No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang
1 Cilawu Kersamaju Cihideung,
Cikoneng, Cigasong
Cigasong
2 Cilawu Dayeuhmanggung Dayeuhmanggung Cigasong 3 Cilawu Karya Mekar Karya Mekar Cigasong 4 Cilawu Sukamukti Sukamukti Cigasong 5 Bayongbong Ciburuy Ciburuy DSKT 6 Bayongbong Sukarame Cibuntu, Cilimus DSKT 7 Bayongbong Sukasenang Radug DSKT 8 Bayongbong Cinisti Cinisti DSKT 9 Bayongbong Pamalayan Bebedahan, Cicayur,
Caringin
DSKT
10 Bayongbong Pangauban Situsari, Cipaganti, Pangauban
DSKT
11 Bayongbong Cikedokan Cikedokan, Bunisakit
DSKT
(Sambungan) Tabel 4.1.
No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang
13 Tarogong Kidul Sukakarya Patrol INTI 14 Tarogong Kidul Cibunar Cibunar INTI 15 Tarogong Kidul Kersamenak Kersamenak INTI 16 Tarogong Kaler Cintakarya Pasir INTI 17 Tarogong Kaler Jayawaras Panawuan INTI 18 Tarogong Kaler Pananjung Pasawahan INTI 19 Tarogong Kaler Tanjungkemuning Tanjungkemuning INTI 20 Tarogong kaler Cintarasa Genteng, Cintarasa Suci 21 Cilawu Ngamplang Cimaragas Suci 22 Garut kota Kotakulon Galumpit, Wanasari, Suci 23 Garut kota Kotawetan Sukaregangkidul,
Bentar
Suci
24 Garut kota Sucikaler Sucipermai Suci 25 Garut kota Haurpanggung Ciawitali Suci 26 Garut kota Jayaraga Jayaragakaler Suci 27 Garutkota Sukagalih Cirengit Suci 28 Garut kota Sirnajaya Malayu Suci 29 Banyuresmi Sukasenang Bojongsalam Suci 30 Sucinaraja Lengkongjaya Lengkongjaya Cilawu 31 Karangpawitan Karangsari Cibolerang Cilawu 32 Karangpawitan Karangpawitan Timang Ayu Cilawu 33 Wanaraja Cikole Panyawenyan Cilawu 34 Wanaraja Tegalpanjang Tegalpanjang Cilawu 35 Sukawening Sukawening Sukawening Margawati 36 Sukawening Cihuni Cihuni Margawati 37 Sukawening Maripari Mariuk Margawati
Dari hasil pengolahan data pemadaman listrik akibat gangguan penyulang diketahui bahwa jika diakumulasikan, penyulang dengan tingkat pemadaman akibat gangguan layang-layang paling tinggi tahun 2012-2013 adalah Penyulang Cigasong (CGSO). Berikut pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8 diberikan grafik gangguan per penyulang tahun 2012 dan 2013.
Gambar 4.7. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2012
Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2013
Jika dilihat dari bentuk jaringannya, Penyulang Cigasong (CGSO) memang memiliki kekurangan dibanding penyulang lainnya yang berbentuk rangkaian tertutup (loop), dimana jaringan Penyulang CGSO berbentuk radial. Hal ini membuat keandalan sistem rendah dan kondisi penyulang kurang dapat diandalkan apabila terdapat gangguan karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satusaluran saja. Jaringan dengan bentuk radial ketika mendapat gangguan, dalam hal ini yang disebabkan oleh layang-layang, akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Berbeda halnya dengan sistem rangkaian tertutup
0 2 4 6 8 10 12 14 16
CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS
Ju m la h Ga n gg u an Penyulang Komponen JTM Alam Layang-layang Pohon Binatang 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS
Ju m la h Ga n gg u an Penyulang Komponen JTM Alam Layang-Layang Pohon Binatang
(loop) yang apabila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang yang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik.
Material penyulang yang digunakan juga berperan besar dalam terjadinya pemadaman listrik akibat layang-layang. Secara keseluruhan, jenis material yang banyak digunakan pada penyulang saluran udara (SUTM) di Rayon Garut Kota adalah A3C yang merupakan kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi).
Kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi) sangat rawan terhadap gangguan layang-layang. Hal ini karena kawat layang-layang yang menempel di penyulang akan bersifat sebagai konduktor/penghantar dan membuat hubung singkat pada sistem. Selain itu, kawat penghantar terbuka akan lebih cepat rapuh dibandingkan dengan kawat berisolasi. Terbukti dengan hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa pada beberapa penyulang SUTM dengan material utama A3C, seperti Penyulang CGSO, SUCI, dan MGWT, sering terjadi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang. Berbeda dengan penyulang SUTM yang menggunakan A3CS (kawat berisolasi) sebagai material utamanya, seperti Penyulang INTI, dimana frekuensi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang lebih sedikit dibandingkan dengan penyulang lainnya.
Jenis dan luas penampang material penghantar yang digunakan pada penyulang juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya arus gangguan hubung singkat. Untuk mengetahui besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi ketika layang-layang menempel atau membelit penyulang di Rayon Garut Kota, dilakukan perhitungan besarnya arus gangguan hubung singkat berdasarkan panjang penyulang, yaitu diasumsikan terjadi di 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang.
Berikut adalah langkah-langkah perhitungan arus gangguan hubung singkat pada penyulang Cigasong (CGSO):
a. Menghitung Impedansi Sumber
Data Hubung Singkat di bus sisi primer (150 kV) Gardu Induk Garut adalah sebesar 2.468 MVA. Maka impedansi sumber (Xs) adalah:
Untuk mengetahui impedansi di ssi sekunder, yaitu di bus sisi 20 kV maka:
b. Menghitung Reaktansi Trafo
Besarnya nilai Ohm pada 100 %, yaitu:
Nilai reaktansi trafo tenaga:
Reaktansi urutan positif dan negatif Reaktansi urutan nol
Trafo mempunyai belitan delta, maka: c. Menghitung Impedansi Penyulang
Berdasarkan data aset Rayon Garut Kota, total panjang penyulang CGSO adalah 31,753 kms. Jenis penghantar yang digunakan pada penyulang CGSO terdiri dari 4,718 kms tipe A3C 150 mm2, 22,469 kms tipe A3C 70 mm2, 0,860 kms tipe A3C 35 mm2, 3,582 kms tipe A3CS 150 mm2, dan 0,124 kms XLPE 240 mm2. Impedansi A3C 150 mm2 Impedansi A3C 70 mm2
Impedansi A3C 35 mm2 Impedansi A3CS 150 mm2 Impedansi XLPE 240 mm2 Impedansi Penyulang Total
∑
∑
Hasil perhitungan impedansi penyulang dengan jarak 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang diberikan pada Tabel 4.2 untuk urutan positif dan negatif, sedangkan Tabel 4.3 untuk urutan nol.
Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif % Panjang Penyulang Impedansi Penyulang (
0 0
25
50
75 100 d. Menghitung Impedansi Ekivalen Jaringan
Perhitungan dan
Hasil perhitungan dan diberikan pada Tabel 4.4. Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol
% Panjang Penyulang Impedansi Penyulang (
0 0
25
50
75 100 Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan
% Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen ( dan
0 25 50 75 100 Perhitungan
Hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan
% Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen (
0
25
50
75 100
e. Menghitung Arus Gangguan Hubung Singkat
Jenis gangguan hubung singkat yang dapat terjadi karena menempelnya layang-layang pada SUTM adalah gangguan 1 fasa ke tanah, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, dan 3 fasa. Dengan memasukkan nilai-nilai yang telah didapat sebelumnya ke dalam persamaan 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4, diperoleh besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi pada penyulang CGSO di titik 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang.
Dengan menggunakan langkah perhitungan yang sama, maka dapat diketahui pula berapa besar arus gangguan hubung singkat yang terjadi pada penyulang lainnya. Adapun hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.6.
Dari hasil perhitungan terlihat bahwa selain jenis material penghantar yang digunakan, jarak atau lokasi terjadinya gangguan, dalam hal ini titik menempelnya layang-layang pada SUTM, juga mempengaruhi besarnya arus gangguan yang terjadi. Semakin dekat dengan sumber, arus gangguan hubung singkat yang dihasilkan semakin besar.
Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota Panjang
Penyulang Jarak
Arus Hubung Singkat
3 fasa (A) 2 fasa (A) 2 fasa ke tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) CGSO 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 7,93825 1693,800263 1719,035754 1211,77836 154,0554829 50% 15,8765 1057,634189 1008,291834 660,1952054 144,7806473 75% 23,8148 767,9068507 712,4039473 455,1385545 136,072867 100% 31,753 602,6169072 550,6175196 348,210541 127,9956694 DSKT 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 3,57725 2467,180629 2717,213336 2167,608598 159,1408297 50% 7,1545 1757,503702 1795,295333 1276,611055 154,65381 75% 10,7318 1360,235405 1335,296788 902,8106402 150,2232225 100% 14,309 1108,475029 1061,907724 698,7727021 145,8940504
(Sambungan) Tabel 4.6.
Panjang
Penyulang Jarak
Arus Hubung Singkat 3 fasa (A) 2 fasa (A) 2 fasa ke
tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) CLWU 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 6,03 2208,707621 2365,215749 1802,034503 157,6643474 50% 12,06 1498,237407 1490,967065 1024,782191 151,7641007 75% 18,09 1130,622995 1085,428258 715,813148 146,056944 100% 24,12 907,2922575 852,74171 550,7612442 140,5855327 INTI 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 9,997 1797,839723 1844,097002 1318,703234 154,6561096 50% 19,994 1135,174309 1090,274023 719,3331183 146,068728 75% 29,991 828,0859975 772,5465446 495,7652754 138,0917755 100% 39,988 651,5325916 597,9849851 379,1630089 130,7256023 SUCI 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 9,59125 1863,645394 1924,58654 1389,303486 155,3784235 50% 19,1825 1202,053857 1161,972078 771,9670438 147,3027908 75% 28,7738 885,9446575 831,010279 535,7297731 139,570824 100% 38,365 701,260873 646,5773008 411,1245384 132,265355 MGWT 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 23,4428 852,1284863 796,7636499 512,2906631 139,0539544 50% 46,8855 472,0416373 426,2242998 268,2193094 118,7045728 75% 70,3283 326,3549041 290,8521759 182,988364 102,5621187 100% 93,771 249,3740569 220,7313803 139,3558391 89,79397013 INTU 0% 0 8074,825175 8474,576271 6251,439661 509,8156382 25% 7,8205 4643,362089 4470,720962 2947,497259 477,9002651 50% 15,641 3106,040217 2883,843012 1834,088372 447,1253024 75% 23,4615 2318,081385 2113,595336 1326,398146 419,3060874 100% 31,282 1845,68521 1664,942589 1039,445455 394,326063
(Sambungan) Tabel 4.6.
Panjang Penyulang
Jarak
Arus Hubung Singkat 3 fasa (A) 2 fasa (A) 2 fasa ke
tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) TLBS 0% 0 8074,825175 8474,576271 6251,439661 509,8156382 25% 3,6205 6185,932979 6185,613334 4267,086079 495,4710017 50% 7,241 4840,185787 4682,410308 3103,494931 480,6421444 75% 10,8615 3934,381218 3724,538945 2412,002209 466,1507181 100% 14,482 3301,211045 3079,000434 1965,942967 452,2216124
4.3 Pengaruh Faktor Cuaca dan Iklim
Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikatagorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat; dan elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24° C - 27° C. Besaran angka penguap keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1572 mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara. [20]
Pada Gambar 4.4, grafik gangguan penyulang akibat layang-layang rayon garut kota tahun 2012 dan 2013, menunjukkan bahwa selama bulan Januari hingga April jarang terjadi padam akibat gangguan layang-layang. Pada bulan Mei-Desember, padam akibat gangguan layang-layang mengalami peningkatan. Pemadaman akibat gangguan layang-layang paling sering terjadi selama bulan
Agustus sampai dengan Oktober. Hal ini berarti selama 4 bulan, dari Januari sampai April merupakan bulan kering (musim kemarau) dan selama 8 bulan, dari Mei sampai Desember termasuk bulan basah (musim hujan).
Bagaimana faktor cuaca dan iklim dapat mempengaruhi pemadaman yang terjadi akibat layang-layang? Permainan layang-layang banyak dilakukan di musim kemarau. Jumlah layang-layang di udara semakin bertambah dan semakin besar pula ukurannya. Hal ini menjadi sangat merugikan, karena banyak layang-layang yang tersangkut di SUTM dan menyebabkan listrik padam. Pada musim ini, padam yang terjadi hanya disebabkan oleh kawat layang-layang yang menempel di SUTM saja. Benang dan rangka layang-layang yang ikut menempel atau melilit di SUTM tidak turut menjadi penyebab pemadaman.
Sedangkan pada musim hujan permainan layang-layang berkurang. Tetapi, tidak sama halnya dengan gangguan penyulang yang diakibatkan oleh layang-layang. Hal ini dikarenakan kawat, bahkan benang dan rangka layang-layang yang bukan terbuat dari bahan logam, jika dalam keadaan basah (akibat hujan atau embun) dapat berubah sifat sebagai konduktor yang mengalirkan arus listrik dan dapat membuat terjadinya hubung singkat fasa ke tanah ataupun antar fasa yang mengakibatkan terjadinya pemadaman. Oleh karena itu, padam akibat gangguan layang-layang lebih banyak terjadi di musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Sehingga, untuk mencegah hal ini perlu dilakukan operasi rutin pembersihan SUTM dari sampah layang-layang selama musim kemarau berlangsung, agar saat menghadapi musim hujan tidak ada lagi kawat, rangka, dan benang layang-layang yang menempel di SUTM yang berpotensi menyebakan gangguan pada penyulang dan mengakibatkan pemadaman.
4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang
Pemadaman yang terjadi akibat adanya gangguan penyulang oleh layang-layang dapat menimbulkan beberapa kerugian, seperti kerugian pihak PLN, terhentinya pasokan listrik, kerusakan pada peralatan sistem, dan dapat mengancam keselamatan manusia, baik pemain layang-layang maupun masyarakat di sekitar SUTM.
4.4.1 Kerusakan Peralatan
Kawat layang-layang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada peralatan. Kerusakan akibat arus gangguan ini tergantung pada besar dan lamanya arus gangguan. Contoh kerusakan tersebut diberikan pada Gambar 4.9.
Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang
Gangguan hubung singkat yang diakibatkan oleh layang-layang dapat menimbulkan panas pada penghantar. Saat penghantar dialiri arus, ada dua titik dengan media udara yang bersifat sebagai penghantar yang mempunyai tahanan besar, sehingga penghantar tersebut panas sesuai dengan persamaan 4.1 dan 4.2.
∫ (4.1)
(4.2)
dimana: I = arus gangguan (Amp)
R = tahanan penghantar/konduktor (Ohm) t = waktu lamanya arus ganggan (detik)
Pemanasan berlebih akan menaikkan suhu penghantar yang dialiri arus gangguan. Jika terlalu lama, suhu penghantar akan terlalu tinggi sehingga dapat merusak isolasi juga penghantar tersebut atau mempercepat penuaannya.
Tidak hanya merusak penghantar, tetapi gangguan layang-layang ini juga dapat membuat penghantar putus. Hubung singkat yang terjadi karena kawat dan rangka layang-layang melilit di SUTM akan menimbulkan lompatan-lompatan api dan panas atau termal akibat arus gangguan yang besar. Hal ini akan merusak isolasi dan mengikis lapisan penghantar. Semakin lama luas penampang penghantar menjadi semakin kecil dan kemampuan hantar arus yang dimilikinya menurun. Apabila dalam kondisi tersebut penghantar tetap dialiri arus normal yang melebihi kapasitas hantar arusnya sekarang, maka kawat SUTM akan putus, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.7.
4.4.2 Ancaman Keselamatan Bagi Manusia
Akibat dari layang-layang ini tidak hanya merusak peralatan, tetapi juga sangat berbahaya bagi manusia. Panasnya penghantar yang diakibatkan oleh terjadinya gangguan hubung singkat dapat melepas uliran dari penghantar dan membuatnya terurai. Uraian dari penghantar (bundle conductor) ini akan menggantung, dan akan sangat berbahaya apabila terjangkau oleh manusia atau pohon karena bisa menyebabkan terkena sengatan listrik.
Apabila kawat SUTM putus, pada sisi hilir (downstream), ketika kawat menyentuh tanah akan mengalir arus balik (feedback) dari fasa lain yang bernilai sangat besar dan berbahaya bagi manusia. Ilustrasi peristiwa ini diberikan pada Gambar 4.10. Selain itu, saat layang-layang tersangkut ke SUTM, para pemainnya berusaha untuk menarik kembali layang-layang tersebut supaya terlepas dari SUTM. Hal ini sangat berbahaya, karena orang yang menarik layang-layang tersebut dapat terkena tegangan sentuh sebesar 20 kV, seperti ilustrasi yang diberikan pada Gambar 4.11. Padahal tubuh manusia dengan tahanan 2000-3000 Ω hanya mampu menerima tegangan maksimum AC sebesar 50 V, arus terasa sebesar 0,9 mA, dan arus yang dapat menyebabkan kematian > 50-100 mA.
Gambar 4.10. Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah [19]
4.4.3 Kerugian PLN
Akibat dari sering terjadinya pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang oleh layang-layang di Rayon Garut Kota, jumlah kwH listrik yang tidak terjual pun semakin tinggi dan merugikan pihak PLN. Besar kwH tidak terjual dan kerugian yang dirasakan PLN dapat dihitung dengan cara berikut.
√ dimana: I = Arus (Ampere)
t = Lama terjadinya gangguan (jam) = Faktor daya (0,85)
Sebagai contoh perhitungan, pada tanggal 1 Januari 2012 terjadi gangguan penyulang akibat layang-layang yang mengakibatkan pemadaman listrik pada pukul 14:02-14:05 dengan nilai arus 32 A. Besar kerugian PLN adalah sebagai berikut:
√ (
)
Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa akibat dari gangguan layang-layang di Rayon Garut Kota pada tahun 2012, 10.776,3 kwH tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwH adalah Rp 685,00 yang mengakibatkan PLN merugi sebesar Rp 7.381.775,00.
Sedangkan pada tahun 2013, seiring dengan bertambahnya frekuensi gangguan layang-layang yang terjadi, bertambah besar pula kerugian yang dialami PLN. Sebesar 46.771,7 kwH tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwH adalah Rp 715,00. Akibatnya, PLN merugi sebesar Rp 33.441.768,00. Rincian perhitungan kerugian PLN tahun 2012 dan 2013 diberikan pada Lampiran 5 dan Lampiran 6.
4.4.4 Keandalan Sistem Distribusi PLN
Tingginya persentase pemadaman yang terjadi akibat gangguan penyulang oleh layang-layang mempengaruhi keandalan sistem distribusi yang diukur dengan menggunakan indeks keandalan SAIFI dan SAIDI. SAIFI menunjukkan rata-rata frekuensi padam pada setiap pelanggan, sedangkan SAIDI menunjukkan rata-rata lama pemadaman pada sistem. Oleh karena itu, semakin kecil nilai SAIFI dan SAIDI maka akan semakin bagus keandalan suatu sistem distribusi.
4.4.4.1 Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota Berdasarkan data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012, dapat dihitung nilai SAIFI per penyebab pemadaman dengan menggunakan persamaan 2.8. Berikut pada Tabel 4.7 diberikan rincian nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun 2012.
Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 No. Penyebab Pemadaman
SAIFI
Total Rata-rata
1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2,9703076019 0,2475256335
2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,1254408307 0,0104534026
3 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 2,1868730408 0,1822394201
4 Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0,0000097962 0,0000008164
Jumlah Total 5,2826312696 0,4402192725
Nilai SAIFI tahun 2012 menunjukkan bahwa setiap pelanggan mengalami 5,2826312696 kali pemadaman/tahun, dimana nilai ini melebihi target kinerja Rayon Garut Kota, yaitu sebesar 4,2 pemadaman/pelanggan/tahun.
Dari hasil rekap data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012 diketahui pula bahwa telah terjadi 121 kali pemadaman yang disebabkan SUTM dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 16.367 pelanggan. Dan dari 121 kali pemadaman tersebut, 26 pemadaman (21%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Maka, nilai SAIFI akibat gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut:
pemadaman/pelanggan /tahun. Adapun nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel 4.8. Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2013 setiap pelanggan mengalami 6,2565408098 kali pemadaman/tahun. Nilai ini lebih besar dari tahun sebelumnya dan melebihi target kerja yang ditetapkan, yaitu sebesar 5,2 pemadaman/pelanggan/tahun. Hal ini berarti tingkat keandalan SAIFI tahun 2013 lebih buruk daripada tahun 2012.
Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013
No. Penyebab Pemadaman
SAIFI
Total Rata-rata
1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 3,7461041680 0,3121753473
2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 1,4877412624 0,1239784385
3 Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0,0084933178 0,0007077765
4 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1,0142020616 0,0845168385
Jumlah Total 6,2565408098 0,5213784008
Dari total 150 pemadaman yang terjadi oleh karena disebabkan masalah pada SUTM, 66 gangguan (44%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Total jumlah pelanggan padam akibat masalah SUTM adalah sebanyak 11.524 pelanggan. Maka, nilai SAIFI gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 dapat dihitung dengan cara berikut.
pemadaman/pelanggan /tahun. Walaupun angka gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 lebih banyak dari tahun 2012, tetapi nilai SAIFI per penyebab layang-layang tahun 2013 lebih kecil dari tahun 2012. Hal ini karena dipengaruhi oleh jumlah pelanggan padam pada tahun 2012 yang lebih besar dari tahun 2013.
4.4.4.2 Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota Pada Tabel 4.9 diberikan nilai SAIDI per penyebab pemadaman di Rayon Garut Kota tahun 2012 yang dihitung menggunakan persamaan 2.10. Jumlah total keseluruhan data menunjukkan nilai SAIDI Rayon Garut Kota pada tahun 2012 adalah 1,7105067594 jam padam/pelanggan/tahun, dimana nilai tersebut melebihi target yang ditetapkan yaitu 0,98 jam padam/pelanggan/tahun.
Dari semua penyebab pemadaman nilai SAIDI pemadaman akibat SUTM merupakan yang paling besar. Lama pemadaman total akibat masalah SUTM pada tahun 2012 adalah 57,27 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 16.367 pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 182 menit (5,3%) pemadaman tersebut diakibatkan gangguan penyulang oleh layang-layang. Sehingga nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang tahun 2012 dapat dihitung sebagai berikut.
jam padam/pelanggan /tahun. Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012
No. Penyebab Pemadaman
SAIDI
Total Rata-rata
1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 0,619566321 0,051630527
2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,022721787 0,001893482
3 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1,068210815 0,089017568
4 Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0,000007837 0,000000653
Jumlah Total 1,7105067594 0,1425422300
Sedangkan, pada tahun 2013 diperoleh hasil perhitungan nilai SAIDI sebesar 3,4081729816 jam padam/pelanggan/tahun. Nilai ini melebihi target kerja SAIDI tahun 2013 yang ditetapkan sebesar 2,34 jam padam/pelanggan/tahun. Nilai SAIDI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel 4.10.
Lama pemadaman total akibat masalah SUTM sepanjang tahun 2013 adalah 49,18 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 11.524 pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 1336 menit (45,3%) diakibatkan gangguan
penyulang oleh layang-layang. Maka nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut:
jam padam/pelanggan /tahun. Tabel 4.10. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013
No. Penyebab Pemadaman
SAIDI
Total Rata-rata
1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2,786708839 0,232225737
2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,306759094 0,025563258
3 Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0,001453856 0,000121155
4 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 0,313251192 0,026104266
Jumlah Total 3,4081729816 0,2840144151
4.5 Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang
Melihat frekuensi gangguan layang-layang yang semakin meningkat dan besarnya kerugian yang dihasilkan, maka perlu dilakukan upaya penekanan gangguan seoptimal mungkin agar keandalan sistem dan kualitas serta kontinuitas pelayanan pasokan listrik terhadap pelanggan dapat ditingkatkan.
Dengan mempertimbangkan hasil analisis terhadap karakteristik penyebab pemadaman akibat gangguan layang-layang, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak yang ditimbulkan, upaya untuk menekan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilakukan secara teknis maupun non-teknis.
Upaya teknis untuk menekan gangguan layang-layang adalah sebagai berikut:
1. Mengganti kawat penghantar terbuka (tak berisolasi) A3C dengan kawat penghantar berisolasi A3CS. Dengan demikian dapat mengurangi resiko terhubungnya antar fasa penghantar yang disebabkan karena menempelnya layang-layang pada penyulang.
2. Menggunakan Grounding Steel Wire (GSW) untuk mencegah kawat layang-layang langsung menempel ke saluran penghantar. Konstruksi pemasangan GSW diberikan pada Lampiran 17.
3. Operasi pembersihan layang-layang yang menempel di penyulang secara rutin di daerah-daerah yang berpotensi gangguan.
Upaya non-teknis untuk mengatasi gangguan layang-layang, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sosialisasi di daerah potensi bermain layangan yang tinggi untuk menghindari bermain layangan di dekat jaringan PLN.
2. Pemasangan/penyebaran spanduk mengenai bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN.
3. Mensosialisasikan langsung kepada pengguna dan produsen layangan mengenai kerugian yang akan timbul bila bermain layangan tidak pada tempatnya serta penggunaan bahan layangan yang tidak seharusnya.
4. Berkordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan perhatian khusus terhadap penggunaan layangan yang tidak sewajarnya (dari segi dimensi dan bahan benang yang digunakan).
Beberapa contoh sosialisasi bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN ditunjukkan pada Gambar 4.12.
4.6 Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang
Hasil dari upaya penekanan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilihat dari angka gangguan layang-layang yang terjadi pada tahun 2014, apakah jumlah gangguan tersebut mengalami penurunan atau tidak. Berikut pada Gambar 4.13 diberikan perbandingan gangguan penyulang akibat layang-layang dari tahun 2012 sampai bulan September tahun 2014 di Rayon Garut Kota.
Gambar 4.13. Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun 2012-2014
Total gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2012 adalah 26 gangguan, meningkat pada tahun 2013 menjadi sebanyak 66 gangguan, dan pada tahun 2014 terhitung ada 34 gangguan penyulang akibat layang-layang yang terjadi sampai bulan September 2014. Angka tersebut menunjukkan telah terjadi penurunan tingkat gangguan yang terjadi dibandingkan dengan tahun 2013.
Beberapa gangguan penyulang akibat layang-layang yang masih terjadi