B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
1) Data subjektif
a) Identitas Klien (1) Nama
Identitas dimulai dengan nama pasien, yang harus jelas dan lengkap seperti: nama depan, nama tengah dan nama belakang agar tidak tertukar dengan pasien lain yang mungkin namanya sama.
(Matondang,dkk.2009.h;5) (2) Umur
Untuk mengetahui umur klien. Pada umur 20-35 tahun merupakan masa-masa reproduksi sehingga rentan terjadi kehamilan. Pada wanita berumur lebih dari 35 tahun memiliki resiko tinggi apabila terjadi kehamilan, sehingga disarankan memakai alat kontrasepsi dengan tujuan untuk mengakhiri kesuburan.
(Hartanto,Hanafi. 2003.h;31). (3) Agama
Diberbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi.Sebagai contoh penganut katolik yang taat membatasi pemilihan alat kontrasepsi mereka pada KB alami. Sebagai pemimpin islam mengklem bahwa sterilisasi dilarang sedangkan sebagian lainnya mengijinkan. Walaupun agama islam tidak melarang metode kontrasepsi secara umum, para akseptor wanita mungkin berpendapat bahwa pola perdarahan yang tidak teratur yang disebabkan sebagai metode hormonal akan sangat menyulitkan mereka selama haid, mereka dilarang bersembahyang. Di sebagian, wanita Hindu dilarang mempersiapkan
makanan selama haid sehingga pola haid yang tidak teratur dapat menjadi masalah. (Handayani. 2010.h;17).
(4) Suku bangsa
Semua tenaga kesehatan yang memberi pelayanan kepada wanita di klinik keluarga berencana atau tempat lain perlu memahami sikap mereka sendiri, serta sikap mereka terhadap jenis etnik. (varney.2007.h;414)
(5) Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan menggunakan keluarga berencana tapi juga pemilihan suatu metode. Dihipotesiskan wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil resiko yang terkait dengan sebagian metode kontrasepsi. (Handayani.2010.h;17). Pendidikan ditanyakan untuk mengetahui tingkat pendidikan pasien, karena akan membantu dalam penyampaian konseling terhadap pasien dan pemahaman pasien dalam merawat kontrasepsi yang digunakan. (Saefuddin.2006.h;U-3)
(6) Pekerjaan
Tinggi rendahnya sosial dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia akan mempengaruhi
perkembangan dan kemajuan program keluarga berencana di Indonesia.
Contoh : keluarga dengan penghasilan cukup akan lebih mampu, mengikuti program keluarga berencana dari pada keluarga yang tidak mampu, karena bagi keuarga yang kurang mampu, keluarga berencana bukan merupakan kebutuhan pokok. (Handayani.2010.h;17).
Calon pengguna implant ditanyakan pekerjaan untuk mengetahui jenis pekerjaan apakah ringan, sedang, atau berat karena efek samping implant adalah terjadinya ekspulsi, dan ekspulsi bisa terjadi akibat bekerja terlalu berat.
(Varney.2007.h;31) (7) Alamat
Tempat tinggal merupakan informasi yang penting dipastikan. Karena apabila seorang wanita tidak memilki tempat tinggal/tinggal dipenginapan, maka hal ini dapat menghambat tenaga medis dalam melakukan kunjungan ulang kerumah dan kepedulian klien dalam memperhatikan KB implant yang digunakannya. (Varney.2007.h;31)
b) Alasan datang
Untuk mengetahui alasan pasien tersebut mengunjungi tempat pemeriksaan. (varney.2007.h;32).
c) Keluhan utama
Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang diinginkan oleh pasien, misalnya :
(1) Ibu menginginkan kontrasepsi yang reversibilitas tinggi.
(2) Ibu menginginkan alat kontrasepsi yang efektifitasnya tinggi.
(3) Ibu menginginkan alat kontrasepsi yang dapat dipakai 2 sampai 5 tahun (untuk jangka panjang). (4) Ibu menginginkan alat kontrasepsi yang tidak
memghabat air susu ibu. (varney.2007.h;32)
(5) Ibu menginginkan alat kontrasepsi yang memiliki riwayat penyakit kanker payudara, kanker hati, hipertensi, jantung dan diabetes mellitus.
(Hanafi.2004.h;182) d) Riwayat kesehatan
(1) Penyakit sistemik yang pernah diderita
Wanita yang pernah memiliki riwayat penyakit kanker payudara tidak dapat menggunakan kontrasepsi hormone karena hormone progesterone yang terdapat pada kontrasepsi implant dapat meningkatkan pembesaran payudara, wanita dengan penyakit mioma uterus tidak dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi implant karena dapat
memicu pembesaran miom uterus, intoleransi gula seperti diabetes mellitus juga tidak dapat menggunakan KB implant karena dapat meningkatkan kadar gula dalam tubuh.
(Saefuddin.2006.h;MK-55).
(2) Penyakit yang pernah diderita keluarga
Dikaji untuk mengetahui apakah orang tua, saudara atau suami ada yang menderita kanker payudara, diabetes mellitus atau hipertensi karena kemungkinan penyakit turunan dan merupakan kontra indikasi dari KB implant. (Hanafi.2004.h;182) (3) Penyakit gynekologi
Pada penderita penyakit ginekologi seperti mioma uteri atau kanker payudara tidak diperkenankan menggunakan KB Implant, karena hormon progesteron yang ada di kandungan batang implant dapat meningkatkan pembesaran mioma uteri atau kanker payudara dan termasuk kontra indikasi dari KB implant. (Varney.2007.h;485)
e) Riwayat menstruasi (1) Menarche
Menurut teori varney (2007.h;107-108) menarche perlu dikaji untuk mengetahui kapan datangnya menarche yang pertama, karena datangnya
menarche yang dini <10 tahun dapat memiliki kecenderungan penyakit payudara.
(2) HPHT
HPHT perlu dikaji untuk mengetahui apakah klien dalam keadaan hamil atau tidak karena jika hamil merupakan kontra indikasi dalam pemasangan KB Implant. (Saefuddin.2006.h;MK-60)
(3) Siklus
Untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan pada siklus haid.Pada wanita yang mengalami gangguan siklus haid tidak diperbolehkan menggunakan kontrasepsi implant,karena kerja hormon progesteron dengan jangka panjang dapat menyebabkan perubahan siklus haid sehingga ditakutkan klien tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi. (Saefuddin.2006.h;MK-55)
(4) Lama menstruasi
Lamanya menstruasi perlu dikaji untuk mengetahui berapa hari klien menstruasi karena efek samping pemakaian KB implant yaitu haid lebih lama dan banyak, perdarahan bercak (spotting) antar menstruasi. (Saefudin.2006.h;MK-54).
(5) Disminorhea
Pada pemakaian kontrasepsi progestin salah satu keuntungan kontrasepsi KB implant dapat mengurangi nyeri haid. (Saefuddin.2006.h;MK-54) (6) Flour albus
Pada pemakaian kontrasepsi KB Implant, hormone progestin tidak terjadi peningkatan flour albus.
(Hanafi.2004.h;124)
f) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu (1) Abortus
Dikaji apakah ibu pernah memiliki riwayat abortus atau tidak, kapan waktu terjadi abortus karena salah satu indikasi kontrasepsi KB implant adalah pasca abortus atau pasca keguguran.
(Saefuddin.2006.h;MK-55) (2) Persalinan
Dikaji untuk mengetahui apakah dalam riwayat persalinan pasien pernah mengalami hipertensi, jantung, karena ini salah satu kontra indikasi dari KB implant. (Hanafi.2004.h;182)
(3) Nifas
Mengkaji nifas yang lalu, masa nifas ini berkaitan dengan masa menyusui, sedangkan pada keuntungan atau indikasi penggunaan KB implant salah satunya adalah ibu menyusui yang ingin
menggunakan kontrasepsi. (Saefuddin.2006.h;MK-54)
g) Riwayat perkawinan
Perlu dikaji karena untuk mengetahui batas usia reproduksi. Pada usia 20 tahun dianjurkan untuk menundan kehamilan, usia 20-30/35 untuk menjarangkan kehamilan, dan usia 35 tahun untuk mengakhiri kesuburan. Jika usia sudah melewati masa reproduksi merupakan kontra indikasi dalam pemasangan implant. (Hartanto,Hanafi.2004.h;30-31) h) Riwayat Kontrasepsi
Dikaji untuk mengetahui pengalaman pasien dalam pengguanaan kontrasepsi sebelumnya ini akan membantu klien dalam menilai keperluan penerimaan kontrasepsi selanjutnya dengan mengetahui efek samping yang terjadi dan keefektifitasan dari KB yang akan digunakan sekarang. (Mitayani.2011.h;03)
i) Riwayat kebutuhan sehari-hari (1) Pola Nutrisi
Berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi KB implant yaitu adanya peningkatan berat badan dan nafsu makan bertambah karena hormone progesterone dapat memicu nafsu makan sehingga perlu diperhatikan pola makan yang teratur. (Saefuddin.2006.h;MK-59).
(2) Aktivitas
Pasca pemasangan kontrasepsi KB implant dapat beraktivitas tetapi jangan terlalu berat terutama pada daerah lengan yang telah dipasang implant karena dapat menyebabkan ekspulsi pada kapsul implant. (Saefuddin.2006.h;MK-58 )
(3) Pola personal hygiene
Kontrasepsi KB implant dalam pemasangan dilakukan pembedahan, sehingga bekas luka insisi harus dirawat dengan baik dan benar serta jaga kebersihannya untuk mencegah terjadinya infeksi pada bekas luka insisi. (Hanafi.2004.h;182)
j) Keadaan psikososial, cultural dan spiritual (1) Psikososial
Apakah sudah ada persetujuan untuk menggunakan KB implant atau belum, yang menyatakan bahwa calon akseptor KB implant telah mengerti perihal tentang KB implant dan dengan suami telah memutuskannya. (Hartanto.2004.h;297)
(2) Kultural
Kebudayaan adalah pola fikir dan keyakinan masyarakat tentang suatu hal berhubungan dengan kesehatan, salah satunya kontrasepsi yang akan digunakan. (Varney.2007.h;45).