. Suhu meningkat/hipotermi jika <36,5 ⁰C dan hipertermi jika >37,5 ⁰C

c. Warna kulit dan mata kuning (dalam 24 jam kelahiran)

d. Infeksi pada tali pusat seperti : merah, bengkak, panas, nyeri, berdarah, bernanah, dan berbau.

(36)

Hasil : Ibu mengerti dan akan membawa bayi ke pelayanan kesehatan jika salah satu tanda tersebut terjadi.

11. Mengajarkan pada ibu teknik menyusui yang benar seperti : a. Duduk dengan posisi tegak atau berbaring dengan santai

b. Gunakan bantal untuk menompang bayi, yang diletakan pada paha ibu c. Baringkan bayi diatas pangkuan ibu dengan cara 1 tangan bayi

memeluk punggung ibu dan tangan lainnya didepan

d. Telinga dan lengan berada pada garis lurus (posisi bayi agak miring) e. Rangsang bayi dengan mendektkan putting susu dengan pada ke mulut

bayi

f. Bayi menghisap areola mammae g. Bayi disusui sampai merasa puas.

Hasil : Ibu mengerti dan akan melakukannya dengan baik. 12. Mengajarkan kepada ibu HE tentang :

a. Mengkonsumsi makanan yang bergizi, seperti jenis makanan : nasi, ikan, telur, sayur, buah-buahan, susu (terutama sayuran hijau seperti daun katuk dan daun papaya, dll). Makan 3 kali sehari dan setiap merasa lapar.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

b. Perawatan payudara

(37)

payudara, kompres payudara dengan air hangat secara bergantian, bersihkan payudara dan keringkan.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melalukannya. c. Perawatan tali pusat

- Jangan membersihkan tali pusat dengan sabun - Jaga tali pusat agar selalu bersih dan kering - Bungkus tali pusat dengan kasa steril

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya. d. Personal Hygine

- ± 6 jam setelah bayi lahir - Suhu bayi normal

- Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

F. LANGKAH VII. EVALUASI

Tanggal 17 Februari 2015 Jam 07.45 WITA

1. Keadaan umum bayi baik, TTV dalam batas normal HR : 130 x/i

R : 40 x/i S : 36,5 ⁰C

2. Bayi dapat beradaptasi dengan lingkungan.

(38)

4. Ibu bersedia menjaga kebersihan bayinya.

5. Ibu sudah memberikan ASInya setiap kali bayi membutuhkannya. 6. Ibu bersedia merawat tali pusat bayinya dan menjaga kebersihannya. 7. Ibu bersedia mengimunisasikan bayinya.

8. Ibu mengerti dan bersedia membawa bayinya kepelayanan kesehatan jika bayinya mengalami salah satu tanda bahaya.

(39)

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. “W” DENGAN BAYI CUKUPBULAN/SESUAIMASAKEHAMILAN/

SPONTAN. DI RUANGANPERINATOLOGI RSUD KOTA MAKASSAR.TANGGAL 17 FEBRUARI 2015

NO. Register : 17 52 71

Tanggal Lahir : 16 Februari 2015 Jam 04.30 wita Tanggal Pengkajian : 17 Februari 2015 Jam 07.30 wita

A. IDENTIFIKASI DASAR 1. Identitas Bayi

Nama : Bayi “ N “

Tanggal Lahir/ Jam : 16 Februari 2015 jam 04.30 wita Anak Ke : 1 ( Pertama)

Jenis Kelamin : Laki-Laki 2. Identitas Orang Tua

Nama : Ny “ W “

Umur : 20 Tahun / 21 Tahun Nikah : 1 kali / ± 1 Tahun

Suku : Makassar / Bugis Agama : Islam / Islam Pendidikan : SMP / SMP

(40)

DATA SUBJEKTIF ( S )

1. HPHT tanggal 15-05-2014 2. P1 A0

3. Ibu mengatakan sudah menyusui bayinya sejak bayi lahir 4. Ibu mengatakan bayinya BAK 2 kali dari saat lahir

5. Ibu mengatakan belum BAB dari saat bayi lahir sampai jam pengkajian, badan bayi bersih dan sedikit memiliki verniks caseosa pada lipatan ketiak, leher, paha, dan bayinya menangis pada saat lapar ( ingan menetek ) dan popok basah.

DATA OBJEKTIF ( O ) - TP tanggal 22-02-2015

- Bayi lahir tanggal 16 Februari 2015 jam 04.30 wita - BBL : 2800 gram ( Normal : 2500-4000 gram )

- BBS : 2850 gram

- PB : 49 Cm ( Normal : 40-52 cm ) - LK : 33 cm ( Normal : 33-35 cm ) - LD : 30 cm ( Normal : 30-32 cm ) - LP : 31 cm (Normal : 30-32 cm) - JK : Laki-laki

- A/S : 8/10

- Bayi lahir segerah menangis JK = laki=laki, BBL = 2800 gram, PBL = 49 cm, A/S 8/10

(41)

- TTV : HR : 139 x/i

R : 40 x/i S : 36,5 C

- Tali pusat masih basah dan tidak ada tanda-tanda infeksi seperti ; panas,

merah, nyeri, bengkak dan bernanah.

- Telah diberikan injeksi Neo K, 0,5 cc/ secara IM pada paha kiri di kamar

bersalin ASSESMENT (A)

- Masalah Aktual = BCB / SMK/ SPT.

- Masalah Potensial = Potensial terjadinya infeksi tali pusat.

PLANNING (P)

Tanggal 17 Februari 2015 jam 07.35 WITA.

1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi. Hasil : Ibu mengerti dengan anjuran yang diberikan.

2. Mengobservasi tanda-tanda vital bayi untuk mengetahui keaadaan bayi dan menentukan tindakan yang akan dilakukan.

Hasil : HR : 139 x/i R : 40 x/i S : 36,5 C

3. Memandikan bayi dan merawat tali pusat.

(42)

Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat seperti merah, panas, bernanah, bengkak, dan nyeri mengajarkan ibu untuk membersihkan payudara dan putting susunya apabila menyusui bayinya.

Hasil : Ibu bersedia dan melakukannya.

5. Menganjurka ibu untuk selalu menjaga kebersihan bayinya dan mengganti popok bayi tiap kali BAK/BAB dengan yang kering.

Hasil : Ibu mengerti dan bersdia melakukannya.

6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya tanpa jadwal, Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

7. Menganjurkan ibu untuk merawat tali pusat bayinya. Hasil : Ibu bersedia merawat tali pusat.

8. Menjelaskan pada ibu tanda-tanda bahaya pada bayinya yaitu suhu badan meningkat, bayi selalu menangis dan kejang.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia dan bersedia kepelayanan kesehatan jika ada tanda-tanda bahaya yang terjadi pada bayinya

9. Mengajarkan ibu teknik menyusui yang baik dan benar seperti : - Duduk dengan posisi tegak atau berbaring dengan santai

- Gunakan bantal untuk menompang bayi, yang dilektakan pada bayi - Baringkan bayi diatas pangkuan ibu dengan cara 1 tangan bayi

(43)

- Rangsang bayi dengan mendekatkan putting susu pada mulut bayi

bayi dsusui sampai merasa puas

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya. 10. Memberikan HE pada ibu tentang :

- Manfaat makanan yang bergizi.

Mengkonsumsi makanan yang bergizi, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, susu, ikan, telur, dll

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia mengkonsumsinya. - Perawatan payudara

Cuci tangan, bersihkan putting susu dan jaga agar payudara tetap bersih dan kering terutama aerola. Kompres payudara dengan washlap dibasahi air hangat secara bergantian

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya - Perawatan tali pusat

 Jangan membersihkan tali pusat dengan sabun

 Jaga tali pusat agar selalu bersih dan kering

 Bungkus tali pusat dengan kasa steril

Hasil : Ibu mengeri dan bersedia melakukannya - Personal Hygine

 ± 6 jam setelah bayi lahir

 Suhu bayi normal

 Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat

(44)

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. “W” HARI KEDUA DENGANBAYICUKUP BULAN/SESUAI MASA

KEHAMILAN / SPONTAN.DI RUANGANPERINATOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA MAKASSAR

TANGGAL 18 FEBRUARI 2015

DATA SUBJEKTI (S)

- Ibu mengatakan bayinya kuat menetek - Umur bayi sudah 2 hari.

DATA OBJEKTIF (O)

- Refleks isap pada bayi baik

- Bayi menyusui dengan baik pada ibunya - Tali pusat masih basah

- Tidak ada tanda – tanda terjadinya infeksi - BBS : 2850 gram

- TTV : HR : 140 X /I

S : 36,5 ⁰ C R : 40 X/i ASSESMENT (A)

- Masalah Aktual = BCB/SMK/SPT

- Masalah Potensial = Potensial terjadinya infeksi tali pusat PLANNING (P)

(45)

2. Mandikan dan merawat tali pusat

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia melakukannya

3. Menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke rumah sakit / puskesmas / posyandu terdekat untuk di imunisasi dasar.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia membawa bayinya untuk imunisasi 4. Menganjurkan pada ibu untuk membawa bayinya ke rumah sakit /

puskesmas / posyandu jika terjadi tanda – tanda bahaya pada bayi seperti suhu badan panas, menangis terus menerus dan kejang.

Hasil : Ibu mengerti dan bersedia membawa bayinya ke pelayanan kesehatan jika terjadi salah satu tanda bahaya pada bayi

5. Anjurkan pada ibu untuk mengomsumsi makanan yang bergizi dan menyusui bayinya tanpa jadwal untuk merangsang pengeluaran ASI. Hasil : Ibu mengerti dan bersedia mengkonsumsi makanan bergizi dan

(46)

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas kesenjangan antara teori dan hasil tinjauan kasus bayi Ny “W” dengan Bayi Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan di RSUD Kota Makassar pada tanggal 17–18 Februari 2015. Berdasarkan proses pikir manajemen kebidanan dapat dikembangkan sesenjangan tersebut sesuai langkah proses manajemen sebagai berikut.

A. Langkah I. Identifikasi Data Dasar

Kami tidak menemukan hambatan yang berat, karena pada saat pengumpulan data baik klien maupun keluarga serta bidan yang berada dalam ruangan dapat memberi informasi secara terbuka sehingga memudahkan untuk memperoleh data yang diinginkan sesuai dengan masalah yang diangkat. Data yang diambil dilakukan secara terfokus yang meliputi berat badan lahir 2800 gram dengan umur kehamilan cukup bulan 39 minggu 4 hari, panjang badan 49 cm, kulit kemerah – merahan, tonus otot baik, aktif dan kuat.

(47)

B. Langkah II. Identifikasi Diagnosa / Masalah Aktual

Berdasarkan data yang diperoleh, diagnosa masalah aktual yang ada pada bayi Ny “W” adalah Bayi Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan. Yang dimana sesuai dengan konsep teori bahwa bayi cukup bulan (BCB) adalah bayi yang lahir 37 – 42 minggu maka hal ini sesuai dengan data yang ada yaitu dari tanggal HPHT 15 Mei 2014 sampai bayi dilahirkan yaitu pada tanggal 16 Februari 2015 gestasinya adalah 39 Minggu 4 hari

Menurut teori bayi yang lahir diatas usia kehamilan diatas 37 minggu dengan berat badan diatas 2500 gram adalah bayi lahir normal, dimana berat badan ini sesuai berat badan seharusnya untuk usia kehamilan (2500 – 4000 gram) yang disebut juga sesuai masa kehamilan (SMK). Hal ini memang dialami oleh bayi yang dikaji sehingga terdapat kesesuaian antara teori dengan fakta yang ada.

C. Langkah III. Identifikasi Diagnosa /Masalah Potensial

Adapun masalah potensial yang kami dapat identifikasikan pada kasus ini adalah:

(48)

D. Langkah IV. Melaksanakan Tindakan Segera / Kolaborasi

Menurut teori dikatakan pada hari kedua perawatan bayi baru lahir normal tidak dilaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan dapat tetapi tindakan segera dapat dilakukan berdasarkan perkembangn kondisi bayi, namun pada pelaksanaan perawatan tetap berjalan sesuai rencana tindakan dan tidak dilakukan tindakan segera / konsultasi maupun kaloborasi karena kondisi bayi dalam keadaan baik dapat dilihat adanya kesesuaian antara pelaksana tindakan dengan yang seharusnya menurut teori yang ada.

E. Langkah V . Rencana Asuhan Kebidanan / Intervensi

Kemampuan menelan dan menhisap bayi sudah mulai membaik setelah hari kedua dan akan diawasi lebih lanjut kemapuannya ketika menyusu pada ibunya, beritahu ibu manfaat ASI, anjurkan kepada ibu untuk banyak mengkomsumsi sayur-sayuran, buah–buahan dan kacang-kacangan, dimana semua ini untuk memperlancar produksi ASI dan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi.

Untuk mencegah terjadinya infeksi tali pusat dilakukan tindakan sebagai berikut perawatan tali pusat dengan kasa alcohol dan dibungkus dengan kasa steril, observasi tanda- tanda vital (setiap 6 jam) yang meliputi denyut jantung, suhu badan dan pernapasan.

(49)

F. Langkah VI. Implementasi / Pelaksanaan Tindakan

Berdasarkan teori bahwa penanganan bayi baru lahir normal tetap disertai tindakan, dimana perencanaan dan tindakan yang seharusnya dilakukan adalah pengawasan keadaan umum, pengawasan nutrisi dengan penimbangan dan memberitahukan ibu manfaat ASI dan memberikan saran – saran kepada ibu seperti rajin menyusui bayinya, sehingga kebutuhan bayi dapat terpenuhi, semua penanganan menurut teori ini ternyata dilaksankan pada penanganan kasus sehingga ada kesesuaian antara fakta antara fakta yang seharusnya.

Pencegahan infeksi juga perlu dilakukan menurut teori Karena bayi sangat rentang terhadap infeksi yaitu merawat tali pusat dengan membersihkan memakai kasa alcohol dan dengan kasa steril, mengawasi tanda –tanda infeksi dan tanda- tanda vital dengan frekuensi tertentu.Seluruh penanganan tersebut juga dilakukan pada kasus ini sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara fakta yang didapatkan dengan teori yang dikemukakan.

Selain itu yang menunjukan adanya kesesuaian dengan praktik yang dilakukan, yaitu melalui usaha pencegahan hipotermi, yaitu dengan mengontrol suhu tubuh dan mengenakan pakaian serta mengganti pakaian bayi bila basah.

G. Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan

(50)

dan menelan, refleks menggenggam dan refleks moro menjadi baik dan hal ini dapat tercapai setelah penanganan selama 2 hari pada bayi sehingga terdapat kesesuaian antara teori dengan kenyataan yang ada.

Sedangkan kemungkinan masalah potensial infeksi tali pusat yang menurut teori setelah dilakukan penanganan dapat dicegah dan tidak terjadi jika ditandai dengan : tidak ada tanda- tanda infeksi seperti merah, bengkak, panas, dan bernanah. Tanda- Tanda Vital dalam batas normal dimana ada fakta yang didapatkan kesesuaian dengan teori sebab kami dapat mencegah terjadinya infeksi pada bayi setelah penanganan sampai hari kedua dengan tidak ditemukannya tanda- tanda infeksi dan tanda- tanda vital bayi juga dalam batas normal yaitu denyut jantung 132 x/menit, suhu tubuh 36,60C,

(51)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan pengalaman langsung dari lahan praktik tentang bayi lahir normal dengan bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan dapat ditarik kesimpulan bahwa : Bayi lahir normal dengan cukup bulan yaitu bayi lahir dari umur kehamilan 37 – 42 minggu, dengan berat badan lahir 2500 – 4000 gram, serta pertumbuhan organ – organ tubuh bayi sudah sempurna baik dari segi anatomi maupun fisiologi. Sehingga dari hasil pengumpulan data bayi Ny “W” dapat dibuatkan diagnosis Bayi Cukup Bulan (BCB), Sesuai Masa Kehamilan (SMK).

B. Saran

1. Sebagai seorang bidan hendaknya melakukan dan memberikan penjelasan kepada ibu tentang penatalaksanaan awal bayi baru lahir yang meliputi : pencegahan infeksi, pencegahan kehilangan panas, perawatan tali pusat dan pemberian ASI.

Referensi

Dokumen terkait

Data yang didapatkan dari perawat kamar bayi dan poli anak RSIA Grand Famliy bahwa selama perawatan neonatus menjalani minimal dua kali tindakan prosedur minor

Metoda kanguru adalah suatu teknologi tepat guna untuk perawatan bayi baru lahir khususnya bayi prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR), dengan cara melekatkan kulit bayi ke

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai usia 4 Minggu (Isti Maemunah, 2005) Bayi Baru Lahir Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu dengan berat badan lahir

l Cara mengenali tanda bayi sehat yaitu bayi baru lahir segera menangis, bernapas spontan, bergerak aktif, warna kulit tubuh kemerahan, bayi bisa menghisap dengan kuat, berat

dalam Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah dengan Metode

persalinan normal adalah 19 bayi, sedangkan bayi baru lahir dengan ikterus neonatorum patologis dengan persalinan dengan tindakan adalah sebanyak 16 bayi yaitu

Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran sebagian besar bayi baru lahir akan

Hal ini menunjukan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kaus yang ada karena bayi “A” telah dilakukan perawatan bayi baru lahir normal sesuai dengan standar asuhan pada