• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI - Pemeliharaan dan Deaktivasi

6.2 Deaktivasi

Deaktivasi / pemberhentian kegiatan operasional pada jalan yang sudah tidak dibutuhkan, adalah praktek yang sangat jarang dilakukan di Indonesia, padahal pengabaian deaktivasi sering sekali menimbulkan dampak negatif yang besar. Hanya sebagian orang akan membantah bahwa pengabaian deaktivasi jalan bisa menimbulkan :

• Erosi tak terkendalikan pada jalan yang sudah tidak digunakan karena selokan dan parit tersumbat,

• Menyebarnya penebangan liar ’illegal logging’, karena jalan yang tidak digunakan di biarkan terbuka.

• Menyebarnya pemukiman penduduk dan terbukanya hutan karena kegiatan perladangan yang berpindah-pindah dan tidak cukup memperhatikan pada apa yang mereka tinggalkan,

• Berkurangnya satwa liar, karena perburuan yang tidak terkontrol dan pengambilan satwa langka.

Tingkat keunikan dari masalah ini, akan berbeda dari tempat satu dengan tempat yang lain, karena itu dibutuhkan pendekatan

BAB VI

Pemeliharaan & Deaktivasi

terkoordinasi.

Garda ‘garis depan’ pertahanan dimulai dengan pengelolaan HPH yang proaktif dan sampai melewati siklus penebangan pertama. Walaupun pernyataan maaf mengutip kegagalan Departemen Kehutanan atau pemerintah daerah untuk menegakkan hukum, kerapkali mempunyai dasar kesimpulan yang logis. Ada langkah-langkah yang nyata dan praktis yang dapat diambil oleh perusahaan HPH untuk memastikan masa depan areal hutan yang mereka kelola, dan memastikan fungsi ekologi telah terlindungi sesudah kepentingan mereka dari hutan tersebut terpenuhi.

Tindakan yang dianjurkan :

1. Membuat dan menjalankan panduan dan kebijaksanaan yang jelas untuk memastikan kegiatan deaktivasi dan pemberhentian yang tepat telah dilaksanakan.

2. Tempatkan rintangan yang efektif pada jalan yang sudah tidak digunakan, untuk mencegah masuknya orang yang tidak berkepentingan. Rintangan harus ditempatkan pada bagian jalan dimana tidak dimungkinkan untuk mengitari rintangan.

Rintangan harus cukup besar untuk mencegah penerobosan.

3. Pemasangan rambu-rambu yang menunjukkan penutupan dari jalan tersebut, dilarang berburu, dll.

4. Membersihkan puing sisa dari logging yang dapat menambah polusi lingkungan.

5. Memberitahukan pada masyarakat lokal, tentang tujuan penutupan jalan, untuk menjamin tidak ada yang berkeberatan dari pihak masyarakat lokal, dan kebutuhan masyarakat telah terpenuhi dengan cara bekerjasama dan tertib.

6. Membongkar bangunan seperti jembatan dan gorong-gorong. Ini tidak saja akan memastikan pembentukan kembali dari saluran air secara alami, dan mengurangi resiko erosi pada jalan yang sudah tidak dipakai, tapi juga akan menjadi rintangan yang efektif, terhadap masuknya penebang liar.

BAB VI

Pemeliharaan & Deaktivasi

Foto 18 : Erosi hebat pada selokan dari jalan sekunder yang tidak dipakai yang disebabkan oleh selokan yang diblokir.

BAB VI

Jawaban dari Latihan Kontur

LAMPIRAN I

(Bekenaan dengan bagian 2.3)

Jawaban Pertanyaan 1 :

Ruas garis (D-E) adalah 5 centimeter pada peta. Dengan skala 1:5,000 sama dengan 250 meter.

Garis tersebut memotong 8 interval kontour atau 80 meter.

Kemiringan rata-ratanya adalah :

80 x 100 = +32%

250 Jawaban Pertanyaan 2:

Jarak peta dari (A) ke (B) adalah 9 centimeter atau 450 meter. Lokasi jalan pada bagian ini harus mendaki 70 meter untuk mencapai saddel pada titik (B).

Dengan mengunakan konstanta ketinggian adalah : 70 x 100 = +15.5%

450 Jawaban pertanyaan 3:

Dari titik (B) pada punggung, lokasi jalan akan diturunkan sejauh 30 meter dari elevasi pada peta dengan jarak 7,5 centimeter ke titik (C) dari mana dapat dilanjutkan untuk dapat melewati lereng yang mudah.

Turunan pada bagian dijalan yang dimaksud akan menjadi : 30 x 100 = -8%

375

Lampiran I

Jawaban dari Latihan Kontur

Daftar Pustaka

LAMPIRAN II

Berikut ini daftar pustaka yang telah digunakan dalam persiapan buku pedoman ini.

Applegate, Grahame, 1998, “Code of Practice for Forest Harvesting in Indonesia”, NRM2, Bappenas, Dept. of Forestry and Estate Crops

Departemen Kehutanan, 1993, “Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia”, Ministry of Forests.

Holmes, D.C., 1978, “Manual for Roads and Transportation”, British Columbia Institute of Technology.

Keller, Gordon, and James Sherar, 2002, “Low-Volume Roads Engineering, Best Management Practices Field Guide”, USAID, USDA Forest Service, and Virginia Polytechnic Inst.

and State University.

Klassen, A.W., 1992, “Forest Engineering Procedures Manual for the Bhutan Logging Corporation”, World Bank, Forestry II Project.

Nagy, M.M., J.T. Trebett, G.V. Wellburn, L.E. Gower, 1989, “Log Bridge Construction Handbook”, Forest Engineering Research Institute of Canada.

Papua New Guinea Forest Authority, 1996, “Papua New Guinea Logging Code of Practice”, Department of Environment and Conservation, Papua New Guinea.

Lampiran II

Daftar Pustak a

Istilah

LAMPIRAN III

Lampiran III

Alignment : Penjajaran. Istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan lokasi fi sik dari jalan yang sedang dibangun. Dalam istilah teknis umumnya dikemukakan dengan vertical alignment dan horizontal alignment.

Angle of repose : Suatu sudut kemiringan dimana keadaan bahan pengisi, tepi yang terbuka atau bahan asli akan tetap stabil.

Ballast : Bahan untuk menstabilkan (Ballast) atau bahan permukaan jalan yang diletakkan pada subgrade untuk meningkatkan ketahanan beban jalan. Bahan tersebut tidak dibedakan dan berasal dari galian lubang (borrow pit) di tepi jalan.

Borrow pit : Areal lubang yang tersisa dari pengalian material batu untuk pembuatan jalan

Catch basin : Penggalian atau kolam penampungan yang dibuat pada ceruk gorong-gorong yang digunakan untuk menampung air yang kemudian diarahkan ke gorong-gorong.

Center line : Lini tengah. Umumnya digunakan untuk

menunjukkan lokasi lapangan dari jalan yang akan dibangun dan akan digunakan untuk membuat rancangan dan konstruksi jalan yang sebenarnya.

Cross-drain : Struktur saluran air yang dibuat seperti gorong-gorong atau yang khusus digali di jalan yang akan mengalirkan air dari satu sisi jalan ke sisi yang lainnya.

Culvert : Gorong-gorong yang ditanam dalam struktur cross drain untuk mengalirkan air dari satu sisi jalan ke sisi lain dari jalan.

Cut slope (Cut

bank) : Pomotongan lereng miring pada lapisan tanah sepanjang bagian dalam dari jalan.

Istilah Inggris - Indonesia

Istilah Inggris - IndonesiaLampiran III

Ditch (Side

drain) : Selokan, parit di pingir jalan Drainage

structure : Struktur saluran air di sepanjang jalan Erosion : Erosi, pengikisan lapisan atas tanah.

Fill slope

(embankment) : Tanggul, lapisan tanah yang ditimbun untuk membangun jalan dan biasanya berasal dari tepi luar jalan.

Ford : Tempat penyeberangan sungai yang dangkal Full bench cut : Metode membangun jalan di mana jalan dibangun

dengan memotong derajat kemiringan permukaan dan bahan yang digali diangkut keluar atau ditimbun di tempat lain. Pada full bench cut road, bahan yang digali bukan merupakan bagian atas dari jalan yang sedang dibangun.

Grade (gradient) : Derajat kemiringan jalan yang dibangun.

Kemiringan permukaan ini biasanya dinyatakan sebagai peningkatan prosentase. Sebagai contoh, peningkatan 10 meter pada elevasi dengan jarak 100 m dinyatakan sebagai grade 10%

Grade (adverse) : Gradien menaiki bukit (plus) pada arah pengangkutan.

Grade

(favorable) : Gradien menuruni bukit (negatif) pada arah pengangkutan.

Horizontal

alignment : Elemen horisontal dari lokasi jalan termasuk lekukan horizontal.

Knappel : Kayu balok yang telah diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pembatasan jalan yang akan dibangun sehingga dapat menghasilkan dasar yang stabil. Teknik ini biasa digunakan untuk mengisi bagian-bagian tertentu dengan kemiringan yang sangat curam, atau pada bagian di mana sulit memperoleh dasar jalan yang stabil.

IstilahLampiran III Lead-off ditch : Penggalian yang dilakukan untuk mengarahkan

alitan air ke arah dari selokan dan arah jalan apabila hal tersebut tidak terjadi secara alami agar dapat mengurangi volume serta kecepatan arus air selokan.

Native material : Lapisan tanah alami atau lapisan tanah “setempat”, bukan di bawah dari tempat lain.

Overburden : Lapisan atas tanah, biasanya mengandung bahan organik atau tanah liat yang tidak memiliki sifat untuk menyatu dan biasanya akan dipindahkan dari lokasi pembangunan jalan.

Parent material

(native material) : Bahan tanah asli setempat yang digunakan untuk membangun jalan.

Plan view : Diagram vertical lengkap dengan lokasi jalan dengan batas horizontal dan berbagai ciri fi sik seperti sungai dan hambatan yang mempengaruhi batas horizontal dari jalan tersebut.

Profi le : Tampang, Lintang bujur yang digunakan saat Tampang, Lintang bujur yang digunakan saat T mendesain jalan dan menghitung gradiant dari jalan yang dibangun.

Right-of-way

(corridor) : Lahan yang telah dibersihkan untuk membangun jalan di hutan. Hal ini mencakup jalan itu sendiri dan tambahan pembukaan hutan guna memperoleh sinar matahari yang lebih baik.

Roadway : Luas horizontal lahan yang terkena akibat

pembangunan jalan, dari atas lereng yang dipotong hingga bagian dasar dari lereng yang perlu diisi.

Running surface (wearing surface)

: Bagian atas dari permukaan jalan yang akan dilewati. Bagian ini harus kuat, memiliki daya tahan terhadap penyaradan, dan tidak terpengaruh oleh air di permukaan. Pada jalan yang dibangun di hutan, permukaan jalan bisa juga mengandung parent material yang dipadatkan atau yang dikenal sebagai “ballast” yang berasal dari selokan yang sesuai.

Sediment

(sedimentation) : Endapan - lapisan tanah yang mengandung tanah liat, pasir dan lumpur yang mengalir ke sungai karena erosi sehingga menurunkan kualitas air sungai

Istilah Inggris - IndonesiaLampiran III

Seepage, (ground water seepage)

: Rembasan air tanah

Shoulder : Bahu jalan di sepanjang jalan yang dibangun. Bahu jalan dalam letaknya berdekatan dengan kemiringan yang dipotong. Sedangkan bahu luar letaknya disebelah lereng yang akan diisi.

Side drain

(ditch) : Saluran parit - saluran dangkal yang dibuat disepanjang jalan guna menampung air yang mengalir dari jalan raya dan lahan yang berdekatan sehingga dapat dialirkan ke tempat pembuangan yang sesuai.

Slope ratio : Cara untuk menyatakan kemiringan yang dibuat sebagai perbandingan antara jarak horizontal hingga mencapai jurang misalnya seperti 1.5 m: 1 (1.5 m horizontal untuk setiap 1m vertical).

Sub-grade : Permukaan jalan yang mengandung parent material dan atau bahan pengisi.

Through cut : Jalan yang dibangun memotong bukit sehingga menyebabkan pemotongan lereng pada kedua sisi jalan.

Turnout : Bagian dari jalan yang diperlebar sehingga memungkinkan dua truk yang berlawanan arah berjalan pada saat yang bersamaan.

Vertical

alignment : Elemen vertical dari lokasi jalan atau konstruksi jalan, termasuk di sini lekukan vertical.

Manggala Wanabakti Build., Block IV, 7th Floor, Room 718B

Jl. Jend. Gatot Subroto,

Jakarta 10270, Indonesia

Dokumen terkait