BAB IV PENYAJIAN DATA
4.2. Data Sekunder
Selain hasil wawancara kepada para informan, peneliti juga memperoleh data-data sekunder. seperti Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031. Perda ini merupakan acuan utama peneliti. Pada pasal 2 dan 3 Perda ini terdapat peran dan fungsi RTRW Kota Medan. Pada Bab II dalam Perda ini terdapat juga tujuan, kebijakan, dan strateginya. Dan pada pasal 91 mengenai kelembagaan dijelaskan bahwa pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan secara terpadu dan komprehensif melalui suatu koordinasi dan kerjasama yang terwujud dengan dibentuknya Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD). Tidak terlupa juga Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang sebagai dasar terbentuknya Perda ini.
Peneliti juga mendapatkan dokumen Peraturan Menteri Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah. Permendagri ini berisikan fungsi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) hingga Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kabupaten/Kota. Selain itu, sistem pelaporan dan pendanaannya juga terdapat dalam Permendagri ini.
Untuk menegaskan kembali pendelegasian BKPRD tersebut, Walikota Medan juga mengeluarkan Salinan Keputusan (SK) Walikota Nomor 640/1265.K/2010 tentang Pembentukan dan Penetapan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Medan. Dari data tersebut diperoleh bagan pengkoordinasian dan fungsi masing-masing SKPD terkait dalam bentuk
kerjasama atau team work. Melalui peraturan ini diberi garis yang jelas mengenai fungsi BKPRD untuk optimalisasi koordinasi antara Pemerintah Kota Medan serta instansi terkait di daerah dalam rangka menserasikan dan mensinergiskan penataan ruang Kota Medan.
Selain data-data tersebut, peneliti juga memperoleh Rencana Strategi Tahun 2011-2015 SKPD terkait dalam Rencana Strategi Tahun 2011-2015 sebagai sampel yakni BAPPEDA, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan, serta Badan Lingkungan Hidup. Namun peneliti tidak mengambil keseluruhan isi dari Rencana Strategi Tahun 2011-2015 tersebut, hanya saja informasi yang mendukung rumusan penelitian, seperti profil, visi-misi, struktur organisasi, serta tugas pokok dan fungsi. Melalui informasi tersebut maka dapat dilihat kesinkronan tupoksi SKPD, fungsi BKPRD, dan Perda ini serta implementasinya.
Untuk lebih mendukung data penelitian terhadap kinerja implementor, peneliti juga memperoleh data Program Kerja Pemerintah Kota Medan Bidang Fisik dan Tata Ruang Tahun 2011. Data ini melampirkan program dan anggaran yang akan dikerjakan tentunya berkaitan dengan Perda ini. melalui data ini, peneliti bisa melihat sikap para implementor. Data yang mendukung variabel disposisi implementor, peneliti juga memperoleh dokkumen piagam penghargaan yang diberikan pusat kepada Pemerintah Kota Medan sebagai apresiasi karena progres mengimplementasikan UU Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
Ditambah lagi peneliti memperoleh Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Medan Tahun 2011-2015. Di dalam Perda ini, penulis memperoleh banyak data yang mendukung penelitian ini. Karena dalam RPJMD ini disajikan kondisi Kota Medan, rencana-rencana atau program Pemerintahan Kota Medan, serta realisasi program dan anggaran Tahun 2005-2009. Selain itu, dalam Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 14 Tahun 2011 terdapat indikator program yang relevan dengan indikasi program RTRW yang tercakup dalam Lampiran Perda RTRW Kota Medan tersebut.
Peneliti juga memperoleh Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kota Medan T.A 2012. Melalui LAKIP ini, peneliti memperoleh data pendukung yang akurat untuk melihat kinerja para implementor kebijakan. Apalagi dalam LAKIP ini secara jelas menggambarkan analisis capaian kinerja pemerintah, khususnya kebijakan Perda RTRW Kota Medan. Seluruh data-data ini, selengkapnya dapat dilihat pada bagian lampiran. Peneliti juga hanya melampirkan bagian atau pasal yang mendukung penelitian ini.
Selain dokumen-dokumen tersebut, peneliti juga memperoleh foto-foto yang dapat diperoleh saat di lapangan untuk mendukung penelitian ini. foto-foto tersebut meliputi lokasi penelitian, tempat rapat BKPRD, piagam penghargaan, gambar rencana pola dan struktur ruang Kota Medan serta foto udara Kota Medan. Adapun foto-foto dan dokumen yang dimaksudkan oleh peneliti yakni sebagai berikut:
Gambar 4.2.1.: Kantor Walikota sebagai Lokasi Penelitian dan Gedung Rapat BKPRD Kota Medan
Gambar 4.2.2 : Tinjau Lapangan oleh BKPRD di Kampus Kedokteran dan Kedokteran Gigi Universitas Prima Indonesia
Gambar 4.2.3.: Tinjau Lapangan oleh BKPRD di salah satu kawasan Kota Medan
Gambar 4.2.4.: Piagam penghargaan yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kota Medan karena tergolong Kota yang progres dalam memperdakan
UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
Gambar 4.2.5.: Rapat BKPRD tanggal 15 April 2014 pukul 09.41 WIB di Aula BAPPEDA Kota Medan membahas Tanah Galian
BAB V
ANALISIS DATA
Setelah mengurutkan, mengatur dan mengelompokkan data-data atau informasi yang didapatkan baik melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi selama penelitian di lapangan maka dilakukan analisis. Dengan melakukan analisis, sehingga dapat diperoleh temuan, baik temuan formal maupun temuan substantif yang dapat menjawab fokus atau masalah penelitian. Analisis data yang dilakukan peneliti juga disesuaikan dengan teori-teori tentang model implementasi dengan variabel sebelumnya.
5.1. Kejelasan isi kebijakan / undang-undang
Pada dasarnya suatu kebijakan diformulasikan dengan maksud untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Kebijakan tersebut dirumuskan secara rinci dan disusun secara jelas sesuai dengan kepentingannya. Kejelasan isi kebijakan berarti isi dan tujuan dari suatu kebijakan mudah dipahami implementor dan dapat diterjemahkan pada pengimplementasiannya.
Menurut para informan yang menjadi dasar dikeluarkannya Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 adalah Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 adalah Pasal 18 ayat (6) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, UU Darurat Nomor 8 Tahun
1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-Kota Besar Dalam Lingkungan Daerah Provsu, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 11/PRT/M/2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi Dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, beserta Rencana Rincinya. Hal ini sesuai dengan Pembukaan Perda Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031, dimana dasar dari terbentuknya Perda RTRW ini sama seperti yang telah diungkapkan oleh informan. Para implementor sangat memahami latar belakang terbentuknya Perda ini karena memang Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Medan pun terbentuk karena hal yang sama dan bertugas untuk mengkoordinasikan serta merumuskan penyusunan rencana tata ruang Kota Medan. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemahaman implementor terhadap dasar dibentuknya Perda RTRW ini sudah sangat baik.
Selanjutnya, kejelasan isi kebijakan juga ditinjau dari target dan tujuannya. Menurut para informan, yang menjadi target dan tujuan Perda tersebut yakni tertatanya Kota Medan secara teratur dan rapi serta berwawasan lingkungan. Hal ini sesuai dengan data sekunder pada Perda Nomor 13 Tahun 2011 Tentang RTRW Kota Medan Tahun 2011-2031 Pasal 6. Yang menjadi tujuan dan target adalah (a) mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan serta mempunyai daya saing dan daya tarik sebagai daerah tujuan investasi; (b)
memanfaatkan ruang daratan, lautan dan udara untuk aktivitas pembangunan kota berbasis ekonomi di sektor perdagangan dan jasa, pariwisata serta industri yang berwawasan lingkungan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada saat ini para implementor hanya berfokus pada satu tujuan dahulu yakni menjadikan Kota Medan teratur, rapi, dan berwawaskan lingkungan. Sedangkan untuk menjadikan Kota Medan sebagai basis perekonomian merupakan tujuan yang harus dicapai setelah tujuan pertama tercapai. Mengingat juga, jangka waktu pencapaian tujuan dan target ini adalah selama 30 tahun, dan saat ini masih berjalan kurang lebih dua tahun.
Melalui wadah koordinasi BKPRD yang dikerjakan sampai saat ini, para implementor selalu difasilitasi untuk mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan bersama agar tidak menyimpang. Karena ketika suatu permasalahan muncul, BKPRD melaksanakan tugasnya yakni memaduserasikan rencana pembangunan jangka panjang dan menengah dengan rencana tata ruang Kota Medan serta mempertimbangkan pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan melalaui instrument Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Dengan demikian, pemahaman implementor terhadap target dan tujuan daripada kebijakan sampai sejauh ini sudah sangat baik.
Selain dua hal di atas, kebijakan juga dapat dikatakan berjalan atau tidak dengan melihat standar dan indikatornya. Menurut para informan, indikator dari kebijakan ini sudah ditetapkan di UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
dan kebijakan lain yang menjadi dasar dibentuknya Perda ini. Misalkan saja, seluas 30% dari keseluruhan luas wilayah Kota harus sudah merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Pada Lampiran IV-Indikasi Program Utama Tahunan dan Lima Tahunan Perda RTRW Kota Medan Tahun 2011-2031 juga sudah ditetapkan indikator setiap instansi yang terlibat dalam BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah). Standar dari kebijakan ini yaitu pembangunan yang mengacu pada teori rencana tata ruang.
Namun menurut para informan, dalam hal implementasinya bisa mengalami perubahan sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah atau disesuaikan dengan tingkat kebutuhan atau urgensinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam mengimplementasikan Perda RTRW ini, para implementor berpatokan pada dasar terbentuknya, yakni UU Nomor 26 Tahun 2007 dan terhadap Perda itu sendiri. Walaupun dalam prakteknya, para implementor (BKPRD) tidak selalu berpatokan pada standar dan indikator yang telah ditetapkan karena perbedaan yang kontras antara konsep dan lapangan. Dan capaian standar dan indikator program ini dapat dilihat dalam LAKIP dan RPJMD Kota Medan Tahun 2011-2015. Dari pemaparan tersebut, pemahaman para implementor dari segi standar dan indikatornya sudah sangat baik dan tidak kaku.
Berikutnya, kejelasan isi kebijakan dilihat dari kaitannya dengan kebijakan yang lain. Menurut para informan, kebijakan ini juga memiliki hubungan yang saling mendukung dengan kebijakan lainnya, bahkan hampir semua kebijakan. Misalkan saja RPJMD yang mengacu pada APBD, AMDAL harus sesuai dengan Tata Ruang dan digambarkan dalam RTRW yang tercakup di RDTR (Rencana
Detail Tata Ruang). Relokasi industri yang dilakukan karena tidak sesuai dengan lokasinya harus mengacu pada Perda RTRW dan instansi lain juga berpedoman pada RTRW ini. Kebijakan Pemerintah Pusat juga sangat sering memengaruhi terutama yang bersifat urgen akan menjadi prioritas pembangunan.
Berdasarkan pernyataan dari para informan tersebut menunjukkan bahwa mereka memahami arahan Perda ini dan mengusahakan setiap kebijakan yang mengarah pada penataan ruang mengacu kepada Perda RTRW ini. Walaupun dalam implementasinnya sangat berbeda dengan yang telah dikonsepkan. Adanya perhatian dari setiap tingkatan pemerintah yang dapat memengaruhi ketentuan di dalam Perda tetapi terkhusus pada hal yang bersifat urgen dan sesuai dengan kebutuhan. Apalagi di dalam Permendagri Nomor 50 Tahun 2009 telah diatur bagaimana BKPRD Kabupaten/Kota harus berkoordinassi dengan BKPRD Provinsi, BKPRN dan Pemerintah Daerah serta Pemerintah Pusat. Demikian juga di dalam SK Walikota tentang Pembentukan dan Penetapan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Medan, telah ditetapkan tugas BKPRD Kota Medan untuk melakukan koordinasi pelaksanaan konsultasi rencana tata ruang Kota Medan kepada BKPRD Provinsi Sumatera Utara dan BKPRN.
Dari semua penjelasan yang telah dipaparkan oleh peneliti, maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel kejelasan isi kebijakan sudah terpenuhi dengan baik dalam implementasi Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031. Dan tentu saja variabel ini sangat berpengaruh dalam pengimplementasian Perda RTRW ini,
tiap implementor (anggota BKPRD). Jika para implementor kurang memahami kejelasan kebijakan, maka akan membuat arahan dari kebijakan ini menjadi tidak tercapai.
5.2. Komunikasi dan Koordinasi
Komunikasi merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke bawah maupun sebaliknya. Komunikasi dilakukan untuk menghindari distorsi implementasi. Sementara itu koordinasi menyangkut persoalan bagaimana praktik pelaksanaan kekuasaan. Koordinasi berarti adanya kerjasama yang saling terkait dan saling mendukung antar pelaksana kebijakan dalam guna pencapaian tujuan implementasi kebijakan.
Menurut para informan, komunikasi dan pola interaksi Perda ini yang diwadahi oleh BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) terwujud dalam rapat yang diselenggarakan jika ditemukan case dari setiap instansi terkait dan ada peraturan yang perlu dibahas. Tetapi sampai sejauh ini, hampir setiap minggu bahkan setiap hari diadakan rapat walaupun menurut ketentuan yang telah ditetapkan, seharusnya rapat kinerja dilakukan pertriwulan.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut jika melihat Permendagri Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah Pasal 14 ayat (2) yang menyebutkan bahwa “BKPRD Kabupaten/Kota menyelenggarakan pertemuan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan untuk menghasilkan rekomendasi alternatif kebijakan penataan ruang” sudah dilaksanakan oleh para implementor (anggota BKPRD)”. Sebagai bahan pertimbangan dibentuknya
Permendagri ini adalah untuk menserasikan dan mensinergiskan penataan ruang daerah, sehingga diperlukan koordinasi dan sinkronisasi antar susunan pemerintah Hal ini juga sekaligus menunjukkan seringnya masalah yang muncul terkait tata ruang sehingga memerlukan pertemuan yang intens untuk semua implementor kebijakan ini. Berdasarkan hasil wawancara, masalah tersebut sering muncul dari aktivitas masyarakat, misalkan saja yang menginginkan perubahan peruntukan lahan dan masyarakat yang buta akan peraturan. Dengan demikian, komunikasi dan koordinasi yang dilakukan oleh para implementor dalam rapat BKPRD sudah sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Selain SKPD terkait sebagai anggota BKPRD yang berkoordinasi, menurut para informan BKPRD juga memiliki hubungan kerjasama dengan pihak pemerintah lain bahkan dapat memengaruhi kebijakan yang telah ditetapkan oleh BKPRD terutama Pemerintah Pusat. Di tingkat daerah provinsi, BKPRD Kota Medan juga memiiki hubungan koordinasi dengan Pemprovsu ataupun BKPRD Provinsi. Bahkan BKPRD Kota Medan juga menjalin hubungan dengan tingkat kecamatan dan kelurahan, misalkan saja dalam pembangunan jalan. Gambaran komunikasi dan koordinasi antara BKPRD Kota Medan dengan tingkat pemerintahan lainnya sama halnya dengan yang terjadi untuk SKPD sebagai anggota yang terkait, yakni berdasarkan kasus yang muncul dan perlu dibahas, demikian juga dengan keputusan yang diambil.
Hal tersebut sesuai dengan pertimbangan dibentuknya Permendagri Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah
pemerintahan. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa para implementor sudah melakukan kerjasama yang saling terkait dan saling mendukung antar pelaksana kebijakan dalam guna pencapaian tujuan implementasi kebijakan. Sehingga menghindari distorsi implementasi.
Sedangkan untuk alat dan metode sosialisasinya tentu mengacu pada Perda dan pengimplementasiannya. Namun menurut para informan, format bakunya belum ada dan dilakukan karena faktor kebiasaan sehingga dinilai kurang tegas. Hal ini memang benar adanya bahwa di dalam Perda RTRW, Permendagri Nomor 50 Tahun 2009, maupun dalam Petunjuk Laksana/Teknis tidak ada format baku yang mengatur alat dan metode sosialisasinya sehingga hanya berdasarkan pada implementasi yang dilakukan oleh para implementor. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa walaupun tidak ada format baku yang mengatur, para implementor tetap melakukan tugasnya sebagaimana seharusnya atau bersifat konvensional.
Berdasarkan semua penjelasan yang telah dipaparkan oleh peneliti, maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel komunikasi dan koordinasi sudah terpenuhi dengan baik dalam implementasi Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031. Dan tentu saja variabel ini sangat berpengaruh dalam pengimplementasian Perda RTRW ini, karena dengan adanya komunikasi dan koordinasi antar semua anggota bahkan tingkat pemerintahan lain, maka akan dapat menghindari distorsi. Sehingga implementor (anggota BKPRD) dalam melakukan perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang dapat berjalan dengan sinkron tanpa mengganggu tugas pokok dan fungsi antar anggota BKPRD.
5.3. Disposisi atau Kecenderungan Pelaksana
Disposisi implementor adalah kecenderungan sikap maupun pemahaman yang dimiliki oleh implementor yang akan memengaruhi pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan. Tanggapan pemerintah Kota Medan terhadap Perda ini sangat positif apalagi banyak program pemerintah mengacu tata ruang. Menurut pengalaman mereka (pemerintah), bantuan juga tidak akan diberikan baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah kalau tidak ada tata ruangnya. Kota Medan juga mendapat reward dari Pemerintah Pusat karena termasuk Pemerintahan Kota yang progresif dalam memperdakan atau mem-follow up UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Hal ini terbukti dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 dengan rentang waktu yang tergolong cepat.
Setiap instansi dalam melakukan tugas dan fungsi pokoknya yang berhubungan dengan penataan ruang selalu menjadikan Perda RTRW ini sebagai pedomannya. Walikota Medan juga sudah membuat peraturan yang tertuang dalam SK Walikota Nomor 640/1265.K/2010 tentang Pembentukan dan Penetapan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Medan. Dalam Perwalkot tersebut sudah dimuat pembagian kelompok kerja dan penanggung jawab beserta tugas dan fungsi setiap instansi terkait. Hal ini seperti yang terdapat dalam data sekunder, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50
Tahun 2009 Tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah dan SK Walikota Nomor 640/1265.K/2010 tentang Pembentukan dan Penetapan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Medan. Dari pemaparan tersebut menunjukkan bahwa para implementor selalu berpedoman pada ketentuan yang telah ditetapkan dan melakukan penyesuaian terhadap Perda.
Saat mengimplementasikan Perda ini, tidak bisa dipungkiri adanya kendala-kendala yang harus dihadapi oleh setiap SKPD (anggota BKPRD). Menurut para informan, kendala-kendala yang sering ditemukan adalah keterbatasan lahan di Kota Medan dan investasi yang dibutuhkan. Mereka juga menambahkan bahwa dalam penataan ruang tidak dapat hanya berpatokan pada RTRW saja karena dianggap terlalu umum, berbeda dengan saat diimplementasikan. Hal ini dapat dilihat dari data sekunder (Perda RTRW Kota Medan) tersebut yang masih memberikan gambaran secara umum. Dan jika dikaitkan dengan pertambahan jumlah penduduk Kota Medan, secara otomatis akan meningkatkan jumlah aktivitas masyarakat dan tentu saja akan semakin membutuhkan lahan.
Sebenarnya sudah ada draft mengenai keterangan detail untuk Perda ini yaitu Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Namun, RDTR ini masih dalam tahap pengesahan di Pemerintah Pusat.Sehingga keputusan mengarah kepada kebijakan yang setara dengan RDTR tetapi produknya tahun 1978. Tentu saja menurut mereka, ini menjadi kendala utama karena kondisi Kota Medan saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi Medan era 70an.
Kendala berikutnya yakni dilema yang dirasakan oleh para implementor (BKPRD) karena adanya campur tangan dari Pemerintah setingkat provinsi maupun pusat dalam berbagai hal. Misalkan saja, telah ditentukan di dalam Perda jarak 15 meter dari pinggir sungai tidak ada bangunan. Tetapi karena ada rekomendasi dari Pemerintah Provinsi sejauh 10 meter, maka para implementor terkadang melanggar isi Perda dan mengikuti rekomendasi dari pemerintah-pemerintah tersebut. Namun, BKPRD tetap berusaha mengacu pada Perda dan tidak melanggar Perda. BKPRD juga selalu mengingatkan kepada pengembang agar tetap berwawaskan lingkungan saat melakukan pembangunan. Hal ini menunjukkan komitmen dari para implementor (anggota BKPRD) untuk tetap berpatokan pada Perda yang dianggap sebagai acuan yang ideal dan telah disepakati bersama demi kepentingan masyarakat luas.
Selain itu, kendala yang sering ditemukan yaitu, peserta rapat BKPRD dihadiri hanya staff saja. Seharusnya peserta rapat adalah para petinggi yang bertugas mengambil kebijakan di instansi terkait. Sering ditemukan staff yang hadir belum mendapat pengarahan dari atasannya. Sehingga akan menjadi penghambat setiap implementor dalam bertindak. Sehingga koordinasi antar bagian harus ditegaskan. Hal ini terkait lagi dengan format baku yang belum ditentukan di Perwal. Seandainya sudah digariskan secara tegas, mungkin koordinasi bisa berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran yang tinggi oleh para atasan SKPD terhadap pentingnya fungsi rapat BKPRD untuk mengoptimalisasikan koordinasi agar tidak terjadi distorsi.
Kendala yang sering terjadi adalah dikarenakan masyarakat buta akan kebijakan. Sehingga sering secara tidak sadar masyarakat melanggar peraturan seperti perubahan fungsi bangunan. Hal ini disebabkan perubahan pola aktivitas dan perkembangan dinamika kota sementara disisi lain saat ini Kota Medan belum memiliki ketentuan dan perizinan mengenai penggunaan bangunan dan perubahan fungsi bangunan yang bersifat sementara. Kondisi ini merupakan kelalaian dari BKPRD dalam mengoptimalkan peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, serta pengendalian pemanfaatan ruang.
Berdasarkan hasil wawancara secara keseluruhan terhadap variabel disposisi atau sikap pelaksana terhadap Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan ini yakni belum maksimal. Padahal variabel ini sangat penting dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan pengendalian kebijakan secara menyeluruh. Karena komitmen yang tinggi dan sikap integritas menjadi variabel terpenting setelah pemahaman mereka terhadap isi kebijakan.
5.4. Sumber Daya
Sumber daya, yaitu menunjuk setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia maupun sumber daya finansial. Berikut ini merupakan kriteria sumber daya yang dibutuhkan dalam proses implementasi Peraturan Daerah No. 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031: