• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

D. Data Peserta Didik PAUD di Desa Namoriam

Tabel berikut akan membuat gambaran tentang usia anak yang belajar di PAUD:

Tabel 15. Usia anak yang belajar di PAUD No. Usia anak Frekuensi Persen

I. 1 Tahun 0 0 2. 2 Tahun 0 0 3. 3 Tahun 2 6,7 4. 4 Tahun 6 20 5. 5 Tahun 5 16,6 6. 6 Tahun 17 56,7 Jumlah 3 100

Sumber : Hasil penelitian 2008 \

Pada tabel 13 diatas dapat diketahui bahwa usia anak yang belajar di PAUD ada 30 orang. Dimana masing-masing anak memiliki usia yang berbeda-beda. Anak yang berusia 3 tahun sebanyak 2 orang (6,7%). Anak yang berusia 2 tahun ini lebih banyak belajar huruf dan angka. Anak yang berusia 4 tahun sebanyak 6 orang (20%), anak yang berusia 5 tahun sebanyak 5 orang (16,6%) dan anak yang berusia 17 tahun sebanyak 56,7 tahun. Anak yang berusia 4 sampai

dengan 6 tahun ini adalah anak yang serius belajar dalam membaca dan menulis.

Dari jumlah keseluruhan anak usia dini di Namoriam sebanyak 167 orang, namun hanya 30 orang yang belajar di PAUD. Hal ini disebabkan jarak yang jauh antar dusun yang satu dan yang lainnya, orang tua yang tidak dapat meluangkan waktunya untuk mengantar anaknya ke PAUD dan transportasi yang tidak memadai. Sehingga, peserta PAUD adalah anak-anak usia dini yang berada di sekitar lokasi PAUD.

Tabel dibawah ml juga akan menggambarkan junilah anak yang sering hadir mengikuti pelajaran PAUD di Desa Namoniam.

Tabel 16. frekuensi anak yang hadir untuk belajardi PAUD Desa Namoriam

No Kategori Frekuensi Persen

1 Tidak 0 0

2 Jarang 3 10

3 Sering 9 30

4 Selalu hadi 18 60

Jumlah 30 100

Sumber : hasil Penelitian 2008

Dan data diatas dapat disimpulkan bahwajumlah anak yang selalu hadir mengikuti pelajaran di PAUD Desa Namoriam yaitu yang jarang hadir sebanyak 3 orang (10%), yang sering hadir mengikuti pelajaran sebanyak 9 orang (30%) sedangkan yang selalu hadir sebanyak 18 orang (60%).

Berikut foto-foto kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Namoriam Kec. Pancur Batu yaitu:

Gambar 1. Anak-anak PAUD di Desa Namoriam

Gambar di atas adalah gambar anak-anak yang belajar di PAUD Desa Namoriam di depan gedung Desa Siaga Namoriam. Dimana letak gedung Desa Siaga tidak jaub dan balai Desa Namoriam.

Gambar di atas adalah gambar anak yang belajar membaca di Baiai Desa Namoriam. Seorang petani perempuan mengajar beberapa orang anak membaca buku yang diberikannya.

Gambar 3. Kelompok PAUD sedang menggambar

Gambar 4. Kelompok PAUD sedang menggambar

Gambar diatas menggambarkan salah satu kelompok anak yang sedang menggambar. Anak yang berjumlah 30 orang tersebut di bagi menjadi 5 kelompok dan tiap kelompok terdiri dan 6 orang anak. Tiap kelompok di sebar ke tempat-tempat yang mereka sukai sendiri. Pelajaran menggambar ini biasanya dilakukan di luar ruang balai Desa. Biasanya anak-anak ditugaskan menggambar apa yang

mereka lihat di sekitar desa. Hal ini dimaksudkan agar anak mengenal lingkungan desa mereka sendiri dengan baik.

Gambar 5. Buku bahan ajar PAUD Desa Namoriam

Buku-buku yang menjadi pegangan petani perempuan untuk mengajar anak-anak usia dini di letakkan di Kantor Kepala Desa. Buku-buku ini diberikan oleh Dinas P&K setelah mereka memberikan pelatihan kepada petani perempuan yang mengajar anak-anak usia dini. Bukan hanya Dinas P&K saja yang memberikan buku-buku kepada pengajar di Desa Namoriam tetapi ada juga simpatisan yang menyalurkan bantuan berupa buku pelajaran untuk anak usia dini ke Desa Namoriam. Salah satu yang sering memberikan bantuan berupa buku adalah mahasisiwa yang datang berkunjung ke Desa ataupun yang melakukan penelitian di Desa. Buku-buku yang diberikan tidak harus baru tetapi bisa juga

buku bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk menambah ilmu anak-anak.

Gambar 6. Seorang anak menunjukkan hash karyanya

Seorang anak yang bernama Imelda Br. Karo sekali yang belajar di PAUD Desa Namoriam menunjukkan hasil karyanya. Anak ini sudah belajar di PAUD selama 7 bulan.

Dengan dicanangkannya program Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang yaitu Cerdas (Percepatan Rehahilitasi dan Apresiasi Sekolah) dan program GMPP (Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan) kepada masyarakat. memberikan dampak yang positif kepada masyarakat. Melalui program GMPP tersebut, pemerintah kabupaten melalui kecamatan memberikan arahan kepada kepala desa untuk membuka pendidikan bagi anak usia dini dimasing-masing desanya. Kepala Desa Namoriam menyampaikan arahan tersebut kepada Ibu PKK Desa Namoriam agar bersama-sama masyarakat mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk mensukseskan program CERDAS dan GMPP.

Sejak didirikannva Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Namoriam hingga saat ini telah mengalami banyak kemajuan. Hal ini tidak terlepas dan kerjasama yang baik antara aparat pemerintahan desa dengan masyarakat Desa Namoriam Berbagi upaya dilakukan aparat pemerintahan desa untuk menghimbau masyarakat desa agar bersedia mengantarkan anaknya untuk di didik di PAUD desa Namoniarn. Upaya yang dilakukan aparat pemerintahan

desa Namoriam tersebut semata-mata untuk rnenanarnkan pentingnya pendidikan bagi masa depan kepada masyarakat desa Namoriam.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dikeluarkannya pengumurnan musyawarah desa untuk membicarakan pendirian PAUD di Desa Namoriam. Ibu PKK dan mayoritas petani perempuan desa Namoriam menunjukkan antusiasnya dengan bergabung untuk menjalankan inisi sosial mereka yaitu memberi pendidikan kepada anak-anak usia dini.

Dengan berbagai kendala dan pertimbangan yang tereksplorasi dari musyawarah desa tersebut, menghasilkan keputusan untuk mendirikan PAUD di Desa Namoriam beserta pengurus PAUD Desa Namoriam. Berdasarkan hal tersebut, maka musyawarah desa mempertimbangkan untuk mempersiapkan perangkat PAUD seperti anak usia dini yang akan helajar di PAUD, bahan ajar, alat tulis dan tempat penemuan PAUD.

Dalam memenuhi perangkat PAUD tersebut, kesulitan paling besar adalah mengupayakan tenaga pengajar PAUD di desa Namoriam. Hal ini disebabkan oleh petani perempuan yang diharapkan menjadi tenaga pengajar di PAUD masih terkendala untuk menjadi tenaga pengajar tetap PAUD. Kebanyakan dari petani perempuan tersebut harus bekerja di ladang untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonorni keluarga serta mengurus rumah tangga.

Pertimbangan obyektif yang harus diambil adalah mengupayakan petani perempuan yang dapat meluangkan waktunya untuk mengajar di PAUD pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu dimulai pukul 16.00 hingga pukul 18.00 di setiap minggunya. Dari upaya gigih yang dilakukan, maka 13 petani perempuan yang

belum menikah serta empat orang petani perempuan yang sudah menikah siap menjadi pengajar tetap di PAUD tersebut.

Petani perempuan yang belum menikah yang bersedia mengajar di PAUD juga merupakan sebagai petani pada umumnya. Mereka tidak mengalami hal yang khusus, karena mereka juga harus bekerja di ladang orang tua mereka untuk membantu perekonomian keluarga serta membantu ibunya mengurus rumah tangga. Dan kondisi Petani perempuan seperti ini mereka dapat memiliki waktu luang untuk mengajar PAUD di Desa Namoriam.

Petani perempuan yang mengajar PAUD di Desa Namoriam dan status mereka yang sudah menikah, juga tidak mengalaini kekhususan. Mereka bekerja di ladang serta mengurus rumah tangga mereka. Namun melihat betapa pentingnya pendidikan bagi dirinya dan masa depan anak-anak tersebut, mereka bersedia meluangkan waktunya untuk mengajar di PAUD. Untuk mengatasi masalah ini, mereka mengembangkan pola kerja yang berbeda. Pada saat PAUD berlangsung di Desa Namoriam pada hari Jumat hingga Minggu, mereka bekerja di ladangnya hanya dari pukul 8.00 sampai dengan pukul 14.00. Dengan demikian mereka dapat mempersiapkan diri dan pekerjaan lainnya untuk dapat meluangkan waktu mengajar di PAUD.

Dengan pola yang dikembangkan seperti ini, Petani perempuan tersebut berhasil rnendapatkan pembagian waktu yang maksirnal. Mereka tetap bekerja untuk membantu perekonoinian keluarga serta dapat meluangkan waktunya untuk mengajar PAUD. Upaya yang dilakukan ini dapat mencegah suami Petani perempuan tersebut wituk tidak memberikan ijin lagi mengajar di PAUD.

Petani perempuan yang mengajar PAUD ini rnayoritas berusia 20-25 tahun. Dalam artian bahwa usia 20-25 tahun ini dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan sifat anak usia dini. Penelitian yang dilakukan di PAUD desa Namoriarn membukt ikan bahwa usia 20-25 tahun ini merupakan usia yang energik dan produktif.

Usia yang energik dan produktif ini memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak usia dini dan PAUD di Desa Namoriam. Anak usia dini yang akif dan peduli dengan ekspresi ini seolah-olah dapat menemukan lingkungannya dengan PAUD yang memiliki pengajar yang energik dan produktif ini. Hal ini akan mendekatkan anak usia dini kepada pengajar PAUD di Desa Namoriam.

Pendidikan petani perempuan yang mengajar PAUD di Desa Namoriam memang didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini juga dipengaruhi oleh budaya yang ada di dalarn masyarakat Desa Namoriam. Mayoritas masyarakat Desa Namoriam masih menganggap pendidikan untuk anak perempuan sudah cukup hingga mengenyam pendidikan tingkat SMA. Oleh karena itu kualitas pengajar PAUD yang ada di Desa Namoriam ini tertinggi adalah tarnatan SMA.

Pendidikan petani perempuan yang mengajar PAUD ini, walaupun hanya tamatan SMA kualitasnya ternyata mampu memberikan pengajaran yang rnaksimal bagi pola pengajaran PAUD di Desa Namoriam. Selain pola pengajaran PAUD yang sederhana dan banyak diisi dengan bermain ini, mereka juga pernah dibekali Dinas P&K Kecarnatan Pancur Batu tentang pengenalan dan rnetode pengajaran PAUD. Sehingga metode PAUD yang mereka kembangkan adalah menjadikan petani perempuan tersebut sebagai pengasuh pengganti orang tua,

membimbing dan membelajarkan anak melalui pembelajaran. latihan-latihan dan permainan yang edukatif.

Sebagal pengasuh pengganti orang tua, perani perempuan tersebut menjadi figur orang tua anak usia dini di PAUD. Petani perempuan akan berperan memberikan kenyaman kepada anak usia dini dalam mengikuti PAUD ini. Upaya ini akan memudahkan interaksi antara petani perempuan terhadap anak usia dini tersebut.

Kenyamanan yang diberikan petani perempuan terhadap anak usia dini ini akan mempermudah anak usia dini dalam mengikuti seluruh kegiatan yang ada di PAUD. Anak usia dini dapat secara leluasa tanpa dibebani ketakutan dalam mengekspresikan dirinya dan mengembangkan bakatnya. Anak usia dini akan merasa lingkungan PAUD ini menjadi rumah mereka berikutnya, selain bersama kedua orang tuanya.

Kenyamanan yang diberikan oleh Petani perempuan ini akan mempermudah mereka untuk dapat membimbing anak usia dini untuk memahami pelajaran yang diberikan dan melatihnya mengembangkan talenta yang dimiliki anak usia dini. Petani perempuan akan membantu memecahkan kebuntuan anak usia dini rnengaktualisasikan dirinya dalam mencoba bereksperimen dalam mempelajari pengajaran PAUD yang diberikan, baik melalui permainan dan latihan-latihan.

Latihan-latihan yang diberikan kepada anak usia dini rnengarahkan mereka untuk dapat mamahami dan merekam materi-materi pengajaran PAUD yang diberikan. Selain daripada hal tersebut, bagi petani perempuan latihan ini akan menjadi bahan evaluasi dalam melihat perkembangan anak usia dini serta

materi PAUD yang diberikan. Petani perempuan akan dapat tetap mengembangkan pola-pola didikan PAUD rnelalui hasil latihan ini, sehingga dapat memajukan kualitas pengajaran PAUD di Desa Namoriam.

Selain pola yang dikembangkan untuk menyelenggarakan PAUD di desa Namoriam, petani perempuan memberikan pelajaran Membaca. Menulis, Berhitung, Menggambar, Bahasa Inggris serta pelajaran tata krama, materi pelajaran yang diberikan dalam PAUD ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak usia dini serta kemampuan petani perempuan yang mengajar PAUD.

Materi membaca yang diberikan adalah pengenalan huruf dan contoh kata yang sederhana. Anak usia dini akan melafalkan dan merekam gambar-gambar huruf yang ditunjukkan oleh petani perempuan tersebut. Selanjutnya anak usia dini akan diajarkan kata-kata yang sederhana sebagai bentuk penggambungan huruf-huruf yang diajarkan. Sebagai contoh, petani perempuan akan menunjukkan gambar bola dan menuliskan huruf yang ada pada kata bola, lalu secara perlahan anak usia dini akan mencoba melafalkan dan merekam pelajaran ini.

Pelajaran menulis merupakan kesatuan dengan pelajaran membaca. Setelah anak usia dini mampu melafalkan dan membaca huruf, maka pelajaran selajutnya adalah bagaimana anak usia dini mampu rnenuliskannya. Pada awalnya anak usia dini akan dikenalkan dengan alat tulis dan latihan dasar dalam menulis. Mereka akan mencoba menulis bentuk-bentuk sedehana seperti bulat, garis dan sebagainya.

Pelajaran lainnya seperti berhitung akan mengenalkan anak usia dini dengan angka dan operasi penjumlahannya. Petani perempuan akan mengunakan

alat bantu seperti jari tangan hingga lidi untuk membantu anak usia dini dalam menghitung penjumlahan yang diberikan. Dengan metode ini anak usia dini akan mampu untuk mengingat dan memaharni pelajaran yang diterimanya.

Pelajaran menggambar memberikan pengenalan anak usia dini terhadap warna, bentuk benda dan mampu mengkombinasikannya secara baik. Menggambar juga akan mampu menjadi media anak-anak untuk mengekspresikan pikiran dan imajinasinya yang dapat membantu mengembangkan pola berpikir dan bakatnya.

Petani perempuan dalam memberikan pelajaran menggarnbar ini menggunakan bantuan contoh gambar yang berpola sederhana serta anak usia dini pernah melihatnya. Anak usia dini akan mencoba meniru dan mewarnai gambar yang dibagikan kepada mereka. Metode seperti ini akan merangsang anak usia dini untuk mengambar hal-hal lain yang ada di sekelilingnya.

Pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan kepada anak usia dini adalah pelajaran Bahasa Inggris dasar. Pelajaran yang mereka ajarkan seperti membaca huruf A sampai Z dan membaca angka 1 sampai 10 dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Untuk mempermudah anak-anak mengingat pelajaran tersebut. biasanya petani perempuan menjadikan huruf-huruf tersebut menjadi syair lagu dan dinyanyikan dengan Bahasa Inggris. Dengan melagukan huruf-huruf tersebut dalam Bahasa Inggris, anak-anak akan semakin cepat mengingatnya. Dengan belajar seperti metode ini akan menjadikan anak usia dini memperagakan ataupun mempraktekkan lagu tersebut dimanapun anak-anak itu menginginkannya sehingga anak-anak tersebut bernyanyi sambil menghapal.

Dari beberapa materi yang diberikan. pelajaran bermain merupakan pelajaran yang paling banyak digemari oleh anak usia dini. Dalam PAUD, bermain bahkan mendapat frekuensi yang paling banyak diantara materi lainnya. Bermain termasuk salah satu bagian dari pelajaran. Disamping untuk mengurangi kejenuhan anak terhadap pelajaran yang terlalu formal dan membosankan. bermain membantu anak untuk mudah mengingat pelajarannya.

Anak-anak biasanya bermain dengan bernyanyi sambil memperagakan gerakan-gerakan pendukung lagu. Misalnya lagu “dua mata saya, hidung saya satu, satu mulut saya tidak berhenti makan”. Dalarn menyanyikan lagu tersebut anak-anak menunjuk organ tubuh yang ada tertulis dalam lirik lagu.

Tata krama termasuk dalam pelajaran anak-anak sejak usia dini di Desa Namoriam. Disamping Desa tersebut masik kental dengan budaya dan adat istiadat, orang tua anak-anak tersebut kurang memiliki waktu luang untuk mengajarkan anak mereka tentang tata krama. Hal ini disebabkan karena orang tua selalu sibuk di ladang selama satu harian. Dengan kondisi yang sangat sibuk diladang tersebut, orang tua selalu membiarkan anak-anak mereka bersama teman-temannya atau kakak atau abangnya bermain-main di sekitar lingkungan mereka. Harapannya dengan adanya pelajaran tata krama ini, anak-anak tumbuh dengan baik dan mudah-mudahan sampai sekolah nantinya mereka tetap tumbuh menjadi anak yang balk dan sopan.

Selain pola dan materi pelajaran yang diberikan Banyak kesulitan yang dihadapi petani perempuan dalam menyelengarakan PAUD di Desa Namoriarn. Penduduk Desa Namoriam yang baru mengenal konsep PAUD, masih belum dapat memberikan kepercayaan kepada petani perempuan yang mengajar di

PAUD untuk mendidik dan membimbing anak mereka. Disamping alasan ini, orang tua anak yang menghabiskan waktunya seharian penuh untuk bekerja diladang, tidak dapat mengantarkan anaknya ke PAUD. Kondisi ini diletarbelakngi oleh arak yang jauh antara PAUD dengan perladangan dan dusun lainnya di Desa Namoriam.

Hambatan lainnya yang dihadapi oleh petani perempuan tersebut adalah persoalan tempat pertemuan PAUD. Hal ini disebabkan oleh penyelengaran PAUD yang dilaksanakan di Balal Desa Namoriam, sehingga ketika Balai Desa digunakan untuk acara adat dan kegiatan masyarakat lainnya maka PAUD diliburkan. Selain itu, dengan kondisi PAUD yang berada di Balai Desa bentuknya tidak seperti ruangan kelas melainkan ruang terbuka. Sehingga, mengganggu kenyamanan dan terkadang membuat anak-anak tidak fokus dalam mengikuti kegiatan PAUD.

Namun masalah yang muncul seiring dengan perkembangan PAUD, adalah masalah yang dihadapi petani perempuan dari lingkungan terdekat mereka di rumah orang tua petani perempuan yang mengajar PAUD ini masih mengukur pekerjaan seseorang dengan tinggi rendahnya gaji, sehingga dimata orang tua mereka pekerjaan sebagai pengajar PAUD tersebut tidak menjanjikan bagi masa depan mereka.

Petani perempuan tersebut memang tidak diberiikan gaji pokok setiap mengajar PAUD. Terkadang hanya inisiatif orang tua anak usia dini saja memberikan ucapan terima kasih. Ucapan inisiatif inipun tidak selalu ada disetiap bulannya. Namun hal ini tidak mematahkan semangat petani perempuan tersebut untuk tetap mengajar di PAUD.

Mereka tetap mengupayakan agar PAUD di Desa Namoriam tetap berdiri untuk meningkatkan pendidikan anak-anak Desa Namoriam. Untuk itulah petani perempuan mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak desa sesuai kemampuan mereka dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak-anak desa.

Dari gambar-gambar kegiatan Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Namoriam, jelas terlihat hasil kerja keras petani perempuan dalam rnendidik anak. Bantuan berupa buku dari Dinas P&K dan mahasiswa yang datang berkunjung ke Desa Namoriam, digunakan sebaik-baiknya oleh petani perempuan dalam mendidik dan mengajarkan anak. Buku-buku bekas termyata berguna bagi anak-anak desa, hal ini terbukti dengan semangatnya anak-anak desa membaca buku walaupun buku tersebut sudah sedikit rusak dan usang. Perlengkapan belajar yang masih minim dan tradisional tidak menjadi hambatan yang dapat menghalangi petani perempuan dalam mendidik dan mengajar anak-anak usia dini.

Jumlah anak yang belajar di PAUD desa Namoriam adalah salah satu bukti keberhasilan petani perempuan menghimpun anak-anak usia dini serta menyadarkan orang tua tentang arti pendidikan. Dari data penelitian ini terdapat 30 anak usia dini yang tercatat sebagai peserta PAUD di Desa Namoriam. Jumlah yang tidak dapat dikatakan sedikit dan hal yang hiasa. Disamping hal tersebut, petani perempuan berhasil menyadarkan orang tua anak bahwa mereka bisa mengajar walaupun mereka bukan berpendidikan yang tinggi dan hanya petani biasa.

Gambar wajah anak yang senang dan ceria dalam mengikuti pelajaran dan semangat anak saat mengikuti pelajaran mencerminkan bahwa petani perempuan dapat berbaur dengan anak dan dapat menjadi sosok ibu dalam melatih dan membimbing anak dan sebagai sosok seorang teman bagi anak dalam bermain dan sosok pengajar yang baik dalam menyampaikan pelajaran kepada anak.

Anak-anak PAUD Desa Namoriam merasa tidak bosan dalam mengikut i pelajaran di PAUD. Mereka belajar dan bermain layaknya seperti di rumah sendiri dan bermain bersama orang tua sendiri, walaupun kenyataannya mereka di didik oleh petani perempuan yang bukan ibu mereka. Belajar sambil bermain merupakan kunci utama petani perempuan untuk mendidik anak agar tidak mudah jenuh dalam mengikuti pelajaran.

Banyak hal yang kita anggap tidak akan mungkin terjadi, tapi kenyataan membuktikan terjadi. Pemerintahan kabupaten juga tidak rnenyangka jumlah anak yang belajar di PAUD Desa Namoriam begitu banyak. Petani perempuan yang mengajar di PAUD Desa Namoriam patut dihargai jerih payahnya.

Perempuan yang hanya bertani dan tidak berpendidikan tinggi, dapat mengumpulkan jumlah anak yang banyak untuk belajar. Kerjasama antara aparat pemerintahan desa dengan masyarakat dan petani perempuan sebagai pengajar sangat balk. Kemungkinan yang tidak akan terjadi menurut benak kita, kini telah terbukti. Banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa petani perempuan tidak mampu mengajar karena pendidikan mereka masih minim dan mereka hanya seorang petani biasa yang tidak akan memiliki waktu untuk mengajar, ternyata terbukti dengan pelaksanaan PAUD yang berada di Desa Namoriam. PAUD di Desa Namoriam merupakan jawaban dan ketidakmungkinan tersebut.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, setelah melihat masalah, mengamati dan penelitian atas Peran Petani Perempuan dalam Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini di Desa Namoriam, Pancur Batu, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendidikan Anak Usia Dini yang dilaksanakan di Desa Namoriam adalah merupakan pendidikan dasar yang harus dimiliki anak sebelum ke jenjang Sekolah Dasar. Adapun pendidikan yang diberikan PAUD kepada anak

sebelum memasuki bangku Sekolah Dasar seperti Membaca, Menulis, Berhitung, Menggambar, Bahasa lnggris, Bermain dan belajar Tata krama. 2. Dalarn pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini melalui jalur nonformal, petani

perempuan berperan sebagai pengasuh pengganti orang tua anak, pembimbing, serta melatih dan membelajarkan anak serla memberikan materi pelajaran Berhitung, Membaca, Bahasa lnggris, menulis, menggambar, tata krama, dan bermain.

3. Dilihat dan proses belajar dan mengajar, petani perempuan terlihat efektif dan cara menyampaikan pelajaran kepada anak-anak optimal. Hal ini terbukti dari

Dokumen terkait