• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI DATUK BADIUZZAMAN SURBAKTI

3. Datuk Badiuzzaman Surbakti Dalam Perang Sunggal

Konflik terbuka antara rakyat Sunggal dibawah pimpinan Datuk Badiuzzaman Surbakti dengan Belanda dikenal dengan Perang Sunggal, dimulai pada 15 Mei 1872, tepat dua tahun setelah undang-undang Agraria diterapkan di Hindia Belanda. Pada awalnya prosesnya begitu gampang. Residen Riau yang ketika itu membawahi Sumatera Timur secara terbuka menawarkan Deli sebagai daerah untuk perkebunan swasta. Sejalan dengan itu, maka pada tahun 1866 Sultan Mahmud dari Deli menyerahkan tanah yang sangat luas memanjang dari Mabar sampai ke hulu Deli Tua, antara Sungai Deli dan Percut (sekitar 12.000 bau) untuk masa sewa selama 99 tahun tanpa pajak kepada Nienhuys dan dua orang Swiss dan seorang Jerman untuk ditanami tembakau.

Pada awalnya, proses budidaya tembakau masih tetap menggunakan cara tradisional, yakni memberikan “uang muka” (voorscot) kepada orang Batak Karo untuk mau menanam lebih banyak tembakau di lahan konsesi untuk mereka. Akan tetapi, upaya ini tidak membawa hasil yang memuaskan. Nienhuys akhirnya memutuskan untuk membuka perkebunan sendiri dengan menggunakan tenaga kuli, namun orang Melayu dan Batak Karo tidak bersedia menjadi tenaga kuli. Kesulitan akan tenaga kerja kemudian dapat diatasi dengan merekrut tenaga kuli Cina dari luar. Awalnya para kuli ini menerima uang muka dan sejumlah uang yang akan diberikan oleh Nienhuys pada waktu musim tanam berakhir, yang besarnya sangat tergantung pada jumlah dan mutu tembakau yang dipanen. Pada waktu itu, sistem kerja upah belum berlaku, yang ada adalah sistem kerja borongan. Para mandor dan kelompok kuli Cina bertindak sebagai pemborong.

Kepadanya diberikan sebidang tanah dan bibit yang pada akhir musim tanam harus dijual kepada pemberi borongan.

Sejak 1870 mulai dibuat kontrak langsung dengan masing-masing kuli dan para mandor diangkat sebagai pengawas. Adanya campur tangan langsung pengusaha dalam pengorganisasian produksi menandai terjadinya peralihan ke kapitalisme industri yang sesungguhnya di Sumatera Timur. Tidak lama kemudian terbukti bahwa tembakau Deli merupakan produk yang paling menguntungkan di pasar Eropa. Untuk usaha budidaya tembakau dalam skala besar dibutuhkan modal yang banyak. Atas keberhasilan Nienhuys maka para pemodal Eropa berlomba menanam investasi di industri perkebunan tembakau di Deli. Jumlah perkebunan meningkat dari 13 pada tahun 1873 menjadi 23 pada tahun 1874 dan hingga 1876 sudah ada 40 perkebunan yang beroperasi di Deli, Sumatera Timur.

Sejalan dengan itu, berbagai bangsa berada di kawasan ini, seperti Belanda, Swiss, Jerman, Polandia, Inggris, Denmark, Cina, Keling, dan Jawa. Orang Cina bahkan telah mencapai 7.600 orang atau rata-rata kurang dari 200 orang di tiap perkebunan. Keberhasilan para pemodal Eropa di industri perkebunan tembakau ternyata membawa konflik bagi masyarakat Sunggal. Hubungan antara Sunggal dengan Deli memang sudah tidak harmonis sejak Deli menyerang Sunggal pada tahun 1822. Kini dengan kehadiran usaha perkebunan itu, hubungan kedua kerajaan itu semakin buruk. Permasalahannya adalah karena sebagian besar tanah yang diserahkan Sultan Deli kepada para perusahaan perkebunan adalah wilayah kekuasaan Sunggal dan bahkan jauh masuk kewilayah Datuk Sepuluh Dua Kuta dan Datuk Suka piring. Tindakan Sultan Deli ini telah

menimbulkan kegelisahan dan tantangan rakyat. Berbagai keberatan yang diajukan tidak digubris oleh Sultan Deli.

Bahkan pada 1870, kembali Sultan Deli memberikan konsesi tanah kepada perusahaan De Rotterdam. Rakyat dilarang menanam tembakau atau tanaman lainnya, padahal tanah itu adalah tanah adat yang sudah mereka miliki selama berabad-abad dan secara turun temurun. Akhirnya hubungan Deli dan Sunggal semakin memanas. Datuk Sunggal juga tidak begitu senang dengan kehadiran orang-orang Cina di perkebunan-perkebunan yang masuk wilayah kekuasaan Sunggal, karena kehadiran mereka sangat mengancam kelangsungan perekonomian rakyat Sunggal dan secara tidak langsung merusak moral masyarakat. Sebagaimana dikatakan Datuk Kecil ketika ia diinterogasi di penjara Tanjung Pinang Riau bahwa, “Mereka tidak setuju tanah rakyat yang subur dibagi-bagi begitu saja seenaknya oleh Sultan Deli kepada perkebunan-perkebunan Belanda”. Dengan datangnya orang “Belanda kebon” (pengusaha Belanda yang bergerak dalam usaha perkebunan), juga berduyun-duyun masuk orang Cina yang kemudian diberi monopoli pachter berdagang garam, candu, dan membuka rempat-tempat perjudian di mana-mana. Sebagai contoh dikemukakan bahwa penjualan candu diborongkan di Sunggal saja naik dari $50,- menjadi $600.- dalam dua tahun.

Rumah Kontelir pertama Belanda Di Deli Cats Baron de Raet (Labuhan-Deli)

Kehadiran pengusaha perkebunan yang kapitalistik dan orang-orang Cina sangat mengancam jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) orang-orang Batak Karo yang memang sudah tertanam sejak lama. Semangat kewirausahaan itu kini mendapat tantangan dari pendatang baru yang didukung secara tidak fair oleh kekuatan kolonial Belanda yang memanfaatkan orang-orang Cina itu untuk kepentingan mereka. Konversi tanah yang dikuasai perseorangan menjadi tanah yang dikuasai tuan perkebunan, berarti tanah masuk dalam objek komersialisasi.

Campur tangan orang-orang pemerintahan atau gubernemen ke desa-desa mencakup pernyataan domein (domein verklaring) yang sering mengabaikan hak-hak rakyat menurut hukum adat, sehingga rakyat tidak dapat lagi memperluas tanah garapannya lagi. Dengan Aturan Pembukaan (Ontginning Ordonantie) yang

diberlakukan pada 1874, setiap pembukaan tanah baru memerlukan izin pemerintah, sedangkan berdasarkan UU Agraria banyak tanah yang belum terbuka tersedia seluas-luasnya bagi perusahaan asing dengan kapitalismenya.

Perlawanan masyarakat Karo segera terjadi secara sporadis sehingga mempersulit para pengusaha untuk begitu saja membuka dan rnenguasai lahan baru. Kesulitan pengusaha Nienhuys mengelola budidaya tembakau pada masa-masa awal kehadirannya di Deli tidak bisa dilepas dari faktor kuatnya usaha orang-orang Karo tersebut. Sudah sejak awal abad ke-19 orang-orang Batak Karo membuka kebon lada dan menanam tembakau. Bakat mereka sebagai pengusaha sangat kelihatan, menyebabkan mereka sejak awal tidak bersedia menjadi kuli di perkebunan tembakau. Bakat orang Batak Karo sebagai pengusaha memang menonjol. Dengan kecerdasan yang patut dipuji, beberapa pemimpin mereka mampu menemukan jalan dan cara untuk mengorganisasikan industri yang baru disertai sistematisasi produksi dan pemasarannya.

Kehadiran orang Cina di Sunggal selalu dicurigai dan bahkan ada yang ditangkap oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti dan dipenjara atas tuduhan melakukan kegiatan mata-mata dan menjual candu. Penangkapan inilah yang kemudian menjadi argumentasi kuat Pemerintah Belanda untuk menggempur Sunggal. Karena melalui penjelasan orang Cina (bernama Anton) inilah diketahui bahwa ada mobilisasi kekuatan bersenjata yang tiap hari dilakukan oleh Datuk Sunggal. Namun sebetulnya, penyebab konflik itu secara kultural dapat dijelaskan karena terjadinya perubahan yang demikian cepat di Deli. Hanya dalam tempo delapan tahun sejak 1864, hubungan-hubungan sosial tradisional terganggu oleh

hadirnya kapitalisasi perkebunan. Perubahan itu bahkan lebih cepat dari apa yang dapat diperhitungkan orang-orang pribumi. Akibatnya, bila di daerah lain, kemajuan secara bertahap dapat diterima oleh masyarakatnya secara bertahap pula, maka di Deli perubahan itu demikian cepat sehingga mengganggu orde tradisional.

Dengan demikian, semakin dalam penetrasi birokrasi kolonial memengaruhi struktur sosial ekonomi-politik komunitas bumiputra, semakin mendasar pula konflik kepentingan yang diakibatkan. Dukungan masyarakat Sunggal terhadap rencana perlawanan Datuk Badiuzzaman Surbakti terhadap Belanda demikian besar. Dukungan itu tampak dengan banyaknya sumbangan uang dari setiap rumah tangga di Sunggal sebesar 2 dollar sampai 10 dollar yang digunakan untuk mempersiapkan basis pertahanan perang. Para pejuang Sunggal kemudian menempelkan pernyataan perang yang menurut kebiasaan orang Karo dinamakan “musuh berngi” pada tempat-tempat tertentu yang menyatakan bahwa kepada mereka yang berpihak kepada Sultan Deli dan Belanda akan dibakar. Melalui Datuk Kecil Surbakti, Datuk Jalil Surbakti dan Sulong Barat Surbakti sebagai komandan yang langsung menggerakkan perlawanan rakyat di lapangan terus melakukan persiapan. Timbang Langkat dijadikan basis pertahanan dengan diperkuat oleh 1500 pasukan.

Bukan hanya itu, koordinasi dengan Kejeruan Selesai dan Bahorok di Langkat terus digalakkan. Koordinasi ini relatif mudah karena ada hubungan kekeluargaan antara para pembesar Sunggal dan kedua Kejeruan tersebut, yakni istri Datuk Kecil dan Datuk Jalil Surbakti adalah putri dari Kejeruan Selesai.

Kekuatan para pejuang Sunggal sudah mencapai 1000 orang Karo dan 500 orang Melayu. Sebagian besar mereka dipersenjatai dengan senapan pemburu (senapan locok). Dukungan masyarakat Karo sebenarnya bukannya hanya dari Sunggal, tetapi juga dari Tanah Tinggi Karo.

Sebagaimana sudah dijelaskan di depan, bahwa sebagai Raja-Raja Urung Sunggal adalah bermarga Surbakti dari Kampung Gadjah di Tanah Karo, maka tidak mengherankan jika kecintaan orang-orang Karo terhadap Datuk Badiuzzaman Surbakti demikian tinggi. Bagi orang Karo, marga Surbakti memiliki nilai lebih daripada orang Karo lainnya. Terutama sejak Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti mengambil sikap menentang penjajahan Belanda. Masyarakat Karo di Tanah Tinggi Karo memilik strategi dan cara tersendiri dalam memberikan bantuan kepada perjuangan Datuk Badiuzzaman Surbakti. Dalam memberikan bantuan tersebut, ada enam jalur perjuangan yang secara tradisional dipergunakan masyarakat Karo. Jalur perjuangan ini sebenarnya adalah jalur budaya dan perdagangan yang secara tradisional digunakan orang-orang Karo sejak dahulu untuk berdagang dan bersilaturahmi dengan saudara-saudaranya di daerah Deli, Langkat, Serdang, dan Aceh.

Jalur dagang itu secara rinci adalah sebagai berikut. Dari Desa Gadjah (Kampung Surbakti) - Kawar - Pamah Sembilir - Telagah ke Langkat/Binjai. Dari Lau Sigedang - mengikuti aliran Sungai Binjai - terus ke Subekan-Tanduk Benua ke Binjai. Dari Sibolangit ke Tanduk Benua. Dari Sembahe ke Tanduk Benua. Dari Talun Kenas - Deli Tua - Rumah Bacang - Pancur Batu - Sungai Belawari -

Tanjung Selamat ke Sunggal. Dari Tamiang (Aceh) - Berandan - Tanjung Pura - Binjai - Namu Ukur - Tanjung Gunung - Sawit - Subeikan - Tanduk Benua. Jalur-jalur inilah yang dipakai para pejuang Sunggal dalam membantu perjuangan melawan Belanda. Melalui jalur inilah mengalir bantuan berupa laskar/pasukan dan logistik perang lainnya.

Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa salah satu pasukan dari Tanah Karo adalah Nabung Surbakti (Pulu Jumaraja), dan ada lagi bernama Pa Mblegah dan Pa Tolong. Nabung Surbakti mempunyai seorang asisten bernama Pangaring (Rasyid) Sebayang. Dengan demikian, salah satu yang berperan sebagai kurir dalam menyampaikan pesan-pesan perjuangan dan koordinasi perlawanan adalah Pangaring Sebayang. Di samping itu, ada juga kurir-kurir yang berperan sebagai pedagang garam. Kurir-kurir itulah orang-orang Datuk Badiuzzaman Surbakti yang sekaligus sebagai penyampai pesan (musuh berngi), logistik, dan juga pasukan. Peranan kurir dalam perang Sunggal demikian penting, karena bagi orang Karo pesan yang disampaikan melalui seorang kurir itu lebih berharga dari pada melalui surat saja.

Dengan cara itu Datuk Badiuzzaman Surbakti melakukan kontak dengan semua pasukan pejuang Sunggal yang berada di Aceh, Tanah Karo, Langkat, dan Serdang sehingga ia mendapat bantuan logistik dan pasukan. Persiapan untuk melakukan perlawanan sudah matang Setiap hari sebagaimana dikatakan orang Cina yang bernama Anton (pedagang Candu) yang ditangkap oleh Datuk Sunggal dan kemudian dilepaskan, rakyat sudah dipersenjatai secara besar-besaran di Sunggal, di bawah pimpinan Panglima Dalam Sunggal. Ia juga menjelaskan

bahwa Datuk Badiuzzaman Surbakti terus berhubungan dengan Datuk Jalil dan Datuk Kecil melalui surat atau kurir. Sebagaimana disebutkan kontrolir Deems dalam laporannya tanggal 12 Juni 1872, selain putra-putra Datuk Jalil, Sulong Barat, Sulong Putra, Bintang Siak, juga turut Wan Musa dari Sinembah dan Tengku Sulong Hebar, putra Kejeruan Selesai. Di samping itu, Kejuruan Bahorok, Kejeruan Stabat Tan Mahidin, dan orang-orang Batak dari hulu Langkat mendukung para pejuang Sunggal setelah mereka mengadakan rapat di Tanjung Jati. Setelah rapat itu, para pejuang Sunggal mulai membakari bangsal-bangsal tembakau dan rumah-rumah tuan kebon Belanda.

Benteng perkebunan Belanda menghadapi serangan gerilya dalam Perang Sunggal

Akibatnya, produksi tembakau berhenti. Para Tuan Kebon itu berlarian membawa anak dan istrinya mengungsi ke Labuhan Deli. Sunggal benar-benar

dalam keadaan kacau balau. Residen Riau Schifft melaporkan kepada Gubernur Jenderal di Batavia bahwa ia telah menerima surat dari seorang tuan Kebon di Deli bernama Hagge Lies, yang menyatakan para pejuang Sunggal sudah memasuki Langkat dan Deli dan sebanyak 40 keluarga Tuan Kebon dari Deli dan Langkat telah diungsikan ke pelabuhan.

Sementara pada April 1872 Tuan Munnick melaporkan bahwa kuli Tuan H.H. Schiatte dan Peijer yang sedang membangun jalan menuju Langkat harus menghentikan pekerjaan mereka karena diancam oleh 40 orang Batak Karo atas perintah Datuk Sunggal. Dalam sebuah pertemuan antara Sultan Deli, Komandan Kapal Bangka, dan Kontrolir Deems diketahui bahwa sejak Agustus 1871 di wilayah Sunggal sebenarnya sudah terjadi oposisi terhadap kekuasaan Sultan Deli dan perusahaan perkebunan. Oposisi itu sebenarnya dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti yang mendapat pengaruh dan dukungan kuat dari Datuk Kecil dan saudaranya Datuk jalil Surbakti, yang walaupun sudah berusia lanjut masih berusaha memerdekakan Sunggal dari Deli dan Langkat. Sebenarnya usaha Sultan Deli untuk membujuk Datuk Sunggal, Datuk jalil, dan Datuk Kecil sudah dilakukan, tetapi selama ini mengalami kegagalan. Para Datuk dari Sunggal tetap tidak mau menghadiri undangan Sultan Deli untuk berunding.

Namun, Datuk Kecil menolak datang ke Deli dengan alasan bahwa Sunggal adalah tanah airnya dan bahwa ia tidak ada urusan apa-apa dengan Sultan Deli dan memprotes tindakan kontrolir Deems yang melarang masuknya mesiu dan timah. Menanggapi situasi yang membahayakan bagi kepentingan perkembangan perkebunan tembakau dan mengancam keamanan dan ketertiban

(rust en orde) di Deli maka Kontrolir Deli, Deems, memanggil Datuk Badiuzzaman Surbakti sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap keamanaa dan ketertiban di Sunggal ke Labuhan Deli. Datuk Badiuzzaman Surbakti memenuhi panggilan itu dan Ia diinterogasi seputar berita-berita yang sedang terjadi di Sunggal. Datuk Badiuzzaman Surbakti menjelaskan bahwa Sultan Deli telah bertindak kasar dan telah menahannya, tetapi tentang mempersenjatai para pengikutnya ia tidak memberikan komentar sedikit pun.

Pemerintah Belanda akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan operasi menghancurkan kekuatan pejuang Sunggal. Dengan agak tergesa-gesa, sebuah ekspedisi militer gabungan dan kesatuan Angkatan Darat (Infantri, Artileri dan Garnizun Tanjung Pinang) dan Korps Marinir Angkatan Laut dari Kapal perang Bangka, dan Den Briel di bawah pimpinan Kapten W. Koops tiba di Labuhan Deli dan langsung menuju Sunggal pada 15 Mei 1872. Pasukan Belanda dibantu oleh 200 orang prajurit Sultan Deli di bawah pimpinan Raja Muda Sulaiman dan beberapa ratus prajurit Pangeran Langkat di bawah pimpinan Tengku Hamzah dan Datuk Laksemana, dibantu oleh beberapa ratus buruh perkebunan tembakau untuk mengangkut logistik dan persenjataan. Pasukan Belanda ini langsung menuju perkebunan Arendsburg (Klumpang) dan Rotterdam. Sementara itu, pasukan pejuang Datuk Sunggal sudah menempati kawasan Timbang Langkat memanjang ke Hamparan Perak - Tanduk Benua - Sapo Uruk - Sunggal. Mereka juga didukung oleh pasukan Aceh yang berkedudukan di sepanjang pesisir Langkat hingga ke Pulau Kampai. Pasukan

Karo menempati daerah dan Bukum - Buluhawar - Paniama - Tuntungan - Padang Bulan - Sunggal.

Dalam tembak menembak tanggal 17 Mei 1872 para pejuang Sunggal berhasil menewaskan dua orang serdadu Belanda bernama Angelink dan Schoon serta melukai beberapa orang, termasuk Letnan Lange, Komandan Marinir Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1872, pasukan Datuk Sulong Barat berhasil menghancurkan pasukan Belanda di Sapo Uruk dan Tanduk Benua. Tiga hari kemudian pasukan Infantri Belanda di bawah pimpinan Kapten Koops dan Artileri di bawah pimpinan Van de Meurs diserang para pejuang Sunggal. Pasukan Belanda mengundurkan diri menuju kebon Enterprise (Kampung Lalang), di seberang Sungai Sunggal dengan meninggalkan beberapa orang korban.

Mengingat perlawanan demikian hebat dari pejuang Sunggal maka Pemerintah Belanda melalui Asisten Residen Riau, Locker de Bruijne, berusaha memutuskan hubungan koordinasi antara Datuk Badiuzzaman Surbakti dengan para komandan pasukan di daerah Timbang Langkat dan hutan pegunungan. Beberapa Kepala Kampung Karo dikumpulkan dan Datuk Badiuzzaman Surbakti dipaksa untuk menyerahkan para pejuang Sunggal dan memerintahkan agar orang-orang Melayu yang ikut bertempur di hutan-hutan agar kembali ke rumah masing-masing. Oleh karena Datuk Badiuzzaman Surbakti tidak bersedia bekerja sama dengan Belanda untuk mengendalikan pengikutnya, maka ia dikenakan sebagai tahanan kota di Labuhan Deli.

Pada tanggal 8 Juni 1872, Sultan Deli juga mengumpulkan para penghulu kampung Karo dan memerintahkan kepada mereka agar dalam tempo paling lama 9 hari menangkap para pemimpin pejuang Sunggal, yaitu Datuk Kecil dan kawan-kawannya di lapangan. Bahkan Sultan menjanjikan hadiah sebesar $ 400 bila berhasil menangkap semuanya dan $ 120 untuk satu orang pejuang. Tetapi, usaha ini juga tidak berhasil. Bahkan para pejuang Sunggal malah menyerang Belanda di Kebon Enterprise dan Perkebunan Padang Bulan. Pasukan Belanda kemudian mengungsikan semua keluarga orang kulit putih (Eropa) ke Labuhan (F.A.W Jeeger, De Expedetie naar Deli, 348).

Datuk Badiuzzaman Surbakti dibantu oleh Datuk Kecil, Datuk Jalil Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, dan anak Datuk Jalil Surbakti yang bernama Sulong Barat beserta pengikut-pengikutnya yang berjumlah sekitar 1500 orang. Perjuangan Datuk Sunggal tidak hanya berpusat di satu tempat saja, tetapi berpencar ke Sejumlah wilayah. Perjuangannya lebih bersifat gerilya dengan jumlah pasukan terbatas untuk mempermudah pergerakan. Gerakan perlawanan sudah mulai di daerah Timbang Langkat. Belanda mengirim pasukan ekspedisi dari Riau di bawah komandan Kapten Koops dengan 100 tentara infantri, beberapa pasukan artileri serta beberapa orang perwira militer dengan persenjataan lengkap, termasuk mortir, senjara andalan pada masa itu. Turun membantu dalam ekspedisi itu angkatan laut Belanda berjumlah 80 tentara marinir dibawah Letnan Lange. Pasukan Belanda juga dibantu sejumlah pasukan da Kasultanan Deli dan Sultan Langkat untuk memadamkan perlawanan dari Datuk Sunggal.

Penyerbuan tentara Belanda itu membuat Timbang Langkat dibumi-hanguskan, tetapi memakan korban Kapten Lange terluka juga sejumlah pasukannya. Dalam perjalanan mundur untuk menghindari perlawanan pasukan Sunggal, banyak kampung dibakar atau dimusnahkan oleh Belanda. Untuk menghindari taktik bumi hangus Belanda, pusat perlawanan Datuk Badiuzzaman Surbakti di Tanduk Banua dipindahkan, tetapi sebagian pasukannya tetap tinggal di kampung-kampung itu. Ketika pasukan Belanda mundur maka kampung dan desa-desa itu dapat dikuasai kembali oleh pasukan Datuk Badiuzzaman Surbakti. Di Tanduk Banua itu penguasaan silih berganti diperebutkan, antara pasukan Datuk Badiuzzaman Surbakti yang dipimpin oleh Sulong Barat Surbakti dengan pasukan artileri di bawah pimpinan Letnan Van Meurs.

Akibat pertempuran itu, pasukan Belanda yang semula berpusat di Sapo Uruk merasa khawatir akan serangan tiba-tiba pasukan Datuk Badiuzzaman Surbakti sehingga memutuskan untuk meninggalkan daerah itu. Saat pasukan Belanda itu mundur dilakukan serangan tiba-tiba yang menyebabkan rombongan pasukan itu tercerai berai. Akibatnya, banyak pimpinan dan staf perkebunan yang merupakan orang Belanda asli diungsikan ke daerah Sunggal yang telah dikuasai sepenuhnya oleh tentara Belanda. Meskipun demikian pihak Belanda tetap meminta bantuan pasukan tambahan. Keluarga orang Belanda yang berasal dari perkebunan ke Labuhan Deli berserta semua arsip perkebunan dengan menumpang ke kapal perang yang sedang berlabuh di sana.

Penyerangan secara mendadak dan membahayakan pasukan Belanda dan aparat pemerintahan sipil Belanda sehingga mereka perlu mendatangkan

tambahan pasukan dari Batavia. Pada 8 Juli 1872 Belanda dari Batavia datang, dipimpin oleh Letnan Kolonel (Letkol) P. F. van Hombract dengan sejumlah perwira serta persenjataan lengkap. Pimpinan pasukan diambil alih oleh Letkol P.F. van Hombracht dari tangan Kapten Koops pada tanggal 12 Juli di Kampung Lalang. Pasukan Letkol P.F. van Hombract mengadakan penyerangan ke Sembahe, tetapi sudah dikosongkan oleh pasukan gerilyawan. Pasukan Belanda terus menyerang kampung-kampung lainnya. Ternyata kampung yang mereka datangi sudah dikosongkan oleh pasukan Datuk Badiuzzaman Surbakti. Tentara Belanda kemudian memusatkan pertahanannya di sungai Bahilung dan daerah di sekitarnya.

Akibat perlawanan pasukan gerilya Datuk Badiuzzaman Surbakti yang demikian gencar di kawasan Sunggal sampai ke arah pedalaman hulu sungai Sunggal, dan rakyat setempat tidak mau membantu Belanda maka pasukan Belanda ditarik mundur ke arah kampung Sungai Bahilung untuk dijadikan pusat penyerangan di kawasan pertempuran. Dalam suatu pertempuran Letkol van Hombracht terluka parah. Pada 20 Agustus 1872, pasukan Belanda dipukul mundur di Rimbun. Mayor van Stuwe yang membawahi 350 pasukan infantri dan artileri termasuk 14 orang perwira mendapat serangan dahsyat di sepanjang Lau Margo. Karena upaya membujuk Datuk Badiuzzaman Surbakti, Penghulu Gadjah, beberapa penghulu kampung Karo lainnya tidak berhasil maka Belanda menggempur markas pejuang Sunggal di Lau Margo.

Kuatnya perlawanan rakyat Sunggal terbukti dalam tahun 1872 sudah 3 kali ekspedisi militer Belanda dengan bantuan langsung dari Batavia untuk

mematahkan perlawanan rakyat Sunggal. Belanda sebenarnya tidak mampu secara militer menangkap para pimpinan pejuang Sunggal. Datuk Badiuzzaman Surbakti sebenarnya adalah sosok penguasa Urung Sunggal yang secara

Dokumen terkait