IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Uji Kinerja MES Off Grade
4.2.3 Daya Pembusaan
Busa adalah buih-buih yang saling berdekatan membentuk dinding-dinding polihedral yang saling membagi sudut menjadi 1200. Formasi tersebut mirip dengan struktur sarang lebah.
Dinding-dinding yang terbentuk dari cairan ini memisahkan kotoran yang lepas di dalam suspense (SDA-Amerika, 2003 dalam Sidik, 2009). Pembentukkan busa disebabkan oleh adanya surfaktan yang menguatkan area lemah pada molekul air dan menurunkan tegangan
0
19 permukaan air yang menyebabkan busa dapat terbentuk pada permukaan air. Bentuk dari busa sendiri tidaklah sama. Busa yang berbentuk gelembung disebabkan adanya udara yang mengisi ruang tengah dari busa, sehingga bila tekanan udara dalam busa terlalu tinggi maka akan menekan lapisan film dinding-dinding busa, dan gelembung busa akan pecah. Busa berkontribusi sebagai antiredeposisi yang mengikat kotoran pada busa, sehingga tidak kembali menempel pada permukaan.
Busa dapat diukur dengan satuan volume. Pada penelitian ini busa diukur dengan satuan volume mililiter (ml). Penentuan nilai busa dilakukan untuk memeriksa apakah perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh nyata terhadap daya pembusaan deterjen. Pengukuran dilakukan pada suhu kamar dengan konsentrasi deterjen sebesar 0,1% menggunakan air aquades (destilata) sebagai campurannya (Lampiran 3). Menurut Germain (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi busa diantaranya konsentrasi deterjen, kesadahan air, suhu air dan adanya bahan pengotor.
Hasil analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%, menunjukkan daya pembusaan MESA off grade pada konsentrasi NaOH yang berbeda tidak berpengaruh nyata pada stabilitas busa. Dengan kata lain daya pembusaan pada tiap konsentrasi memiliki jumlah busa yang relatif sama. Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap daya pembusaan MES off grade dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap daya pembusaan MES off grade
Pada Gambar 16, terjadi kecenderungan meningkatnya daya pembusaan hingga konsentrasi NaOH 45% dan kecenderungan menurun pada konsentrasi 50% dan 55%. Pola kecenderungan ini sama seperti pola kecenderungan pada Gambar 16 dan berbanding terbalik dengan pola kecenderungan pada Gambar 15. Semakin tinggi konsentrasi surfaktan pada larutan menyebabkan turunnya tegangan permukaan air, sehingga semakin banyak busa yang akan dihasilkan. Hal inilah yang menyebabkan MES off grade yang dihasilkan pada konsentrasi NaOH 45% memiliki nilai pembusaan tertinggi. Namun hasil terbaik dari daya pembusaan yang diperlukan untuk pipa industri adalah pada konsentrasi NaOH 55%. Hal ini dikarenakan industri akan mengalirkan agen pembersih pada pipa dengan menggunakan high pressure sprying sehingga busa tidak diperlukan pada proses pembersihan pipa.
0
20
4.2.4 Stabilitas Busa
Stabilitas busa diukur untuk menghubungkan penurunan volume busa terhadap waktu.
Menurut Sidik (2009), busa yang dihasilkan oleh agen pembersih harus stabil agar dapat bertahan lebih lama pada proses pencucian. Stubenrauch et al. (2003) menyatakan bahwa stabilitas busa disebabkan adanya penambahan NaOH yang menaikkan kerapatan muatan negatif diantara dinding busa sampai kapasitas optimum dari dinding busa, sehingga stabilitas busa meningkat. Kenaikan muatan negatif membentuk gaya tolak menolak diantara lapisan buih, yang menyebabkan antar buih tidak saling menyatu. Nilai kerapatan muatan yang tinggi pada lapisan antar muka buih dapat meningkatkan nilai stabilitas busa, yang disebabkan oleh kenaikan kerapatan muatan negatif diantara molekul-molekul surfaktan. Kenaikan kerapatan muatan ini membantu terbentuknya gaya tolak menolak antar lapisan buih, sehingga memungkinkan penyatuan buih semakin diperkecil. Nilai kerapatan muatan yang tinggi pada lapisan antar muka buih dapat meningkatkan nilai stabilitas busa.
Hasil analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan konsentrasi NaOH yang berbeda tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata pada hasil stabilitas busa deterjen (lampiran 6). Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap stabilitas pembusaan MES off grade yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 17 dibawah.
Gambar 17. Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap stabilitas busa MES off grade Hasil stablitas busa MES off grade pola kecenderungan meningkat sampai dengan konsentrasi NaOH 50%. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas busa, yaitu kerapatan muatan di antara molekul-molekul surfaktan (kapasitas dinding busa) dan elastisitas dinding busa. MESA off grade dengan konsentrasi NaOH 50% memiliki pola kecenderungan yang menaik, sehingga memiliki kerapatan muatan dan elastisitas dinding busa yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Adanya pola kecenderungan yang menurun pada grafik kemungkinan disebabkan karena penambahan NaOH dengan konsentrasi 55%
meningkatkan elastisitas dinding busa. Oleh karena itu, tegangan permukaan optimal cukup tinggi, selain itu terlalu pekatnya basa yang digunakan dapat menyebabkan rusaknya MESA off grade. Hal ini menyebabkan elastisitas dinding busa akan menurun dan stabilitas busa berkurang. Namun karena agen pembersih digunakan untuk pipa industri yang biasanya menggunakan spray untuk mengalirkannya, konsentrasi NaOH yang digunakan adalah 55%.
Konsentrasi dengan stabilitas busa terkecil digunakan agar tidak terbentuk busa saat aplikasi dengan high pressure spray.
21
4.2.5 Daya Deterjensi
Deterjensi adalah proses pembersihan permukaan padat dari benda asing yang tidak diinginkan dengan menggunakan cairan pencuci atau perendam berupa larutan surfaktan (Lynn, 2005). Daya deterjensi ditentukan dengan mengukur padatan terlarut yang terdapat pada cairan hasil cucian. Hui (1996) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi deterjensi antara lain adalah konsentrasi dan struktur surfaktan, tingkat kesadahan dan adanya builder, serta kotoran alami. Faktor penting lainnya adalah suhu mencuci; jangka waktu proses mencuci; reaksi mekanik; jumlah relatif kotoran, substrat; serta kondisi bilasan, selain itu adanya ion kalsium dan magnesium, mempunyai pengaruh terhadap pencucian karena dapat menurunkan deterjensi. Pada penelitian ini, pengukuran daya deterjensi dilakukan dengan menggunakan dua media pencucian, yaitu media kain dan pipa.
4.2.5.1 Daya Deterjensi Menggunakan Media Kain
Pada pengukuran daya deterjensi ini digunakan kain putih sebagai media dengan ukuran kain sebesar 5 x 5 cm (Lampiran 4). Kain yang digunakan diberikan zat pengotor berupa oli dengan konsentrasi 0,1 ml (Gambar 18). Hasil analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%, menunjukkan daya pembusaan MES off grade pada konsentrasi NaOH yang berbeda tidak menunjukkan pengaruh nyata pada daya deterjensi dengan menggunakan media kain (Lampiran 6). Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap daya deterjensi dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19. Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap daya deterjensi menggunakan media kain dengan pengukuran absorbansi
Hasil pengamatan menunjukkan pola kecenderungan meningkatnya daya deterjensi sampai konsentrasi NaOH 45%, lalu menurun pada konsentrasi selanjutnya (Gambar 19). Pola kecenderungan hasil penelitian yang sama seperti pada parameter lain (selain tegangan permukaan), membuktikan bahwa konsentrasi MES off grade yang dihasilkan dengan konsentrasi NaOH 45% memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi NaOH lain.
22 Gambar 18. Kain yang diberikan pengotor
4.2.5.2 Daya Deterjensi Menggunakan Media Pipa
Daya deterjensi dengan menggunakan media pipa diukur dengan dua cara, yaitu dengan pengukuran berdasarkan absorbsi atau kekeruhan dan dengan pengukuran bobot kotoran yang diluruhkan agen pembersih pada pipa PVC (Lampiran 5). Daya deterjensi dengan pengukuran absorbsi yang dihasilkan memiliki metode perlakuan yang sama seperti metode daya deterjensi dengan media kain.
Hasil analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 6), menunjukkan MESA off grade pada konsentrasi NaOH yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap daya deterjensi agen pembersih menggunakan media pipa berdasarkan pengukuran daya absorbansi. Histogram hasil daya deterjensi menggunakan media pipa dengan pengukuran absorbansi dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20. Histogram pengaruh konsentrasi NaOH terhadap daya deterjensi menggunakan media pipa dengan pengukuran absorbansi
Daya deterjensi yang dihasilkan oleh agen pembersih dengan media pipa memiliki pola kecenderungan yang sama seperti pola daya deterjensi dengan media kain, yaitu meningkat sampai konsentrasi NaOH 45% dan menurun pada konsentrasi selanjutnya (Gambar 20).
0 10 20 30 40 50 60 70
40% 45% 50% 55%
Absorbansi Pipa (%)
Konsentrasi NaOH
23 Pengukuran dengan cara menimbang bobot kotoran, yang dilakukan dengan cara menimbang pipa PVC yang sudah diberikan zat pengotor berupa oli sebanyak 0,5 ml. Hasil didapatkan dari selisih bobot pipa PVC yang sudah diberikan pengotor dengan pipa PVC yang telah dicuci. Hasil analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 6), menunjukkan daya deterjensi MESA off grade pada konsentrasi NaOH yang berbeda berpengaruh nyata pada stabilitas busa. Pada uji lanjut Duncan, MESA off grade dengan konsentrasi NaOH 40% berbeda nyata dengan MESA off grade berkonsentrasi NaOH 40%
dan 55%, sedangkan MESA off grade dengan konsentrasi 50% tidak memiliki hasil yang berbeda nyata dengan MESA off grade dengan NaOH berkonsentrasi lainya. Histogram hasil daya deterjensi pada media pipa PVC dengan mengukur banyaknya kotoran yang dihilangkan pada pipa ditunjukkan pada Gambar 21
Gambar 21. Histogram daya deterjensi menggunakan media pipa dengan pengukuran perubahan bobot
Pola kecenderungan pada hasil daya deterjensi menggunakan media pipa dengan pengukuran perubahan bobot (Gambar 21) memiliki pola yang sama seperti pada hasil daya deterjensi menggunakan media kain dan pipa dengan mengukur absorbansi. Kecenderungan meningkat pada konsentrasi NaOH 45% dan menurun pada konsentrasi selanjutnya. Hasil daya deterjensi menggunakan media pipa dengan mengukur bobot kotoran menunjukkan bahwa MESA off grade yang dinetralisasi dengan konsentrasi NaOH 45% memiliki daya deterjensi terbaik dibandingkan dengan MES off grade lainnya.
4.3 Penentuan Perlakuan Terbaik
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan perlakuan terbaik dari seluruh perlakuan yang dicobakan pada surfaktan MESA off grade. Oleh karena itu, diperlukan metode penentuan yang dapat mewakili karakteristik fisiko kimia dan kinerja agen pembersih yang terbaik. Dalam memilih perlakuan terbaik diperlukan parameter-parameter, yaitu berupa parameter fisiko kimia (densitas dan viskositas) dan kinerja deterjen (stabilitas emulsi, tegangan permukaan, daya pembusaan, stabilitas busa dan daya deterjensi).
24 Parameter fisiko kimia diperlukan untuk mengukur ketahanan agen pembersih saat disimpan dan cara penanganannya, sedangkan parameter kinerja diperlukan untuk mengukur kemampuan deterjen dalam menghilangkan kotoran. Setiap parameter uji memiliki kepentingan dan fungsi yang berbeda namun saling menunjang satu sama lain, sehingga diperlukan pembobotan atau penerapan tingkat kepentingan pada hasil uji yang didapatkan. Sistem ini dilakukan agar diperoleh angka yang dapat mewakili kontribusi setiap parameter uji dalam menunjang kualitas deterjen.
Nilai kepentingan tertinggi diberikan pada daya deterjensi karena parameter uji ini mewakili kinerja agen pembersih dalam menghilangkan kotoran. Pada hasil uji deterjensi didapatkan daya deterjensi terbaik pada MESA off grade dengan penambahan NaOH dengan konsentrasi 45%. Bobot jenis dan stabilitas emulsi diberikan kepentingan tinggi karena parameter ini dapat mewakili ketahanan produk ketika disimpan pada suhu dan lama penyimpanan yang bervariasi. Pada bobot jenis dan stabilitas emulsi didapatkan hasil uji tertinggi yang sama, yaitu pada surfaktan MESA off grade dengan penambahan konsentrasi NaOH 45%. Selain bobot jenis dan stabilitas emulsi, tegangan permukaan juga diberikan nilai kepentingan tinggi. Tegangan permukaan merupakan salah satu parameter yang menunjukkan kualitas surfaktan yang digunakan. Tegangan permukaan air akan menurun dengan adanya penambahan surfaktan. Semakin rendah tegangan permukaan maka semakin tinggi konsentrasi surfaktan didalam air. Pada pengujian didapatkan hasil pola kecenderungan nilai tegangan permukaan terendah dihasilkan oleh MES off grade yang dinetralisasi dengan konsentrasi NaOH 45%.
Viskositas mendapat nilai kepentingan rendah. Konsumen dari agen pembersih yang dibuat adalah industri, bukan dari rumah tangga yang menganggap viskositas tinggi berarti memiliki kandungan bahan aktif yang juga tinggi. Pada pengujian didapatkan pula hasil uji bahwa pada MESA off grade dengan penambahan NaOH 45% memiliki pola kecenderungan viskositas tertinggi dibandingkan dengan kecenderungan MESA off grade dengan kosentrasi NaOH lain. Daya pembusaan dan stabilitas busa mendapat tingkat kepentingan menengah karena meskipun pengaruh terhadap daya pencucian kecil, namun berkontribusi sebagai antiredeposisi yang mengikat kotoran pada busa, sehingga tidak kembali menempel pada permukaan. Kebanyakan konsumen rumah tangga berpikir bahwa daya pembusaan berhubungan dengan tingginya tingkat deterjensi. Pada kenyataannya, busa tidak berhubungan langsung dengan deterjensi dalam pembersihan. Tingkat pembusaan yang berlebihan dapat menyebabkan surface active agen pembersih tertentu membentuk konsentrat dalam busa, sehingga mengurangi kontak dengan kain yang akan dibersihkan (Hui, 1996). Namun dikarenakan konsumen dari agen pembersih ini adalah pihak industri, sehingga daya dan stabilitas busa tidak terlalu dipentingkan. Pola uji daya pembusaan busa tertinggi dimiliki oleh MES off grade dengan konsentrasi NaOH 55%. Walaupan busa tidak diperlukan oleh industri, stabilitas busa suatu surfaktan haruslah stabil. Selain itu busa tidak diperlukan untuk pembersihan dengan proses agitasi maupun high pressure spraying. Stabilitas busa dengan kestabilan terbaik dimiliki oleh MESA off grade dengan NaOH 55%. Hasil lengkap data pengujian terbaik dapat dilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan tingkat kepentingan yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa MES off grade terbaik dihasilkan oleh MESA off grade dengan penambahan konsentrasi NaOH 45%. Penambahan NaOH pada MESA off grade berpengaruh nyata terhadap densitas dan daya deterjensi menggunakan media pipa dengan pengukuran bobot kotoran yang terangkat. Adanya pengaturan pH 7 pada agen pembersih, sehingga banyaknya NaOH yang digunakan tidaklah sama. Selain itu, kepekatan NaOH diatas konsentrasi 45% kemungkinan tidak baik terhadap MESA off grade yang menyebabkan turunnya kinerja dari agen pembersih. MESA off grade dengan penambahan konsentrasi NaOH 45%
25 memiliki hasil yang terbaik selain itu biaya produksinya lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi NaOH 55%.
Tabel 1. Data Pengujian Terbaik
Parameter MES off grade + konsentrasi NaOH (%)
40 45 50 55
Fisko kimia Viskositas √
Densitas √
Kinerja deterjen
Stabilitas Emulsi √
Tegangan Permukaan
√
Daya Busa √
Stabilitas Busa √
Daya Deterjensi √
Keterangan :√= Hasil Terbaik
26
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, MESA off grade dapat ditingkatkan nilai tambahnya melalui pemanfaatan sebagai agen pembersih untuk membersihkan kotoran berminyak pada pipa industri. Konsentrasi NaOH terbaik untuk pembuatan agen pembersih ditentukan berdasarkan tingkat kepentingan dari parameter fisiko kimia dan kinerja agen pembersih.
Berdasarkan tingkat kepentingan, daya deterjensi merupakan parameter terpenting, dilanjutkan dengan densitas, stabilitas emulsi, tegangan permukaan, viskositas, daya pembusaan dan stabilitas busa. Hasil uji ragam pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH yang berbeda mempengaruhi densitas dan daya deterjensi dengan menggunakan media pipa.
Pola kecenderungan pada uji viskositas, densitas, stabilitas emulsi dan daya deterjensi memiliki kecenderungan yang sama, dengan kecenderungan tertinggi dimiliki oleh MESA off grade yang dinetralisasi dengan NaOH 45%. Hal ini terbailk dengan kecenderungan pada tegangan permukaan yang menurun pada konsentrasi 45%. Pada daya pembusaan dan stabilitas busa pola kecenderungan tertinggi dimiliki oleh konsentrasi NaOH 55%. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa MESA off grade yang dinetralisasi dengan NaOH 45% memberikan hasil terbaik.
Penambahan NaOH dengan konsentrasi lebih dari 45% tidak dipilih, dikarenakan biaya produksi lebih tinggi.
5.2 Saran
Perlu dilakukan pengaplikasian agen pembersih (MES off grade) yang diperoleh dengan menggunakan pipa penyalur kotoran berminyak dalam skala industri untuk memberikan gambaran yang lebih nyata.
27
DAFTAR PUSTAKA
Adiandri RS. 2006. Kajian Pengaruh Konsentrasi Metanol Dan Lama Reaksi Pada Proses Pemurnian Metil Ester Sulfonat Terhadap Karakteristik Detergen Bubuk. [Tesis]
Departemen Teknologi Industri Pertanian, IPB Bogor.
Anonima. 2009. Detergen Formulatory. PQ Coorporation, Pensylvania.
Arbianti R, TS Utami, H Hermansyah, dan D Andani. 2008. Pengaruh Kondisi Operasi Reaksi Hidrogenasi Metil Laurat dengan Katalis Nikel untuk Pembuatan Surfaktan Oleokimia.
Jurnal Teknologi, Edisi No. 3 Tahun XXII, September 2008, 229 - 235 ISSN 0215-1685.
[ASTM] American Society for Testing and Matrial D 13312000. Annual Book of ASTM Standards:
Soap and Other Detergents, Polishers, Leather, Resilient Floor Covering. Baltimore: ASTM.
Bennet H. 1947. Practical Emulsion. Second Completely Revised Edition. Chemical Publshing Co.
Inc, Brooklyn, New York.
Bernardini E. 1983. Vegatables Oils and Fats Processing. Volume II. Interstampa Co., Interstampa.
Boocock DGB, SK. Konar, V Mao, C.Lee, dan S Buligan. 1998. Fast Formation of High-Purity Methyl Esters from Vegetable Oils. J. Am. Oil Chem. Soc. 75 (9) : 1167-1172.
Claesson PM, E Blomberg, dan EE Poptoshev. 2001. Surface Force and Emulsion Stability. In:
Encyclopedia Handbook of Emulsion Technology. Marcel Dekker, New York.
Cooper DG, dan JE Zajic. 1980. Surface Active Compound From Microorganism. Adv. Appl.
Microbiol. 26: 229-253.
Desai JD, dan IM Banat. 1997. Microbial Production Of Surfactants And Their Commercial Potential. Microbiol. Review. 47-64.
Firman. 2011. Cleaning supplies. http://smipusi.blogspot.com/2011/01/cleaning-supplies.html [diakses11 Maret 2012]
Flider FJ. 2001. Commercial Considerations and Markets for Naturally Derived Biodegradable Surfactants. Inform 12(12): 1161-1164.
Foster NC. 1996. Sulfonation and Sulfation Process. In: Spitz, L. (Ed). Soap and Detergents: A Theoretical and Practical Review. AOCS Press. Champaign, Illinois.
Georgiou G, S Lin dan MM Sharma. 1992. Surface-Active Compounds From Microorganism. J.
Biotechnol. 10: 60-65.
Germain T. 2001. Sulfonated Methyl Esters. In: Flyod E. Friedli (Eds). Detergency Of Specialty Surfactants. Marcel Dekker, New York.
Gupta S dan D Wiese. 1992. Soap, Fatty Acids, and Synthetic Detergent. In: Reigel’s Handbook of Industrial Chemistry. 9th Edition. Kent JA. (Ed.). Van Nostrand Reinhold, New York.
28 Gervasio GC. 1996. Detergency. In: Bailey’s Industrial Oils and Fats Products. Wiley Interscience
Publisher, New York.
Hargreaves T. 2003. Chemical Formulation: An Overview of Surfactant-Based Preparations Used In Everyday Life. RSC Paperbacks, Cambridge.
Hidayat E. 2011. Pengaruh Suhu Input dan Lama Sulfonasi pada Proses Pembuatan Surfaktan Methyl Ester Sulfonic Acid (MESA) dari Metil Ester Jarak Pagar Menggunakan Reaktor Single Tube Falling Film (STFR). [Tesis] Departemen Industri Pertanian, IPB Bogor.
Holemberg K, B Jonsson, B Kronberg, dan B Lindman. 2002. Surfactants and Polymers in Aqueos Solution. Jhon Wiley & Sons, Ltd., London.
Hui YH. 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Product. Vol. 3. A Wiley- Interscience Publication.
John Wiley & Sons, Inc., New York.
Jungermann, E. 1979. Fat-Based Surface-Active Agent. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Vol 14 editions. John Willey and Son, New York.
Kosaric. 1993. Biosurfactant: Production, Properties and Applications. Marcell Dekker Inc., New York.
Lewis MA. 1991 . Chronic and Sublethal Toxicities of Sutfactants to Aquatic Animals : A Review and Risk Assessment. Wat. Res 25 (1) : 101-113.
Lynn JL. 2005. Detergents and Detergency. In: Fereidoon S. (Eds.). 2005. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products (Volume 6): Industrial and Nonedible Products from Oils and Fats. John Wiley & Sons, Inc., New Jersey.
MacArthur, B.W., B Brooks, W.B. Sheats dan N.C. Foster. 2002. Meeting The Challenge of
Methylester Sulfonation. The Chemiton Corporation.
http:/www.chemithon.com/papers_brochures/Meeting_the_Challenge.doc.pdf [22 Febuari 2010].
Matheson KL. 1996. Formulation of Household and Industrial Detergents. In: Soap Detergents: A Theoretical an Practical Review, Spitz, L. (Ed). AOAC Press, Champaign, Illinois.
Mattjik AA dan M Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid I. IPB Press, Bogor.
Meher LC, DV Sagar dan SN Naik. 2004. Technical Aspects of Biodisel Production by Transesterification – a rivew. Renewable and Sustainable Review Energy Reviews 10:248-268.
Moroi Y. 1992. Micelles: Theoritical and Applied Aspects. Plenum Press, New York.
Noureddini H dan D Zhu. 1997. Kinetics of Transesterification of Soybean Oil. J. Am. Oil Chem.
Soc.Vol. 74 (11): 1457-1463.
Parker, A. 2007. Effective Cleaning and Sanitazing Procedures. JIFSAN, University of Maryland.
29 Pore J. 1976. Oils and Fats Manual. Intercept Ltd., Andover.
Rieger MM dan LD Rhein. 1995. Surfactants in Cosmetics 2nd edition. Marcel Dekker, Basel.
Roberts DW, L Giusti dan A Forcella. 2008. Chemistry of Methyl Estser Sulfonates. Biorenewable Resources 5: 2-19.
Rosen JM. 2004. Surfactant and Interfacial Phenomena. Third Edition. John Willey & Sons Inc., New York.
Schueller R dan P Romanousky. 1998. Cosmetics and Toiletries Magazine: Understanding Emulsions. Allured Publishing Corp., Illinois.
Sibuea P. 2008. Virgin Coconut Oil: Penyembuh Ajaib dari Buah Kelapa. LIPI, Bogor.
Sidik NR. 2009. Kajian Pengaruh Konsentrasi Metil Ester Sulfonat (MES) dan Konsentrasi Alkali (KOH) Terhadap Kinerja Agen pembersih Industri. [Skripsi] Departemen Teknologi Industri Pertanian, IPB Bogor.
Sontag NOV. 1982. Fat Splitting, Esterrification and Interesterification. In: Daniel Swern. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. 4th ed. Vol 2. John Willey and Sons, New York.
Stubenrauch, C, Takiezsi, AV Kuristov, K Exerowd, dan D Tailer. 2003. Tenside Surfactants Detergents: A New Experimental Technique to Measure the Drainage and Life Time of Foam. Hanser, Deutschland- Muchen.
Suryani A, I Sailah, E Hambali. 2000. Teknologi Elmusi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Bogor.
Swern D. 1979. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Vol I, 4th Edition. John Willey and Son, New York.
Tadros TF. 1992. Encyclopedia of Physical Science and Technology 2nd edition. Vol-16. Academic Press, Inc., California.
Tanty. 2009. Sifat-sifat Bahan Kimia. http://id.shvoong.com/exact-sciences/1902577-sifat-sifat-bahan-kimia/#ixzz1dHWpfQ8x [diakses 10 November 2011]
Waistra P. 1996. Encyclopedia of Emulsion Technology. Tire Dekkel Inc., New York.
Watkins C. 2001. Surfactants and Detergent: All Eyes are on Texas. Inform 12 : 1152-1159.
Woolat E. 1985. The Manufacture of Soaps, Other Detergent and Glycerine. Ellis Horwood Ltd., West Sussex.
30
LAMPIRAN
31 Lampiran 1. Diagram alir pembuatan MES dan MES off grade
MESA off grade Metil Ester
Sulfonasi Generator SO3
Air Supply
Oksidasi (420-450oC)
Burning (700oC) SO3
Melting (136oC)
Sulfur Supply
MESA
Aging
Netralisasi
MES
Netralisasi
MES off grade
32 Lampiran 2. Prosedur anailisis MESA off grade dan MES off grade yang dihasilkan
1. Visikositas
Sebanyak 10 ml sampel di masukkan ke dalam tabung ulir lalu disentrifus selama 10 menit pada suhu 70oC, kemudian sampel diukur visikositasnya dengan menggunakan alat Brookfiled DV-III ultra V6.1LV dengan suhu 70oC dan dengan kecepatan 30 rpm. Nilai viskositas ditulis dengan satuan centripoise (cp).
2. Bobot jenis (SNI 06-4075-1966/ASTM D-1475-96)
Sampel yang sudah diukur viskositasnya diambil dengan menggunakan suntikkan khusus yang digunakan untuk menginjeksikan sampel ke dalam Density Meter DMA 4500M, kemudian diukur bobot jenisnya dalam satuan gram per centimeter kubik.
3. Stabilitas elmusi (Acton dan saffle, 1970)
Sejumlah bahan emulsi yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam wadah. Wadah dan
Sejumlah bahan emulsi yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam wadah. Wadah dan