Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh langsung dari responden yaitu ibu balita. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan metode wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang telah disusun sebelumnya tentang data responden, data balita, pola pemberian ASI dan pengetahuan ibu tentang
KMS di Kelurahan Tegal Sari Mandala I. Konsumsi zat gizi pada balita dilakukan dengan teknik wawancara secara langsung dengan menggunakan lembar form food recall 24 jam, makanan apa saja yang dikonsumsi pada hari sebelumnya dan konsumsi ASI dilakukan dengan menggunakan formulir frekuensi dan durasi ASI untuk mengingat frekuensi dan durasi menyusui pada hari sebelumnya. Status gizi anak diperoleh dari hasil pengukuran BB/U, PB/U dan BB/PB
2. Data Sekunder
Data sekunder meliputi data demografi penduduk yang diperoleh dari
Kelurahan Tegal Sari Mandala I dan jumlah balita 6-24 bulan yang diperoleh dari kader posyandu.
Metode Pengukuran 1. Pola Pemberian ASI
Kategori pengukuran pola pemberian ASI terdiri dari frekuensi dan durasi pemberian ASI balita 6-24 bulan. Menurut Kemenkes (2014), frekuensi pemberian ASI dikatakan “Baik” apabila frekuensi pemberian ASI sesuka balita atau sekehendak balita. Durasi pemberian ASI dikataka “Baik” minimal 10 menit, sedangkan dikatakan “Tidak baik” apabila durasi pemberian ASI kurang dari 10 menit (Adriani dan Bambang, 2012).
Atau dengan ketentuan:
a. Frekuensi pemberian ASI :
Baik = Sekehendak
Tidak baik = Tidak diberikan ASI b. Durasi pemberian ASI :
Baik = ≥ 10 menit Tidak baik = < 10 menit 2. Konsumsi Zat Gizi
a. Frekuensi makan
Frekuensi makan diukur dengan melihat form food recall dalam sehari, dengan kategori:
Baik = Usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali sehari Usia 9-12 bulan diberikan 3-4 kali sehari Usia 12-24 bulan diberikan 3-4 kali sehari Tidak baik = Selain ketentuan diatas.
b. Jenis makanan
Jenis Makanan diukur dengan menggunakan form food recall. Jenis makanan juga dapat dilihat dari kelengkapan makanan yang dikonsumsi, kategorinya:
1) Beragam : Apabila dalam konsumsi makan utama terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk (hewani atau nabati), sayuran dan buah-buahan.
2) Tidak Beragam : Apabila dalam konsumsi makan utama tidak ada salah satu dari makanan pokok, lauk-pauk (hewani atau nabati), sayuran dan buah-buahan.
c. Jumlah zat gizi
Konsumsi zat gizi diperoleh dari makanan dan ASI dalam sehari. Jumlah makanan diukur dengan menggunakan Nutrisurvey sedangkan menghitung jumlah ASI menggunakan rumus:
Dengan ketentuan, bahwa perkiraan produksi ASI tiap tahun akan
menurun sesuai dengan waktunya yaitu pada tahun pertama sekitar 600 ml/24 jam dan tahun kedua 400 ml/24 jam.
Tingkat konsumsi zat gizi dapat dilihat dari asupan energi, protein dan lemak. Klasifikasi tingkat konsumsi zat gizi berdasarkan Widyakarya Pangan dan Gizi (2004) sebagai berikut:
1) Energi
Tingkat konsumsi energi = (konsumsi energi)/(angka kecukupan gizi (AKG) energi) X 100%
Klasifikasi tingkat konsumsi energi dibagi menjadi empat, yaitu : a) Baik : ≥ 100% AKG
b) Sedang : >80 – 99% AKG c) Kurang : 70 – 80% AKG d) Defisit : < 70% AKG 2) Protein
Tingkat konsumsi protein = (konsumsi protein)/(angka kecukupan gizi (AKG) protein) X 100%
Klasifikasi tingkat konsumsi protein dibagi menjadi empat, yaitu : a) Baik : ≥ 100% AKG
b) Sedang : >80 – 99% AKG c) Kurang : 70 – 80% AKG d) Defisit : < 70% AKG
3) Lemak
Tingkat konsumsi lemak = (konsumsi lemak)/(angka kecukupan gizi (AKG) lemak) X 100%
Klasifikasi tingkat konsumsi protein dibagi menjadi empat, yaitu : a) Baik : ≥ 100% AKG
b) Sedang : >80 – 99% AKG c) Kurang : 70 – 80% AKG d) Defisit : < 70% AKG 3. Pengetahuan Ibu tentang KMS
Pengetahuan ibu tentang KMS dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dengan skala Guttman, dimana skala ini bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan atau pernyataan: ya dan tidak atau benar dan salah. Skala Guttman dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda atau dalam bentuk check list. Dalam penelitian ini menggunakan pertanyaan Benar dan Salah. Pernyataan dalam kuesinoner terdiri dari pernyataan positif dan negatif sebanyak 10 pernyataan.
Pernyataan positif jika jawaban benar nilai 1, dan jawaban salah nilai 0, sedangkan pernyataan negatif adalah jika jawaban salah nilai 1, dan jawaban benar nilai 0.
Pada variabel ini kategori pengetahuan ibu tentang KMS dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
b. Cukup baik apabila jawaban yang benar 56%-75%
c. Kurang baik apabila jawaban yang benar ≤ 55%
(Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi, 2008) 4. Status Gizi Balita
Status gizi diukur dengan menggunakan indikator BB/U, PB/U dan BB/PB) melalui penilaian nilai Z-score sesuai baku rujukan WHO-Anthro 2005 pada tabel 1.
Metode Analisis Data
Pengolahan data. Pengolahan data dilakukan secara manual dan proses komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Data (Editing)
Pengeditan dilakukan dengan memeriksa kelengkapan isi kuesioner dengan tujuan agar data masuk dan dapat diolah secara benar, sehingga pengolahan data memberikan hasil yang menggambarkan masalah yang diteliti.
2. Pengkodean (coding)
Data yang sudah diperoleh dan telah dilakukan pengeditan maka peneliti melakukan pengkodean pada setiap jawaban responden untuk mempermudah analisis data yang telah dikumpulkan.
3. Memasukkan data (Processing)
Kegiatan memasukkan data dalam bentuk kode ke dalam program SPSS.
4. Membersihkan Data (Cleaning)
Cleaning dilakukan pada semua lembar kerja untuk membersihkan kesalahan
yang mungkin terjadi selama proses input data. Proses ini dilakukan melalui analisis frekuensi pada variabel. Adapun data missing dibersihkan dengan menginput data yang benar.
Analisis data. Setelah data semua terkumpul maka dilakukan analisis data univariat. Analisis dilakukan pada setiap variabel dari hasil penelitian dengan mendeskripsikan setiap variabel penelitian. Kemudian data diolah dengan
program komputer dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian data dianalisa secara deskriptif.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kelurahan Tegal Sari Mandala I merupakan kelurahan yang terletak di Kecamatan Medan Denai Kota Medan yang berkembang sebagai daerah jasa perdagangan, pemukiman dan lain-lain. Kelurahan Tegal Sari Mandala I terdiri dari 12 lingkungan.
Adapun batas-batas Kelurahan Tegal Sari Mandala I adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatas dengan Kecamatan Medan Tembung
b. Sebelah Selatan berbatas dengan Kelurahan Tegal Sari c. Sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Medan Denai d. Sebalah Barat berbatas dengan Kecamatan Medan Maimun
Kondisi demografi yang menggambarkan tentang kependudukan Kelurahan Tegal Sari Mandala I dari jumlah penduduk 8.795 jiwa, laki-laki + 4301 jiwa dan perempuan + 4494 jiwa.
Gambaran Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil penelitian dari 75 responden, maka diperoleh karakteristik responden berdasarkan usia, pendidikan dan pekerjaan. Usia ibu terbanyak yaitu usia 26-30 tahun (40%) dan yang terendah adalah kelompok usia lebih dari 35 tahun (13,3%). Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh ibu adalah tamat SMA dengan jumlah 66 orang (88%), dan yang terendah adalah tidak tamat SD dengan jumlah 1
orang (1,3%). Sedangkan pekerjaan ibu terbanyak yaitu sebagai ibu rumah tangga sebanyak 70 orang (93,3%).
Tabel 6
Distribusi Karakteristik Responden di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Karakteristik Responden n=75 %
Usia Ibu
Usia dan jenis kelamin. Usia balita responden dalam penelitian ini sebagian besar berumur antara 13-24 bulan dengan jenis kelamin laki-laki yang berjumlah 18 balita (51,4%).
Tabel 7
Distribusi Karakteristik Balita Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Usia Balita Pola Pemberian ASI
Pemberian ASI berdasarkan usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita 6-24 bulan yang masih diberikan ASI terdapat 54 balita (72%) dari 75 balita. Berdasarkan usia 6-8 bulan terdapat 16 balita (94,1%) masih diberikan ASI
dari 23 balita. Sedangkan usia 13-24 bulan terdapat 18 balita (51,5%) yang masih diberikan ASI dari 35 balita.
Tabel 8
Distribusi Balita 6-24 Bulan yang Masih diberikan ASI Berdasarkan Usia di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Usia Balita (bulan)
Masih diberikan ASI Total
Ya Tidak
Frekuensi dan durasi pemberian ASI. Frekuensi ASI pada balita 6-24 bulan yang sudah mendapatkan MP ASI dikatakan baik apabila pemberian ASI sekehendak balita atau sesuka balita. Sedangkan durasi pemberian ASI dikatakan baik apabila lama menyusui lebih besar sama dengan 10 menit dan tidak baik apabila kurang dari 10 menit. Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa 100%
balita yang masih diberikan ASI memiliki frekuensi pemberian ASI yang baik.
Durasi pemberian ASI hanya 37 balita (68,5%) yang memiliki durasi pemberian ASI yang baik dan 17 balita (31,5%) yang memiliki durasi pemberian ASI yang tidak baik.
Tabel 9
Distribusi Frekuensi dan Durasi Pemberian ASI pada Balita 6-24 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Pola Pemberian ASI n=54 %
Usia pertama pemberian makanan/minuman selain ASI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan atau minuman selain ASI pada usia kurang dari 10 hari terdapat 52 balita (69,3%). Pada usia 10-20 hari terdapat 6 balita (8%) yang diberikan makanan/minuman selain ASI. Sedangkan pada usia 21-30 hari terdapat 2 balita (2,7%). Pemberian makanan tambahan sudah mulai diberikan pada usia balita 2 bulan terdapat 6 balita (8%) dan 4 balita (5,3%) pada usia 5 bulan. Sedangkan usia lebih dari 6 bulan terdapat 5 balita (6,7%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar 70 balita (93,3%) dari 75 balita tidak mendapatkan ASI eksklusif.
Tabel 10
Distribusi Usia Pertama Pemberian Makanan/Minuman Selain ASI di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Usia Pertama Pemberian
Frekuensi makan berdasarkan usia balita. Frekuensi makan dikategorikan baik dan tidak baik berdasarkan usia balita. Frekuensi makan dikatakan baik apabila balita usia 6-8 bulan memiliki frekuensi makan 2-3 kali.
Sedangkan balita usia 9-12 bulan dan 13-24 bulan memiliki frekuensi makan 3-4 kali dalam sehari. Frekuensi makan tidak baik apabila frekuensi makan tidak sesuai dengan usia balita. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi makan balita usia 6-8 dikategorikan baik terdapat 17 balita (100%) dan
2 balita (11,8%) frekuensi makan balita yang tidak baik. Pada usia 9-12 terdapat 21 balita (73,9%) memiliki frekuensi makan yang baik. Frekuensi makan tidak baik pada balita usia 9-12 bulan terdapat 6 balita (26,1%) artinya di bawah frekuensi pemberian yang seharusnya. Sedangkan frekuensi makan balita usia 13-24 terdapat 35 balita (100%) memiliki frekuensi makan yang baik.
Tabel 11
Distribusi Kategori Frekuensi Makan Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Usia di Kelurahan Tegal Sari Mandala Medan
Usia
Jenis makanan. Jenis makanan yang beragam meliputi makanan pokok, lauk pauk (hewani atau nabati), sayur-sayuran dan buah-buahan. Apabila salah satu tidak ada maka jenis makanan yang dikonsumsi tidak beragam. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsumsi jenis makanan yang beragam pada balita 6-24 bulan terdapat 14 balita (18,7%) dan konsumsi jenis makanan balita yang tidak beragam terdapat 61 balita (81,3%).
Tabel 12
Distribusi Jenis Makanan Balita 6-24 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan Jumlah zat gizi. Tingkat konsumsi zat gizi balita 6-24 bulan diperoleh dari asupan makanan dan ASI dalam sehari.
Tingkat konsumsi energi. Berdasarkan tabel 13 diketahui gambaran
karakteristik balita berdasarkan kecukupan energi, dapat dilihat bahwa kecukupan energi pada kategori baik terdapat 34 balita (45,3%), kategori sedang terdapat 33 balita (44%) dan kategori kurang terdapat 8 balita (10,7%).
Tabel 13
Distribusi Tingkat Konsumsi Energi Balita 6-24 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat Konsumsi Energi n=75 %
Baik 34 45,3
Sedang 33 44,0
Kurang 8 10,7
Tingkat konsumsi protein. Berdasarkan tabel 14 diketahui gambaran
karakteristik balita berdasarkan kecukupan protein, dapat dilihat bahwa
kecukupan protein pada kategori baik terdapat 61 balita (81,3%), kategori sedang terdapat 6 balita (8%) dan kategori kurang terdapat 4 balita (5,3%). Sedangkan kategori defisit terdapat 4 balita (5,3%).
Tabel 14
Distribusi Tingkat Konsumsi Protein Balita 6-24 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat Konsumsi Protein n=75 %
Baik 61 81,3
Sedang 6 8,0
Kurang 4 5,3
Defisit 4 5,3
Tingkat konsumsi lemak. Berdasarkan tabel 15 diketahui gambaran
karakteristik balita berdasarkan kecukupan protein, dapat dilihat bahwa
kecukupan protein pada kategori baik terdapat 4 balita (5,3%), kategori sedang terdapat 10 balita (13,3%) dan kategori kurang terdapat 7 balita (9,3%).
Sedangkan kategori defisit terdapat 54 balita (72%).
Tabel 15
Distribusi Tingkat Konsumsi Lemak Balita 6-24 Bulan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Berdasarkan tabel 16 menunjukkan bahwa distribusi konsumsi zat gizi balita 6-24 bulan berdasarkan usia sebagian besar balita memiliki tingkat konsumsi energi baik terdapat 14 balita (41,2%) pada balita usia 9-12 bulan.
Tingkat konsumsi energi sedang usia 13-24 bulan terdapat 23 balita (69,7%) dan tingkat konsumsi kurang usia 9-12 bulan terdapat 4 balita (50%). Balita memiliki tingkat konsumsi protein baik usia 13-24 bulan terdapat 29 balita (47,5%), tingkat konsumsi protein sedang usia 13-24 bulan terdapat 4 balita (66,7%) dan tingkat konsumsi protein kurang dan defisit pada usia 6-8 bulan masing-masing terdapat 2 balita (50%). Sedangkan tingkat konsumsi lemak baik balita usia 6-8 bulan
terdapat 3 balita (75%) dan tingkat konsumsi lemak defisit pada usia 13-24 bulan terdapat 25 balita (46,3%).
Tabel 16
Distribusi Usia Balita Berdasarkan Konsumsi Zat Gizi di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Konsumsi Zat Gizi
Usia Balita Total
6-8 bulan 9-12 bulan 13-24 bulan
Tabel 16
Distribusi Usia Balita Berdasarkan Konsumsi Zat Gizi di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Konsumsi Zat Gizi
Usia Balita Total
6-8 bulan 9-12 bulan 13-24 bulan Pengetahuan Ibu Tentang KMS
Pengetahuan responden tentang KMS dihitung berdasarkan skor yang dijawab oleh responden atas 10 pernyataan pada kuesioner. Responden yang mempunyai pengetahuan yang baik terdapat 46 responden (62,7%). Pengetahuan yang cukup tentang KMS ada 23 responden (30,7%). Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan yang kurang terdapat 5 responden (6,7%).
Tabel 17
Distribusi Pengetahuan Ibu tentang KMS di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Berdasarkan tabel 18 menunjukkan bahwa dari 10 pernyataan pada kuesioner tingkat kesalahan terbanyak terdapat pada pernyataan tentang fungsi
Pengetahuan Ibu tentang KMS n=75 %
Baik
dari KMS yaitu sebesar 72%. Setelah itu diikuti oleh pernyataan tentang perbedaan warna KMS pada jenis kelamin balita sebesar 48%.
Tabel 18
Distribusi Pernyataan Kuesioner Pengetahuan ibu tentang KMS di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Pernyataan
Jawaban
No Benar Salah
n % n % 1 KMS adalah kartu yang memuat kurva
pertumbuhan anak berdasarkan usianya
75 100 0 0,0 2 KMS sebagai alat edukasi bagi orang tua
balita tentang pertumbuhan anak yang tidak normal
21 28,0 54 72,0
3 Tujuan dari penggunaan KMS hanya mengetahui status pertumbuhan anak melalui penimbangan setiap bulan
67 89,3 8 10,7
4 KMS balita dibedakan berdasarkan jenis kelamin anak. KMS untuk anak laki-laki berwarna dasar merah muda dan KMS anak perempuan berwarna dasar biru.
39 52,0 36 48,0
5 Berat badan dan bulan penimbangan balita terdapat di dalam KMS
72 96,0 3 4,0 6 Bila anak tidak ditimbang selama dua bulan
berturut, grafik pertumbuhan tidak dapat dihubungkan
66 88,0 9 12,0
7 Berat badan tidak naik 2 kali (T2) atau berada di Bawah Garis Merah (BGM) balita di rujuk ke petugas kesehatan
69 92,0 6 8,0
8 Status pertumbuhan anak dikatakan naik jika grafik pertumbuhan anak mengikuti garis pertumbuhannya
66 88,0 9 12,0
9 Grafik berat badan mendatar, maka status pertumbuhan anak naik
50 66,7 25 33,3 10 Kenaikan berat badan minimum (KBM)
juga dapat menentukan status pertumbuhan anak apakah naik atau tidak naik
63 84,0 12 16,0
Status Gizi Balita
Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan indeks berat badan menurut umur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang berstatus gizi baik
terdapat 67 balita (89,3%) dan balita berstatus gizi kurang terdapat 8 balita (10,7%).
Tabel 19
Distribusi Status Gizi Pada Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Indeks Berat Badan Menurut Umur di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Status Gizi (BB/U) n=75 %
Gizi baik 67 89,3
Gizi Kurang 8 10,7
Status Gizi Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Indeks Berat Badan Menurut Panjang Badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 60 balita (80%) yang memiliki status gizi normal, balita yang mengalami status gizi kurus terdapat 14 balita (18,7%) dan 1 balita (1,3%) memiliki status gizi gemuk.
Tabel 20
Distribusi Status Gizi Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Indeks Berat Badan Menurut Panjang Badan di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Status Gizi (BB/PB) n=75 %
Kurus 14 18,7
Normal 60 80,0
Gemuk 1 1,3
Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan indeks panjang badan menurut umur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 63 balita (84%) yang memiliki status gizi normal, balita yang mengalami status gizi pendek terdapat 10 balita (13,3%) dan 2 balita (2,7%) memiliki status gizi tinggi.
Tabel 21
Distribusi Status Gizi Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Indeks Panjang Badan Menurut Umur di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Status Gizi (PB/U) n=75 %
Pendek 10 13,3
Normal 63 84,0
Tinggi 2 2,7
Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan usia. Bersadarkan tabel 22 menunjukkan bahwa rata-rata anak usia 6-24 bulan berstatus gizi baik berdasarkan status gizi (BB/PB) terdapat 34 balita (50,7%) berstatus gizi kurang pada usia 6-8 bulan dan 4 balita (50%) berstatus gizi kurang pada usia 9-12 bulan. Berdasarkan status gizi (BB/PB), usia 13-24 bulan terdapat 6 balita (17,1%) yang mengalami status gizi kurus dan 1 balita (2,9%) yang mengalami status gizi gemuk. Secara keseluruhan, rata-rata balita memiliki status gizi normal berdasarkan BB/PB.
Status gizi berdasarkan PB/U, dapat dilihat bahwa balita usia 13-24 bulan terdapat 5 balita (14,3%) status gizi pendek dan 28 balita (44,4%) status gizi normal.
Tabel 22
Distribusi Status Gizi Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Umur Balita di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Status Gizi Balita
Usia Balita Total
6-8 bulan 9-12 bulan 13-24 bulan
Status gizi balita (BB/U) berdasarkan pola pemberian ASI. Gambaran hasil antara pola pemberian ASI dengan status gizi balita (BB/U) dapat dilihat pada tabel 23. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi
pemberian ASI yang baik terdapat 46 balita (85,2%) balita yang berstatus gizi baik dan (14,8%) berstatus gizi kurang. Sedangkan pada durasi pemberian ASI yang baik pada
balita bertatus gizi baik (91,9%) dan (8,1%) berstatus gizi kurang.
Tabel 23
Distribusi Status Gizi (BB/U) Pada Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Pola Pemberian ASI di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Status gizi balita (BB/PB) berdasarkan pola pemberian ASI.
Berdasarkan tabel 24 menunjukkan bahwa frekuensi pemberian ASI yang baik terdapat (79,6%) anak memiliki status gizi normal dan (18,5%) memiliki status gizi kurus dan (1,9%) balita memiliki status gizi gemuk. Sedangkan pada durasi pemberian ASI yang baik terdapat 32 balita (86,5%) memiliki status gizi normal dan (13,5%) berstatus gizi kurus.
Tabel 24
Distribusi Status Gizi (BB/PB) Pada Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Pola Pemberian ASI di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Pola Pemberian ASI
Gizi kurang Gizi baik
n % n % n %
Tabel 24
Distribusi Status Gizi (BB/PB) Pada Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Pola Pemberian ASI di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Pola Pemberian ASI
Status gizi balita (PB/U) berdasarkan pola pemberian ASI. Gambaran hasil antara pola pemberian ASI dengan status gizi balita (PB/U) dapat dilihat pada tabel 25. Pada frekuensi pemberian ASI yang baik terdapat 45 balita (83,3%) memiliki status gizi normal dan (14,8%) memiliki status gizi pendek.
Sedangkan pada durasi pemberian ASI yang tertinggi terdapat pada balita bertatus normal (86,5%) dan (13,5%) berstatus gizi kurus.
Tabel 25
Distribusi Status Gizi (PB/U) Pada Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Pola Pemberian ASI di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Pola Pemberian ASI
Status Gizi (PB/U) Total
Pendek Normal Tinggi
n % n % n % n % Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan kecukupan gizi . Kebutuhan zat gizi bagi bayi sampai usia dua tahun merupakan hal yang sangat penting. Zat gizi memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan tumbuh kembang
anak dan kesehatannya serta status gizi anak. Status gizi baik terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi.
Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan tingkat konsumsi energi.
Berdasarkan tabel 26 diketahui gambaran tingkat konsumsi energi berdasarkan status gizi (BB/U), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (BB/U) baik pada tingkat konsumsi energi baik sebesar 100%. Balita memiliki status gizi (BB/U) kurang pada tingkat konsumsi energi kurang sebesar 100%.
Tabel 26
Distribusi Status Gizi (BB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Energi di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat Konsumsi Energi
Status Gizi (BB/U)
Total Gizi Baik Gizi Kurang
n % n % n %
Baik 34 100,0 0 0,0 34 100
Sedang 33 100,0 0 0,0 33 100
Kurang 0 0,0 8 100,0 8 100
Berdasarkan tabel 27 diketahui gambaran tingkat konsumsi energi berdasarkan status gizi (BB/PB), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (BB/PB) normal pada tingkat konsumsi energi baik sebesar 94,1%. Balita memiliki status gizi (BB/PB) normal pada tingkat konsumsi energi kurang sebesar 37,5%. Sedangkan balita memiliki status gizi (BB/PB) kurus pada tingkat konsumsi energi kurang sebesar 62,5%.
Tabel 27
Distribusi Status Gizi (BB/PB) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Energi di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat
Berdasarkan tabel 28 diketahui gambaran tingkat konsumsi energi
berdasarkan status gizi (PB/U), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (PB/U) normal pada tingkat konsumsi energi baik sebesar 94,1%.
Balita memiliki status gizi (PB/U) normal pada tingkat konsumsi energi kurang sebesar 62,5%.
Tabel 28
Distribusi Status Gizi (PB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Energi di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat Konsumsi
Energi
Status Gizi (PB/U)
Total
Pendek Normal Tinggi
n % n % n % n %
Baik 2 5,9 32 94,1 0 0 34 100
Sedang 5 15,2 26 78,8 2 6,1 33 100
Kurang 3 37,5 5 62,5 0 0 8 100
Status gizi balita 6-24 bulan berdasarkan tingkat konsumsi protein.
Berdasarkan tabel 29 diketahui gambaran tingkat konsumsi protein berdasarkan status gizi (BB/U), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (BB/U) baik pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 95,1%. Balita memiliki status gizi (BB/U) kurang pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 4,9%.
Sedangkan balita memiliki status gizi (BB/U) kurang pada tingkat konsumsi protein defisit sebesar 100%.
Tabel 29
Distribusi Status Gizi (BB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Protein di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Medan
Tingkat Konsumsi Protein
Status Gizi (BB/U)
Total Gizi Kurang Gizi Baik
n % n % n %
Baik 3 4,9 58 95,1 61 100
Sedang 0 0 6 100,0 6 100
Kurang 1 25,0 3 75,0 4 100
Defisit 4 100,0 0 0 4 100
Berdasarkan tabel 30 diketahui gambaran tingkat konsumsi protein berdasarkan status gizi (BB/PB), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (BB/PB) normal pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 85,2%. Balita memiliki status gizi (BB/PB) kurus pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 13,1%. Sedangkan balita memiliki status gizi (BB/PB) kurus pada tingkat konsumsi protein defisit sebesar 75% dan 25% pada status gizi normal.
Tabel 30
Distribusi Status Gizi (BB/PB) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Protein di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Tahun 2018
Tingkat
Berdasarkan tabel 31 diketahui gambaran tingkat konsumsi protein berdasarkan status gizi (PB/U), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (PB/U) normal pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 86,9%. Balita memiliki status gizi (PB/U) pendek pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 9,8%. Sedangkan balita memiliki status gizi (PB/U) pendek pada tingkat konsumsi protein defisit sebesar 25%.
Tabel 31
Distribusi Status Gizi (PB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Protein di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Tahun 2018
Tingkat Konsumsi
Protein
Status Gizi (PB/U)
Total
Pendek Normal Tinggi
n % n % n % n %
Baik 6 9,8 53 86,9 2 3,3 61 100
Sedang 0 0 6 100,0 0 0 6 100
Defisit 1 25,0 3 75,0 0 0 4 100
Status Gizi Balita 6-24 Bulan Berdasarkan Tingkat Konsumsi Lemak.
Berdasarkan tabel 32 diketahui gambaran tingkat konsumsi lemak berdasarkan status gizi (BB/U), dapat dilihat bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi (BB/U) baik pada tingkat konsumsi protein baik sebesar 100%. Balita memiliki status gizi (BB/U) baik pada tingkat konsumsi lemak defisit sebesar 85,2%.
Sedangkan balita memiliki status gizi (BB/U) kurang pada tingkat konsumsi lemak defisit sebesar 14,8%.
Sedangkan balita memiliki status gizi (BB/U) kurang pada tingkat konsumsi lemak defisit sebesar 14,8%.