• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Umum Proyek

Dalam dokumen PROYEK PEMBANGUNAN FLAT POLRI (Halaman 10-0)

BAB II PROFIL INSTANSI

2.2 Data Umum Proyek

Nama Proyek : Pembangunan Flat POLRI Pemilik : Kepolisian Republik Indonesia Konsultan Perencana : PT. KSO PAY- Ras Digital Media Konsultan MK : PT. Wahanacipta Bangunwisma Kontraktor Pelaksana : PT. KSO PAY - Ras Digital Media

Lokasi : Jalan Raya Cikeas, Cikeas Udik, Kecamatan Gn Putri, Kab Bogor, Jawa Barat, 16966

Luas Total Bangunan : 9.555 m2

Waktu Pelaksanaan : 13 Mei 2020 – 31 Maret 2021

4

BAB III

KEGIATAN KERJA PRAKTIK

3.1 Pendahuluan

Pada bagian ini penulis menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang telah penulis lakukan selama menjalani Kerja Praktik pada Proyek Pembangunan Flat POLRI yang sedang di kerjakan oleh PT. KSO PAY - RAS Digital Media. Penulis melakukan pengamatan dan peninjauan secara langsung ke lapangan agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.

3.2 Tinjauan Umum

Progres Kerja Praktik meliputi pengenalan dan penugasan. Kegiatan yang dilakukan selama Kerja Praktik berlangsung adalah untuk memenuhi tujuan dari Kerja Praktik.

3.2.1 Pengenalan

Pengenalan kepada staff dan juga pelaksana lapangan dilakukan agar menambah keakraban serta memudahkan komunikasi selama bekerja maupun diluar pekerjaan.

3.2.2 Penugasan

Tugas yang diberikan oleh Bagian Struktur adalah melakukan penyesuaian struktur yang telah ditentukan dengan gambar. Berikut penjelasan yang penulis lakukan selama Kerja Praktik:

1. Membuat daily report

Daily report adalah laporan harian yang berisi tentang apa saja pekerjaan setiap hari, dalam daily report berisi jumlah pekerja, foto progres pekerjaan dan detail pekerjaan seperti Gambar 3.1. Daily report bertujuan untuk melaporkan semua kegiatan dan progres pekerjaan yang ada pada satu hari kerja, yang biasanya diisi pada akhir hari pekerjaan.

5 Gambar 3.1 Form Daily Report

(Sumber: Data Pribadi)

2. Mapping Pekerjaan

Mapping merupakan suatu pekerjaan mengawasi progress pekerjaan yang sedang dilakukan. Tujuan dari mapping adalah untuk mengecek dan mencocokkan gambar denah dengan kondisi yang ada di lapangan. Dari hasil mapping kita dapat mengetahui bagian mana saja yang sudah dikerjakan dan belum dikerjakan.

Pekerjaan ini langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan dengan cara menandai progres yang telah selesai dan diberi tanggal kapan pekerjaan selesai dilaksanakan seperti pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Mapping Progress pekerjaan Tie Beam (Sumber: Data Pribadi)

6 3. Melakukan Perhitungan Volume Pengecoran

Perhitungan volume pengecoran bertujuan untuk menentukan seberapa banyak beton ready mix yang akan dipesan. Perhitungan volume pengecoran dilakukan dua kali, yang pertama dengan menggunakan tools area pada Autocad dan dipindahkan ke Excel seperti Gambar 3.3 , yang kedua adalah dengan melakukan pengukuran bekisting langsung pada lapangan. Setelah kedua hasil didapatkan kemudian dibandingkan untuk menentukan banyaknya beton ready mix yang akan dipesan.

Gambar 3.3 Contoh Perhitungan Volume Pengecoran (Sumber: Data Pribadi)

4. Melakukan checklist Pekerjaan

Cheklist bertujuan untuk mencocokkan apakah kondisi di lapangan sesuai dengan yang ada pada shop drawing. Hal yang biasa dilakukan adalah mengecek apakah ukuran bekisting sudah sesuai sebelum dilakukannya pengecoran. Hal yang diamati meliputi dimensi bekisting, kebersihan didalam bekisting, pemasangan deking, jarak antar sengkang dan diameter tulangan.

5. Melakukan Kunjungan Lapangan

Dengan malakukan kunjungan lapangan mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana mekanisme pekerjaan sipil secara langsung. Dari kunjungan lapangan mahasiswa dapat mengetahui sudah sejauh mana progres yang sedang dikerjakan. Dengan melakukan kunjungan lapangan mahasiswa dapat mengumpulkan data yang nantinya akan diisi kedalam daily report.

7 3.3 Ruang Lingkup Pekerjaan

Selama massa Kerja Praktik yang diamati adalah metode pelaksaanan pekerjaan struktur bagian dasar. Pekerjaan yang diamati meliputi :

1. Metode pengerjaan Pile cap

Pile cap merupakan salah satu struktur bawah, kegunaan dari pile cap adalah sebagai penyalur beban menuju pondasi. Pengerjaan pile cap dimulai dari pengurukan tanah dan diakhiri dengan curing beton. Pile cap dalam proyek ini digunakan untuk mengakomodir pondasi jenis group pile.

2. Metode pengerjaan Tie beam

Tie beam adalah balok yang posisinya bersentuhan dengan tanah. Kegunaan dari tie beam adalah penyalur beban menuju pile cap dan kemudian di teruskan menuju pondasi. Pengerjaan tie beam di mulai dari pengurugan tanah dan diakhiri dengan curing beton. Perancangan tie beam sama seperti perancangan balok.

8

BAB IV

HASIL KERJA PRAKTIK

4.1 Umum

Pile cap dan Tie beam merupakan elemen struktur utama yang berfungsi dalam penyaluran gaya ke pondasi. Dalam pengerjaannya banyak proses yang dilakukan mulai dari pemasangan tulangan hingga ke proses pengecoran. Penulis melakukan pengamatan di lapangan guna menambah wawasan dan pengalaman. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai material dan pelaksanaannya.

4.2 Bahan

Bahan material yang digunakan dalam proyek ini adalah:

• Beton ready mix

Dalam pengerjaan tie beam dan pile cap material yang paling utama adalah beton dan tulangan. Beton ready mix merupakan beton yang siap pakai yang telah disediakan oleh sub kontraktor. Dalam proyek Pembangunan Flat Polri sub kontraktor yang menyuplai beton ready mix adalah PT. Solusi Bangun Beton (DYNAMIX). Beton yang digunakan bermutu K-350 NFA (Non- Fly Ash), agar mutu tetap terjamin maka dilakukanlah Slump test. Nilai slump test harus sebesar 12 cm ± 2 cm.

• Besi baja tulangan

Tulangan baja dalam beton berfungsi untuk menahan gaya tarik dan gaya tekan yang bekerja pada struktur. Baja yang dipakai dalam proyek Pembangunan Flat POLRI memiliki diameter yang bervariasi bergantung pada kebutuhan seperti pada Gambar 4.1.

9 Gambar 4.1 Jenis besi dan ukuran yang digunakan

(Sumber: Data Pribadi)

• Beton decking

Beton decking atau disebut juga dengan beton tahu berfungsi untuk menjaga jarak tulangan dengan permukaan bekisting. Beton decking berbentuk silinder pejal seperti pada Gambar 4.2. Ditengah beton decking terdapat kawat bendrat yang bertujuan untuk mengikat beton decking dengan tulangan nantinya. Beton decking yang digunakan dalam Proyek Pembangunan Flat Polri dibuat secara manual yang terdiri dari campuran semen, agregat, dan air. Ketebalan dari beton decking tersebut sebesar 5 cm.

Gambar 4.2 Beton Decking (Sumber: Data Pribadi)

• Bekisting

Bekisting merupakan cetakan beton saat dilakukan pengecoran. Material yang digunakan untuk pembuatan bekisting adalah Plywood dan juga Kaso seperti

10 pada Gambar 4.3. Bekisting dibuat langsung dilapangan setelah tulangan baja terpasang.

Gambar 4.3 Bekisting (Sumber: Data Pribadi)

• Kawat Bendrat

Kawat berfungsi untuk mengikat antara tulangan dengan sengkang dan juga mengikat antara tulangan dengan beton decking. Tujuan dari pengikatan ini agar tulangan tidak bergeser saat dilakukannya pengecoran. Dalam penggunaannya kawat harus dipotong terlebih dahulu sebelum digunakan seperti pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Kawat Bendrat (Sumber: Data Pribadi)

4.3 Alat

Dalam pengerjaan pile cap dan tie beam, dibutuhkan alat-alat yang dapat membantu pekerjaan agar lebih cepat dan mudah. Peralatan yang digunakan adalah :

11

• Mobile crane

Mobile crane sangat membantu pekerjaan yang berhubungan dengan memindah barang dengan beban yang besar seperti pada Gambar 4.5. Dalam proyek ini mobile crane berfungsi untuk bongkar muat tulangan dan juga pada saat pengecoran. Mobile crane yang digunakan memiliki kapasitas sebesar 50 Ton.

Proyek ini menggunakan 2 (dua) unit mobile crane.

Gambar 4.5 Mobile Crane (Sumber: Data Pribadi)

• Vibrator

Vibrator adalah alat yang gunakan untuk mengeluarkan udara yang terperangkap saat dilakukannya pengecoran seperti pada Gambar 4.6. Vibrator terdiri dari 2 bagian yaitu mesin vibrator dan kepala vibrator. Penggunaan vibrator harus berhati-hati karena jika kepala vibrator terlalu dekat dengan bekisting dapat menyebabkan kebocoran pada bekisting.

12

Gambar 4.6 Mesin vibrator dan kepala vibrator (Sumber: Data Pribadi)

• Concrete truck mixer

Untuk menyuplai beton ready mix digunakanlah concrete truck mixer seperti pada Gambar 4.7. Truck ini akan terus berputar selama perjalanan agar beton tetap dalam kondisi yang prima.

Gambar 4.7 Concrete truck mixer (Sumber: Data Pribadi)

• Theodolite

Theodolite seperti pada Gambar 4.8 berfungsi untuk pembuat acuan dalam as elemen struktur. Theodolite juga digunakan mengecek ketepatan plat lantai ataupun posisi elemen struktur.

13 Gambar 4.8 Theodolite

(Sumber: Data Pribadi)

• Concrete bucket

Concrete bucket seperti pada Gambar 4.9 adalah wadah yang digunakan untuk mengangkut beton ready mix. Pengangkutan dilakukan dengan cara beton ready mix yang terdapat pada concrete truck mixer dituang kedalam concrete bucket, kemudian concrete bucket diangkat menuju lokasi pengecoran dengan cara di kaitkan ke mobile crane.

Gambar 4.9 Concrete bucket (Sumber: Data Pribadi)

• Compressor

Compressor seperti pada Gambar 4.10 berfungsi untuk membersihkan kotoran didalam bekisting sebelum dilakukannya pengecoran dengan cara menembakkan angin. Compressor juga dapat dipadukan dengan air yang bertujuan untuk membersihkan area konstruksi dari tanah yang telah mengeras.

14 Gambar 4.10 Compressor

(Sumber: Data Pribadi)

• Bar cutter

Bar cutter berfungsi sebagai pemotong besi. Cara pemotongan besi pada bar cutter adalah dengan memasukkan besi kebilah pisau dan menarik tuas, yang nantinya besi akan dipotong oleh bilah pisau seperti pada Gambar 4.11. Pemotongan besi dengan bar cutter dapat dilakukan sekaligus jika besi memiliki diameter yang kecil, jika diameter besi besar maka pemotongan besi dilakukan satu persatu.

Gambar 4.11 Bar Cutter (Sumber: Data Pribadi)

• Bar bender

Bar bender seperti pada Gambar 4.12 digunakan untuk menekuk besi dengan sudut yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sebelum baja ditekuk dengan bar bender baja harus dipotong terlebih dahulu menggunakan alat bar cutter.

Dalam menekuk baja, bar bender dapat menekuk beberapa batang baja tergantung diameter dari baja, jika diameter baja kecil maka dapat dilakukan beberapa batang baja sekaligus. Pada proyek Pembangunan Flat POLRI hanya ada 1 (satu) bar bender.

15 Gambar 4.12 Bar bender

(Sumber: Data Pribadi)

• Mesin Stamper

Mesin stamper adalah mesin yang berfungsi sebagai pemadatan tanah. Cara kerja alat ini adalah dengan menumbuk tanah berkali-kali hingga tanah rata dan padat seperti pada Gambar 4.13

Gambar 4.13 Mesin Stamper (Sumber: Data Pribadi)

• Kunci Tie-Road

Kunci Tie-road memiliki fungsi sebagai pengunci bekisting saat dilakukan pengecoran. Dengan menggunakan kunci ini bekisting dapat menetralkan tekanan pada rangka beton sebelum beton mengeras seperti pada Gambar 4.14

16 Gambar 4.14 Kunci Tie-road

(Sumber: Data Pribadi)

• Excavator

Excavator seperti pada Gambar 4.15 memiliki fungsi untuk membantu pekerjaan tanah. Dengan menggunakan excavator pekerjaan seperti mengeruk dan mengurug tanah menjadi jauh lebih cepat. Proyek ini menggunakan 2 (dua) unit excavator.

Gambar 4.15 Excavator (Sumber: Data Pribadi)

• Baby roller

Baby roller seperti pada Gambar 4.16 berfungsi sebagai pemadat tanah. Cara kerja alat ini dengan menggilas permukaan tanah timbunan sehingga padat. Alat ini memiliki tuas untuk mengatur arah maju dan mundur. Untuk membelokkan alat ini menggunakan tenaga manual dengan cara digeser

17 Gambar 4.16 Baby roller

(Sumber: Data Pribadi)

4.4 Pekerjaan Pile Cap

Dalam pengerjaan Pile Cap ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pada Gambar 4.17 menunjukan diagram alur atau flowchart dari pekerjaan pile cap. Jika diringkas tahapan pekerjaan pile cap diantaranya:

1. Pengerukan Tanah 2. Pekerjaan Lantai Kerja 3. Pengukuran (Survey)

4. Pekerjaan Pemasangan Tulangan Pile Cap 5. Pekerjaan Pemasangan Bekisting Pile Cap 6. Pengecoran Pile Cap

7. Pekerjaan Pelepasan Bekisting 8. Perawatan Pile Cap

18 Gambar 4.17 Flowchart pekerjaan pile cap

4.4.1 Pengerukan tanah

Pengerukan tanah dalam pengerjaan pile cap dilakukan hingga pondasi pancang terlihat. Pengerukan tanah di lakukan secara manual dan juga di bantu dengan excavator.

Tanah hasil pengerukan akan di pindahkan ke tempat lain dengan menggunakan dump truck.

Tanah yang sudah di pindahkan ini nantinya akan di gunakan lagi untuk proses pengurugan.

4.4.2 Pekerjaan lantai kerja

Tahapan selanjutnya setelah pengerukan tanah adalah pekerjaan lantai kerja.

Pekerjaan lantai kerja meliputi pemadatan tanah dan pengecoran lantai kerja.

1. Pemadatan tanah dibantu dengan mesin stamper yang nantinya mesin ini akan menumbuk tanah sehingga tanah menjadi padat. Tanah yang di padatkan dengan mesin stamper juga harus rata. Selain dengan stamper pemadatan tanah juga dibantu dengan alat baby roller.

19 2. Setelah tanah padat dan rata maka pengecoran lantai kerja dapat dilakukan. Beton yang digunakan pada lantai kerja dibuat secara manual tidak menggunakan beton ready mix.

Lantai kerja berfungsi untuk menjaga tulangan yang nanti di pasang diatas lantai kerja tetap rata.

4.4.3 Pengukuran (Survey)

Pengukuran dilakukan oleh surveyor, yang bertujuan untuk memastikan dimensi serta posisi pile cap yang tepat. Surveyor juga akan memberikan marking mengenai dimensi dari pile cap. Pekerjaan pengukuran dibantu dengan alat theodolite. Surveyor juga memastikan elevasi dari lantai kerja, hal ini bertujuan agar ketinggian tiap pile cap sesuai dengan shop drawing.

4.4.4 Pekerjaan pemasangan tulangan Pile Cap

Pemasangan tulangan pada pile cap diawali dengan pengangkutan tulangan yang sudah dipotong beserta sengkang dari area fabrikasi. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan human power, tulangan dan sengkang dibawa dengan cara digotong. Setelah tulangan dan sengkang dibawa keluar dari area fabrikasi, selanjutnya tulangan dirakit langsung dilapangan. Dalam proses perakitan tulangan dan sengkang diikat dengan menggunakan kawat bendrat.

4.4.5 Pekerjaan pemasangan bekisting Pile Cap

Pemasangan bekisting dilakukan setelah tulangan pada pile cap terpasang. Bekisting dipasang mengelilingi tulangan pile cap. Bekisting dibuat langsung di lapangan dengan menyatukan kaso dan plywood dengan paku. Penguncian bekisting ditambah dengan menggunakan kunci tie-road. Cara pemasangan kunci tie-road adalah dengan memutar baut hingga ketat.

Beton decking dipasang setelah bekisting terpasang. Beton decking dipasang pada tulangan yang menyentuh lantai kerja ataupun yang menyentuh bekisting. Pemasangan beton decking dilakukan dengan cara mendorong ataupun mengungkit tulangan sehingga memiliki cukup ruang untuk beton decking. Setelah beton decking terpasang maka beton decking akan diikat dengan kawat bendrat yang sudah menyatu dengan beton decking.

4.4.6 Pengecoran Pile Cap

Pile cap di cor dengan mutu beton K-350, pengecoran dilakukan dengan menggunakan concrete bucket. Concrete bucket digunakan karena lokasi dari pile cap cukup jauh dibawah tanah, sehingga corong dari concrete truck tidak sampai. Setelah concrete bucket tepat diatas bekisting, maka beton dapat dicurahkan dari dalam bucket. Sambil beton

20 dicurahkan maka vibrator dimasukkan kedalam bekisting, penggunaan vibrator bertujuan agar tidak ada rongga udara didalam beton.

4.4.7 Pekerjaan pelepasan bekisting Pile Cap

Pekerjaan pelepasan bekisting dapat dilakukan satu hari setelah selesai pengecoran.

Pelepasan bekisting pile cap diawali dengan melepas kunci tie-road. Cara melepas kunci tie -road dengan cara diputar agar baut terlepas. Kemudian pelepasan bekisting dilanjutkan dengan cara memukul bekisting dengan palu ataupun dengan kaso sehingga bekisting yang menyelimuti beton terlepas.

4.4.8 Perawatan Pile Cap

Perawatan pile cap dilakukan langsung setelah bekisting terlepas dari beton.

Perawatan beton sendiri dilakukan dengan 2 tahap, pertama setelah bekisting terlepas, beton yang mengalami segregasi ataupun keropos akan diplaster dengan campuran semen dan pasir.

Kedua, setelah plasteran kering maka beton akan di curing dengan cara menyemprotkan air ke permukaan pile cap hal ini bertujuan agar suhu dari beton menurun.

4.5 Pekerjaan Tie beam

Dalam pengerjaan tie beam ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pada Gambar 4.18 menunjukan diagram alur atau flowchart dari pekerjaan tie beam. Jika diringkas tahapan pekerjaan tie beam diantaranya:

1. Pengurugan Tanah 2. Pekerjaan Lantai Kerja 3. Pengukuran (Survey)

4. Pekerjaan Pemasangan Tulangan Tie Beam 5. Pekerjaan Pemasangan Bekisting Tie Beam 6. Pengecoran Tie Beam

7. Pekerjaan Pelepasan Bekisting 8. Perawatan Tie Beam

21 Gambar 4.18 Flowchart pekerjaan tie beam

4.5.1 Pengurugan tanah

Pengurugan tanah atau penimbunan tanah dilakukan hingga tanah mencapai elevasi 0. Penimbunan tanah dilakukan secara manual dengan menggunakan human power. Tanah-tanah yang digunakan untuk menimbun awalnya diangkut dengan dump truck yang nanti akan dicurahkan ke area penimbunan. Setelah tanah dicurahkan maka akan disebarkan di sekitar area penimbunan.

Pemadatan tanah dilakukan setelah tanah timbunan disebarkan. Pemadatan tanah dilakukan dengan bantuan alat baby roller dan juga stamper. Pemadatan tanah diawali dengan menggunakan alat baby roller yang akan mengilas tanah hingga cukup padat. Lalu menggunakan stamper hingga tanah timbunan lebih padat lagi.

22 4.5.2 Pekerjaan lantai kerja

Pekerjaan lantai kerja dilakukan setelah tanah selesai diurug. Pekerjaan ini memerlukan beton yang dibuat secara manual. Lantai kerja memiliki ketebalan ± 10 cm dari permukaan tanah. Lantai kerja bertujuan agar tulangan yang nantinya dipasang pada permukaannya tetap rata.

4.5.3 Pengukuran (Survey)

Pengukuran yang dilakukan oleh surveyor, bertujuan untuk memastikan posisi serta dimensi dari tie beam. Surveyor dibantu dengan alat theodolite dalam melakukan pengukuran. Nantinya surveyor akan memberikan marking pada lantai kerja. Pemberikan marking ini befungsi sebagai acuan dalam pemasangan tulangan dan juga pemasangan bekisting.

4.5.4 Pekerjaan pemasangan tulangan Tie Beam

Pemasangan tulangan pada pile cap diawali dengan pengangkutan tulangan yang sudah dipotong beserta sengkang dari area fabrikasi. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan human power dimana tulangan dan sengkang dibawa dengan cara digotong.

Perakitan dilakukan dengan menyambungkan tulangan yang telah di overlap dari pile cap.

Setelah tulangan disambungkan maka dilakukan pemasangan sengkang. Sengkang yang telah dipasang pada tulangan kemudian diikat menggunakan kawan bendrat. Penggunaan kawat bertujuaan untuk menjaga posisi sengkang agar tidak berpindah.

Pengikatan kawat juga berbarengan dengan pengikatan atau pemasangan beton decking pada tulangan maupun sengkang. Pemasangan beton decking dilakukan di titik-titik dimana tulangan ataupun sengkang menyentuh lantai kerja.

4.5.5 Pekerjaan pemasangan bekisting Tie Beam

Pekerjaan pemasangan bekisting pada tie beam dilakukan setelah pemasangan tulangan selesai. Bekisting dipasang pada sisi kanan dan kiri tie beam. Bekisting dibuat langsung dilapangan dengan cara menyatukan kaso dan plywood. Setelah bekisting terpasang, berikutnya pemasangan beton decking. Beton decking dipasang dititik tulangan yang bersentuhan langsung dengan bekisting. Pemasangan beton decking dengan cara mendorong tulangan ketengah, lalu beton bekisting dipasang dan diikat dengan tulangan maupun sengkang.

4.5.6 Pengecoran Tie Beam

Pengecoran tie beam dilakukan dengan bantuan alat concrete bucket. Concrete bucket digunakan karena corong dari concrete truck tidak sampai kelokasi pengecoran.

23 Pengecoran dengan concrete bucket dilakukan dengan menuang beton dari concrete truck kedalam concrete bucket. Concrete bucket akan dikaitkan dengan crane yang kemudian diangkat menuju lokasi pengecoran. Beton yang ada didalam concrete bucket akan dicurahkan kedalam bekisting.

Vibrator akan digunakan setelah beton dicurahkan kedalam bekisting. Vibrator digunakan agar tidak ada rongga udara didalam tie beam nantinya. Vibrator digunakan dengan cara memasukkan kepala vibrator melewati sela-sela tulangan. Nantinya vibrator akan bergetar dan akan mengeluarkan udara yang terperangkap.

4.5.7 Pekerjaan pelepasan bekisting

Pelepasan bekisting dilakukan 1 (satu) hari setelah proses pengecoran. Pelepasan dilakukan secara manual, dengan cara memukul dan menarik bekisting hingga terlepas.

4.5.8 Perawatan Tie Beam

Perawatan beton dilakukan setelah pelepasan beton selesai. Perawatan beton terdiri dari 2 (dua) tahap, pertama beton yang mengalami segregasi atau keropos akan di plester.

Pelester merupakan campuran antara semen, pasir dan air, hal ini bertujuan agar keropos pada beton tertutupi. Kedua, beton akan disiram dengan air. Penyiraman ini bertujuan agar suhu beton tidak terlalu tinggi pasca pelepasan bekisting.

24

BAB V

TINJAUAN TEORITIS

5.1 Pile Cap

Pile cap merupakan salah satu dari struktur bawah yang memiliki fungsi sebagai penyalur beban gaya dari struktur bagian atas ke struktur pondasi dalam. Pile cap juga memiliki fungsi sebagai pengikat pondasi kelompok (Pile Group). Beberapa gaya akan diterima oleh pile cap seperti gaya aksial kolom, tekanan tanah, dan daya dukung pondasi.

Dalam mendesain pile cap jika jarak tiang terlalu lebar maka luas pile cap juga akan bertambah yang berakibat volume beton juga bertambah besar, sehingga biaya konstruksi membengkak (Suryolelono,K. Basah. 1994). Pada Proyek Pembangunan Flat POLRI ini menggunakan detail pile cap seperti pada Gambar 5. 1.

Gambar 5.1 Detail Pile Cap tampak samping (Sumber: Data Perusahaan)

25 5.2 Tie Beam

Tie beam merupakan balok yang memiliki fungsi sebagai penghubung anatar pile cap dari arah memanjang dan juga melintang. Perbedaan tie beam dengan balok terletak pada posisinya, tie beam memiliki posisi tepat berada diatas tanah. Tie beam juga memiliki beberapa fungsi lainnya antara lain :

• Sebagai perata gaya beban bangunan.

• Sebagai balok penahan terhadap gaya reaksi tanah.

• Sebagai pengaku antar pile cap.

Perencanaan tie beam harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, persyaratan ini terdapat pada SNI 2847:2013. Berikut persyaratannya:

1. Tie beam harus didesain kuat menahan gaya geser dan momen lentur. Momen lentur didesain terlebih dahulu agar dapat menentukan dimensi dan tulangan utamanya;

2. Kemudian desain terhadap gaya geser, agar kuat menahan gaya geser yang ada.

Tulangan geser harus ada agar tidak terjadi keruntuhan yang terjadi secara mendadak (kegagalan geser), ditandai dengan lendutan yang kecil dan kurangnya daktilitas beton. Kegagalan geser tidak boleh terjadi sebelum terjadinya kegagalan lentur;

Proyek Pembangunan Flat Polri memilki 2 (dua) jenis tie beam seperti pada Gambar 5. 2. Hal yang menyebabkan terjadinya variasi pada tie beam karena ukuran dan fungsi yang berbeda. TB 2 umumnya menghubungkan tiap pile cap, sedangkan TB 1 diberada diantara TB 2.

26 Gambar 5.2 Detail Tie Beam tampak samping

(Sumber: Data Perusahaan)

27

BAB VI

KESIMPULAN dan SARAN

Pada kegiatan kerja praktik yang penulis lakukan di PT. KSO PAY- Ras Digital Media yang berposisi sebagai kontraktor pelaksana pada Proyek Pembangunan Flat POLRI di Cikeas Kab Bogor. Kerja praktik ini telah memberikan banyak manfaat bagi penulis baik itu pengalaman dan pengetahuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebuah konstruksi.

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan dan Pengalaman yang penulis laksanakan selama pelaksanaan kerja praktik penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Berdasarkan pengamatan dan Pengalaman yang penulis laksanakan selama pelaksanaan kerja praktik penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Dalam dokumen PROYEK PEMBANGUNAN FLAT POLRI (Halaman 10-0)

Dokumen terkait