• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT

LAYANG-LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT

DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA

SKRIPSI

ISTI NURUL SHOFYAH

1206314762

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT

LAYANG-LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT

DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Teknik

ISTI NURUL SHOFYAH

1206314762

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK

(3)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan benar

Nama : Isti Nurul Shofyah NPM: 1206314762

Tanda tangan :... Tanggal :...

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : 1206314762 Program Studi : Teknik Elektro

Judul Skripsi : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Ir. Amien Rahardjo, M.T. (...)

Penguji : Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K. M.T. (...)

Penguji : Ir. I Made Ardita Y, M.T. (...)

Ditetapkan di : Depok Tanggal :

(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan Penguasa Alam, Yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, Yang melengkapinya dengan segala fasilitas hidup sebagai jaminan secara adil dan bijaksana. Rahmat tadzim dan salam sejahtera teruntuk Nabi Muhammad SAW, dan teruntuk pula kaum kerabatnya, seluruh sahabat setianya, dan seluruh umatnya.

Atas selesainya skripsi ini, dengan penuh rasa syukur saya megucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Ir. Amien Rahardjo, MT. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak H. Dion, Bapak Apipudin, Bapak Solihin, Bapak Zuansyah, dan rekan-rekan sebagai mentor di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dan Rayon Garut Kota yang selalu meluangkan waktu dalam memberikan arahan selama proses pengambilan data dalam pembuatan skripsi ini.

3. Kedua Orang Tua yang tiada hentinya membimbing dan mendukung dengan penuh kasih sayang sampai saat ini.

4. Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses pembuatan skripsi ini.

Menjadi sempurna adalah tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Yang bisa kita lakukan sebagai mahluk-Nya hanya berupaya untuk menyempurnakan kemungkinan itu. Kebenaran pasti berasal dari Allah SWT dan segala kesalahan semata-mata datang dari diri kita sendiri. Maka, saya sebagai penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini.

Kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat saya harapkan demi kemajuan dan perbaikan penulis di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Depok, Desember 2014

(6)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : 1206314762 Program Studi : Teknik Elektro Departemen : Teknik Elektro Fakultas : Teknik

Jenis Karya : Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive

Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :

“Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota”

dengan Hak Bebas Royalti Non-Ekslusif ini, Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan memublikasikan skripsi saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok Pada tanggal : Desember 2014

Yang Menyatakan

(7)

ABSTRAK

Nama : Isti Nurul Shofyah Program Studi : Teknik Elektro

Judul : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota

Suatu sistem tenaga listrik tidak bisa lepas dari berbagai macam gangguan listrik yang dapat mengganggu kualitas dan kontinuitas pelayanan pasokan listrik. Salah satu gangguan penyulang yang paling banyak menyebabkan terjadinya pemadaman listrik tak terencana di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota adalah gangguan layang-layang. Pada tahun 2012 sebesar 36% pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang terjadi karena layang-layang, dan meningkat menjadi 52% pada tahun 2013. Gangguan layang-layang ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, ataupun 1 fasa ke tanah. Bahkan, dapat merusak dan membuat penghantar SUTM putus. Dampak dari gangguan penyulang oleh layang-layang ini berbahaya bagi manusia, baik pemain layang-layang itu sendiri maupun masyarakat yang berada di sekitar jaringan PLN yang mengalami gangguan karena dapat terkena sengatan listrik. Selain itu, terhentinya pasokan listrik membuat pihak PLN merasakan kerugian yang cukup besar dan membuat keandalan sistem (SAIFI dan SAIDI) menurun. Oleh karena itu, pada skripsi ini akan dilakukan analisis terhadap gangguan penyulang oleh layang-layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat ditentukan strategi untuk menekan frekuensi terjadinya gangguan tersebut.

Kata kunci: sistem tenaga listrik, gangguan, penyulang, layang-layang, hubung singkat, penghantar putus, keandalan sistem, SAIDI, SAIFI

(8)

ABSTRACT

Name : Isti Nurul Shofyah Study Program: Electrical Engineering

Title : Feeder Fault Analysis Due To Kites in PT. PLN (Persero)

Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota An electric power system can not be separated from a variety of electric fault that can interfere the quality and continuity of electricity supply services. One of the most feeders fault that causing unplanned power outages in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota is the kites disruption. In 2012, 36% outage caused by feeder faults occured because the kites disruption, and increased to 52% in 2013. Kite disruption can lead to 3 phase, 2-phase, 2-phase to ground, or 1 phase to ground short circuit. In fact, it can destroy and create SUTM broken conductor. The impact of feeders faults due to kites is harmful to humans, both the kites players itself and the people who are around the grid which is harmed can get an electrical shock. In addition, the interruption of electricity supply makes PLN get some substantial losses and make the system reliability (SAIFI and SAIDI) decreases. Therefore, in this thesis will carried out an analysis of the feeders fault due to kites in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota to determined some strategies to suppress the occurrence frequency of that fault.

Key words: electric power system, fault, feeder, kites, sort circuit, broken conductor, sistem reability, SAIDI, SAIFI

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Tujuan Penulisan ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Metodologi Penelitian ... 2

1.5 Sistematika Penulisan ... 3

BAB 2 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK... 4

2.1 Sistem Tenaga Listrik ... 4

2.2 Sistem Distribusi ... 5

2.3 Klasifikasi Sistem Distribusi ... 7

2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan ... 7

(10)

2.3.1.2 Sistem Distribusi Sekunder ... 8

2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran... 8

2.3.2.1 Saluran Udara (Overhead Lines) ... 8

2.3.2.2 Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) ... 9

2.3.3 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan ... 11

2.3.3.1 Sistem Radial ... 11

2.3.3.2 Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) ... 12

2.3.3.3 Sistem Mesh ... 13

2.3.3.4 Sistem Spindel ... 15

2.4 Gangguan Pada Sistem Distribusi ... 16

2.4.1 Gangguan Beban Lebih ... 17

2.4.2 Gangguan Tegangan Lebih ... 17

2.4.3 Gangguan Ketakstabilan (Instability) ... 18

2.4.4 Gangguan Hubung Singkat ... 18

2.4.4.1 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah ... 19

2.4.4.2 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ... 20

2.4.4.3 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah ... 21

2.4.4.4 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ... 21

2.4.5 Upaya Mengatasi Gangguan ... 22

2.5 Pemadaman Listrik ... 23

2.6 Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi ... 24

2.6.1 Peralatan Pemisah atau Penghubung ... 25

2.6.1.1 Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) ... 25

2.6.1.2 Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) ... 26

2.6.1.3 Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) ... 26

(11)

2.6.2 Peralatan Pengaman Arus Lebih ... 27

2.6.2.1 Pelebur (Fuse Cut Out) ... 28

2.6.2.2 Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) ... 29

2.6.2.3 Relai ... 30

2.6.3 Peralatan Pengaman Tegangan Lebih ... 31

2.6.3.1 Kawat Tanah (Overhead Groundwire) ... 32

2.6.3.2 Penangkap Petir (Lightning Arrester) ... 32

2.7 Keandalan Sistem Distribusi ... 33

2.7.1 SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) ... 34

2.7.2 SAIDI (System Average Interruption Duration Index) ... 34

BAB 3 SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA ... 35

3.1 Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota ... 36

3.2 Data Aset Rayon Garut Kota ... 36

3.2.1 Penyulang Desa Kolot (DSKT) ... 37

3.2.2 Penyulang Cilawu (CLWU) ... 37

3.2.3 Penyulang Margawati (MGWT) ... 37

3.2.4 Penyulang Cigasong (CGSO) ... 38

3.2.5 Penyulang Intan Tiga (INTI) ... 38

3.2.6 Penyulang Intan Satu (INTU) ... 38

3.2.7 Penyulang Talaga Bodas (TLBS)... 39

3.2.8 Penyulang Suci ... 39

BAB 4 ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG-LAYANG ... 40

4.1 Padam Akibat Gangguan Penyulang Oleh Layang-Layang ... 42

4.2 Pengaruh Faktor Konstruksi Sistem ... 45

(12)

4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang ... 55

4.4.1 Kerusakan Peralatan ... 56

4.4.2 Ancaman Keselamatan Bagi Manusia ... 57

4.4.3 Kerugian PLN ... 59

4.4.4 Keandalan Sistem Distribusi PLN ... 60

4.4.4.1 Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota ...60

4.4.4.2 Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota ...62

4.5 Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang ... 63

4.6 Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang ... 65

4.7 Perencanaan Optimasi Penyulang Dari Gangguan Layang-Layang ... 66

BAB 5 KESIMPULAN ... 69

DAFTAR ACUAN... 70

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik... 6

Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen ... 7

Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines) ... 9

Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) ... 10

Gambar 2.5. Sistem Radial... 11

Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) ... 13

Gambar 2.7. Sistem Mesh ... 14

Gambar 2.8. Sistem Spindel ... 15

Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah ... 20

Gambar 2.10. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ... 20

Gambar 2.11. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah... 21

Gambar 2.12. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ... 22

Gambar 2.13. Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) ... 25

Gambar 2.14. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) ... 26

Gambar 2.15. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) ... 27

Gambar 2.16. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) ... 28

Gambar 2.17. Pelebur (Fuse Cut Out) ... 29

Gambar 2.18. Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser) ... 30

Gambar 2.19. Penangkap Petir (Lightning Arrester) ... 32

Gambar 3.1. Wilayah Kerja Area Garut ...35

Gambar 4.1. Grafik Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 ...40

Gambar 4.2. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 ... 41

Gambar 4.3. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013 ... 41

Gambar 4.4. Grafik Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 ... 42

(14)

Gambar 4.6. Kawat SUTM Putus (Broken Conductor) Akibat Layang-Layang .. 44 Gambar 4.7. Grafik Gangguan per Penyulang Tahun 2012 ... 47 Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2013... 47 Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang ... 56 Gambar 4.10. Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah ... 58 Gambar 4.11. Ilustrasi Pemain Layang-Layang Terkena Tegangan Sentuh ... 58 Gambar 4.12. Sosialisasi Bahaya Bermain Layang-Layang Di Dekat Jaringan PLN ... 64 Gambar 4.13. Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun 2012-2014 ... 65

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota ... 36

Tabe 4.1. Data Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang ...45

Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif ... 50

Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol ... 51

Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan ... 51

Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan ... 51

Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota ... 52

Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 ... 60

Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 ... 61

Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 ... 62

Tabel 4.10. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 ... 63

Tabel 4.11. Data Panjang Penggantian Kawat A3C ... 66

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Aset Gardu Rayon Garut Kota ... 73

Lampiran 2. Data Aset SUTM Rayon Garut Kota ... 74

Lampiran 3. Data Aset Tiang Rayon Garut Kota ... 75

Lampiran 4. Impedansi Penghantar... 77

Lampiran 5. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 2012 78 Lampiran 6. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 2013 79 Lampiran 7. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2012 ... 82

Lampiran 8. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2013 ... 85

Lampiran 9. Diagram Garis Tunggal Penyulang Desa Kolot (DSKT) ... 88

Lampiran 10. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cilawu (CLWU) ... 89

Lampiran 11. Diagram Garis Tunggal Penyulang Margawati (MGWT) ... 90

Lampiran 12. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cigasong (CGSO) ... 91

Lampiran 13. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Tiga (INTI) ... 92

Lampiran 14. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Satu (INTU) ... 93

Lampiran 15. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS) ... 94

Lampiran 16. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS) ... 95

Lampiran 17. Konstruksi Pemasangan Ground Steel Wire (GSW) ... 96

Lampiran 18. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 ... 97

Lampiran 19. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013 ... 101

Lampiran 20. Peta Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang di Rayon Garut Kota ... 107

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tenaga listrik saat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat, sehingga pasokan energi listrik harus dijaga kontinuitasnya agar dapat menyediakan pelayanan secara terus menerus dan merata dengan mutu dan keandalan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu sistem tenaga listrik yang handal dan mumpuni. Tetapi, dalam pelaksanaannya suatu sistem tenaga listrik tidak lepas dari berbagai macam gangguan yang dapat menyebabkan menurunnya keandalan sistem.

Berbagai permasalahan dalam hal menjaga kontinuitas pasokan listrik juga terjadi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya mutu dan ketersediaan pelayanan daya listrik pada sistem distribusi rayon garut kota adalah gangguan pada penyulang, dimana penyebabnya didonimasi oleh layang-layang.

Di beberapa wilayah Rayon Garut Kota, permainan layang-layang menjadi hal favorit untuk dilakukan, jenis layangan yang digunakan pun beraneka ragam. Kondisi dimana terdapat suatu daerah yang mayoritas warganya gemar melakukan kegiatan bermain layang-layang maka kemungkinan Jaringan Tegangan Menengah dihinggapi sampah berupa kerangka layangan serta benang pun semakin besar.

Untuk layangan dengan dimensi yang besar serta menggunakan bahan berupa benang yang dapat menghantarkan aliran listrik, bila mengenai jaringan PLN 20 KV bukan tidak mungkin akan langsung mengakibatkan gangguan pada penyulang tersebut. Sedangkan untuk layang-layang biasa pun tetap berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan penyulang dimana pada saat kondisi hujan maka sampah berupa kerangka layangan atau benang tersebut dapat membuat jalur konduktif antara fasa atau antara fasa dan tanah.

Oleh karena dilatarbelakangi permasalahan di atas, pada skripsi ini akan dilakukan analisis mengenai gangguan penyulang yang disebabkan oleh

(18)

layang-layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat dihasilkan beberapa strategi untuk meminimalkan jumlah gangguan yang disebabkan oleh layang-layang.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk analisis gangguan pada penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang untuk mengetahui karakteristik gangguan tersebut hingga dapat menyebabkan terjadinya pemadaman tak terencana, kerugian yang ditimbulkannya, dan langkah-langkah penekanan gangguan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan angka terjadinya pemadaman akibat

gangguan layang-layang. Penyulang PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut.

1.3 Batasan Masalah

Batasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Analisis dilakukan terhadap gangguan penyulang SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) yang diakibatkan oleh layang-layang.

2. Data yang diamati adalah data gangguan penyulang tahun 2012 dan 2013. 3. Sistem distribusi yang dijadikan bahan penelitian adalah sistem distribusi

di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota.

4. Evaluasi keandalan sistem distribusi menggunakan dua parameter, yaitu SAIDI dan SAIFI.

5. Data yang digunakan sebagai perbandingan untuk evaluasi hasil penekanan gangguan adalah data gangguan penyulang oleh layang-layang pada bulan Juni-September tahun 2014.

1.4 Metodologi Penelitian

Penulisan skripsi ini dilakukan dengan menggunakan metode studi skasus yang dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu studi literatur dengan melakukan pencarian materi yang berkaitan dengan topik yang dibahas, pengambilan data

(19)

yang diperoleh dari hasil data rekap gangguan penyulang dan laporan pemadaman di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota, pengolahan data, analisis dan evaluasi hasil pengolahan data.

1.5 Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari lima bab. Bab satu merupakan pendahuluan dimana pada bab ini dijelaskan permasalahan yang melatarbelakangi penulisan skripsi, termasuk juga tujuan, batasan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab dua berisi teori-teori yang mendasari analisis gangguan penyulang, diantaranya mengenai fungsi dan peran jaringan distribusi dalam sistem tenaga listrik, klasifikasi sistem distribusi, gangguan pada sistem distribusi, sistem proteksi, dan parameter keandalan sistem. Bab tiga membahas data aset dan konstruksi sistem distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Bab empat merupakan analisis gangguan penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang yang menyebabkan pemadaman tak terencana, meliputi karakteristik gangguan layang-layang sehingga dapat menyebabkan pemadaman, dampak dari terjadinya gangguan layang-layang, langkah-langkah penekanan gangguan layang-layang, dan evaluasi hasil penekanan gangguan layang-layang. Bab lima merupakan bagian penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan penulisan skripsi.

(20)

BAB 2

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

2.1 Sistem Tenaga Listrik

Sistem tenaga listrik adalah sekumpulan Pusat-Pusat Tenaga Listrik yang di interkoneksi satu dengan yang lainnya, melalui transmisi atau distribusi untuk memasok ke beban atau satu Pusat Listrik dimana mempunyai beberapa unit generator yang diparalel [1].

Pada umumnya suatu sistem tenaga listrik yang lengkap memiliki empat unsur [2]. Pertama, adanya suatu unsur pembangkit tenaga listrik. Tegangan yang dihasilkan oleh pusat tenaga listrik itu biasanya merupakan tegangan menengah (TM). Kedua, suatu sistem transmisi lengkap dengan gardu induk. Karena Pusat-Pusat Listrik berada jauh di di luar pusat beban, maka dibutuhkan tegangan tinggi (TT) atau tegangan extra tinggi (TET) agar pasokan tenaga listrik, terutama tegangan dan frekuensi, tetap stabil. Ketiga, adanya saluran distribusi, yang biasanya terdiri atas saluran distribusi primer dengan tegangan menengah (TM) dan saluran distribusi sekunder dengan tegangan rendah (TR). Keempat, adanya unsur pemakaian atas utilisasi yang terdiri atas instalasi pemakaian tenaga listrik. Instalasi rumah tangga biasanya memakai tegangan rendah, sedangkan pemakai besar seperti industri mempergunakan tegangan menengah atau tegangan tinggi. Gambar 2.1 memperlihatkan skema suatu sistem tenaga listrik.

Dari penjelasan di atas juga dapat diketahui bahwa sistem tenaga listrik terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pusat pembangkit tenaga listrik atau sistem pembangkitan, saluran transmisi tenaga listrik atau sistem transmisi, dan sistem distribusi. Fungsi dan peran ketiga komponen tersebut di dalam sistem tenaga listrik adalah sebagai berikut.

1. Sistem Pembangkitan

Pusat pembangkit listrik adalah tempat energi listrik pertama kali dibangkitkan, dimana pada pembangkit tenaga listrik ini sumber-sumber energi alam diubah oleh turbin sebagai penggerak mula (prime mover)

(21)

menjadi energi mekanis yang berupa kecepatan atau putaran dan selanjutnya energi mekanis tersebut akan diubah menjadi energi listrik oleh generator. Jenis pusat pembangkit yang umum antara lain PLTA (pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap), PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas), dan PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir).

2. Sistem Transmisi

Merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik (power plant) sampai ke saluran distribusi listrik (substation

distribution), sehingga dapat disalurkan sampai pada pelanggan pengguna

listrik.

3. Sistem Distribusi

Sistem distribusi berfungsi mendistribusikan tenaga listrik ke konsumen yang berupa pabrik, industri, perumahan, dan sebagainya. Transmisi tenaga dengan tegangan tinggi maupun tegangan ekstra tinggi pada saluran transmisi dirubah pada gardu induk menjadi tegangan menengah atau tegangan distribusi primer, yang selanjutnya tegangannya diturunkan lagi menjadi tegangan untuk konsumen yang menghasilkan tegangan kerja/tegangan jala-jala untuk konsumen [3].

2.2 Sistem Distribusi

Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya besar (bulk power source) sampai ke konsumen [4].

Pada umumnya sistem distribusi tenaga listrik di Indonesia terdiri atas beberapa bagian, sebagai berikut :

1. Gardu Induk (GI)

2. Saluran Tegangan Menengah (TM)/ Distribusi Primer 3. Gardu Distribusi (GD)

4. Saluran Tegangan Rendah (TR)/ Distribusi Sekunder

Gardu induk akan menerima daya dari saluran transmisi kemudian menyalurkannya melalui saluran distribusi primer menuju gardu distribusi. Sistem

(22)

jaringan distribusi terdiri dari dua buah bagian yaitu jaringan distribusi primer dan jaringan distribusi sekunder. Jaringan distribusi primer umumnya bertegangan tinggi (20 kV atau 6 kV). Tegangan tersebut kemudian diturunkan oleh transformator distribusi pada gardu distribusi menjadi tegangan rendah (220 atau 380 Volt) untuk selanjutnya disalurkan ke konsumen melalui saluran distribusi sekunder [2]. Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bagaimana skema penyaluran daya hingga ke konsumen melalui jaringan distribusi.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui fungsi sistem distribusi tenaga listrik, yaitu sebagai berikut [4]:

1. Untuk pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke pelanggan.

2. Merupakan subsistem tenaga listrik yang yang langsung berhubungan dengan pelanggan karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.

(23)

Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen [1]

2.3 Klasifikasi Sistem Distribusi

Sistem atau saluran distribusi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kategori, diantaranya sebagai berikut:

1. Berdasarkan ukuran tegangan 2. Berdasarkan sistem penyaluran 3. Berdasarkan bentuk jaringan

2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan

Berdasarkan ukuran tegangan, sistem distribusi diklasifikasikan menjadi dua sistem, yaitu sistem distribusi primer dan sistem distribusi sekunder.

2.3.1.1 Sistem Distribusi Primer

Sistem distribusi primer atau sering disebut juga jaringan distribusi tegangan tinggi (JDTT) merupakan bagian dari sistem distribusi yang berfungsi untuk menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari pusat suplai daya besar (bulk power source) atau disebut gardu induk ke pusat-pusat beban. Terletak pada sisi primer trafo distribusi, antara gardu induk dengan gardu pembagi, yang memiliki tegangan sistem lebih tinggi dari tegangan terpakai untuk konsumen. Sistem distribusi primer atau sistem distribusi tegangan menengah tersusun oleh penyulang utama (main feeder) dan penyulang percabangan (lateral). Standar tegangan distribusi primer ini adalah 6 kV, 10 kV, dan 20 kV (sesuai standar PLN).

(24)

2.3.1.2 Sistem Distribusi Sekunder

Sistem distribusi sekunder atau sering disebut jaringan distribusi tegangan rendah (JDTR) merupakan bagian dari sistem distribusi yang bertugas mendistribusikan tenaga listrik secara langsung dari gardu-gardu pembagi (gardu distribusi) ke konsumen tenaga listrik. Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban. Standar tegangan untuk sistem distribusi sekunder ini adalah 127/220 V untuk sistem lama, dan 220/380 V untuk sistem baru, serta 440/550 V untuk keperluan industri.

2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran

Menurut sistem penyalurannya, sistem distribusi dapat dilakukan dengan saluran udara (overhead lines) maupun saluran bawah tanah (underground lines).

2.3.2.1 Saluran Udara (Overhead Lines)

Saluran udara, disebut juga saluran udara tegangan menengah (SUTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antar menara atau tiang distribusi seperti terlihat pada Gambar 2.3.

Beberapa pertimbangan untuk saluran udara diantaranya sebagai berikut. Keuntungan saluran udara:

1. Tiang-tiang jaringan distribusi primer dapat pula digunakan untuk jaringan distribusi sekunder dan keperluan pemasangan trafo atau gardu distribusi tiang, sehingga secara keseluruhan harga instalasi menjadi lebih murah. 2. Lebih mudah dalam pemasangannya.

3. Lebih fleksibel dan leluasa dalam upaya untuk perluasan beban.

4. Pemeliharaan lebih mudah.

5. Apabila terjadi gangguan mudah diatasi dan dideteksi.

Adapun kerugian atau kekurangan pada saluran udara berupa:

1. Lebih mudah terganggu dan terpengaruh oleh cuaca buruk, angin ribut, petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.

(25)

2. Untuk wilayah yang penuh dengan bangunan yang tinggi, sukar untuk menempatkan saluran.

3. Masalah efek kulit, induktansi, dan kapasitansi yang terjadi, akan mengakibatkan tegangan drop lebih tinggi.

4. Menganggu pemandangan dikarenakan oleh banyaknya tiang-tiang dan kabel-kabel hantaran udara yang digunakan sehubungan dengan banyaknya konsumen yang harus dilayani.

5. Ongkos pemeliharaan lebih mahal, karena perlu jadwal pengecatan dan penggantian material listrik bila terjadi kerusakan.

Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines) [6]

2.3.2.2 Saluran Bawah Tanah (Underground Lines)

Saluran bawah tanah atau disebut juga saluran kabel tegangan menengah (SKTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang ditanam didalam tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4.

Terdapat keuntungan dan kerugian dalam penggunaan saluran bawah tanah, antara lain adalah sebagai berikut. Keuntungan saluran bawah tanah:

1. Tidak terpengaruh oleh cuaca buruk, bahaya petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.

(26)

2. Tidak mengganggu pandangan, bila adanya bangunan yang tinggi. 3. Saluran bawah tanah lebih sempurna dan lebih indah dipandang. 4. Mempunyai batas umur pakai dua kali lipat dari saluran udara.

5. Ongkos pemeliharaan lebih murah, karena tidak perlu adanya pengecatan. 6. Jatuh tegangan lebih rendah karena masalah induktansi bisa diabaikan. 7. Keandalan lebih baik.

8. Tidak ada korona.

9. Rugi-rugi daya lebih kecil.

Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) [7]

Sedangkan kerugian dari saluran bawah tanah adalah:

1. Biaya investasi pembangunan lebih mahal dibandingkan dengan saluran udara.

2. Saat terjadi gangguan hubung singkat, usaha pencarian titik gangguan sulit dilakukan.

3. Perlu pertimbangan-pertimbangan teknis yang lebih mendalam didalam perencanaan, khususnya untuk kondisi tanah yang dilalui.

(27)

4. Tidak dapat menghindari bila terjadi bencana banjir, desakan akar pohon, dan ketidakstabilan tanah.

5. Gangguan yang terjadi bersifat permanen. 6. Tidak fleksibel terhadap perubahan jaringan.

7. Waktu dan biaya untuk menanggulangi bila terjadi gangguan lebih lama dan lebih mahal.

2.3.3 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan

Konfigurasi jaringan distribusi primer pada suatu sistem jaringan distribusi sangat menentukan mutu pelayanan yang akan diperoleh khususnya mengenai kontinuitas pelayanan. Berdasarkan bentuk jaringannya, sistem distribusi dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis dasar, yaitu sistem radial, sistem rangkaian tertutup (loop circuit), sistem mesh dan sistem spindel.

2.3.3.1 Sistem Radial

Sistem radial pada jaringan distribusi merupakan sistem terbuka, dimana tenaga listrik yang disalurkan secara radial melalui gardu induk ke konsumen-konsumen dilakukan secara terpisah satu sama lainnya. Bentuk jaringan dengan sistem radial diperlihatkan pada Gambar 2.5. Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana diantara sistem yang lain dan paling murah, sebab sesuai konstruksinya sistem ini menghendaki sedikit sekali penggunaan material listrik, apalagi jika jarak penyaluran antara gardu induk ke konsumen tidak terlalu jauh.

(28)

Sistem radial terbuka ini paling tidak dapat diandalkan dibandingkan dengan bentuk sistem lain, karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satu saluran saja. Jaringan model ini sewaktu mendapat gangguan akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali.

Keuntungan dari sistem radial terbuka diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Konstruksinya lebih sederhana.

2. Material yang digunakan lebih sedikit, sehingga lebih murah. 3. Sistem pemeliharaannya lebih murah.

4. Untuk penyaluran jarak pendek akan lebih murah. Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut: 1. Keandalan sistem ini lebih rendah.

2. Makin panjang jaringan (dari Gardu Induk atau Gardu Hubung), kondisi tegangan tidak dapat diandalkan.

3. Rugi-rugi tegangan lebih besar. 4. Kapasitas pelayanan terbatas.

5. Bila terjadi gangguan penyaluran daya terhenti.

2.3.3.2 Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit)

Sistem rangkaian tertutup pada jaringan distribusi merupakan suatu sistem penyaluran melalui dua atau lebih penyulang yang saling berhubungan membentuk rangkaian berbentuk cincin. Gambar 2.6 menunjukkan bentuk jaringan dengan sistem rangkaian tertutup (loop circuit).

Keuntungan sistem dengan konfigurasi rangkaian tertutup (loop), diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua penyulang yang saling berhubungan.

2. Menguntungkan dari segi ekonomis.

3. Bila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik.

(29)

5. Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik dan regulasi tegangan cenderung kecil.

6. Dalam kondisi beroperasi normal, pemutus beban dalam keadaan terbuka. 7. Biaya konstruksi lebih murah.

8. Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50%.

Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) [9]

Pada konfigurasi loop ini juga terdapat beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut.

1. Drop tegangan makin besar.

2. Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan lebih jelek.

2.3.3.3 Sistem Mesh

Sistem mesh ini merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih penyulang pada gardu-gardu induk dari beberapa pusat pembangkit tenaga listrik yang bekerja secara paralel. Pola jaringan ini terlihat pada Gambar 2.7, memiliki beberapa rel daya dan antara rel tersebut dihubungkan oleh saluran penghubung yang disebut tie feeder. Dengan demikian setiap gardu distribusi dapat menerima atau mengirim daya dari atau ke rel lain.

(30)

Gambar 2.7. Sistem Mesh

Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu dan merupakan sistem yang dapat diandalkan, mengingat sistem ini dilayani oleh dua atau lebih sumber tenaga listrik. Selain itu, jumlah cabang lebih banyak dari jumlah titik penyulang.

Sistem ini dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan tinggi dan membutuhkan kapasitas dan kontinuitas pelayanan yang sangat baik. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidakakan mengganggu kontinuitas pelayanan. Sebab semua titik beban terhubung paralel dengan beberapa sumber tenaga listrik.

Keuntungan yang diperoleh dari sistem mesh diantaranya sebagai berikut: 1. Penyaluran tenaga listrik dapat dilakukan secara terus-menerus (selama 24

jam) dengan menggunakan dua atau lebih penyulang.

2. Memiliki kapasitas dan kontinuitas pelayanan sangat baik, sehingga tingkat keandalannya tinggi.

3. Dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi.

4. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu kontinuitas pelayanan.

(31)

Adapun kerugian dari sistem mesh ini adalah sebagai berikut. 1. Biaya konstruksi dan pembangunan lebih tinggi.

2. Pengaturan alat proteksi lebih sulit.

2.3.3.4 Sistem Spindel

Jaringan ini merupakan gabungan dari struktur radial dan rangkaian tertutup (loop circuit). Pada sebuah sistem spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (penyulang express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah yang menggunakan saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Dalam keadaan normal, tipe ini beroperasi secara radial dan dalam keadaan darurat bekerja secara rangkaian tertutup (loop circuit) melalui penyulang cadangan dan gardu hubung.

Gardu distribusi pada sistem mesh ini terdapat disepanjang saluran kerja dan terhubung secara seri. Saluran kerja yang masuk ke gardu dihubungkan oleh saklar pemisah, sedangkan saluran yang keluar dari gardu dihubungkan oleh sebuah saklar beban. Untuk lebih jelas, bentuk jaringan dengan sistem spindel ditunjukkan pada Gambar 2.8.

(32)

Keuntungan dari sistem spindel ini diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Sederhana dalam hal teknis pengoperasiannya, seperti pola radial. 2. Kontinuitas pelayanan lebih baik dari pada pola radial maupun loop. 3. Pengecekan beban masing-masing saluran lebih mudah dibandingkan

dengan pola mesh.

4. Penentuan bagian jaringan yang teganggu akan lebih mudah dibandingkan dengan pola mesh.

5. Baik untuk dipakai di daerah perkotaan dengan kerapatan beban yang tinggi.

Tetapi, terdapat juga kelemahan dari sistem ini, yaitu sistem ini relatif mahal karena sudah memperhitungkan perkembangan beban atau penambahan jumlah konsumen sampai beberapa tahun ke depan, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama.

2.4 Gangguan Pada Sistem Distribusi

Gangguan pada sistem distribusi adalah terganggunya sistem tenaga listrik yang menyebabkan bekerjanya relai pengaman penyulang untuk membuka pemutus tenaga (circuit breaker) di gardu induk yang menyebabkan terputusnya suplai tenaga listrik. Gangguan pada jaringan distribusi lebih banyak terjadi pada saluran udara (SUTM) yang umumnya tidak memakai isolasi dibanding dengan saluran distribusi yang ditanam dalam tanah (SKTM) dengan menggunakan isolasi pembungkus.

Sumber gangguan pada jaringan distribusi dapat berasal dari dalam sistem (internal) maupun dari luar sistem distribusi (eksternal).

1. Gangguan dari dalam sistem antara lain: a. Tegangan lebih atau arus lebih b. Beban lebih

c. Kegagalan kerja peralatan pengaman d. Pemasangan yang kurang tepat e. Usia pemakaian

2. Gangguan dari luar sistem antara lain:

(33)

b. Sambaran petir c. Hujan atau cuaca

d. Kerusakan pada peralatan e. Binatang ataupun layang-layang f. Penggalian tanah

g. Gagalnya isolasi karena kenaikan temperatur h. Kerusakan sambungan

Adapun jenis-jenis gangguan yang sering terjadi pada sistem distribusi diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Gangguan Beban Lebih 2. Gangguan Tegangan Lebih 3. Gangguan Ketakstabilan 4. Gangguan Hubung Singkat

2.4.1 Gangguan Beban Lebih

Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus-menerus berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri oleh arus tersebut. Karena arus yang mengalir melebihi kapasitas peralatan listrik dan kapasitas pengaman yang terpasang melebihi kapasitas peralatan, sehingga saat beban lebih, pengaman tidak trip [1]. Misalnya, kapasitas penghantar 350 A dan pengaman di setting 400 A tetapi beban mencapai 380 A, sehingga pengaman tidak trip dan penghantar akan terbakar.

2.4.2 Gangguan Tegangan Lebih

Gangguan tegangan lebih yang diakibatkan adanya kelainan pada sistem, dimana tegangan lebih dibedakan atas:

1. Tegangan Lebih Dengan Frekuensi Kerja (Power Frequency)

Tegangan lebih dengan frekuensi kerja (power frequency) adalah tegangan lebih yang terjadi, misalnya dikarenakan pembangkit kehilangan beban yang diakibatkan adanya gangguan pada sisi jaringan, sehingga terjadi putaran lebih (over speed) pada generator. Tegangan lebih ini juga dapat

(34)

terjadi karena adanya gangguan pada pengatur tegangan secara otomatis (Automatic Voltage Regulator) [1].

2. Tegangan Lebih Transien

Tegangan lebih transien merupakan tegangan lebih karena adanya surja petir yang mengenai peralatan listrik atau saat pemutus tenaga yang menimbulkan kenaikan tegangan yang disebut surja hubung [1].

2.4.3 Gangguan Ketakstabilan (Instability)

Lepasnya pembangkit dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron. Ayunan juga dapat menyebabkan salah kerja relai. Lepas sinkron dapat menyebabkan berkurangnya pembangkit, karena pembangkit yang besar jatuh (trip) dari cadangan putar (spinning reserve), maka frekuensi akan terus turun atau bisa terjadi terpisahnya sistem yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas, bahkan terjadi keruntuhan sistem (collapse) [1].

2.4.4 Gangguan Hubung Singkat

Gangguan yang sering terjadi dan berbahaya bagi sistem tenaga listrik adalah gangguan hubung singkat. Adanya hubung singkat menimbulkan arus lebih yang pada umumnya jauh lebih besar daripada arus pengenal peralatan dan terjadi penurunan tegangan pada sistem tenaga listrik. Dimana besarnya arus hubung singkat tergantung dari sumber yang memasok, luas penampang jaringan, dan lokasi dimana gangguan hubung singkat tersebut terjadi. Akibat dari adanya arus gangguan ini adalah dapat merusak peralatan-peralatan listrik dan terganggunya penyaluran listrik pada konsumen.

Berdasarkan lama terjadinya gangguan hubung singkat pada sistem distribusi dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Gangguan Temporer

Gangguan yang bersifat sementara karena dapat hilang dengan sendirinya dengan cara memutuskan bagian yang terganggu sesaat, kemudian menutup balik kembali, baik secara otomatis (autorecloser) maupun secara

(35)

manual oleh operator. Bila gangguan sementara terjadi berulang-ulang maka dapat menyebabkan gangguan permanen dan merusak peralatan. 2. Gangguan Permanen

Gangguan bersifat tetap, sehingga untuk membebaskannya perlu tindakan perbaikan atau penghilangan penyebab gangguan. Hal ini ditandai dengan jatuhnya (trip) kembali pemutus tenaga setelah operator memasukkan sistem kembali setelah terjadi gangguan.

Berdasarkan kesimetrisannya, gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi pada jaringan distribusi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut:

1. Gangguan Asimetris

Gangguan asimetris merupakan gangguan yang mengakibatkan tegangan dan arus yang mengalir pada setiap fasanya menjadi tidak seimbang. Gangguan ini terdiri dari:

a. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah b. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa

c. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah 2. Gangguan Simetris

Gangguan simetris merupakan gangguan yang terjadi pada semua fasanya (3 fasa) sehingga arus maupun tegangan setiap fasanya tetap seimbang setelah gangguan terjadi.

2.4.4.1 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah

Munculnya arus gangguan disebabkan karena adanya gangguan pada salah satu fasa, dalam hal ini dimisalkan gangguan pada fasa A (sebagai referensi). Pada Gambar 2.9 gangguan terjadi karena salah satu kawat terhubung ke tanah akibat pohon atau penyebab lainnya.

Nilai arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1].

(36)

Dimana: -

Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah

2.4.4.2 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa

Gangguan hubung singkat terjadi antara fasa B dan fasa C, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.10. Gangguan fasa-fasa yang terjadi pada sistem tenaga listrik ini biasanya karena pohon atau kawat layang-layang.

Gambar 2.10. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa

Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1].

(2.2)

Dimana: -

(37)

2.4.4.3 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah

Gangguan hubung singkat ini terjadi antara fasa B dan fasa C yang terhubung ke tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.11. Biasanya hubungan ini terjadi karena ranting pohon terkena dua fasa.

Gambar 2.11. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah

Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1].

(2.3) Dimana: -

2.4.4.4 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa

Gangguan tiga fasa pada Gambar 2.12 dapat terjadi pada jaringan tenaga listrik karena ketiga fasanya terhubung oleh pohon atau kawat dari benang layang-layang.

(38)

Gambar 2.12. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa

Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1].

(2.4)

Dimana: -

2.4.5 Upaya Mengatasi Gangguan

Upaya mengatasi gangguan pada sistem distribusi tenaga listrik bertujuan untuk mengurangi terjadinya gangguan dan akibat gangguan. Berikut adalah beberapa upaya mengatasi gangguan yang dapat dilakukan [10].

1. Mengurangi terjadinya gangguan

a. Memakai peralatan yang dapat diandalkan (memenuhi persyaratan standar).

b. Penentuan spesifikasi yang tepat dan desain yang baik (tahan terhadap kondisi kerja normal ataupun gangguan).

c. Pemasangan yang benar sesuai dengan desain.

d. Penggunaan kawat tanah pada saluran udara tegangan menengah. e. Penebangan/pemangkasan pohon-pohon yang dekat dengan saluran

udara tegangan menengah.

f. Penggunaan kawat udara/kabel secara selektif. 2. Mengurangi akibat gangguan

a. Mengurangi besarnya arus gangguan.

(39)

c. Menggunakan tahanan pentanahan netral.

d. Penggunaan penangkap petir (lightning arrester) dan koordinasi isolasi.

e. Melepas bagian terganggu dengan mempergunakan relai dan pemutus tenaga.

f. Pola pemutusan arus (load shedding/splitting), untuk sistem di distribusi pemasangan peralatannya di penyulang keluar (outgoing

feeder).

g. Pelepasan bagian sistem yang terganggu, antara lain penggunaan jenis dan kordinasi relai yang tepat, penggunaan saluran ganda (double), penggunaan sistem rangkaian tertutup (loop), penggunaan pemutus balik otomatis (recloser) atau saklar seksi otomatis (automatic line sectionalizer), penggunaan sistem spindel pada JTM.

h. Penggunaan peralatan cadangan.

2.5 Pemadaman Listrik

Definisi pemadaman listrik adalah saat terhentinya pasokan aliran listrik ke pelanggan.Secara umum listrik padam dapat disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :

1. Pemadaman Terencana

Pemadaman terencana adalah pemadaman yang diakibatkan adanya kegiatan yang telah direncanakan oleh PLN yang mengharuskan terhentinya aliran listrik PLN ke pelanggan [11], seperti penambahan peralatan jaringan, pemeliharaan preventif (preventive maintenance) pembangkit, penggantian kabel konduktor (reconductoring) transmisi 150 kV, pemeliharaan jaringan dan gardu yang sudah dijadwalkan sebelumnya dengan tujuan untuk menjaga keandalan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal.

2. Pemadaman Tidak Terencana (Gangguan)

Adalah pemadaman akibat terjadinya gangguan yang tidak direncanakan. Contohnya sebagai berikut:

(40)

a. Terganggunya suatu unit pembangkit: gangguan pada sistem pelumasan, sistem pendingin, generator, ketel (boiler) pemanas air menjadi uap.

b. Terganggunya jaringan/transmisi listrik: Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV tersambar petir, terkena pohon roboh, tanah longsor, trafo meledak, dan lain-lain.

c. Terganggunya instalasi pelanggan karena hubung singkat, kerusakan alat-alat listrik yang dipakai atau beban lebih besar dari daya tersambung.

2.6 Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi

Agar suatu sistem distribusi dapat berfungsi dengan baik,gangguan-gangguan yang terjadi pada tiap bagian harus dapat dideteksi dan dipisahkan dari sistem lainnya dalam waktu secepat mungkin. Beberapa fungsi sistem pengaman adalah sebagai berikut:

1. Melokalisir gangguan untuk membebaskan perlatan dari gangguan.

2. Membebaskan bagian yang tidak bekerja normal, untuk mencegah kerusakan.

3. Memberi petunjuk atau indikasi atas lokasi serta jenis kegagalan yang terjadi.

4. Untuk dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen.

5. Untuk mengamankan keselamatan manusia terutama terhadap bahaya yang ditimbulkan listrik.

Adapun peralatan proteksi yang digunakan pada jaringan tegangan menengah terbagi menjadi tiga kelompok [2]:

1. Peralatan pemisah atau penghubung 2. Peralatan pengaman arus lebih 3. Peralatan pengaman tegangan lebih

(41)

2.6.1 Peralatan Pemisah atau Penghubung

Fungsi dari pemutus beban atau pemutus tenaga (PMT) adalah untuk mempermudah dalam membuka dan menutup suatu saluran yang menghubungkan sumber dengan beban, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan gangguan. Jenis pemutus yang digunakan pada gardu adalah:

1. Pemutus Tenaga(Circuit Breaker) 2. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch)

Sedangkan pemutus pada jaringan adalah: 1. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch)

2. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)

2.6.1.1 Pemutus Tenaga (Circuit Breaker)

Dalam keadaan tidak normal (terjadi gangguan) pemutus tenaga (PMT) berperan sebagai saklar otomatis yang dapat memutuskan arus gangguan hubung singkat, menghilangkan gangguan permanen dengan cara memisahkan dari bagian yang terganggu secara otomatis, dimana pada umumnya untuk mengoperasikan PMT tersebut digunakan suatu rangkaian trip yang mendapat sinyal dari suatu rangkaian relai pengaman. Contoh bentuk pemutus tenaga (circuit breaker) diberikan pada Gambar 2.13.

(42)

2.6.1.2 Saklar Pemisah (Disconnecting Switch)

Saklar pemisah, seperti terlihat pada Gambar 2.14, merupakan alat pemutus rangkaian listrik pada kondisi tanpa beban yang dioperasikan secara manual karena waktu pemutusan yang terjadi bersifat sangat subjektif, yaitu tergantung pada subjek operatornya. Tugas utama saklar pemisah adalah memisahkan suatu bagian beban dari sumbernya pada keadaan tidak berarus (saat pemeliharaan atau perbaikan), sehingga dapat dilihat atau dipisahkan antara bagian yang aktif dan bagian yang tidak aktif.

Gambar 2.14. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) [13]

2.6.1.3 Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch)

Saklar pemisah beban (load break switch) yang ditunjukkan pada Gambar 2.15 merupakan saklar yang didesain untuk memutus rangkaian listrik dengan kondisi beban nominal dan bekerja secara manual. Saklar ini tidak dapat bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau ditutup hanya untuk memanipulasi beban.

(43)

Gambar 2.15. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) [14]

2.6.1.4 Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)

Saklar seksi otomatis (SSO) merupakan pengaman cadangan dari PMT, dimana peralatan ini dipasang pada jaringan udara tegangan menengah. SSO adalah suatu peralatan pemutus yang bekerja secara otomatis untuk membebaskan seksi-seksi yang terganggu dari suatu sistem distribusi, atau dengan kata lain, membebaskan/melokalisir daerah yang teganggu agar tetap mendapatkan suplai tenaga listrik. Pemasangannya pada jaringan distribusi tenaga listrik 20 kV dilengkapi dengan pemasangan pemutus balik otomatis (recloser) dan indikator seksi gangguan (fault section indicator) penyulang. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kerja dari SSO. Gambar 2.16 menunjukkan contoh bentuk saklar seksi otomatis (SSO).

2.6.2 Peralatan Pengaman Arus Lebih

Fungsi dari peralatan pengaman arus lebih adalah untuk mengatasi gangguan arus lebih pada sistem distribusi sebelum gangguan tersebut meluas keseluruh sistem yang ada. Peralatan yang banyak digunakan pada jaringan distribusi diantaranya adalah:

(44)

2. Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) 3. Relai

Gambar 2.16. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)[15]

2.6.2.1 Pelebur (Fuse Cut Out)

Pelebur (fuse) yang ditunjukkan pada Gambar 2.17 merupakan kombinasi alat pelindung dan pemutus rangkaian yang mempunyai prinsip melebur (expulsion). Pengaman lebur ini ditempatkan pada sisi tegangan menengah (TM) untuk mengamankan jaringan TM dan peralatan ke arah GI terhadap gangguan hubung singkat di trafo, atau sisi TM sebelum trafo, dan gangguan permanen antara fasa ke tanah.

Karakteristik waktu/arus dari sebuah pelebur (fuse) adalah sekitar . Untuk semua jenis pelebur, batas arus pelebur biasanya lebih tinggi daripada arus normalnya. Pelebur yang melewatkan arus melampaui batas arus untuk waktu yang lebih lama daripada waktu untuk melewatkan arus pemutus minimum, dapat mengalami kerusakan yang dapat mempengaruhi karakteristiknya, terutama kemampuannya untuk memutus.

(45)

Gambar 2.17. Pelebur (Fuse Cut Out) [16]

2.6.2.2 Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser)

Penutup balik adalah alat pengaman arus lebih dimana waktu untuk memutus dan menutup kembali dapat diatur dan bekerja secara otomatis. Pemutus balik otomatis dilengkapi dengan sarana indikasi arus lebih, pengatur waktu operasi, serta penutupan kembali secara otomatis.

Desain dari penutup balik otomatis memungkinkan untuk dapat membuka kontak-kontaknya secara tetap dan terkunci (lock out), sesuai pemrogramannya setelah melalui beberapa kali operasi buka-tutup. Contoh bentuk dari pemutus balik otomatis diberikan pada Gambar 2.18.

Pada gangguan yang bersifat sementara, penutup balik otomatis akan membuka dan menutup kembali bila gangguan telah hilang. Jika gangguannya bersifat tetap/permanen, maka penutup balik otomatis akan membuka kontak-kontaknya secara tetap dan terkunci. Apabila gangguan telah dihilangkan, maka kontak dapat ditutup kembali.

(46)

Gambar 2.18. Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser)[17]

2.6.2.3 Relai

Relaia dalah peralatan pengaman yang dipasang pada perangkat yang berfungsi untuk melindungi peralatan listrik dari gangguan yang mungkin terjadi. Relai bersifat peka terhadap perubahan pada rangkaian yang dapat mempengaruhi kinerja alat lain. Tujuan dipasang relai pengaman adalah:

1. Menghindari atau mengurangi kerusakan yang terjadi akibat gangguan pada alat yang dilalui arus gangguan.

2. Menyelamatkan sistem atau bagian sistem lainnya yang tidak terganggu supaya tetap dapat bekerja terus, dengan cara melepaskan bagian sistem yang terganggu sedemikian rupa sehingga penyimpangan atau kesalahan akibat gangguan tersebut tidak memberikan akibat negatif yang lebih luas terhadap keseluruhan sistem yang ada.

Adapun relai yang terpasang terdiri dari: 1. Relai Arus Lebih (Over Current Relay)

Relai arus lebih (OCR) merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan antar fasa, baik hubung singkat 2 fasa maupun 3 fasa. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung. Relai ini

(47)

memberikan reaksi terhadap besarnya arus masukan,dan bekerja untuk memutuskan rangkaian listrik (trip) apabila besarnya arus melebihi nilai tertentu yang dapat diatur.

2. Relai Gangguan Tanah (Ground Fault Relay)

Relai ini merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan fasa ke tanah. Pada dasarnya, relai ini memiliki prinsip kerja yang sama dengan relai arus lebih. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung.

3. Relai Momen (Instant)

Relai momen (instant) berperan sebagai pengaman untuk arus yang besar dengan pengaturan kerja cepat. Waktu minimm yang dibutuhkan adalah 40 milidetik. Biasanya pengaturan relai momen di atur dengan arus gangguan 2 fasa atau 3 fasa dekat dengan sumber (30-50%) panjang jaringan. 4. Relai Penghantar Putus (Broken Conductor)

Relai penghantar putus (broken conductor) sebagai kelengkapan pengaman yang terpasang di relai. Dipergunakan untuk pengaturan bila beban tidak seimbang yang disebabkan adanya penghantar yang putus arah beban, sehingga beban tidak seimbang tiap fasanya.

2.6.3 Peralatan Pengaman Tegangan Lebih

Pada sistem distribusi, gangguan dapat terjadi akibat adanya tegangan lebih. Gangguan ini bisa terjadi akibat proses switching pada saluran dan akibat sambaran petir. Bila gangguan ini dibiarkan maka dapat merusak peralatan listrik. Oleh karena itu, peralatan listrik itu harus dilindungi dari gangguan tegangan lebih dengan memasang peralatan pengaman tegangan lebih, seperti :

1. Kawat Tanah (Overhead Groundwire) 2. Penangkap Petir (Lightning Arrester)

(48)

2.6.3.1 Kawat Tanah (Overhead Groundwire)

Dalam hal melindungi saluran tenaga listrik, ada beberapa cara yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan kawat tanah (overhead groundwire) pada saluran. Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran sambaran petir sehingga melindungi kawat fasa dengan daerah/zona tertentu.

2.6.3.2 Penangkap Petir (Lightning Arrester)

Penangkap petir berfungsi untuk melindungi peralatan sistem tenaga listrik terhadap tegangan surja dengan membatasi surja tegangan lebih yang datang dan mengalirkan ke tanah. Alat ini berlaku sebagai jalan pintas (bypass) sekitar isolasi. Penangkap petir membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada peralatan.

Pada keadaan normal penangkap petir berlaku sebagai isolator dan bila timbul surja berlaku sebagai konduktor yang melewatkan aliran arus yang tinggi. Setelah surja hilang, penangkap petir harus dengan cepat kembali menjadi isolator, sehingga pemutus daya tidak sempat membuka. Gambar 2.19 memperlihatkan dimensi dari ligthning arrester.

(49)

2.7 Keandalan Sistem Distribusi

Keandalan tenaga listrik adalah kontinuitas penyaluran tenaga listrik kepada pelanggan, terutama pelanggan daya besar yang membutuhkan kontinuitas penyaluran tenaga listrik secara mutlak. Struktur jaringan tegangan menengah memegang peranan penting dalam menentukan keandalan penyaluran tenaga listrik karena jaringan yang baik memungkinkan dapat melakukan manuver tegangan dengan mengalokasikan tempat gangguan dan beban dapat dipindahkan melalui jaringan lainnya.

Kontinuitas pelayanan yang merupakan salah satu unsur dari kualitas pelayanan tergantung kepada jenis penghantar dan peralatan pengaman. Jaringan distribusi sebagai sarana penghantar tenaga listrik mempunyai tingkat kontinuitas tergantung kepada susunan saluran dan cara pengaturan operasinya.

Parameter-parameter keandalan yang biasa digunakan untuk mengevaluasi sistem distribusi adalah frekuensi kegagalan tahunan rata-rata ( ), lama terputusnya pasokan listrik rata-rata ( ) lama/durasi terputusnya pasokan listrik tahunan rata-rata ( ). Parameter-parameter tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: ∑ (2.5) ∑ (2.6) (2.7) Dimana: - - -

Berdasarkan parameter-parameter keandalan dasar ini, didapat sejumlah indeks keandalan untuk sistem secara keseluruhan yang dapat dievaluasi, yaitu SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) dan SAIDI (System

(50)

2.7.1 SAIFI (System Average Interruption Frequency Index)

SAIFI (system average interruption frequency index) adalah indeks frekuensi pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian frekuensi padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang frekuensi pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Satuannya adalah pemadaman per pelanggan per tahun. Didefinisikan sebagai berikut:

(2.8)

(2.9)

dengan: adalah frekuensi padam

adalah jumlah pelanggan pada titik beban i

2.7.2 SAIDI (System Average Interruption Duration Index)

SAIDI (system average interruption durasi index) adalah indeks durasi atau lama pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian lama padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang lama pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

(2.10) ∑

∑ (2.11)

dengan: adalah durasi pemadaman/gangguan tahanan untuk beban i adalah jumlah pelanggan pada titik beban i

(51)

BAB 3

SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA

Wilayah kerja PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dengan luas wilayah 3.065 km2 yang ditunjukkan pada Gambar 3.1, dibagi kedalam lima rayon, yaitu Rayon Garut Kota, Rayon Leles, Rayon Cibatu, Rayon Cikajang, dan Rayon Pameungpeuk. Sistem distribusi yang diamati pada skripsi ini adalah sistem distribusi Area Garut Rayon Garut Kota.

(52)

3.1 Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota

Visi dan misi dari PT. PLN (Persero) Area Garut adalah sebagai berikut: 1. Visi

Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang. Unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.

2. Misi

a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.

b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.

d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Dalam rangka memenuhi visi dan misi tersebut, PT. PLN (Persero) Area Garut, khususnya dalam hal ini Rayon Garut Kota, selalu berusaha menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan listrik terhadap pelanggan. Oleh karena itu, dibuat suatu target kerja sebagai acuan dan bahan evaluasi keberhasilan kinerja PLN dalam meningkatkan keandalan sistem. Berikut pada Tabel 3.1 diberikan target kerja distribusi Rayon Garut Kota.

Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota Parameter Satuan Tahun 2012 Tahun 2013 Gangguan Penyulang kali/tahun 30 25

SAIFI kali/pelanggan/tahun 4,2 5,2

SAIDI jam/pelanggan/tahun 0,98 2,34

3.2 Data Aset Rayon Garut Kota

Area Garut Rayon Garut Kota memiliki jumlah pelanggan sebanyak 102.080 pada tahun 2012. Jumlah ini meningkat pada tahun 2013 menjadi 136.107 pelanggan. Terdapat1 Gardu Induk, yaitu GI Garut, 2 buah trafo 150 kV dengan daya masing-masing 60 MVA, dan 8 buah penyulang dengan panjang

(53)

total 288,070 kms menggunakan material utama A3C (All Alloy Alumunium

Conductor) yang merupakan saluran penghantar terbuka (tanpa isolasi). Adapun

data lengkap aset Rayon Garut Kota diberikan pada Lampiran 1 (Data Aset Gardu), Lampiran 2 (Data Aset SUTM), dan Lampiran 3 (Data Aset Tiang).

Pada tahun pengamatan, yaitu tahun 2012 dan 2013, terdapat delapan penyulang yang berada di Area Garut Rayon Garut Kota. Penyulang tersebut terdiri dari Penyulang Desa Kolot (DSKT), Penyulang Cilawu (CLWU), Penyulang Margawati (MGWT), Penyulang Cigasong (CGSO), Penyulang Intan Tiga (INTI), Penyulang Intan Satu (INTU), Penyulang Talaga Bodas (TLBS), dan Penyulang Suci. Semua penyulang tersebut memiliki konstruksi horizontal.

3.2.1 Penyulang Desa Kolot (DSKT)

Berdasarkan bentuk jaringannya, Penyulang Desa Kolot (DSKT) ini termasuk ke dalam sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Terdapat 17 gardu dengan jumlah kVA terpasang 1555 kVA. Penyulang ini memiliki panjang total 14,309 kms. Material utama penyulang SUTM yang digunakan adalah A3C 150 mm2 dengan panjang 5,846 kms. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang DSKT ditunjukkan pada Lampiran 9.

3.2.2 Penyulang Cilawu (CLWU)

Bentuk jaringan pada Penyulang Cilawu (CLWU) merupakan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Data aset yang dimiliki Penyulang CLWU diantaranya adalah terdapat 39 gardu dengan total daya trafo 5.465 kVA, panjang penyulang total adalah 24,120 kms dengan material utama yang digunakan, yaitu A3C 150 mm2 sepanjang 10,865 kms. Diagram garis tunggal (single line

diagram) penyulang CLWU dilampirkan pada Lampiran 10.

3.2.3 Penyulang Margawati (MGWT)

Sama halnya dengan Penyulang DSKT dan CLWU, Penyulang Margawati (MGWT) memiliki sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Penyulang MGWT ini memiliki panjang 93,711 kms, dengan material yang paling banyak digunakan

Gambar

Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik [5]
Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) [7]
Gambar 2.5. Sistem Radial [9]
Gambar 2.7. Sistem Mesh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai Program Layanan PLN Keliling sebagai pelayanan informasi

PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten SUPERVISOR AKUNTANSI BIAYA SUPERVISOR AKUNTANSI UMUM SUPERVISOR AT, PDP DAN MATERIAL UMUM

Pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Pengatur Distribusi (APD) Bandung didalam melaksanakan gaji dan tunjangan tentunya sangat diperlukan ketelitian

Pada perusahaan PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten, perusahaan yang memonopoli kelistrikan negara tersebut memang mengalami keuntungan tiap tahunnya

Pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Pengatur Distribusi (APD) Bandung didalam melaksanakan gaji dan tunjangan tentunya sangat diperlukan ketelitian

Analisis susut tegangan pada penyulang 20kv kebon kopi Rayon cimahi selatan PtA. Pln (persero) area cimahi distribusi jawa barat

Analisis susut tegangan pada penyulang 20kv kebon kopi Rayon cimahi selatan Pt.. Pln (persero) area cimahi distribusi jawa barat

PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten merupakan struktur organisasi.. fungsional dan staf yang terdiri dari unsur pimpinan, pembantu