• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

3) Daya Tarik Sejarah dan Budaya

a. Budaya Masyarakat

Kegiatan masyarakat yang dapat dijadikan objek interpretasi yaitu kegiatan memancing. Kegiatan ini dilakukan di yang berbatasan langsung dengan Gunung Padang. Beberapa pengunjung juga bertujuan memancing di lokasi ini.

b. Situs Sejarah atau Mitos yang Berkembang

Situs sejarah yang ditemukan di kawasan yaitu benteng dan meriam Jepang, dan lobang Jepang. Benteng Jepang dibangun sekitar tahun 1942-1945, dahulunya berbentuk bangunan berupa persegi empat, polygon dan setengah lingkaran (Padang Tourism Official Guide 2012). Kini reruntuhan benteng yang tersisa terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berupa bunker, bagian kedua berupa bangunan kosong yang didalamnya terendam air. Bagian ketiga berupa bangunan yang lebih besar, didalamnya terdapat sebuah meriam yang digunakan tentara Jepang sebagai senjata penghalau musuh yang masuk dari Samudera Hindia. Kondisi meriam Jepang pada saat penelitian cukup terawat karena situs dilindungi oleh benteng. Bagian terakhir benteng berupa bangunan yang berdinding tebal bertuliskan DOW dibagian atas. Kondisi reruntuhan benteng ini tidak terawat sehingga ditumbuhi lumut dan tumbuhan liar pada sisi dindingnya.

Situs sejarah kedua yaitu goa atau lobang Jepang (Gambar 11). Goa ini merupakan lobang tempat persembunyian dan pengintaian peninggalan tentara Jepang (Padang Tourism Official Guide 2012). Pintu goa ditemukan di punggung bukit, +100 meter dari puncak Gunung Padang. Menurut wawancara dengan pengelola Gunung Padang, lokasi pintu goa yang sulit dicapai membuat pengelola tidak mengembangkan potensinya.

Objek wisata utama Gunung Padang yaitu Makam Sitti Nurbaya. Kisah Sitti Nurbaya merupakan sebuah novel yang berjudul asli Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai yang ditulis oleh Marah Rusli. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit nasional negeri Hindia Belanda, pada tahun 1922. Sitti Nurbaya menceritakan cinta remaja antara Samsul Bahri dan Sitti Nurbaya, tetapi terpisah ketika Samsul dipaksa pergi ke Batavia. Ayah Sitti Nurbaya yang memiliki banyak hutang terpaksa meminjam uang kepada Datuk Maringgih, seorang saudagar yang merupakan antagonis utama dalam novel. Nurbaya kemudian menawarkan diri untuk dipersunting Datuk Maringgih agar ayahnya hidup bebas dari hutang. Akhir cerita, Nurbaya dibunuh oleh Maringgih dengan lemang beracun. Samsul yang menjadi anggota tentara kolonial Belanda, membunuh Maringgih dalam suatu revolusi. Keduanya lalu meninggal akibat luka setelah berduel.

Sitti Nurbaya dipercayai bersemayam di makam yang terletak di Gunung Padang. Makam ini masih diperdebatkan oleh masyarakat Padang kebenarannya karena kisah Sitti Nurbaya merupakan sebuah cerita fiksi. Tetapi sebagian warga yakin kisah ini diangkat dari kisah nyata. Lokasi makam ini berada didalam celah sempit dari dua batu besar yang membentuk goa pada ketinggian +91 mdpl. Makamnya berupa batu nisan berwarna putih, ditutupi kain yang sudah lusuh berwarna putih dan biru. Di dinding goa terdapat tulisan untuk tidak mengabadikan gambar makam. Suasana di lokasi ini terasa mencekam menurut pengunjung karena kurangnya cahaya matahari yang masuk.

Gambar 14 Makam Sitti Nurbaya

Mitos yang berkembang di masyarakat yaitu adanya makam lain yang diberi nama kuburan keramat ketek (kecil). Siapa yang dikuburkan disana masih anonim, tetapi masyarakat meyakini makam tersebut memiliki kisah mistis. Kuburan ini terletak dekat dengan jurang, dan bentuknya tidak menyerupai makam yang seharusnya. Makam ini dipercaya masyarakat memiliki penghuni gaib, sehingga pengunjung tidak boleh berkata kasar, takabur, atau melakukan perilaku tidak sopan lainnya. Hal ini dikarenakan banyaknya kejadian seperti pengunjung menjadi bisu selama perjalanan pulang. Kedua makam ini sering

dikunjungi oleh orang yang berdoa meminta sesuatu. Penilaian objek daya tarik sejarah ditampilkan pada tabel 12.

Tabel 12 Hasil penilaian objek interpretasi dan lokasi pada jalur aspek sejarah

No Jenis Jalur Total Kualitas Objek

1 2 3

1 Meriam jepang  100 Tinggi

2 Runtuhan benteng  90 Sedang

3 Goa Jepang  100 Tinggi

4 Makam Sitti Nurbaya  100 Tinggi

5 Makam keramat ketek  60 Rendah

6 Kegiatan memancing  - -

Keterangan : Jalur 1: Jalur wisata utama Gunung Padang Jalur 2: Jalur alternatif puncak

Jalur 3: Jalur pemukiman

Berdasarkan tabel diatas objek peninggalan sejarah yang dijadikan objek interpretasi yaitu legenda Sitti Nurbaya, meriam, benteng, dan goa Jepang.

Fasilitas Sarana dan Prasarana

a. Pintu gerbang

Pintu gerbang kawasan Gunung Padang berupa gapura dengan atap menyerupai gonjong (tanduk kerbau) khas Minang Kabau yang terbuat dari besi. Pada gerbang terdapat tulisan Kawasan Wisata Gunuang Padang. Gerbang ini ditempel papan informasi biaya retribusi masuk sebesar Rp. 5000,- untuk dewasa dan Rp. 3000,- untuk anak-anak.

b. Shelter/tempat beristirahat

Terdapat lima tempat beristirahat di jalur utama. Pertama terletak di awal jalur, dekat dengan pantai Padang. Sarana ini berbentuk gazebo beratap seng tanpa tempat duduk. Lokasi ini sering digunakan pengunjung sebagai tempat memancing. Tempat beristirahat kedua berupa gazebo dengan atap seng dan tempat duduk yang terbuat dari susunan batu. Tempat istirahat ketiga berbentuk tempat duduk setengah lingkaran yang terbuat dari susunan batu. Kondisi tempat duduk ini masih layak. Tempat beristirahat keempat berupa gazebo dengan atap dari daun kelapa, dan tempat duduk yang terbuat dari semen. Tempat duduk kelima berbentuk tempat duduk setengah lingkaran yang terbuat dari susunan batu. Seluruh shelter ini masih layak untuk dipakai, hanya kebersihannya kurang diperhatikan.

c. Batu refleksi

Batu-batu refleksi ini terdapat di jalur utama dengan panjang 4 meter. Batu refleksi ini digunakan oleh pengunjung yang bertujuan untuk berolahraga.

d. Tempat parkir

Tempat parkir untuk kawasan Gunung Padang berupa lahan kosong yang dikelola oleh warga. Lahan tersebut berada di depan gerbang masuk Gunung Padang. Biaya parkir yang ditagihkan yaitu sebesar Rp. 5000,- untuk mobil dan Rp. 3000,- untuk motor. Disekitar lahan parkir juga terdapat beberapa tempat duduk yang menghadap ke muara, dan beberapa tiang lampu hias.

e. Tempat duduk

Tempat duduk di kawasan Gunung Padang ini masih dalam keadaan baik, terbuat dari susunan bata dan semen. Tempat duduk ini berkapasitas dua orang, terdapat di pintu masuk, dan puncak Gunung Padang.

f. Kamar kecil

Kamar kecil hanya tersedia di puncak Gunung Padang. Kondisi saat penelitian, kamar kecil tersebut masih dalam keadaan baik, cuma tidak terdapat sumber air.

g. Lokasi kemping

Puncak Gunung Padang atau biasa disebut taman Sitti Nurbaya pernah dijadikan lokasi kemping dengan luas 9216m2. Kekurangannya, tidak terdapat sumber air di puncak ini.

h. Lokasi pemancingan

Beberapa tujuan kunjungan pengunjung kawasan Gunung Padang yaitu untuk memancing. Lokasi pemancingan ikan ini terletak di jalan utama wisata. i. Kedai makanan dan minuman

Kawasan Gunung Padang dilengkapi dengan tiga kedai makanan dan minuman untuk para pengunjung. Dua kedai terletak di dekat pintu gerbang dan menuju pemukiman, dan yang ketiga terletak di puncak Gunung Padang.

Gambar 16 Jenis fasilitas, sarana dan prasarana eksisting

Preferensi Pengunjung Kawasan Gunung Padang

Data preferensi pengunjung digunakan sebagai dasar untuk rekomendasi perencanaan jalur.

Karakteristik Pengunjung

Tabel 13 Karakteristik responden

No Karakteritik Persentasi (%) 1 Jenis Kelamin a. Pria 61.22 b. Wanita 38.78 2 Asal daerah a. Kota Padang 59.18

b. Luar Kota Padang 40.82

3 Pendidikan terakhir a. Belum Sekolah 4.08 b. SD 23.47 c. SMP 15.31 d. SMA 31.63 e. PT 25.51 4 Pekerjaan 1. Pelajar/ mahasiswa 41.84 2. Pengusaha/ wiraswasta 21.43 3. PNS 6.12 4. Lainnya 30.61

Penentuan responden wawancara dilakukan secara acak (hanya perbandingan kelas umur yang sama), sehingga didapatkan karakteristik pengunjung yang beragam. Saat pengambilan data, responden berjenis kelamin pria lebih banyak ditemukan dibandingkan wanita. Kota asal responden lebih banyak dari kota Padang yaitu 60 orang dibandingkan dengan luar kota Padang sebanyak 38 orang. Hal ini dikarenakan pengambilan data dilakukan di saat belum libur sekolah. Tabel 13 menjelaskan karakteristik responden yang dijumpai.

Tujuan Pengunjung

Tujuan utama kunjungan paling dominan untuk responden kelas umur anak dan dewasa akhir adalah berolahraga. Hal ini dikarenakan Gunung Padang memiliki trail yang biasanya dijadikan untuk tracking. Pengunjung yang rutin datang saat akhir pekan biasanya bertujuan untuk olahraga. Pada kelas umur remaja dan dewasa awal, tujuan utama responden yaitu untuk menikmati pemandangan alam.

Kategori objek yang paling disenangi di kawasan Gunung Padang bagi semua kelas umur yaitu panorama alamnya. Sedangkan tujuan yang paling sedikit dipilih yaitu objek kebudayaan masyarakat. Kebudayaan masyarakat menjadi objek yang paling tidak menarik bagi sebagian besar pengunjung karena masyarakat sekitar Gunung Padang umumnya merupakan pendatang dari pulau Nias. Kebudayaan yang berbeda dan kurangnya partisipasi masyarakat terhadap kegiatan wisata menjadikan kurangnya minat pengunjung.

Preferensi Pengunjung

Pengunjung yang datang di kawasan wisata Gunung Padang akan mendapatkan pengetahuan lebih setelah adanya pelayanan interpretasi alam. Materi interpretasi yang paling banyak diinginkan oleh responden kelas umur anak-dewasa awal yaitu dengan berjalan mengitari kawasan dan dijelaskan mengenai sejarah atau kondisi Gunung Padang. Responden kelas umur dewasa akhir dominan memilih materi dengan aktivitas melihat-lihat wisma cinta alam atau pameran tentang Gunung Padang.

Kelengkapan sarana dan prasarana di dalam kawasan masih kurang. Fasilitas yang paling dibutuhkan pengunjung yaitu papan arah (17%), peta kawasan (13%) dan papan interpretasi (16%). Dari pengamatan lapang, sarana yang paling dibutuhkan yaitu papan petunjuk arah. Lokasi makam Sitti Nurbaya yang tersembunyi susah ditemukan bagi pengunjung baru, karena tidak adanya petunjuk arah. Pada pilihan lainnya, pengunjung membutuhkan tempat sampah dan penerangan untuk Makam Siti Nurbaya (Gambar 17).

Preferensi jalur untuk keeempat kelas umur lebih menyukai jalur wisata utama. Hal ini karena jalur tersebut sudah terdapat objek yang menarik dengan cukup fasilitas dan kondisi jalan yang baik. Sedangkan jalur pemukiman merupakan jalur yang tidak pernah dilalui responden semua kelas umur. Hal ini dikarenakan objek di jalur tersebut tidak menarik bagi responden.

Material jalur yang diinginkan pengunjung juga ditanyakan pada pengunjung agar preferensi pengunjung terhadap jalur tertentu membantu kegiatan interpretasi bisa mencapai sasaran (Sovinski 2009). Pengunjung dominan memilih bahan beton (37%) dan bebatuan (28%) sebagai material jalur yang baik (Gambar 17).

Gambar 17 Fasilitas yang dibutuhkan pengunjung (atas); Material jalur yang diinginkan responden pengunjung (bawah)

Perencanaan Jalur Interpretasi Jalur Baru yang Berpotensi sebagai Jalur Interpretasi

Jalur baru ditentukan berdasarkan letak objek yang berpotensi sebagai objek interpretasi dan keamanan disekitar objek tersebut. Dengan kata lain, calon jalur harus memenuhi kriteria jalur interpretasi. Lokasi sebaran objek dijelaskan pada gambar 18. Berdasarkan pengamatan lapang dan peta komposit yang tersedia, jalur baru yang dapat dijadikan jalur interpretasi yaitu:

a. Jalur baru I

Jalur ini terletak di antara jalur utama wisata Gunung Padang dan jalur alternatif puncak. Pemilihan jalur sebagai jalur interpretasi karena keberadaan kelompok monyet sebagai objek interpretasi dan jalur tidak terlalu curam. Panjang jalur dari pintu gerbang hingga ujung jalur pada yaitu 357 meter, dengan lebar jalur +45-60 cm. Kondisi fisik jalur ditumbuhi dengan rumput liar dan pepohonan yang cukup rapat.. Waktu tempuh jalur alternatif I ini yaitu selama +30-40 menit. b. Jalur baru II

Jalur alternatif II ini terletak disebelah utara, jalur ini merupakan perpotongan jalur utama, dari Makam Sitti Nurbaya menuju puncak. Jalur dipilih sebagai jalur interpretasi karena terdapat potensi fisik berupa batu-batu besar yang menarik untuk dikunjungi. Panjang jalur sekitar +249,1 meter, dengan lebar jalur +30-50 cm. Kondisi fisik jalur yang berbatu membuat jalan menjadi licin di udara

Papan arah 17% Papan nama 11% Papan interpretasi 16% Shelter 10% Pal jarak 8% Peta kawasan 13% Pusat Informasi 11% Menara pengamatan 6% Lainnya 8%

Dokumen terkait