• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pohon Agathis sp

Agathis sp. merupakan famili Araucariaceae dengan nama daerah Damar sigi, Kayu sigi (Sumatra); Damar, Ki dammar (Jawa); Bindang, Damar bindang, Damar pilau (Kalimantan); Damar, Damar kapas, Damar warna, Hulu sinua (Sulawesi); Damar puti, Damar raja, Koano, Kolano (Maluku); Damar putih, Damar papeda, Kesi, Kosima (Irian Jaya). Daerah penyebarannya Sumatra Barat, Sumatra Utara, seluruh Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Tinggi pohon dapat mencapai 55m. Panjang Batang bebas cabang 12-25 m, diameter 150 cm atau lebih, bentuk batang silindris dan lurus. Tajuk berbentuk kerucut dan berwarna hijau dengan percabangan mendatar melingkari batang. Kulit luar berwarna kelabu sampai coklat tua, mengelupas kecil-kecil berbentuk bundar atau bulat telur. Pohon tidak berbanir dan mengeluarkan damar yang lazim disebut kopal (Martawijaya et al. 2005).

5   

Whitmore (1977) menyatakan bahwa kopal merupakan eksudat dari kulit pohon Damar yang merupakan cairan kental berwarna jernih atau putih yang semakin lama semakin keras setelah terkontaminasi dengan udara. Menurut SNI (2001), kopal adalah getah padat yang diperoleh dari pohon Agatis (Agathis sp.), yang umumnya berwarna kuning bening atau kuning pucat.

Menurut Tantra (1976) dalam Hendrayus (1992), Agathis di Indonesia terdiri dari 3 jenis, yaitu:

1. Agathis loranthifolia Salisb, Agathis philippinensis Warb, Agathis celebica Warb, Agathis macrostachys Warb, Agathis hamii M. Dr, Agathis beckingi M. Dr. dan Agathis alba, yang ditanam di Jawa dengan sinonim Agathis dammara Rich.

2. Agathis borneensis Warb dengan sinonim Agathis baccani Warb, Agathisendertii M. Dr, Agathis latifolia M. Dr, Agathis rhomboidalis Warb, Agathis flevescens Ridl.

3. Agathis labillardieri Warb yang tumbuh di Irian Jaya.

2. 3 Penyadapan Kopal

Riyanto (1980) menyatakan bahwa ada 4 macam cara penyadapan kopal, yaitu :

1. Cara primitif, yaitu cara yang dilakukan dengan memukuli kulit Agathis dengan batu pada batang setinggi 1,0 m sampai dengan 1,5 m. Kulit yang luka mengeluarkan getah dan mengalami peradangan kondisi demikian dapat menyebabkan pembusukan dan kanker batang.

2. Cara tradisional, yaitu cara penyadapan yang menggunakan kudi (semacam parang dengan bagian tengah membentuk busur) sebagai alatnya. Bagian tengah alat ini digunakan untuk membuat luka sadapan dengan mencacah secara acak pada sekeliling pohon setinggi 1,0 m sampai dengan 1,5 m. Setelah enam hari kopal mengental dan dipungut sekaligus dilakukan pembaharuan sadapan. Cara ini meninggalkan bekas-bekas kallus yang tumbuh tidak teratur dan juga dapat menyebabkan pembusukan batang.

3. Cara Penyadapan menurut PK No. 13/1977 Unit I Jawa Tengah

Menurut petunjuk kerja penyadapan ini, pohon dimulai pada umur 35 tahun dengan diameter batang telah mencapai 50 cm. Luka dibuat dengan membagi batang menjadi dua irisan sadapan yang berlawanan arah, irisan pertama lebarnya 1,0 cm dengan kedalaman setebal kulit, panjang sekitar 40 cm membentuk sudut 60° terhadap arah tegak. Irisan satu dengan lainnya berjarak 15 cm, dimana titik irisan pertama berjarak 60 cm dari permukaan tanah, pembaharuan setiap minggu selebar 0,5 cm. Kelemahan metode ini yaitu waktu pengerjaan relatif lama dan menurunnya hasil kopal yang diperoleh.

4. Cara koakan, yaitu cara penyadapan yang menggunakan alat sadap berupa kadukul dengan mencacah pada bagian permukaan batang pohon pada ketinggian 0,5 m sampai dengan 1 m dari pangkal pohon dan berukuran 10 cm x 5 cm. Cara ini dikembangkan sejak pertengahan tahun 1979 oleh KPH Banyumas Timur.

Menurut Vlies dan Tames dalam Manuputty (1955), saluran-saluran damar terdapat pada kulit bagian dalam, berjalan tangensial antara kambium dan kambium gabus. Kulit bagian dalam Agathis terlihat saluran-saluran dammar yang lebar dan terang. Jika dilukai tentu terdapat aliran yang keras oleh karena banyak saluran dammar yang terpotong.

Salverda (1937) dalam Manuputty (1955) menyatakan bahwa jumlah saluran kopal yang berada dalam kulit yang masih hidup itu, semakin ke dalam semakin bertambah. Jika suatu luka dibuat pada kulit dalam, maka sesudah beberapa detik kopal mengalir dari saluran-saluran dan merupakan titik-titik pada permukaan luka itu. Jika kopal mengeras, saluran dammar itu menjadi tersumbat dan luka itu harus diperbaharui setelah kopal diambil.

Saluran kopal searah dengan putaran batang yang besarnya 10° sampai dengan 18° kearah kanan atau rata-rata 14° dari arah vertikal (Riyanto 1980).

Menurut Manuputty (1955), istilah kopal dapat dibedakan dari damar (berasal dari suku Dipterocarpaceae), perbedaan tersebut yaitu pada kopal tidak terdapat lubang-lubang udara, sulit dihaluskan, larut dalam alkohol, tidak larut dalam minyak tanah dan terpentin serta akan menyala besar jika terbakar. Sedangkan damar mempunyai banyak lubang udara, bisa dihaluskan, tidak larut

7   

dalam alkohol, larut dalam minyak tanah dan terpentin serta akan meleleh atau menetes bila terbakar.

Penyembuhan luka pada penyadapan dengan kambium tidak terpotong menunjukkan hasil sebesar 94,4%, sedangkan jika kambiumnya terpotong penyembuhan luka tersebut hanya 11,1%. Pada penyadapan tradisional dalam periode yang sama belum terjadi penyembuhan luka. Hal ini disebabkan karena kedua cara sebelumnya kambium pohon terpotong, padahal kambium tersebut berfungsi sebagai pembentuk xylem dan floem (Sumantri dan Sastrodimedjo 1976).

2.4Produktivitas Kopal

Menurut Riyanto (1980), potensi kopal secara kuantitatif pada dasarnya dipengaruhi dua faktor pokok, yaitu :

1. Faktor pasif yang terdiri dari kualitas tempat tumbuh, umur pohon, kerapatan tegakan, sifat genetik dan ketinggian tempat tumbuh dari permukaan laut.

2. Faktor aktif yang terdiri dari kuantitas dan kualitas tenaga sadap, perlakuan kimia, dan pelakuan mekanis, seprti penutupan luka dengan plastik.

Menurut Dulsalam dan Sumantri (1985), tutup plastik hitam dan tutup plastik putih dapat melindungi luka sadapan dari sinar matahari yang mengakibatkan getah tidak cepat beku.

Menurut Soenarno et al. (1984), faktor yang mempengaruhi hasil sadap getah kopal adalah teknik/sistem penyadapan, keadaan sosial dan ekonomi penyadap, lingkungan tumbuh dan faktor genetis.

Vlies dan Tammes (1940) dalam Hendrayus (1992) menyatakan bahwa aliran kopal pada waktu penyadapan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya jumlah pelukaan dalam satu pohon, interval waktu pembaharuan luka, waktu penyadapan dan perlakuan pada permukaan luka sadap.

2. 5 Kualitas kopal

Menurut SNI (2001) No 01-5009.10-2001, penetapan mutu kopal dapat dilakukan dengan cara uji visual dan uji laboratorium. Penetapan mutu kopal berdasarkan uji visual meliputi uji warna, kebersihan, bau, ukuran butir kopal dan kekeringan. Penetapan mutu kopal berdasarkan uji laboratorium meliputi bilangan asam, bilangan penyabunan, titik lunak, kadar abu dan kadar kotoran. Uji laboratorium dilaksanakan apabila diperlukan atau untuk pembuatan contoh standar mutu kopal.

Cara uji visual : 1. Prinsip

Pengujian dilakukan secara visual, dengan menggunakan uji organoleptik. 2. Peralatan

Contoh standar mutu kopal, timbangan dan saringan/ayakan dengan ukuran 1 cm x 1 cm, bambu, lembaran plastik, alat pemukul (palu) dan alat penampi (tampah) dan seng rata.

3. Prosedur pengujian secara visual a. Uji warna

Membandingkan warna contoh kopal dengan warna contoh standar mutu kopal pada tempat yang terang (dengan penerangan yang cukup).

b. Uji ukuran butiran

Kopal diayak dengan saringan/ayakan ukuran 1 cm x 1 cm, di atas lembaran plastik. Kopal yang lolos dari ayakan disebut kopal butir kecil, sedangkan yang tidak lolos disebut kopal butir besar.

c. Uji kekeringan

Kopal diayak dengan saringan/ayakan akuran 1 cm x 1 cm. Butir kopal yang lolos dari ayakan menunjukkan butir kopal telah kering angin, sedangkan yang tidak lolos dan terlihat menggumpal/lengket, selanjutnya ditampi dengan alat penampi untuk memisahkan kopal butir besar yang kering udara dengan kopal yang masih basah/lembab, yang ditunjukkan dengan adanya butir kopal yang menggumpal/ lengket. Untuk memperbaiki mutu kopal, kopal yang masih basah/lembab dihamparkan di atas kepang

9   

dari bambu untuk dikeringkan lebih lanjut. Kopal yang masih menggumpal/lengket sebelumnya dihancurkan dengan menggunakan alat pemukul.

d. Uji kebersihan

Membandingkan contoh kopal dengan kebersihan contoh standar mutu kopal pada tempat yang terang (dengan penerangan yang cukup).

e. Uji bau

Contoh kopal di uji dengan indra penciuman hingga tercium bau khas kopal.

Menurut Koppel (1988), sebelum dikirimkan ke Amerika Serikat dan Eropa, kopal mengalami pengolahan diantaranya dilakukan sortasi besarnya potongan-potongan dan mengeluarkan kotoran-kotoran atau mengerik bagian luar kopal dari debu terutama potongan-potongan yang besar agar menjadi bersih sehingga harga menjadi lebih tinggi. Apabila kopal dalam keadaan lengket dikumpulkan, maka dengan sendirinya akan banyak potongan-potongan rekahan yang ikut serta. Kopal yang lengket itu akan menggumpal menjadi satu dengan cepat dan menjadi bongkahan-bongkahan yang besar.

2. 6 Peranan Stimulansia

Penggunaan stimulansia dapat memberikan efek panas terhadap getah sehingga getah lebih lama dalam keadaan cair dan mudah mengalir keluar dalam saluran getah serta mempengaruhi tekanan turgor dinding sel sehingga getah cepat keluar dan saluran getah dapat terbuka dalam waktu yang relatif lama. ETRAT merupakan formulasi terbaru dimana mengandung ZPT (Ethylene) dan stimulansia organik dalam satu larutan. Dengan demikian ETRAT mempunyai 2 fungsi yaitu meningkatkan kapasitas produksi getah dan memperlancar keluarnya getah. Ethylene adalah senyawa berbentuk gas, senyawa ini dapat memaksa pematangan buah, menyebabkan daun tanggal dan merangsang penuaan. Tanaman sering meningkatkan produksi ethylene sebagai respon terhadap strees dan sebelum mati.   Pembentukan getah di dalam tanaman dapat ditingkatkan dengan mengaktifkan ethylene di dalam tanaman ( ethylene endogen) dan adanya stress (pembuatan luka sadap). Dengan demikian peningkatan produksi getah

dapat dilakukan dengan memberikan zat yang mengandung ethylene (eksogen) yang mana akan merangsang pembentukan ethylene endogen pada tanaman sehingga proses metabolisme sekunder dapat ditingkatkan (Santosa 2011).

Stimulansia pada hakekatnya berfungsi sebagai perangsang etilen pada tanaman dan selanjutnya menaikkan tekanan osmosis serta tekanan turgor yang menyebabkan aliran getah bertambah cepat dan lebih lama. Etilen pada hakekatnya adalah suatu hormon pertumbuhan yang banyak berperan pada perubahan suatu tanaman, antara lain terjadi perubahan dalam membran yang permeabel dari dinding saluran getah sehingga selama ada aliran getah, air masuk dalam saluran getah dan jaringan-jaringan disekitarnya (Moir 1970 dalam Hidayati 2005).

Menurut Whitmore (1977), bahan kimia yang dapat digunakan untuk merangsang keluarnya getah kopal antara lain asam sulfat, kreosot, seng sulfida, amoniak dan lain sebagainya.

2.7 Manfaat kopal

Menurut Sutisna et al. (1998), kopal digunakan sebagai bahan pernis, linoleum, dupa, cat, dll. Menurut Komesakh dan Pertadiredja (1973) dalam Hendrayus (1992), penyadapan pohon Agathis mulai berkembang sejak tahun 1870 saat industri cat dan vernis mulai berkembang di Eropa dan Amerika.

Menurut Radjiman (1997) dalam Santosa (2006), manfaat kopal adalah untuk pembuatan bahan vernis, linoleum, pembuatan cat reflektor, bahan cat jalan raya, minyak cat, kemenyan obor, bahan untuk membuat kulit dan pencegah gigitan pacet.

Menurut Sumadiwangsa (1973) dalam Santosa (2006), kopal digunakan untuk bahan cat, vernis, spiritus, lak merah, email, plastik, vernis bakar, bahan sizing, bahan pelapis untuk tekstil, linoleum, water proofing, tinta cetak, perekat dan cairan pengering.

BAB III

METODE PENELITIAN

3. 1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 Februari sampai dengan 9 April 2011 di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

3. 2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah golok, pisau sadap (kudikoni), paku, palu, talang-penampung kopal, plastik (12 cm × 25 cm), sprayer, timbangan digital, kawat penyaring (1cm×1cm), pita ukur, tally sheet, kuas, kompas, GPS, kamera digital, trash bag, alat penampi (tampah plastik) dan alat tulis. Alat yang digunakan untuk pengolahan data adalah kalkulator dan komputer dengan program statistik software SPSS 16. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pohon Agathis (Agathis loranthifolia), cat berwarna putih dan ETRAT 12.40 (produk dari CV. Permata Hijau Lestari).

3. 3 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan cara menyadap 20 pohon contoh Agathis yang berdiameter minimal 38 cm dengan menggunakan metode Quarre dan diberi ETRAT (12.40). Setiap pohon contoh mewakili 4 perlakuan yaitu pembaharuan luka periode 3 hari, 5 hari, 7 hari dan 9 hari. Kemudian arah penyadapan masing-masing perlakuan dilakukan sistem putar. Penelitian ini dilakukan selama 45 hari dengan masing-masing jumlah pengulangan hasil panen yaitu untuk periode 3 hari sebanyak 15 kali panen, perode 5 hari sebanyak 9 kali panen, periode 7 hari sebanyak 6 kali panen dan periode 9 hari sebanyak 5 kali panen. Selain itu, kopal hasil penyadapan akan diuji kualitasnya secara visual yaitu dengan uji warna, uji kekeringan, uji bau, uji kebersihan dan uji butiran.

3.3.1 Jenis Data

Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data-data yang diperoleh langsung di lapangan, seperti berat kopal (g/quarre/hari) yang diperoleh dari hasil penyadapan. Sedangkan data sekunder merupakan data-data yang sudah ada sebelumnya berdasarkan arsip/informasi yang ada di HPGW, seperti sejarah HPGW, letak dan luas areal, keadaan lokasi dan kondisi tegakan serta kondisi sosial masyarakat.

3.3.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja dibagi-bagi kedalam beberapa tahapan utama yaitu : 1. Persiapan lokasi penyadapan, alat dan bahan.

2. Penyadapan kopal dengan metode Quarre.

Langkah-langkah penyadapan kopal dengan metode Quarre adalah sebagai berikut :

a. Pembersihan kulit bagian batang yang akan disadap setebal 3 mm, lebar 20 cm dan tinggi 70 cm, ketinggian 20 cm di atas permukaan tanah.

b. Pembuatan bidang sadap pada pohon contoh yang sudah dibersihkan dengan menggunakan kapak. Ukuran bidang sadap 10 cm×10 cm. Bidang sadapan pertama dibuat pada ketinggian 20 cm di atas permukaan tanah. Kedalaman pembaharuan luka sadapan 2 cm (tidak mengenai kayu) dengan lebar 10 cm.

c. Pemasangan talang-penampung getah pada bagian bawah luka sadapan pertama.

d. Pemberian ETRAT (12.40) dengan cara menyemprotkannya pada luka sadapan sebanyak 1 cc/ koakan (satu kali semprotan).

e. Penandaan masing-masing perlakuan di kulit kayu pada setiap pohon (periode 3 hari, periode 5 hari, periode 7 hari dan periode 9 hari) menggunakan spidol permanen.

f. Selanjutnya pembaharuan luka sadapan dilakukan sesuai perlakuan (3 hari sekali, 5 hari sekali, 7 hari sekali dan 9 hari sekali). Pembaharuan luka

13   

sadapannya ke arah atas dengan lebar 10 cm dan tinggi 1 cm dari luka sadapan pertama.

Gambar 1 Penyadapan kopal dengan metode Quarre.

Kemudian dalam penyadapan kopal dilakukan 4 perlakuan pada masing-masing pohon. Posisi atau arah perlakuan tersebut dengan menggunakan sistem putar yang searah jarum jam. Penggambarannya adalah sebagai berikut :

P.3 P.9 Utara 55555li P.9 P.5 P.7 P.3 P.7 P.7 P.5 Pohon 1 Pohon 2

Gambar 2 Posisi atau arah perlakuan penyadapan dengan sistem putar. Keterangan :

P.3 = Periode pelukaan 3 hari P.5 = Periode pelukaan 5 hari P.7 = Periode pelukaan 7 hari P.9 = Periode pelukaan 9 hari

Pohon 1 dilakukan perlakuan yang dimulai dengan pelukaan periode 3 hari ke arah utara, periode pelukaan 5 hari ke arah timur, periode pelukaan 7 hari ke arah selatan dan periode pelukaan 9 hari ke arah barat. Kemudian untuk pohon selanjutnya yaitu pohon 2, pelukaan berputar searah jarum jam yang dimulai dengan periode pelukaan 9 hari ke arah utara sehingga untuk periode pelukaan yang 3 hari bergeser menjadi ke arah timur, periode pelukaan 5 hari ke arah selatan dan periode pelukaan 7 hari ke arah barat, begitu pula pergeseran pada pohon-pohon berikutnya.

3. Pengukuran penyusutan berat kopal

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Penimbangan kopal sebelum penyimpanan dalam gudang

Kopal dalam seng penampung dimasukkan kedalam plastik ukuran 12 cm × 25 cm. Penimbangan kopal dengan menggunakan timbangan digital. Berat kopal (g) = (berat kopal dan plastik)-berat plastik bersih

b. Penimbangan kopal setelah penyimpanan dalam gudang

Kopal yang sudah disimpan dalam gudang penyimpanan, kemudian ditimbang kembali menggunakan timbangan digital.

Berat kopal (g) = (berat kopal dan plastik)-berat plastik bersih

Gambar 3 Penimbangan berat kopal dan penyimpanan kopal dalam gudang.

c. Perhitungan persentasi penyusutan

Penyusutan (%)= (berat awal-berat setelah penyimpanan)× 100% berat awal

15   

4. Pengujian kualitas kopal

Pengujian kualitas kopal secara visual berdasarkan SNI No. 01-5009.10-2001 (2001), yaitu dengan uji warna, uji ukuran butir, uji kebersihan, uji bau dan uji kekeringan pada akhir periode. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Uji warna

Membandingkan warna contoh kopal dengan warna contoh standar mutu kopal pada tempat yang terang (dengan penerangan yang cukup).

Gambar 4 Contoh uji warna kopal. b. Uji ukuran butiran

Kopal diayak dengan saringan/ayakan ukuran 1 cm x 1 cm, di atas lembaran plastik. Kopal yang lolos dari ayakan disebut kopal butir kecil, sedangkan yang tidak lolos disebut kopal butir besar.

c. Uji kekeringan

Kopal diayak dengan saringan/ayakan akuran 1 cm x 1 cm. Butir kopal yang lolos dari ayakan menunjukkan butir kopal telah kering angin, sedangkan yang tidak lolos terlihat menggumpal/lengket, selanjutnya ditampi dengan alat penampi untuk memisahkan kopal butir besar yang kering udara dengan kopal yang masih basah/lembab.

d. Uji kebersihan

Membandingkan contoh kopal dengan kebersihan contoh standar mutu kopal pada tempat yang terang (dengan penerangan yang cukup).

e. Uji bau

Contoh kopal di uji dengan indra penciuman hingga tercium bau khas kopal. Kemudian penentuan kualitas kopal U (utama) dan P (pertama) dilakukan dengan persyaratan yang sesuai pada tabel 1 berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia) No. 01-5009.10-2001 tahun 2001.

Tabel 1 Persyaratan khusus mutu kopal

Jenis Uji Satuan

Persyaratan Kualitas Kopal

U (Utama) P (Pertama) 1. Uji Visual

a. Warna - Kuning bening - pucat -

b. Ukuran butir - Besar Kecil

c. Kekeringan - Kering angin -

2. Uji Laboratorium

a. Kadar kotoran % Maks 2,0 Maks 5,0 b. Kadar abu % Maks 0.25 Maks 0,5

3.3.3 Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomize Design) dimana respon tersebut terdiri dari berbagai macam perlakuan yaitu pembaharuan luka sadapan periode 3 hari, 5 hari, 7 hari dan 9 hari. Bagan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan disajikan dalam tabel 2.

17   

Tabel 2 Bagan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan

Ulangan Pohon Contoh

Periode Pembaharuan Luka Sadapan 3 hari 5 hari 7 hari 9 hari

1 YI1k YII1k YIII1k YIV1k

2 YI2k YII2k YIII2k YIV2k

3 YI3k YII3k YIII3k YIV3k

4 YI4k YII4k YIII4k YIV4k

5 YI5k YII5k YIII5k YIV5k

…. …. …. …. ….

20 YI20k YII20k YIII20k YIV20k

Rata-rata YI YII YIII YIV

Keterangan :

Yijk = Produktivitas kopal pada perlakuan ke-i, ulangan ke-j dan periode panen ke-k

i = I, II, III, IV

I : Pembaharuan luka sadapan periode 3 hari II : Pembaharuan luka sadapan periode 5 hari III : Pembaharuan luka sadapan periode 7 hari IV : Pembaharuan luka sadapan periode 9 hari j = Ulangan pohon contoh (1,2,3,…,20)

k = Frekuensi panen kopal (1,2,3,…,15)

3.3.4Analisis Data

Pengaruh faktor perlakuan berdasarkan periode pembaharuan luka terhadap peningkatan produktivitas kopal dapat dilakukan dengan analisis ragam atau Analysis of Variance (ANOVA).

Tabel 3 Analysis of Variance (ANOVA)

Sumber Derajat Bebas (dB) Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT) Fhit Regresi t-1 JKR KTR KTR/KTS Sisa t(r-1) JKS KTS Total tr-1 JKT Hipotesis :

Pengujian terhadap pengaruh periode pembaharuan luka H0 : τ1 = τ2 = …….τi = 0

H1 : sekurangnya ada satu τi ≠ 0

Terima H0 : Perbedaan taraf perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap respon percobaan pada selang kepercayaan 95% (α=0,05). Terima H1 : Sekurang-kurangnya ada taraf perlakuan yang memberikan

pengaruh nyata terhadap respon percobaan pada selang kepercayaan 95% (α=0,05).

Hasil uji F-hitung yang diperoleh dari ANOVA dibandingkan dengan F-tabel pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05) dengan kaidah :

1. Jika F-hitung < F-tabel maka H0 diterima, H1 ditolak sehingga perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap produktifitas kopal pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05).

2. Jika F-hitung > F-tabel, maka H0 ditolak, H1 diterima sehingga perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap produktifitas kopal pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05).

Pengaruh faktor perlakuan berdasarkan periode pembaharuan luka terhadap peningkatan produktivitas kopal dilakukan dengan Analisis Ragam atau Analysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%. Apabila perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap produktivitas kopal, maka dilakukan pengujian lanjut dengan Uji Duncan menggunakan Software SPSS 16 untuk mengetahui kelompok perlakuan yang berbeda nyata dalam meningkatkan produktivitas kopal.

BAB IV

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

1.1 Sejarah Hutan Pendidikan Gunung Walat

Berdasarkan SK Menhut No. 188/Menhut-II/2005, fungsi Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) dengan luas 395 Ha adalah sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaannya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB. KHDTK HPGW mengemban tujuan khusus yakni sebagai Hutan Pendidikan dan Pelatihan (Hutan Diklat). HPGW dikelola sebagai media implementasi Tridharma Fakultas Kehutanan IPB yang meliputi fungsi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Sejarah awal berdirinya HPGW dimulai pada tahun 1951. Pada tahun tersebut kawasan Hutan Gunung Walat sudah mulai ditanami pohon damar (Agathis loranthifolia). Hutan yang ditanam pada tahun 1951-1952 tersebut saat ini telah berwujud sebagai tegakan hutan damar yang lebat di sekitar basecamp. Kemudian pada tahun 1967, Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penjajakan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian untuk mengusahakan Hutan Gunung Walat menjadi Hutan Pendidikan.

Pada tahun 1968 Direktorat Jenderal Kehutanan memberikan bantuan pinjaman Kawasan Hutan Gunung Walat kepada IPB untuk digunakan seperlunya bagi pendidikan kehutanan yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan IPB. Kemudian tahun 1969 diterbitkan Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 7041/IV/69 tertanggal 14 Oktober 1969 yang menyatakan bahwa Hutan Gunung Walat seluas 359 Ha ditunjuk sebagai Hutan Pendidikan yang pengelolaannya diserahkan kepada IPB.

SK Menteri Pertanian RI No. 008/Kpts/DJ/I/73 tentang penunjukan komplek Hutan Gunung Walat menjadi Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) pada tahun 1973 diterbitkan. Pengelolaan kawasan hutan Gunung Walat seluas 359 Ha dilaksanakan oleh IPB dengan status hak pakai sebagai hutan pendidikan dan dikelola Unit Kebun Percobaan IPB dengan jangka waktu 20 tahun. Pada tahun 1973 penanaman telah mencapai 53%. Tahun 1980 seluruh

wilayah HPGW telah berhasil ditanami berbagai jenis tanaman, yaitu damar (Agathis loranthifolia), pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), kayu afrika (Maesopsis eminii), mahoni (Swietenia macrophylla), rasamala (Altingia excelsa), sonokeling (Dalbergia latifolia), gamal (Gliricidae sp.), sengon (Paraserianthes falcataria), meranti (Shorea sp.), dan mangium (Acacia mangium).

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1992 tentang penunjukan komplek hutan gunung walat sebagai hutan pendidikan, pengelolaan kawasan hutan gunung walat sebagai hutan pendidikan dilaksanakan bersama antara Fakultas Kehutanan IPB dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan/Balai Latihan Kehutanan (BLK) Bogor. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 24 Januari 1993. Barulah pada tahun 2005 status hukum HPGW diperkuat dengan adanya SK Menhut No. 188/Menhut-II/2005 (Badan Eksekutif HPGW 2009).

1.2 Letak Geografis dan Luas Areal

HPGW terletak 2,4 km dari poros jalan Sukabumi-Bogor (desa segog).

Dokumen terkait