BAB III Data Mengenai Para Perupa di Bandung
3.1 Data Perupa di Bandung
Perupa terdiri dari para praktisi seni rupa termasuk kritikus, sejarawan dan teoritisi, serta dosen dan pengajar seni. Berikut ini adalah uraian mengenai masing-masing perupa terdiri dari para perupa yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia, dengan urutan nama yang disusun secara alfabetis:
A
Abay Subarna
Abay Subarna adalah salah satu perupa Bandung yang turut memperkuat trend seni lukis kaligrafis islami di Indonesia yang mulai tumbuh di awal dekade 1970-an. Abay pernah tinggal beberapa lama di Paris untuk menyelesaikan studi doktoral di Universitas Sorborne (1976-1983). Seni rupa dan arsitektur Islam, yang merupakan bidang studi akademiknya sangat memberikan warna dalam karirnya sebagai seorang pelukis.
Keakraban penelitiannya terhadap kaligrafi Islam telah sangat mudah mengimbas ke dalam karya seni lukisnya. Hal ini didukung dan dimungkinkan pula oleh bentuk dan gaya seni lukis abstrak yang berkembang di Bandung. Kekhasan bentuk abstrak seni lukis Bandung membuat gaya seni lukis kaligrafis islami dapat tumbuh dan berkembang secara serasi.
Dalam karyanya yang berjudul “Ayat Suci Berlatar Bongkah-Bongkah Bernuansa” dapat dicermati bagaimana kepiawaian Abay dalam mengolah kaligrafi dan unsur-unsur rupa. Karya ini terdiri dari empat baris tulisan Arab yang diambil dari kutipan ayat Al Quran yang disusun menghampar secara simetris di tengah bidang lukisan berbentuk bundar. Bidang bundar tersebut didominasi oleh retakan-retakan yang tampak menyerupai retakan tanah liat
yang diberi warna putih. Pada beberapa bidang nampak warna putih tersebut agak kecoklatan, sementara pada bagian lain terutama di sekitar huruf Arab warna putih yang dominan tersebut agak berwarna kebiru-biruan. Huruf Arab dari ayat suci sendiri berwarna keemasan. Pertimbangan formal tampak begitu kuat. Dalam lukisan ini dapat disaksikan adanya tertib rupa dalam bongkahan atau retakan dan ayat-ayat Al Quran.
Ayat-ayat suci Al Quran dengan jelas membawa pikiran ke dalam suasana islami. Pemahaman terhadap Al-Quran dan penghayatan terhadap ajaran Islam sangat menentukan kualitas dan makna dari lukisan-lukisan kaligrafis islami. Penghayatan Abay Subarna terhadap agama Islam yang dianutnya serta didukung pula oleh latar belakang pendidikannya menjadikan lukisan kaligrafis islami yang ditekuninya tidak berhenti pada ikon-ikon keagamaan semata.
Abay Subarna lahir d Limbangan, Garut, Jawa Barat. Setelah meraih gelar kesarjanaan dari Jurusan Seni Rupa ITB tahun 1969, Abay melanjutkan pendidikan di Universitas Sorborne, Paris, Perancis. Abay sering mengikuti pameran bersama di dalam dan luar negeri. Pameran tunggalnya diselenggarakan pada tahun 1993. Di Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Abay mengajar beberapa mata kuliah teori dan sejarah seni.
Abdul Djalil Pirous
Abdul Djalil Pirous, yang terkenal dengan nama A.D. Pirous lahir pada tahun 1933 di Meulaboh, Aceh. Pada tahun 1955 ia memasuki Departemen Seni Rupa ITB. Pada tahun-tahun masa kuliahnya di ITB ia bergabung dengan Sanggar Seniman pimpinan Kartono Yudhokusumo. Setelah menyelesaikan studinya di ITB pada tahun 1964, Pirous bergabung menjadi pengajar di Seni Rupa ITB.
Pengaruh yang didapat Pirous pertama kali dalam perjalanan seni adalah gaya lukisan formalistik yang menjadi ciri khas Seni Rupa ITB pada masa-masa 1960-an. Lukisan-lukisan Pirous pada tahun-tahun tersebut
merupakan komposisi berbagai bentuk geometris yang disusun melalui pengulangan dan variasi bentuk.
Pada tahun 1969 A.D. Pirous berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar seni grafis dan desain grafis di Institut Teknologi Rochester, di Rochester, New York selama dua tahun. Setelah menyaksikan sebuah pameran tentang seni rupa Islam dari Timur Tengah yang digelar di Museum Seni Metropolitan, New York, Pirous mulai terilhami untuk mengeksplorasi kaligrafi Arab sebagai medium ekspresi baik dalam seni lukis maupun seni grafis.
Ketika melanjutkan studi di Amerika tersebut, Pirous mulai membuat etsa dengan menampilkan berbagai macam tekstur. Dalam periode ini dan setelah menyaksikan pameran seni kaligrafi Islam di New York tumbuh kerinduannya pada simbolisme dalam akar budaya tanah kelahirannya Aceh. Aceh dikenal dengan warisan budaya Islam yang sangat kaya. Karyanya yang dibuat pada tahun 1970 dengan teknik etsa mulai menampilkan kutipan ayat-ayat Al-Quran.15
Sekembalinya ke Indonesia, Pirous mulai bekerja sebagai desainer grafis dan kemudian mengepalai bagian desain grafis dari Seni Rupa ITB. Sampai sekarang Pirous aktif melukis disamping sebelumnya telah dikenal sebagai pegrafis. Pirous juga dikenal sebagai seorang pendidik dan pelopor bidang desain grafis di Indonesia.
Penemuan kembali tradisi budaya merupakan langkah yang signifikan dalam kerja seninya. Sejak itu Pirous secara konsisten mengguanakan kaligrafi Arab sebagai medium ekspresi baik dalam lukisan maupun grafis. Banyak karyanya memuat kutipan ayat Al-Quran. Kualitas sesungguhnya dari karya Pirous ada pada penghayatan emosional.16 Karyanya yang berjudul “Tumbuh” terdiri dari bentuk-bentuk keemasan menyerupai huruf Arab ditempatkan
15 Furuichi, Yasuko (ed); Diverse Development in Indonesia, the Philipines, and Thailand. Tokyo: The Japan Foundatio n Asia Center; hal 216.
16
Supangkat, Jim; 1993; AD Pirous; Katalog The Fisrt Asia-Pasific Triennial of Contemporary
secara vertikal di tengah kanvas, nampak seperti sesuatu yang tumbuh dari dasar kanvas.
Di bidang desain Pirous bersama rekan-rekannya di Seni Rupa ITB pada tahun 1973 mendirikan studio Decenta. Decenta adalah kependekan dari Design Center Association atau Perserikatan Pusat Desain dalam Bahasa Indonesia.
Pirous telah berpameran di dalam dan luar negeri, serta telah mendapatkan penghargaan di antaranya medali perak pada Seoul International Art Competition pada tahun 1984, kemudian penghargaan seni untuk seni rupa kontemporer di Jakarta pada tahun 1985.
Aceng Arif
Aceng Arif adalah pelukis yang telah banyak memiliki pengalaman dalam seni lukis pada tahun 1960-an dan 1970-an. Sebagai pelukis, ia pernah belajar dan mencari pengalaman di Kopenhagen, Denmark, dan sempat memamerkan karya-karyanya di beberapa kota di Indonesia, negara-negara Asia lainnya, dan Eropa. Setelah berumahtangga, Aceng memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan berkesenian. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri pada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat. Setelah beberapa lama ia memutuskan untuk kembali melukis pada tahun 1989.17
Dalam sebuah pameran yang diselenggarakan pada tahun 1989, Aceng memamerkan lukisan-lukisannya yang ia beri judul hanya dengan huruf, dari A sampai Z, lalu AB, AC dan seterusnya. Dalam lukisan-lukisannya tersebut Aceng menjelajahi tekstur dengan ketebalan cat, torehan, dan tempelan tekstil semacam bahan karung atau goni. Ia juga memanfaatkan lelehan cat, lubang, jahitan, dan kaca cermin. Berbagai efek tampak acak, informal. Tetapi selalu ia dapat merangkumnya, membenahinya dalam tata rupa yang tertib, apik dan bersih. Bahkan tempelan tekstil yang tebal dan kasar itu menjadi apik dan rapi, dengan kerutan-kerutan yang beraturan.
17
Kritikus seni rupa terkemuka Almarhum Sanento Yuliman menuliskan interpretasi mengenai lukisan Aceng Arif dalam tulisan kritiknya di Mingguan Berita Tempo sebagai berikut:
Karya-karya Aceng Arif memberikan kesan terlalu dikemas, memperlihatkan kadar keberaturan yang jelas, sering pada tingkat di mana orang sukar merasakan hidup dan kehangatan. Aceng juga menggunakan bermacam bentuk bingkai diantaranya berupa lingkaran, belah ketupat, bentuk menyerupai kupu-kupu, bingkai yang sisi atasnya lebih panjang dari sisi bawah dan sebagainya. Lukisannya yang berjudul AE, kaya dengan bintik atau bercak warna-warni (emas, hijau, merah, dan lain-lain) mengingatkan kepada karya Aceng di masa lalu, tetapi nampak lebih matang, lebih terolah dan terkendali. Sejumlah lukisan Aceng lainnya dapat dikenali sebagai pemandangan alam, misalnya menyajikan pegunungan dengan guratan atau coretan-coretan putih, emas, merah, hijau, kuning turun dari puncak. Lukisan-lukisan tersebut orisinal, hidup, dan menarik oleh kadar khayal yang ditampilkannya.18
Aceng Arif lahir di Tasikmalaya tahun 1937. Lulus dari Departemen Perencanaan dan Seni Rupa ITB pada tahun 1967. Setelah itu melakukan studi lanjutan di Jurusan Seni Lukis pada Royal Academy Copenhagen, Denmark pada tahun 1971. Aceng Arif telah beberapa tahun tinggal di luar negeri dan mendapatkan banyak pengalaman kesenirupaan. Sampai sekarang bekerja di Bagian Perencanaan Pembangunan pada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat. Sejak tahun 1972 sampai sekarang memberi kuliah seni rupa di Universitas Trisakti Jakarta.
Achmad Sadali
Ahmad Sadali adalah salah seorang pelukis terkemuka Indonesia yang juga perintis seni lukis abstrak di Indonesia. Selain itu ia dikenal pula sebagai seorang cendekiawan muslim dengan aktivitasnya dalam bidang sosial dan kemasyarakatan diantaranya sebagai Ketua Yayasan Pembina Masjid Salman ITB dan juga salah seorang pendiri Universitas Islam Bandung (Unisba).
Seni lukis Sadali berciri meditatif, simbolik dan sekaligus ekspresif. Sadali secara jelas menampakkan keseimbangan dalam lukisannya yang nampak didasari perhitungan yang cermat tanpa meninggalkan getaran
perasaan yang terekam dalam tarikan garis atau torehan spontan. Selain itu lukisan-lukisannya menampakkan pola-pola geometris, gunungan serta warna-warna dan bentuk yang syarat makna. Kemusliman Sadali juga menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan lukisan abstraknya. Gaya seni lukisnya ini bermula dari tahun 1968. Ia sendiri sering menyebut gaya lukisannya sebagai “abstrak meditatif” karena lukisannya memang lebih banyak berperan sebagai objek kontemplasi dan perenungan.19
Mengenai lukisan Sadali, kritikus seni rupa terkemuka Almarhum Sanento Yuliman dalam sebuah tulisan kritiknya menguraikan deskripsi sebagai berikut:
Permukaan lukisan Sadali sering diisi dengan bidang, batang, lempengan, torehan (geometris), bundaran, gunungan, bentuk terpecah, goresan keratan, noktah, bongkah, sisa-sisa (emas), tekstur, jalur-jalur serta simbol-simbol. Sadali memberi judul karya-karyanya langsung mengatakan yang disajikannya. Sebagai contoh karyanya yang berjudul “Empat Batang Melingkar Bersisa Emas, Latar Hijau Daun”. Yang terlihat memang empat batang yang disusun berkeliling menjadi segi empat. Pada batang-batang itu tampak sisa emas, berlatar hijau daun. Pada karya tersebut yang tampak sederhana, penglihatan tidak meluncur cepat mengikuti “sapuan lebar” yang membentuk batang. Berbagai ciri pada batang ini menahan penglihatan, hingga bergerak lambat, memperhatikan garis-garis pinggir yang sangat bervariasi, cat yang bertumpuk dan menebal di sana-sini, tekstur dan sebagainya. Penglihatan juga ditawan untuk memperhatikan hubungan antara sosok batang itu satu sama lain, antara sosok, latar dan format bidang.20
Lebih jauh Sanento memberikan interpretasi dan evaluasi atas karya-karya Sadali sebagai berikut:
Karya Sadali mempunyai sifat membawa penglihatan untuk berperilaku tenang dan merenungi. Kehadiran “sisa emas” menambah sifat ini. Kilau yang terang dan jernih ini berlawanan dengan warna sekitarnya yang cenderung redup: coklat, biru, hijau, merah tua, oker putih dan lain-lain. Kilau ini adalah “sisa-sisa” pada bidang, batang, atau bongkah yang tampak pecah tak beraturan, terkadang tampak kemilau. Emas yang tersisa, yang bertahan, atau yang pecah berantakan itu dapat ditafsirkan sebagai kejayaan, kekuasaan atau
18 Yuliman, Sanento; Yang Bertahan, Pergi, Balik Kembali; Mingguan Berita Tempo, 8 Juli 1989, Hal 67.
19 Yustiono; Achmad Sadali, Perintis Seni Lukis Abstrak Indonesia, dalam Mengenang Perintis Seni Rupa Indonesia; Katalog Pameran; Bandung: IA-ITB; hal 47.
20
Yuliman, Sanento; Ayat Quran dan Sosok Batang; Mingguan Berita Tempo, 12 September 1987; hal 69.
terang rohani. Unsur lain yang terdapat dalam sejumlah lukisan Sadali adalah tulisan Arab, sehingga terdapat dua unsur yang atau dua macam faktor yang hadir bersama. Yaitu unsur atau faktor rupa dan unsur atau faktor kata. Hubungan atau interaksi antara kedua unsur atau faktor tersebut akan sulit dalam membentuk pengertian yang bulat apabila pengutamaan budidaya rupa mengabaikan pertalian semantik antara rupa dan kata dalam lukisan.21
Dalam sebuah tulisan mengenang Almarhum Sadali, kritikus seni rupa Yustiono menyebutkan adanya lima tahapan atau periode dalam perjalanan kesenian Sadali.22 Tahap pertama berupa upaya abstraksi pribadi yang berlangsung antara tahun 1949-53. Dalam masa ini sebagai mahasiswa Sadali bertolak dari cara melukis yang diajarkan kepadanya. Sebagaimana mahasiswa lainnya ia melukis pemandangan, alam benda, figur dan kombinasi dari ketiganya. Kemudian dalam tahap kedua yang meliputi masa antara 1953-56, lukisan telah diperlakukan sebagai “alam baru”. Tahap ini merupakan tahap yang semakin mendekat ke arah seni lukis abstrak. Tahap berikutnya meliputi tahap antara 1957-62. Karya-karyanya pada masa ini masih menampakkan objek alam dalam gaya yang mendekati Jacques Villon. Kecenderungan pada gaya Villon pada masa itu merupakan kecenderungan umum pada para pelukis hasil didikan Ries Mulder. Tahap keempat yang meliputi rentang waktu 1963-68 merupakan masa eksperimen pada bentuk lukisan yang sama sekali tidak menampilkan objek alam. Pada masa ini nampak kecenderungan pada gaya deStijl. Pada periode ini karyanya sangat sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh situasi politik yang tidak menentu. Tahap kelima merupakan masa paling panjang dan berlangsung antara 1968-87. Pada periode inilah Sadali mulai memasukkan unsur tulisan Arab dalam lukisan-lukisannya, selain penggunaan unsur tekstur dan warna emas yang menjadi ciri khas lukisannya. Tahap kelima ini juga menampakkan keragaman bentuk yang kaya dan menjadi bukti vitalitas Sadali.23
21 Yuliman, Sanento; Ayat Quran dan Sosok Batang; Mingguan Berita Tempo, 12 September 1987; hal 69.
22
Yustiono, Op. Cit.; hal 37
23
Achmad Sadali lahir di Garut pada tanggal 27 Juli 1924. Memperoleh pendidikan seni rupa di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB), kemudian menempuh pendidikan lanjutan di Iowa State University, setelah itu di Art Student League, New York; dan Columbia University, semuanya di Amerika Serikat. Sadali mengabdi sebagai dosen tetap di ITB. Berbagai jabatan di lingkungan ITB telah diembannya mulai dari Ketua Jurusan Seni Rupa, Dekan Fakultas Perencanan dan Seni Rupa sampai dengan Pembantu Rektor Urusan Kemasyarakatan. Pada tahun 1972 Sadali diangkat sebagai Guru Besar Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Profesor Achmad Sadali wafat di Bandung pada tanggal 17 September 1987. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia kesenian di Indonesia.
Angkama Setjadipradja
Di antara para pendidik seni rupa terkemuka di Indonesia terdapat nama Angkama Setjadipradja. Selain sebagai pendidik, Angkama adalah seorang seniman serba bisa. Sebagai pelukis, ilustrator, pencipta lagu anak-anak dan penulis artikel atau cerita pendek, nama Angkama sudah dikenal sejak tahun 1930-an. Sekitar tahun 1960-an namanya sudah tidak asing lagi bagi pengamat seni rupa di tanah air. Tetapi nama Angkama sebagai seniman mulai meredup di masa-masa menjelang akhir hayatnya. Tatkala meninggalnya di tahun 1984, namanya sebagai seniman sudah terlupakan.24
Ciri khas Angkama sebagai pelukis adalah melukis secara langsung melihat obyeknya. Baik benda alam maupun pemandangan kota, sawah, perkampungan, dan manusia selalu dilukis dengan cara demikian. Cara-cara seperti ini sebenarnya telah dia lakukan sejak duduk di bangku sekolah. Setelah menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Jurusan Seni Rupa di Bandung pada tahun 1950, Angkama mulai berkenalan dengan aturan-aturan dan metode baru dalam melukis. Di perguruan tinggi seni tersebut Angkama mendapat pelajaran
teori tentang komposisi warna, anatomi, bentuk, ruang, tekstur dan lain sebagainya. Di situ pulalah Angkama mulai berkenalan dengan perkembangan seni rupa dunia. Karya-karya para pelukis impresionis kemudian berpengaruh pada pribadi Angkama sebagai pelukis.25
Bersama pelukis Abedy, R. Waluyo dan Sukondo Bustaman, pada tahun 1953 Angkama mendirikan perkumpulan pelukis Bandung yang diberi nama “Tjipta Pantjaran Rasa” atau TPR.26 Ketika menjadi ketua perkumpulan ini, nama Angkama sebagai pelukis mulai terkenal. Dari beberapa pameran bersama pelukis Bandung lainnya, karya Angkama sering menjadi pusat perhatian.
Tahun 1961 untuk pertama kalinya Angkama mengadakan pameran tunggal yang bertempat di Balai Budaya, Jakarta. Pameran ini mendapat perhatian yang memuaskan dari masyarakat. “Star Weekly,”sebuah majalah bergengsi pada masa itu, menulis resensi tentang pamerannya. Dikatakan oleh Oei Sian Yok penulis resensi tersebut, bahwa Angkama adalah seorang pelukis impresionisme yang telah banyak dipengaruhi oleh Duffy dan Bonnard. Meski demikian, Angkama telah berhasil mengolahnya sedemikian rupa sehingga di dalam lukisannya masih terasa gaya dan ciri khas kepribadian pelukisnya. Dalam lukisannya yang bertemakan pemandangan, bunga, alam benda dan lain sebagainya dia banyak menggunakan warna-warna segar, meriah yang dipertegas oleh kontur-kontur yang kuat. Begitu pula lukisannya yang menggambarkan kebun dan pohon-pohon yang hijau, bunga-bunga yang beraneka warna, telah memberikan kesan yang serba teratur dan menyenangkan serta bersifat ringan. Dengan menggunakan teknik itu, dia mampu pula menangkap suasana riang gembira, seperti lukisannya yang berjudul “Situ Aksan.”
24 Suadi, Haryadi; Angkama Setjadipraja, Seniman Serba Bisa yang Terlupakan, dalam Mengenang Perintis Seni Rupa Indonesia; Katalog Pameran; Bandung: IA-ITB; hal 89.
25
Ibid, hal 103.
26
Angkama Setjadipradja lahir di Ciamis pada tanggal 5 Oktober 1913. Menempuh pendidikan seni rupa di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB) setelah sebelumnya telah mengenyam pendidikan guru dan bekerja sebagai guru. Angkama kemudian bekerja sebagai dosen di Seni Rupa ITB. Angkama wafat pada tanggal 8 Juli 1984 di Bandung.
B
Bambang Ernawan
Karya-karya Bambang Ernawan menampakkan kecenderungan formalistik. Bambang seringkali menggunakan media campuran dalam karyanya. Salah satu medium yang biasa ia gunakan adalah kaca. Menurutnya medium mengilhami terwujudnya gagasan. Penampilan medium diharapkan dapat mendorong dan menumbuhkan imajinasi seseorang pada masalah kesederhanaan tersebut.
Bentuk segitiga adalah bentuk-bentuk yang seringkali muncul dalam karyanya. Dalam karyanya yang berjudul “Tembaga Dalam Segitiga” 1994 tampak gubahan bentuk yang simetris dengan pokok utama bentuk segitiga, sebagaimana yang disebut dalam judul. Bentuk geometris yang terukur sangat dominan terutama dengan adanya garis yang membentuk segitiga tersebut. Terdapat segitiga utama pada bagian tengah yang terbagi dua. Di dalam bentuk segitiga yang terbagi tersebut masing-masing terdapat segitiga siku-siku yang menempel dan secara bersama-sama menyusun struktur bentuk di belakangnya. Bidang segitiga siku-siku pada bagian kiri berwarna putih dengan aksen warna tembaga pada bagian kanan. Sedangkan bidang segitiga siku-siku kanan berwarna tembaga dengan aksen warna oranye. Diluar bidang segitiga utama tersebut masing-masing di kanan dan kiri terdapat garis-garis diagonal. Garis di sebelah kiri sejajar dengan sisi segitiga bagian kiri. Begitu pula sebaliknya. Di ujung kiri serta di sisi kiri segitiga utama terdapat garis yang tidak beraturan yang nampaknya dibuat sengaja untuk mengganggu atau bahkan untuk
mendukung gubahan secara keseluruhan. Warna yang digunakan adalah warna putih dengan beberapa bagian putih redup.
Hal yang bisa ditangkap dari gubahan ini adalah kuatnya tertib rupa. Perupa dengan gaya ungkap formalistik seperti ini cenderung untuk membuat perhitungan yang matang ketika mempertimbangkan komposisi atau gubahan yang dibuatnya. Bambang Ernawan lahir di Bandung 11 Agustrus 1954. Menyelesaikan program sarjana dan magister seni di Jurusan Seni Murni FSRD ITB. Saat ini Bambang mengajar di Studio Seni Lukis pada Jurusan Seni Murni, FSRD ITB.
Barli Sasmitawinata
Barli Sasmitawinata, merupakan perupa senior Bandung yang sering menampilkan sosok atau figur dan tema-tema alam benda. Dalam penggambaran karya-karyanya, Barli mempergunakan corak realistis maupun naturalistis. Corak tersebut secara keseluruhan lebih dramatis bila dilihat dari cara penggambaran sosok. Hampir semua karya Barli yang menggambarkan orang tua memperlihatkan ciri yang sama secara keseluruhan. Ciri yang sama tersebut pada karya-karya drawing misalnya terlihat dari tarikan garis maupun arsiran. Sedangkan pada lukisan Barli selalu menutup seluruh bidang kanvas dengan cat. Pemandangan alam merupakan tema yang jarang dilukis oleh Barli, karena ia merasa kuatir dirinya akan hanyut oleh perasaan romantis bila selalu melukiskan pemandangan alam di atas kanvas, yang pada kenyataannya sulit dijangkau.27
Barli mulai melukis pada tahun 1935 dalam usia 14 tahun, pada masa dimulainya seni lukis Indonesia modern yang lahir dan berusaha menemui situasi historisnya, serta melihat dan mempersoalkan dirinya dalam perspektif sejarah. Tetapi semua hal tersebut tidak luput dari pengaruh Barat, seperti teknik seni lukis, kanvas dan cat minyak, disamping lukisan-lukisan yang menggambarkan suasana pemandangan alam Indonesia dengan banyak
keindahannya yang banyak dibuat oleh para pelukis Indonesia. Lain halnya dengan Barli dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Kelompok Lima yang terdiri dari Afandi, Barli, Hendra, Sudarso dan Wahdi. Mereka membuat lukisan bersuasana sehari-hari yang ditemuinya. Gaya melukis seperi ini masih digunakan Barli sampai dengan saat ini.
Barli Sasmitawinata dilahirkan di Bandung pada tahun 1921. Setelah menyelasaikan HIS dan MULO, Barli berguru pada seorang pelukis Belanda Yos Pluimentz. Selain itu Barli juga belajar pada pelukis Luigi Nobili yang juga seorang guru gambar asal dari Italia. Barli belajar dengan tekun sejak