B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
2) Data Obyektif
a) Pemeriksaan fisik (1) Tanda-tanda vital
(a) Pada wanita yang memilki tekanan darah tinggi tidak boleh menggunakan KB implant karena apabila klien menderita hipertensi dapat terjadi nyeri kepala yang hebat atau penglihatan menjadi kabur.
(Saefuddin.2006.h;MK-55)
(b) Kelainan pada denyut nadi mengarah pada penyakit jantung yang merupakan kontra-indikasi penggunaan KB implant, karena kerja hormon progestin dapat meningkatkan kerja jantung menjadi cepat sehingga tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi KB implant. . (Hanafi.2004.h;182)
(2) Berat badan
Berat badan perlu dikaji karena penggunaan kontrasepsi KB Implant dapat mempengaruhi kenaikan berat badan, jika perubahan berat badan meningkat drastis merupakan efek samping kontrasepsi KB Implant. (Saefuddin,2006;h.MK-29).
(3) Payudara
Dikaji untuk mengetahui atau mencurigai klien terkena karsinoma payudara, ini merupakan kontra-indikasi dari pengguna KB Implant.(Hanafi.2004.;182) (4) Abdomen
Abdomen perlu dikaji untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda kehamilan atau tidak, karena kehamilan merupakan kontra-indikasi dari penggunaan KB Implant. (Saefuddin.2006.h;MK-55)
(5) Ekstremitas
Pada klien dengan adanya rasa sakit dan kaki bengkak dimungkinkan ada indikasi penggumpalan darah. (Saefuddin.2006.h;MK-55)
Dikaji apakah kakinya sangat bengkak dan mengandung cairan karena kemungkinan indikasi penyakit hati. Apabila klien terkena penyakit hati maka klien tidak boleh menggunakan KB implant karena merupakan kontra-indikasi dari KB implant.(Hanafi.2004;h.182)
(6) Genetalia
Dikaji untuk mengetahui apakah akseptor KB implant mengalami perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.Hal ini merupakan salah satu kontra indikasi menggunakan KB implant.
b) Pemeriksaan penunjang
(1) Pemeriksaan PP test untuk mengetahui kemungkinan terjadi kehamilan atau tidak. (Saefuddin.2006.h;MK-55)
(2) Pemeriksaan urin reduksi untuk mengetahui kemungkinan klien menderita diabetes mellitus. (Saefuddin.2006.h;MK-61)
b. Intepretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang besar atas data-data yang dikumpulkan diinterpretasikan ditemukan masalah atau diagnosa spesifik, interpretasi data dasar dibagi menjadi:
Diagnosa Kebidanan:
Ny... P.. A ...umur... tahun dengan akseptor baru KB Implant. Data Subjektif:
1) Pernyataan klien terhadap jumlah riwayat persalinannya. 2) Pernyataan klien terhadap riwayat kegugurannya. 3) Pernyataan klien tidak sedang hamil.
4) Pernyataan klien tentang haid terakhir. Data Objektif:
Dilakukan pemeriksaan fisik (inspeksi dan palpasi) terhadap akseptor baru KB implant untuk mengetahui kelainan-kelainan seperti benjolan payudara, kehamilan, hipertensi dan lain-lain yang merupakan keadaan yang tidak boleh menggunakan KB
implant dan dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan PP test untuk mengetahui terjadinya kehamilan dan test urin reduksi untuk mengetahui klien menderita diabetes mellitus atau tidak.
c. Mengidentifikasi diagnosa kebidanan atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
Diagnose potensial pada akseptor baru KB yang ingin menggunakan implant, jika ditemukan atau terjadi masalah setelah menggunakan implant seperti ekspulsi dan infeksi pada bagian pemasangan implant.(Saefuddin.2006.h;MK-59)
d. Identifikasi akan kebutuhan segera atau kolaborasi dan konsultasi.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajeman kebidanan yaitu proses penatalaksanaan tidak hanya dilakukan selama perawatan pada kunjungan awal dan kunjungan ulang pada pengguna KB implant, tetapi data yang diperoleh kemudian dikaji dan dievaluasi untuk mendapatkan tindakan segera. (Muslihatun,dkk.2009.h;229) antara lain:
1) Ekspulsi Penanganan :
a) Memberikan konseling kepada klien bahwa ekspulsi dapat terjadi pada pengguna KB implant karena batang implant yang rusak atau sudah berubah dari bentuk semula.
b) Mencabut batang atau kapsul yang ekspulsi. Jika tidak ada tanda infeksi dan kapsul lain masih berada ditempatnya maka melakukan pemasangan kapsul baru 1 buah pada tempat insersi yang berbeda.
2) Infeksi Penanganan :
a) Bila terdapat infeksi tanpa nanah,bersihkan dengan sabun, air atau antiseptik. Berikan antibiotik selama 7 hari.
b) Apabila keaadaan tidak membaik, cabut implant dan pasang yang baru.
e. Perencanaan.
Pada langkah yang kelima ini dilakukan perencanaan secara keseluruhan yang dibuat berdasarkan dari langkah-langkah sebelumnya.(Muslihatun,dkk.2009.h;229)
Rencana yang akan menggunakan KB implant antara lain: 1. Beritahu hasil pemeriksaan klien.
2. Berikan konseling tentang KB implant meliputi: a) Definisi implant. b) Efektifitas. c) Indikasi implant d) kontra-indikasi implant. e) Keuntungan implant f) Kerugian implant
h) Efek samping dari implant. 3. Jelaskan cara kerja implant
4. Tanyakan kembali apakah ibu mantapuntuk dilakukan pemasangan KB implant.
5. Informed consent.
6. Persiapan alat pemasangan implant.
7. Memberikan konseling pra pemasangan implant. 8. Lakukan pemasangan implant.
9. Konseling pasca pemasangan implant. 10. Beritahu kunjungan ulang implant.
f. Pelaksanaan.
Pada langkah ini bidan mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan aman. Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian oleh klien sendiri atau oleh petugas lainnya.(Muslihatun.2009.h;230)
Dalam pelaksanaan pada akseptor KB implant sesuai dengan rencana meliputi:
1. Memberitahu hasil pemeriksaan klien
2. Memberikan konseling tentang KB implant meliputi: a. Definisi implant.
Salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk yang terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lengan atas. (Handayani,2010.h;116)
Sangat efektif (kegagalan 0,2–1 kehamilan per 100 perempuan).
c. Indikasi
1) Usia subur
2) Telah memiliki anak ataupun yang belum
3) Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi
4) Menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang 5) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
6) Pasca persalinan dan tidak menyusui 7) Pasca keguguran
8) Tidak menginginkan anak lagitetapi menolak sterilisasi
9) Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah, atau anemia.
10) Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen,
11) dan sering lupa menggunakan pil. (Saefudin.2006.h;MK 55 )
d. Kontra indikasi implant.
1) Hamil atau diduga hamil
2) Perdarahah pervaginam yang belum jelas penyebabanya
3) Benjolan atau kanker payudara atau riwayat kanker payudara
4) Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi
5) Mioma uterus
(Saefudin.2006.h;MK-55)
6) Penyakit hati akut, tumor hati jinak atau ganas, penyakit jantung, hipertensi, diabetes mellitus. (Hanafi.2004.h;182)
e. Keuntungan implant 1) Daya guna tinggi.
2) Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun). 3) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat
setelah pencabutan (1-2 bulan setelah pencabutan). 4) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.
5) Bebas dari pengaruh estrogen.
6) Tidak mengganggu kegiatan senggama. 7) Tidak mengganggu ASI.
8) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan. 9) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan
kebutuhan. f. Kerugian implant
1) Susuk KB atau implant harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang telah terlatih. 2) Lebih mahal.
4) Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
5) Beberapa orang wanita mungkin segan untuk menggunakannya karena kurang mengenalnya. 6) Implant kadang–kadang dapat terlihat oleh orang
lain.
(Hanafi.2004.h;190)
g. Waktu mulai menggunakan implant :
1) Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai hari ke-7. Tidak diperlukan metode kontrasepsi tambahan.
2) Insersi dapat dilakukan setiap saat, asal saja diyakini tidak terjadi kehamilan. Bila diinsersi setelah hari ke-7 siklus haid, klien jangan melakukan hubungan seksual atau menggunakan metode kontrasepsi lain seperti pil atau kondom untuk 7 hari saja.
3) Bila klien tidak haid dapat dilakukan insersi setiap saat.
4) Bila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan, insersi dapat dilakukan.
5) Pasca keguguran insersi dapat dilakukan. h. Efek samping dari implant :
1) Amenorea
3) Ekspulsi
4) Infeksi pada daerah insersi 5) Berat badan naik/turun 3. Cara kerja.
a. Lendir serviks menjadi kental.
b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi.
c. Mengurangi transportasi sperma. d. Menekan ovulasi.
(Saefudin.2006.h;MK-54)
4. Menanyakan kembali apakah ibu mantap untuk dilakukan pemasangan KB implant.
5. Melakukan informed consent sebelum pemasangan implant. 6. Mempersiapan alat pemasangan implant.
a. Meja periksa untuk berbaring pasien. b. Alat penyangga lengan.
c. Batang implant dalam kantong.
d. Kain penutup steril (Duk lubang) serta mangkok untuk tempat meletakkan implant.
e. Sepasang sarung tangan karet yang sudah steril. f. Sabun untuk mencuci tangan.
g. Larutan antiseptic untuk disenfeksi kulit. h. Zat anestesi local.
i. Semprit ( 5-10 ml ) dan jarum suntik. j. Trokar.
k. Skalpel 11 dan 15.
l. Kasa pembalut atau plester. Untuk renjatan anafilaktik (harus tersedia untuk keperluan darurat).
m. Bak atau tempat instrument (tertutup) 7. Memberikan konseling pra pemasangan implant
a. Bimbing atau berikan kesempatan pada klien untuk bertanya tentang keterangan yang telah diberikan dan tentang apa yang akan dilakukan pada dirinya.
b. Peragakan peralatan yang akan digunakan serta jelaskan tentang prosedur apa yang akan dikerjakan.
c. Jelaskan bahwa klien akan mengalami sedikit rasa sakit saat penyutikan zat anastesi local, sedangkan prosedur insersinya sendiri tidak akan menimbulkan rasa nyeri. d. Prinsip–prinsip dan tata cara pemasangan dan
pencabutan implant secara umum adalah sama, baik implant yang menggunakan dua batang maupun satu batang.
e. Tentramkan hati klien setelah tindakan insersi. 8. Melakukan pemasangan implant.
a. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih.
b. Pakai sarung tangan steril atau DTT
c. Persiapkan tempat insisi dengan larutan antiseptic. Gunakan klem steril untuk memegang kasa antisepstik. Kemudian mulai mengusap dari tempat yang akan
dilakukan insisi kearah luar dengan gerakan melingkar sekitar 8 – 13 cm.
d. Bila ada gunakan kain penutup (dok) yang mempunyai lubang untuk menutupi lengan.
e. Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada tempat insisi (yang terdekat dengan siku), kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk ke dalam pembuluh darah. Suntikan sedikit obat anestesi untuk membuat gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum, masukkan ke bawah kulit (subdermis) sekitar 4 cm. Hal ini akan membuat kulit (dermis) terangkat dari jaringan lunak di bawahnya. Kemudian tari jarum pelan–pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikan obat anestesi di tempat yang akan dipasang kapsul.
f. Pegang skalpel dengan sudut 450, buat insisi dangkal hanya untuk sekedar menembus kulit.
g. Trokar harus dipegang dengan ujung yang tajam menghadap ke atas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda yang pertama dekat pangkal menunjukan batas trokar di masukkan ke bawah kulit sebelum memasukkan setiap kapsul. Tanda yang kedua dekat ujung menunjukkan batas trokar yang harus tetap di bawah kulit setelah mamasang setiap kapsul.
h. Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari kiri atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar kedepan dan berhenti saat ujung tajam seluruh berada di bawah kulit (2–3 mm dari akhir ujung tajam). Memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika terdapat tahanan, coba dari sudut lainnya.
i. Untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit, angkat trokar ke atas sehingga kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan–lahan dan hati–hati ke arah tanda (1) dekat pangkal. Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari.
j. Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar.
k. Masukkan kapsul pertama ke dalam trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk atau pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan ke dalam trokar. Dorong kapsul sampai seluruhnya masuk ke dalam trokar dan masukkan kembali pendorong.
l. Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai terasa ada tahanan.
m. Pegang pendorong dengan satu tangan untuk menstabilkan. Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk ke arah luka insisi sampai tanda (2)
muncul di tepi luka insisi dan pangkalnya menyentuh pegangan pendorong.
n. Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus terlihat di tepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit. Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya dari trokar.
o. Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral kanan dan kembalikan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul pertama bebas. Selanjutnya geser trokar sekitar 15-25 derajat. Untuk melakukan itu mula–mula fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelan–pelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanda (1). Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul berikutnya kedalam trokar dan lakukan seperti sebelumnya sampai seluruh kapsul terpasang.
p. Pada pemasangan berikutnya untuk mengurangi resiko infeksi atau ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari tepi luka insisi.
q. Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan kapsul semuanya telah terpasang.
r. Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi. Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan
luka insisi, harus dicabut dengan hati–hati dan dipasang kembali di tempat yang tepat.
s. Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah diperiksa, keluarkan trokar pelan–pelan. Tekan tempat insisi dengan jari mengggunakan kasa selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan tempat pemasangan dengan kasa berantiseptik.
9. Memberikan konseling pasca pemasangan implant.
a. Daerah insersi harus tetap dibiarkan kering dan bersih selama 48 jam pertama. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi pada luka insersi.
b. Perlu dijelaskan bahwa mungkin terjadi sedikit rasa perih, pembengkakan atau lebam (kebiruan) pada daerah insisi. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan.
c. Pekerjaan rutin hariaan tetap dikerjakan. Namun hindari benturan, gesekan atau pnekanan pada daerah insisi. d. Balutan penekan jangan dibuka selama 48 jam,
sedangkan plester dipertahankan hingga luka sembuh (biasanya 5 hari).
e. Setelah luka sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan dicuci dengan tekanan yang wajar.
f. Bila ditemukan adanya tanda–tanda infeksi seperti demam, peradangan atau bila rasa sakit menetap selama beberapa hari, segera kembali ke klinik.
(Saefudin.2006.h;MK-57)
10. Memberitahu kunjungan ulang implant.
a. Amenorea yang disertai nyeri perut bagian bawah. b. Perdarahan yang banyak dari kemaluan.
c. Rasa nyeri pada lengan.
d. Luka bekas insisi mengeluarkan darah atau nanah. e. Ekspulsi dari batang implant.
f. Sakit kepala hebat atau pengliatan menjadi kabur. g. Nyeri dada hebat.
h. Dugaan adanya kehamilan. (Saefudin.2006.h;MK-57-58)
g. Evaluasi.
Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah sudah memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam diagnosis maupun masalah.
(Muslihatun.2009.h;230)
Evaluasi dikatakan berhasil pada asuhan kebidanan keluarga berencana dengan implant apabila:
1. Pasien sudah mengerti hasil pemeriksaan.
2. Pasien sudah mengerti tetang penjelasan bidan yang telah diberikan.
3. Pasien sudah mengerti cara kerja implant.
4. Pasien bersedia menggunakan alat kontrasepsi implant. 5. Pasien bersedia untuk menandatangani informed consent. 6. Alat telah steril dan telah tertata dengan baik.
7. Pasien sudah mengerti tentang konseling pra pemasangan implant.
8. Implant telah terpasang dengan baik yaitu tepat pada bawah kulit.
9. Pasien dapat mengerti tentang konseling pasca pemasangan yang telah diberikan.
10. Pasien sudah mengerti kunjungan ulang pasca pemasangan implant